[EXOFFI FREELANCE] I Did It, Baby! (Oneshot)

I DIT IT, BABY!

Tittle: I Did It, Baby!

Author: Berry Cupcakes

Length: Oneshot

Genre: Sad, Romance, Fluff, Teen.

Rating: PG-15

Main Cast:

-Sehun (EXO) as Oh Sehun

-Song Reina (OC) as Song Reina

Summary:           “Aku memenangkan taruhan nya. Sekarang penuhi janjimu!” –Oh Sehun

                                “Kau bisa melakukannya, Baby. Sekarang lakukan itu setiap hari” –Song Raena

Disclaimer : Asli punya saya. Okay?

Author’s note: Tolong di Read, Comment, Like. Dan….jangan dia plagiat. PLEASE!!

###

“Sehun, apa tak ada gadis yang menarik perhatian mu saat ini?”

Sehun langsung menoleh saat pertanyaan itu lepas dari bibir gadisnya. Ia mengangkat sebelah alisnya mendengar hal yang menurut nya aneh. “Gadis? Maksudnya selain kau?”

“Hm-mm” gumam Raena singkat dan terus menyendok es krim ke mulutnya sambil mengetik di laptopnya. Ia dan Raena memang biasanya mengerjakan tugas bersama. Kali ini pun begitu.

Sehun kembali menyeruput bubble tea nya sebelum kembali buka suara “Kenapa aku harus tertarik pada gadis lain? Aku kan punya kau” jawabnya terus menatap Raena yang terus berkutat dengan tugasnya.

“Bukan apa-apa” Raena menggeleng. “Hanya saja kalau saat ini kau tertarik pada gadis lain kau tak perlu pusing” lanjutnya tanpa melirik Sehun sedikit pun.

“Kenapa?” tanya Sehun menuntut penjelasan

Raena berhenti. Ia terlihat menimbang-nimbang sambil menatap lurus ke depan. “Setiap kali seseorang mencintai 2 orang pada waktu yang sama semuanya menjadi dramatis. Jadi kalau itu terjadi padamu saat ini, kupikir lebih baik kau memilih gadis lain dibanding aku”

“Kenapa?” dan ini sudah ketiga kalinya kata kenapa keluar dari mulut Sehun untuk waktu yang sekejap ini. Jujur ia tak mengerti kenapa Raena bisa tiba-tiba membicarakan ini. Walau memang Raena sering kali mengangkat topik pembicaraan yang tidak biasa.

Raena menoleh pada Sehun. Tapi kemudian sedetik setelahnya terlihat menerawang walau wajahnya tak ia alihkan. “Kalau seseorang mencintai 2 orang dalam satu waktu, lebih baik dia memilih yang ke-2. Karena jika dia benar-benar jatuh cinta pada yang pertama, dia tak akan pernah jatuh cinta pada yang ke-2”

Raena tersenyum singkat melihat Sehun menatapnya terlalu intens. Ia pun kembali pada tugasnya.

“Kau tahu saat ini aku sedang jatuh cinta pada siapa, Rae?” tanya Sehun tetap memandangi gadisnya.

“Siapa?” tanya Raena tak peduli. Masih berkutat dengan tugas-tugas nya yang menggunung.

“Ingat kembali kata pertama yang ku ucapkapkan dalam pertanyaan ku barusan” ujar Sehun dan kembali pula pada tugas nya sendiri.

Raena menoleh pada pria di sampingnya. Mulutnya terbuka bersamaan dengan ingin mengulas senyum. “Sejak kapan kau belajar rayuan murahan seperti itu?” tanya nya benar-benar merasa aneh dengan perkataan Sehun.

Sehun hanya mengulas senyum tanpa menoleh pada gadisnya. “Karena murahan makanya bisa ku ucapkan. Kalau mahal, uang ku bisa terancam habis”

Raena menggeleng-geleng tidak percaya diantara kikikan gelinya. Ayolah! Kekasihnya tak pernah begini dalam 3 tahun ini mereka pacaran.

###

“Astaga, Rae! Pilihan mu benar-benar payah!” ujar Sehun Sehun melihat sprei lengkap dengan bed cover yang dipegang gadis itu. Mereka berencana membelinya untuk diberikan pada teman mereka yang akan menikah.

Raena terlihat tidak peduli dan malah membawanya ke meja kasir.  “Kenapa kau selalu punya selera yang buruk? Ini benar-benar jelek. Percayalah padaku!” ujar Sehun masih menggerutu sekalipun sudah tiba di meja kasir.

“Okay…..aku percaya kalau kau jelek” jawab Raena ringan dan mengeluarkan uang dari dompetnya

“Apa?” tanya Sehun antara tidak mengerti dan tidak percaya.

Raena mengambil bungkusan nya. Ia menoleh pada Sehun dengan senyum simpul sok cantik. “Pilihanku selalu jelek, kan? Bukankah kau salah satu diantaranya?”

Sehun langsung mendesis tidak suka. Dan melangkah lebih dahulu meninggalkan Raena.

###

Sehun terus mengikuti gerakan gadis cantik di ujung lorong dengan ujung matanya. Gadis itu tertawa heboh bersama teman-teman nya. Beberapa saat kemudian barulah menyadari keberadaan Sehun. Gadis itu terlihat mengucapkan sesuatu pada teman-teman nya. Mungkin berpamitan.

“Bisa kulihat lebam mu?” tanya Sehun saat gadisnya sampai dihadapan nya.

Raena sedikit mengernyit. Jelas bingung. “Apa ku?” tanya nya memastikan pendengaran nya

“Maksudku…..kau pasti punya. Kalau terjatuh sejauh antara jarak langit dan bumi, kupikir Malaikat pun akan luka-luka. Untung saja itu tak sering terjadi” ujar Sehun dengan senyuman ringan nya.

Raena memasang ekspresi malasnya. “Sumpah, Sehun! Kalau kau mengatakan hal yang menjijikkan seperti itu lagi aku akan menendang mu” ujar dan malah memukul kepala Sehun. Tapi Sehun bisa lihat perubahan warna pipi nya.

Sehun malah tertawa. Padahal dulu Raena yang suka melontarkan gombal padanya. Pria Oh tersebut tahu mau setidak tahu malu apapun Raena ia pemalu kalau masalah cinta. Ia mungkin tanpa berpikir apapun selalu melontarkan gombal pada Sehun. Tapi saat Sehun mengembalikannya malah wajah Raena benar-benar memerah karenanya.

###

Raena terlihat lesu. Gurat wajah letih tercetak jelas di wajahnya. Kepanitiannya dalam acara kampus yang baru saja selesai membuatanya kelelahan. Ia berjalan lunglai ke arah Sehun. Dan Sehun langsung memeluknya. Membiarkan Raena bersandar di dada bidang nya.

Beberapa saat mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Biasanya Raena tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum. Tapi mungkin kali ini dia benar-benar lelah untuk peduli.

“Rasanya aku sulit bernafas” ujar Raena. Sehun sedikit melirik ke arah bawah melihat gadis itu yang memegangi dadanya.

Sehun membelai kepalanya lembut. Sehun tentu nya tak memeluknya terlalu erat karena ia tahu Raena kelelahan. “Karena kau gugup berada dalam pelukan ku?” tanya Sehun usil. Ia tahu maksud Raena mungkin karena rasa lelahnya dan betapa sesak nya di dalam ruangan penyelenggaraan acara tersebut.

Raena menggeleng. Tampaknya terlalu lelah hingga ia tidak bisa memasang senyum untuk menanggapi guyonan Sehun. Ataupun mengeluarkan makian, ancaman atau setidaknya komentar.

“Kau tahu?” tanya Sehun dan sedikit menjauhkan kepalanya dari atas kepala Raena.

“Hm?” gumam Raena dan mendongak melihatnya.

Sehun menatapnya lembut. “Saat ini aku akan memberimu ciuman. Tapi kalau kau tak suka kau bisa mengembalikannya” ujar nya ringan.

“Kau gila?!” maki Raena terkejut dengan ucapan Sehun. Demi apapun! Ada banyak orang di sekitar mereka. Orang-orang yang baru saja keluar dari gedung tempat acaranya di selenggarakan.

Sehun memasang senyumnya “Aku baik, kan? Ada pengembalian kalau kau tak menyukainya. Bukankah kau protes karena barang yang kita beli kemarin tak bisa dikembalikan?”

“Geez!” Raena langsung mengumpat.

Tapi Sehun terlihat tidak peduli. Ia langsung melumat bibir gadisnya dengan lembut. Terhanyut dalam manisnya bibir kekasihnya tersebut.

Sehun menyudahi ciuman nya dan bisa ia lihat wajah Raena yang benar-benar memerah. “Bagaimana? Kau suka atau tidak?” tanya nya dengan senyuman puas. “Mau mengembalikan ciuman ku? Sini. Di sini tempat mengembalikannya” ujarnya menunjuk bibirnya sendiri tanpa malu.

“Kau menjijikkan, Sehun!” desis Raena

“Jadi kau tidak suka? Mau mengembalikan nya?” tanya nya dan mendekatkan kan bibirnya lagi.

Raena mendorongnya. “Ya. Ya. Aku suka” jawabnya asal dan hendak melangkah lebih dulu. Tapi tangan Sehun lebih dulu menahan nya dan menyentak nya kembali ke rengkuhan lengan pria itu.

“Kalau begitu kau pasti senang kalau bisa merasakannya lagi” bisiknya.

###

“Apa yang akan kau lakukan jika aku putus dengan mu?” Sehun tidak tahu kenapa ia tiba-tiba menanyakan itu. Mungkin karena teman nya baru saja putus dan sedang senang-senang nya mengganggu Sehun. Ia jadi kepikiran hal itu.

“Balik lagi dengan mantan ku” jawab Raena ringan bahkan tak perlu satu detik pun berpikir.

“Wow! Okay!” Sehun tahu Raena bukan tipe yang sensitif kalau membahas masalah hubungan sekalipun itu tentang putus. Tapi sungguh Sehun saat ini memilih Raena menjawab seperti kebanyakan gadis dan marah-marah pada Sehun. “Sekarang aku tahu seberapa perhatian mu pada hubungan kita. Kita putus” ujar Sehun kesal dan bangkit dari tempat duduk nya.

Ia berjalan ke arah kelas untuk jam kuliahnya selanjutnya. Okay…. Ia mungkin lebih parah dari pada wanita karena saat ini ia marah tak jelas karena sesuatu yang belum terjadi. Tapi….Ayolah! Ia memang pantas marah, bukan?

Sehun mendengar langkah cepat mengikutinya. Ia tahu siapa itu. “Hey, mau pergi dengan ku weekend nanti?” tanya gadis itu dengan senyum manisnya.

Sehun berdecih “Pergi saja dengan mantan mu” jawab nya acuh. Dan tetap melanjutkan langkahnya tanpa sedikit pun melirik gadis di sampingnya.

Raena berjalan ke depan Sehun dengan terus melangkah mundur. Senyum nya tak lepas sama sekali. “Kau mantan ku” jawabnya ceria.

Sehun terdiam. Astaga! Kenapa dia harus sebodoh ini? Raena mempermainkan nya dengan begitu mudahnya.

Raena tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Sehun. Ia terus berjalan mundur sambil terus tertawa. Sampai akhirnya ia menabrak seseorang dan membuat dokumen orang tersebut tercecer.

Raena langsung membantu memunguti dokumen nya dan meminta maaf bekali-kali. Perubahan ekspresi wajahnya terlalu drastis. Kali ini gantian Sehun yang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi takut-takut bercampur rasa bersalah gadisnya. Raena menyipitkan matanya menatap Sehun geram karena kekasihnya tersebut malah menertawakan nya.

Sehun menggeleng tidak mengerti. Raena selalu berhasil mempesona nya dengan apapun yang gadis itu lakukan. Gombalan nya, tawa nya, dan ke kikuk-an nya.

###

“Apa aku secantik itu, ya?”

Sehun menoleh pada gadis di sebelahnya. “Kau bilang apa?” tanya nya memastikan pendengaran nya.

“Bukankah aku terlalu cantik?” tanya gadis itu dan menoleh pada Sehun dan terlihat sok cemas dengan fisiknya.

“Aku tidak tahu sejak kapan kau sepercaya diri ini, Rae” jawab Sehun kaku mendengar pernyataan tak wajar dari gadis yang menjadi kekasihnya selama 3 tahun.

“Memangnya aku tidak cantik?” tanya nya terlihat merasa aneh dengan tanggapan Sehun.

Sehun menggeleng. Ia tahu Raena sedang bercanda saat ini.  “Tidak. Kau jelek sampai kasihan mataku harus melihatmu setiap hari” jawabnya ringan.

“Ah? Benarkah?” tanya Raena sok menggoda. Lalu kemudian mendesis tidak puas karena Sehun terlihat sangat yakin. “Kalau begitu kau tidak masalah aku pergi dari hidupmu?” tanya nya tak menatap Sehun.

“Astaga, Rae! Aku hanya bercanda!” ujar Sehun dan memutar wajah Raena dengan memegang kedua pipinya. Karena salah menebak reaksi gadisnya.

“Aku juga bercanda, Bodoh!” ujar Raena dan menoyor jidat Sehun untuk menjauh darinya.

Sehun menghela nafas. “Kau benar-benar suka mempermainkan ku”

“Sebenarnya tidak benar-benar seperti itu. Aku memang akan pergi”

“Kau bilang apa?” Sehun langsung kembali fokus menatap Raena. Menuntut penjelasan darinya.

“Wow! Tiba-tiba saja kau menjadi seserius ini” ujar Raena dengan sedikit kekagetan melihat reaksi Sehun. “Aku bertanya karena sebenarnya aku baru dapat surat kalau aku harus ke Melbourne. Dan harus sesegera mungkin ke sana. Mulai minggu depan mungkin?”

“Untuk apa?”

“Aku dipanggil untuk magang” jawab Raena meringis. “Tapi mungkin lebih baik tidak, kan?” jawabnya dengan senyuman sok menggoda. “Kau sebegini nya tergila-gila padaku. Tidak melihat ku satu hari saja kau sudah uring-uring an” ejeknya pula.

“Uring-uring an apa maksudmu? Hah? Aku tidak pernah seperti itu. Aku pergi ke Tokyo untuk seminggu bulan lalu dan aku benar-benar sehat lahir batin” jawab Sehun ketus. Sudah cukup bahan ledekan Raena hari ini.

“Ah! Tapi kau menelfon ku setiap hari. Bahkan saat aku sedang di kelas” ujar Raena melanjutkan ejekan nya. “Aku yakin kau tak akan bertahan satu hari saja tanpa melihatku, atau mengirimiku pesan, atau mendengar suaraku” lanjutnya percaya diri.

“Kalau kau mau tahu saat ini kau terdengar menyebalkan sampai rasanya aku ingin memukulmu” jawab Sehun serius. Sungguh ini tak enak didengar.

“Kenapa kau kesal? Memang benar, kan?” Raena masih senang memperolok kekasihnya tersebut.

“Raena, aku tak sebegitu posesif nya”

“Memangnya kau bisa tanpa ku?” tanya Raena memandang wajah Sehun dari dekat.

“Demi apapun! Memangnya aku tak bisa?” jawab Sehun kesal

“Masa?” tanya Raena masih dengan senyuman menyebalkannya.

“Tolol kalau aku tak bisa” desis Sehun.

“Kalau begitu bagaimana dengan 3 bulan?” tanya Raena lagi

“Kenapa harus 3 bulan?” tanya Sehun tapi nada nya tidak tertarik. Ia tampaknya memang kesal.

“Aku akan di Melbourne selama 3 bulan. Akan sangat mengganggu kalau kau menelfon ku setiap saat” jawab Raena kembali mengungkit kebiasaan Sehun saat mereka berjauhan.

“Kau pacarku. Wajar kalau aku menelfon mu” bantah Sehun. Okay, ia kesal. Tapi masih cukup rasional memikirkan kemampuan nya tidak menelfon gadisnya yang berada jauh darinya selama 3 bulan.

“Jadi kau memang tak bisa melakukannya?”

“Dan kenapa pula aku harus melakukan nya?” tantang Sehun balik.

“Kalau kau bisa, aku akan menikah dengan mu” jawab Raena dengan tatapan lembut dan senyuman tipis. Bukan lagi senyuman menyebalkan seperti sebelumnya.

“Memangnya kapan aku melamarmu?” tanya Sehun ketus.

Raena memutar bola matanya bosan. “Tak usah sok menutup-nutupi, Oh Sehun. Aku tahu kau diam-diam membeli cincin saat kencan kita minggu lalu. Dan bukan hanya cincin biasa. Itu cincin mahal yang memang kau beli di toko yang bagus. Berpasangan pula. Cincin pernikahan, kan? Memangnya mau kau beri pada siapa lagi?” celetuknya.

“Itu…..” Sehun memikirkan cara untuk terhindar dari ejekan lain dari Raena.

“Atau kau sudah punya gadis lain?” tanya Raena santai. Tapi cara menatapnya sendu.

“Kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali menuduhku selingkuh?”

“Jadi untukku, kan?” lanjut Raena langsung mengembalikan ke topik karena Sehun tidak mengelak. “Kalau kau bisa 3 bulan tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan ku. Aku akan menikah denganmu. Aku akan mencintaimu selamanya. Aku tidak akan pernah melirik siapapun. Dan akan aku usahakan tak terlalu banyak membuatmu kesal. Bagaimana?” ujarnya melakukan penawaran.

“Kau mau menerima ku kalau aku melakukan itu?” tanya Sehun memastikan.

“Yap” Raena mengangguk mantap.

“Tapi kenapa harus itu?” tanya nya bingung. Akhir-akhir ini sikap Raena benar-benar aneh. Walau sebenarnya biasanya juga begitu.

“Kau ataupun aku mungkin akan sibuk di masa mendatang. Jadi kalau kau tak terbiasa dari sekarang dan terus merengek, aku tidak sudi menikah denganmu. Ayolah! Kau harus berhenti menjadi bayi kalau kau mau menikah” ujarnya menusuk-nusuk pipi Sehun dengan jari telunjuknya.

“Karena aku akan punya bayi?” tanya Sehun dengan senyuman seduktif.

“Menurutmu?” jawab Raena terlihat tidak peduli. Ia hanya menjawab asal.

Sehun tersenyum lebar. “Aku terima tantangan mu, tapi saat kau kembali nanti kau sudah harus siap menerima lamaran ku. Kita akan langsung ke kedutaan konselor Korea. Dan……ayo kita buat bayi” ujarnya dan mengedipkan sebelah matanya.

“Terserah kau saja”

Sehun terlihat benar-benar puas dengan jawaban Raena. “Seperti nya aku harus mulai memilih wedding organizer”

“Kenapa seburu-buru itu?”

“Kan kita mau menikah” jawab Sehun malah merasa aneh dengan pertanyaan Raena.

“Itu kalau kau berhasil. Bagaimana kalau kau gagal? Uang untuk wedding organizer nya akan terbuang sia-sia. Karena itu setelah kita ke konselor kedutaan Korea dan terdaftar resmi sebagai suami-istri barulah pilih wedding organizer”

“Kau benar-benar tak mau menikah dengan ku kalau aku gagal?” tanya Sehun lagi karena ia merasa jawaban Raena terlalu tidak fleksibel.

“Tidak mau” jawab Raena ringan seolah menantang Sehun.

“Baiklah……setelah kita ke kedutaan konselor Korea dan melakukan percobaan pertama membuat bayi nya kita langsung mencari wedding organizer. Okay?” ujar Sehun meminta persetujuan.

“Okay”

###

Sehun menghela nafas panjang. Sudah 3 hari dia tak bertemu Raena sama sekali. Dan ternyata rasanya sesepi ini. Ayolah! Ia tak mungkin sekanak-kanakan itu tidak bisa menahan dirinya. Demi apapun! Ini masih hari ke-3. Raena akan mengejeknya habis-habisan kalau ia menelfon sekarang. Lagi pula ini bukan taruhan biasa. Ia mempertaruhkan masa depan hubungan nya dengan Raena saat ini.

Sehun mengutak-atik ponselnya. Mendesis karena tak ada pesan atau telfon apapun. Apa Raena tidak mau menelfon nya? Seharusnya itu boleh kan? Bukan nya taruhan nya Sehun yang tak boleh menghubunginya? Apa Raena tidak berpikir mengabarinya?

Sehun menghela nafas panjang –lagi. Ia tahu Raena memang senang mengusili dirinya. Jadi sepertinya Sehun memang tak akan mendapatkan apapun. Sehun membuka semua sosial mendia apapun yang ia punya dan tak ada apapun hal baru yang di post Raena. Ayolah! Setidaknya sekalipun tidak secara langsung pada Sehun tidak bisakah Raena memberitahu orang umum tentang sedang apa dirinya saat ini? Apa memang Raena sesibuk itu saat ini?

Sehun merungut-ungut kesal dan hanya membenamkan wajahnya di bantal. Ternyata sesulit ini tanpa kekasihnya. Sehun tidak bisa bayangkan bagaimana dia akan melaluinya hingga 3 bulan. Bagaimana bisa ia sebegini butuhnya pada Raena? Sebenarnya hidupnya bagaimana sih sebelum dia bertemu Raena?

“Nama mu Google?” Sehun tersenyum saat kalimat itu terulang di kepalanya. Awal pertama ia bertemu Raena di kantin kampus. Dan waktu itu Sehun hanya memandangnya aneh sambil menggeleng.

“Karena kau punya semua hal yang kucari” ujar Sehun mengucapkan ulang kalimat Raena saat itu.

Saat itu Raena tertawa terpingkal-pingkal sampai wajahnya menjadi aneh. Demi apapun! Saat itu Sehun sedang bersama teman-teman nya. Raena terlalu gila mempermalukan nya. Dan yang paling parah saat mereka bertemu untuk kedua kalinya gadis itu malah tak mengingatnya sama sekali dan baru ingat saat Sehun menceritakan nya ulang. Benar-benar gadis yang tak tahu malu.

Tapi malah sejak saat itu Sehun jadi sering memperhatikannya. Mereka bertemu beberapa kali di kantin kampus dan menjadi panitia dalam beberapa acara kampus. Setelah itu barulah ia tahu Raena memang bukan gadis yang pemalu. Ia terlalu apa adanya dan tidak peduli kalau ia bahkan terlihat jelek atau aneh. Dan sikapnya yang seperti itu yang membuat Sehun selalu mengikutinya dengan ekor mata Sehun. Sampai akhirnya Sehun menyatakan perasaan nya. Dan Raena menerimanya.

Setelah mereka pacaran, barulah Sehun tahu kalau pertemuan pertama mereka itu karena Raena bermain truth or dare dengan teman nya. Dan ia mendapat dare untuk melontarkan gombalan pada pria paling tampan yang ia lihat di kantin saat itu.

Sehun tersenyum puas. Pria tertampan.

###

Sehun menyisir rambutnya. Senyumnya mengembang sejak kemarin malam. Tentu saja karena hari ini adalah hari spesial. Raena pulang hari ini. Dan ia tahu gadis itu akan sampai pada pagi hari.

Sehun sudah menyiapkan beberapa kertas menyangkut kewarganegaraan, kartu keluarga, kartu identitas, akta kelahiran dan segala tetek bengeknya. Ayolah! Hari ini ia dan Raena akan terdaftar resmi sebagai pasangan suami istri.

Sehun mengikat tali sepatunya. Memikirkan semua yang terjadi hari ini akan sangat indah. Setelah dari kantor catatan sipil apa yang akan ia dan Raena lakukan? Sehun ingat gadisnya setuju tentang rencana membuat bayi. Jadi apa mereka langsung melakukan nya saja nanti? Tapi apa itu aneh? Raena baru pulang dan hubungan mereka juga tak pernah seromantis itu. Apa sebaiknya nanti mereka jalan-jalan dulu baru melakukannya? Tapi apa Raena akan kelelahan saat mereka sedang ingin melakukannya?

Sehun menahan nafasnya. Okay, dia pria normal. Jadi semua tentang yang akan terjadi hari ini membuatnya tertarik tiada tara. Tapi terserah saja. Apapun yang terjadi hari ini hari ini secara garis besar pastilah hal yang baik. Tentang detail apa yang akan terjadi tidak terlalu penting. Intinya Raena akan menjadi miliknya. Ya kan?

Sehun mengambil kotak kecil berisi cincin couple. Dokumen dan kotak tersebut ia masukkan ke dalam ransel nya dan langsung melesat ke rumah Raena.

“I did it, Baby!” gumam nya senang memikirkan ia memenangkan taruhan.

###

Sehun mengernyit saat memarkirkan motor nya dan melepas helm nya. Rumah Raena terlihat ramai. Apa ada acara?

Sehun langsung berjalan menuju pintu rumah Raena yang terbuka lebar. Melihat banyak orang dengan yang berurai air mata. Perasaan nya tak enak. Tapi sungguh ia tak ingin membuat prasangka apapun. Karena sebagian dari prasangka itu tidak benar. Dan ia tak mau hal yang salah menjadi beban pikiran nya.

“Cheogiyo-“ baru saja Sehun ingin bertanya pada salah satu orang yang lewat. Ia langsung mendengar panggilan atas dirinya.

“Sehun!” tubuh Sehun langsung berbalik. Dan seorang wanita bersimbah air mata langsung bisa ia lihat.

“Eomma?” Sehun juga memanggil wanita ini Eomma. Ibu Raena.

“Eomma, ada acara apa ini?” tanya nya.

Wanita di hadapan nya hanya berurai air mata dan terus menggeleng berulang kali. Sehun tidak mengerti jadi ia berusaha menenangkannya.

“Eomma, ada apa ini?” tanya nya sekali lagi dengan lembut. Karena orang tua Raena adalah orang tua nya juga.

Wanita itu hanya menangis semakin kencang. Sehun menggeleng tidak mengerti. Tapi saat itu pula matanya menangkap peti bewarna coklat di ruangan sebelah. Sehun melangkah ragu ke sana. Ia merasa ia tak ingin ke sana tapi kaki nya tergerak sendiri.

Sehun membeku sepersekian detik saat melihatnya. Seorang gadis cantik terbaring di dalam nya dengan gaun bewarna putih. Ia terlihat damai dalam tidurnya. Sehun menggeleng. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Berjalan santai ke arah peti tersebut.

“Kau sedang apa? Hah? Ingin mengerjaiku lagi?” tanya nya berkacak pinggang di samping peti tersebut.

“Raena, kalau kau pikir aku akan tertipu dengan ini otakmu terlalu dangkal” ujarnya lagi.

“Astaga, Rae! Kupikir kau lelah karena baru pulang tapi ternyata kau masih bisa berlakon sampai seperti ini” Sehun membungkuk. Tersenyum menggoda melihat gadisnya yang masih asik berpura-pura.

“Ayolah! Ini bukan drama Sleeping Beauty atau Snow White” Sehun berdecak malas. “Oh! C’mon, Rae! Bangunlah dan kita pergi untuk menikah sekarang”

Sehun menghela nafas “Hey, kita akan mencoba membuat bayi hari ini. Jangan sampai aku harus melakukannya di depan Eomma mu. Heum?” ujar Sehun dan menoel-noel pipi gadisnya.

Ekspresi Sehun langsung kaku saat menyentuh pipi pucat tersebut. “Rae, bukan nya kau benci dingin? Kau bahkan mengkompres pipi mu dengan es hanya untuk kepura-pura an ini?” tanya nya dengan senyuman kaku. Matanya mulai berkaca-kaca. “Raena, tak usah berpura-pura. Sebentar lagi juga suhu mu akan kembali naik. Apalagi kalau aku mencium mu” Sehun menyentuh pipi itu beberapa detik. Sedikit menghangat karena suhu tangan nya tersalurkan. Tapi jelas bukan suhu dari si pemilik pipi.

Sehun bangkit dan mengepalkan tangan nya. “RAENA! INI TAK LUCU LAGI! BANGUN SEKARANG DAN IKUT AKU KE PENCATATAN SIPIL!!” bentaknya emosi. Seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah dan air matanya.

“RAENA!! AKU MEMENANGKAN TARUHAN NYA!!! JADI TEPATI JANJI MU!!” bentak nya lagi. Dan air matanya langsung mengalir deras.

Ia merasakan tangan Eomma Raena memegangi tangan nya dan mengusap-usap punggungnya. “Sehun…..”

Sehun mengeraskan rahangnya. “Tenang saja, Eomma. Kita akan menghukum putri mu yang sangat senang mengerjai orang ini” Sehun berdecak. “Dia memang anak durhaka”

“Raena ini terakhir kalinya aku bicara baik-baik. Jadi dengarkan aku. Okay? Bangun sekarang dan bersiap-siap untuk pergi bersama ku” ujarnya tegas. Namun mau setegas apapun tak ada reaksi dari gadis yang terlihat terlelap tersebut. Menampar Sehun dengan reaksi yang tak ada.

“RAENA BANGUN SEBELUM AKU MARAH PADAMU!! KAU BERJANJI UNTUK MENIKAH DENGAN KU!!”

“Sehun, Raena sudah tak ada lagi” suara pelan dari sebelah Sehun itu membuat Sehun menggigit lidahnya.

“RAENA BANGUN!!” bentak Sehun dan menendang peti di hadapan nya emosi.

“Sehun….”

“AKU BILANG BANGUN SEKARANG JUGA!! KAU HARUS MENIKAH DENGANKU!!” emosi Sehun memuncak dan ia mencium gadisnya paksa. Tapi bibir kaku, kering, dan dingin itu membuatnya menangis semakin parah.

Sebagian prasangka memang salah. Tapi sebagian nya benar dan malah kebenaran itu yang membuat Sehun tak berdaya. Sehun merasa tubuhnya lemas seketika. Kemudian ia merasakan beberapa tangan menarik nya menjauh dari peti tersebut. Sehun menggeleng. Ini tidak mungkin! Raena belum memenuhi janjinya!

###

Sehun memandang kosong 2 cincin di hadapan nya. Cincin yang harusnya ia dan Raena pakai sekarang. Tapi harapan itu pupus minggu lalu. Atau sebenarnya sudah lebih dari 3 bulan lalu Raena tahu pernikahan nya dan Sehun tidak akan terjadi.

“Raena tidak ke Melborne. Dia hanya di rumah 3 bulan ini. Katanya ia sesekali keluar untuk menemui dosen tentang magang yang akan dia ambil ke depan nya. Tapi Eomma tak pernah lihat ia keluar rumah”

“Raena tak mengatakan apapun pada kami. Karena itu kami baru tahu dia mendapat vonis kanker paru-paru dan tak bisa hidup lebih dari 3 bulan sejak dia mendapat surat dokter tersebut”

Sehun memasang senyum getir nya. Jadi Raena memang merencanakan ini akan terjadi?

“Sehun, apa tak ada gadis lain yang menarik perhatian mu saat ini?”

“Kalau saat ini kau tertarik pada gadis lain kau tak perlu pusing”

“Kupikir lebih baik kau memilih gadis lain dibanding aku”

“Kalau begitu kau tidak masalah aku tak ada di hidupmu?”

“Rasanya aku sulit bernafas”

“Aku memang akan pergi”

“Kau sudah punya gadis lain?”

“Uang untuk wedding organizer nya akan terbuang sia-sia”

Air mata Sehun kembali mengalir kembali mengingat-ingat sikap gadisnya selama beberapa minggu terakhir sebelum Raena berbohong soal ke Melbourne. Jadi ini alasan nya? Raena menipunya untuk menutup-nutupi kebohongan ini?

“Kalau kau bisa 3 bulan tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan ku. Aku akan menikah denganmu. Aku akan mencintaimu selamanya. Aku tidak akan pernah melirik siapapun. Dan akan aku usahakan tak terlalu banyak membuatmu kesal”

Sehun mengeraskan rahangnya. “Kau membuatku murka, Rae” desis Sehun. Selama seminggu ini Sehun sama sekali tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik. Sama sekali tidak. Ia terus menangis. Hilang akal dengan semua yang terjadi. Kenapa Raena harus melakukan ini padanya? Kenapa Raena harus menantang Sehun untuk bisa hidup 3 bulan tanpa gadis itu?

Tangan Sehun memegang gemetar kertas di tangan nya. Surat Raena yang telah ia remas berkali-kali sangkin kesalnya. Hanya 2 kalimat yang tertulis di dalam nya.

“You did it, Baby. Now, please do it everyday”

Siapa sangka Raena akan mempermainkan nya sampai seperti ini?

 

END

30 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] I Did It, Baby! (Oneshot)”

  1. Siapa yg naruh bawang di sini?? 😭😭
    Sedih banget deh.. G nyangka akhirnya kayak gitu.. Tega banget si Raena ninggalin Sehun gitu aja, setelah Raena udh buat Sehun berharap segitunya sma kehidupan masa depan mereka.. 😭😭
    Buat authornya, Fighting.. 👊👊
    Btw, aku jadi kepo deh. Apa pas nulis FF ini author g nangis bombay gitu?

    1. Wkwkwk… Author nggak nangis waktu nulis nya. Author nya hati batu sih. Btw, sorry baru bisa balas sekarang.

    1. Wkwkwk… Sorry udah bikin nangis dan juga baru balas comment sekarang. Makasih udah baca dan comment. 😃😊

    1. Wkwkwk. Aku nggak ngirim bawang kok. Cuma cerita doang. Dan makasih untuk comment nya. Maaf baru balas sekarang

  2. Duh bner bner gk bisa ketebak ending nya dikirain bakalan happy ending tau nya malah sad ending 😭😭😭 bagus bngt ceritanya hiks.. Hiks…

    1. Waduh…. Sorry banget baru bales comment sekarang. Baru nge check ternyata ada yang comment. Wkwkwk… Makasih comment nya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s