GAME OVER – Lv. 35 [Butterfly On Your Shoulder] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] —  Level 31Level 32Level 33Level 34 — [PLAYING] Level 35

Would you cry for me?

My soul burns up

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game Over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 35 — Butterfly On Your Shoulder

In Author’s Eyes…

“Ada seseorang yang membuatku merasa tertarik selama beberapa waktu terakhir.”

“Siapa itu?”

Tawa renyah lolos dari bibir seorang pemuda berbalut setelan gelap yang tengah duduk di samping seorang pemuda lainnya yang mengenakan pakaian dengan nuansa biru gelap.

“Seorang player, dia masuk jajaran player wanita terkuat di server.” kata si pemuda bersetelan serba gelap. “Apa kau bisa menebaknya?” sambung si pemuda lagi, lirikan dia lemparkan pada sosok di sebelahnya—sang lawan bicara yang sekarang tampak berusaha menganalisis.

“Ada beberapa orang player wanita di rank tinggi WorldWare. Kebanyakan dari mereka menempati rank itu selama beberapa waktu dan kemudian berganti dengan player lain. Dari kalimatmu sekarang, sepertinya kau tidak sedang bicara tentang mereka, Invisible Black.”

Perkataan lawan bicaranya membuat Invisible Black tersenyum simpul. “Memang, aku tidak sedang bicara mengenai mereka—para player—yang mendapatkan rank tinggi dari hasil berbagi pouch itu.

“Tapi aku bicara tentang player lain yang kedudukannya lebih stabil.” ujar Invisible Black. Lawan bicaranya sendiri adalah Nakamoto Yuta, seorang NPC yang ada di East Park—sebuah tempat yang hanya didatangi oleh player untuk bercengkrama atau menghabiskan waktu selama beberapa saat hanya untuk melihat bagaimana matahari terbit kala pagi menyambut.

Tetapi, tentu tidak ada banyak player yang mau repot-repot online untuk sekedar menonton pemandangan matahari terbit secara virtual. Jadi, East Park seolah jadi sebuah spot yang terlupakan di dalam WorldWare. Sehingga, Invisible Black sendiri jadi memiliki ruang gerak cukup besar di sana.

“Ah, kurasa aku sudah tahu siapa yang kau bicarakan.” kata Nakamoto Yuta kemudian.

“Benarkah?”

“Ya, dia pernah beberapa kali datang ke tempat ini. Tetapi, apa yang mendasari ketertarikanmu adalah karena dia seringkali bicara pada NPC? Dia juga pernah bicara padaku saat singgah di sini.

“Bukan salahnya, atau salahku karena aku bicara padanya dahulu. Dia sepertinya punya ketidak mampuan membedakan NPC dan PC di dalam tempat ini sehingga dulu dia berpikir kalau aku adalah seorang player.” tutur Nakamoto Yuta.

Invisible Black sendiri hanya menjawab dengan anggukan ringan.

“Pendapatmu benar juga. Tidak masalah, dia tetap saja menarik.” Invisible Black kemudian sampai pada konklusinya sendiri. “Apa yang membuatmu merasa tertarik?” tanya Nakamoto Yuta tidak mengerti.

Dia sendiri sejujurnya tidak pernah merasa ‘tertarik’ pada siapapun yang singgah di stage yang menjadi tempat tinggalnya. Sedikit aneh baginya, ketika Invisible Black yang notabene sudah dikenal para NPC sebagai seorang villain tanpa stage tiba-tiba saja bicara tentang ketertarikannya pada seorang player.

“Oh, tunggu sebentar. Jangan katakan kalau kau tertarik padanya karena kau begitu ingin menghancurkan rank yang telah didapatkannya.” Nakamoto Yuta berpendapat.

“Menurutmu begitu? Setiap melihatnya beraksi di tengah sebuah stage, aku merasa seolah seluruh tubuhku hendak terbakar habis. Apa seperti itu rasanya ketika kita game over? Mengapa aku bisa merasa seaneh itu hanya karena melihatnya?” kalimat tanya sekarang Invisible Black ucapkan.

Kebingungan, Nakamoto Yuta rupanya tidak mampu menganalisis maksud dari ucapan Baekhyun secara sistematis. Sehingga, satu-satunya reaksi yang bisa diberikannya adalah terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya dia mengedikkan bahu.

“Aku tidak tahu. Aku pikir, yang kau rasakan sekarang adalah keinginan alami seorang villain untuk menghancurkan tiap player yang ada di hadapannya.” kata Nakamoto Yuta.

Hey, pilihan katamu membuatku berada di dalam situasi seolah aku adalah seorang monster di sini.” Invisible Black berkata, “…, Yang aku lakukan hanya menjaga teritori kita saja. Sehingga playerplayer yang menumpang hidup dan bersenang-senang di dalam sini tidak akan berulah macam-macam.” sambungnya.

“Aku tahu, aku tahu benar. Kau sering mengatakannya dan membuatku merasa kalau mereka benar-benar menjadi ancaman bagi kita. Padahal, bagaimana pun tempat ini adalah milik kita, jadi mereka juga tidak akan benar-benar bisa mengusir kita meskipun mereka ingin. Mengapa kau terus mengkhawatirkan hal yang tidak mungkin akan terjadi?” Nakamoto Yuta kembali angkat bicara.

Bisa dia pahami bagaimana lawan bicaranya memasang tameng juga perisau bertuliskan ‘musuh’ di hadapan semua player yang ada di dalam permainan ini. Yang tidak bisa dipahaminya adalah, kenapa Invisible Black harus repot-repot memikirkan cara untuk mempertahankan otonomi mereka atas tempat ini?

Padahal sudah jelas mereka tidak akan bisa disingkirkan dari tempat mereka sekarang.

“Bukannya tidak mungkin terjadi, hanya saja belum terjadi.” ujar Invisible Black. “…, Selama mereka masih ada di dalam sini, semua tindakan mereka masih menjadi tanggung jawabku.

“Sebaiknya kita awasi dulu mereka selama beberapa waktu. Sampai aku bisa memastikan kalau mereka benar-benar paham atas hak-hak apa yang mereka miliki di tempat ini. Jangan sampai mereka berpikir kalau tempat ini adalah milik mereka. Itu maksudku, Yuta.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

BRAK!

Bantingan keras di meja jadi sebuah peringatan bagi setidaknya delapan belas orang yang sekarang duduk melingkari sebuah meja dengan seorang pemuda berparas tampan memasang ekspresi kaku di salah satu ujungnya, dan di ujung satunya lagi berdiri seorang pria yang menunduk dalam-dalam.

Baru saja, pria itu membangkitkan kemarahan si pemuda tampan. Mereka tengah ada di rapat penting saat handphone pria tersebut berbunyi lantang ketika presentasi, membuat si pria tidak lagi menaruh konsentrasinya pada presentasi yang tengah ia jelaskan.

“Maaf, Tuan Seo. Istriku menelepon.” kata pria tersebut membuat si pemuda—yang tak lain adalah Seo Johnny—mendengus kasar. Tatapan tajam kini ia lemparkan pada pria tersebut, tanpa ampun, bibir tipis pemuda itu membuka untuk bicara.

“Istri apa? Bukannya kau belum menikah?” kalimat yang susah payah berusaha menerobos bibir tipis Johnny yang terkatup rapat itu sekarang bagai jadi sebuah peringatan keras bagi orang-orang di dalam ruangan tersebut.

“Rekan satu ruangan sudah pernah memperingatimu, tentang peraturan untuk mengaktifkan mode senyap pada handphone saat rapat sedang berlangsung. Apa kau ingin diinterview ulang? Aku rasa ingatanmu tidak sebaik IQ 132 yang kau banggakan.” kalimat tajam lainnya Johnny lemparkan pada pria tersebut.

Tetapi, Johnny tidak suka buang-buang waktu. Begitu maniknya menangkap jarum detik pada jam yang menunjukkan bahwa dia sudah meluapkan kemarahannya selama kurang lebih empat puluh detik, Johnny akhirnya kembali duduk dengan gusar.

“Lanjutkan presentasimu.” titahnya memutus konversasi mengenai telepon yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembahasan rapat mereka sekarang.

“B—Baik.” kata si pria, “…, Jadi melalui staff-hunt ini kami merencanakan pembentukan tim-tim pendukung yang nantinya akan bisa bersaing secara kompetitif untuk mengembangkan WorldWare ke depannya.

“Karena kita tidak hanya mempekerjakan programmer saja di dalam perusahaan ini, pengembangan game ini, kami rasa kita juga harus merekrut musisi juga—”

BRAK!

“Apa katamu!?”

SRAK! PRANG!!!

Muntab sudah seorang Seo Johnny sekarang. Pria itu bahkan mengabaikan secangkir kopi yang baru saja tersenggol lengannya dan akhirnya jatuh menumpahkan isinya di celana Johnny juga lantai.

Tidak lupa, si cangkir kopi rupanya ingin terlibat di dalam kemarahan Johnny juga. Dengan tidak tahu diri dia menjatuhkan diri ke lantai dan pecah menjadi tiga potongan besar.

“Musisi!? Kau pikir kita sedang membentuk group idol?!” tanya Johnny dengan nada meninggi. “Kita tidak butuh musisi! Yang kita butuhkan adalah programmer multitalenta! Kalau seorang programmer bisa menguasai musik, artistik dan manajemen, dia pantas untuk ada di NG Soft!” teriakan Johnny sekarang terdengar begitu lantang.

“Kita tidak mempekerjakan sembarang karyawan! Itu sebabnya NG Soft tetap berada di kursi teratas perusahaan gaming, karena kita punya programmerprogrammer handal yang menguasai semua bidang yang diperlukan oleh game! Oh—sungguh, setelah rapat ini kau harus datang ke kantorku. Aku harus melakukan interview ulang padamu.”

Tiap kata yang Johnny tekankan sekarang seolah jadi sebuah teror bagi semua orang yang ada di dalam ruangan. Oh, terkecuali satu orang tentu saja. Seorang gadis berambuat merah menyala yang sekarang tengah berdiri di ujung pintu dengan tampang polos dan ketidak pahaman terhadap situasi tampaknya benar-benar tidak tahu menahu kalau di ruangan ini sedang ada sebuah api membara.

“Kita sudahi rapat ini. Kalian semua, gunakan otak kalian selama dua jam, dan kita berkumpul lagi di tempat ini dua jam dari sekarang.” kata Johnny akhirnya memutuskan. Dia lantas membanting tubuh ke kursi kerjanya.

Berangsur-angsur setelah karyawan-karyawan di dalam ruangan keluar, si gadis berambut merah melangkah mendekat. Dengan hati-hati dia membersihkan pecahan-pecahan kaca di dekat kaki Johnny.

Dari pendengaran tajamnya, Johnny tahu kalau seseorang sekarang ada di dekatnya. Yang tidak bisa diterimanya adalah sikap diam sosok tersebut. Karena sudah jelas, Johnny adalah seorang dengan kedudukan tertinggi di sini, dan sosok yang ada di bawahnya pasti seorang office girl yang bertugas membersihkan kekacauan yang Johnny ciptakan.

“Kau tidak tahu kalau aku masih ada di sini?” Johnny bertanya.

“Aku tahu.” sebuah suara perempuan menyahut. Lantas, Johnny melempar pandang, dan segera saja maniknya menyipit saat mendapati warna nyentrik dari surai si perempuan yang bicara menyahutinya.

“Lalu kenapa tidak permisi?” tanya Johnny lagi.

Tawa kasar lolos dari bibir si gadis, membuat Johnny menyernyit tidak mengerti. Diam-diam batinnya tersikut juga, sadar kalau si gadis sama sekali tidak merasa terusik pada ekspresi kaku yang Johnny pamerkan.

“Untuk apa? Setiap hari kau selalu berbuat kekacauan di sini. Aku sudah bosan mengucap permisi, karena ujung-ujungnya pasti kau abaikan juga.” jawab si gadis lagi-lagi menyikut Johnny.

Memang, setiap rapat pasti ada saja properti kantor yang Johnny hancurkan. Pecahnya gelas adalah yang paling sederhana. Pernah satu kali pemuda Seo itu menghancurkan seperangkat komputer yang ada di ruangan.

“Kau tahu aku bisa membuat semua karyawan di tempat ini menangis karenaku.” ujar Johnny saat si gadis berambut nyentrik berdiri.

“Lalu?” tanya si gadis, menatap Johnny di kedua maniknya dengan pandang menantang. “Memangnya kau akan menangis juga untukku?” sambung si gadis membuat Johnny menyernyit.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Karena kau begitu bangga karena bisa memberikan ancaman ‘kau bisa membuat karyawan menangis’ maka aku bertanya kembali padamu. Apa kau bisa menunjukkan tangismu juga di hadapanku? Atau setidaknya di hadapan seseorang di dalam perusahaan ini.

“Bukankah, diam-diam kau suka menangis di dalam ruanganmu sendirian karena tekanan yang kau dapatkan dari orang-orang di atas sana yang menuntut kesempurnaan dari hasil kerjamu, Tuan Seo?”

Tanpa sadar jantung Johnny terhentak beberapa kali lebih cepat. Bukan karena dia jatuh cinta, tapi karena dia terlampau terkejut untuk sadar kalau di NG Soft ada seseorang yang pasti pernah melihat kehancurannya.

Keadaan menyedihkannya ketika petinggi-petinggi NG Soft menuntutkan sesuatu yang tidak masuk akal untuk bisa jadi masuk akal dan Johnny kerjakan. Dan melihat sikap diam Johnny sekarang, si gadis seolah tahu benar kalau dia sudah mengatakan hal yang benar.

Jadi, si gadis lemparkan sebuah senyum pada Johnny.

“Rumor tentangmu juga tidak main-main, Tuan Seo. Berhati-hatilah, tiap dinding dan lantai juga atap di gedung ini punya telinga dan mulut, kau tahu itu?” usai menyelesaikan kalimatnya, si gadis lantas berbalik, hendak melangkah meninggalkan Johnny kalau saja tatapan pemuda itu tidak tertuju padanya.

Dasarnya Johnny memang seorang perfeksionis, melihat adanya benda aneh di bahu si gadis pun membuat jemari Johnny refleks bergerak melawan keinginannya untuk bertahan dengan sikap angkuh.

Begitu jemari Johnny berhasil menggapai jepit kecil yang—entah secara sengaja atau tidak—ada di serat kain bagian belakang kemeja merah muda yang gadis itu kenakan, rupanya sekon itu juga Johnny sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal.

Johnny rupanya tidak hanya menarik jepit tersebut, tetapi juga melepaskan secara paksa surai palsu berwarna merah menyala yang bertengger di kepala si gadis.

Hey!” sontak si gadis memekik begitu wig merah menyala yang dia kenakan terlepas. Begitu dia berbalik, wig itu sudah ada di tangan Johnny—sementara Johnny masih membeku dengan tatapan terkejutnya.

“A—Aku tidak sengaja.” kata Johnny, dia lemparkan wig tersebut pada si gadis, meski sebenarnya sudah terlambat karena dia terlanjur melihat surai kecokelatan si gadis yang nyatanya membuat gadis itu terlihat begitu berbeda.

“Bilang saja kau berusaha melukaiku!” sungut si gadis kesal. Susah payah dia berusaha memasang kembali wig tersebut di kepalanya, meski hasil akhirnya justru sangat berantakan.

“Tidak!” Johnny berkeras, dia kemudian menunjukkan jepit kecil yang sekarang ada di tangannya sementara si gadis masih menatapnya seolah hendak memangsa.

“Ini. Ada kupu-kupu di bahumu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

4 years later…

“Ada yang aneh, Jaehyun.” Taeil berkata begitu diceknya surel yang baru saja ia terima pagi ini, berisikan sebuah misi untuknya—sebagai seorang pesuruh gelap—untuk mendapatkan kembali apa yang dulu pernah dicuri dan diberikannya kepada orang lain.

“Apa yang aneh?” sahut Jaehyun, meski atensinya tidak beranjak dari layar komputer—dan jangan lupakan headphone yang melekat di telinganya seolah benda itu sudah jadi bagian organ tambahan Jaehyun—tetapi dia tidak sedang menyetel lagu dalam volume ekstra keras sekarang, jadi dia bisa mendengar apa yang Taeil bicarakan dengan sangat jelas.

“Seseorang tengah berusaha menggunakan jasa gelapku lagi.” tutur Taeil, tatapannya ia arahkan pada Jaehyun, berharap satu-satunya lawan bicara itu akan menaruh perhatian padanya juga.

“Bukankah itu baik? Kau ini bagaimana, kalau tidak ada yang menggunakan jasamu, kau justru pusing karena tidak mendapatkan penghasilan tambahan. Sekarang, saat ada yang meminta bantuanmu kau justru merasa aneh.” gerutu Jaehyun, sadar kalau Taeil rupanya sudah berubah jadi seorang yang hobi mengomel karena himpitan ekonomi yang semakin hari makin mencekik.

Mau bagaimana lagi, kehidupan keduanya sebagai mahasiswa di universitas ternama dengan kantong pas-pasan dan tidak pula memiliki keluarga untuk dimintai bantuan dana tentu saja menjadi sebuah masalah.

Ada ratusan—bahkan mungkin ribuan?—orang di luar sana yang mengantre dan rela membayar dengan harga tinggi untuk bisa memiliki tempat seperti keduanya sekarang, tetapi di zaman yang serba berteknologi tinggi ini, uang tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan seseorang.

Percuma punya banyak uang kalau tidak punya otak. Kehidupan berteknologi tinggi tidak lagi butuh uang semata, mereka juga butuh generasi-generasi muda berotak cemerlang. Karena orang-orang seperti itu yang akan memajukan teknologi untuk menjadikan kehidupan lebih baik lagi.

Dan well, di sanalah Taeil dan Jaehyun sekarang mendudukkan diri. Tidak dalam posisi membanggakan memang, tetapi setidaknya mereka patut bersyukur karena meski mereka tidak berasal dari keluarga yang bermandikan uang setiap harinya, mereka tetap punya pendidikan yang layak dibanggakan.

“Yang aku katakan adalah, orang ini tengah berusaha untuk membuatku mencuri kembali apa yang sudah kucuri sebelumnya.” Taeil bicara kemudian, alis Jaehyun berkerut sekarang mendengar ucapan Taeil.

“Bagaimana maksudmu? Memangnya, kau sudah mencuri apa?” tanya Jaehyun. Oh, ingatkan Taeil kalau demi ‘privasi’ yang dijanjikannya pada klien sebelumnya yang menyebut diri sebagai Suho, dia tidak menceritakan misinya kepada siapapun, termasuk Jaehyun.

Tapi sekarang tugas Taeil sudah selesai, dia sudah terima uangnya dan Suho sudah menerima file prototype yang dia inginkan. Bisnis mereka sudah terputus, tidak ada halangan lagi bagi Taeil untuk tidak menceritakannya pada Jaehyun.

“Jadi, empat tahun lalu seseorang membayarku untuk mencuri file prototype WorldWare. Dia tidak mau menjelaskan tujuannya, atau apa yang hendak dia lakukan dengan file tersebut. Tetapi dia membayarku dengan harga tinggi. Saat itu WorldWare belum dirilis dalam versi resmi—karena dulu sempat ada versi Beta dari game ini, ingat?

“Dia hanya menginginkan filenya, lalu urusan kami selesai begitu dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Semuanya baik-baik saja, sampai pagi ini aku menerima surel berisikan permintaan bantuan serupa dengan tawaran sama tingginya seperti dulu.” susah payah Taeil menjelaskan.

Kejadian itu sudah berlalu bertahun lamanya, dan Taeil tentu tidak lagi bisa mengingat tiap rinci yang mungkin saja sudah dia lupakan. Tetapi Taeil masih cukup ingat tentang bagaimana dan apa saja yang telah dilakukannya empat tahun lalu.

“Seseorang memintamu untuk mencuri prototype WorldWare?” tanya Jaehyun, tidak mengerti sepenuhnya. Karena tentu saja Jaehyun tidak bisa habis pikir, untuk apa seseorang membutuhkan file prototype dari game yang sudah dirilis dan sudah bertahan selama beberapa tahun?

“Itu yang tidak kumengerti juga, Jaehyun. Dia ingin aku mendapatkan file prototype WorldWare. Tetapi, bukan dengan cara mencurinya, melainkan memilikinya. Dia bahkan mengirimkan sebuah lowongan private padaku, tentang adanya pembentukan tim pengembang di NG Soft untuk mengembangkan WorldWare.

“Dia katakan dia akan membayarku dengan harga tinggi kalau aku berhasil masuk ke dalam NG Soft dan memegang kendali di dalam tim pengembang itu. Saat aku tanya apa tujuannya, dia menjawab dengan begitu gamblang dan jawabannya justru membuatku semakin kebingungan.” Taeil mengacak surainya dengan gusar.

Kalau boleh jujur, dia memang sudah selama beberapa bulan terakhir berhenti dari kegiatan ‘gelap’ yang sudah dia lakukan untuk memperbaiki keadaan ekonominya ini. Tapi tawaran yang hendak diberikan kali ini juga tidak bisa Taeil pandang sebelah mata.

“Apa jawabannya?” tak ayal Jaehyun yang jadi pendengar pun merasa penasaran.

Sejenak, Taeil terdiam. Tatapan kosong ia lemparkan pada Jaehyun sebelum akhirnya Taeil buka suara. “Dia katakan dia ingin menyelamatkan seseorang yang tengah terjebak di dalam NG Soft.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Malam tengah merambat menuju pagi. Semua orang mungkin tengah terlelap dengan begitu tenang di atas ranjang, di balik selimut hangat juga dekapan dari orang yang mereka cinta—jika mereka punya. Tetapi, Liv tahu Sehun masih terjaga di dalam kamarnya.

Kerlip cahaya berwarna merah-biru yang memantul dari celah kecil yang tercipta di bawah pintu kamar Sehun jelas jadi pertanda kalau pemuda itu pasti masih setia memandang monitornya sambil meneruskan kegiatan yang sampai detik ini tidak bisa Liv mengerti juga.

Mengapa Sehun begitu senang berhadapan dengan monitor?

Helaan nafas panjang akhirnya lolos dari bibir Liv, membuat gadis itu lantas melangkah ke arah kamar Sehun, mengetuknya pelan sebelum ia masuk ke dalam kamar tanpa menunggu jawaban dari Sehun.

“Sudah tiga puluh enam jam kau terjaga, Sehun. Kau tahu tubuhmu juga butuh istirahat.” kata Liv membuat Sehun yang didapatinya tengah memejamkan mata dengan menopang dagu, segera membuka lebar kedua maniknya.

“Aku tidak mengantuk.” kata Sehun berkilah, padahal suaranya sekarang begitu parau, dan bahkan Liv bisa lihat bagaimana sayunya mata Sehun karena mengantuk, lelah, juga kesakitan.

Ya, Liv yakin tubuh Sehun pasti meronta kesakitan karena telah dipaksa untuk terjaga dan siaga selama tiga puluh enam jam lamanya.

“Tapi kau juga butuh tidur.” kata Liv kemudian.

Sehun, menggeleng kuat-kuat sebelum dia melempar pandang ke arah Liv. “Sudah satu minggu kita tidak mendengar kabar dari Seungwan. Dan Baekhyun sudah terjebak di dalam sana selama lima puluh enam bulan delapan hari lamanya.

“Keadaan tubuh Baekhyun juga semakin memburuk. Kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi padanya di dalam sana, atau pada organ dalam tubuhnya. Bagaimana kalau dia benar-benar tidak bisa kembali, Liv?”

Sekarang, Liv mengerti benar apa yang membuat Sehun betah terjaga. Pemuda itu merasa kalau dirinya telah gagal menyelamatkan Baekhyun selama empat tahun ini—catat, Sehun bahkan mengingat rinciannya.

“Aku tahu, Sehun. Dan kau juga tahu, berapa kali aku menawarkan diri untuk masuk ke dalam sistem game itu dan membawanya kembali. Tapi kau terus menolak dengan alasan kalau sistem game itu berbahaya buatku.

“Kalau saja kau mengiyakan tawaranku sejak empat tahun lalu, Baekhyun mungkin sudah ada di sini bersama dengan kita. Sekarang, kita tidak perlu saling menyalahkan, dan kau tidak perlu juga menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang sudah terjadi.

“Daripada kau menyiksa dirimu dengan terus terjaga tanpa bisa melakukan apapun untuk membawa Baekhyun kembali, lebih baik kau beristirahat, Sehun. Baekhyun akan baik-baik saja di dalam sana.”

Mendengar penuturan Liv, Sehun hanya bisa menghela nafas panjang. Tentu dalam benak pemuda itu Liv hanyalah sebuah sistem yang dipaksakan untuk hidup dalam tubuh manusia, sehingga dia tidak akan mengerti sama sekali mengenai apa yang sekarang mengganggu benak Sehun sampai membuatnya enggan untuk tidur.

“Bagaimana kita bisa tahu kalau dia baik-baik saja?” sebuah tanya menguar dari bibir Sehun. “Karena dia adalah seorang jenius, Sehun. Dia bisa menciptakanku, dan aku bisa bertahan. Tidak mungkin dia tidak bisa bertahan.” jawaban Liv sekarang berhasil membangun sedikit keyakinan Sehun.

Anggaplah Baekhyun baik-baik saja di dalam sana. Sekarang pertanyaan berikutnya hanya ada satu, kapan dia akan keluar dari dalam sistem itu? Padahal, Sehun tidak bisa menarik Baekhyun secara paksa dari dalam sana.

“Baiklah, aku akan tidur satu jam lagi, Liv. Biarkan aku sejenak memikirkan cara untuk membuat Baekhyun berkuasa atas benaknya di dalam sana.” kata Sehun akhirnya.

Alis Liv terangkat sedikit saat mendengar ucapan Sehun. Senyum kecil bahkan sudah bisa muncul di wajah gadis itu. Sekarang, ia akhirnya bisa bernafas lega. “Okay, aku akan mengecek keadaanmu satu jam lagi.” ujar Liv sebelum dia keluar dari dalam ruangan Sehun, memberi Sehun ruang untuk sendirian di dalam kamarnya, selama satu jam lagi.

Sepeninggal Liv, Sehun hanya bisa terdiam, menatap WorldWare yang tengah terlogin dengan menggunakan identitasnya. Well, tentu saja dia tahu benar bagaimana marahnya Baekhyun kalau tahu Sehun sudah memanipulasi identitasnya untuk bisa mendaftarkan diri sebagai salah seorang player di dalam game tersebut.

Tapi Sehun tidak peduli, dia sudah terlalu jauh melibatkan diri ke dalam rencana ini, dan dia tidak bisa berhenti begitu saja. Manik Sehun sekarang tertuju pada kekacauan kecil yang akan diciptakannya. Sisa dari rencana cadangan yang dia pikirkan.

Anggap saja, Sehun sudah berhasil memasukkan Baekhyun dengan paksa ke dalam rencana B miliknya yang ia jalankan di dalam WorldWare. Dan selama satu jam ini dia hanya perlu mengawasi reaksi Baekhyun terhadap umpan yang hendak Sehun lemparkan kepadanya.

“Maaf, Baekhyun. Tapi kau tahu sendiri, kita harus selalu punya sebuah rencana cadangan. Dan ya, mendadak saja rencana ini masuk ke dalam benakku begitu kulihat bagaimana kau begitu tertarik pada player itu.” kata Sehun, menggumam sendiri, tetapi maniknya masih menatap lekat-lekat ke arah monitor lebar di hadapannya.

Tanpa sadar, senyum terukir di wajah Sehun begitu ditangkapnya bagaimana rencana cadangannya berjalan dengan cukup mulus. Lantas, Sehun lepaskan kacamata berframe bulat yang seringkali menemaninya kalau dia terlalu lama berkutat dengan komputer, pemuda bermarga Oh itu menyandarkan tubuhnya di kursi, sebelum akhirnya ia hembuskan nafas panjang, antara lega, sekaligus khawatir.

“Kuharap, keterlibatannya di dalam ingatanmu akan berhasil membangunkanmu, Baekhyun.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Di tengah kesibukan pertengahan bulan di akhir tahun, aku sungguh bersyukur karena masih punya semangat buat nyelesein level 35 ini. Mohon maklum, karena levelnya aku tambah cukup banyak jadi aku harus jelasin begitu banyak misteri di level-level tambahan ini.

Belum lagi mikirin bonus stage… mikirin nasib para NPC, mikirin nasib Baek-Jiho yang mulai mau dibelokkan ke arah Baek-Wendy… mikirin gajian yang masih lama. Ah sudahlah, semua itu bikin pusing aja. Masih mending mikir bias dating ketimbang mikir gajian yang masih lama.

Berhubung terbatasnya kuota di awal pekan ini, aku juga enggak sempet buat ngejadwal Level 35 untuk posting di Jum’at tengah malem, jam 00.00. Enggak apa deh dia posting jam segini, yang penting update, kan?

Aku juga enggak banyak-banyak masukin masalah di level 31-39 ini karena memang level-level ini bertujuan untuk memperterang jalan gelap yang sudah menenggelamkan kalian selama tiga puluh level sebelumnya.

Mengenai pertanyaan soal kapan alurnya akan kembali ke alur normal yang melanjutkan perjuangan Jiho, dkk, aku rasa jawabannya sudah cukup jelas ada di bagian atas cerita ini dan ada di setiap awal cerita level 31 sampai saat ini, level 35. Jadi, tolong jangan menanyakan pertanyaan super irasional gitu ya :’) sakit juga kalau mau dijawab. Tolong catatan penulisnya lebih diperhatikan sedikit.

Aku tahu kalian kangen momen Baek-Jiho, dan aku pun begitu. Tapi kalau aku cuma bikin cerita ini full sama momen romansa nggak masuk akal mereka juga kan enggak seru. Mana gregetnya? Lagian kehidupan itu enggak cuma bagian cinta-cintaannya doang yang bisa dijadiin cerita.

Kalau kalian berpikir ceritanya jadi semakin berat karena enggak melulu soal cinta-cintaan antara karakter game dan seorang pemain game, logout aja udah dari Game Over, aku enggak pernah memaksa kalian untuk terus memaksakan diri bermain di dalam cerita ini kok.

Sekian dulu dariku, sampai ketemu hari Minggu. Salamku, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

34 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 35 [Butterfly On Your Shoulder] — IRISH”

  1. Ah, justru cerita yg bukan romansa yg seru itu. Romansa mah mainstream, gitu” doang kebanyakan. Iya sih ngayalnya enak, bikin baper diri sendiri hahah.
    Ini kn yg nulis kak irish yg antimainstream. Btw, antimainstream itu kan beda dari biasanya, nah berati spesial. Karena spesial itu indah.
    Lah, ga nyambung, ya uda lah ya.

  2. Awalnya ngejelimet ga ngerti tapi pada akhirnya ngerti juga wkwkwk.. Ada banyak presepsi yang bermunculan di otak sampe tetangga meja bilang katanya berisik banget ngerunyem apa aja hahaha. Tapi aku gamau sok tau dulu karna takut salah lagian juga madih ada 5 level lagi yang belum di baca karna ketinggalan hahaha.. Oke semangat mbaRish lanjutnya aku mau lanjut baca lagi wkwkwk bye bye~

  3. Dear Irishnim,

    “Ini. Ada kupu-kupu di bahumu.”
    Yeee, si Johnny mah recehh.. Ekekeke….

    Yah, bang Thehun ternyata emang evil maknae. Enggak di exo, enggak di ff, tetep usil. Pen cari gara2 manfaatin ketertarikan BaekBlack ke Jiho.

    Aku rasa itu awal Johnny smpe nyiptain Red Haired Witch, dia nganggep Seungwan itu nyinyirnya ato kalo lgi marah kek Witch mungkin. Hheheh…

    Trus eciye Yuta ketemu Creatornya-yang-kejebak-dalam-npc-tapi-gak-berdaya dan bahkan yuta gak sadar. Wkwkw

    Of course lah Yuta g bakal paham, karna black juga kek nyuri kesadarannya cabe kan.

    Okeh, makin lama makin panjang. Nanti aku cuap2 deh di sudut lain dari game over.

    Himne~~

    Sincerely,
    Shannon

  4. Jadi seorang Invisible Black juga punya teman curhat? 😂😂
    Seo Johnny galak yaa kalo rapat, ampe ngerusakin properti mulu..
    Nah siapa yg mau pake jasanya mas Taeil? Sehun kah? Wendy? Atau malah Liv? Atau malah Suho lagi.. Eeeeeey entahlah..
    Sehun semangat hun, bentar lagi Baekhyunnya balik kok 😂😂 Tapi apa yg kau rencanakan wahai Oh Sehun? Ngelibatin Jiho kah?
    Dah lah langsung baca level 36 aja..
    Kak Irish semangat terus yaaa….

  5. ciye yuta yang jadi temen curhatnya baek, ciye sehun yang setia galau and nungguin baek selama 4 tahun *ehh iya anjirr 4 tahun itu lama lohh kok baek betah banget sihh jadi npc? apa jangan” masih mau ngejar cintanya mbak jihoo yahh 😆 hahahaha
    btw si seungwan kemana kak? kok ngak kelihatan? apa seungwan ngak betah nungguin baek lagi kak? yahh kasian baek dong ditinggal calon bininya 😂
    ohh jadi penyebab taeil masuk delta tim di ng soft itu gara” ada ‘perintah’ dari konsumennya, hmm tak kusangka
    .
    ceritanya makin bagus kak 😄 makin kesini makin seru terus jadi terungkap semua sebab masalahnya, penulisan kata” kkak juga ngak terlalu berbelit” sehingga mudah dipahami 😄
    terus semangat nulisnya kak jan lupa juga jaga kesehatan, fightingg aku padamu kak 😘😘😂

  6. Kira Wendy bawa chip buat rekan atau kamera..eh ternyata kupu2😂😂
    Lucu banget scane itu…
    Btw
    Fighting terus ka irish…as always…

  7. hufftt akhirnya bisa komen ughaa
    jaringan ngajak tubir bat
    kok aku ngerasa bakal ada yg fall in love y? Itu siapa yg nyuruh taeil buat masuk ng soft? sehun kah? kek nya ga mgkn, trus mksd ny taeil buat nyelamatin samwan itu apa?? siapa?? Trus mksd sehun plan b itu apa?? ngebuat baekhyun jatuh cinta sama jiho d world ware?? duhh ini mah nama nya eta terangkanlah dung tak dung
    kak irish tetep semangat y nulis ff ny 👍👍

  8. Udah.. bingung mo ngomong apa, makin banyak levelnya makin mumet😆😆.. ngikutin alur ajadah, udah mau kebongkar nih sedikit demi sedikit.. penasaran sama rencana sehun, kira2 dia mau apa yahh??😯😯😯

  9. Ku kira wendy kerja di NG soft jadi programer atau apa gitu.. ga tau nya jadi office girl. Its ok rapopo.
    Wendy tetep cantik kok mau jadi apapun 😁😁😁
    Badewe semangat kak Irisheu buat lanjutin cerita ini. Tetep ditunggu kak. 😍😍😍 Fightiingggg !!

  10. Baca level ini tuh kaya sadar ga sadar banyak kedip nya ini mata, di tengah sibuk nya hajatan di sempetin baca karna penasaran 😂 tapi untung nya paham juga cerita di level ini… Tapi kok baekhyun memorinya lebih ke jiho ya padahal kan lama nya sama wendy sama jiho kan ketemu nya baru sekali waktu kecelakaan,, pas jiho liat baek di gang remang remang sama wendy kan ga terlalu ngeh baek nya 🤔
    Btw thor ff yg lain nya kapan di lanjut ?

  11. itu yang nyuruh taeil sehun kah ? dia mo nyelametin bekhyun iya kak ? tapi gak tau juga deng.cuman ngira² hehe
    mb seunghwan nya ? ku berdo’a semoga dia pindah haluan aja kehati johnny,tak tega ku tega kalo lihat mb jiho merana wkwkwk 😂
    cius aku bacanya pengen langsung loncat ke lv 40 aja kak,padahal belum di up ya bicos aku gak sabar nunggunya.takdir mb jiho sama abwang cabe berasa di gantung kek jemuran 😂 aem okey aem okey kak,aku tau aku tau lv 31-39 itu penjelesan di balik layar WW kalo gak ada penjelasan ini pasti aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang/tetibaingetlagu/😂😂

  12. Kakak, itu Nakamono yuta yang ngomong sama invisible black dengan yuta yang ada di kantor NG itu orang yg sama kah?

    haha… aku coba bayangin muka nya jhony waktu narik jepit, eh wig nya seunghwan ngikut ketarik, seandainya d bkin video adegan nya d slowmotion trus kyak d wekly idol d bkin banyak efek, d tambah ada kembang apinya. Haha… kan gereget tuh 😀

    Ya udah lah, cukup sudah adegan menistakan seunghwan sama mas jhony, ntar ada gelas yg pecah lagi.

    Kak irish jagabg bosan bosan ya nulis nya, readers setia nu menunggu karya karya tulis muuu♡♡♡

    Fighting, keep your spirit. And stay helthy.

  13. Aku sih yes

    Sungguh penasaran apa yg direncanain pemuda bermarga oh tersebut hm🤔

    And siapa yg meminta jasa gelap abang teil🙄 wendy kah? Sehun kah? Ugh😧

  14. duh duh duh
    black pake curhat me yuta segalaa
    daaan
    johnny serem yha.. itu og pasti wendy deh.. pake wig. jadi johnny terinspirasi..
    woah. taeil masuk ng soft karena pekerjaan gelapnya..
    ku tak sabar dengan lanjutannya

  15. Jangan2 yg pke wig itu seungwan?? Trus yg nelfon Teil itu Sehun,,kasian juga si baek, di satu sisi dia sebagai baekhyun cintanya sma Seungwan tpi sebagai invisible black dia cintanya jiho…😁 gimna reaksi sehun dan Seungwan nanti klau dia lihat Invisible black ngasih wild rose ke jiho trus mereka wedding…hahaha ya ampun ngebayangin ekpresi Sehun ama Seungwan bikin senyum jhat ku muncul😈😈

    Untuk saat ini baek-jiho stand😂😂

    Hwaiting Rish😆💪

  16. Lah itu wendy pake wig aku pikir beneran di cat merah :v
    Yang nyuruh taeil itu siapa sih? Tapi aku kok kepikiran sehun ya
    Si IB dari awal udah tertarik ma jiho tapi dia ga tau tertariknya sebagai apa :v

  17. Penasaran sama yg suruh Taeil buat curi prototype Worldware lg. Sehun kah, yg suruh ? Aahhh penasaran. Kata” nya Wendy buat Johnny pedes banget ya, langsung kena 😂
    Iyaah, si Black sampe cerita” ke Yuta kalo dia tertarik sama player di worldware.
    Dan mudah”an rencana nya Sehun berhasil 😊
    Ga sabar buat nunggu next chapter nya, Semangat ka Irish 😊

  18. Aahhh tulisan tangan irish mnjadi obat rindu baek slama seminggu ini…ga sia2 bgn tdur lngsung buka ff n akhirnya tadaaaaaa sudah d apdet deh…
    Baru nyadar smua player di awal itu pnya pengaruh masing2 ga cm buat menuh2in hall pas lg tempur menempur aja..dr awal jg brarti s ib udah trtarik m jiho tp msh ga tahu trtarik sbgai apa..emg npc bnran bisa jtuh cnta rish klo bkan krna ad ingatan baek yg asli y?hahahahahah bingung brcampur penasaran sma klanjutanny gmnaaaaaaaaa pgn rsanya drmu kelarin smp habis lngsung ga ush nggu sminggu bru apdet wkakakakakakakaa
    Muucih author jjang!!!!fighting yess..gajian sblm tgl 25 udah dtransfer kok wkakakakakakkakaa

  19. Kak irisheu maapkeun ane yg ga komen di 4 level terakhir 😭 ane dalam masa2 ujian kemaren itu tuh.. jeongmal mianhae Eonnie.
    Kak Irisheu ane rela kalo Baek ama seungwan asal Invisible Black Ama JIHO. Mereka orang yang berbeda kn?? Tapi ane penasaran waktu Invisible Black jatuh cinta sama jiho di game itu pake ingatannya Baek ato Invisible Black sendiri??

  20. Oh oh oh…
    Gtu toh..
    Penasaran aq sm siapa yg nyuruh taeil..
    Sehun?seungwan?
    Ah gak perlu nanya gaje..toh di level berikutnya bakal ada penerangan lagi..
    Dan aq kaget sekaligus ngakak..ternyata oh ternyata si seunhwan jd office girl,,haha,,kirain beneran jadi cctv portable wkwk/abaikan/dan rambut merahnya palsu sodara,,wkwkpart2..
    Oke rish,,aku tunggu pencerahan darimu di hari minggu ya..
    Keep writing ya..
    Semangat…

  21. Kukira Wendy ngewarnain rambutnya, ternyata itu cuma wig…*seketikaketawaguling2
    Semakin tinggi levelnya kebingunganku ini semakin terpecahkan.

  22. Apa si office girl itu Wendy? xD entah kenapa, langsung keinget Wendy pas bagiannya :”v

    di lvl35 ini udah lumayan terang kok ka Rish wkwkw
    gasabar, nunggu lvl40an :”)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s