[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 9)

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Poster by erinaael.

Story is my mine. Don’t be plagiat.

Chapter 9

Kalian tau apa yang paling mengerikan untuk seorang pelajar bahkan mahasiswa sekalipun? Ya, tugas akhir, ujian dan teman-temannya. Selain menyita waktu dan tenaga ini juga sangat menyita seluruh pikiran kita.

Jika para siswa pada jam istirahat berada di kantin atau lapangan maka jika waktu ujian tiba mendadak penghuni perpustakaan bertambah. Jika siswa rajin dan kutu buku biasanya menjadi seorang yang terasingkan maka mereka mendadak menjadi populer. Bukan karena apa, hanya saja catatannya lah yang menjadi incaran.

Untuk para siswi yang biasanya berdandan maka mereka terlihat seperti zombi dengan kantung hitam pada matanya dan berjalan seperti mayat hidup karena kekurangan waktu tidur.

Untuk siswa tingkat akhir seperti Xiumin maka bebannya terasa dua kali lipat. Bukan hal yang mudah mempertaruhkan waktu tiga tahun hanya pada beberapa soal.

Chorong berjalan dengan gontai menuju bangkunya, sang sahabat memandanginya bingung.

“Ada apa denganmu?” tanyanya pada Chorong ketika gadis itu sudah berada di bangkunya.

“Aku butuh tidur, kenapa harus ada matematika sih?!” gerutunya.

“Ck, dia mulai lagi” gumam Irene.

Ya hari ini anak tingkat 2 sedang melangsungkan ujian dan sialnya itu adalah pelajaran matematika. Menghitung bukan keahlian Chorong.

Disisi lain, Suho dan Lay sedang berjalan menuju kelas mereka. Untung saja perban di tangan Suho sudah bisa dibuka sebelum ujian dimulai.

“Xing, ku pikir kau yang paling tenang untuk ujian kali ini” Suho membuka suara, pasalnya teman disampingnya ini tidak menunjukan wajah gelisah atau frustasi seperti yang lain.

“Tidak juga, aku sudah belajar. Jika aku tak bisa maka prinsipku memilih pilihan ke 4” tutur pria berdimple itu.

“Jika 3 pilihan?” tanya Suho memasuki kelasnya disusul Lay.

“Ya pilihlah yang terakhir” Lay menggeser bangkunya dan duduk setelah meletakan tasnya.

“Jika itu semua esay?” tanya Suho yang kali ini sedang mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.

Mata Yixing terbelalak “Heol, aku tidak memikirkan hal itu” ia mengacak rambutnya frustasi. Suho yang melihat menggelengkan kepalanya.

Yixing melihat Suho dengan puppy eyesnya. “Myeonie” panggilnya. Suho bergidik, ia merasa akan ada hal buruk. Ia berbalik pada Yixing.

“Bantu aku ya ya ya” pintanya.

“Shireo, kerjakan sendiri!” tolak Suho.

“Yak! Dasar Kim Joon Myeon si manusia pelit. Ku sumpahi kau tidak bisa bersama Chorongie!” koar Yixing dan kembali duduk di bangkunya.

“Yak!”

Ya, seperti itulah persahabatan mereka.

 

***

sekolah terasa sangat tenang ketika para siswa mengerjakan ujian. Ada yang sangat serius mengerjakan, stes tidak bisa menjawab, mencontek bahkan yang paling pasrah dari itu semua adalah tertidur.

Guru yang mengawas terlihat sangat menyeramkan. Pandangan matanya terasa seprti elang yang mencari buruan. Jika dia sudahendapatkannya maka tamatlah riwayat kalian. Keluar kelas bukan lagi sebuah pilihan.

“Waktu kalian 5 menit lagi” ujar guru Min setelah melihat arlojinya.

Anak-anak terperangah, sebisa mungkin mereka mengisi, yang semula tertidur melihat sekeliling. Chorong salah seorang di dalam kelas itu menggaruk kepalanya frustasi. Ia baru mengisi setengahnya. Karena masalah waktu maka sisanya ia memilih jawaban terakhir.

“Kumpulkan” ujar sang guru.

Para murid berbondong bondong menuju meja guru dan menyerahkan lembar jawaban mereka.

“Sudah semua? Baiklah saya permisi” guru Min meninggalkan kelas setelah para murid memberi salam dan ucapan terima kasih.

Chorong langsung terkulai di mejanya. Tenaganya habis. Irene mendekatinya “Kau mau ke kantin?” tanya Irene.

“Tidak, aku menitip saja padamu, aku ingin tidur kepalaku rasanya siap mengeluarkan asap” timpal Chorong.

“Haha kau berlebihan, baiklah tidur yang nyenyak. Tunggu aku kembali” Irene menepuk kepala Chorong. Dan dibalas Chorong dengan gumaman.

 

***

Suho, Lay serta Xiumin sedang berjalan menuju kantin. “Bagaimana ujianmu Xing?” tanya Xiumin.

“Biasa saja hyung, yang tidak bisa aku kerjakan maka aku menghitung kancing saja” ujar Lay. Xiumin dan Suho tergelak.

“Tidak ada yang lucu kawan, kalian sangat menyebalkan” Lay berjalan lebih dulu ketika mereka sudah berada di kantin. Xiumin dan Suho masih terkikik dibelakang.

“Bibi, aku ingin jjangmyeon” pesan Lay pada bibi kantin.

“Baiklah, akan bibi tambahkan ekstra untukmu” ujar bibi kantin. “Uh, bibi jjang” Lay membuat gestur hebat dengan ibu jarinya.

“Bibi, kenapa kau memberikannya ekstra tapi aku tidak?” tanya seorang wanita di samping Lay.

“Karena dia anak yang baik” bibi kantin membawa semangkuk jjangmyeon pada Lay. “Ini” Lay menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih” balas Lay setelah mengambil pesanannya.

“Memangnya aku tidak baik?” tanya gadis itu memberengut.

“Kau baik Irene, tapi Lay lebih baik lagi” senyum terukir di wajah sang bibi. Lay menjulurkan lidah. Irene memberengut.

“Irene, kau sendiri?” tanya Xiumin setelah ia sampai di dekat Lay. “Bibi, aku ingin ttopoki” pesan Xiumin, bibi kantin membuat gestur ‘ok’.

“Ah, hallo sunbae” Irene memberi hormat, bagaimana pun Xiumin adalah seniornya. “Iya, aku sendiri” lanjut Irene.

“Dimana Chorong?” tanya Suho sambil melihat sekitar. Itu kata yang akan dilontarkan oleh Xiumin namun keduluan oleh sang adik. Irene terkikik.

“Sebegitu rindunyakah tuan Kim ini pada sang kekasih, padahal belum sehari” goda Irene. Lay dan Xiumin menahan tawanya..

“Bukan begitu” sangkal Suho.

“Lalu?” Irene masih menggodanya.

“Hanya saja tidak biasanya ia tidak berada di kantin pada jam istirahat, ya kau tau sendiri bukan. Ia mudah lapar” Irene tersenyum dengan penjelasan Suho.

“Wah, kau sudah begitu mengenalnya ya. Chorong, ia berada di kelas, ia bilang butuh tidur, otaknya akan mengeluarkan asap jika ia tak istirahat itu yang ia bilang padaku. Ya kau tau sendiri bukan ia seperti apa soal pelajaran” jelas Irene.

“Aku setuju dengan pendapat Chorong” ujar Lay dari salah satu meja, ia sudah mendapatkan tempat. Malah dia sudah memasukan jjangmyeon ke mulutnya. Xiumin yang sudah menerima pesanannya duduk bersama Lay.

“Ck, kau sama saja. Aku akan ke kelasnya” ujar Suho. Beranjak dari kantin.

“Tunggu, bolehkah aku menitip ini pada Chorong. Dia belum makan” Irene menyerahkan sandwich dan susu pisang pada Suho.

“Tentu, terima kasih” setelah ituia benar-benar meninggalkan kantin.

“Irene, bergabunglah dengan kami” Xiumin melambaikan tangannya pada Irene. “Apa boleh sunbae?” tanya Irene. “Kenapa tidak, kemarilah” Irene segera mendekati meja mereka dan duduk di sana bersama Xiumin dan Lay.

“Apa kalian tidak keberatan jika bertambah satu orang lagi?” tanya seseorang dengan nampan di tangannya. Mereka menoleh bersama. “Eoh, Chanyeol. Tentu saja. Kenapa tidak. Ayo duduk” Chanyeol menampilkan cengirannya dan duduk di samping Irene. “Nonna, kemana Chorong nonna?” tanya Chanyeol.

“Kau tau sendiri seperti apa kakakmu jika menghadapi ujian. Ia tertidur di kelas” jawab Irene.

“Haha pasti kapasitas otaknya overload, apa dia sudah makan? Ia belum sarapan tadi” Chanyeol sedikit khawatir.

“Tenang saja, Suho akan menemuinya dan dia sudah membawa makanan” Balas Xiumin kemudian kembali menyuapkan makanan.

“Baguslah, tak salah aku menyetujuinya” ujar Chanyeol. Ia mengambil sumpit dan menyuapkan makanan ke mulutnya. “Wah ini enak” ujar Chanyeol.

“Tentu saja. Masakan bibi kantin yang terbaik” bangga Lay.

 

***

 

Suho memasuki kelas Chorong, sebagian siswi terpana sebagian siswa menghindar dan sisanya setelah kaget kembali melanjutkan aktifitasnya. Ia menghampiri bangku dimana gadisnya sedang tertidur dengan sebelah tangannya sebagai bantalan. Suho tersenyum dan duduk di depan bangku Chorong. Namun posisinya mengadap pada Chorong. Ia memegang salah satu jemari Chorong.

“Aku masih ingin tidur Irene” balasnya tanpa berkeinginan mengangkat kepalanya.

“Sebegitu mengantuknya kah kau?” suara itu bukan Irene. Chorong mengenalinya. Itu suara pria menyebalkan yang mengganggu waktu istirahatnya. Ia menegakan tubuhnya.

“Pergilah Kim, aku ingin istirahat” usir Chorong.

“Jika ingin tidur di rumah bukan di sekolah. Apa matematika sangat menyita otakmu” ejek Suho.

“Ck, berhetilah mengejekku. Kau pikir siapa yang mengganggu waktu istirahatku setiap malam hanya untuk menyuruhku belajar huh?” wajahnya penuh emosi.

“Itu juga untuk kebaikanmu” balas Suho dengan tenang.

“Kebaikan kepalamu, kebahagian untukmu siksaan untukku” serapah Chorong.

“Haha kau berlebihan” inilah hobi Suho yang lain, menggoda Chorong.

“Pergilah Kim, aku ingin tidur. Masih ada waktu sebelum ujian berikutnya” Chorong bersiap meletakan kepalanya di meja lagi namun Suho menahannya.

“Makanlah dulu, ini titipan Irene. Kau belum makan bukan?” Suho menyerahkan sandwich dan susu pisang tadi. Seketika mata Chorong berbinar.

“Terima kasih” Chorong mengambil sandwich dan segera memakannya. Cacing di perutnya sudah berorcestra. Suho mengangguk.

“Makanlah perlahan, kau seperti tidak makan sebulan” ejek Suho.

“akhu suhduah luapar (aku sudah lapar)” ujarnya dengan mulut penuh.

“Telan dulu, kau ini. Dasar jorok” Chorong tak peduli. Sandwich lebih penting dari pada Suho.

“Kau mau?” tawar Chorong.

“Tidak usah, ku pikir itu pun tak cukup untukmu” ujar Suho. Chorong hanya menyengir.

“Kapan pertandinganmu?” tanya Suho setelah Chorong selesai menghabiskan sandwichnya.

“Dua hari setelah ujaian selesai. Memangnya kenapa?” Chorong meminum susunya.

“Tidak apa, aku akan melihat” ujar Suho.

Uhuk

Chorong tersedak susu bahkan sebagian ada yang keluar. Ia menepuk nepuk dadanya. Suho membantu menepuk punggungnya. “Kau tak apa?” tanya Suho khawatir.

Chorong sudah sedikit lebih baik “Aku baik, dan untuk pertandingan. Kau tak perlu datang”.

“Aku tak perduli pendapatmu, aku tetap akan melihat”

“Yak!”

“Lalala aku tak dengar” Suho menutup telinganya.

“Dasar Kim menyebalkan!”

“Berhenti menggerutu Park!”

Tanpa mereka sadari. Mereka sudah menjadi perhatian bagi orang-orang di lelas Chorong. Dan tanpa mereka duga. Ada seseorang yang sedang tersulut emosi.

 

To be continue . .

 

Bukan hal susah kan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

 

 

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 9)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s