GAME OVER – Lv. 37 [Lady in Red] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] —  Level 31 —  Level 35Level 36 — [PLAYING] Level 37

Want to overthrow the world, with only cries of the weak

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game Over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 37 — Lady in Red

In Author’s Eyes…

“Oh, jadi kau juga seorang player WorldWare?”

Alis Johnny terangkat begitu didengarnya bagaimana Chanyeol berkelakar tentang WorldWare dan isinya. Sontak, bahu Chanyeol terlonjak kaget. Dia sebenarnya tak pernah berniat benar-benar mengungkap apa yang telah dilakukannya secara diam-diam selama ini.

Tapi Johnny tentu tidak bodoh, dari cara Chanyeol bicara tentang WorldWare sekarang rupanya pemuda Seo itu sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Umm, ya. Belum lama ini, dan aku membuat akun untuk menguji cobakan beberapa inovasiku saja. Membandingkannya dengan apa yang ada di dalam game.” Chanyeol berkelakar. Sementara Johnny menaruh atensi penuh. Sejak mendengar ide Chanyeol tentang WorldWare: Awakening, rupanya Johnny sudah memberi tempat spesial bagi staffnya satu ini di dalam benak.

“Begitu? Apa ID-mu, omong-omong?” tanya Johnny kemudian.

“White Lion.” jawabnya.

Waw! Kau adalah leader WhiteTown, huh?” Johnny terkekeh pelan. Sementara Chanyeol menatap dengan alis bertaut. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya membuat Johnny mengulurkan tangan ke arah pemuda itu.

“Aku Royal Thrope.” perkataan Johnny sekarang sungguh membuat Chanyeol terperangah. Mana dia duga kalau seorang dengan kedudukan tinggi seperti Johnny nyatanya masih punya waktu untuk bermain game juga?

Belum lagi, dia adalah salah seorang leader dari Town kuat yang ada di WorldWare.

“Aku membentuk Enterprise bersama beberapa orang player kuat di awal survival mode.” tutur Johnny. “Ya, ya,” Chanyeol mengangguk-angguk antusias, “…, aku tahu benar Enterprise adalah Town tertua di WorldWare. Hanya saja, aku tidak pernah menduga kalau kau adalah leadernya, Manager.”

“Tidak masalah,” Johnny mengangkat bahu acuh, “…, aku juga tidak berniat mengumbar ID-ku. Oh, jangan beritahu siapapun omong-omong.” sambungnya.

Chanyeol mengangguk mengiyakan. Ya, setidaknya dia tidak akan bilang pada siapapun, kecuali Junmyeon tentu saja. Dia harus melaporkan semua yang dilakukannya di NG Soft, bukan?

“Jadi, mari kita sejenak bicara soal WorldWare. Akhir-akhir ini Townmu sering masuk ke dalam percakapan global. Karena White Tiger, memangnya ada masalah apa?” tanya Johnny kemudian.

Chanyeol menghela nafas panjang. “White Tiger itu… dia benar-benar pembuat masalah. Aku sungguh yakin dia adalah anak berusia tiga belas tahun yang mengalami masa pubertas dini. Melihat bagaimana dia terus mencari perkara dengan Invisible Black sungguh membuatku ingin mendepaknya saja keluar dari WhiteTown.

“Tetapi sekarang Invisible Black justru mengincar kami semua. Anggota WhiteTown tidak bisa keluar dengan tenang, sungguh. Sebenarnya apa yang ada di dalam benak White Tiger saat dia membuat masalah?” omelan tanpa sadar lolos dari bibir Chanyeol. Hal yang lantas membuat Johnny tergelak.

Well, well. Aku juga tahu tentang masalah yang White Tiger buat dengan Invisible Black. Memangnya siapa lagi selain ‘anak-anak’ yang akan punya keinginan untuk mengusik seorang player seperti Invisible Black? White Tiger sungguh gila.” komentar Johnny.

“Benar, dia memang gila. Tapi mau bagaimana lagi, terpaksa seisi WhiteTown harus mendukungnya juga karena kami berada di dalam satu Town. Oh, karena kita bicara soal WorldWare, aku teringat pada hasil rapat kita kemarin.

“Apa benar kalau beberapa bonus stage akan diupgrade di WorldWare?” tanya Chanyeol sejurus kemudian. Raut santai yang Johnny pasang sejak tadi pun kini berubah serius. Selagi manik Johnny mengawasi gerak-gerik salah seorang staff perempuannya yang tampak menyantap makan siangnya dengan tergesa-gesa selagi surai merah panjangnya menjuntai ke meja.

“Ya, beberapa bugs ada di bonus stage seperti Tacenda Corner, Vladimir Castil, dan empat bonus stage lain. Jadi aku harus mengganti karakter yang ada di dalam stage-stage itu untuk membuatnya menjadi stage yang menarik lagi.”

Penuturan Johnny sekarang membuat Chanyeol mengangguk-angguk paham. Memang benar kalau beberapa stage bonus tidak lagi bisa diakses karena adanya kerusakan secara sistem. Dan setelah bonus-bonus stage tersebut ditutup, belum ada perbaikan sampai Johnny akhirnya dengan tegas memerintahkan semua staff pengembangan untuk memperbaikinya.

Bahkan, Johnny sendiri turut andil dalam memperbaiki stage-stage tersebut. Satu hal yang membuat Chanyeol geleng-geleng kepala saat mengingatnya, karena Johnny rupanya memang seorang pribadi yang senang melibatkan diri di dalam pekerjaan.

“Kapan kita akan membuka kembali bonus stage tersebut?” tanya Chanyeol akhirnya.

“Minggu depan, mungkin. Kita tidak perlu membuat pengumuman apapun di server game, karena hanya akan membuat mereka semua sadar kalau ada yang salah dengan WorldWare.

“Lagipula, aku belum menyetujui semua karakter baru yang hendak dimasukkan ke dalam bonus stage itu. Biar saja, aku sendiri yang akan menghandle perbaikannya. Oh, jam makan siang sudah akan berakhir. Mau kembali ke kantor?” tanya Johnny akhirnya, dia sudah akan berkelakar lebih jauh tentang program yang tengah diperbaikinya kalau saja maniknya tidak menangkap jarum panjang jam di dinding yang sudah akan mampir di angka dua belas.

Mereka hanya punya waktu setengah jam di siang hari sebelum kembali tenggelam di tengah pekerjaan dan deadline yang menumpuk. Tentu, Johnny tidak ingin membuang waktu hanya untuk bicara saja.

“Ah, ya, aku akan kembali ke kantor setelah mengambil beberapa file dari ruangan lamaku.” kata Chanyeol. Johnny kemudian menjawab dengan anggukan. “Baiklah, temui aku sore ini sebelum jam tiga, kita akan mempresentasikan proposal perekrutan tim pengembang game baru yang kau ajukan.” ujar Johnny sebelum dia melangkah meninggalkan Chanyeol sendirian.

Oh, tentu dia tidak benar-benar pergi. Yang ada, dia justru melangkah mendekati kursi yang ditempati si staff berambut merah. Berdeham sebentar untuk merenggut atensi gadis tersebut sebelum akhirnya Johnny mendapat lirikan tajam dari si gadis.

“Ada apa?” tanya si gadis ketus.

“Rambut palsumu bisa kotor, Seungwan-ssi.” kata Johnny membuat Seungwan mendengus pelan. Teringat pada insiden di mana Johnny secara tidak sengaja menarik rambut palsu yang ia kenakan sampai terlepas, dan sekarang hal itu membuat Seungwan merasa begitu kesal pada Johnny.

“Tenang saja, aku bisa mencucinya.” sahut Seungwan.

Johnny mengangguk-angguk paham. “Tapi aku merasa terganggu.” kata Johnny sejurus kemudian. “Terganggu? Kenapa? Aku tidak membuat rambut palsu ini dari potongan rambutmu, Manager.” kata Seungwan kemudian.

Bukan, tentu Johnny bukannya merasa terganggu karena hal itu. Hanya saja, pemuda Seo itu kerapkali merasa terganggu ketika melihat wanita makan dengan rambut menjuntai. Terlihat jorok, menurutnya. Jadi saat tadi maniknya menangkap bagaimana Seungwan makan, dia sudah merasa terganggu. Untung saja makan siang Johnny sudah habis, kalau tidak dia mungkin akan mempertimbangkan untuk membuang sisa makan siangnya.

“Kau bekerja di perusahaanku, Seungwan-ssi. Dan tidak seharusnya kau membuatku merasa terganggu.” kata Johnny sekarang berhasil membuat Seungwan meletakkan sumpit alumunium yang ada di tangannya, selagi dia menarik dan mengembuskan nafas teratur, menahan emosinya.

“Lalu apa maumu?” tanya Seungwan tanpa tahu malu.

“Rapihkan rambutmu saat makan.” Johnny menyahut ringan.

Kesal, Seungwan lantas menatap ke kiri dan kanan, tersenyum lega karena sudah tidak ada seorang pun di area sempit kantin tersebut sehingga dia bisa dengan bebas membalas perkataan Johnny dengan tindakan yang tidak kalah mengganggu.

Segera saja, lengan Seungwan bergerak menarik rambut palsu yang ia kenakan. Sehingga sekarang surai panjang berwarna merah menyala itu terlepas dan hanya menampakkan rambut bergelombang sewarna karamel yang diikat rapat oleh sang pemilik.

“Puas?” kata Seungwan, dibantingnya rambut palsu tersebut di meja sebelum dia meraih sumpitnya dan melanjutkan kegiatan makan tertundanya.

“Apa yang kau lakukan?!” dengan panik Johnny berucap, pemuda Seo itu segera melepas setelan jas yang ia kenakan dan ditutupkannya di puncak kepala Seungwan. Tindakannya juga secara tidak langsung membuat Seungwan terkejut bukan main.

Tidak, dia bukannya merasakan efek seperti di dalam film romansa, tetapi dia justru merasa terkejut karena dua sekon yang lalu, sumpit di tangannya hampir saja menusuk mulutnya karena hentakan tak langsung yang kepala Seungwan rasakan akibat tindakan Johnny.

Hey! Seo Johnny!” teriakan Seungwan sekarang terdengar begitu lantang, mengejutkan Johnny padahal pemuda itu tadinya tidak berniat untuk melakukan apapun yang merugikan Seungwan.

“Apa? Aku hanya berusaha menutupimu dari kemungkinan salah paham.” Johnny menyahut tanpa merasa bersalah.

Seungwan sendiri sudah kehabisan kata-kata. Dia sudah begitu lelah mendengar vokal Johnny seharian di ruang rapat, diharuskan membereskan kekacauan yang ditinggalkan pemuda itu. Dan sekarang menurut Seungwan, berdebat dengan Johnny tidak akan membuatnya merasa lebih baik.

“Salah paham apa yang mungkin akan menimpaku, huh?” tanya Seungwan kemudian. Daripada dia kehilangan nafsu makan karena tindakan Johnny, lebih baik dia cepat-cepat menyudahi konversasi dengan pemuda itu saja.

Johnny, menatap Seungwan dengan tatapan membulat sebelum bibirnya membuka.

“Seseorang mungkin mengira kau adalah penderita kanker otak yang harus memakai rambut palsu karena kebotakan mendadak di kepalamu, Seungwan-ssi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tawa tidak hentinya keluar dari bibir Johnny sepanjang sore ini. Bahkan di tengah rapat pun dia tertawa terbahak. Penyebabnya bukan karena rapat yang berjalan lancar, tentu saja. Tetapi karena setiap Johnny melihat Seungwan, dia akan tertawa.

Seungwan sendiri tahu benar kalau Johnny memang sengaja mencari masalah dengannya, hendak membuatnya kesal. Jadi petang ini, saat jam kerja mereka berakhir, Seungwan putuskan kalau dia akan benar-benar memberi pelajaran bagi Johnny.

Langkah panjang diukir Seungwan menuju ruangan Johnny, tahu benar kalau pemuda Seo itu tidak akan pulang sebelum larut menginjak. Tetapi, pemandangan yang sekarang ditangkap Seungwan justru mengubah niatnya.

PLAK!!

“Apa saja yang kau lakukan selama berada di tempat ini, huh!?”

Seungwan hampir saja memekik saat dilihatnya bagaimana sebuah tamparan bersarang di wajah Johnny. Sementara pemuda Seo itu hanya menunduk pasrah menerima tamparan lain yang bersarang di wajahnya.

Segera, Seungwan merapatkan diri ke sisi pot bunga tinggi yang ada di dekat pintu ruangan Johnny—ruangan pemuda itu berbalut dinding kaca sehingga dengan pintu tertutup pun dia masih bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana, dan bisa mendengar samar-samar konversasi di dalamnya.

“Maaf, Tuan Kim. Aku akan berusaha lebih baik lagi.” vokal Johnny terdengar.

PLAK!

Tamparan lainnya, bersarang di pipi Johnny, kali ini membuat pemuda Seo itu limbung. Samar, Seungwan bisa lihat bagaimana noda merah muncul di sudut bibir Johnny.

“Kau pikir perusahaan ini taman bermain!? Apa-apaan dengan keputusan merekrut programmer itu hah!?” satu lagi tamparan bersarang di wajah Johnny, membuat Seungwan segera membuang pandang, merasa tak nyaman ketika harus melihat sisi terburuk pemuda menyebalkan itu karena Seungwan tak ingin merasa kasihan.

“Itu satu-satunya cara mengembangkan WorldWare dan menarik investor, Tuan.”

“Menarik investor, katamu!? Yang ada perusahaan akan dirugikan! Memangnya siapa yang akan membayar semua pegawai baru yang akan kau rekrut, huh!? Segera ubah keputusanmu, atau kau tahu apa yang akan terjadi!”

Usai berkata dengan kasar, pria—yang tidak Seungwan kenal—itu keluar dari ruangan, membiarkan Johnny di sana sendirian sementara Seungwan masih menyembunyikan diri. Beruntung, kemarahan yang menguasai pria itu tidak membuatnya sempat membuang waktu untuk menatap sekitarnya.

Seungwan sendiri sekarang keluar dari persembunyiannya, memerhatikan Johnny yang memunguti satu persatu kertas yang berserakan di lantai ruangannya, mengabaikan darah yang menetes keluar dari sudut bibirnya seolah tubuhnya tidak merasa sakit karena pukulan-pukulan yang dia terima.

“Kau baik-baik saja?” tanpa bisa menahan diri, pertanyaan itu lolos dari bibir Seungwan, sontak membuat Johnny berbalik dan berhasil membekukan Seungwan sejenak.

Seo Johnny terluka, Seungwan tahu itu. Pandangan pemuda itu seolah mengatakan semuanya pada Seungwan. Tidak lagi ada tatapan jenaka yang siang tadi Seungwan temukan. Tidak juga tatapan tajam khas yang dimiliki Johnny saat dia menjadi Manajer menyebalkan.

Yang ada hanya luka, juga penat.

“Oh, kau belum pulang?” tidak lantas menjawab pertanyaan Seungwan, Johnny justru balik bertanya dengan santai. Melihat sikap diam yang Seungwan pamerkan, Johnny hanya bisa menghela nafas panjang, sebelum dia melanjutkan kegiatannya.

“Tidak merekamku tadi? Kurasa kau akan dapat bahan mengolok-olokku esok hari. Selamat ya.” vokal Johnny terdengar sementara tubuhnya memunggungi Seungwan. Lantas, Seungwan melangkah masuk ke dalam ruangan pemuda Seo itu.

“Kau bodoh, ya? Mana mungkin aku menjadikan kesulitanmu sebagai candaan?” tanya Seungwan, jemari gadis itu sekarang bergerak membantu Johnny merapikan kertas-kertas berisikan sketsa karakter yang ada di lantai.

“Aku pikir kau ingin bersenang-senang.” sahut Johnny ringan.

Seungwan lantas merengut. “Bodoh.” umpatnya kesal. “…, aku tidak sekejam itu, tahu. Ya, tadinya aku memang kembali ke sini untuk memarahimu, karena sikap kekanakkanmu yang menertawai rambut palsuku. Tapi aku ternyata tidak datang di waktu yang tepat.” sambung Seungwan kemudian.

Johnny terdiam mendengar kalimatnya.

“Bukan salahmu. Dia memang sering datang untuk sekedar mengawasi.” tuturnya. “Dia itu siapa?” tanya Seungwan sejurus kemudian.

“Pemilik tempat ini.” jawab Johnny.

Wow, jadi dia Kim Haejoon yang hebat itu? Aku sering melihatnya di televisi tapi tidak mengenalinya saat dia sedang—ah, maaf.” segera Seungwan menelan semua kalimatnya, melihat ekspresi muram yang Johnny pamerkan sekarang sungguh tidak membuatnya merasa nyaman.

“Tidak masalah. Sudah kukatakan kau akan punya bahan olok-olokkan tentangku esok hari, bukan? Lagipula, memang kenyataannya begitu. Aku belum cukup cakap untuk memimpin perusahaan ini. Sehingga Kim Haejoon akhirnya turun tangan atas tindakan tidak becusku.”

Kali ini giliran Seungwan yang terdiam.

“Kau tidak seburuk itu, Johnny.” ucapnya membuat Johnny menatap sejenak. “Apa maksudmu?” tanya pemuda Seo itu. Sementara Seungwan tersenyum kecil. “Meski kau terkenal sebagai manager gila yang selalu marah-marah, tapi aku tahu kau hanya berusaha untuk bersikap tegas pada semua staffmu.

“Aku yakin kau juga mendedikasikan dirimu untuk WorldWare, seperti semua orang yang ada di sini. Dan kalau bisa kukatakan, beban yang kau tanggung lah yang paling berat. Kau ikut terlibat dalam pengembangan game, mengawasinya, dan berhadapan dengan atasan.

“Semua kesalahan anak buahmu akan ditimpakan padamu. Kau yang mendapat amukan, komplain, dan kau juga yang mendapatkan tamparan. Tidak ada hal yang pantas untuk diolok-olok dari dirimu sekarang, Johnny.”

Hening lantas merambat di ruangan tersebut. Johnny sendiri terdiam, lantaran baru pertama kali ini mendengar seseorang memujinya dengan cara begitu angkuh sekaligus memesona seperti yang Seungwan lakukan.

Sementara Seungwan sendiri mengutuk diri, mengapa dia berkata sebaik itu pada Seo Johnny yang terkenal dengan kelakar menyebalkannya? Seungwan tentu menduga-duga kalau esok hari pemuda Seo itu sudah kembali menjadi dirinya yang menyebalkan, bukan?

Mengapa pula Seungwan merasa kasihan pada Johnny saat melihatnya dalam keadaan seperti ini?

“Terima kasih.” kata itu lolos dari bibir Johnny, diikuti sebuah senyum tulus pada Seungwan. Lantas, jemari pemuda itu bergerak meraih tumpukan kertas yang ada di tangan Seungwan. “Kau boleh pulang, Seungwan-ssi. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di sini. Kau boleh marah padaku esok hari jika mau, tapi jangan malam ini. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” kata Johnny, masih memasang senyum yang sama.

Seungwan kemudian mengangguk kaku. Dia juga tadinya sudah akan meninggalkan Johnny meski pemuda itu tidak memintanya. Dan sekarang, pengusiran yang Seungwan dapat justru jadi sebuah kesempatan baginya untuk kabur.

“Baiklah, sampai bertemu besok.” kata Seungwan sebelum dia berbalik dan melangkah meninggalkan Johnny sendiri di ruangannya.

Tetapi baru beberapa langkah diukir Seungwan keluar ruangan, dia sudah menarik diri berbalik lagi. Melempar pandang ke arah Johnny yang sekarang memunggunginya, sibuk dengan arsip-arsip yang ia tempelkan di atas papan putih yang memanjang di dalam ruangannya, berisikan skema tentang pengembangan WorldWare yang Johnny rencanakan, tentu saja.

Melihat bagaimana coretan-coretan berwarna merah mewarnai papan tersebut, Seungwan tentu tahu benar kalau papan itulah tadi yang jadi awal mula tamparan yang Johnny dapatkan.

Kim Haejoon pasti tidak menyetujui ide yang telah Johnny berikan. Dan pemuda itu mungkin akan bermalam di kantor hari ini untuk menyelesaikan semua pekerjaan—yang seharusnya ia kerjakan bersama dengan staff-staffnya yang sudah pulang—malam ini, untuk dipresentasikan kembali esok hari.

“Masa bodoh. Biar saja, biar dia tahu rasa.” kata Seungwan mengingatkan dirinya sendiri untuk berhenti merasa kasihan pada Johnny. Dia sudah akan berbalik lagi kalau saja tidak dilihatnya jam yang sudah menunjuk angka delapan di ruangan Johnny sana.

Membayangkan Johnny akan bermalam di kantor seorang diri dengan beban pekerjaan yang begitu berat malam ini entah mengapa lagi-lagi membuat Seungwan tidak sampai hati. Jadi, gadis itu akhirnya menyerah. Meski dia menyamar sebagai seorang office-girl di NG Soft, tetapi pada dasarnya Seungwan adalah seorang programmer game juga, terlebih, dia membantu kekasihnya—Baekhyun—dalam mengembangkan prototype WorldWare.

“Johnny,” panggil Seungwan saat ia akhirnya melangkah kembali ke arah ruangan Johnny. Membuat pemuda Seo itu berbalik, menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.

“Ada apa, Seungwan-ssi?” tanyanya.

Seungwan, tersenyum kecil. Sikap sopan Johnny satu ini entah mengapa selalu diacunginya jempol. Sebab, Johnny selalu menunjung kesopanan meski dia tengah berada di tengah amarah. Saat sedang marah-marah di tengah rapat pun, dia tidak akan mengucapkan kata-kata kasar, dan setidaknya, hal itu membuat Seungwan tahu kalau Johnny bukanlah seorang manager gila tempramen, melainkan pribadi baik yang terhimpit beban kerja.

Jadi, Seungwan akhirnya melempar sebuah senyum, sebelum bibirnya membuka memberi sebuah tawaran kecil pada Johnny.

“Apa kau sudah makan malam?”

Segera, Johnny membalas senyum si gadis. “Belum. Apa kau ada ide untuk jadi menu makan malam?” tanyanya dijawab Seungwan dengan kedikan bahu pelan. “Entahlah, mau berjalan-jalan di bawah sebentar? Kau mungkin akan dapat inspirasi di luar kantor. Dan aku bisa sedikit membantumu, nanti.”

“Membantuku?” ulang Johnny dengan alis terangkat.

“Ya,” Seungwan menunjuk ke arah papan di belakang Johnny. “…, aku juga punya ketertarikan terhadap game. Setidaknya, daripada mengerjakannya sendirian bukankah terasa lebih menyenangkan jika ada seseorang yang menemanimu?” sambung Seungwan tak lantas membuat ekspresi Johnny berubah.

Well, ekspresi pemuda itu memang sudah berubah lebih rileks dibandingkan tadi saat dia baru saja berhadapan dengan Kim Haejoon, tetapi Seungwan tahu mood pemuda itu masih belum membaik.

“Dan kenapa kau mau jadi ‘seseorang’ yang menemaniku, Seungwan-ssi?” tanya Johnny kemudian, tidak berusaha menyudutkan Seungwan, tentu saja. Dia hanya merasa penasaran karena sikap yang Seungwan pamerkan sekarang sangat bertolak belakang dengan sikap ketus yang seringkali dia tunjukkan di hadapan Johnny.

Seungwan sendiri tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia berucap:

“Mungkin… karena aku tahu kau orang baik?”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Akhirnya, ketemu lagi di hari Jum’at si hari pendek yang selalu penuh perjuangan dan kerasa beneran super singkat akibat banyaknya pekerjaan yang menumpuk. Heuh~

Maaf, seharusnya aku selesaiin draft ini semalem. Tapi berhubung semalem moodku dihancurkan sampai ke titik terendah sama seseorang yang dengan lancang sudah menyebut kalau pekerjaanku itu melelahkan dan blablabla entahlah dia babblingan soal apa kemarin sore aku sudah lupa, tapi yang jelas moodku super duper ruined gara-gara kalimat-kalimatnya itu.

Yang intinya dia bilang kalau ke depannya pekerjaan-pekerjaan manusia bakal diganttin sama robot/mesin dan segala jenis kecanggihan teknologi sehingga aku dan pendidikan juga pekerjaanku no longer berguna. Ah~ ada sakitnya tapi bener juga setelah aku pikir-pikir.

Well, mungkin karma juga karena aku pribadi begitu menyukai cerita berbau teknologi sains begini. Akhirnya ketika dihadapkan pada situasi dimana kemungkinan bahwa teknologi bisa ngegantiin eksistensi manusia beneran, celekitnya kerasa. Huhu.

Kembali ke permasalahan WorldWare. Lagi-lagi aku harus minta maaf karena aku enggak bisa memamerkan banyak momen Baekhyun-Jiho di dalam level ini. Mohon bersabar ya, tinggal 3 level lagi (artinya kalau aku enggak molor, tinggal minggu ini dan minggu depan) doang kalian harus berkutat sama masa lalu, kemudian kita akan kembali ke masa yang dipause: battle melawan Black Radiant di dalam mode survival WorldWare versi 4.2.4.

Fiuh~ hutang fanfiksi lain masih banyak, padahal semangat ’45-ku baru bisa tercurah buat Game Over doang. Mungkin setelah Game Over bener-bener over, aku bisa fokus sama yang lainnya (atau mungkin enggak?) dan projek-projek lain juga menanti di belakang sana, dududu~

Sekian dulu dariku, berhubung aku lagi baik hati aku membuka satu sesi spesial di level 37 ini dimana: KALIAN BEBAS BERTANYA APAPUN DI KOLOM KOMENTAR, yang ada hubungannya dengan cerita ini, tentu aja. Nanti aku jawab satu-satu di bonus level 40-nya ya…

Sampai ketemu hari Minggu. Salam dariku, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

28 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 37 [Lady in Red] — IRISH”

  1. Dear Irishnim,

    “Mungkin… karena aku tahu kau orang baik?”
    Iya mbak Wendy, mungkin aja. Dan mungkin kalian juga jodoh. *maksa banget biar Baek-Ho ship ku jalan. wkwk*

    Lady in Red itu Seungwan kan? rambut merahnya itu yang mendasari penciptaan Red Haired Witch. Kan si Johnny udah kesengsem gitu sama Seungwan.
    But tapi Irishnim, aku kangen momen Baek-Ho~~~ hueeeee T____T

    Yaudalah… yang penting ship Anak Ibu Kost tetep unyu kok. wkwkw…

    Himnehaeyoo~

    Sincerely,
    Shannon

  2. Sehun dibilang masih umur 13 tahun. Entah kenapa gara-gara ini aku ketawa terus
    Mas jonny kasian ditamparin terus, sini mas ma dede aja entar dese elus-elus deh :v
    Gapapa kalo ga ada baek-jiho moment yang penting ada jonny-wendy moment 😀

  3. Demi apa aku ketinggalan jauh bangettt..
    Waaaaaaa 😫😫😫
    Seo johnny kamu kasihan sekaliii.. Sini peluuukkk 😂😂
    Duuhh kok aku ngarepnya si mbak seungwan jatuh cinta gitu ya sama mas johnny 😁😁 Biar Baekhyunnya sama si Jiho gitu maksudnya wkwkwkk..
    Makin kezel atuh lah sama kim haejoon.. Maunya apa sih? Tinggal beres juga kan yg ngerjain si Johnny, ngerecokin mulu tuh bapak tua..
    Buat mas johnny semangat terus lahh 😂😂
    Kak Irish juga semangaattt terus yaaa

  4. huhuhu sedih nya baru bisa baca sekarang, itu johnny kesian banget y digituin tapi ini juga buat chen kan? chen cepet sadar dong. aku penasaran sebenarnya tujuan sehun musuhin baekhyun di game tu apa? rencana apa yg ada d balik sikapnya itu? kak irish semangat ngetiknya hehe

  5. Trus. Ntar si john dapat inspirasi bikin karakter macem wendy. Trus kasih nama res hair witch 😍😍😍😍😍
    Uuuuuuh keren banget kak.
    Aaaah. Dari kemaren baru bisa on. Baru bisa baca sekarang. 😥😥😥😥

  6. di ww kayaknya yang paling jahat itu haejoon ya..bikin kzl..
    dan kenapa sih disini si seungwan itu baik bgt..coba kalo katakternya mirip seungwan di one and only..aq kan pasti tega kalo dia putus ma baekhyun..tapi disini…
    ah sudahlah..
    btw rish..aq mau nanya satu hal..
    bisakah seungwan jatuh hati pada johny.??
    aq sungguh berharap baekhyun sama jiho itu pacaran sungguhan..
    hihihi…
    aq gak sabar nunggu level yang tertunda..itu loh level setelah invisible black (…..)di level 30…
    aq tunggu ff mu yg lain juga ya..
    fighting

  7. “Seseorang mungkin mengira kau adalah penderita kanker otak yang harus memakai rambut palsu karena kebotakan mendadak di kepalamu, Seungwan-ssi.”
    Ngebayangin si Jhony ngomong kayak gibi ke seunghwan dengan tampang polos dengan mata berbinar binar. Itu asli lucu.. aku ketawa bacanya. 😀

    Yahhhh…. nambah lagi ship ship nya. Aku jadi shiper yang plin plan. Pertamanya ngeship baek-jiho, trus taetae-jiho, trus sekarang jhony-seunghwan. O..o..o.. gimana ini aku kembali jadi remaja labilll huhuhu…

    Gak papa dech kak irish gak ada baek-jiho momen, yang penting ada gantinya. Mas jhony sama mbak seunghwan itu nah, mencuri perhatian.

    Pertama aku baca judulnya, udah notif kalaw ini ceritanya bakal fokus sama mbak red hair witch a.k.a mbak seunghwan dalam mode NPC, secara gitu judulnya aja Lady in Red. Langsung kebayang wig nya mbak seunghwan melayang layang dengan warna merah yang cetar membahana badai. 😀

    Yaudah deh cuap cuap nya, ohhh ya d sruh nanya kan tadi kak irish, so aku mw nya “apakah kak irish masih dan tetap konsisten bikin baek jiho tak bisa bersama dan bersatu?? Apakah ada kemungkinan hidup mas jhony cerah secerah rambut mbak seunghwan? Trus trus, mbak seunghwan sma mas jhony punya kemungkinan kemungkinan gak kak?” udah ah itu ajha gak banyak banyak, ntar ngalahin fingerbotes nya kak irish.

    Apapun keep writing ya kk, love U ♡♡♡

    Ps. Ikut berduka untuk Shawoll, aku sedih juga hiks.. hiks.. 😥

  8. Kak irisheu ane mau nanya. Pertanyaannya sama kaya yg sebelumnya, waktu Invisible Black jatuh cinta sama jiho di game itu pake ingatannya Baek ato Invisible Black sendiri??
    And mianhae kak,, ane ga tau mau komen apa di level ini karena full moment johny-wendy. Suka2 aja sebenernya, tapi ane kangen Baek-Jiho. The last but not the lewat kak.. keep writing and fighting. Kak irisheu ini author favorit aku disini. N tau ga kak,, Sekarang ini cuma ff kak aja yg aku baca di EXOFFIini. Belum Nemu yg menarik selain karya kak irisheu..

  9. Emmm sukak sma wendy-jhonny 😚😚
    Sma Jhonny aja dah yaaa Wendy!!!!!!!!!!!! Cocok kog!!! Banget!!

    Boleh tanya apa aja kan??
    Itu ak kog heran sma tubuh Baekhyun yg ditinggal gk kenapa2?? Kan udh 4 taon tu disini, kan gk ada asupan makan ato minuman!! gk mati kh??😂😂😂
    Trus Jongdae kenapa bisa kritis di RS?? Knpa jga itu yg jdi alasan Jhonny di NG Soft?? Diapain sama si heojun-haojun eh sapa si itu yg nyebelin!!!?

  10. Ampuni dosa ku kak, maafkan diriku yang tdk coment 2 charter sebelumnya. Suer di tempatku ada perbaikan besar2 ran mknya jaringannya hilang. Maaf kak!. Aahhh akhirnya, gpp kok kak baekhyun – jihonya jarang ditampilkan. Semoga aja baekhyun – jiho happy ending. Fighting kak nulis charter berikutnya

  11. lantaran hp ku rusak dan aku bawa ke konter buat di service sampe sekarang hpku belum balik juga padahal udah nginep 5 hari di sana T_T akhirnya aku pun baca lv 36 ngebut ke 37 inipun aku pakek komputer di tempat kerjaku,untung komputernya lagi nganggur :”)

    itu karakter red hair witch di ciptain gegara mb seunghwannya kan ? iya kan kak ? Mungkin mas johnny suka makanya nyiptain karakter game yang mirip dia *maapkeun kak aku sok tahu 😀 duh,ini kalo aku boleh nawar si ya, syudah lah kak mas johnny sama mb seunghwan aja cocok kok cocok kalo mereka jari sepasang kekasih wkwk 😀

    ku tunggu lv selanjutnya,semangat kerja kak irish 🙂

  12. Jongdae itu knp bisa ada di rumah sakit gitu? Sampe bisa jadi senjatanya si kim itu buat ngancem manager seo? Ehh tentang ini apa udah di jelasin ya? Atau blm? Atau udah di jelasin tapi aku lupa? 😅 penasaran apa sih yg diomongin haejoon sama pihak militer itu sampai bikin junmyeon pundung gitu sampe nyuri prototype segala 🤔

  13. Kenapa Johnny kocak ya 😂
    Masa iya gara” Wendy lepas wig’nya dia takut orang lain salah paham. Mana mikirnya Wendy kena kanker otak lg 😂
    Sebenernya masih penasaran sih sama rencana’nya Sehun buat Baekhyun itu apa ??
    Tapi nunggu kak Irish aja yg jelasin, nanti mngkin di chapter yg lain 😄

    Semangat terus ya kak Irish 😊

  14. Haiii authornin kesayangan akohhh…akhirny yg ditunggu2 melebiho nggu 3355 msuk nongol jugaaaaaaa…ini mah lebih membhagiakan dbanding sms dr 3355 hahwhahaahha
    Bisa bingitz gitu yaaa bkin orang penasaran ketat ketir..
    Rish,di awal kan ada tu penjelasan si jiho deket sama sehun,it si sehun anak ayam apa bukan?ap aalah tulis nama aja?klo bneran sehun anak ayam brarti dia selingkuh dund dr liv?
    Irish mah gitu suka bgt bkin readers kobam..tapi selalu kunanti rishhh…btw happy holiday yes 🙂

  15. Masalah kesadaran/memori/pikiran(?)nya si Baekhyun sm si black itu aku kurang paham. Entah di level mana, aku pernah baca kesadaran pertama yg Baekhyun liat itu Jihoo. Trus pas Baekhyun bangun dr tidurnya kok langsung keinget seungwan?
    Kalo kesadaran si black itu milik Baekhyun, bisa jadi kan Baekhyun nanti inget Jihoo?

  16. ka Rish pernah bilang.. Katanya Baekhyun sama invisible black itu orang yang berbeda (?) tapi, aku baca di lvl flashback ini.. Kok jadi bingung ya? Rasanya, Baekhyun mau masuk kedunia worldware kan, tapi dirinya msh utuh kan. Apa cuma otak Baekhyun aja yg ditaroh di invisible black? ;”v
    terus juga, jadi kalo Baekhyun sadar bersama otaknya yg balik lg. Apa invisible bakal inget sama Jiho?
    maapkeun aku yg gapernah pokus tiap bca gameover ini :”)

    dan ka Rish.. Bisa gak sih Baekhyun sama Jiho bakal pdkt” gitu di dunianyata? Ngga ya? Kalo ngga ya gpp. Asal di worldware pdkt yaa ka Rish ❤ ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s