KILL THE DEVIL — Joongie

Kill The Devil

J o o n g i e © 2017

|| Starring by EXO’s Sehun x Luhan ||

|| Dark x Angst Ficlet ||

|| PG – 17 ||

.

Burung sialan itu berkerumun lagi. Sehun mengamati gagak yang bertengger di ranting kurus pohon ek. Paruhnya runcing. Bulunya kelam. Mata yang seukuran biji lada itu mengintimidasi. Mereka bisa mengintai berjam-jam, mengusik ketenteraman Sehun melalui gelagat-gelagat misterius. Seolah-olah menantinya jadi bangkai.

“Sehun!” Miran perlu menaikkan intonasi dan mengetuk pintu keras-keras untuk dapat atensi cucunya. “Makan malam sudah siap. Ayo turun dan makan bersama.”

Sehun menoleh lantas menjengit, selintas nyala api senja menyapu parasnya. Dia mendahului Miran yang tergopoh-gopoh menuju ruang makan. Selagi neneknya turun, Sehun menata tiga pasang piring dan gelas dengan simetris. Menu makan malam hari ini kare kesukaan Sehun, masih mengepul ketika dituangkan di atas nasi. Miran terhenyak ketika Sehun tiba-tiba menyodorkan piring ketiga; Nenek lupa mengisinya, katanya.

Makan malam—selalu—berlangsung sepi, tidak ada perbincangan maupun candaan hangat. Sehun menyengap, memandang adiknya Sena yang melamunkan piringnya tanpa gairah. Tidak ada yang salah dengan masakan Miran, hanya saja rumah ini sudah lama kehilangan kesan hidup. Miran mendesah lelah, kerut-kerut kesabaran di wajahnya semakin banyak setiap memikirkan cucunya.

“Obatmu hari ini sudah, ‘kan?” selidik Miran sewaktu Sehun meninggalkan meja makan.

“Sudah,” sahutnya dingin, berlalu menuju ruang baca.

Sena di sana lebih dulu, bersimpuh di atas permadani sambil menyerakkan isi kotak mainan. Sehun mengembuskan napas dalam, meraih buku dari rak untuk dibaca dalam sorot lampu tua temaram. Sudut matanya mengawasi Sena; adiknya berfantasi minum teh bersama boneka-boneka yang didudukkan mengitari meja plastik. Adiknya yang cantik dan lugu, sekaligus rapuh untuk disentuh. Dia tersenyum getir.

“Sehun?”

Pemuda itu tersentak, saat sadar neneknya sudah berdiri menatapnya. “Kenapa Nenek pucat begitu?” dia bertanya sembari mengamati mimik Miran.

“Tidak apa-apa. Cuma sedikit lelah,” sanggahnya melepas cemas lalu menyibak rambut Sehun dengan sayang. “Nenek mau istirahat sebentar. Kalau ada apa-apa langsung bangunkan saja, ya?”

Dengan anggukan kaku Sehun menyetujui. Matanya mengiringi kepergian Miran, kala memperhatikan lebih teliti neneknya kelihatan beda. Rona kulitnya tidak terlihat sehat, dia bahkan menyandarkan tubuh rentanya dalam topangan beberapa bantal sebelum melayari mimpi. Susah payah Sehun bernapas ketika merapatkan pintu juga menampik cengkeraman ketakutan di dada.

Koakan gagak dari jendela serta-merta menggagaukan Sehun. Dia melotot sinis dan menemukan Luhan muncul di sana dengan kemeja hitam usang. Pemuda bertampang cerdik itu menyapa dengan seringai khas, tapi Sehun buru-buru melengos—bersikap tak pernah melihat si Bedebah. Dia mendudu ke kamar Sena, mengintip apa yang tengah dikerjakan adik kesayangannya.

Sepi.

Kamar itu rapi dan dingin. Tidak ada kegaduhan yang dibuat Sena ketika melompat-lompat di ranjang. Ruangan itu bak ditelan kegelapan, menyimpan segala rahasia pada sisi kelam tak terjangkau pandang. Sehun merasa tersesat di tempat paling asing, sementara Sena duduk meringkuk tersembunyi dalam bayangan.

Gadis itu seperti ketakutan setengah mati.

“Kau itu cuma benalu di keluarga ini,” hasut Luhan, merangkul pundak Sehun yang merinding. Beriring mekarnya senyuman licik dia membumbui, “Si Penyakitan yang tidak ada gunanya. Adikmu saja membencimu. Aku berani bertaruh, nenekmu pastilah diam-diam berharap kau segera mati ketimbang menggelontorkan uang untuk pengobatanmu yang tidak ada habisnya.”

“Keparat!” Sehun murka, menerjang Luhan sampai tersungkur di kakinya. “Iblis sepertimulah yang layak mati!”

Alih-alih jera, Luhan justru terpingkal oleh reaksi Sehun. Kemudian tawa girangnya berubah datar saat bangkit dan berseru, “Aku punya cara menyembuhkanmu! Tidakkah kau tertarik? Asal kau mau mengikuti kataku, aku jamin kesengsaraan ini akan berakhir.”

Semula Sehun teguh menolak, namun Luhan yang serupa iblis piawai menggoda. Dia merapat, bisikan-bisikan di telinga Sehun semakin jelas seiring Luhan membimbingnya ke arah gudang. Di balik patung kepala rusa terdapat loker yang dilengkapi engsel kuningan kuno. Ada senapan tersuruk di dalamnya, milik mendiang kakeknya yang gemar berburu.

“Bagus,” puji Luhan, menepuk pelan bahu tegang Sehun.

Mereka meninggalkan gudang menuju kamar Miran yang saking nyenyaknya tak lagi mendengar pijakan-pijakan yang menderitkan lantai kayu. Di sana Sehun berdiri mendengar kelanjutan instruksi Luhan. “Untuk mengetahui isi hati seseorang, kau perlu melihatnya langsung. Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?” tuturnya, mengarahkan moncong senapan ke dada Miran.

Sehun meneguk bongkahan di rakungnya, keringat dingin membutir di pelipis tatkala matanya berserobok dengan pandangan Luhan yang bernafsu. Telunjuknya yang tertambat pada pelatuk senapan gemetaran, Luhan terus mendesak. Sehun menggeram dan terkejut menemukan Sena berlinangan air mata memeluk boneka unicorn favoritnya. Adiknya tersedu di seberang tempat tidur, berlutut menegah niatan sang kakak.

Sehun mulai merasa kepalanya berdentam-dentam, puzzle-puzzle de javu dalam benaknya serentak menyatu meletupkan ingatan mencekam beberapa tahun lalu.  “Kalau ada yang harus mati lagi, itu kau …,” lisannya dengan sorot bengis. Senapan lantas ditodongkan kepada Luhan, Sehun melirik Sena sekilas. “Cukup sekali aku jadi pembunuh.”

“Tapi, bagaimana? Aku adalah kau, Oh Sehun,” gertak Luhan, tertawa renyah memindahkan laras senapan ke dahinya. “Tidak ada cara untuk membunuhku. Kau lupa kalau aku ini kebal? Apa pun yang kaulakukan akan sia-sia, Tolol!”

Tetapi senyum yang tak kalah mengerikan terbit dari bibir Sehun, pun matanya yang pekat jadi tenang sekaligus menakutkan. Jiwa iblis yang terkubur baru saja dibangkitkan, dengan segera senapan berganti arah ke kepalanya. “Karena itu kau akan mati bersamaku, Keparat. Ini akan jadi akhir dari dua iblis.”

DOR! Peluru meletus melubangi kepala Sehun. Dia tersungkur menumpahkan darah di lantai. Sakit, gelap dan dingin datang bersamaan. Bersama sisa kesadarannya dia bisa melihat sosok Luhan terbaring di sisinya, dengan luka yang sama, dengan penderitaan yang sama. Dan rintihan Luhan yang memuaskan itu kini bercampur jerit histeris neneknya yang melompat turun dari ranjang.

Jangan khawatir, Nek ….

Setidaknya … aku berhasil lepas dari jerat skizofrenia sialan ini.

 

—Fin—

 

Hello, long time no see! Happy holiday! Yeay 2018 sudah di depan mata kkk~

Ditunggu feedback-nya ya, jangan ragu buat nulis komentar atau saran. Have a purrrrfect day! ❤

2 tanggapan untuk “KILL THE DEVIL — Joongie”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s