[ONESHOT] A(REEN) — IRISH

—  A(REEN) —

Starring by:

Reen x Arin

— Marriage Life x Sistership — Teenagers — Oneshot —

You’re not alone, because you have me by yourside. And so do I, i’ll never be lonely, because i have you on my memories.”

Disclaimer:

Storyline and art created by IRISH. OC(s) included on these stories belongs to: anneandreas; and me. Do not copy paste my story without my permission, if you do then you comitted a crime. This story dedicated for my beloved doppleganger’s [anneandreas] who prepared herself to be mom.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Bagi sebagian besar orang, kehamilan itu hanya sekedar bagian kecil dari kehidupan mereka yang tentu saja bisa mereka lalui dengan mudah. Tapi tidak bagi seorang Reen, kehamilan mungkin bisa dia kategorikan sebagai bagian terberat dalam garis kehidupannya.

Pernikahannya dengan Minseok setahun yang lalu memang mengalami masa-masa sulit, di mana Reen secara psikologis merasa tertekan lantaran tidak kunjung mendapatkan tanda baik berupa garis dua di test pack yang dibelinya secara rutin setiap kali dia terlambat datang bulan.

Beruntung, Tuhan pada akhirnya memercayai Reen untuk mendapatkan anak pertama yang diidam-idamkannya juga. Well, tapi ternyata jalan Reen menuju kebahagiaan—tentu saja kebahagiaan menimang buah hati di dalam gendongan—tidak juga mudah.

Berulang kali Reen mengalami apa yang disebut orang-orang secara medis sebagai ‘hiperemesis’ sebuah keadaan dimana ibu hamil mengalami mual-muntah berlebihan yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari ibu hamil tersebut dan terganggu pula keadaan kesehatannya.

Terhitung, sudah hampir empat kali Reen masuk rumah sakit, hanya karena dia mengalami mual-muntah berlebihan tadi. Tidak, bukannya Reen lemah. Tapi memang Tuhan membuat mual-muntah itu jadi sedikit ‘berlebihan’ padanya.

Dan ya, jangan tanya apa yang terjadi pada Reen sekarang.

Seisi ruang rawat inap seolah sudah hafal benar pada kedatangannya. Bahkan tidak sungkan berkata: “Wah, Nyonya Kim lagi?” padanya. Bahkan, security pun sudah hafal pada kedatangan Minseok, maupun ayah Reen.

Tapi kali ini, rasanya Reen sedang dirundung kesialan.

Minseok mendapat tugas ke luar kota, dan Ayah Reen sibuk dengan pekerjaan. Jadilah, Reen harus rela menyendiri di ruang rawat inap.

Sendiri.

Oh, Reen ingin sekali rasanya mendengar kata itu saja sekarang.

“Reen, ayo makan!”

Well, keadaan yang sekarang mengurung Reen bukanlah kesendirian, melainkan kebisingan. Nyatanya, seorang gadis seusiaan dengannya datang pagi ini. Hal yang membuat Reen terkejut adalah: si gadis mengaku sebagai Arin Do, saudari kembar Reen yang selama ini tinggal di Australia untuk menyelesaikan studinya bersama sang tunangan, Kim Jongdae.

Keduanya datang membesuk Reen hari ini, dan kemarin juga, kemarinnya juga begitu. Dan Reen yakin, esok hari, sampai esok harinya lagi, akan begitu juga.

Tapi tunggu, Reen ingat dia tidak punya saudari!

“Aku tidak mau.” kata Reen, menegaskan penolakan pada sesuap bubur yang hendak disuapkan oknum bernama Arin itu padanya.

“Eh? Kenapa?” tanya si gadis berkacamata bulat—Arin—tidak mengerti.

“Kakak Ipar, sebaiknya kau makan dulu. Tidak baik kalau terus mendapatkan asupan nutrisi dari selang infuse saja.” tiba-tiba si pria asing—namanya Kim Jongdae—menyeletuk.

Hey, jangan panggil aku kakak ipar. Memangnya kau sudah menikah dengannya? Dan juga, apa kau punya bukti kalau kau benar-benar adikku?” tiba-tiba saja ekspresi ceria yang sejak tadi Arin pamerkan berubah muram.

Perkataan tajam Reen rupanya sudah membuatnya tersakiti juga. Maklum, Reen biasanya tidak sekasar itu, sungguh. Hanya saja karena dia sedang hamil dia jadi sedikit lebih sensitif daripada biasanya.

Dan keributan yang sejak tadi Arin lakukan di kamarnya adalah hal yang berhasil membuat Reen naik pitam. Well, sedikit-banyak Reen khawatir kalau tekanan darahnya naik, bisa saja kehamilannya jadi ikut terganggu, bukan?

“Ya ampun, Kakak, kau ini bodoh atau apa?” Arin malah balik menyalak, mengatai bodoh, pula. Ya Tuhan, seumur hidup Reen tidak pernah mendengar dia dikatai bodoh oleh siapapun!

Hey!” Reen memekik keras, untung saja mereka hanya bertiga di ruangan—karena dua tempat tidur di dekat Reen masih tidak berpenghuni—jadi tidak akan ada yang benar-benar peduli pada teriakan Reen sekarang.

“Sudah jelas wajah kita sama, marga kita juga sama. Apa perlu aku kembali ke Australia untuk mengambil surat keterangan kelahiranku? Supaya kau percaya?” tanya Arin membuat Reen tertohok juga.

Memang, bagaimanapun secara fisik dia terlihat sama persis dengan gadis bernama Arin itu. Bedanya hanya warna rambut dan gaya berpakaian saja—hey, meski Reen sekarang ada di rumah sakit dan mengenakan pakaian khas rumah sakit, biasanya dia itu seorang yang modis, tahu.

“Ayah tidak pernah bilang kalau aku punya saudara kembar.” tandas Reen, jelas dia ingat bagaimana keadaan di rumah. Tidak pernah ada orang yang menceritakan padanya tentang eksistensi si saudari kembar ini.

“Oh.” raut Arin berubah terluka, “…, aku memang dititipkan ke Nenek yang ada di Australia saat kita masih sama-sama kecil. Lalu, tempo hari Nenek memberitahuku tentang pernikahanmu.

“Maaf, karena aku tidak bisa datang, aku sangat sibuk dengan skripsiku di hari pernikahanmu. Dan aku baru bisa datang sekarang, setelah aku mengambil cuti beberapa hari dari pekerjaanku.

“Kau tahu, Ayah memberitahu Nenek kalau kau akan sendirian selama beberapa hari.” Arin menjelaskan dengan diplomatis, tidak ada rasa kesal dalam nada bicaranya meski sekarang dia menerima penolakan yang begitu dahsyat dari wanita yang berstatus sebagai saudari kembarnya itu.

Memang apa salah Arin kalau dia harus berpisah dengan saudarinya saat keduanya masih sama-sama belia? Justru, Arin ingin sekali bertanya pada Ayah mereka, mengapa Reen sama sekali tidak pernah diberitahu tentang keberadaan Arin?

Padahal, Arin setiap harinya selalu diceritakan tentang Reen oleh sang Nenek.

“Aku tidak mengerti, kenapa Ayah tidak pernah bercerita tentangmu?” nada bicara Reen akhirnya melunak. Sejak tadi wanita bersurai burgundy itu sudah menguras banyak tenaga dengan bicara lantang pada lawan bicaranya yang bahkan tidak sedikit pun merasa marah karena sikap kasar yang dia pamerkan.

“Aku tidak tahu. Ayah juga sepertinya tidak pernah mengajakmu ke Australia untuk berkunjung ke rumahku dan Nenek.” sahut Arin ringan sambil mengedikkan bahunya acuh. Dia kemudian melempar pandang ke arah Jongdae.

“Jongdae juga pernah merasa aneh karena sikap Ayah.” kata Arin lagi.

Well, mau tak mau Reen luluh juga karena penjelasan Arin. Bagaimana pun, kalau keduanya memang benar bersaudara, tidak ada alasan bagi Reen untuk terus bersikap kasar pada Arin, bukan?

Padahal saudarinya itu sudah jauh-jauh berkunjung dari Australia hanya untuk menemaninya di rumah sakit.

Dan ya, rupanya kedatangan Arin menjadi hal yang sangat baik bagi Reen.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak terasa, bulan demi bulan berlalu. Sepeninggal Arin dari Seoul saat Reen keluar dari rumah sakit, Reen kembali menjalani rutinitas membosankannya—bekerja—dengan alur yang sama.

Dia masih juga beberapa kali masuk rumah sakit, hal yang kemudian membuat Minseok dan Ayah Reen akhirnya pasrah dan seringkali membiarkan Reen sendirian di rumah sakit—tidak benar-benar sendirian, sebenarnya.

Karena saat Minseok mendapat tugas ke luar kota, Arin akan datang bersama tunangannya, menemani Reen di rumah sakit dan membuat wanita itu bisa terbahak karena ulah konyol saudari kembarnya.

Perlahan, Reen mulai mengenal saudarinya itu, bagaimana kekanakkannya kelakar seorang Arin Do yang sangat bertolak belakang dengan sikap dewasa yang Reen miliki. Tapi saat Arin ditanya soal kapan dia menjejakkan kaki di altar bersama dengan Jongdae, Arin malah memilih bungkam, enggan menjawab pertanyaan tersebut.

Dan Jongdae pun begitu.

Bagi Reen, hubungan yang dijalin saudarinya dengan pria yang mengaku bekerja sebagai seorang detektif swasta di Australia itu sangatlah aneh. Keduanya seolah sama-sama tidak siap untuk menikah. Padahal, kehidupan Reen serasa lebih ringan saat dia sudah bisa membagi dua beban kehidupannya dengan sang suami, Minseok.

Ah… bicara tentang Minseok, diam-diam Reen rindu pada Minseok saat ini.

“Arin, bisa tolong ambilkan handphoneku?” tanya Reen segera setelah dia tersadar dari lamunannya, sejak tadi wanita itu sibuk memikirkan soal Minseok, rupanya.

“Kau tidak boleh terlalu banyak main handphone, Kak. Radiasinya tidak baik untuk tubuhmu.” Arin menyahuti, atensinya masih tertuju pada buku tebal yang ada di pangkuan.

“Aku ingin menelepon Minseok.” kata Reen setengah memohon. Arin, lantas mendongak, menatap saudari kembarnya dengan mata menyipit sebelum dia menggeleng dengan tegas. “Tidak, jatah teleponmu dengan Minseok hanya boleh di jam tujuh pagi, dan jam tujuh malam.” tegasnya.

Reen lantas memutar bola mata jengah, ada-ada saja aturan aneh yang Arin ciptakan untuknya selama hamil ini. Reen yang tidak boleh banyak berkegiatan, tidak boleh stress, tidak boleh banyak berjalan-jalan, tidak boleh banyak bermain handphone.

Semua menu makanan Reen bahkan diatur oleh Arin. Diam-diam hal itu membuat Reen curiga kalau sebenarnya saudarinya ini bukan menyelesaikan studi sebagai seorang journalist di Australia sana melainkan menjadi seorang nutritionist.

Bayangkan saja, setiap menu makanan Reen yang Arin bawakan pasti dijelaskan satu persatu mengenai kandungan apa saja yang ada di dalamnya! Mulai dari karbohidrat, protein, sampai elemen-elemen yang tidak bisa Reen mengerti.

“Ayolah, ini sudah jam enam. Apa bedanya menghubungi Minseok sekarang dan satu jam yang akan datang?” tanya Reen kemudian, berusaha melakukan negosiasi, rupanya.

“Tidak, Kak.” dengan tegas Arin menolak. “Kenapa?” tanya Reen menuntut jawab.

Arin, akhirnya menutup sampul buku yang sejak tadi dibacanya. Sejenak dia lemparkan pandang ke arah Jongdae yang terlelap di sofa dekat pintu masuk kamar Reen, sebelum Arin lantas menatap ke arah Reen.

“Nanti juga kau tahu sendiri. Lagipula, biasanya Kakak Ipar menerima teleponmu di jam tujuh. Dia bisa saja khawatir kalau kau tiba-tiba saja meneleponnya jam segini.” Arin menjelaskan.

Dan mau tak mau, penjelasan tak masuk akal Arin entah kenapa terdengar masuk akal juga di dalam pendengaran Reen. Karena dia sudah terbiasa menelepon Minseok di jam tujuh pagi dan tujuh malam, bisa saja Minseok khawatir pada keadaannya kalau dia tiba-tiba menelepon di jam enam.

Tidak, Reen tentu tidak ingin konsentrasi suaminya terpecah saat bekerja. Akhirnya, Reen menyerah juga, dia baringkan tubuh dengan malas di tempat tidur, selagi maniknya menatap ke langit-langit kamar rumah sakit.

“Baiklah, tapi jam tujuh tepat aku akan menelepon Minseok.” kata Reen sebelum dia biarkan Arin kembali larut dalam buku tebalnya.

Alih-alih beristirahat, Reen justru merasa penasaran (lagi) tentang hubungan Arin dengan sang tunangan, Jongdae. Jadi, setelah berdeham dengan gaya diplomatis, Reen kembali buka suara.

“Arin, sebenarnya hubunganmu dengan Jongdae itu bagaimana? Dia benar-benar tunanganmu?” tanya Reen hati-hati.

Terdiam sejenak, Arin menghela nafas panjang sebelum dia menjawab. “Bukan.”

“Apa?” sontak Reen menatap ke arah saudarinya itu dengan tatapan terkejut. “Apa maksudmu? Jadi selama ini kenapa dia terus mengekorimu kesana-kemari?” tanyanya makin menuntut penjelasan.

Yang ditanya malah hanya mengedikkan bahu acuh. “Aku tidak tahu. Dia bilang dia khawatir kalau aku berkeliaran sendirian di Seoul. Jadi dia menemaniku. Kami hanya kenal secara kebetulan saja, dan secara kebetulan juga aku bekerja di tempat Jongdae bekerja.” tutur Arin.

“Bagaimana bisa seorang journalist bekerja di kantor polisi?” tanya Reen, teringat pada jurusan kuliah yang diambil adiknya itu. “Aku tidak bilang kalau aku bekerja sebagai seorang journalist di sana.” Arin menyahuti.

“Lalu?”

Arin terdiam, lagi. Dia pandangi Reen selama beberapa sekon sebelum akhirnya dia mengembuskan nafas. “Ceritanya panjang, aku tidak akan sempat menjelaskan detilnya padamu. Intinya, aku dan Jongdae ada dalam hubungan mutualisme—saling menguntungkan satu sama lain—di mana, aku memaksanya untuk berpura-pura jadi tunanganku saat kami akan datang ke sini.”

Reen mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan adiknya. Bisa dia pahami, Arin mungkin malu kalau datang dengan seorang pria tidak dikenal yang bahkan tidak punya hubungan apapun dengannya.

Sebagai seorang kakak, tentu Reen harus berusaha memahami perasaan adiknya, bukan?

“Tapi sebenarnya kalian berdua terlihat cocok.” kata Reen sejurus kemudian.

“Benarkah?” manik Arin langsung berbinar karenanya. Reen simpulkan, kalau saudarinya ini menaruh ketertarikan pada Jongdae—yang menurut Reen tidak menaruh ketertarikan sebanyak yang saudarinya miliki.

“Kakak orang pertama yang berkata begitu.” ujar Arin, senyum dikulumnya di wajah selagi maniknya mengawasi Jongdae. “Dia itu baik sekali, mirip dengan kakak ipar.” ucapan Arin sekarang berhasil menimbulkan tanya di benak Reen.

“Kau tahu seperti apa Minseok?” tanyanya.

“Ah, iya. Ayah yang bercerita.” Arin menyahut cepat.

“Oh…” usai ber’oh’ ria, Reen akhirnya memilih bungkam. Enggan mengorek lebih jauh lagi tentang hubungan percintaan sang adik yang tampaknya tidak berjalan dengan mulus. Dia tidak mau melukai perasaan adiknya, sikap kasar yang sudah Reen pamerkan di hari pertama pertemuan mereka saja sudah lebih dari cukup.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Ayo cepat, Reen, kita harus ada di rumah sakit jam delapan.”

Minseok dengan tergopoh-gopoh berkata. Well, Reen akan dioperasi caesar hari ini, dan Minseok sungguh tidak habis pikir, mengapa sejak tadi Reen terlihat seolah begitu enggan beranjak dari sofa ruang tamu mereka?

“Tunggu sebentar, Minseok. Kau tidak lihat aku sedang menunggu?” tanya Reen membuat Minseok mengerutkan alis bingung. “Siapa yang kau tunggu? Ayah? Ayah sudah ada di belakangmu.” kata Minseok.

“Bukan. Aku sedang menunggu Arin.”

“Arin?” kali ini vokal Ayah Reen yang terdengar. Membuat Reen menolehkan pandang dan menatap sebal. “Iya, Ayah tidak pernah cerita kalau aku punya saudara kembar di Australia. Beruntung, selama beberapa bulan ini dia selalu menemaniku saat Ayah dan Minseok bertugas ke luar kota.” tutur Reen.

Memang, baru hari ini dia punya kesempatan untuk buka cerita dengan suami dan ayahnya. Berhubung dua orang itu jadi orang paling sibuk sedunia saat usia kehamilan Reen menginjak delapan bulan sampai hari ini.

“A—Ah, itu karena kau selalu sibuk. Sudah, Arin akan menyusulmu nanti ke rumah sakit. Kau tidak boleh terlambat untuk jadwal operasimu.” kata Ayah Reen kemudian, sedikit dipaksanya Reen untuk bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam mobil.

Bagaimana tidak terburu-buru, jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit saat Reen akhirnya mau masuk ke dalam mobil. Dan Minseok juga tidak bisa berkendara dengan kecepatan tinggi kalau keadaan Reen sudah begini.

Jadilah, mereka sampai di rumah sakit jam delapan lewat—mendapat omelan dari perawat, tentu saja—sebelum akhirnya persiapan operasi Reen dilakukan.

“Ayah, aku tidak pernah tahu kalau Reen punya saudara.” kata Minseok saat dia sudah ditinggalkan berdua dengan Ayah Reen di ruang tunggu.

“Dia memang punya saudara kembar.” jawab Ayah Reen, tatapannya sekarang tertuju pada pintu ruang operasi yang ada di depan sana. “Benarkah? Tapi kenapa dia tidak datang saat Reen dan aku menikah?” tanya Minseok penasaran.

Ayah Reen, menghela nafas panjang sebelum dia menjawab:

“Masalahnya, saudara kembar Reen itu sudah meninggal.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Reen?”

Perlahan, Reen membuka kedua maniknya—yang terasa begitu berat—saat dia dengar sebuah suara familiar—suara yang serupa dengan suaranya—masuk ke dalam pendengaran.

“Arin?” panggilnya parau.

Hey, kau sudah terbangun, ya? Aku ada di sini.” vokal Arin terdengar, Reen samar-samar juga bisa merasakan genggaman jemari dingin Arin di jemarinya.

“Anakmu perempuan, ya ampun dia cantik sekali!” cicit Arin tanpa tahu diri. Hal yang kemudian membuat Reen sadar kalau Arin tidak seharusnya bersuara selantang itu saat mereka ada di ruang pemulihan.

“Jaga suaramu, Arin. Ada banyak orang yang harus beristirahat di sini.” kata Reen memperingati, tatapan Reen sekarang tertuju ke arah tempat tidur lainnya yang juga berisikan beberapa orang ibu yang baru saja usai operasi, sepertinya.

“Kenapa? Aku sedang bahagia karena bisa melihat keponakanku, tahu.” Arin mencibir kesal, lantas dia lepaskan genggamannya pada Reen, dan bergerak merapikan selimut Reen yang tersibak di bagian kakinya.

“Bayimu sungguh cantik, dan pipinya… ya ampun, pipinya gembil sekali, sungguh lucu. Tapi, wajahnya sangat mirip dengan Minseok, heuh.” Reen menyernyit saat akhirnya maniknya bisa menangkap bayangan Arin dengan jelas.

“Mau bagaimana lagi, Minseok juga ayahnya. Kalau anakku mirip dengan Jongdae baru kau harusnya mencibir begitu.” sahut Reen tidak mau kalah. Mendengar sahutan sang kakak, Arin malah terkekeh pelan.

Hush, jangan melantur. Memangnya kau mau anakmu mirip dengan Jongdae?” Arin balik bertanya, gadis itu kemudian kembali melangkah ke arah Reen, memerhatikan raut lelah saudarinya dengan sebuah senyum simpul.

“Setidaknya, aku senang karena kau sudah berhasil melalui sembilan bulan yang berat ini. Sungguh, aku tidak pernah tahan melihat bagaimana kau muntah-muntah di rumah, terlihat kepayahan dan sangat lemah. Kalau kau hamil lagi, semoga saja tidak separah yang sekarang.” kelakar Arin santai.

“Aku tidak pernah cerita tentang keadaanku saat muntah-muntah.” kata Reen pelan. “Ayah juga tidak pernah melihatnya. Darimana kau tahu?” tanya Reen, sadar kalau sebenarnya keberadaan Arin di ruang pemulihan saja sudah cukup patut dipertanyakan.

Bagaimana dia bisa masuk padahal tidak Reen lihat satupun keluarga dari pasien-pasien lain di sebelahnya ada di sana?

“Ah, aku melihatnya. Aku belum cerita, ya? Atau, Ayah belum juga menceritakannya padamu?” tanya Arin sejurus kemudian.

“Apa maksudmu?” tanya Reen tidak mengerti.

“Nanti saja, nanti juga kau tahu sendiri. Sudah, sekarang kau istirahat saja Kak, supaya lekas pulih dan bisa menggendong bayi kecilmu.” kata Arin, dengan halus memerintah saudarinya untuk tertidur saja ketimbang mempertanyakan hal-hal kecil yang tidak penting.

“Arin, kau belum menjawab pertanyaanku.” kata Reen, berusaha menolak kantuk—sisa dari obat bius operasinya—yang berusaha mendominasi, padahal dia masih menyimpan seribu tanya pada si saudari.

“Nanti aku jawab, Kak. Tenang saja.” Arin berkata, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya ia membungkukkan badan, berusaha menyejajari Reen yang terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pelan, Arin bergerak merengkuh saudarinya, berusaha untuk tidak menciptakan rasa sakit apapun di tubuh Reen yang masih lemah. Dan ya, jangan tanya bagaimana Reen akhirnya terlelap ketika dia membalas pelukan saudarinya itu.

“Aku menyayangimu, Kak. Senang bisa bertemu denganmu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Epilog.

Reen hanya bisa berdiri mematung, menghadapi sebuah makam dengan nama dan foto yang terpampang jelas di hadapannya. Milik seseorang yang selama beberapa bulan ini selalu menemaninya dikala ia sendirian.

“Minseok, jadi adikku sudah benar-benar tidak ada, ya?” kata Reen sejurus kemudian. Beberapa hari yang lalu, dia sudah mendengar semua penjelasan tidak masuk akal dari Ayahnya.

Tentang Arin, saudari kembarnya yang dititipkan pada Nenek mereka di Australia saat keduanya baru menginjak usia lima tahun karena keadaan fisik lemah Arin yang mengharuskannya untuk berobat di salah satu rumah sakit besar yang ada di Australia.

Kemudian, Reen harus menelan pil pahit berisi kebohongan yang telah menemaninya selama berbulan-bulan. Adiknya, Arin Do, telah meninggal bertahun yang lalu. Saat usianya menginjak delapan belas tahun.

“Iya, dia sudah meninggal tujuh tahun yang lalu.” jawab Minseok.

Tawa pelan tanpa sadar lolos dari bibir Reen. “Pantas saja dia begitu kekanak-kanakkan. Ternyata, dia masih delapan belas tahun. Tidak salah kalau dia terjebak cinta monyet bersama pria itu.” gumam Reen, teringat pada kelakar konyol Arin selama beberapa bulan terakhir.

“Kau sangat beruntung, sayang. Dia sudah menyempatkan waktunya untuk mengunjungimu meski dia sudah tidak punya waktu untuk berlama-lama denganmu di sini.” tutur Minseok, mengingatkan Reen pada bagaimana beruntungnya wanita itu karena masih punya kesempatan untuk bercengkrama dengan sang saudari yang telah tiada.

Meski, sampai detik ini Reen jadi berpikir, apa saat itu dia hanya berhalusinasi tentang keberadaan Arin? Sebab, eksistensi Arin terasa begitu nyata bagi Reen. Sedangkan bagi sebagian orang yang mendengar ceritanya, Reen hanya akan dianggap gangguan jiwa.

“Kau benar, aku sungguh beruntung karena saudariku datang mengunjungi saat keadaanku begitu menyedihkan.” Reen mengulum senyum, lantas dipandanginya foto sang adik—tampak tersenyum dengan poni sebatas alis dan kacamata bulat menghiasi wajahnya.

“Sampai bertemu lagi, Arin. Terima kasih karena sudah menemaniku.” kata Reen sebelum dia kemudian mengikuti langkah Minseok meninggalkan kompleks pemakaman tempat Arin disemayamkan.

Well, Arin sebenarnya tidak berbohong. Dia memang tinggal bersama sang nenek, karena makam nenek mereka ada di sebelah makam Arin. Dan Ayahnya memang benar sering datang ke Australia untuk mengunjungi makam dua keluarganya itu.

Dan juga, Arin tidak pernah berbohong soal kedatangannya ke Seoul, bersama pria bernama Kim Jongdae itu tentu saja. Buktinya, mereka berdua sekarang sibuk menyembunyikan diri di balik pohon sepeninggal Reen dari makam Arin.

“Kau sudah puas? Dia sudah mengunjungimu.” kata Jongdae ketus saat dirasakannya lengan dingin seorang gadis di bahunya. Meski dia mengenakan mantel tebal, hawa dingin yang dibawa si gadis masih terasa menembus kulit.

“Iya, dia cantik sekali, ya? Setelah menjadi seorang ibu dia justru semakin cantik saja. Mirip dengan mendiang Ibu kami.” kata Arin mengenang.

“Kalau sudah puas mengintip, ayo cepat pulang. Kita masih punya pekerjaan menumpuk karena kau memaksaku ke Seoul, tahu.” Jongdae menggerutu, dengan kasar disingkirkannya lengan dingin si gadis berkulit pucat—Arin—dari bahunya.

Cih, kalau ada maunya saja kau baik padaku. Sekarang kau sudah jadi menyebalkan lagi.” kata Arin tidak mau kalah. Alih-alih berdebat dengan Jongdae, dia akhirnya mengekori langkah Jongdae juga.

Keduanya menyusuri jalan setapak di sisi pemakaman tersebut, dan langkah Arin mau tak mau terhenti di depan makamnya. Gadis itu tersenyum miris saat melihat pantulan dirinya di sana, yang sampai detik ini pun masih tidak bisa juga berpulang dengan tenang.

“Kenapa berhenti?” tanya Jongdae menyadari kalau sosok tak kasat mata—yang hanya bisa dilihat Jongdae itu—rupanya berhenti di depan makamnya.

“Tidak ada. Sudah tujuh tahun berlalu, tapi aku masih belum berhasil menemukan orang yang membunuhku juga.” kata Arin muram, membuat ekspresi Jongdae melunak. “Itu sebabnya kau mengekoriku kesana-kemari, bukan? Karena kau ingin aku menemukan orang yang sudah membunuhmu.”

Arin, lantas mengangguk dan tersenyum. “Iya, itu juga sebabnya aku membantumu selama penyelidikan. Ayo, kita harus kembali bekerja.” katanya, semangat si gadis rupanya sudah mulai terisi penuh kembali.

Jongdae sudah akan mengiyakan jika saja maniknya tidak menangkap kehadiran secarik kertas di sela-sela seikat bunga yang Reen tinggalkan di makam Arin.

Hey lihat, Reen meninggalkan surat untukmu.” kata Jongdae, jemari Jongdae lekas meraih kertas tersebut, menunjukkannya pada Arin.

“Kau tidak penasaran apa isinya?” tanya Jongdae. “Cepat baca, Jongdae.” titah Arin tergesa-gesa. Jongdae, sempat tertawa sejenak melihat ekspresi jenaka Arin, sebelum dia akhirnya membuka kertas tersebut dan membacakannya.

“Teruntuk Arin, adikku. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu di sela kesibukanmu. Aku tahu, aku tidak gila, dan aku tahu kau memang benar ada. Jadi, lekaslah selesaikan urusanmu di dunia dan pergilah dengan tenang, saudariku.

“Jangan khawatirkan aku, karena aku akan baik-baik saja. Dan aku yakin kau pun begitu. Jangan merasa sendirian di sana, karena kau punya aku di sisimu. Ingat, kita adalah saudara kembar, dan kita terhubung secara batin.

“Aku pun akan begitu, aku tidak akan merasa sendirian lagi, karena aku punya kau, di sisiku, juga di dalam ingatanku. Datanglah berkunjung lagi jika kau sudah akan pergi, suatu hari nanti. Salam sayang, saudarimu, Reen.”

.fin

IRISH’s Fingernotes:

TET! TOT! TET! TOT!

HAPPY BIRTHDAY KAK ANNE! SELAMAT HARI ULANG TAHUN ~

Jangan kira dopplegangermu ini melupakan ulang tahunmu Annechan :’D aku inget kalau tiap tanggal 14 Desember ini mah. Tapi mianek, berhubung kita lagi edisi doppleganger jadi aku enggak buat fluff sama Minseok lagi /LAGIAN KAN KANE SUDAH TAKEN/ /OHOK/.

Semoga Kak Ne selalu diberi kesehatan, diberi kelancaran selama kehamilan, semoga sisa tujuh (atau delapan?) bulan ke depan kak Ne tetep diberi kesabaran dan kesehatan. Salam cintaku buat adek bayi calon keponakan jauhku, semoga dia selalu sehat. Amin ~

OKEH, INI MIANEK, MINSEOK-JONGDAE SATU PAKET IRIT DI SINI. MIANEK YA, MAU FOKUS SAMA SISTERSHIPNYA ARIN-DO-REEN SIH AKIKAH INI. TAPI KASIAN, ARIN TERPAKSA AKU JADIIN MAKHLUK ASTRAL. BIAR GREGET.
Iklan

8 thoughts on “[ONESHOT] A(REEN) — IRISH

  1. Kerana koneksi intrnt yg ga bershbt, wkt prtm da inbox dr exoffi ttg ff ni br bc awal2 & tiap mo bc update-an ff2 irish ga bs2 connect ke exoffi 😞 jd smpt wondering apa dah comment di 1shot yg ni 😕 jd pas pg ni bs akses lngsng cek komen2ny, ga da jejak dr ku, & tenyt emang blm bc smp tuntas, jd lah bc dulu, wlw dah bc2 smua komen’ny jd ga surprise sm jln crita’ny. Tp surprise sm kbr anne hml 😀 slmt ya anne & happy birthday jg.
    Ini sdih bgt rish, bc di bis tije otw ke kntr, hardly holding back my tears 😢 sp grangan si murderer itu? Brhrp ada sequel. Sistership’ny ngena bgt 😢 nm anak’ny reen sp? Anne sht2 ya ☺ take care.. Irish jg, smua syng2 ku jg wherever you are pkk’ny 💕

  2. Sambil nunggu gameover post, ubek ubek eh dpat slah stu karya kak irish. Lucu sih, ada eksistensi ghost nya. Betul kak irish, ghost nya bkin greget…

    Hbd, sma kaka yg d ujung sana. Gak papa ya sksd dkit♡

  3. Riseu, tolong.. Ibu hamil itu hatinya sensitif, dikasih cerita semacem ini kan matanya berkaca-kaca.. *sedot ingus

    Aku sudah mulai curiga pas Reen masa ga ngenalin Arin, “Mati nih ujungnya nih, mati nih.. Pasti dibikin mati nih sama Iriseu nih.”
    Syedih akutu~
    :”( :”( :”( :”(

    Tapi swit sekali masaaa..
    Karena Reen hamilnya sama bener kaya aku jadi aku ngerasa kaya aku tokoh utamanya, aku jadi berasa punya suami Minsok beneran /plak /uhyeah

    Aku baru baca soalnya deadline laporan di kantor dan kadang palaku suka mabok kalo ngeliatin hape lamalamaa.. Aku reblog eaaaakk~

  4. Wahh ini ff hadiah buat ultah kak Anne/? XD
    hbd ya kak Anne~ walaupun gakenal, yaudah gpp lah xD

    ka Rish, ffnya nyezz diakhir :”) Arin nya jadi ghost yang ngikutin Chen kemanapun buat nyari si pembunuh :”v
    Keren.keren ❤ ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s