2ND GRADE [Chapter 28] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 28 [Onestà]

Tell me you feel the same. In my ear. With your beautiful lollipop voice.

(Winner – Love Me Love Me)

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun & Chanyeol | [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25| 26 | 27

.

.

Sebagai satu-satunya saksi pertemuan antara Sunyoung dan Runa, Jungkook mengategorikan dirinya sebagai orang yang tak sengaja mendengar pembicaraan penting pihak lain. Dari apa yang ia tangkap lantas membuatnya berasumsi bahwa ada satu hal yang disembunyikan Runa dari sang ayah, yakni pekerjaan sambilan.

Esoknya Jungkook tak mendapati kehadiran Runa di tempat kerja, yang ada hanya penuturan bos mengenai si gadis yang mengundurkan diri secara tiba-tiba. Kemudian Seninnya hawa hitam jelas-jelas menggantung di atas kepala gadis tersebut.

“Tidak duduk?” Mendadak Seunghee yang baru saja berangkat sudah memosisikan diri tepat di belakangnya. Lantas si lelaki menolehkan kepala. Berpikir apa bagus jika ia meceritakan kejadian kecil tempo hari? Ah, tidak, tidak. Akan berefek tak bagus jika ia hanya menceritakan perihal asumsi yang belum jelas faktanya.

“Jungkook?” Agaknya gadis tersebut tak sabar menunggu respons yang diajak bicara.

“Sudah sarapan?”

Tak heran Seunghee menekuk kening, “Ha?”

“Aku menggunakan uangku untuk menggandakan kuesioner. Sekarang aku tidak punya uang cukup untuk membeli sarapan. Bisa tolong kembalikan uang tak seberapa itu?” Padahal seorang Jeon Jungkook jarang sekali mengisi perutnya dengan makanan berjudul sarapan. Seunghee yang tidak mengetahui hal tersebut tentu merasa bersalah.

“Letakkan tasmu, aku bawa roti dan susu, kok.”

Keheranan akan aura yang Runa umbar rupanya dapat pula dirasakan oleh beberapa kawannya. Jungkook tahu jika sebentar lagi pasti akan ada yang bertanya terlebih dahulu. Entah itu Seunghee atau Baekhyun. Oh, omong-omong mereka sedang berkumpul untuk rencana pembagian kuesioner.

“Dibagi dua orang saja, ya? Jadi Runa dan Baekhyun mengatasi adik tingkat dan setengah dari tingkat dua. Aku dan Jungkook sisanya. Pilih saja siswa yang kira-kira bisa kalian jamin akan mengisi kuesionernya dengan baik.” Tak lupa, Seunghee meletakkan dua bungkusan di meja. “Berikan susu ini pada siswa yang mengisi.”

Usai sedikit berbenah, Baekhyun langsung mengambil satu bungkusan di meja dan menyeret Runa. “Mungkin lebih bagus jika disebar di angkatan kita terlebih dahulu. Bagaimana menurutmu?”

“Mulai dari kelas 2-4 saja yang paling dekat,” usulan ini langsung disetujui. Per kelas hanya diambil empat responden, untuk masalah ini Baekhyun sudah sangat ahli. Tinggal melayangan tos, berbincang sedikit dan menawarkan susu untuk sebuah pengisian kuesioner yang mudah.

Di kelas 2-2 cuma ada sedikit siswa yang masih tinggal. Selagi Baekhyun membujuk gerombolan Junhui, Runa malah didatangi lelaki yang kebetulan adalah mantan pacarnya yang terakhir kali.

“Kau bisa memberikan satu padaku,” ujar lelaki itu. Tanpa memandang Chanyeol, Runa pun menyerahkan lembar kuesioner dalam diam. Rupanya Chanyeol tidak ingin jauh-jauh mencari tempat duduk karena ia malah mengisi kuesioner tersebut sambil berdiri.

“Kau baik?” tanyanya tiba-tiba. Runa mendongak dan berkata tegas, “Iya.” Sedikit menyesal kenapa saat ia dimarahi sang Ayah, Chanyeol masih berada di rumahnya. Memalukan.

“Apa kau diberi kelas tambahan?”

“Iya.” Mereka kembali diam. Chanyeol sibuk menuntaskan kuesionernya dan Runa tenggelam dalam pikirannya. Gadis ini menunduk, berpura menghitung sisa lembar kuesioner. Hingga akhirnya lelaki di sampingnya mengulungkan kertas yang telah diisi. Sebagai tanda terima kasih, Runa mengulungkan sekotak susu pada lelaki tersebut.

Yang ada, Chanyeol malah meletakkan kotak susu itu di tangan Runa usai ia beri sedotan. “Aku memberi ini sebagai teman, jadi tolong jangan ditolak. Selesaikan pembagian itu dengan cepat dan segera ambil jatah makan siangmu.” Dia pergi menyusul Kris yang lebih dulu berjalan ke kantin beberapa menit yang lalu.

“Apa yang dia bicarakan?” Tahu-tahu Baekhyun sudah kembali dengan hasil kuesioner di tangan. Dia sempat mendengar pembicaraan Chanyeol dan Runa yang tak seberapa tadi. “Kau mau les lagi?”

Sebuah embusan napas panjang Runa loloskan. “Les dan tambahan kelas lagi setelahnya.” Dia mengambil langkah yang langsung diikuti Baekhyun sebelum kembali melanjutkan. “Ayah tahu aku bohong tentang mengikuti les. Yah, mungkin ini saatnya aku fokus belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi.”

Jujur Baekhyun yang bingung adalah apa yang sebaiknya ia katakan untuk menanggapi? Karena sudah terlalu paham dengan gadis yang lama menjalin pertemanan dengannya, Baekhyun memutuskan untuk bersikap seperti biasa. Dia mendorong pundak Runa, “Lihat betapa jelek wajahmu. Pantas Chanyeol khawatir.” Lantas dirangkulnya gadis tersebut sebelum berucap semangat, “Ayo selesaikan dengan cepat sebelum istirahat makan siang berakhir. Kita harus mencari celah waktu untuk kau bersenang-senang nanti.”

“Baek, ada yang aneh,” cletuk Runa. Segera Baekhyun menggumamkan ‘apa’ yang kemudian membuat gadis di sampingnya melanjutkan ucapan, “Sehun seperti menghindariku.”

Kaget karena topik yang membelok tiba-tiba, Baekhyun sedikit mengeraskan suara, “Bukankah itu jelas? Kenapa mendadak aku merasa kau menyesal setelah menolaknya?” Mata Runa memicing tepat beberapa langkah sebelum sampai di pintu kelas 2-1. “Bagaimana bisa kau mengetahuinya? Aku tak pernah membicarakan ini dengan siapa pun.”

Nah, ketahuan, deh.

“WAH! Kelas 2-1 masih banyak orang!” Pura-pura terkejut, Baekhyun melepas rangkulan untuk mulai berjalan lebih cepat.

“Apa dia mengatakannya padamu?!”

“WOW, matahari terik sekali hari ini!” Baekhyun tolol, terkadang. Jadi jangan salahkan Runa yang dengan sekali hentakan menarik kerah belakang kemeja si lelaki, “Kau menyembunyikan sesuatu, bukan? Apa Sehun  mengirimi pesan atau menemuimu untuk mengobrol?”

“Ah, kurasa telingaku sedikit kotor jadi agak susah mendengar sesuatu.”

“Byun Baekhyun!”

Kesal didesak terus, Baekhyun melepaskan diri dari Runa dan berucap, “Baik, baik!” Ia menatap Runa lalu mengucapkan semuanya, “Dia tahu jika kau berciuman dengan Park Chanyeol sebelum liburan dan mengira itu sebagai alasan penolakanmu. Untuk sementara ia ingin menjauh terlebih dahulu.”

“Bagaimana dia bisa tahu?! Aku hanya mengatakan ini padamu, Baek!” Tak kalah kesal, Runa memberi pukulan di lengan sang karib. Pukulan yang tidak main-main.

“Mana aku tahu. Kupikir mungkin dia mendengar percakapanku dengan Seung―” Baekhyun diam sebentar karena melihat delikan Runa, “maaf waktu itu aku benar-benar keceplosan.” Segera gadis tersebut merebut kuesioner yang dipengang Baekhyun sebelum melangkah ke kelas 2-1. “Makan, tuh, cinta.”

 “Runa! Maaf, sumpah aku tidak sengaja. Jahit saja bibirku ini, Run! Jangan marah!”

Lalu membagikan kuesioner mendadak jadi kegiatan yang tak mulus sama sekali. Baekhyun sepertinya lupa nasihatnya sendiri yang pernah ia tuturkan pada Wendy kalau Runa hanya perlu diberi waktu beberapa saat.

Amarah Runa sudah menurun saat sekolah usai, apalagi ditambah satu cone es krim yang Baekhyun berikan secara cuma-cuma. Ah, bonus satu lagi: diantar gratis ke tempat les.

“Lalu …” suara Baekhyun menggantung untuk disela oleh lirikan yang ia labuhkan pada Runa, “bagaimana dengan Oh Sehun?”

“Apanya?”

“Itu, maksudku, apa dia sama sekali tak menghubungimu?” Baekhyun beralik menatap es krim di tangan karibnya. Jika uang sakunya lebih pasti ia akan beli dua cone. Ah, padahal dia benar-benar ingin es krim sekarang.

“Tidak. Pesanku pun tak dibalas,” ucap Runa santai, lebih fokus pada lelehan es krimnya. Dan Baekhyun bertepuk tangan dua kali, “Hebat. Kau bahkan mengirim pesan padanya. Apa kini kau menyadari perasaanmu?”

Ada dua detik yang Runa gunakan untung mengambil ancang-ancang pada kalimat yang akan ia lontar, “Barangkali aku memang mulai menyukai Sehun. Dia terlihat … tulus, mungkin.” Bukannya tidak bisa menjawab, hanya saja Baekhyun seratus persen terkejut karena tak menyangka bahwa Runa akan benar-benar mengakuinya sejelas tadi.

“Tapi si bodoh itu tidak muncul-muncul. Sepertinya sudah menyukai gadis lain.”

“Run, kenapa aku yang berdebar, ya?” Muka bodoh terpampang jelas di paras Baekhyun yang tengah memegang dadanya. Membuat Runa tak dapat menahan diri melayangkan pukulan di kepala si karib. “Sadarlah!” Seraya mengelus bekas pukulan, Baekhyun mendorong lengan gadis tersebut, “Jangan memukul kepala! Nanti aku makin bodoh, tahu!” Dia tidak sadar Runa menunduk dalam. Saat gadis ini mendongak, yang ada adalah tatapan membunuh berkat lelehan es krim yang menyapa pipinya, “Byun Baekhyun!”

“Ups.” Sebuah cengiran ditampilkan dan Baekhyun bergegas angkat kaki untuk kabur. “Maafkan aku! Jangan pukul kepalaku lagi!” Tak tinggal diam, Runa yang tidak terima juga ikut mengambil langkah untuk berlari, “Idiot, setidaknya berikan aku tisu! Hei, jangan lari!”

.

.

.

-0-

.

.

.

Oh Sehun:

Sehun sedang berlatih, telponlah lagi nanti.

Lelaki bermarga Oh itu memandang ponselnya sebelum menambatkan manik pada Irene, “Dia pasti mengira kau yang mengetik. Gayanya khas Irene-sekali.” Sebagai balasan, Irene menunjukkan putaran mata malasnya, “Aku tidak ikut campur kalau kau makin jauh.”

“Lho? Kenapa?”

“Kau tolol?” Satu alis Irene terangkat. Sama sekali tak berefek pada perubahan ekspresi Sehun, “Sedikit, sih.” Kadang kaum perempuan memang tak berpikir jika para lelaki butuh sebuah kalimat lebih lugas ketimbang sebuah kata-kata mengambang. Mereka terus mengatakan hal yang seolah-olah sudah jelas keadaannya dan menyalahkan lelaki sebagai pihak tidak peka.

“Astaga, Oh Sehun!” Irene masih berpikir jika semuanya sudah terang. “Kemarin kau bilang Sunyoung itu sepupu Runa. Sunyoung jelas tahu bagaimana hubungan kita sebelum ini. Apa kau pikir lelaki itu tidak mengatakannya pada Runa?”

Kenapa dia tidak mengatakannya dengan jelas, tadi? Diam-diam Sehun merutuk dalam hati sebelum menanggapi. “Jadi maksudmu sejenis Runa akan cemburu?”

Irene mengangguk, detik berikutnya sedikit terlonjak berkat seruan semangat Sehun, “WOH! Bukankah itu hal bagus? Dia cemburu?”

“Baru kemungkinan saja sudah lebay.” Satu kali putaran mata lagi dan Irene memutuskan berfokus pada ponsel untuk membalas pesan milik Junhong. Kemudian Taehyung yang sedari tadi diam di balik kertas skenarionya mendadak menanggapi, “Aku tidak mengerti denganmu.” Tentu ini ditujukan pada Oh Sehun. “Kau bilang akan meneruskan perasaanmu. Baru maju selangkah saja sudah menghindar lagi saat tahu Runa dan Chanyeol berciuman. Kau bilang kejadiannya sebelum kita liburan di pantai, bukankah itu sudah lama?” lanjutnya.

“Cuma mau mengetes apa ini perasaan sesaat atau bukan.” Lebih terdengar seperti putus asa. “Aku hanya perlu menghindar sebentar lagi.”

“Sampai Runa memutuskan akan kembali pada mantannya?” Taehyung mendadak memejamkan matanya sejenak sebagai reflek melihat Sehun yang seolah akan memberi pukulan dengan telapak tangan.

“Bisa saja Runa benar merasa kosong tanpamu, tapi dia juga bisa menanggap hal itu adalah hal biasa dan malah melupakan eksistensimu. Pikirkan dengan baik.” Walau seringnya kesal dengan kelakukan Sehun, Irene tetap saja tak dapat menahan diri untuk memberi saran. Pada akhirnya Sehun mulai berpikir lagi seperti dugaannya.

.

.

.

-0-

.

.

.

Aku hanya perlu menghindar sebentar lagi.

Nyatanya segala kegiatan persiapan ujian semester serta pertunjukan penting kelasnya membuat Sehun sejenak lupa. Saat sedang sibuk-sibuknya ia tidak ingat dengan rencana menghubungi Runa duluan yang sudah dipersiapkan. Seusai kegiatannya selesai pun yang ada dia mendapati dirinya terlalu malam jika mengirim pesan atau sejenis itu. Padahal bisa saja lelaki ini menghubingi kapan saja, toh terserah Runa akan kapan akan membalas―jika ingin, sih.

Sejujurnya tidak ada yang mengetahui dengan pasti bagaimana sesungguhnya jalan pikiran Sehun. Mungkin karena bayang-bayang wajah Runa sewaktu di pantai seringkali membuat dirinya resah. Pikirnya, perihal menyatakan perasaan waktu itu agaknya memberi beban tersendiri pada Runa. Yah, walau mereka berdua sudah bisa bersikap biasa di pertemuan terakhir kemarin.

Kemudian tahu-tahu saja sudah masuk hitungan satu bulan lebih Sehun tak menatap langsung manik Runa. Pada awalnya ia memang masih punya waktu untuk sekadar menilik si gadis di minimarket, walau itu adalah pertemuan satu pihak―anggap saja begitu. Tapi seperti selalu mendapat sial, Sehun tak pernah menemukan bayang gadis tersebut sekian hari belakangan.

Apa dia berhenti bekerja? Satu-satunya kemungkinan masuk akal menjamah benak Sehun. Membuat sang lelaki mengusap wajah. Kalau memang benar Runa berhenti bekerja, lalu apa lagi alasan Sehun untuk menemui gadis itu?

Malam ini usai menyelesaikan beberapa tugasnya, Sehun sudah berbaring di ranjang seraya menatap ponsel dalam genggaman.

Oh Sehun:

Sudah tidur?

“Setelah tak menghubunginya sekian lama, sekarang aku mengiriminya pesan dua jam setelah tengah malam?” Mendadak ia merutuk kesal. Namun bergegas terkejut karena mendapati sebuah pesan balasan.

Kwon Runa:

Belum. Ada apa?

Jarinya meyentuh layar ponsel, menciptakan sebuah sambungan telpon. Kalau tahu si gadis masih terjaga seperti ini, Sehun sudah menghubungi dari jauh-jauh hari. Bah, pengecut memang selalu membuat alasan.

“Apa?”

Sehun sadar hatinya sebegitu berdesir kala mendapati rungunya kembali terjamah suara Runa. Matanya terpejam sejemang, tapi cepat terbuka kembali ketika menyadari sesuatu, “Kau di mana?” Bisa ia dengar samar-samar beberapa orang berbicara, ditambah lagi suara kendaraan yang timbul-tenggelam. Jelas Runa masih di luar rumah. Menyadari ini Sehun menegakkan tubuh dengan segera.

“Pergi ke mana kau selarut ini?” Entah hak atau bukan, kalau dirinya kesal Sehun akan tetap kesal. “Kwon? Ini bahkan lewat tengah malam.”

“Les, bodoh! Kau pikir aku ke pub, ha?” Tiba-tiba Runa berseru, ia melanjutkan dengan nada sinis tak terkira, “Kenapa menelpon? Kalau tidak ada hal penting bicarakan lain kali saja, aku sudah mengantuk.”

“Kau pulang sendiri?” Sehun berpikir keras mencari ide. Gila saja jika gadis itu berani pulang sendiri.

“Sudah, tidur sana!”

“Yaa! Bagaimana aku bisa tidur jika―” Sambungannya diputus. “Aih, dasar. Tubuh pendek saja sok berani!” Dia mencoba menelpon lagi dan jelas ditolak.

Oh Sehun:

Aku jemput. Kirimkan alamatmu.

Lagi, ia menghubungi nomor Runa. Kali ini mendapat sambutan. Sebelum si gadis berucap, Sehun lebih dulu angkat suara, “Kwon Runa, kau tahu aku tidak akan berhenti memikirkanmu jika kau terus begini. Katakan saja alamat tempat les-mu dan mari bicara setelah bertemu. Jangan marah.”

Sehun ingin kesal, selain karena ia tak bisa meluapkan marah, ia sadar bagaimanapun juga suara Runa masih kelewat manis di telinganya.

.

.

.

Karena mengambil kunci mobil secara diam-diam bukan hal yang bisa dikerjakan dalam waktu singkat, akhirnya Sehun hanya dapat menggunakan sebuah skuter milik sang ibu yang ada di garasi―untung kuncinya mudah ditemukan.

Otaknya sudah menyimpan dengan baik gambaran petunjuk arah yang sebelumnya sudah ia lihat, sehingga dengan mudahnya dia menemukan jalan. Lagipula tempat les Runa mudah ditemukan karena letaknya tak begitu jauh dari SMA Chunkuk.

Yang Sehun dapati saat turun dari skuter dan berniat masuk ke gedung tak terlalu tinggi tersebut adalah sosok Runa yang tengah menyandarkan kepala ke dinding. Dilihat dari sudut mana pun gadis itu jelas-jelas sudah terlalu letih.

Manik mereka bertemu beberapa langkah sebelum Sehun sampai di depan si gadis. “Apa ini berlangsung setiap hari? Maksudku, jadwal pulangmu.”

“Tidak. Hari ini aku ikut kelas tambahan dua kali, makanya kemalaman dan sialnya Sunyoung tidak menjawab telponnya.” Tak ada niat meneruskan interaksi lewat tatapan, Runa lantas mengalih pandang. “Kau … kenapa tiba-tiba menghubungiku? Apa ada masalah?” Dia mengatakannya tanpa menatap si lawan bicara. Sama sekali tak membuat nyaman.

“Ah, itu―” Sehun rasa tenggorokannya tersumpal sesuatu, mendadak bingung bercampur gugup. Tahu jika lelaki ini enggan mengeluarkan suara, Runa berdecih pelan, “Lupakan. Ayo pulang.” Dia yang pertama mengambil langkah. Tak sampai dua langkah milik Runa tercipta, Sehun sudah bisa mengeluarkan suara.

“Kwon.” Sungguh, Sehun tidak bisa seperti ini lagi. Diperhatikannya Runa langsung berbalik sambil mendelik, “Apa?”

“Kau senang melihatku, tidak?” Harusnya ini yang terlontar, dan bukan sebuah kalimat: “Pakai helm-mu.” Detik ini Sehun yakin dirinya seratus persen pengecut.

Jika keadaannya tidak selarut ini, Sehun pasti lebih memilih memelankan skuternya. Tapi mana bisa ia membiarkan Runa sampai di rumah lebih pagi lagi? Sesekali ia melontarkan pertanyaan sederhana untuk memastikan si gadis tidak tertidur. Akan sangat sulit jika gadis itu terjatuh nantinya.

Di sisi lain, Sehun tak tahu bahwa setengah mati Runa menahan air mata kesalnya di jok belakang.

Kenapa lama sekali? Kenapa baru muncul, dasar idiot gila! Runa tak tahu mengapa dirinya malah merasa seperti dipermainkan. Padahal ia sendiri yang sebelumnya memutuskan untuk menolak Sehun. Betapa egoisnya dia menginginkan si lelaki tetap ada dalam lingkup pandangnya setiap saat. Dalam boncengan skuter Sehun yang lajunya semakin cepat, dia harap gumaman pelan yang meluncur dari katup bibirnya tak didengar siapa pun, “Kau merindukanku, tidak?”

.

“Terima kasih.” Cuma ini yang terlontar kala Runa mengulungkan helm yang baru ia lepas. Sehun menggumam kecil dan bersiap pergi. Namun faktanya ia malah mengurungkan niat tersebut dan memilih turun dari skuter, “Kwon!” Dia meletakkan helm-nya kembali.

Yang dipanggil tadinya sudah berbalik dan bersiap pergi, tapi kemudian menghadap Sehun lagi. Dalam benak sudah berjanji akan langsung masuk rumah jika lelaki di depannya itu tak kunjung bicara dengan lancar. Runa tidak bisa menahan tempo degubnya. “Apa lagi?”

“Aku lupa bilang kalau aku merindukanmu.” Satu langkah milik Sehun tercipta untuk membuat keduanya berhadapan lebih dekat.

Diberi kalimat tak terduga Runa tadinya akan menanggapi dengan candaan jenaka untuk menutupi gugup, namun si lelaki lebih dulu mengambil alih konversasi.

“Omong-omong,” Sehun tahu benar bagaimana menarik rasa penasaran gadis di depannya, “aku masih menyukaimu.” Dia mengedar pandang sejenak sebelum memberanikan diri menatap gadis di depannya lagi. Sialan, siapa yang menakdirkan dirinya berdegub sebegini kencang, sih? Angin musim gugur yang sudah datang pun sepertinya masih kalah pada panas yang menggila pada seluruh tubuhnya. “Bagaimana ini? Setelah beberapa lama rupanya degub jantungku masih berdebar cepat pada orang yang sama.”

Tahu-tahu saja Runa bingung akan melontar apa. Dia tahu Sehun akan membahas hal ini lagi, tapi kenapa di saat yang tak terduga begini? Yah, harusnya pertanyaan tersebut dilontar kala keduanya sudah mengobrol kembali seperti biasa. Serius, ini … canggung.

Kini di balik keberaniannya menatap iris Sehun, Runa bisa merasakan letupan-letupan mulai menyambah dadanya. Tidak tahu ke mana kesal yang sebelumnya tertuju pada lelaki Oh itu. Seakan tidak diizinkan untuk menyela, Runa kembali bisa mendengar tuturan jujur dari Sehun.

“Aku tidak akan bersikap seperti pengecut lagi. Kalau begitu, ayo main simulasi. Jika aku menyatakan perasaanku lagi, seperti barusan, apa yang akan kau lakukan?”

Tadinya Runa ingin lari saja dan menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas. Tapi itu hanya akan menambah buruk keadaan. Walau gugup setengah mati, Runa akhirnya mengambil satu langkah agar lebih dekat dengan sang lelaki.

“Kau bilang ini simulasi, kan?” Runa sialan malu sekarang, “Pokoknya lupakan apa yang terjadi setelah ini!”

Dan sebelum Sehun sempat bertanya, sebuah kecupan cepat sudah menyambah sebelah pipinya. Satu kaki yang melangkah mundur tiba-tiba adalah wujud dari keterkejutan yang Sehun rasa. Sekarang jantungnya benar-benar akan meledak. Ia menatap Runa yang memalingkan wajah. Sepertinya gadis itu mengatakan sesuatu (yakin, deh, itu sejenis perkataan suka, barangkali), sayangnya Sehun tidak dapat mendengar hal lain selain degubnya yang menggila. Saat dapat mengedipkan matanya kembali, perlahan Sehun mengambil satu langkah maju―makin mendekat. Telapak tangannya terulur untuk menangkup pipi Runa, bersamaan dengan dihapusnya jarak di antara keduanya.

Persetan dengan simulasi atau apalah itu.

Runa bisa saja menghindar dan menghadiahi Sehun sebuah tamparan indah di pipi. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia diam. Memilih menanggapi apa yang lebih dulu Sehun mulai. Apa pun yang membuat hatinya begitu ragu akan hubungan yang baru, Runa bisa merasakan itu mulai luntur. Dia tidak bisa memaksa dirinya sendiri kembali berpaling dan berlagak seolah tak tahu apa-apa, atau menutup mata pada tulus yang Sehun suguh. Mulai sekarang, mungkin Runa akan melepas belenggu gelisah masa lalu dengan perlahan. Ah, lagipula masa lalu itu agaknya sudah tidak penting. Jika bukan begitu, mana bisa Runa dengan nyamannya memejamkan mata dan menggenggam erat jaket Sehun?

Ketika tautan itu terlepas, Sehun belum mau memundurkan kepala terlalu jauh. Masih dengan satu tangan menangkup pipi gadis di depannya, Sehun memberi tatap teduh tak terkira. Dengar betapa kacau detak jantungnya sekarang, untung saja ia masih bisa membuka suara. Bariton rendahnya mengalun pelan dan hinggap di telinga Runa.

“Ayo pacaran.”

Sialan, rasanya semua jadi gila.

Runa menatap manik milik si lelaki dalam detik-detik yang terasa lama. Ingin menenggelamkan diri di luapan nyaman yang ia rasa. Andai tidak ingat jika ini sudah saatnya memperjelas keadaan, sepertinya ia sudah mimisan duluan.

“Tolol, harusnya kau begini saat rambutmu hitam.” Ditegur tak jelas begini, Sehun menaikkan satu alis dan menambahi, “Aku sudah melakukannya lalu ditolak.” Benar juga, ya? Runa saja yang tidak jelas selama ini. “Iya, sih.”

“Tidak tahu kenapa, aku senang melihatmu menyesal seperti ini. Pasti aku terlalu sering mampir ke otakmu setelah kau menolakku, ya?” Sungguh Sehun tidak bisa membuat seringannya jauh lebih jahil dari yang sekarang ia lakukan. Dia lantas mengulurkan tangan untuk menyisir bagian poni rambut Runa ke belakang, menundukkan tubuh untuk mengulang kecupan yang tak terlalu lama.

Usai kecupan disudahi, Sehun berbalik menuju skuternya untuk memakai helm. Saat ia sudah siap meluncur, ditolehkannya kepala ke arah Runa, “Tidur sana. Pokoknya ini hari pertama kita.”

“Mukamu merah.” Cletukan Runa disambut Sehun cepat-cepat, “Kau mau kucium lagi? Sudah sana masuk!” Lalu berkat mendengarnya kini Runa menebar kekeh kecil, ditatapnya sang lelaki yang masih memasang wajah sok kesal, “Sehun, kenapa rasanya kau berubah menggemaskan?”

“Astaga gadis ini.” Sehun menggumam sebelum menggerakkan skuternya mundur ke belakang, berhenti di samping Runa. Lantas dengan kedua tangan kembali diraihnya rahang gadis tersebut untuk tenggelam dalam ciuman ketiga.

.

.

.

.to be continue


kemudian…

14733271_139603699847199_172266783145721856_n.jpg

oohsehunn can’t sleep, i think i should Run, and kissed three times! :v

Sungguh Sehun suka bermain kode jika begini caranya. Mari lihat kedepannya apakah ada yang peka saat dirinya menyelipkan nama Runa di sana? Oh, dia juga mengenakan bentuk lampau di kalimat terakhir. Bagus, Oh Sehun.


-dasar tukang kode-


SETELAH 28 EPISODE AKHIRNYA JADIAN, syaland authornya lelet banget /lempar kacang /gak deng

Btw kusenang sekali Sehun dapet bagian nyanyi di Universe wakakak Kamu  berkembang nak, aku bangga wkwk /dibalang/ Suka banget sama MV Universe, banyak banget art-nya uuuuhhh :3 Nyeni banget dah pokoknya, paling suka deh diantara album khusus winter yang lain :3 Semoga makin makin ya mereka ❤

Dan … ahaha so sowreeeeeh saya baru update sekarang /saya wkwk bagus aja gitu/ Habis chap 28 ini rilis ada bonus dikit sih, cuma kek gambar karakter 2nd Grade doang di satu postingan. Ada ya gambar profil ditaruh di tengah  ff, bukannya di awal ahahaha Bodoamat deh wkwk Ya itung-itung promosi lagi biar laku ni ff wkwk Biar motivasi cepet kelar juga wkwk Bocoran gak begitu mutu, aku udah nulis sampe chap 33, cuman belum kuedit gengs :’ aku targetin rampung di chap 35-an sih biar otak gak kemebul :’v Lelah dd wkwk Tapi sayang wkwk Kebanyakan ya? Yah, jangan bosen dong 😦 Ini hampir kelar kok, janji deh.

Terus, makasih banget yang masih setia aja ngikutin 2nd Grade, SAYANGKU PADAMU SEDALAM LAUTAN KAWAN, karena tanpa kalian aku mah apa gak punya semangat ngelanjutinnya wkwk /alay nid dasar. Pingin gitu aku salamin satu satu, cium kanan-kiri, pelukin atu-atu juga wakakak Makasih buat kalyad, yang mau baca dan ninggalin komen ihiw, SAYANG SAYANG SAYANG NGET :* ❤

.nida

14 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 28] by l18hee”

  1. aaa seriusan aku suka banget sama ff kamu. maaf juga baru bisa comment di chapter yang ke 28. dan selama 28 chapter ini aku dibuat greget sama hubungan Sehun-Runa yang tarik ulur khas remaja yang gengsian gitu. btw second pair nya cinta segitiga Baekhyun-Jungkook-Seunghee yang juga bikin greget. gimana konyolnya seorang Baekhyun, aku harap sih endingnya dia nemuin cinta yang baru kalau misalnya Jungkook jadi sama Seunghee. semangat terus ya nulisnya

  2. Ehh trnyata komenq ga kekirim ehhhh menyebalkan..pdahl sdh brniat meninggalkan jejak dsiniiii
    Akhirnyaaaaaaaaaa setelah gengsiny yg setinggi tembok cina..anak ayam ajarkan s yoda cra menjaga wanitamu dengan baik dan benar olret?
    Saatny kita melihat adegan romantis2an hahahahahah

  3. setelah jadian salah satu scene yg ku tunggu sekarang adalah bagaimana reaksi Chanyeol asal liat Runa-sehun pacaran!!!!!!!!!!!
    harus ditunggu itu

    gemes banget si mereka berdua ini..sampe gk bosen2 ak bca scene akhir..ugh sweet

  4. Akhirrnyyyaaaaaaaaaa
    Horayyyy sehun runa jadiannn,🎆🎉🎉🎉🎉🎉🎉
    Kagak bisa ngomong gimana gimana
    Makasih buat nida yg udah bikin mereka jadian
    Selamat buat sehun, akhirnya runa jadi milikmu nak, jangan lupa pj buat baek, seunghee ama jungkook ya hun
    Kutunggu chapter selanjutnyaaa yaa..

  5. Hari ini ak buka exoffi rencana mau baca 2nd grade dari chap 1 karna udah kelewat kangen sama sehun-runa yg ngegemesin ini..dan ternyata ada updatan!!!!!!!!
    Waaahhh..ak kira libur semua sampe taun depan..

    Dan ak bener2 deg degan baca part sehun-runa ketemu..
    Ahhh they are so cute… Ahhh gemes…
    ini jadi chap terfavorit no.1 dah sekarang….
    😚😚😚😚😚😚😚😚😚
    cuma ff doang knpa ak seseneng ini..ughhh
    ak ttp masih mau baca dari awal ah..karna ak jga gk ngikutin dari awal cuma jdi mau baca dan ninggalin jejak deh..
    Ka author nim terhormat jangan cepet2 end deh yaaa
    pasti bakal kangen berat ntar..
    FIGHTING!!!!!!!!

    1. and then… kamu bener-bener baca ulang yaampooooon saya terharu :’ /big hug/
      wkwk ini chap penuh manisan, akku aja gak kuku baca lagi 😦
      lha kamu mending, aku cuma bacain komen juga udah seneng banget ahihi
      sayangnya hampir ending nihhhhh ahaha pusing aku gak kelar2 :v tapi gatega juga mau ngelarin/gagitunid
      MAKASIH YA UNCH DEH ❤

  6. 💏 akhr’ny.. jd-an!! 😍 lngsng triple kisses pula 💋
    Kangenn yg berbalas manisseu.. 😘 ku pd ff ni & hun-run pd 1 sm lain 😁 thx Nid!
    Lngsng update di Ig dy 😂 umumin aja pd dunia mas 😋
    Aduh, 크리스 akuh lg2 cm jd figuran dimarih 😢 skelebat saja sosok’ny nympang lwt.
    Srapet apapun kebohongan, pd wkt’ny akan ktauan jg, dah wkt’ny bnrn les & bnrn pcrn sm 세훈 😘 bkl end di chap 35, tu smp mrk lu2s high school kah? Tp klo mo stia sm jdl ff ni as 2nd grade students, kyny dah lmyn 1 smstr lwt kan 😕 apapun.. yg penting hun-run bnrn jd-an 🎉 manseee..!! ’till next time sayangkuh~ 😘

    1. IYA KAK, AKHIRNYA SETELAH 28 EPS 😦
      iya ih sehun mah tukang kode di mana mana 😦 tapi lucu sih wkwk
      wkwk miyanekk, aku mau munculin krisseu tapi tapi tapi :’ aku bingung
      iya kak, lha salah runa sendiri boong kan yak, yaudah deh dia kudu rajin les sekarang, ya untun statusnya sama sehun udah beda wkwk
      kak btw aku salah nulis di a/n ahaha ternyata setelah kulirik aku baru nulis sampe chap 31, tapi prediksi sekitar chap 35-an sih rampun ehehe ini tingal ngerampungin beberapa masalah wkwk
      engga kak, jadi kek judulnya, ini ff cuma cerita mereka di tinkat dua. iyaa udah satu semester wkwkwk
      MAACIW KAKAQUE UNCH :* ❤

Tinggalkan Balasan ke Silmi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s