GAME OVER – Lv. 38 [Agent Moon] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] —  Level 31 —  Level 35Level 36Level 37 — [PLAYING] Level 38

Only people who persist to the end can become the champion

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game Over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 38 — Agent Moon

In Author’s Eyes…

Jam sudah menunjuk angka enam lewat setengahnya, tetapi Johnny masih terjaga. Well, pemuda itu memang benar-benar tidak tidur, atau pulang. Setelah ia menghabiskan jam makan malam di rumah makan kecil yang ada di depan kantor—bersama dengan Seungwan, tentu saja—gadis bermarga Son itu menemaninya hingga jam sebelas malam, ikut berkutat dengan program yang tengah berusaha Johnny perbaiki.

Dengan penuh tanggung jawab, Johnny kemudian mengantar gadis itu ke tempat tinggalnya, dan kembali ke kantor untuk meneruskan pekerjaan hingga pagi menyambut. Dia berhasil menyelesaikannya, tentu saja.

“Hanya yang bisa bertahan sampai akhir yang bisa bertahan, Johnny.”

Dan juga, berkat konversasi yang ia ciptakan dengan Seungwan malam tadi, dia tidak harus merasa gentar saat menyelesaikan rencananya, meski dia sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya Kim Haejoon jika tahu dia sudah melakukan apa yang tidak Haejoon sukai.

“Selamat pagi, Manager! Oh, apa ini karakter baru?” sebuah sapaan masuk ke dalam rungu Johnny begitu dia selesai menyeruput kopi hitam yang sengaja dibuatnya semalaman untuk mengusir kantuk.

Hey, Chanyeol. Kau datang juga. Well, aku menyelesaikan beberapa desain karakter semalam. Dia salah satunya.” ucap Johnny saat manik Chanyeol tertuju pada slide presentasi berisikan karakter di papan putih yang ada di ujung ruangan.

“Karakter di mana ini? Dia terlihat begitu serupa dengan manusia. Wow, aku sungguh takjub dengan kemampuanmu mengolah grafisnya.” kata Chanyeol kemudian.

“Red Hair Witch, dia akan ada di Tacenda Corner, menggantikan NPC dengan bugs yang sudah kita tarik dari sistem. Bagaimana menurutmu? Dia terlihat cocok untuk ada di dalam Tacenda, bukan?” tanya Johnny kemudian.

Chanyeol tampak menimbang-nimbang sejenak. “Sangat cocok. Pakaiannya terlihat sopan, namun tetap anggun dan menampakkan karakter khas NPC. Rambut merah menyalanya juga sesuai dengan penamaan karakter. Apa dia sudah bisa diakses?” tanya Chanyeol lagi.

Johnny mengangguk sebagai jawaban.

“Karena bonus stage tidak bisa diakses setiap hari oleh semua player, jadi ya, dia sudah bisa diakses sejak pagi tadi. Tapi, tetap saja bonus stage tidak bisa diakses oleh semua player. Begitu pula dengan Tacenda Corner. Kau tahu sendiri command apa yang sudah ditanamkan di Tacenda Corner, bukan?” kata Johnny mengingatkan Chanyeol pada beberapa stage yang memang hanya akan bisa diakses sebanyak satu kali oleh masing-masing player.

Limited access. Setelah menyelesaikan stage dan mengambil bonusnya, kau tidak akan bisa mengaksesnya kembali. Tapi ya, kuakui kau sungguh jenius, memasukkan karakter baru ke dalam bonus stage yang jarang bisa diakses. Tidak akan ada yang sadar tentang perubahan barunya.” ucap Chanyeol, tersenyum simpul sebelum ia menepuk bahu Johnny.

“Kau sudah berusaha keras, Manager. Sekarang, mengapa kau tidak beristirahat sebentar sebelum kita memulai presentasi dan meresmikan recruitment yang akan kita adakan? Keadaanmu sungguh tidak main-main.” ucap Chanyeol, mengingatkan Johnny pada kantuk juga letih yang sempat mendominasinya dini hari tadi.

Johnny akui, dia memang menginginkan istirahat, setidaknya tubuh Johnny meronta menginginkan istirahat itu.

“Aku akan beristirahat, satu jam.” kata Johnny akhirnya.

“Bagus. Perlu kusiapkan sofa?” tawar Chanyeol, tengah berusaha berbaik hati di pagi hari. Karena bagaimanapun, mood Johnny sepertinya sedang sangat baik hari ini. “Tidak, tidak perlu.” tolak Johnny kemudian.

Pemuda itu bergerak merapikan surainya sejenak sebelum dia akhirnya melempar pandang ke arah survival tube yang ada di sudut ruangannya.

“Aku akan masuk ke mode survival selama satu jam itu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Invisible Black telah memberikan tantangan battle kepada WhiteTown, Enterprise, Clown. House of Zeus. Raider. Womanizer. Unbeaten, dan Third Moon. Invisible Black telah memberikan tantangan battle kepada WhiteTown, Enterprise, Clown. House of Zeus. Raider. Womanizer. Unbeaten, dan Third Moon.’

Satu pengumuman khas dari server masuk ke dalam pendengaran Johnny begitu dia bisa mengakses survival mode. Well, dia hanya absen selama satu hari dari WorldWare dan hal semacam ini sudah terjadi?

“Apa yang terjadi?” tanya Johnny sesampainya ia di Town yang ia bangun. Beberapa anggotanya tampak tengah saling berdiskusi, selagi beberapa player lain tampak tak ambil pusing.

“Invisible Black menantang kita, Leader.” sahut salah seorang player.

“Siapa yang sudah membuat maslaah?” tanya Johnny lagi—oh, identitasnya adalah Royal Thrope sekarang, bukan?

“SelynMa dan kawan-kawannya. Sepertinya mereka berbuat masalah dengan membunuh playerplayer newbie dan meraup pouch dari penyerangan itu.” seorang player menjawab.

Sontak Royal Thrope mengembuskan nafas panjang. Niatnya masuk ke dalam survival mode adalah untuk sedikit bersenang-senang, tapi rupanya keinginan itu hanya tinggal mimpi sekarang.

“Bagaimana dengan WhiteTown?” tanya Royal Thrope kemudian.

“Belum ada pergerakan dari Invisible Black. Tapi semua orang sedang khawatir sekarang, Town kita ada di urutan kedua, Leader.”

Royal Thrope terdiam sejenak. Lekas ia memutar otak, berusaha menemukan alasan di balik tantangan yang diberikan kepada Townnya padahal yang berulah hanya kelompok kecil dari bagian Townnya.

“Kurasa, bukan hanya SelynMa dan kawan-kawannya yang jadi masalah.” Royal Thrope sampai pada satu kesimpulan.

“Apa maksudmu, Leader?”

“Invisible Black adalah seorang player yang tidak pernah bermasalah dengan siapapun. Keluhan yang ada di pengumuman global yang dia ciptakan juga tidak jadi alasan obyektif yang membuat Enterprise berada di urutan kedua.

“Aku tahu, White Tiger dari WhiteTown telah mencari masalah secara personal dengannya. Dan itu pasti yang membuat WhiteTown ada di urutan pertama tantangannya. Kalau dugaanku benar… itu artinya seseorang dari Enterprise telah menarik perhatian Invisible Black.

“Pertanyaannya sekarang, siapa di Enterprise yang sudah mengusik perhatian Invisible Black… sampai-sampai ia menargetkan Enterprise di urutan kedua? Sedangkan, aku sudah mengawasi tiap gerak-gerik anggotaku di sini.”

Tatapan Royal Thrope sekarang bersarang pada masing-masing player yang ada di dalam Townnya. Royal Thrope sendiri bukannya bodoh, dia memang sudah mengawasi tindakan sembrono yang mungkin akan dilakukan player dalam Townnya. Tapi nihil, dia tidak bisa menuduh seorang pun secara spesifik.

Sebab, akhir-akhir ini atensi Royal Thrope juga lebih banyak tercurah ke kehidupan nyatanya.

“Tidak ada jalan lain, aku harus bicara pada leader Town lain mengenai hal ini.” putus Royal Thrope, ia kemudian melempar pandang ke arah jam digital yang ada di profilnya. “Tidak ada waktu sekarang, tapi aku akan mengirimkan pesan pada mereka.” ujarnya.

Lantas Royal Thrope mengukir langkah, niatnya untuk sekedar mengawasi apa yang terjadi di Townnya pun berubah menjadi sebuah keinginan untuk merencanakan pertahanan terhadap serangan tak terduga yang akan Invisible Black berikan kepada Townnya, Enterprise.

“Invisible Black… Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Kau sudah bermain sebagai player paling tidak dominan di tempat ini selama bertahun-tahun, lalu sekarang kau tiba-tiba saja berusaha memamerkan kehebatanmu?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Invisible Black tidak suka menunggu. Dan kegiatan yang dilakukannya sekarang sungguh tidak dia anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan. Karena dia harus menunggu.

“Mereka akan benar-benar hancur karena ulahku, Yuta.” akhirnya Invisible Black angkat bicara juga. Sedangkan lawan bicaranya, hanya mengawasi dalam diam.

“Kau bilang kau ingin mendapatkan perhatian. Tidak ada jalan lain selain ini, Black. Kau harus menghancurkan Town-Town raksasa itu untuk mendapatkan perhatian dari semua player global yang ada di dalam sini.” ujar Yuta menjawab keraguan yang terbesit dalam vokal Invisible Black.

“Kukatakan aku hanya merasa penasaran dengan hal-hal tidak wajar yang seringkali muncul di dalam benakku. White Lion, Royal Thrope… YourZeus… mereka terlihat begitu familiar dalam pandanganku.”

“Itu juga yang membuatmu menaruh tiga Town itu dalam urutan awal penyeranganmu, bukan? Kita sudah merencanakannya dengan baik, Black. Selama beberapa waktu kau sudah menahan diri untuk tidak masuk ke dalam sistem mereka dan mengetahui apa yang terjadi, alasan yang membuatmu memiliki ingatan tentang mereka, atau hal lain.

“Dan kau akan menyerah hanya karena keraguanmu untuk menghancurkan Town mereka? Jangan bercanda. Kau tahu sendiri mereka juga sudah membuat masalah di sini. Merasa bahwa mereka adalah yang paling berkuasa, dan berusaha menyingkirkan kita.”

Invisible Black akhirnya terdiam saat mendengar penuturan Yuta. Dia akui, dia memang seringkali teringat pada sosok tiga leader itu, bagaikan sebuah mimpi buruk yang seharusnya tidak bisa dia alami.

Melebihi ingatan sepintasnya tentang HongJoo yang akhirnya membuat Invisible Black menguntit player wanita itu secara diam-diam dan tidak kentara, juga melebihi kekesalannya pada White Tiger yang selalu mencari masalah dengannya… tiga orang itu seolah memberi Invisible Black sebuah keinginan untuk menghindar.

“Apa menurutmu cara ini tidak akan kentara?” tanya Invisible Black akhirnya. Dia tidak ingin semua orang tahu atau menaruh curiga terhadapnya. Dia juga tidak ingin bayangan-bayangan buruk yang tak dimengertinya itu terus menghantui.

Berhubung Yuta tidak pernah mengalami hal serupa, mau tidak mau dia harus mencari tahu jawabannya sendiri.

“Ya. Kau tahu, Invisible Mode memang ada di sini, tapi tidak bisa benar-benar diakses jika tidak ada persetujuan dari sistem. Kau adalah satu-satunya player yang berada dalam invisible mode, dan kau juga player dengan level tertinggi di sini.

“Semuanya sudah sempurna, Black. Kita hanya perlu menyelesaikan rencana ini, dan BAM! Semua jawabannya akan kau dapatkan dengan mudah, tanpa kau harus terus mengeluh setiap hari.”

Akhirnya, Invisible Black mengangguk. “Baiklah, kalau begitu aku akan menyelesaikan rencana ini seperti yang sudah kita susun. Sekarang, apa lagi yang perlu aku persiapkan?” tanya Invisible Black kemudian.

Alternate ID.”

“Apa?”

“Kau harus punya identitas sungguhan, seperti mereka semua, sepertiku. Ya, meski aku sebenarnya adalah artificial intelligence yang hidup dengan identitas Anatano di sini tetapi sebenarnya aku adalah Nakamoto Yuta, kau juga harus punya trik serupa.”

“Jadi aku harus punya nama?” tanya Invisible Black.

“Ya.” Yuta mengangguk, “Kau sudah terpikir sebuah nama? Atau aku harus menciptakannya untukmu? Aku punya banyak persediaan nama yang bagus, kau tahu.” Yuta lantas memamerkan sebuah senyum sumringah.

“Tidak, tidak perlu. Aku bisa memikirkan nama itu sendiri.” tolak Invisible Black.

“Oh, begitu? Jadi nama apa yang akan kau gunakan?” tanya Yuta.

Sejenak Invisible Black terdiam. Dipandanginya Yuta—satu-satunya karakter yang punya kecerdasan buatan serupa dengannya—sebelum ia dengan mantap buka suara.

“Byun Baekhyun. Nama ini yang selalu terngiang di dalam memoriku… dan sekarang akan kugunakan dia sebagai identitasku.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau yakin cara ini akan berhasil, Liv?”

Sebuah tanya masuk ke dalam pendengaran Liv saat dia tengah duduk menunggu di dalam sebuah cafe. Jangan ditanya siapa yang sekarang menjadi lawan bicaranya. Sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Oh Sehun—yang tengah mengawasinya dari CCTV di dekat cafe.

“Absolut, Sehun. Tidak ada jalan lain. Kita sudah kehilangan kontak dengan Seungwan dan tidak ada akses masuk ke dalam NG Soft.” ujar Liv, menjawab dengan vokal berbisik sebab dia tidak bisa bicara dengan leluasa saat ia berada di tempat yang ramai, bukan?

“Baiklah jika itu memang maumu. Aku akan melakukan penyelidikan pada latar belakang kurir bayaran ini setelah aku dapatkan figur wajahnya.” kata Sehun, tidak sulit baginya untuk menggunakan face recognition begitu dia dapatkan gambar wajah dari sosok pencuri bayaran yang Liv hubungi beberapa waktu yang lalu.

Keduanya berencana untuk mendapatkan file prototype WorldWare untuk menyelidiki perubahan-perubahan signifikan yang telah terjadi di dalam WorldWare. Seharusnya, mereka mengandalkan Seungwan dalam hal ini. Tapi rupanya Seungwan sudah terjebak di dalam NG Soft, dan kesulitan untuk mengontak keduanya.

Jadi baik Sehun maupun Liv sama-sama tidak punya pilihan.

SRAK!

Liv berjengit kaget saat dilihatnya seorang pemuda berbalut jaket kain berwarna hitam dengan hoodie terpasang menutupi kepalanya tiba-tiba saja duduk di hadapannya.

“Maaf?” Liv berkata tak mengerti, seingatnya ia tak pernah menyediakan ruang kosong untuk—“Aku kurir bayaran itu.”—ah, sekarang Liv mengerti. Tentu dia tahu kalau sosok pemuda di hadapannya bukan orang bodoh.

Terbukti dengan bagaimana sekarang pemuda itu muncul dengan sebuah masker terpasang di wajahnya. Dari hasil akses visualisasi yang bisa Liv lakukan dengan kedua maniknya, dia dapatkan sedikit informasi mengenai masker tersebut.

Tak ayal, hal itu nyatanya berhasil membangkitkan tawa dari bibir Liv.

“Ada apa?” tanya si pemuda, tidak terdengar dingin atau terkesan antagonis. Yang ada dia terlihat seolah tengah berusaha melindungi identitasnya dari segala kemungkinan—termasuk kemungkinan Sehun melakukan face recognition padanya—yang bisa mengungkap identitasnya.

“Tidak ada. Aku hanya merasa geli saat melihatmu menggunakan masker itu.” jawab Liv ringan, diseruputnya kopi yang ada di gelas putih di hadapannya, sebelum dia melempar pandang kembali ke arah si pemuda. “Aku pikir sudah tidak ada yang ingat pada tokoh Kaneki Ken saat ini, bukan? Seingatku, seri animasi itu sangat populer umm… sekitar dua puluh tahun yang lalu, mungkin?” sambung Liv kemudian.

Pemuda di hadapan Liv lantas berdeham pelan. “Tiga puluh tahun, lebih tepatnya.” ralat si pemuda. Well, sebenarnya Liv tahu benar kalau waktu yang benar tentang masa-masa popularitas karakter bermasker yang sekarang digunakan pemuda di hadapannya sebagai penyamaran.

Tetapi dia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa pemuda itu menggunakan hal yang sudah jarang ada di negara mereka sebagai penyamaran? Yang ada dia justru terlihat semakin mencurigakan, bukan?

“Baiklah, mari kita bicara tentang bisnis.” Liv kemudian menekan keinginannya untuk menyanyai si pemuda lebih jauh lagi. Lantas dipandanginya si pemuda dalam diam, berusaha merekam sebanyak mungkin identitas si pemuda dengan kedua maniknya.

“Berapa banyak bayaran yang kau tawarkan?” tanya si pemuda tanpa basa-basi.

“Sebanyak yang kau inginkan.” jawab Liv ringan, “…, aku tidak punya kendala soal uang. Yang kuperlukan hanya dua: prototype, dan keberadaan gadis ini.” sambung Liv, diletakkannya sebuah foto di hadapan pemuda tersebut, selagi si pemuda meraih foto tersebut dengan jemarinya dan menatapnya sejenak.

Okay, deadline?” tanya si pemuda lagi saat ia meletakkan kembali foto tersebut di atas meja. Liv sendiri tampak menimbang-nimbang. “Satu bulan? Cukup? Aku akan menanyai perkembangan bisnis ini setiap akhir pekan.” kata Liv, jemari gadis itu sudah akan bergerak meraih foto yang dibiarkan si pemuda di atas meja jika saja pemuda itu tidak bergerak lebih cepat.

Dia meraih foto tersebut, dan menatap Liv dengan sebuah tawa pelan. “Aku sangat menjaga privasiku, Nona. Jadi aku tidak bisa biarkan kau membawa benda yang sudah menyimpan identitasku. Sidik jari, contohnya.” kata pemuda itu lantas membuat Liv tersenyum simpul.

Dia benar-benar tidak sedang berurusan dengan orang bodoh, rupanya.

“Baiklah. Kau tahu di mana kau bisa menghubungiku. Bisa kita bertemu di cafe ini setiap akhir pekan?” tanya Liv kemudian, berusaha memikirkan alternatif rencana lain selagi ia memasang kamuflase berisi keramahan.

“Aku yang akan menentukan di mana kita harus bertemu. Di tempat ini ada terlalu banyak akses CCTV. Seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak ingin—”

“—Kau tidak ingin identitasmu terkuak. Fine, hubungi aku setiap akhir pekan.” potong Liv cepat, agaknya si gadis sudah menyerah dengan upayanya untuk mendapatkan identitas pemuda tersebut.

Anggukan tegas lantas Liv dapatkan sebagai balasan. “Terima kasih, dan sampai jumpa.” katanya sebelum ia lantas bangkit dari tempat duduknya dan melangkah meninggalkan Liv di tempat yang sama.

“Liv, kau dapat sesuatu?” pertanyaan dari Sehun segera menyambut begitu Liv memerhatikan kepergian si pemuda.

“Nihil, Sehun. Dia orang yang sangat bersih. Kelewat bersih sampai-sampai ia memerhatikan semua hal yang bisa menguak identitasnya. Dia tidak menunjukkan wajahnya, menggunakan lensa kontak untuk menyamarkan irisnya, ia bahkan tidak menyentuh gagang pintu cafe saat keluar.

Well, dia mungkin memang akan menguntungkan ketika dia sudah mendapatkan yang kita mau, karena dia tidak akan menyisakan jejak apapun. Tapi… kita sama-sama tidak bisa memastikan, apa dia tidak berbahaya untuk kita.”

Kelakar Liv berhasil melahirkan sebuah hembusan nafas panjang di seberang. Sehun sendiri tidak habis pikir, bagaimana sosok pemuda itu bisa lolos dari pantauan semua CCTV di sekitar cafe padahal Sehun mengawasi semua CCTV tersebut bagai sebuah arena permainan.

“Kau benar, dia seorang perfeksionis yang bekerja dengan sangat rapih. Kita harus berhati-hati, Liv. Siapa yang bisa menduga kalau dia sewaktu-waktu akan berbalik menjadi bumerang yang berusaha menghancurkan kita?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Taeil melangkah cepat menyusuri jalanan sempit di belakang cafe. Hampir-hampir dia kehabisan nafas, karena ulah masker yang Jaehyun paksakan untuk ia kenakan. Berjaga-jaga, alasan Jaehyun.

Tetapi Taeil sendiri jadi kesulitan bernafas. Dia sampai tak punya keinginan untuk berlama-lama membahas perkara bayaran yang akan didapatkannya dari bisnis rahasia ini. Diam-diam, Taeil jadi ingin menyalahkan Jaehyun.

PIP! PIP!

Segera jemari Taeil bergerak meraih ponsel kecil di saku jaket gelap yang ia kenakan. Begitu melihat deretan nomor familiar di layar, ia langsung menekan tombol untuk menerima telepon tersebut.

“Jae! Sialan kau! Masker ini membuatku tidak bisa bernafas!” langsung Taeil lemparkan umpatan kekesalan karena pada akhirnya Jaehyun meneleponnya juga.

Tidak lantas menjawab, Jaehyun di seberang sana justru tertawa terbahak-bahak. Seolah penderitaan Taeil bisa ia duga sebelumnya, dan sudah ia tunggu-tunggu.

“Ha! Ha! Maaf, kau bilang kau butuh sesuatu untuk menyamarkan wajahmu. Aku tak punya pilihan lain selain masker, tahu. Lagipula, salahmu sendiri karena memilih koleksiku dengan sembrono. Aku sudah katakan, kau seharusnya menggunakan topeng salah satu superhero saja.” sahut Jaehyun di seberang sana.

Taeil sendiri hanya menyahut dengan memutar bola matanya, jengah. Memang bukan salah Jaehyun sepenuhnya karena Taeil memilih sendiri masker tersebut dari sekian banyak masker-masker yang Jaehyun koleksi.

Taeil mengambil masker tersebut karena dia ingat bagaimana di masa kecilnya dia pernah menonton kartun animasi serupa yang ayahnya tunjukkan dulu, sebelum kehidupan Taeil berubah kacau seperti saat ini.

“Dia ternyata seorang perempuan.” kata Taeil, alih-alih melanjutkan perdebatannya dengan Jaehyun mengenai masker, dia kemudian berkelakar tentang sosok yang hendak membayarnya untuk mencuri prototype WorldWare—sosok yang mengiriminya surel tempo hari.

Okay, dia perempuan. Cantik?” tanya Jaehyun.

“Sialan.” umpat Taeil kesal, tahu bahwa Jaehyun memang sengaja menjawab ucapanya dengan pertanyaan yang tidak sinkron. “Ha! Ha!” sekali lagi Jaehyun tertawa. “…, aku hanya bercanda. Maksudku, bagaimana kelihatannya? Berapa banyak dia berani membayarmu?” sambung Jaehyun kemudian.

“Sebanyak yang aku minta. Dia katakan kami harus bertemu setiap akhir pekan. Dia ingin aku menemukan seorang gadis di dalam NG Soft, dan prototype itu, tentunya.” kata Taeil kemudian, tanpa sadar ia keluarkan kembali foto yang gadis tadi berikan kepadanya.

“Oh! Apa gadis yang harus kau cari itu cantik?” lagi-lagi Jaehyun menanyakan hal yang tidak sinkron. “Keduanya cantik! Puas?” sahut Taeil akhirnya membuat tawa Jaehyun meledak. Sungguh, dia tahu Taeil sangat tidak senang jika mereka harus bicara tentang keadaan fisik seseorang, apalagi itu wanita.

Di mata Taeil, semua wanita itu cantik. Jadi dia selalu merasa kesal saat Jaehyun menanyakan ‘Apa dia cantik?’ kepada Taeil. Karena Jaehyun sudah tahu dengan jelas jawaban macam apa yang akan Taeil berikan, tapi tetap menanyakan hal tersebut untuk memancing kekesalan Taeil.

“Kalau kau bilang mereka cantik, aku jadi meragukannya. Well, di mana kau sekarang? Perlu kujemput?” tanya Jaehyun kemudian. Lihat? Setelah menanyakan soal keadaan fisik dua orang wanita yang wajahnya Taeil lihat—satu bertemu langsung, satu lagi dari foto—Jaehyun justru meragukan jawaban Taeil.

“Tidak, tidak perlu. Aku akan pulang dengan bus. Sampai bertemu di rumah, Jae.” kata Taeil sebelum dia melangkah ke halte, maniknya menangkap keberadaan bus yang biasa ia naiki ketika ia hendak—

BRUGK!

—pulang.

Aww!”

“Oh, maaf. Aku tidak sengaja.” Taeil segera tersadar ketika dia nyatanya sudah berjalan terlalu tergesa-gesa.

“Y—Ya, tidak apa-apa.” kata sosok yang tanpa sengaja Taeil tabrak barusan. Melihat bagaimana barang-barang sosok tersebut, Taeil segera bergerak membantunya memunguti barang-barangnya yang tercecer keluar dari tas kecil yang ia kenakan.

“Maaf, aku sungguh tidak menabrakmu dengan sengaja.” kata Taeil saat ia membantu sosok tersebut berdiri. Sementara sosok yang ditabrak Taeil, menjawab dengan sebuah senyuman manis, diikuti satu anggukan ringan.

“Tidak masalah. Aku juga tidak memerhatikan jalan.” katanya berhasil membuat Taeil terdiam. Tidak, Taeil bukannya terdiam karena yang ditabraknya adalah sosok gadis cantik lainnya. Dia juga tidak terdiam karena kecantikan gadis itu pasti akan dipertanyakan Jaehyun begitu Taeil menceritakannya.

Tapi karena Taeil merasa sangat familiar dengan wajah rupawan si gadis.

Umm, kau baik-baik saja?” tanya si gadis begitu sadar kalau Taeil tak kunjung melepaskan tali tas yang sejak tadi dipegangnya. “Ah, ya, maaf.” segera Taeil tersadar, ia lepaskan tali tas yang ada di tangannya, memberi ruang bagi si gadis untuk melempar satu senyum lagi sebelum ia lantas melangkah pergi meninggalkan Taeil.

“Hey, Taeil? Ada apa? Aku mendengar suara perempuan.” untuk kedua kalinya Taeil ditarik pada kesadaran lain, kalau dia tadi belum sempat memutuskan hubungan teleponnya dengan Jaehyun.

“Oh, hey, Jae, aku baru saja menabrak seorang gadis cantik.” sontak perkataan Taeil sekarang membuat Jaehyun di seberang sana kebingungan. Ada apa dengan Taeil? Mendadak menyebut seorang gadis sebagai ‘gadis cantik’ tanpa Jaehyun harus bertanya dulu?

“Apa dia seseorang yang kau kenal?” tanya Jaehyun, seolah paham benar mengenai pribadi Taeil yang selama ini begitu tertutup.

Sementara itu Taeil sendiri tersenyum simpul. “Ya… bagaimana mungkin aku tidak mengenalnya? Wajahnya adalah wajah paling cantik seantero server WorldWare, Jae. Tidak salah lagi, dia pasti Aphrodite, pairku di dalam WorldWare.”

“A—Apa?”

PIP! PIP! PIP!

Belum sempat Taeil meneruskan penjelasannya pada Jaehyun, sebuah panggilan masuk lain sudah menginterupsi konversasi keduanya.

“Oh, sebentar Jaehyun, ada panggilan masuk. Aku akan menghubungimu lagi nanti.” kata Taeil sebelum ia kemudian memutus panggilannya dengan Jaehyun dan mengangkat panggilan masuk lain tersebut.

“Halo?” kata Taeil.

“Aku butuh bantuanmu lagi, Agen Moon.” alis Taeil terangkat saat mendengar kalimat itu menyapa rungunya begitu dia mengangkat telepon tersebut.

“Suho?” sontak Taeil teringat pada vokal yang sama yang pernah menyapa rungunya beberapa tahun lalu.

“Aku akan membayarmu, berapapun itu. Tapi kau harus membantuku lagi, Agen Moon.” sempat Taeil menyernyit saat mendengar ia lagi-lagi disebut sebagai ‘Agen Moon’ padahal dia bukanlah seorang agen rahasia.

Sungguh, rekan bisnisnya satu ini amat berlebihan.

“Bantuanku? Untuk apa?” tanya Taeil.

Hening sejenak, Taeil seolah dibiarkan untuk menimbang-nimbang selagi lawan bicaranya di seberang sana larut dalam pemikiran juga rencananya.

Hey, Suho-ssi?” panggil Taeil saat tak kunjung mendapat jawaban. Namun, kalimat berikutnya yang masuk ke dalam pendengaran Taeil justru berhasil membuat pemuda bermarga Moon itu terbelalak.

“Kau harus bergabung dengan NG Soft.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Aww~ kita berjumpa di malam natal di mana aku sendiri sibuk menghabiskan waktu di kamar, sleep less, working more, huft. Yah, meski memang tidur terbatas karena aku jadi bisa lebih banyak ngerjain fanfiksi dan berefek sama mata panda tingkat dewa, enggak apa-apa. Ini akhir pekan yang bener-bener panjang.

Lumayan nambah libur satu hari, rasanya melewati hari Senin dengan kalender berwarna merah itu memang sesuatu sekali, LOLOLOL. Apa kabar weekend kalian, btw?

Nah, kembali kita disapa sama bebeb-bebebhuanjir bahasaku—dari WorldWare yang sebentar lagi akan mencapai kata final dari mode flashback ini… ah, rasanya masih banyak yang harus aku jelasin padahal tersisa dua level doang, huhuhu.

Tapi enggak apa deh, kita balapan di dua level ya… karena aku tahu kalian kangen sama Baek-Jiho dan akupun begitu, kangen mereka. Dan jelasnya aku kangen ngebuat plot-twist buat kalian (yang biasanya berujung ngebuat kalian kecewa sama cerita tak terduga yang aku buat sih, LOLOL) jadi… siapkan mental kalian untuk level 41 (atau malah 40 ya?) yang enggak akan jadi level membahagiakan, wkwk.

Spoilernya sangat perlu digaris bawahi sebenernya. Karena akan ada banyak kejutan juga misteri lain yang akan menunggu kalian di levellevel berikutnya. Oh! Aku lupa kalau harus bikin poster baru juga, hueee T~T

Ya syudahlah, daripada aku banyak berceloteh lebih baik aku undur diri buat nyiapin fanfiksi-fanfiksi lainnya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar karena kita sama-sama enggak tahu kapan moodku berubah dan tiba-tiba ngepassword lagi, so… be careful karena aku jadi ‘pelit’ soal password, wkwk.

Sampai ketemu minggu depan! Salam, Irish.

Ps: aku masih membuka sesi bertanya soal WorldWare—eh, Game Over maksudnya—yang boleh kalian tanyakan di dalam kolom komentar. Pertanyaan apapun asal berhubungan sama cerita ini, ya~ sebisa mungkin aku jawab di bonus level 40 nanti. Bubye!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

32 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 38 [Agent Moon] — IRISH”

  1. Dear Irishnim,

    Agent Moon ini dulunya punya happy family yah. Pen tau apa yang bikin keluarganya berantakan. Who knows masih ada benang merahnya dengan LIV, mungkin aja papanya Taeil itu salah satu EP yang ikut jadi korban waktu LIV. Who knows…

    Tapi gimana rasanya ketemu Istri virtual di dunia nyata Taeil-ah? Mana dianya gak ngenalin kamu, lagi. Itu kan pasti nyesek. Hhehe…

    Tapi kok aku belum nemuin level dimana Taeil sama Ash ketemu trus duaduanya saling kenal. Kan disini tuh cuman kenal sepihak.
    Pasti ceritanya double kill, rampage, legendary… *mian, efek dengerin temen-temenku main Mobile Legend nih,*

    Tapi yang aku garis bawahi juga di level ini, alasan BaekBlack nyerang WhiteTown sama Enterprises di top 2, ternyata ingatan BaekCabe yang kek jadi residu gitu di dalam ingatan BaekBlack.

    Yaudah, aku makin kesini makin ngejlimet.
    Amutdeon, himneyo~

    Sincerely,
    Shannon

  2. Aku baca di salah satu komen, oh itu ternyata ashley ya yg ditabrak sama agen moon. Kupikir seungwan. Ooh iya sih paham, dia kan bilangnya di seantero worldware bukan NG soft. Hahah.
    Aku penasaran suho mau ngapain ya pake rekrut agen moon

  3. Jadi itu alasannya si IB ngadain battle ma town-town itu
    Tuh kan bener yang nyewa taeil itu si sehun
    Ciee taeil ketemu ma ashley, langsung dibilang cantik ciee :v

  4. Cieee bang taeil ketemu sama istri virtualnya 😂😂😂😂
    Langsung dibilang cantik yakaannn Haha
    Jadi benar dugaan saya kalo yg nyewa mas taeil itu liv sama sehun.. Haduuhh makin banyak yg keungkap malah makin pusing ini..
    Kak Irish nggak pusing apa?
    Jangan deng, nanti aku jadi double pusing kalo kak irishnya pusing wkwkwkwk
    Duhh tetep semangat kak 😘😘

  5. Huhhhhh telat telat telat….
    Yaudah deh gak papa, lebih bagus terlambat dari pada gak sama sekali. Iya kann???

    Cieee mas Teil, ketemu Ashley serasa ketemu belahan jiwa. Acieee…

    Sorry, kak Irish! Klw skrng aku gak setuju sama kak irish, dr pd baek jiho aku malah kangen sama taetae, trus gmana tuh..

    Yaudahlah gak papa, mana tau di ep yg brsok ad mas taetae. Maafkan aku mas cabe! Aku selingkuhhh hiks..hiks..

    Apapun keep writing yy kk

  6. uhhhh ku kangen baekjiho, kok aku lucu ya pas si taeil kesel pas bilang dua2nya cantik hihihi, agen moon menang banyak tuh klo nerima tawaran suho secara kn sama2 msuk ke dalam ng soft tapi kita ga tau apa tujuan suho buat nyuruh taeil lagi(?)

  7. Sebenarnya masih bingung ama si baek yg jiwanya ada di tubuh si invisible, ampe beberapa tahun gitu ga da ingatan apapun dr si baek selain si jiho? Trus si wendy itu yg ada di dalam game karakter fisiknya bedanya ama wendy yg di dunua nyata? Ga bisa gitu baek ingat ttngnya.. Wwkk
    Trua si Sehun kan ada juga versi gamenya, nah baek ga ada ingatan ttng dia juga gitu di dalam gamenya?
    Masih banyak yg bingung kak. Wkwk.

  8. Halo, kak. Saya reader baru*ff udah lama tapi baru sekarang nongol*, izin baca yaa…
    Pertama kali baca dari rekomendasi teman. Ffnya bagus kak, semangat ya nulisnya..

  9. telat baca lagi aku,huhu ini karena hpku yang beneran rusak kena ic mmc yang katanya parah total minta di ganti T_T kerjaanku pun numpuk,mendekati akhir bulan harus stok opnam berujung aku masuk angin dan akhirnya minta di kerokin emak :”)

    masih suka berharap sak umpama invisible black udah KOID benaran di WW, gak papalah si mb jiho sama baekhyun aja.kalopun bukan sama baekhyun, ya idupin lagi si invisible black nya kalo bisa idupnya di dunia nyata biar jadi kembaran baekhyun gitu kak *aku tahu ini maksa banget kak,aing gak bisa mupon dari mereka cius 😀 :”)
    aku udah siap mental kok buat kelipatan 10 nya.buktinya aku pengen loncat aja langsung ke lv 40 tapi ya gak mungkin juga,masa 38 mo langsung ke 40 terus nomer 39 mo di telantarin gitu aja kan kesian kalo aku gak paham lagian belum di up juga *duhiningomongapasi/tolongabaikanaja/ 😀

    di tunggu lv selanjutnya kak 😉

  10. Yuta itu ciptaan baekhyun yg di tinggalin di NG soft kan? Apa sebelum nya yuta pernah interaksi juga sama baekhyun ya sebelum baekhyun keluar dari NG soft? Jadi awal mula ash sama taeil ketemu di dunia nyata tuh gitu tabrak tabrakan 😂 kalau invisible black berasa familiar sama leader tiga town itu berarti baek juga pernah ketemu sama manager seo sama chanyeol dong,, jadi waktu baekhyun masih di NG soft chanyeol sama manager seo juga udah kerja di sana??? 😯
    Gatau knp aku ga mau blk ke level yg di pause pengen sih tau kelanjutannya baek jiho gmn tapi kaya nya hati ini blm siap liat pair yg jadi tokoh utama itu jadi sedih sedihan (´△`)

  11. Dear Kak irishseu
    Terlalu banyak yg ingin kutanyakan sampai sampai aku kelupaan 😰😰

    Question
    (1) Yuta kan kenal sama baekhyun didunia nyata, apa di worldware yuta gak tau kalau invisible black itu baekhyun?

    (2) kan jiho bunuh baekhyun pas di demo version, apa jiho dapat mode invisible setelah membunuh baekhyun ?

    (3) Masih gak ngeh sama sehun yg ldran?🙄

    Hanya itu pertanyaan yg ku ingat kak irishseu😍 bila ada salah salah kata dan pertanyaan tolong di maafkan 👐

    -Sekian dan terimakasih-😘

  12. Ini udah 38. Tidaaak.
    Udah mau lv 40. Seperti yg kak Irish pernah bilang. Kak irish suka banget ngasih kejutan di lvl 10 20 pokoknya kelipatan 10.
    Can’t wait kak. 😆😆😆😆
    Sedang menyiapkan mental buat lvl 40. Gatau bakal dibikin nyesek lagi macem lvl 20 kemarin apa gaa. 😁😁

  13. Aku habis baca ulang semua level dari awal… dan betul pertanyaan2ku terungkap di level 30an keatas T^T
    Tapi kangen sama momen Baek-Jiho.. semoga endingnya membahagiakan Baekhyun maupun Jiho walau keduanya tdk bs bersama T^T.
    Fighting kak Irish! Dan selamat menikmati tanggal merah.. kkkk.
    ps: berkat Game Over, aku jd menemukan 1 hari -Jumat- yg menyenangkan selain hari libur XD

  14. agen moon ketemu ashley ya..haha…
    oh jadi sebenernya alesan baek nyerang para town itu krn chanyeol,suho dan johny ya..dia ingi memastikan sesuatu kayaknya..
    aq mau nanya dong rish..si seungwan kan tadi di awal cerita dianterin johny pulang ya..emang gak plg ke rmh si sehun..bukannya td liv bilang mereka hilang kontak sama seungwan kan??makanya nyuruh taeil buat nyelametin seungwan yg terjebak di NG Soft…
    2 level lagi ya flashback nya..
    dan di level 40 bakalan bikin hati teriris lagi kah??huhuhu…
    aq tungu deh ya…
    semangat buatmu..

  15. Yg jadi prtanyaan ku nieh ya, dri alur crta mundur ini kn kita tau siapa agen moon ini dan bgmn kterlibatan dia dlm worldware. Stu timbul tnya baru, apakah moon taeil sbenarnya sudh tau tntg apa itu arti game over yg sbnarnya dlm prmainan ini, sblum Jiho yg ngasih tau wktu mrka kejebak dlm game.

  16. Posternya ga usah di ganti ga papa kok kak Rish.. ane suka poster yang ini. Poster fav dari semua poster game over, ato maybe dari semua poster ff yg pernah kubaca.
    Kak irisheu,, kok aku tiba2 penasaran tentang wajah Invisible Black itu sama Ama Baek ato ga?? Kn Baek cuma nitipin memory nya aja kn?? Dan ini karena aku ga ingat ato emang ga pernah di mention, setau ane Baek ga pernah bilang kalo dia nyiptain karakter Invisible Black dg inspirasi wajahnya sendiri??
    Dan ane masih bingung tentang mekanisme satu badan yg dihuni dua jiwa/ingatan. Ingatan Invisible Black antara sadar n ga sadar kalo ada ingatan lain yg menyusup ke otaknya. Disisi lain ingatan Baek sadar2 aja kalo lagi nyusup tapi ga bisa mengendalikannya? Kaya sembunyi gitu? Dan kadang ingatan mereka bercampur karena kadang Invisible Black bisa akses ingatan Baek?? Arghhhh… Daku pusing mikirinnya 😵 but overall, it’s such a great Story and i like it the most. Keep writing Eonnie 😆

  17. Oh, jadi Black ngajak battle town” besar, krna penasaran sama mereka yg sering muncul di benaknya.

    Dan akhirnya pertemuan pertamanya Taeil sama Ashley keungkap juga 😂. Ini Taeil udh di booking duluan sma Liv, mau di booking lg sma Suho 😂. Tapi penasaran sih knpa Suho mau ngajak Taeil buat masuk ke NG Soft.
    Aaaahh penasaran sama lv selanjutnya. Semangat terus kak 💪😊

  18. Aaahhhhh hbis ini bakal htus berkutat dengan hati krna spoiler mu yg udh mencekam hati!!!!
    Ahh akyu sangat kangen cabe internasionalkuuuu rish….kangen dg kalimatny yg sgt sgt mengena dhati..jiho aja kelepek2 apalgi akyu…
    Bobo rish bobo….begadang boleh tp km ga bleh sakit..nti klo skit ga bisa apdet hahahahahahahaha..aku akan selalu mrnanti walaupun seribu tahun lamanyaaaaaaaaaa hahahahahahha
    Happy holiday uri lovely authornim :*

  19. Ya author-niiiiiiiimmm…
    Ampuni otak reader macam saya yg lemot mencerna ff ini..
    Start level 30 sampe ini kok rasanya bikin kinerja otak harus dobel muternya..
    (mungkin juga karna saya yg suka ngerapel bacanya jd overload..)
    Sampe pingin baca ulang dari lv 30 biar ngeh

    G kerasa ya udah mau end ni ff 😭😭😭 /nangis di pojokan eden’s nirvana/

    Semangat thor.. akhir tahun mesti greget nutupnya.. 💪💪

Tinggalkan Balasan ke Novia sari Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s