[EXOFFI FREELANCE] Love Myself, Love Yourself (Chapter 3)

love myself, love yourself

Love Myself, Love Yourself  | | Oh Sehun & Byun Mora |

| Byun Baekhyun, Lee Jieun (IU) |

| Romance x Fantasy |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Jika kau ingin menghancurkan hidupmu,

Lakukan secara diam dan tenang.

Jangan membuat orang lain yang melihatnya

Merasa bersalah karena sudah membiarkanmu.

Prev : Prologue | 1|2

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

—×◦ L.M, L.Y ◦×—

In Author’s Eyes . . .

            Seharian ini, pikiran Gadis Byun itu tak di tempatnya. Dia tak benar-benar menikmati piknik bersama Wendy, bahkan saat mereka berada di toko buku pun Mora hanya memandang kosong rak-rak buku yang ada.

            Pikiran Gadis Byun itu hanya tertuju pada Sehun. Sepanjang hari, Mora bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah Sehun mengingat kejadian kemarin atau tidak? Sejujurnya, Gadis Byun itu bisa saja mencari tahu dengan mencoba berkomunikasi melalui pikiran. Masalahnya, ketika Mora mulai mendengar pikiran seseorang, secara alami dia akan menjawab. Karena kemampuan yang mereka miliki memang dipergunakan untuk berkomunikasi satu sama lain, bukannya untuk menguntit pikiran seseorang seperti yang sering dilakukan kakaknya, siapa lagi? Tentu saja, Byun Baekhyun.

            Awalnya, Mora ingin tetap diam di rumah. Berkeliaran seperti sekarang tak akan menghasilkan sesuatu, bagaimana mungkin dia bisa berkonsentrasi sedangkan Mora sendiri tahu ia sedang dalam masalah besar?

            Tapi Gadis Byun itu tak dapat membuang waktu, semakin cepat dia menemukan energi yang besar maka kemungkinan untuk kembali ke tempat asalnya semakin tinggi. Dan Mora tak perlu memikirkan bagaimana cara menghadapi Sehun, Ukkh! Lagi-lagi, Gadis Byun itu mencoba melarikan diri dari masalah.

            Pada akhirnya, Mora terduduk lemas di sebuah bangku taman. Mungkin, orang-orang sedikit takut berada di sana pada malam hari. Bangku itu terletak di sudut taman dan sedikit terhalang oleh pohon-pohon yang cukup besar, tingkat pencahayaan di sana pun tak terlalu bagus yang menambah kesan tidak mengenakkan.

“Hahh… tamatlah riwayatku.”

“Apa kau membuat masalah lagi?”

            Tubuh Gadis Byun itu menjadi kaku seakan seluruh persendiannya membeku, dia kenal betul dengan suara ini.

‘Dap…dap…dap…’

“Kau membuat masalah lagi, bukan?”

            Kini terpampang jelas, seseorang yang sejak tadi mengajaknya bicara.

“Kakak? Bagaimana bisa kau ada di sini?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Byun Mora. Apa kau membuat masalah lagi?”

            Sesaat, Mora terdiam. Lalu, ragu-ragu dia menjawab.

“Ukhh,, hmm… itu… tidak juga.”

            Baekhyun menatap penuh selidik, pemuda itu mengarahkan tangannya pada Mora.

“Aww! Kakak!”

            Gadis Byun itu menjerit kesakitan ketika Baekhyun mengarahkan aliran listrik pada lengannya.

“Ini rasakan!”

“Awww,”

“Kau tidak bisa tenang sedikit? Setiap kali aku menemuimu selalu ada saja masalah yang muncul,”

“Awww! Kakak hentikan! Sakit tahu!”

            Akhirnya, Mora berteriak kesal pada Baekhyun. Pemuda itu terus saja mengirim aliran listrik pada lengan dan kakinya.

“Kau berani berteriak padaku, setelah membuat masalah besar?”

            Baekhyun kembali melemparkan sengatan listrik kecil pada adiknya.

“Aww! Sakit. Iya, maaf. Kak, tolong hentikan.”

            Sulung Byun itu pun menghentikan aksinya, kini dia ikut duduk di sebelah Mora yang sedang menggerutu karena sengatan listrik yang gadis itu terima.

“Kau sudah membuat khawatir semua orang, ayah dan ibu bahkan berniat meninggalkan pekerjaan mereka karena ingin mencarimu.”

“Aku tahu sudah membuat kesalahan makanya aku berniat untuk pulang,”

“Lalu kenapa kau belum pulang juga?”

“Aku sedang mencari tempat yang memiliki energi besar untuk membuka pintu dimensi,”

“Apa kau sudah menemukannya?”

            Baekhyun menatap serius dan Mora pun menatap balik kakaknya.

“Sudah,”

“Dimana? Jadi kita bisa segera pulang,”

            Mora tersenyun dengan tampang polos seakan dia tak pernah melakukan kesalahan apapun. Gadis Byun itu menunjuk ke arah dimana tempat Baekhyun berasal tadi.

“Di sana, tapi kakak sudah menggunakan energinya untuk membuka pintu dimensi ke sini.”

            Wajah Baekhyun perlahan memerah, tatapan tajam dilayangkan kepada Mora.

“Byun Mora! Apa isi otakmu, sih?”

“Aww!”

            Gadis Byun itu kembali menjerit ketika Baekhyun sekali lagi memberikan sengatan listrik pada gadis itu.

“Selama berbulan-bulan, kau berada di sini. Satupun tempat tak kau temukan? Apa sih kerjaanmu?”

“Duh, Aww! Kak, berhenti. Sakit tahu!”

            Sekali lagi, Mora menerima hukuman dari Byun Baekhyun. Gadis itu mencoba melawan dan lari dari kakaknya, tapi apalah daya Mora yang lulus dari akademi sihir pun belum. Pada akhirnya, gadis itu malah menerima sengatan listrik lebih banyak.

            Setelah puas memarahi dan memberi hukuman pada adiknya, Baekhyun memutuskan untuk ikut Mora pulang ke apartemen. Mereka akan membicarakan masalah ini di rumah, takut-takut ada seseorang yang tidak sengaja mendengar mereka.

            Ketika di apartemen pun, gadis itu malah sibuk mengobati diri. Lengan dan kaki gadis itu memerah karena sengatan listrik dari Baekhyun, bahkan sesekali dia meringis kesakitan. Baekhyun yang tidak tega melihat, akhirnya membantu mengobati.

“Makanya, kau harus mendengarkanku! Aku bisa saja menghukummu lebih dari ini,”

“Iya, aku tahu salah. Berhenti menceramahiku,”

            Mendengar ucapan dari adiknya, Baekhyun melayangkan kembali tatapan tajam.

“Kau ingin ku hukum lagi?”

“Tidak! Duh, maafkan aku.”

            Baekhyun menghela napas. Setelah mengobati Mora, kini dia kembali berwajah serius. Dia hanya diam, seperti sedang memikirkan sesuatu.

‘Kau sudah membuat masalah lagi,’

“Lho! Kok?”

            Mora menatap bingung pada Pemuda Byun itu, dia mendengar suara Baekhyun di pikirannya. Padahal, jelas-jelas pemuda itu tidak membuka mulut.

“Kakak! Kau menguntit pikiranku lagi? Dasar tidak sopan!”

“Kau masih bisa berbicara seperti itu, setelah membuat seseorang mengetahui keberadaanmu?”

“Ukhhh, itu kan belum tentu. Mungkin saja, dia ingat kejadian saat pagi dan melupakan kejadian setelahnya,”

“Kau ini masih saja mencari alasan, kalau kau tidak mau menemuinya. Biar aku saja yang mengahadapi pria itu, ayo kita temui dia sekarang!”

            Mora memutar bola matanya malas, kini gadis itu mempertanyakan etika seorang, Byun Baekhyun. Ini tengah malam! Tolong, seseorang ingatkan kakaknya itu tentang norma dari kesopanan.

“Wah! Kau berani diam-diam mengumpat padaku?”

“Duh, kakakku yang tampan, berbakat, dan menawan. Tolong, berhenti menguntit pikiranku.”

            Pemuda itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Toh, dia tidak melakukan sebuah pelanggaran. Memang, apa masalahnya jika dia menguntit pikiran adiknya sendiri? Seseorang memang perlu mengawasi pikiran dan tingkah laku seorang, Byun Mora.

“Baiklah, kita bisa menemui pemuda yang bernama Oh Sehun itu besok.”

            Gadis Byun itu bernapas lega setelah mendengar ucapan Baekhyun, tapi kini Mora memikirkan hal lain yang sejak tadi sudah membuatnya penasaran.

“Kenapa tiba-tiba kakak datang kesini? Apa kakak bolos kerja?”

“Kau bodoh, ya? Tentu saja untuk mencarimu. Tidak, aku sudah merencanakan ini sejak awal. Jadi, sudah jauh-jauh hari aku minta cuti.”

            Sesaat, gadis itu terdiam membeku. Fakta bahwa Baekhyun mencarinya, apa sekarang Mora sedang menjadi buronan?

“Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu, mana ada buronan yang meminta izin untuk pergi ke tempat lain. Aku tidak habis pikir, kau sempat-sempatnya menulis surat permohonan untuk membuka pintu dimensi lain.”

“Kupikir, aku sudah menjadi seorang kriminal.”

“Yah, kalau dalam dua bulan kau tak kembali. Tentu saja, kerajaan akan mengirim seseorang untuk menyeretmu pulang.”

×◦◦×

“Kak, jangan berbuat yang aneh-aneh.”

“Hmm,”

“Dilarang mengancam Sehun, jangan gunakan sihir padanya!”

“Kau berisik sekali! Jangan mencoba untuk mengulur waktu,”

            Mora mendahului Baekhyun keluar dari lift. Sejujurnya, gadis itu masih ragu-ragu bertatap muka dengan Sehun. Belum lagi, Gadis Byun itu tidak tahu apa yang akan dilakukan kakaknya.

            Sejak pagi, Mora sudah memberi berbagai alasan pada Baekhyun agar pemuda itu tidak perlu menemui Sehun. Tapi Gadis Byun itu sama sekali tidak berkutik terhadap Baekhyun, dia terlalu takut pada kakaknya. Setelah tiga jam berkelit, tepat pukul sepuluh lewat dua puluh menit mereka pergi menemui Sehun.

            Sambil membawa tas kertas yang berisi jaket Sehun, dengan ragu Mora menekan bel apartemen Pemuda Oh itu. Setelah beberapa lama menunggu, Tuan Muda Oh itu masih belum juga menampakkan diri. Jadi, Baekhyun yang kesal menekan bel berkali-kali.

“Oh ya ampun! Kak. Kau sungguh tidak sabaran,”

‘Cklek!’

            Sehun menyembul dari balik pintu, pemuda itu hanya membuka sedikit untuk membuat celah. Tuan Muda Oh hanya melihat kehadiran Mora yang tersenyum canggung padanya.

“Untuk apa kau ke sini?”

            Nada ketus terdengar jelas dari suara Pemuda Oh itu. Jangankan untuk mengajak Mora masuk, berbicara dengan gadis itu saja sepertinya Sehun tidak sudi.

“Hmm, aku hanya ingin mengembalikan jaketmu.”

“Sudah kubilang, bukan? Kau bisa membuangnya.”

“Tapi, kupik—

“Mari hentikan basa-basi ini,”

            Baekhyun memotong ucapan Gadis Byun itu. Dia mendorong pintu apartemen Sehun agar terbuka lebih lebar sehingga Tuan Muda Oh itu beberapa langkah terdorong ke belakang.

“Pemuda ini mengingatnya, dia tahu bahwa kau seorang penyihir.”

            Sehun membeku di tempat. Sedangkan Pemuda Byun itu dengan tak tahu malunya masuk ke dalam apartemen tanpa seizin pemilik.

“Kakak! Jangan main masuk saja,”

“Kau lucu sekali, Mora. Pemuda ini yang lebih dulu bersikap kurang ajar, aku hanya mengikuti apa yang dia lakukan.”

“Tapi ini rumahnya,”

            Pemuda Byun itu bersikap acuh, dia terus saja melangkah masuk. Lalu, dengan santainya Baekhyun duduk di sofa.

“Oh, baiklah. Aku juga tidak ingin berdebat.”

            Mengikuti Baekhyun, Mora melangkah masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu. Kemudian, dia memandang Sehun yang masih terdiam di tempatnya.

“Aku tahu, ini tidak sopan. Maaf, Sehun. Tapi kita perlu bicara, sekarang.”

            Sejujurnya, Sehun merasa baik Mora ataupun pemuda yang dipanggil kakak oleh Gadis Byun itu sama-sama tidak sopan. Mereka begitu saja masuk dan duduk tanpa mengindahkan Sehun sebagai sang pemilik tempat ini.

“Ya, itu wajar. Kami ini bersaudara,”

            Sehun mengernyit heran mendengar ucapan Pria Byun itu.

“Kak, berhenti menguntit pikiran orang lain! Dan Sehun, ini kakakku. Byun Baekhyun,”

            Tuan Muda Oh itu tidak mengerti atas ucapan Mora, meski begitu dia tetap saja mendengarkan dan duduk berhadapan dengan Byun bersaudara.

“Wah! Sepertinya hubungan kalian lebih dari tetangga, aku tidak tahu ada yang berminat untuk menikahimu.”

“Byun Baekhyun! Jangan bicara yang aneh-aneh,”

“Kau mau ku hukum lagi?”

“Tidak! baiklah. Terserah, kau saja.”

            Mora tidak peduli lagi, terserah apa yang ingin Pemuda Byun itu lakukan.

“Jadi, Oh Sehun. Aku tidak perlu lagi menjelaskan apapun, kau sudah tahu siapa kami. Itu tepat, seperti yang ada dipikiranmu.”

“Aku tidak tahu, ternyata seorang penyihir bisa seenaknya melihat isi pikiran orang lain.”

            Sayangnya, Baekhyun sama sekali tak terpancing. Memang kenapa kalau dia melihat pikiran orang lain? Bukankah bodoh namanya, jika kau memiliki kemampuan tapi tidak dipergunakan.

“Aku tidak peduli, bagaimana bentuk pandanganmu terhadap kami. Lagipula, inti dari permasalahan ini bukanlah kami. Tapi kau!”

“Apa maksudmu?”

            Oh! Mora baru saja akan melayangkan pertanyaan yang sama. Bukankah mereka akan membahas mengenai kecerobohan Gadis Byun itu? Mora pikir, ini mengenai sihir tidak sempurna yang telah dia lakukan.

“Heran sekali, apa yang sudah kau pelajari di akademi? Kau tahu, ini bukanlah masalah sihirmu. Tapi pemuda yang bernama Oh Sehun ini, sihirmu tidak bekerja padanya.”

            Baik Mora dan Sehun sama-sama terdiam, mereka mencoba mengerti maksud dari ucapan Pria Byun itu.

“Kak, apa kau mencoba untuk mengarang kisah sama sepertiku? Mana mungkin itu terjadi, aku sudah beberapa kali menggunakan sihir padanya .”

“Aku juga tidak paham akan hal itu, tapi Oh Sehun juga memiliki batu permata seperti kita,”

            Mora memandang tanya pada Sehun, sedangkan Pria Oh itu sendiri teringat kalung batu permata putih yang diberikan kedua orangtuanya. Apa ada hubungan dengan benda itu?

“Tepat sekali! Itu persis seperti pikiranmu,”

“Memangnya kenapa? Aku tidak peduli dengan duniamu,”

“Ya, aku hanya ingin menawarkan sebuah bantuan.”

“Tidak bisa dipercaya, orang sepertimu ingin menawarkan sebuah bantuan?”

            Baekhyun hanya tersenyum sinis menanggapi sindiran dari Pemuda Oh itu.

“Iya, sih. Aku juga tidak percaya,”

“Byun Mora!”

“Oh! Baiklah. Lupakan kata-kataku,”

            Sehun menatap heran Byun bersaudara, hubungan mereka sungguh aneh. Ya, mungkin saja punya saudara tidak sebaik yang Pemuda Oh itu kira. Itu terbukti, bagaimana hubungan ayah dan pamannya.

“Jangan menilai baik-buruknya hubungan persaudaraan kami. Jika kau tidak berminat, aku akan segera pergi dari sini dan tentu saja adikku juga.”

            Entahlah, Pemuda Oh itu mulai bimbang. Jika Gadis Byun itu pergi, apa Sehun tak akan mengingatnya? Apa mereka tak bisa bertemu lagi? Tidak bisakah Mora tetap berada di sini saja?

“Kenapa adikku harus tinggal di sini? Memangnya kau siapa?”

“Wah! Kau masih saja menguntit pikiran orang lain?”

            Baiklah, Mora seperti orang bodoh di sini. Sungguh! Dia tidak tahu, apa yang sedang mereka bicarakan. Haruskah dia juga membuka jalur komunikasi dan melihat isi pikiran mereka? Gadis Byun itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia tidak ingin disamakan dengan kakaknya, Baekhyun itu tidak punya tata krama.

“Aku tidak punya banyak waktu, jika kau berminat cepat ambil kalungmu itu. Dan kau, Byun Mora! Berhenti diam-diam mengumpatku.”

            Secara refleks, Mora menutup mulutnya. Padahal, dia tidak berbicara tapi berpikir. Sedangkan Sehun hanya menghela napas, kemudian Pemuda Oh itu masuk ke dalam kamar dan mengambil kalung yang didapatkan dari orangtuanya.

            Sehun membuka sebuah kotak dan memberikan kalung berbandul batu permata putih itu pada Baekhyun. Untuk sesaat, Pemuda Byun itu hanya diam memandangi batu permata itu. Mora pun ikut melihatnya, tapi gadis itu tidak tahu apapun.

“Aku benar, bukan? Ada yang berbeda darimu.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

            Mora bertanya dengan raut wajah ingin tahu pada kakaknya dan Sehun hanya diam menunggu jawaban dari Baekhyun.

“Pergi belanja dan masaklah,”

“Hah? Apa maksudmu?”

“Ini sudah jam sebelas lewat, kau harus pergi belanja dan masak untuk makan siang.”

“Tapi aku ingin mendengar penjelasan soal kalung ini, kenapa kakak tiba-tiba menyuruhku pergi?”

            Tidak hanya Gadis Byun itu, tapi Sehun juga bingung. Mengapa Baekhyun tiba-tiba saja menyuruh Mora pergi? Apa ada hal yang tidak boleh diketahui gadis itu?

“Tidak ada yang perlu kau ketahui, ini batu permata sama yang seperti aku dan kau pakai. Itu saja,”

“Lalu, mengapa aku disuruh pergi?”

“Karena kau harus masak, cepat pergi sana!”

            Gadis Byun itu menatap kesal pada Baekhyun, kemudian dia menatap Sehun meminta bantuan. Tapi Pemuda Oh itu hanya diam memandangnya.

            Jadi, dengan perasaan jengkel Mora berjalan keluar apartemen dan membanting pintu.

“Akan kumasukkan seluruh cabai yang kubeli, biar kau mati kepedasan!”

“Yakk! Byun Mora! Aku mendengarmu,”

            Begitu mendengar suara teriakkan kakaknya, Mora berlari meninggalkan apartemen Sehun.

“Dasar! Tukang penguntit!”

×◦◦×

In Mora’s Eyes . . .

“Tidak! Kenapa aku harus melakukannya?”

            Apa yang sedang kakak rencanakan? Tidakkah ini sudah keterlaluan? Jadi, aku diusir karena mereka berencana menjadikanku sebagai kambing hitam. Aku tidak mau! Keinginan terbesarku kembali adalah untuk memulai semuanya dari awal.

“Kau salah, Mora. Ini cara yang terbaik untuk menolongmu,”

“Apa kakak pikir aku bodoh? Jika aku dan Sehun melakukan sumpah, itu sama saja menendangku keluar dari akademi!”

“Tapi kau memang sudah dikeluarkan,”

            Iya, aku tahu. Tapi jika aku dan Sehun melakukan sumpah, itu berarti aku tak bisa mengikuti ujian. Karena mereka melarang siapapun yang sudah melakukan sumpah apalagi yang sudah menikah untuk mengikuti ujian menjadi penyihir di istana, karena prioritas sang penyihir kerajaan adalah anggota keluarga istana.

“Kakak sendiri tahu, sampai jangka waktu tertentu penyihir kerajaan dilarang untuk melakukan pernikahan. Jika aku menunggu sampai urusan kalian selesai, batas umurku akan habis. Sedangkan kalian sendiri tidak tahu sampai kapan ini akan selesai,”

“Jadi, kau ingin membawa Sehun begitu saja? Kau pasti dihukum karena sudah melakukan kecerobohan,”

            Bimbang, tentu saja! Apapun keputusan yang kuambil semua beresiko. Kenapa Sehun tak dibiarkan saja di dunia ini? Toh, dia tak akan mengatakan pada siapapun. Kenapa kakak membuat hal ini menjadi rumit?

“Lalu, apa kau bisa menjamin bahwa pemuda itu tak akan membuat masalah setelah kita kembali? Aku bisa saja memanipulasi ingatan kita agar petugas kerajaan tidak mengetahui kejadian ini. Tapi jika kau ketahuan, aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu.”

“Kak, apa kau masih membaca pikiranku? Berhenti melakukan itu!”

“Byun Mora, kau tahu bukan itu masalahnya.”

            Entahlah, aku tidak tahu. Aku sudah terlalu kesal, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? Apa sih yang menarik tentang Oh Sehun. Pemuda Oh itu pasti hanya kelinci percobaan, tidakkah dia melihat niat terselubung dari kakak?

“Iya, aku memang punya maksud tertentu. Tapi prioritasku saat ini, menjauhkanmu dari berbagai masalah yang bisa membahayakan.”

            Napsu makanku hilang, segera kuletakkan sendok dan garpu yang sejak tadi kupegang.

            Aku menghela napas dan mengambil gelasku, mencoba untuk menenangkan diri dengan segelas air. Tentu saja! Itu sama sekali tidak membantu.

“Aku akan memikirkannya,”

            Kutinggalkan kakak sendirian di meja makan, sungguh! Apa yang sudah mereka rencanakan? Aku benar-benar benci menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, seperti orang bodoh saja.

            Lalu, apa Oh Sehun itu terlalu bodoh? Kenapa dia dengan mudahnya menyetujui rencana kakak? Semua keluarganya berada di sini, jika Sehun ikut dengan kami, keberadaan dia di dunia ini akan dihapus. Apa sih isi pikiran Pria Oh itu? Apa perlu aku menguntit pikirannya?

—×◦ to be continued ◦×—

JHIRU’s Note :

Hohoho . . .

Berjumpa lagi dengan ane^^

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Itu berarti banget buat ane dan memberi semangat buat nulis chapter selanjutnya. Sekian dan terima kasih.

Kunjungi : WordPress | Wattpad | Twitter | Instagram

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love Myself, Love Yourself (Chapter 3)”

  1. Hahahaha author pinter banget bikin karakter dan hubungan kakak beradik yg lucu dan menarik gini…
    Si sehun kek pihak ketiga yg kerjaan nya cuma nonton doang wmkwkwk pas bareng si byun bersaudara

  2. mas cabeeee… ♡♡♡ ku kira gak muncul, ehh muncul juga..

    Hayooo sehun ini jelmaan nya siapa??? aku suka sama byun bersaudara ship. Lucu!! pungun deh punya abang kayak nas cabe. Gak abang beneran juga gak masalah, abang ketemu besar aja alhamdulilah..

    Turut berduka untuk shawoll, bias nya berpulang 😥 huhuhu walaupun bukan shawol tetep sedihhh…

    yaudah deh, keep writing deh untuk author-nim

  3. Hasek mulai menarik neee..oh sehun tampan jangan judes2 cem itu..ga cocok sma perangai anak ayammu hahahahahahaha
    Fighting thor!!!syukaaaaaa ad s cabe jugaa disini..akhirnyaaa hahahahahha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s