SPRINGFLAKES – Slice #11 — IRISH’s Tale

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s Baekhyun & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, action, fantasy, romance, life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © IRISH Art & Story all rights reserved

— time slipped in spring, dream trapped in winter —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5Slice #6Slice #7Slice #8Slice #9Slice #10 〈〈

 Slice #11

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Hanbin, kejar dia!”

Chanwoo berseru saat ia mulai kehabisan nafas. Upayanya mengikuti Chunhee rupanya tidak mudah. Meski keduanya sama-sama tahu bahwa Chunhee telah berubah, mereka sama-sama tidak menduga kalau Chunhee akan berubah ‘sebanyak’ itu.

“Sial. Cepat sekali dia menghilang.” kata Hanbin, pemuda itu masih berlari beberapa meter di depan Chanwoo. Karena dia ada di jajaran manusia terkuat di dalam kehidupan kecil mereka, tentu saja tidak begitu sulit bagi Hanbin untuk mengejar Chunhee.

“Aku akan menyusulnya, Chanwoo. Kau lekaslah menyusul kami berdua!” vokal Hanbin terdengar memerintah, dia kemudian mempercepat larinya, membuat Chanwoo semakin tertinggal di belakang dan akhirnya menghentikan langkah.

Dia sudah kehabisan nafas dan kepayahan mengejar Chunhee. Sementara Hanbin sendiri masih tidak menyerah. Dia harus memastikan Chunhee tidak terlibat di dalam masalah apapun meski sekarang gadis itu sudah mulai menghilang dari pandangannya.

Begitu Hanbin menangkap keberadaan sebuah kastil beberapa ratus meter dari tempatnya sekarang berada, segeralah Hanbin sadar tentang tujuan Chunhee sedari tadi. Dia pasti mengetahui siapa yang ada di kastil tersebut.

Dan yang tidak Hanbin duga adalah, keberadaan kastil tersebut—yang teramat dekat dari tempat mereka tinggal selama ini.

“Jadi… selama ini kami diawasi dari jarak sedekat ini?” gumam Hanbin saat ia menghentikan langkah. Tidaklah ia perlu mengejar Chunhee lagi, sebab tujuan gadis itu sudah jelas.

Sekarang, Hanbin hanya perlu memastikan kalau Chunhee tidak terlibat masalah di sana. Karena bagaimana pun, Hanbin tahu di kastil tersebut pasti yang tersisa hanya musuh, tanpa adanya manusia-manusia yang diizinkan hidup seperti di tempat tinggal Hanbin selama ini.

Alih-alih menaruh atensi pada Chunhee yang sekarang tidak lagi dia temukan keberadaannya, Hanbin justru merasa penasaran pada Chanwoo yang tidak kunjung muncul.

“Di mana Chanwoo? Mengapa dia tidak kunjung menyusul?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau boleh mengutukku jika kau berhasil membunuh gadis yang kau cintai dengan tanganmu sendiri, Baekhyun.” kata Chanyeol. Pemuda itu kemudian menggerakkan jemarinya, membuat si gadis terjaga dari tatapan kosongnya.

Sekarang, gadis itu melangkah mendekati Baekhyun dengan senyum manis terpasang di wajah. Hal yang membuat Baekhyun beringsut mundur, waspada.

“Mengapa menjauh? Bukankah, kau merindukanku, Baekhyun?”

Baekhyun terhanyut dalam diam. Berhadapan dengan Chanyeol adalah satu situasi yang sudah dia antisipasi dan sudah ia persiapkan juga. Tetapi berhadapan dengan gadis—yang dulunya manusia, dan telah menghancurkan kehidupannya puluhan tahun yang lalu, bukanlah situasi yang Baekhyun harapkan.

“Aku tidak merindukanmu.” kata Baekhyun, tegas, tanpa emosi.

Si gadis lantas tersenyum. Sebab di pendengarannya sekarang, Baekhyun justru terdengar seolah berusaha menyampaikan kerinduan yang telah dipendamnya.

“Benarkah? Lalu mengapa tatapanmu tidak bisa kau alihkan dariku?” pertanyaan retoris, Baekhyun sendiri bahkan tidak tahu mengapa dia terus menatap wajah si gadis padahal dia sendiri merasa begitu marah saat mengingat masa-masa mengerikan di mana dirinya jadi orang yang paling dihancurkan karena si gadis.

“Aku sedang memikirkan bagaimana aku harus mengakhirimu.” sahut Baekhyun, tidak sepenuhnya berbohong, tentu saja, karena bagaimana pun keberadaan si gadis sebenarnya sudah melanggar aturan.

Gadis itu bukan lagi manusia, tidak juga jadi seorang vampire. Dia hanya sebuah tubuh yang dipaksa untuk tetap hidup dan digunakan si pemilik—Chanyeol—bagai sebuah boneka. Gadis itu adalah kesalahan vampire yang seharusnya dimusnahkan.

Tapi Baekhyun juga tahu benar, tidak semua vampire bisa melenyapkan kesalahan-kesalahan yang sejenis dengan si gadis.

“Mengapa berusaha membunuhku, Baekhyun? Aku bahkan bisa menemanimu sekarang. Tidak seperti dulu… saat aku masih begitu bodoh dan tidak sadar tentang perasaanmu padaku.” batin Baekhyun mencelos mendengarnya, mengetahui bagaimana gadis itu masih dapat mengingat perasaan yang pernah Baekhyun pendam kepadanya entah mengapa justru membuat Baekhyun merasa semakin miris.

Dia sudah melupakan perasaan itu berpuluh tahun lalu, ketika Baekhyun putuskan kalau dia tidak lagi mau membodohi diri hanya karena kata cinta dan perasaan tak nyata yang tidak seharusnya bisa dia rasakan kepada manusia.

“Aku tidak lagi mencintaimu.” kalimat itu meluncur dengan begitu percaya diri dari bibir Baekhyun. Meski, bayangan-bayangan tentang bagaimana kehidupan pernah jadi begitu indah di masa lalu kini mewarnai ingatannya.

Dia memang pernah mencintai gadis itu. Begitu mencintainya sampai Baekhyun pikir dia bisa mengikis perbedaan nyata yang membatasinya dengan si gadis. Tetapi Baekhyun tidak cukup kuat dan layak di mata si gadis.

Sehingga hubungan yang dijalinnya dengan Baekhyun pun berubah menjadi sebuah pengkhianatan begitu Chanyeol datang. Ya, Chanyeol adalah prajurit yang sangat kuat, terlampau kuat untuk bisa dihadapi vampire lainnya sehingga dalam waktu singkat pun Chanyeol bisa memiliki kekuasaan yang saat itu bahkan tidak mampu Baekhyun miliki.

Saat itulah, si gadis mulai berpaling. Membawa tiap keping perasaannya yang pernah dia percayakan pada Baekhyun, ke pangkuan Chanyeol yang berstatus sebagai pimpinan vampire termuda juga terkuat.

Di akhir rasa percayanya, Baekhyun kemudian sadar kalau si gadis tidak lagi menjadi miliknya. Gadis itu telah menyerahkan kehidupannya pada Chanyeol. Dan Baekhyun tidak ingin menyalahkan keduanya.

Bukan salah si gadis kalau dia justru jatuh ke tangan seseorang yang lebih kuat ketimbang Baekhyun. Bukan pula salah Chanyeol jika dia berkeinginan untuk memiliki si gadis karena Baekhyun tidak pernah punya keberanian untuk mengikat perasaannya dengan gadis itu.

Adalah salah Baekhyun, karena dia sudah menaruh kepercayaan pada manusia dengan begitu mudahnya. Dan lantas dikhianati dengan begitu mudah pula. Itu juga yang jadi penyebab sikap tertutup Baekhyun selama ini.

Dia tidak bisa memercayai siapapun, manusia, maupun bangsanya sendiri. Di mata Baekhyun, semua orang bisa saja mengkhianati dan meninggalkannya dengan mudah. Padahal rasa sakit akibat pengkhianatan yang Baekhyun terima tidaklah mudah untuk dia hilangkan.

“Aku tidak lagi memandangmu dengan cara yang sama. Kau tidak lagi menjadi kebahagiaan, melainkan sisa luka yang sedang berusaha untuk aku sembuhkan. Jadi, berhentilah membahas masa lalu kalau kau pikir ucapanmu akan bisa mengembalikan perasaanku. Sebab bagian terpenting dari perasaan cinta yang dulu kusimpan untukmu, sudah kau bawa pergi saat kau meninggalkanku. Dan tidak kau bawa saat kau berusaha untuk kembali kepadaku.”

Terdengar klise, memang, saat Baekhyun mengatakannya. Karena bagaimana pun perasaan itu memang masih tersisa, hanya saja bukan cinta, melainkan kenangan. Dia sudah tidak lagi mencintai gadis itu, kesimpulan Baekhyun.

“Lalu kenapa kau tidak membunuhku? Bukankah kau membenciku?” tanya si gadis, kini menguntai langkah mendekati Baekhyun, seolah berusaha mengikis jarak dengan Baekhyun sehingga dia bisa seenaknya melemparkan diri pada si pemuda untuk menjadi umpan.

“Aku memang membencimu. Sangat benci, malah. Tetapi membencimu tidak akan menguntungkan buatku. Dan aku tidak suka melakukan hal-hal yang tidak menguntungkanku. Kalau aku membencimu, penderitaanku justru akan bertambah. Sementara kau sendiri tidak merasakan penderitaan sebanyak yang aku rasakan.” sebuah senyum Baekhyun berikan kepada si gadis, sebelum maniknya bersarang pada Chanyeol.

“Membunuhmu juga tidak menguntungkan, karena kau sebenarnya sudah mati.” kata Baekhyun lagi. Kali ini ucapannya serasa berusaha menyindir Chanyeol. Dan merasa pada sindiran yang Baekhyun berikan, Chanyeol akhirnya tersenyum simpul.

“Kau benar, Baekhyun. Dia memang sudah mati.” sahut Chanyeol ringan, dia kemudian menggerakkan jemarinya lagi, menarik si gadis mundur. Tahu bahwa usahanya untuk membangkitkan kenangan yang berusaha Baekhyun kubur tidak akan membuahkan hasil, rupanya di mata Chanyeol sekarang Baekhyun tidak selemah yang dia ingat dulu.

“Kau sudah benar-benar berubah, Baekhyun.” kata Chanyeol.

“Bukan hanya manusia yang bisa berubah, tapi kita juga.” ucap Baekhyun diplomatis. Dia tidak ingin mengakhiri perdebatannya dengan Chanyeol menggunakan sebuah peperangan. Yang dia inginkan hanya perasaan bersalah Chanyeol saja, karena telah mengusik Baekhyun yang bahkan tidak pernah berusaha mengusiknya.

“Kau sudah melukai kedua tanganku, Chanyeol. Kau tahu kau tidak seharusnya berusaha melukai orang-orang yang terikat denganku.” ujar Baekhyun kemudian. Chanyeol lantas menyernyit. “Manusia itu, maksudmu?” tanyanya, “…, sejak kapan dia menjadi kedua tanganmu?” sambung Chanyeol dengan nada mengejek.

“Sejak dia mengabdi kepadaku. Dia sudah jadi bagian dari diriku, Chanyeol. Dia adalah kedua lenganku, juga tungkaiku. Kau tahu benar di dalam aturan bangsa kita, kau tidak diperbolehkan melukai seseorang yang sudah ditandai oleh pemimpin dengan sengaja.” Baekhyun lantas melempar pandang ke arah Yunhyeong yang berdiri dengan tatapan mengawasi mereka lekat-lekat.

“Kulihat kau memang dengan sengaja mengirimnya untuk melanggar peraturan yang ada.” gumam Baekhyun. Tentu dia tahu, meski Yunhyeong memang menyimpan kebencian pada Chunhee, dia tidak akan bisa bertindak sembrono tanpa perintah dari Chanyeol.

“Dia hanya ingin bertemu dengan teman lamanya saja.” sahut Chanyeol.

“Kalau begitu… kedatanganku sekarang juga kau anggap pertemuan teman lama?” tanya Baekhyun membuat Chanyeol menyahut dengan senyum penuh makna. “Lalu kau ingin memulai sebuah perang? Memangnya, sekuat apa kau sekarang Baekhyun?” pertanyaan itu lolos juga dari bibir Chanyeol.

Sejak tadi rupanya pemuda bermarga Park itu sudah menahan diri dari keinginannya untuk menyerang Baekhyun sebab dia ingin melumpuhkan pemuda tersebut. Kekuasaan di atas wilayah yang selama ini Baekhyun miliki tentu dia inginkan. Sayang, dia tidak menduga kalau  Baekhyun nyatanya tidak selemah dalam ingatannya terakhir kali.

“Coba saja kau lukai aku, Chanyeol. Kau tahu aku tidak hanya membawa sisa masalah kita di masa lalu. Seperti yang kukatakan tadi, kau telah melukai kedua lengan dan tungkaiku. Jadi aku harus melakukan hal yang sama padamu, Park Chanyeol.”

SRAT!

Belum selesai Baekhyun bicara, Chanyeol sudah berusaha menyerangnya. Meskipun, hasilnya nihil. Upaya Chanyeol tidak membuahkan hasil, bahkan tidak menyentuh Baekhyun sedikit pun.

“Boleh juga, melihatmu begini, sepertinya aku tak punya pilihan lain selain benar-benar melukaimu, Baekhyun.” kata Chanyeol sebelum dia perlahan-lahan berubah menjadi sosok aslinya.

Chanyeol memang seorang prajurit yang sangat kuat dan tidak terkalahkan di masanya, tetapi masa itu sudah begitu lama berlalu, dan saat ini Chanyeol sudah tidak memiliki kekuatan sebanyak yang ia banggakan dulu.

Terlebih lawannya sekarang tidak bisa dia prediksi.

Baru saja Chanyeol hendak melesat ke arah Baekhyun, dia sudah dikejutkan oleh hembusan angin kencang yang masuk ke dalam istananya. Diikuti dengan—

SRASH!!

—sebuah serangan yang tidak diduganya.

Argh!” Chanyeol mengerang kesakitan begitu dirasakannya bagaimana seseorang—yang bukan Baekhyun—berhasil menyerangnya, membuatnya tersudut dengan rasa sakit tersisa di lengan kiri.

“Sialan!” umpat Chanyeol begitu dia mendapatkan pemulihan diri—di mana lengan kirinya yang terluka sekarang perlahan memulihkan diri dari luka yang ada. Tatapan Chanyeol lantas bersarang pada sosok yang bertanggung jawab atas luka di lengannya.

Seorang gadis, yang tak lagi bisa dikategorikannya sebagai manusia, tengah berdiri dengan sebilah pedang di masing-masing tangannya, menatap dengan tatapan kebencian yang sangat familiar di manik Chanyeol, membuat pemuda itu tersenyum saat sadar bahwa kekuatan yang dimiliki si gadis tentu tidak lepas dari campur tangan orang lain yang tadi dilawannya.

“Wah, wah, aku sungguh terpana.” kata Chanyeol sebelum dia bangkit dan melangkah mendekati Baekhyun, sementara si sosok yang menyerang Chanyeol masih mengawasi lekat-lekat tiap gerakan yang Chanyeol lakukan.

“Kau membagi kehidupanmu dengan seorang manusia, Baekhyun? Aku bahkan bisa melihat dirimu yang ada di dalam tubuh makhluk ini.” kata Chanyeol dengan nada meremehkan.

“Jangan menyebutnya dengan sebutan ‘makhluk ini’, Chanyeol.” peringat Baekhyun sontak membuat Chanyeol melesat hendak mengikis jarak dengan pemuda bermarga Byun tersebut.

Tetapi rupanya gerakan Chanyeol telah terbaca oleh si gadis yang jadi subjek pembicaraan. Sehingga, Chanyeol bahkan tak sempat mengikis jarak lebih jauh lagi ketika didapatinya si gadis sudah menyilangkan pedang di tangan kanannya di depan leher Chanyeol.

“Jangan menyentuhnya. Atau aku akan menghancurkanmu.” peringat si gadis membuat Chanyeol tersenyum sarkatis.

“Mari kita lihat, manusia. Apa yang bisa kau lakukan padaku?”

Lantas, Chanyeol bergerak menyerang Chunhee, sementara Chunhee dengan mudah bisa mengelak dari serangannya. Baekhyun sendiri berdiri dengan tatapan tak percaya, tidak diduganya kalau Chunhee akan muncul di tempat itu, sebab kedatangan Chunhee tidak bisa dia ketahui.

Nyatanya, berbagi kehidupan dengan Chunhee sudah membuat batas kentara yang membedakan Baekhyun dengan gadis itu membaur, menjadi satu. Pantas saja Chanyeol bisa merasakan ‘keberadaan’ Baekhyun di dalam tubuh Chunhee.

Gadis itu rupanya terbangun dengan membawa amarah yang selama ini telah Baekhyun pendam. Menyisakan sisi tenang dan diam di diri Baekhyun, sementara semua emosi dibawanya dalam kehidupan yang baru.

Chunhee telah berubah menjadi pantulan dari kebencian, kemarahan, serta rasa sakit yang telah Baekhyun simpan selama beratus tahun.

SRASH!! BRUGK!

Tubuh Yunhyeong terhempas begitu dia berusaha melibatkan diri di dalam duel tersebut. Tanpa ampun, Chunhee mendesaknya ke sudut pelataran istana, menghancurkan tubuhnya seolah dia sudah tahu benar kalau Yunhyeong tak akan mati.

“Kau tidak akan bisa menyentuhku, Song Yunhyeong.” peringat Chunhee saat ia melempar pandang sekilas ke arah Yunhyeong, mengabaikan keberadaan Chanyeol yang sekarang tengah melesat ke arahnya.

SRAT!!

Arghh!” jeritan Chunhee terdengar, Chanyeol ternyata berhasil memanfaatkan kelengahan Chunhee barusan, melukainya meski tidak menyisakan luka yang berarti.

Baekhyun tahu Chunhee tidak lagi merasakan sakit sebanyak yang manusia normalnya rasakan. Tetapi yang tidak Baekhyun tahu, melukai Chunhee akan melukainya juga. Sehingga, saat punggung Chunhee terluka barusan, Baekhyun bisa merasakan bagaimana punggungnya juga terluka cukup dalam, dan cukup menyisakan rasa sakit yang tidak seharusnya bisa Baekhyun rasakan.

Tapi Baekhyun memilih untuk bungkam. Yang ada, dengan cepat dia berusaha memulihkan diri. Hal yang nyatanya berefek sama pula pada tubuh Chunhee. Luka di punggung gadis itu perlahan membaik, dan menghilang. Hanya menyisakan robek pada pakaian yang Chunhee kenakan saja.

“Kau juga bisa menyembuhkan dirimu. Luar biasa sekali kekuatan yang sudah Baekhyun bagi padamu, manusia.” kata Chanyeol dengan nada meledek. Terdengar seolah Chunhee lah yang menginginkan perubahan itu, padahal Chanyeol lah yang menyebabkan penderitaan pada tubuh Chunhee sekarang.

Tanpa sadar, rahang Baekhyun justru terkatup rapat. Dia marah, sungguh, melihat bagaimana tenangnya Chanyeol saat berhadapan dengan seseorang yang berusaha dibunuhnya demi memancing kemarahan Baekhyun sekarang entah mengapa di mata Baekhyun terlihat sebagai sebuah usaha bunuh diri.

Awalnya Baekhyun tak ingin mempermasalahkan tindakan Chanyeol, karena dia tahu berurusan dengan Chanyeol tak akan menguntungkannya. Lagipula, merebut kuasa atas wilayah yang Chanyeol miliki juga tidak ada gunanya, semua vampire yang jadi pengikut Chanyeol adalah vampirevampire yang membenci manusia dan berusaha melenyapkan manusia.

Tapi melihat bagaimana Chanyeol justru merasa kegirangan karena perlawanan Chunhee sekarang, Baekhyun menarik satu kesimpulan. Berhadapan dengan Chunhee, melukai gadis itu dan bahkan membuatnya terbunuh di depan mata Baekhyun, adalah keinginan Chanyeol, bagian dari rencananya.

“Chunhee.” lantas bibir Baekhyun membuka, membuat Chunhee—yang tengah berusaha menyudutkan Chanyeol—sontak terhenti saat mendengar namanya disebut oleh Baekhyun.

Bagai sebuah perintah, gadis itu bergeming, meski maniknya masih mengawasi Chanyeol lekat-lekat.

“Mundurlah.” kata Baekhyun. “Tidak bisa, Pangeran. Aku harus melindungimu.” Baekhyun memejamkan matanya sejenak saat mendengar ucapan Chunhee. Tidak, tidak seperti ini Chunhee yang dikenalnya selama ini.

Gadis itu pasti telah berubah menjadi sosok pengabdi yang tidak mengingat masa manusianya. Yang hanya tahu melindungi vampire yang sudah menandainya saja. Dan Baekhyun tidak suka. Situasi seperti ini justru membuatnya merasa ingin menyalahkan Chanyeol lebih banyak lagi.

“Mundur. Ini perintah, Chunhee.” Baekhyun akhirnya berkata, lebih tegas. Dan benar saja, tanpa protes apapun Chunhee akhirnya melangkah mundur, memberi ruang bergerak pada Chanyeol juga kesempatan untuk berbalik dan menyerang.

“Mati kau!” seru Chanyeol saat ia hendak menyerang Chunhee dengan cakar-cakar panjang di kedua tangannya. Tapi tindakan pemuda Park itu terhenti begitu Baekhyun mengarahkan telapak tangannya kepada Chanyeol.

BRUGK!

Urgh!” erangan kesakitan kembali lolos dari bibir Chanyeol, lirikan tajam kemudian dia lemparkan pada Baekhyun. “Kau sekarang akan berubah menjadi sosok aslimu, Baekhyun? Apa kau tidak sadar, kau akan berubah menjadi monster dalam wujud aslimu.” kata Chanyeol, masih sempat melontar ledekan di tengah kesakitan luar biasa yang sekarang dirasakannya.

Baekhyun tak pernah benar-benar menggunakan kekuatannya sebelum ini. Tentu Chanyeol tidak menduga kalau pemuda itu ternyata bisa mengendalikan tubuh Chanyeol dengan begitu mudah.

“Aku adalah seorang vampire berdarah murni, Chanyeol. Aku yang memiliki kendali atas kehidupanmu.” ucap Baekhyun, dia lantas melangkah mendekati Chunhee, ia letakkan telapak tangannya di depan wajah Chunhee, dalam hitungan detik membuat tubuh Chunhee limbung.

“Tidurlah, Chunhee. Tidurlah dan ingat semua kenangan yang sudah kau lupakan. Aku akan selesaikan masalah di sini dengan caraku.” ucap Baekhyun saat ia menangkap tubuh limbung Chunhee.

Dengan gerakan ringan, Baekhyun meletakkan tubuh Chunhee di atas tanah—sebab dia tak punya pilihan lain selain membiarkan gadis itu terlelap dan tidak membuang tenaga untuk menyerang Chanyeol tanpa bisa benar-benar melukainya.

Lantas, Baekhyun melempar pandang ke arah Chanyeol—yang sekarang menatap dengan tatapan waspada. Sebuah senyum Baekhyun lemparkan pada Chanyeol begitu dia rasakan getaran emosi perlahan masuk ke dalam dirinya. Tanda bahwa Chunhee telah perlahan-lahan mendapatkan ingatan manusianya kembali.

Tentu saja kemarahan, juga emosi lain yang menjadi bagian dari diri Baekhyun yang tadi sempat terbagi ke dalam pribadi baru Chunhee sekarang berangsur-angsur kembali kepada si pemilik.

Dan tidak ada lagi ekspresi tenang Baekhyun pamerkan. Melainkan sebuah keinginan untuk mengakhiri penyerangan mengganggu yang selama bertahun-tahun telah Chanyeol coba lemparkan kepadanya.

“Seperti ucapanku tadi, Park Chanyeol. Aku akan mengutukmu, sehingga kau tidak lagi bisa berusaha mengusikku atau mengusik orang-orang yang berada di dalam perlindunganku.” kata Baekhyun.

Samar, bisa Chanyeol lihat bagaimana kedua manik Baekhyun berubah merah kelam, sementara kulit pucatnya berubah lebih pucat, dengan retakan-retakan di permukaan kulitnya. Kekehan pelan lolos dari bibir Chanyeol begitu dia sadar kalau Baekhyun benar-benar menjadi sosok aslinya hanya untuk mengakhiri Chanyeol saja.

Ada rasa bangga tak wajar yang muncul di dalam benak Chanyeol. Seolah tahu kalau dia bisa memaksa Baekhyun sampai ke titik paling akhir dari bertahanan pemuda itu—dengan berubah menjadi sosok aslinya—sementara Chanyeol sendiri belum benar-benar terluka.

“Rupanya… melawanku saja sudah membuatmu berubah menjadi monster, Baekhyun. Kalau kau masih selemah ini, bagaimana kau akan bisa melawan pimpinan pasukan vampire yang lainnya?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

YALORD, berapa lama aku mengabaikan Springflakes hanya karena enggak tega karena fanfiksi satu ini akan segera berakhir… huhu. Memang dasarnya aku ini agak-agak sulit move on, jadi ngebayangin Springflakes end itu rasanya berat. Tapi yah, mau sampai kapan juga ini fanfiksi aku biarin teronggok, lebih baik dia cepet-cepet diakhiri supaya aku bisa segera bisa mulai move on ke cerita-cerita lainnya.

Well, di sini emang lebih banyak kita dibawa berlarut ria sama Baekhyun dan kenangannya sih. Gapapa, sejak awal kita udah terlalu banyak berkutat sama Chunhee dan kesibukan barunya. Sesekali kita lirik-lirik juga kehidupan Baekhyun, biar adil. Berhubung chapter berikutnya adalah chapter terakhir… aku enggak mau banyak berceloteh ria di sini.

Mau nyelesein draft chapter terakhir aja, biar lebih berfaedah malem mingguku ini, LOLOL. Btw, tadi ‘tuh diajakin keluar sebenernya, cuma berhubung aku lebih suka mengurung diri di kamar dengan ditemenin sama Zinnia dan juga ditemenin lagu galau yang mengalun dari satu set speaker—hasil korupsi hadiah si adek yang dapet beasiswa di kampus—jadi yah, biarlah sesekali aku home alone di malem minggu tanpa hujan dengan perasaan bahagia meski ditemenin lagu galau.

Sekian dulu dariku, sampai ketemu di chapter terakhir! Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

12 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #11 — IRISH’s Tale”

  1. Yahh ada rasa sedih jga springflakes udah mau tamat😰semoga happy ending lah,,baek-chunhee hidup bhagia dri sisa kehidupan yg baek bagi ke chunhee😂😂

    Hwaiting Rish.

  2. Bner udh lama bgt ris, hampir aj slah paham td pas adegan chanyeol yg ngomong dgn seorg prempuan dan gue kira itu Chunhee trnyta bukn😂. Rupanya Chanyeol bru awal dri musuh yg brusaha melawan Baekhyun..

  3. Andweeeeeeeeeeeeeeeeeee
    Knpa hrys brakhir…q blm puas ngliat cabe jd vampir hiks hiks….smua karakter cabe ne memabukan deh….jd ga rela pisah sma semuanyaaaaaa hiks hiks……
    Tp akyu juga bahagia akhirny apdet jugaaaaaa…irish u complete my holiday 😂😂
    Happy holiday n irish jjang!!!!!!!!

  4. Liat email masuk.. ternyata updatean dari springflakesnya ka Rish, ngebuat malming ini jadi berwarna xD
    ditemenin kenangan Baekhyun yg kelewat miris :”)
    dan Baekhyun yang keliatan benci bngt sama si Chanyeol..

    Jadi penasaran, perangnya Baekhyun sm Chanyeol nanti gimana xD
    tapi, chapter terakhir? ;” yaampun udah mau end aja ya..

    Yaudah.. Keep writing ka Irish ❤ ditunggu ending crtanya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s