[Ficlet Series] #1 Should We Break Up? by ShanShoo

hhs3

A fanfiction by ShanShoo

Casts EXO’s Sehun, OC’s Eunhee, Kai/Kim Jongin

sad-romance, hurt/comfort, school-life | ficlet series (+800ws) | PG-15

Disclaimer : I just own the plot!

Note : fanfiksi ini sudah diposting sebelumnya di blog pribadi aku sekitar 2 tahun yang lalu (lupa :D)

Akan ada beberapa perubahan di sini berupa tanda baca, penulisan dan juga EYD-nya (mohon maaf apabila kalian masih menemukan kesalahan dana penulisan di sini ).

—oOo—

“… aku lelah. Haruskah kita putus?”

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

Pagi itu, Sehun datang ke sekolah dengan seraut wajah penuh kebahagiaan yang terpancar. Kendati menanggapi banyaknya bisikan mengenai ekspresi wajahnya itu, Sehun memilih diam dan bergelung dalam dunianya sendiri. Well, alasan mengapa Sehun bersikap demikian adalah, karena;

Sehun ingat, beberapa waktu yang lalu Eunhee kesal padanya, lantaran Eunhee tak diizinkan olehnya untuk bertemu dengan Kai. Hal itu pun menyebabkan Eunhee tak mau berbicara pada Sehun. Maka, sebagai permintaan maafnya, Sehun membuatkan dua tungkup sandwich untuk sang kekasih. Berharap Eunhee mau memaafkannya, dan mereka bisa kembali berbagi canda tawa seperti biasa.

Berkelok pada satu koridor lagi, maka Sehun akan segera tiba di kelasnya. Di mana Eunhee pasti sudah berada di sana, menunggunya. Dan hal itu semakin membuat rasa senang yang ada dalam dada Sehun kian membuncah.

Baru saja Sehun menapakkan alas sepatu di ambang pintu kelas, maniknya disuguhkan dengan pemandangan yang cukup meningkatkan kerja jantungnya.

Sehun melihat Eunhee tengah duduk bersisian dengan Kai.

Akan tetapi, keduanya belum menyadari kehadiran Sehun. Mereka malah asyik bercengkrama, saling berbagi canda tawa, seperti yang selalu dilakukan Sehun bersama dengan kekasihnya itu. Terlebih, Kai tak sungkan mencubit besar kedua pipi Eunhee, mengusak surainya, juga merangkul bahu Eunhee tanpa asa.

Benar-benar

“Oh, Sehun-ah!” adalah Eunhee yang pertama menyadari kehadiran Sehun, tepat ketika netranya bergulir ke arah pintu kelas.

Yang dipanggil rupanya tak menjawab. Sehun memilih melangkah ke dalam kelas tanpa berucap sepatah kata.

“Kai ada di sini untuk menemaniku, selagi kau belum datang. Bukankah Kai ini baik?” ujar Eunhee, tangan kanan menepuk-nepuk bahu Kai sembari tersenyum lebar, pun dengan Kai yang juga memberinya senyuman lebar.

Ucapan itu masih belum direspons. Sehun hanya tersenyum kaku, abai terhadap celotehan kekasihnya, serta senyuman Kai yang―entah bagaimana―terlihat menyebalkan di matanya.

Kedatangan Sehun membuat Kai memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Laki-laki itu beranjak berdiri dari kursi milik Sehun, lantas berujar, “Kita bisa mengobrol lagi nanti,” pada kedua insan itu, namun terdengar seperti hanya tertuju pada sang gadis.

Yep!” jawab Eunhee, antusias. Karena ia merasa jika berbincang dengan Kai adalah suatu kebahagiaan tersendiri baginya.

Dan tak lama kemudian, sosok Kai tak lagi terlihat pandang.

“Aku suka Kai,” Eunhee berujar sembari menyiku lengan Sehun yang tengah mengeluarkan buku pelajaran.

 

Roman Sehun berubah setelah mendengar pengakuan Eunhee yang begitu riang. Alih-alih menunggu jawaban Sehun, Eunhee kembali bersuara, “Kai itu seperti dewa penyelamatku, dia datang di saat yang tepat ketika aku butuh teman berbincang,” katanya, seolah diamnya Sehun adalah persetujuan baginya agar terus berbicara. “Selain itu, aku juga suka bagaimana cara Kai…”

“Kalau begitu, mengapa kau tak berpacaran saja dengannya?”

 

Ucapan Eunhee terhenti seketika. Maniknya bergulir menatap wajah Sehun yang kelewat datar. Sungguh, demi apa pun, baru kali pertama ia melihat bagaimana ekspresi Sehun saat ini.

“Kau… kau bilang apa?” tanya Eunhee, ragu. Semoga saja ia tak salah dengar.

“Berpacaran saja dengan Kai jika kau memang menyukainya.” Satu kalimat menyakitkan lagi, dan itu membuat dada Eunhee terasa nyeri bukan main.

“Kau kenapa, Hun?”

Sehun mendengus kesal. “Bukankah kaubilang bahwa kau menyukai Kai? Kulihat kau begitu bahagia saat bersama dengannya,” katanya, nyaris berapi-api.

“A-apa?” Eunhee mengerjapkan matanya beberapa kali. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Sehun berkata seperti itu. Ditatapnya Sehun lamat-lamat, berharap bahwa apa yang dilontarkan Sehun barusan hanyalah sebuah candaan. Namun, apa yang Eunhee dapat? Tidak ada candaaan apa pun. Melainkan tatapan penuh keseriusan yang melekat pada kedua bola mata Oh Sehun. “Kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini?” akhirnya, pertanyaan itulah yang terlontar dari bibir Eunhee.

Dadanya terasa semakin sesak ketika ia melihat Sehun mengembuskan napas panjang. “Itu karena…” Menunduk sejenak, sebelum ia kembali bersitatap dengan gadis itu, “aku lelah. Haruskah kita putus?”

Eunhee merasa jika dunia berhenti sejenak ketika ungkapan itu meluncur dari bibir Sehun. Kilat-kilat kebahagiaan yang sebelumnya ada, kini perlahan meredup. Berganti dengan tatapan penuh rasa tak percaya dalam manik Park Eunhee. Sekali lagi, Eunhee menatap lamat sosok kekasihnya itu. Berharap jika semua yang diutarakan Sehun tadi hanyalah candaan.

Sayangnya, sekali lagi, Eunhee tak menemukan sebuah candaan itu.

Eunhee belum berbicara, ia malah membiarkan Sehun kembali berujar mantap, “Kurasa kau egois. Kau cemburu dan marah ketika kau melihat Minji berada di dekatku. Sedangkan aku… kau pikir, aku tak cemburu dan kesal ketika melihatmu bersama Kai?”

Eunhee mulai merasa kedua matanya memanas.

“Kau selalu saja terlihat bahagia bersama Kai. Tapi, bagaimana jika kau bersama denganku? Apakah kau merasa bahagia?”

Satu kerjapan, dan Eunhee tak sanggup menahan panas yang menjalar di kedua mata, hingga memunculkan bulir bening di sana.

Dan… akhirnya, air mata itu mengalir menyusuri lekuk pipinya.

“Aku… well, bukankah aku memilih keputusan yang tepat? Kau bisa bersama dengan Kai, sosok yang kausukai itu,” ujar Sehun seraya mengedikkan bahu kanannya, tak acuh.

“Aku tak menyangka kau bisa memutuskan hubungan kita semudah ini.” Eunhee mengusap lelehan air matanya. Ia berusaha berujar sepelan mungkin, karena ia tak mau semua teman sekelasnya tahu masalah ini.

“Kau berkata seperti ini karena kau menyukai Han Minji, kan?” tanya Eunhee tak tertahankan, namun Sehun tetap diam tak merespons.

“Baiklah, aku mengerti!” Eunhee mengangguk kesal. “Kita akhiri saja hubungan ini!”

Eunhee bangkit berdiri sembari membawa tasnya menuju ke bangku belakang. Mulai hari ini, dan seterusnya, ia tak mau berada satu bangku lagi dengan Sehun. Dan… mulai hari ini pula,

.

.

.

.

hubungan mereka resmi berakhir.

—oOo—

 

Kyaaaaaaaa Sehun sama Eunhee putuuus!!!! >.<

Sehun yang cemburuan, dan Eunhee yang cukup posesif bener2 bikin hubungan mereka retak! :””3

Entahlah, tetiba aku kepikiran bikin ff beginian, dengan menistakan hubungan mereka berdua :’D

Well, ff ini bukan chapteran loh, yaa… jadi meski aku gak lanjutin ff ini pun gak bakal ngaruh apa-apa/? :’v

Comment are allowed, Guys! ^^

9 tanggapan untuk “[Ficlet Series] #1 Should We Break Up? by ShanShoo”

  1. Sepertinya aku akan komen hampir mirip di semua ff yang sudah kubaca bahwa sehun seperti om limbad penuh dengan kejutan yang ia bawa, oke sip. Izin baca ya kak, kalau di lanjutin mungkin seru kak, semangat yaa!!! 😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s