GAME OVER – Lv. 36 [White Tiger] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] —  Level 31 —  Level 35 — [PLAYING] Level 36

The sly tricks will be decoded

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game Over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 36 — White Tiger

In Author’s Eyes…

“Manager gila itu mengadakan rapat lagi.”

Rungu Seungwan segera terusik begitu didengarnya kalimat-kalimat bernada sarkatis di sekitarnya. Selagi Seungwan sibuk dengan kegiatannya, bisa dia lihat bagaimana orang-orang mempersiapkan dokumen-dokumen mengenai pengembangan WorldWare yang direncanakan akan dirilis sesegera mungkin.

Ugh, tapi tentu Seungwan tahu benar sekarang apa yang akan dihadapinya. Seorang manager muda dengan tempramen yang luar biasa buruk.

“Jangan katakan dia akan memakai ruang rapat di kantor kita lagi.” Seungwan berucap pada salah seorang gadis di sebelahnya. “Sepertinya begitu. Tapi kau tahu sendiri, ruang rapat kita yang paling tertutup. Jadi dia bisa dengan bebas meluapkan amarahnya.” sahut si gadis, sibuk dengan peralatan make up di mejanya—yang entah mengapa membuat Seungwan bergidik juga.

“Kulihat-lihat, kau sangat tertarik pada make up, Tarin-ssi. Lalu mengapa memilih untuk bekerja sebagai assistant di kantor ini?” tanya Seungwan kemudian, tidak ingin mengingat-ingat soal manager yang mereka bicarakan—Johnny, karena Seungwan tahu benar kalau pada akhirnya dia juga yang harus membereskan sisa kekacauan yang Johnny ciptakan.

“Oh, aku sudah melakukannya. Bekerja sambilan sebagai make up artist setelah kita selesai dari pekerjaan sambilan di kantor ini sebagai assistant, Seungwan-ssi. Dan juga, tempat ini sebenarnya tidak jadi tempat bekerja yang menyenangkan, kalau saja bayarannya tidak menggiurkan.”

Benar juga ucapan Tarin sekarang, kalau diingat-ingat, Seungwan sendiri sudah menghasilkan cukup banyak uang dari hasilnya bekerja—bagian dari penyamaran—di tempat ini selama empat tahun. Memang, Tarin tidak bekerja terlalu lama di tempat ini, tetapi dia juga terlihat sama tertariknya seperti Seungwan sekarang.

Seungwan sendiri sudah menghabiskan empat tahun di NG Soft untuk mencari tahu setiap detil yang telah diubah dari Rule The World ketika ia dilahirkan kembali menjadi WorldWare, melaporkan tiap detil yang dia dapatkan pada Sehun dan Liv yang ada di tempat tinggal sementara mereka, lalu keduanya akan memberitahu Seungwan tentang perkembangan fisik Baekhyun yang sampai detik ini belum terbangun.

“Kau tidak tertarik melihat apa yang akan manager itu ributkan hari ini?” tanya Tarin sejurus kemudian, dia lemparkan pandang ke arah ruang kedap suara yang berada di tengah-tengah kantor mereka, secara tidak langsung membuat Seungwan juga melempar pandang ke arah yang sama.

“Tertarik, sebenarnya. Mau ke sana?” tawar Seungwan, karena sebagai co-assistant dari staff yang bertanggung jawab atas ruang rapat tersebut, Seungwan tentu punya akses untuk bisa masuk ke dalam ruang rapat dan melihat secara langsung apa yang tengah karyawan-karyawan tersebut rapatkan saat ini.

“Kau mengajakku?” kata Tarin hampir-hampir tidak percaya. Seungwan menjawab dengan anggukan ringan. “Ya, ayo masuk kalau begitu.”

Keduanya kemudian melangkah ke arah ruang rapat, masuk ke dalamnya sebelum rapat ‘panas’ yang pasti akan berujung kerusakan properti terjadi, menempatkan diri di spot paling aman di sudut ruangan selagi perwakilan dari tiap sub-bagian di pengembangan game mempersiapkan presentasi mereka.

“Jadi, apa yang sudah kalian lakukan selama satu pekan ini?” Johnny memulai rapat dengan atmosfer yang kaku, dengan setelan berwarna kaku—karena Johnny biasanya mengenakan setelan-setelan dengan warna-warna kelewat mati—nya ia menunggu di kursi manager.

“Ah, kami sudah menyiapkan beberapa inovasi untuk pengembangan game selanjutnya.” salah seorang staff berkata. “Contoh.” Johnny menyahut.

“Karena WorldWare versi 4.2.4 akan segera dirilis, kami berencana untuk membuat inovasi lainnya di dalam WorldWare untuk membuatnya terlihat semakin nyata.” seorang staff berkata, dia lantas membuka slide presentasinya. “…, salah satu inovasi yang terpikir oleh kami adalah menciptakan karakter-karakter NPC yang lebih realistis. Dalam bentuk keluarga, yang kami maksud.

“Selama ini di dalam WorldWare, kita sudah melupakan sejenak kehidupan nyata para player yang ketika mereka berada di dalam permainan, sudah kita buat melupakan keberadaan keluarga mereka.

“Jika kita bisa membuat kehidupan di dalam WorldWare menjadi serupa dengan kehidupan yang sebenarnya, player juga akan semakin merasa bahwa WorldWare benar-benar bisa menjadi rumah kedua bagi mereka.

“Terutama bagi playerplayer dengan interaksi sosial yang minimal, dengan adanya karakter-karakter ‘keluarga’ ini di dalam permainan, mereka akan berkeinginan untuk membuka kehidupan sosial mereka di kehidupan nyata. Bukankah itu visi dari WorldWare? Membuat game yang mencerminkah kehidupan nyata para player?”

Tidak ada kalimat yang lolos dari bibir Johnny begitu dia disuguhi sketsa-sketsa karakter NPC dengan konsep keluarga yang telah diciptakan oleh staff tersebut sebagai inovasi. Begitu slide berakhir, staff tersebut menatap Johnny dengan sebuah senyum di wajah.

“Ini inovasi yang bisa saya berikan. Tetapi, tanpa adanya sebuah tim tentu inovasi ini tidak akan terbentuk. Dan kita tidak bisa mengandalkan ide-ide monoton yang ada di dalam NG Soft, kita membutuhkan kerjasama dari para programmer lokal dengan ide orisinil untuk mengembangkan game ini.” tutupnya.

Untuk pertama kalinya, menit-menit awal rapat telah berubah total karena inovasi yang baru saja disuguhkan. Bahkan, sebuah senyum berhasil muncul di wajah Seo Johnny, pertanda luar biasa baik bahwa dia menyetujui gagasan yang baru saja terlontar dari staffnya.

“Siapa namamu?” pertanyaan tersebut lantas lolos dari bibir Johnny.

“Park Chanyeol.”

“Baiklah,” Johnny berkata, dia lantas berdiri, dengan sebuah senyum yang masih terpasang di wajah dia kemudian menepuk tangannya beberapa kali. “…, bagus, bagus. Kita akhiri rapat pekan ini. Aku menunggu proposal penyusunan inovasi WorldWare yang kau ciptakan, Chanyeol-ssi. Kuberi kau waktu dua hari untuk menyelesaikannya. Dua hari lagi, kita berkumpul di tempat yang sama untuk mendengarkan rencana inovasi ini. Sekarang, semuanya boleh kembali bekerja.” kata Johnny mengakhiri rapat.

Dia kemudian melangkah keluar dari kursinya, hendak keluar dari ruangan jika saja langkahnya tidak terhenti. Lantas, Johnny berbalik, menatap Park Chanyeol dengan mata menyipit sebelum dia buka suara.

“Apa nama projekmu ini, Chanyeol-ssi?” tanyanya. Sebuah senyum mantap Chanyeol pamerkan di wajah sebagai jawaban atas persetujuan yang Johnny berikan terhadap idenya.

“Aku memanggilnya sebagai WorldWare: Awakening.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Dia menyetujui ide itu, Junmyeon.”

Vokal bass Chanyeol terdengar menyapa rungu Junmyeon yang sejak tadi terhanyut dalam diam. “Benarkah?” alis Junmyeon terangkat ketika mendengar apa yang Chanyeol katakan.

“Ya, dia menyetujuinya begitu aku mempresentasikan inovasi itu. Aku hanya tidak mengerti, kenapa kau tidak mengajukannya sendiri? Bukankah kakakmu adalah pemilik perusahaan?” tanya Chanyeol kemudian, dia hempaskan tubuh di atas sofa selagi menunggu jawaban dari Junmyeon.

Junmyeon sendiri lagi-lagi menenggelamkan diri dalam diam. “Saudaraku tak pernah mempercayaiku, Chanyeol. Dia bahkan mendepakku keluar dari NG Soft, membuatku terpaksa harus mencuri prototype WorldWare hanya untuk bisa terus mengikuti perkembangan WorldWare.

“Kau pikir, jika aku bisa ikut terlibat dalam pengembangan game ini aku akan mengeluarkan banyak uang untuk mencuri prototypenya?” Chanyeol tergelak saat mendengar ucapan Junmyeon.

“Kau tahu semua orang akan berpikir kau mencurinya demi keuntunganmu sendiri.” sahut Chanyeol kemudian. “Tidak, justru aku berusaha untuk mencari tahu rencana saudaraku. Dia tidak mempekerjakan Seo Johnny hanya karena kemampuan pemuda itu—meski aku akui Johnny memang punya kejeniusan luar biasa mengenai game—tetapi dia memang sengaja mempekerjakan seseorang yang tidak tahu apapun.

“Begitu kakakku tahu aku menjadi saksi atas pertemuan rahasianya dengan pihak militer, dia mendepakku keluar dari NG Soft. Bagaimana bisa aku tidak menaruh curiga terhadap sikapnya? Beruntung kau bisa kumasukkan ke dalam NG Soft.” tutur Junmyeon.

Chanyeol terdiam sejenak. “Tapi aku sungguh merasa berdosa. Mengakui apa yang telah kau ciptakan sebagai ciptaanku. Apa kau tidak memikirkan rencana lain, Junmyeon? Tidakkah sebaiknya kau mengajak Johnny bekerja sama denganmu?” Chanyeol berusaha memberi nasehat.

Tapi rupanya ego memaksa Junmyeon untuk berkeras pada rencana yang telah dia ciptakan dan dianggapnya sempunra. Jadi, pemuda bermarga Kim itu menggeleng kuat-kuat.

“Tidak, Chanyeol. Johnny mungkin akan dijadikan kambing hitam dari perbuatan kakakku, dan mengajaknya bekerja sama dengan kita sama saja dengan membuatnya terlibat semakin jauh di dalam masalah ini.

“Aku harus menyelesaikannya sendiri, dengan caraku. Sementara aku memikirkan rencana itu, kita berdua harus tetap ada di dalam WorldWare—secara sistem maupun game—dan mengawasi apa yang akan terjadi di dalamnya.

“Kita harus meneruskan peran ‘saling tidak mengenal’ ini selagi bekerjasama. Omong-omong, apa kabar Town yang kau ciptakan?” Junmyeon kemudian berusaha mengalihkan arah pembicaraan.

Chanyeol sekarang mengerti, Junmyeon pasti tidak ingin membahas perihal kakaknya lebih jauh lagi. Karena Chanyeol pun sebenarnya tidak ingin melibatkan dirinya terlalu jauh ke dalam rencana yang tidak dia ketahui ini.

Dia cukup berterima kasih karena Junmyeon sudah memberinya jalan masuk menuju NG Soft—perusahaan yang diimpikannya—dan sekaligus membantu Junmyeon menyelesaikan rencananya. Sekarang yang perlu mereka lakukan hanya berpura-pura saling tidak mengenal sampai tiba waktunya untuk mengungkap semua yang sudah mereka ketahui.

“Townku baik-baik saja. Tapi salah seorang anggota Townku sepertinya punya masalah dengan player misterius yang terkenal itu. Kau tahu, kan?” ujar Chanyeol mengikuti arah pembicaraan yang Junmyeon belokkan.

“Ah, Invisible Black itu?” tanya Junmyeon.

Yap. Salah seorang anggota Townku, White Tiger, punya masalah dengannya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Oh, tidak kusangka akan menemuimu lagi di sini.”

“Aku tidak sedang ingin berseteru denganmu, White Tiger.”

Dua orang di sana—satu dengan setelan gelapnya, satu lagi dengan setelan berwarna silver menyala—saling menatap nyalang.

“Aku pikir kau ingin bertemu denganku.” si pemuda dengan setelan silver berkata. White Tiger namanya. “Sudah kukatakan, aku tidak sedang ingin berseteru denganmu. Tidakkah perkataanku cukup jelas?” tanya si pemuda dengan setelan gelap, Invisible Black.

Tawa meledek lolos dari bibir White Tiger, sebelum dia kemudian kembali buka suara. “Tetapi aku ingin mencari masalah denganmu lagi. Bagaimana ini? Aku begitu merasa penasaran tentangmu, mengapa kau mengganggu urusanku di Hall? Aku bisa saja membakar seisi Hall hari itu, jika kau tidak jadi pengganggu.”

Perkataan White Tiger sekarang berhasil membuat Invisible Black memejamkan kedua maniknya rapat-rapat. Masih begitu jelas dalam ingatan Invisible Black, bagaimana tempo hari White Tiger berusaha untuk membunuh semua NPC di Hall hanya demi mendapatkan beberapa ratus pouch dan melengkapi quest hariannya.

Dan tentu saja Invisible Black yang kala itu ada di sana juga tidak membiarkan White Tiger begitu saja menghancurkan Hall. Dia yang akhirnya terlibat battle dengan White Tiger, mengaku bahwa dia adalah player pelindung padahal semua itu kebohongan.

Invisible Black tidak lebih dari seorang NPC yang ingin melindungi NPC lainnya. Kalau saja dia katakan dia ingin melindungi player, dia pun telah berbohong. Karena tanpa semua orang tahu, Invisible Black sebenarnya adalah seorang villain.

“Kesenangan apa yang kau dapat dari menghancurkan mereka?” tanya Invisible Black akhirnya, dia tidak sempat menanyakan tentang hal ini pada White Tiger tempo hari, jadi dia putuskan untuk bertanya sekarang.

“Apa kau tidak tahu? Semua player berusaha melakukannya. Karena membunuh NPC ternyata bisa membuat kami mendapatkan banyak pouch. Pertama, kami hancurkan dulu NPC-NPC tidak berguna di tempat ini, baru kemudian kami hancurkan playerplayer baru yang tidak tahu apa-apa.” penuturan White Tiger sekarang membuat Invisible Black menyernyit tak mengerti.

Dia tidak tahu, apa ini bagian dari rencana White Tiger untuk memancing amarahnya lagi, atau memang kenyataannya begitu. Sebab dari informasi yang saat ini diaksesnya, memang benar bahwa beberapa player yang baru membuat akun di WorldWare sudah mendapat masalah begitu banyak karena mereka diserang secara membabi-buta oleh player master.

“Aku ingin mengira kalau kau sedang berusaha untuk memancing emosiku, tetapi dari announcement yang kubuat beberapa hari lalu di server, kalian jelas sudah melakukan pelanggaran di dalam permainan ini. Dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.” kata Invisible Black akhirnya.

Memang benar bahwa dia sudah membuat pengumuman di server tentang player dari Town mana saja yang sudah dengan membabi-buta membuat masalah hanya demi segelintir pouch. Dan muncullah nama-nama Town besar yang ada di WorldWare, yang sekaligus membuat Invisible Black sampai pada sebuah konklusi: Town-Town ini harus dihancurkan untuk membuat mereka berkaca.

“Oh ya? Apa yang sedang kau rencanakan, omong-omong? Aku sungguh ingin tahu apa yang seorang rank pertama tanpa Town ini ingin lakukan pada playerplayer yang punya banyak koneksi.” sahut White Tiger tanpa merasa gentar.

Rupanya status rank nomor satu serta DPS seorang Invisible Black sama sekali tidak membuatnya merasa ragu untuk memancing emosi player tersebut. Padahal tempo hari dia sudah dihancurkan, dibuat turun beberapa level hanya karena serangan-serangan ringan yang Invisible Black lemparkan.

“Kau ingin kubuat turun beberapa level lagi?” tanya Invisible Black akhirnya, dua buah bola plasma segera muncul dari telapak tangannya, sementara kilatan gelap yang dia pamerkan di kedua maniknya seolah jadi sebuah ancaman yang jelas pada—

‘White Tiger telah logout dari sistem.’

Hah.” Invisible Black segera mendengus saat bayangan White Tiger tiba-tiba saja menghilang, diikuti informasi dari sistem yang berarti bahwa White Tiger baru saja melarikan diri.

Lantas, Invisible Black menyimpan kembali kedua bola plasma miliknya, sebelum dia kembali buka suara, hendak meledek White Tiger yang menghilang tanpa jejak.

“Dasar pengecut.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tawa seorang White Tiger terdengar menggema di sepanjang jalanan kosong yang ada di dalam mode survival WorldWare. Memang, dia baru saja dengan begitu lancang menginjak logout saat tengah berdebat dengan Invisible Black—bagian dari rencananya, memang. Tetapi, sekarang dia justru merasa begitu geli.

Tidak bisa dia bayangkan bagaimana kesalnya Invisible Black karena tindakan yang sudah dia lakukan barusan. Itulah penyebab gelak tawa White Tiger sekarang.

“Astaga, sungguh tidak bisa kubayangkan bagaimana marahnya dia. Hah, andai saja dia yang ada di dalam ingatan itu, bukannya NPC, pasti dia sudah logout dan memburu IP adressku.” gumam White Tiger di tengah tawanya.

Kalau saja dia bisa menangis di dalam permainan ini, dia pasti sudah tertawa terpingkal sampai menangis karena merasa begitu geli. Sayang, permainan ini tidak senyata yang dipamerkan perusahaannya.

“Oh, oh. Lihat siapa yang aku temukan. Sungguh sebuah kebetulan.” langkah White Tiger terhenti begitu didapatinya tiga orang player ada di Hall. Salah satunya, seorang player wanita yang jadi incaran White Tiger diam-diam.

“HongJoo, kita lihat apa kau juga serupa dengannya dalam hal ini.” kata White Tiger kemudian, muncul sebuah ide jahil dalam benaknya, yang lantas membuatnya segera mengeluarkan sepasang sword yang selalu terpasang di robe yang ia kenakan.

Sekon kemudian, dengan membabi-buta White Tiger menyerang tiap NPC yang ada di dekatnya, menciptakan sebuah PK acak yang bertujuan untuk membunuh NPC sekaligus menarik perhatian satu dari tiga orang player yang ada di Hall.

Hey, lihat, apa yang White Tiger lakukan di sana?” atensi Taehyung dan Jiho, dua dari tiga orang player yang memang hendak White Tiger pancing, segera beralih pada keributan juga pembunuhan mengerikan yang White Tiger lakukan.

“Mengapa dia menyerang NPC?” tanya itu lolos dari bibir Jiho, sementara Taehyung hanya mengangkat bahu acuh. “Memburu pouch, banyak player melakukannya juga. Sudah, lebih baik kita menjauh dari kekacauan ini.” kata Taehyung, hendak membawa dua orang gadis yang bersama dengannya untuk menjauh saat kemudian dia rasakan penolakan dari Jiho.

“Ada apa, Jiho?” tanya Taehyung.

“Bagaimana mungkin dia tega melukai mereka?” pertanyaan itu lagi-lagi lolos dari bibir Jiho. Sungguh, pemandangan NPC yang bergeletakan di Hall adalah pemandangan cukup mengganggu baginya.

“Banyak player juga melakukan hal yang sama, Jiho. Kau tak perlu memperhatikan hal semacam ini.” ucap Taehyung, lagi, sekaligus menyindir Jiho tentang ketidak peduliannya pada apa yang terjadi di server global.

Gadis itu bahkan dengan percaya diri mematikan mode global hanya karena dia merasa tidak membutuhkan mode tersebut. Tidak tahu juga gadis itu kalau membunuh NPC—dimana NPC akan kembali hidup setelah dibunuh oleh player—saat ini sedang menjadi tren di dalam WorldWare.

“Aku tidak mungkin membiarkannya membunuh NPC yang sama berulang kali!” kata Jiho, belum sempat Taehyung mencegah gadis itu, dia malah sudah melesat ke arah kekacauan yang White Tiger ciptakan, dengan membawa equipment terbatasnya.

“Oh, astaga. Sudahkah kusarankan padamu untuk membawa Jiho ke pskiater? Dia punya kepedulian aneh pada NPC-NPC di tempat ini, Ash.” gerutu Taehyung hanya dijawab Ashley dengan sebuah tawa ringan.

“Sudahlah, biarkan saja. Itu karena Jiho merasa bahwa NPC di WorldWare terlihat sangat serupa dengan kita. Jadi secara tidak langsung dia pasti merasa bahwa melukai NPC akan terasa menyakitkan juga seperti melukai player.” kata Ashley.

“Lalu kau ingin aku melibatkan diri juga di tengah pertarungannya—oh, sungguh? Dia sekarang menantang White Tiger untuk PK?” nada bicara Taehyung segera meninggi saat dilihatnya sebuah kilatan cahaya sudah melingkupi Jiho dan White Tiger, pertanda bahwa keduanya akan melakukan duel sampai salah satu dari mereka game over.

“Tidak perlu, katamu tadi kita tidak perlu menganggapnya serius. Cukup tunggu saja dan lihat apa yang akan Jiho lakukan.” kata Ashley kemudian. Rupanya gadis itu paham benar bagaimana jalan pikiran Jiho sekarang.

Menyerah, Taehyung pun akhirnya hanya bisa pasrah. Dia lantas berdiri selagi menonton pertarungan antara Jiho dan White Tiger yang mau dilihat bagaimana pun, sudah bisa Taehyung tebak dengan baik bagaimana akhirnya.

Wow, kau sungguh berani, menantangku PK? Jangan menangis kalau aku menendangmu keluar dari survival mode, okay?” vokal White Tiger masuk ke dalam rungu Jiho begitu player kuat itu berhasil menghempas tubuh Jiho ke sudut barier yang diciptakan WorldWare untuk membatasi battle mereka.

Hah, siapa yang menurutmu akan menangis? Kau pikir aku akan menangis hanya karena kekalahan? Sebaiknya kau siapkan mentalmu untuk kalah, White Tiger.” kata Jiho, bangkit dengan berani dan lagi-lagi melemparkan serangan pada White Tiger sementara dengan mudahnya White Tiger melompat ke sana kemari menghindari serangannya.

“Aku sungguh tidak mengerti, mengapa kau begitu peduli?” tanya White Tiger membuat Jiho melemparkan sebuah bola api ke arahnya, dan dengan mudahnya juga White Tiger menghindar. Malah, dia lemparkan bola api serupa ke arah Jiho.

SRASH!

Argh!!” jeritan kesakitan Jiho terdengar begitu lantang, sampai keluar dari barier yang tercipta. Dan tentu, White Tiger tahu benar bukan hanya dua orang rekan Jiho yang jadi penonton battle mereka sekarang.

Bukan pula NPC-NPC yang bertahan hidup dengan tengah memulihkan diri di luar barier. Diam-diam dari sudut mata, White Tiger bisa melihat dengan jelas bayangan hitam yang berdiri tidak jauh dari Hall, mengawasi battle mereka dengan pandang kebencian pada White Tiger.

Tapi White Tiger tahu, memang pandang kebencian itu yang diinginkannya.

“Wah, wah, lihat health barmu sekarang. Butuh bantuan live charge dariku?” tawar White Tiger dengan nada meledek. Bukannya merasa puas karena sudah membalikkan semua serangan yang Jiho lemparkan menjadi serangan berbalik pada Jiho, White Tiger justru semakin menjadi.

“Berhenti berlari dan hadapi aku, White Tiger!” teriakan Jiho terdengar menggema. Lantas, White Tiger melempar sebuah senyum sarkatis. “Baiklah, aku akan menghadapimu. Tepati perkataanmu dan jangan menangisi kekalahan yang akan kau terima, HongJoo.”

Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, tatapan White Tiger berubah serius. Dengan tanpa ampun dia melemparkan serangan bertubi-tubi pada Jiho, mencabik tubuh gadis itu hingga robe yang dia kenakan perlahan-lahan terlepas dan menyisakan bagian dalam robe yang berwarna putih dan bersimbah darah.

Belum puas dengan serangannya, White Tiger kembali mengeluarkan kekuatan lainnya, Wind of Godability yang dibelinya dengan harga ribuan pouch—dan dia gunakan kekuatan itu untuk membanting Jiho ke setiap sudut barier, makin menghancurkan tubuh si gadis sekaligus makin menyulut kemarahan player berbalut pakaian gelap yang sejak tadi memilih untuk bersembunyi dan mengawasi di kejauhan.

BRUGK!!

Tubuh Jiho akhirnya ambruk, dengan health bar kritis yang sudah jelas akan menariknya untuk terlogout secara otomatis lantaran live charge pun tak akan berhasil menaikkan health bar tersebut.

Puas dengan serangannya, White Tiger kemudian menghancurkan barier yang membatasi battle keduanya. Tatapan White Tiger lantas menerawang, ada rasa bersalah dalam batinnya karena baru saja menghancurkan seseorang demi keuntungannya sendiri, demi rencananya. Tapi kalau White Tiger ingat kembali tujuannya menghancurkan player tak tahu apa-apa di belakangnya, White Tiger sanggup untuk tersenyum.

Satu hal yang membuat White Tiger sempat termenung selama beberapa saat adalah keserupaan yang ada di dalam pribadi si gadis dengan pribadi lain yang tengah berusaha untuk diselamatkannya. Keduanya, sama-sama mempedulikan keadaan orang lain.

“Kau sungguh serupa dengannya, HongJoo-ssi. Tak heran dia jadi tertarik padamu.”

Dengan sisa kekuatannya, Jiho menatap ke arah White Tiger yang sekarang berdiri memunggunginya, sementara White Tiger bicara seolah hendak meledek Jiho atas kekalahan telak yang baru saja dia terima.

“Apa… yang sekarang… kau bicarakan?” tanya Jiho dengan suaranya yang tersisa.

Senyum samar malah muncul di wajah White Tiger. Seolah dia memang mengharapkan kekalahan Jiho yang sekarang berakhir dengan begitu memalukan—bagaimana tidak memalukan, White Tiger menghancurkan Jiho tanpa terluka sedikit pun, dan sekarang Jiho bahkan kehilangan tiga level karena keadaan kritisnya.

“NPC itu. Kau serupa dengannya. Pantas saja kau begitu peduli pada NPC. Kalian sama menyedihkannya.” kata White Tiger, lantas dia mengukir dua langkah meninggalkan Jiho, sebelum langkahnya terhenti lagi.

“Jangan mencoba berurusan denganku lagi, HongJoo. Kau mungkin tak akan bisa masuk ke dalam mode survival jika aku menghancurkanmu lagi.”

‘Player HongJoo, keadaan Anda kritis. Sistem logout otomatis akan dijalankan.’

Tepat setelah mendengar ucapan White Tiger, Jiho terbangun di tengah survival tubenya. Sontak, gadis itu mendudukkan diri dengan paksa, dan sadar bahwa aliran darah keluar dari salah satu lubang hidungnya dengan lancang.

Ini bukan kali pertama Jiho mengalaminya, mimisan setelan kalah dalam PK dengan game over. Tapi kali ini, battle dengan White Tiger terasa seolah mencabik harga dirinya. Dia telah dipermalukan dengan cara paling mengerikan. Dan Jiho sungguh merasa marah karena hal itu.

“Sialan, White Tiger. Kupastikan aku akan jadi orang pertama yang tertawa lantang kalau suatu saat kau dihancurkan oleh player lain. Tunggu saja.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tatapan Johnny tertuju ke arah seorang pemuda yang terbaring koma di ranjang rumah sakit. Likuid bening sempat lolos dari kedua maniknya, kalau saja dia tidak ingat kalau di sini dia tengah berperan sebagai seorang yang tidak mengenal pemuda tidak berdaya itu.

“Sudah puas melihatnya? Sekarang ayo kembali ke kantor dan selesaikan tugasmu.” Kim Haejoon berkata, mengingatkan Johnny pada misi yang harus ia selesaikan sebelum dia bisa benar-benar terlepas dari belenggu yang mengancam nyawanya, sekaligus membuat kontaknya dengan sang sahabat yang terbaring koma, terbatas.

“Ya.” kata Johnny, lantas dia melangkah mengikuti Haejoon, mengantar orang yang berstatus sebagai bosnya sekaligus dalang di balik keadaan tak sadar yang sahabatnya terima itu ke mobil pribadinya.

“Aku akan menunggu hasil dari projek yang kau banggakan itu.” kata Haejoon sebelum dia masuk ke dalam mobil.

“Aku akan menyiapkan presentasinya minggu depan, Tuan.” kata Johnny.

“Baguslah. Pastikan aku akan menyukai projek itu.” ujar Haejoon sebelum dia memberi isyarat kecil pada supirnya dan lantas mobil gelap tersebut bergerak meninggalkan Johnny sendirian dengan seorang lagi yang ada di sana.

“Kau baik-baik saja, Manager?” tanya si pria yang sejak tadi ada di sisi Johnny.

“Ya, aku baik-baik saja. Ayo kita kembali ke kantor dan selesaikan projek itu, Chanyeol-ssi.” kata Johnny kemudian, dia melangkah meninggalkan Chanyeol, selagi si pemuda bermarga Park tersebut menatap punggung Johnny dengan sebuah senyum miris.

“Ternyata, dia juga senasib denganmu, Junmyeon. Dia juga melakukan segalanya di bawah ancaman. Kalau sudah begini, apa aku akan sanggup menyelesaikan tugas darimu dan menghancurkan Seo Johnny seperti keinginanmu?”

Johnny tentu tidak tahu apa yang Chanyeol katakan, tidak bahkan mendengarnya. Sebab pria itu sudah ada di dalam mobilnya, menunggu Chanyeol yang melangkah di belakangnya tadi.

Selagi tatapan Johnny tertuju pada Chanyeol, pikirannya diam-diam menerawang. Membayangkan kebebasannya dari Kim Haejoon setelah dia berhasil mewujudkan inovasi WorldWare yang Chanyeol usulkan, membayangkan bagaimana dia akan bisa membawa pergi sahabatnya yang terbaring tidak berdaya.

Johnny lantas membuang pandang, menatap ke arah jalanan kosong di hadapannya sebelum bibir pemuda itu bergumam.

“Akhirnya rahasiaku pelan-pelan akan terselesaikan dan berujung pada keberhasilan. Tunggu saja, aku akan membalaskan dendammu. Aku akan menghancurkan NG Soft, Jongdae-ya.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Inhale, exhale. Inhale, exhale. Inhale, exhale. INHALE, exhale. Inhale, EXHALE. INHALE, EXHALE. INHALE, EXHALE.

Biarkan aku bernafas dulu, temans. Karena ngetik level 36 ini adalah riwayat ngetik paling menguras hati sekaligus ingatan. Mana pas ngetik level 36 ini aku ditemenin sama lagu-lagu galau, berujunglah level ini pada sebuah melodrama berkepanjangan.

Dan tolong, ingatkan aku kalau semua pemain utama sepertinya ada di dalam level ini. Level ini serasa jadi satu paket lengkap, kayak iklan. Well, Taeil dkk memang enggak ada sih, Liv juga enggak ada. Enggak ada Seana juga, tapi sisanya ada semua dan entah mengapa aku ngerasa bangga sekali karena berhasil masukin mereka semua di dalam satu level lengkap.

Aku sekaligus merasa begitu lega karena di level ini… TERUNGKAP SEMUANYA. Tolong ya tolong, yang baca di level 1 tentang battle antara White Tiger sama Invisible Black yang ngebuat Black sama Jiho akhirnya ketemu di tengah battlenya Invisible Black vs WhiteTown, alasannya ada di sini.

Yang inget sama gimana Invisible Black bisa tau soal Jiho yang pernah dipermaluin White Tiger gara-gara PK, juga ada di sini. Bahkan PK-nya pun ada di sini. Yang bertanya-tanya sama kenalnya White Lion aka Chanyeol sama YourZeus aka Junmyeon, juga ada di sini.

Terus yang inget sama kedeketan White Lion aka Chanyeol sama Royal Thrope aka Seo Johnny, juga jelas banget ada di sini alasannya. Yang mendasari dibentuknya Tim Alpha, Tim Beta, sampai Tim Delta tempat Taeil dkk muncul, sampai Jiho muncul di NG Soft, juga ada di sini.

INI BENER-BENER SATU PAKET LENGKAP.

MARI KITA NARI TOR-TOR DULU UNTUK MERAYAKANNYA.

Yah, lebay sedikit enggak apa-apa. Berhubung ini tanggal cantik, jadi anggeplah level cantik ini dirilis spesial juga.  Tapi serius emosiku terkuras banget pas ngetik level ini, bener-bener cobaan terberat karena aku harus mengungkap semua misteri komplit di sini dengan kalimat yang harus dimengerti sama kalian, temans.

Itulah kenapa aku bilang kalau level 31-39 ini level penting yang akan membuat semua pertanyaan kalian terjawab. Karena kalau enggak diceritain sama level 31-39, aku enggak tau apa sampai akhir cerita aku bakalan sanggup buat ngejelasin satu persatu ke kalian.

Game Over ternyata sudah jadi fanfiksi super kompleks yang aku buat, huhu, aku sendiri menangis kalo baca garis besarnya, sampai detik ini masih menangis aja gitu. Seastral apa otak aku sampe fanfiksi tentang game pun bisa berujung sama politik, sama kriminalitas, sama persahabatan juga cinta yang enggak riil begini. Hiks.

Tapi enggak apa-apa, lah. Masih ada 24 level sebelum bener-bener game over, kan ya. Jadi semoga aja kalian masih sabar untuk membaca, menunggu, dan memahami. Sekian dulu dariku, fingernotesku sudah berubah jadi fanfiksi ini saking panjangnya.

Sampai ketemu minggu depan! Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

31 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 36 [White Tiger] — IRISH”

  1. Sejujurnya aku udah lupa sama beberapa bagian di part awal. Jadi malah kayak baca aja tanpa ada pemikiran apa” alias blank. Pas baca fingernote baru deh nyadar eh iya ini ya Wkwkwk. Lanjut baca lagi ya mbaRish

  2. Sehun caper ya ma si cabe :v
    Ternyata si junmyeon ga sejahat gua pikirin

    Maafkan diriku yang baru komen kak ris 😦 ku baru free /ga nanya/

  3. Dear Irishnim,

    “Aku memanggilnya sebagai WorldWare: Awakening.”
    Worldware awakening itu manaa??? Apa mksudnya biar para player juga pada sadar, awaken gitu masih ada dunia nyata yg harus di ingat.??

    Trus kecurigaanku pindah nih, bukan Suho yang ngutakngatik prototypenya, tapi Janganjangan justru malah Johnny? Mengingat dy bilang ke Chenchen kalo dia bakal ngehancurin ngsoft dri dalam. Dy udah g peduli lagi klo misalnya dy juga dianggap terlibat..
    Tapi enggak deng, ada seseorang yg jadi dalang di balik ini semua. Dan dia belum mencungul. Karna aku baca tentang pertemuan dengan pihak militer. Apa itu di maksud biar jadi senjata pemusnah massal gitu? Ahhhh, bingung aku,
    Hhehe

    Dan, eciyee, ability nya bang Thehun mah gak lari jauh2 dari powernya dia di exohh, Wind of God. Eciyee, baram gitulohhh…
    Hhahaha….

    Amutdeon, himne~~~

    Sincerely,
    Shannon

  4. wah..udah berapa lama aq gak update ya..maaf rish..baru komen…
    jeng jeng..white tiger ternyata sengaja ya cari gara2 sm si invisible..
    dan eh udah 4 thn si baek gak sadar ya…
    fighting aja deh buat kamu..
    ini bener2 paket lengkap,komplit pokoknya semua dibahas..haha

  5. wah..udah berapa lama aq gak update ya..maaf rish..baru komen…
    jeng jeng..white tiger ternyata sengaja ya cari gara2 sm si invisible..
    dan eh udah 4 thn si baek gak sadar ya…
    fighting aja deh buat kamu..

  6. Benar kata mu Rish ini level yg benar2 menguras emosi… Penasaran sma kelanjutannya,,, apa yg akan terjadi di hari perilisan worldware nanti ya,,, dan itu si cabekhyun kpn ambil alih pikiran invisible black?? Udah gak sbar😂😂

    Hwaiting Rish😊

  7. Beravo…
    Dengan segala keterbatasan aku baca ni ff. Pertama baca gak fokus karena diauruh ini sisuruh itu. Akhirnya aku ulang baca lagi dari awal, baru bisa fokusss… yey!!

    Mas sehun jahil nya kok jahat yaaa…
    Its okay lh ndak papa, lantaran ganteng mas ganteng d maafin 😀

    Apapun keep writing ya kk iriah♡♡

  8. Waaahhh, banyak misteri yg kebuka, di lvl ini. dan ternyata ga cuma Johnny aja yg kerja di NG Soft yg main Worldware, ternyata ada Chanyeol jg.
    Dan kenapa Sehun di sini iseng banget sama Black, mancing”nya amarah terus kabur 😂😂
    Suka sama chapter ini ka, banyak yg kebuka misteri’nya.

    Semangat terus ya kak Irish 💪
    Kak Irish 최고 😊😊

  9. Memori memori level level awal yg udah kuncup jadi mekar lagi karna level ini ,,, simpati ku sepenuhnya tercurah sama manager seo disini kasian kan dia udah ngandelin inovasi chanyeol buat jadi senjata teh malah mau di khianati

  10. Daaannn sejujurnyaaaa aku baca ulang dari awal lho rish demi mengingat semua kejadiannya..gegara jauhny chapter trakhir yg kubaca yang sudah berada ditengah konflik dan kegalauan hati gegara cabe internasional..
    Sujud syukur pagi ini buka hp ada dirimu rish..jaga kesehatan baik2 yes..minum vitamin makan sayur mnum susu boar sehat..biar idenya jalan terus…biar semangat nulisnya ada terus…jadi bisa memuaskan nafsu baca readersmu ini..hahahahahahhaha
    Irish emang author paling kece sejagat raya!!!!!!udah ah siap2 kerja dulu cari duit buat liburan wkakakakakakkaa..kecup irish :*

  11. Yeaayy.. Finally semua misteri terpecahkan dalam satu level.. Gila semua rasa penasaran aku di level2 awal terjawab sudaaahh.. Yeay akhirnya….. 😄😄😄
    Tentang siapa para player di dunia nyata dan hubungan mereka pun terjawab di level ini.. Ternyata banyak juga player yg masuk dalam WW ini yg bukan cuma buat seneng2, g sedikit juga yg main game ini karena ‘tuntutan peran’ mereka like someone..
    Jadi kalian semua masuk dalam rencana cadangan seorang White Tiger aka Oh Sehun untuk mengembalikan ingatan sodaranya wahai players 😂😂😂

    Nice level kak Irish.. Ditunggu terus ya next levelnya..
    Tetep semangat, tetep sehat..
    Fighting!!!!!

  12. Super keren deh level ini…
    Di level ini juga ngebangkitin semangatku lebih banyak lagi karena level ini full main cast meski ada beberapa yg nggak dinongolin.
    Jadi Sehun beneran ngawasin si black sama Jihoo? Terus apa Sehun cerita ke seungwan kalo invisible black tertarik sm hongjoo? Penasaran gimana jadinya ekspresi seungwan kalo diri Baekhyun yg lain jatuh cinta sm player dlm game.

  13. Superduper wow buat lvl kali ini ka Rish..
    Bahkan buat pljrn b.indo bkin cerpen aja, nilai aku mash dibwah kkm :”v

    maybe, ka Rish dapet 9,9999 kali ya tiap ujian b.indo xD

    jadi kangen Jiho sama invisible black yg tiap ktemu berantem terus ❤
    ditunggulah next lvl nya ❤

  14. Daku bakal sabar kak menunggu Game Over. Mau sampai kapan pun aku bakal tetep nunggu. Eyaaak 😍😍😍
    Etapi serius kak. Ini fanfic terkeren sepanjang aku baca ff. Ff yg bener2 bisa nguras segala emosi. Terlebih lagi pas dibikin nangis, galau, sedih gegara tau kalau Cabe (invisible black) tu NPC. Etdaaah jungkir balik dunia 😂😂😂😂
    Kalau mau diturutin ga bakal selesai jg ngoceh mya kak. Banyak yg pengen diungkap. Aaah huha banget . Mending nari Tor-tor bareng aja 😆😆😆
    Selalu ditunggu kak. Semangaat pokoknyaaa. .. ❤❤

  15. Huukk.. Hukkkk. Batuk dulu bolehhh. Wkwkwk
    Semuanya terjawab sudah, tapi dengan bantuan fingernote dr kakak irish bareng paham.. Heheh.

    Jadi white tiger emang sehun yg sama dgn di dunia nyata gitu? Dan dia tahu dr awal akan kedekatan baek-jiho. .
    Masih blun paham perubahab waktunya yg uda 4 tahun aja.. Gimana bisa gitu slama itu perkenalan baek-jiho dalam game masih blum terjadi scene di part-part sbelumnya. Atau akunya yg ga mudeng yaahh. Ahh ga tau dehh emang dr awal uda pusing ama ini cerita yg bacanya itu harus pake nguras otak.

    Semangat terus kak irish buat lanjutin ini cerita yg ga katanya sih 24 part lagi.. Wkwkk..

Tinggalkan Balasan ke Novia sari Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s