[EXOFFI FREELANCE] Kokobop (Track 8)

68747470733a2f2f73332e616d617a6f6e6177732e636f6d2f776174747061642d6d656469612d736572766963652f53746f7279496d6167652f7169792d6b7670344167554e5f513d3d2d3439383931393230392e3134666130326433

K O K O B O P (Track 8)

.

Poster credit by IRISHlevyona from wattpad

.

Author: El Byun

Chaptered

Rate: Pg-17

Genre: Alternate Universe, Action, Romance, Angst, Mature

Cast: Lee Hanbi (OC),  Kim Junmyeon, Zhang Yixing aka Lay | Huang Zitao aka Tao| Wu Yifan aka Kris | Xi Luhan aka Luhan

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good readers!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

~~~

[Track 8 : PLAN B]

~~~

 

“Sepertinya aku sudah menyukaimu, Lee Hanbi.”

Pandangan Hanbi sudah kabur semenjak mendengar ocehan menggelikan kekasih Junmyeon yang menyebalkan tadi. Untung wanita itu masih berusaha tetap fokus meski kesehatan tubuhnya belum stabil pasca keluar dari rumah sakit secara paksa. Ia ingat akan lembaran perkamen yang harusnya dibawa oleh pria ini. Namun pernyataan cintanya barusan membuatnya berada di luar rencana awal yang ia bicarakan dengan Lay dan Zitao sebelumnya. Ia bingung harus menanggapi bagaimana? Haruskah ia menolak mentah-mentah seperti yang ia lakukan pada Yifan atau menerima dengan senang hati yang artinya Hanbi sama saja dengan wanita jalang yang barusan merayu Junmyeon untuk memintanya pergi ke Hawaii malam ini.

“Wae? Kau tampak tegang. Apa pernyataanku barusan mengagetkanmu? Apa jangan-jangan kau baru pertama kali mendengar seseorang menyatakan perasaannya padamu?”

“Uhuk!”

Seseorang di tempat lain tampak tersedak dengan tuduhan yang Junmyeon tujukan pada Hanbi. Zitao yang berada di sudut lain yang duduk di meja yang tidak jauh dari mereka mendengarnya. Rasanya seperti ditusuk dengan busur tumpul. Bahkan selama ia dekat dengan Hanbi, ia sama sekali tidak berani mengungkapkan perasaannya bahkan untuk menyindir Hanbi seperti itu.

“Dasar kucing!” umpat Zitao sembari menusuk-nusuk croisant-nya dengan garpu hingga tak berbentuk. Atasannya yang kini juga duduk di seberang mejanya menatapnya jengah. Ia bahkan sudah menepuk pundak Zitao berkali-kali namun pandangan mata pria itu pada Hanbi tidak juga teralihkan.

Plak!

Akhirnya Lay menepuk kasar pipi pria itu hingga berbunyi keras yang membuyarkan kemarahannya sedari tadi. Pria itu bahkan memelototi atasannya dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Berani sekali bocah ini? -batin Lay.

“Kau berbeda dari Myunmyun yang aku kenal.” sahut Hanbi kemudian. Mata wanita itu memandangi lekat sosok teman kecilnya yang berevolusi menjadi Junmyeon ini.

“Benarkah?” Junmyeon tampak menyeringai, lalu detik berikutnya pria itu justru tertawa kecil.

“Sorot matanya terlihat jujur. Dan dia selalu bicara sopan pada setiap orang.” Hanbi mulai membuat deskripsi. Pandangannya masih tidak teralihkan dari sosok Junmyeon. Pria itu masih terpaku di posisinya dan mulai mendesah hingga tersenyum getir saat mendengar pernyataan Hanbi untuknya. Jujur Junmyeon sebenarnya juga merasakan perbedaan itu. Ia hanya ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik saat semua tanggung jawab sebagai pewaris perusahaan ditumpukan padanya.

“Apa aku terlihat jahat?”

“Dengan wanita tadi maksudku. Apa aku membuatmu merasa tidak nyaman?” Junmyeon berusaha untuk mengklarifikasi. Hanbi menundukkan pandangannya setelah sadar Junmyeon memang mengakui rasa kecewa Hanbi padanya.

“Kau tahu, aku tidak benar-benar ingin pergi dengannya. Dia yang selalu mendekatiku. Aku bosan. Lagi pula dia hanya butuh uangku.” suara Junmyeon melembut. Ia meraih gelas wine di sisi gelas kosongnya lalu menegaknya. Hanbi akan memotong lasagna yang ia acuhkan namun ia mengurungkannya lagi.

“Perkamen itu-“

“Ah, maksudku kau membawa perkamen itu?” Hanbi langsung saja pada tujuan awalnya. Ia juga tidak terlalu tertarik membahas perasaan Junmyeon padanya. Ia hanya khawatir dengan kehidupan pria ini. Yah, Hanbi tentu masih memiliki empati sebagai seorang yang membenci pria. Junmyeon mendesah. Ia melepas peralatan makannya dari kedua tangannya. Ia tampak kecewa dengan tanggapan dingin Hanbi yang mengabaikan ungkapan perasaannya.

“Tentu aku membawanya!”

Bruk!

Junmyeon menghempaskan lembaran itu dengan kasar di atas meja. Air mukanya tampak kesal, namun Hanbi tidak menyadari hal itu. Mata wanita itu berbinar saat mendapati perkamen itu di depan matanya. Ia senang sekali bisa mendapatkannya dengan mudah. Tidak sulit jika orang itu adalah teman masa lalunya yang begitu ia rindukan. Tangannya menjulur begitu saja ingin meraih lembaran itu namun Junmyeon menahannya.

“Tidak, setelah kau menjawab pertanyaanku.” kini Junmyeon mengintimidasi Hanbi dengan tatapannya. Tampaknya ia sangat serius untuk meminta jawaban dari Hanbi.

“Pertanyaan apa? Kau bahkan tidak mengajukan pertanyaan apapun.”

“Tenanglah, aku baru akan mengatakannya.” sahut Junmyeon sembari terkekeh. Pria itu mengusap telapak tangannya sendiri di atas meja yang menindih lembaran perkamen itu. Ia terus menatap Hanbi berharap wanita itu tidak sabar menanti pertanyaannya.

“Jadilah tunanganku!” ucapnya cepat kemudian tersenyum licik pada Hanbi yang didapatinya tengah ternganga tidak jelas di depannya. Wanita itu seakan hilang akal. Junmyeon telah menyita idenya untuk beberapa detik setelah pernyataannya. Tubuhnya seakan pegal karena terus-menerus tegang saat bersamanya. Sungguh, Junmyeon yang dikenalnya dulu tidak sebrengsek ini seingat Hanbi. “Aku..” Hanbi ingin menyahut namun ia sudah terlanjur kehilangan kosakatanya. Apa iya ia harus melaksanakan rencana cadangan yang sebelumnya dibuat oleh pria bernama Lay itu?

“Kenapa?” tangan Hanbi tersentak saat sentuhan lembut jemari Junmyeon menyentuhnya. Hanbi menggeleng, leher dan keningnya sudah mengeluarkan keringat dingin. Otot-otot di sekitar telapak tangannya juga mulai melemah untuk menyingkirkan sentuhan itu.

“Hanbi, jika kau butuh bantuanku katakan saja. Aku tidak tahu kenapa seseorang mengirimiku pesan seperti ini? Kau dalam masalah? Apa ini juga tentang ibumu?”

“Jujur, jika saja kau mau jadi tunanganku. Semua masalahmu akan mudah terselesaikan di tanganku. Tolong, aku juga mengkhawatirkanmu Bi.”

“Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Sesekali memang aku juga memikirkan dimana kau berada dan apa yang kau lakukan. Aku hanya mendengar kabar ayahmu tanpa aku tahu dirimu. Kau bahkan tidak tinggal dengan beliau.”

Rasanya Hanbi merasa mual saat Junmyeon begitu menghormati ayahnya, padahal ia mengatakan sendiri telah mengetahui apa yang terjadi dengan ibunya. Tapi apa pria ini juga tahu siapa penyebab ibunya menghilang? Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan masalah itu lagi. Ia butuh perkamen itu. Tidak bisakah pria ini memberikannya dengan mudah?

“Tidak. Justru akan sulit menyelesaikan masalah jika aku terlibat hubungan denganmu.” sahut Hanbi tiba-tiba berubah dingin. Wanita itu tidak ingin melibatkan orang lain lagi untuk mengurusi masalahnya. Ia melepas kain di pangkuannya, mengambil tas jinjing yang ia letakkan di belakang kursi tempat duduknya dan beranjak bangkit.

“Hanbi-ya!”

Seketika Junmyeon berdiri dan menggandeng pergelangan Hanbi untuk mencegahnya pergi. Mata merahnya menandakan kekhawatiran yang luar biasa pada wanita itu. Dadanya bergejolak seakan tidak dapat merelakannya pergi. Bahkan pria bermarga Kim ini lupa akan janjinya berkencan dengan jalang itu ke Hawaii yang akan berangkat malam ini. Hanbi melepas genggamannya dan berlalu pergi, namun lagi-lagi Junmyeon menghentikannya. Bahkan pria itu dengan dada bidangnya berhasil menghadang Hanbi dari depan. Rentangan tangannya menandakan bahwa pria itu memang tidak ingin wanitanya pergi begitu saja. Memangnya apa salahnya?

“Jika kau ijinkan…” Junmyeon meraih telapak tangan Hanbi, mengangkatnya dan mengusapnya sejenak.

“Aku bisa mengerahkan orang-orangku untuk memburu penjahat yang telah menculik ibumu dan membiarkan kedua orangtuamu bahagia Bi. Please!”

Benarkan apa yang Hanbi khawatirkan? Pria ini benar-benar tidak mengetahui siapa dalang hilangnya ibunya di masa lalu. Apa pria ini telah mendapat berita palsu? Sepalsu wajah ayahnya yang menawan, namun ia memiliki hati begitu busuk.

“Heh, kau tidak tahu apa-apa. Lepaskan aku?” remeh Hanbi lalu menghempaskan genggaman tangan Junmyeon begitu saja.

“Bi-ya!”

Greb!

Hanbi membulatkan matanya saat tiba-tiba Junmyeon merengkuh tubuhnya. Ia mengeratkan pelukkannya seakan tidak mau lepas. Hanbi tidak bisa berkutik, ia hanya menggeliat tidak jelas di dekapan dada Junmyeon. Ia melihat tatapan orang-orang di sana begitu antusias seakan memiliki tontonan telenovela gratis. Ia harap rencana B yang Lay siapkan segera terlaksana sekarang.

Yah, sekarang.

Apa yang mereka tunggu?

“Lay~” lirih Hanbi putus asa.

Dimana pria itu? -dumal Hanbi dalam hati.

“Ehem..”

Tak lama Hanbi mendengar suara dehaman lirih di dekat mereka. Ia merasa pelukan Junmyeon mulai mengendur saat mengetahui seseorang berdiri angkuh di dekat mereka.

“Uhuk!” suara batuk Zitao yang dibuat-buat sedikit membuat Hanbi mengulum senyuman.

“Kalian siapa?”

Tanpa menjawab, tangan Lay dengan tegas mendorong tubuh Junmyeon untuk menjauhi Hanbi. Pria itu mengeraskan rahangnya saat memerima perlakuan tidak sopan dari orang asing. Jika saja ia tahu ego orang kaya seperti Junmyeon bisa saja membuat pria-pria ini masuk ke dalam kamar prodeo karena telah menyentuh dengan seenaknya.

“Hey!” Junmyeon balas mendorong dada Lay hingga terhempas. Zitao datang untuk menengahi. Tatapan tajam mata pandanya begitu menyeramkan di mata Junmyeon sementara ini. Tepatnya Zitao tampak seperti kriminal sekarang dan Lay adalah pimpinannya. Begitu pikir Junmyeon.

“Jangan menyentuhnya!” pekik Lay menyembunyikan Hanbi di balik tubuhnya.

“Maaf Tuan-tuan. Nyonya. Tolong jangan membuat keributan di dalam restoran!” tiba-tiba seorang manager restauran menghampiri mereka. Junmyeon mendesis kesal sambil mengkacak pinggang. Sedangkan Lay masih menatap pria itu dengan tatapan memicing sombongnya.

“Sekarang!” bisik Lay menoleh pada leher Zitao yang berada tak jauh darinya.

Zitao tahu apa tugasnya sekarang. Ia menyusup ke belakang tubuh Hanbi untuk mendekati meja. Ia melirik sekitarnya sana sini sebelum mengambil lembaran perkamen yang ditinggalkan Junmyeon di atas meja makan dan menyelipkannya di balik jas hitamnya. Sesekali ia melirik potongan lasagna di depan matanya yang begitu menggoda mata. Mengingat ia hanya memesan kopi, croisant dan scalop yang tentu membuat perutnya tidak terisi penuh, tangannya kini meraih sebuah sendok, memotong lasagna itu dan memasukkan potongan besar ke dalam mulutnya. Enak. Sayang sekali makanan seenak ini harus ia tinggalkan, pikirnya. Kini Zitao kembali untuk mengekor di belakang atasannya dan menyimak percakapan mereka lagi.

“Dia kekasihku. Jadi jangan menyentuhnya!” ungkap Lay yang seketika membuat Hanbi tersentak saat tangan hangat pria itu menyapa telapak tangannya. Dalam diam Hanbi benar-benar mengamati ekspresi wajah Lay yang dengan tegasnya mengatakan hal itu di depan Junmyeon. Ia yakin Junmyeon akan menyerah setelah mendengar pengakuan palsu Lay padanya.

“Inspektur brengsek!~” gumam Zitao lirih lalu menendang pelan betis Lay dari belakang tidak keras. Lay yang menyadari kekesalan Zitao hanya meringis di tempat tanpa berniat melakukan tindakan balasan atas perlakuan kurang ajar bawahannya.

“Permisi!”

Lay menarik tangan Hanbi pergi dari tengah restauran diikuti oleh Zitao di belakang mereka. Mereka tidak perduli tatapan orang-orang yang tertuju pada mereka. Haruskah tontonan drama telenovela mereka berakhir sekarang?

“Hanbi!” panggil Junmyeon yang langsung menarik pundak Hanbi dan muncul di hadapannya untuk menghadangnya pergi. Wajahnya tersirat akan kekecewaan dan kekhawatiran.

“Jangan bersandiwara Bi, kau tidak semudah itu menerima seseorang menjadi kekasihmu, kan?.” ungkap Junmyeon lalu menatap ke arah Lay sengit.

“Kau benar.”

Tanpa Lay sadari, wanita itu telah menarik sebelah tangannya yang tadi mengait Hanbi untuk diletakkan di pinggang wanita itu sendiri. Entah Lay hanya membiarkannya melakukan itu. Manik mata sipitnya mengamati gerakan dan ekspresi Hanbi saat itu. Hanbi menoleh padanya, namun tiba-tiba…

Cup!

Sebuah kecupan kecil di pipi kanannya melayang begitu saja dari bibir pinkish nude milik Hanbi. Jujur Lay tidak pernah meminta wanita itu untuk melakukan hal sejauh ini. Apa ini juga termasuk plan B? Atau wanita itu mempunyai rencana cadangan lainnya? Plan C mungkin?

Kini wajah Hanbi menjauh dan sejauh ini Lay masih merasakan ada yang janggal pada dirinya. Wanita yang ia kenal begitu dingin dan kerap berkata kasar itu mampu menggetarkan beberapa rangkaian heksagonal sistem syarafnya. Apa hal ini bisa dinalar? Bahkan beberapa saat tadi ia masih merasakan parfum Bvlgary yang ia ketahui saat wanita itu memakainya sesaat sebelum keluar dari mobil mereka.

“Dia memang kekasihku. Jadi berhenti berharap aku bisa menjadi tunanganmu Tuan Kim! Permisi.”

Kini giliran Hanbi yang mengait tangan Lay dan membawanya pergi dengan perasaan yang sulit untuk ia gambarkan. Ia terlalu memaksakan otaknya untuk berpikir bagaimana menyelesaikan permintaan Junmyeon. Pria itu baik, namun ia juga tidak ingin hubungan yang seperti ini. Bisakah pria itu jadi orang baik saja tanpa harus meminta menjadi miliknya? Hingga Hanbi harus melakukan hal bodoh seperti mencium pria lain untuk menjadi kekasih palsunya. Sudah, kepalanya telah pening dan tenggorokkannya terasa begitu panas. Ia ingin segera kembali ke rumahnya dan beristirahat. Kemudian memikirkan teka-teki bodoh lain dalam perkamen yang ia dapatkan dari Junmyeon.

“Bi?” untuk kesekian kalinya Lay memanggil Hanbi yang tidak pernah digubrisnya. Wanita itu terlalu sibuk dengan pikirannya.

“Aku ingin pulang! Cepat nyalakan mobilnya!” titah Hanbi yang langsung melepas tangan Lay dan meraih kenop pintu penumpang. Ia ingin duduk di belakang untuk mengistirahatkan pikirannya dari jalanan kota Seoul yang memusingkan.

Zitao mendekati Lay yang masih terpaku dengan tindakan Hanbi. Bingung? Yah, tentu saja. Apalagi Zitao sudah siap dengan omelan dan kepalan tangan yang ia sembunyikan erat-erat di bawah emosinya.

“Minggir!” ucap Zitao menyenggol pundak Lay untuk berlalu dari belakangnya. Zitao mengambil alih kemudi dan Lay duduk di sampingnya.

Hening.

Bahkan selama 10 menit mereka tidak melakukan percakapan apapun. Lay masih mengusap lehernya yang sedari tadi meremang tidak jelas. Mungkin karena udara malam yang dingin dan sedikit tidak enak badan.

“Bi, apa kau masih lapar? Kita bisa berhenti untuk mencari makan untukmu. Sepertinya kau tidak makan dengan baik di sana.” suara Zitao dibuat setenang dan selembut mungkin untuk memulai konversasi dengan Hanbi. Wanita itu tampak kacau saat meninggalkan restoran.

“Bi, kau?” panggil Zitao lagi sambil sesekali menoleh dan melihat kaca spion di atasnya.

“Astaga, Bi?”

CEKITTT!

Tiba-tiba Zitao memutar kemudi penuh untuk menepi dan berhenti di sana. Padahal di pinggir jalan telah tertera rambu-rambu dilarang berhenti. Melihat keadaan Hanbi ia sudah tidak perduli peraturan itu.

“Dia pingsan?” ucap Lay saat menoleh ke belakang. Namun Zitao lebih sigap, ia turun dari kursi kemudinya dan langsung masuk ke pintu belakang dan membangunkan Hanbi yang telah tergeletak lemas di jok panjangnya. Ia menggoyangkan bahu Hanbi sesekali menepuk pipinya agar tersadar namun wanita itu tetap tidak sadarkan lagi.

“Ini semua karena kau Boss. Kau terlalu memaksakan kehendakmu. Kau tidak memikirkan keadaan orang lain.” Zitao mengomeli atasannya begitu cerewet. Tentu ia sangat mengkhawatirkan keadaan Hanbi sepertinya, jika Zitao ingin tahu.

“Tapi ini juga untuk menolongnya mendapatkan perkamen itu Zitao. Kau-“

“Aku tahu, tapi keadaan Hanbi lebih penting sekarang. Maaf aku harus mengurus Hanbi di sini. Tolong kemudikan mobilnya! Kita harus pergi ke rumah sakit.”

Lay mendesah untuk kesekian kalinya. Ia tahu apa yang menjadi alasan Zitao kesal padanya. Yah ia berhak marah soal itu walaupun di sini Lay lah atasannya. Lay dengan cepat melajukan mobilnya mendahului kendaraan lain bahkan sebuah truk sekalipun. Mengingat kesehatan Hanbi, ia sadar kenapa perasaannya begitu tidak enak saat akan berangkat ke restoran itu. Nyatanya wanita itu begitu kuat menahan sakit selama ini untuk mendapatkan apa yang orang misterius perintahkan. Sebenarnya Lay juga menyadari tubuh Hanbi tidak baik saat menyentuh telapak tangannya yang bergetar dan hangat.

*****

“Hemoglobinnya rendah dan setelah meminum obat penurun panas tadi suhu tubuhnya membaik, yaitu mencapai 35 derajat dari suhu awal 38 derajat celcius. Asam lambungnya juga naik. Aku sarankan dia makan lebih teratur. Dan sepertinya ia belum makan.”

Penjelasan seorang dokter umum di klinik yang mereka temui di tengah perjalanan mereka membuat Zitao bernafas lega. Ia sempat menolak saat Lay ingin memeriksakan Hanbi di tempat ini. Tapi karena jarak rumah sakit yang masih terlalu jauh dan kondisi Hanbi yang semakin mengkhawatirkan, akhirnya Zitao menurutinya.

“Apa dia boleh pulang sekarang?” tanya Lay kemudian yang membuat Zitao kembali bernafas naga.

“Jangan mulai lagi Boss. Kau hampir membuatnya mati.” ucap Zitao geram sambil mencengkeram kerah Lay lalu menghempaskannya dengan kasar.

“Sudah, jangan bertengkar di sini!” lerai dokter bernama Choi Siwon yang tertera dalam name tag-nya.

“Dia bisa pulang setelah menghabiskan sisa infusnya. Mungkin membutuhkan waktu 2 jam jika kalian menunggu. Aku akan buka jam praktekku lebih lama malam ini untuk kalian bisa menungguinya.” lanjut dokter itu. Kedua orang yang berseteru tadi hanya memalingkan kedua wajah mereka masing-masing. Dokter Choi yang mendapati mereka merasakan keganjalan yang aneh di antara mereka.

“Maaf jika boleh tahu, siapa kalian yang telah mengantar wanita ini?”

“Apa kalian habis berkencan?” tambahnya.

Karena tidak ada satupun yang menjawab, dokter Choi hanya mendesah jengah. Tampaknya mereka memiliki problema pribadi yang tidak bisa mereka selesaikan. Ia tahu seorang dokter tidak berhak mencampuri masalah pribadi seseorang, namun wanita ini pasiennya sekarang. Tidak bisakah ia sedikit memiliki informasi mengenai riwayat kesehatannya atau apa yang wanita ini lakukan bersama mereka?

⌚1 hour later⌚

Tik.. Tok.. Tik.. Tok…

Suasana klinik dokter Choi sudah tampak sepi dari pasien yang berobat. Hanya Hanbi yang masih belum sadar di tempat pembaringan beserta kantong infus di sana. Zitao terduduk di lantai dengan jas hitamnya yang tersampir di atas meja pemeriksaan dokter Choi dengan tidak sopannya, sedangkan Lay dengan mata terkantuk-kantuknya duduk di kursi membaringkan kepalanya di meja sambil  memainkan pena sesekali melirik jam tangannya untuk menghitung waktu mundur.

Dokter Choi?

Entah dia sedang pamit ke toilet dan belum muncul kembali.

“Wae? Apa yang kalian lakukan di sini?”

Suara serak dari arah pembaringan membuyarkan kegiatan monoton mereka dan beranjak bangkit bersamaan untuk menghampiri wanita bernama Lee Hanbi yang menjadi pusat permasalahan mereka. Tidak seperti Zitao, Lay datang dengan langkah malas-malas di belakang Zitao. Ia hanya merasa canggung untuk berbaur seperti biasanya. Hey bukankah Zitao hanya bawahannya? Lebih tepatnya bukan untuk Zitao namun pada wanita itu.

“Aku ingin pulang!” rengek Hanbi mencoba melepaskan sambungan infus di punggung tangannya namun Zitao mencegah.

“Tunggu sebentar lagi, habiskan infusmu untuk beberapa saat. Kau tahu, wajahmu pucat sekali.” ucap Zitao khawatir. Melihat kekhawatiran Zitao, Hanbi hanya mendengus kesal. Ia jijik dengan perlakuan Zitao yang memperlakukannya seperti anak kecil. Mengabaikan Zitao bola mata Hanbi justru mengamati sosok Lay yang berdiri tak jauh dari ranjangnya. Pria itu tampak tidak perduli apa-apa, tidak seperti Zitao yang cerewet.

“Hey, kau!” panggil Hanbi sinis. Lay melirik, ia hanya merasa Hanbi sedang berbicara padanya. Ia menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan. Matanya mengernyit heran saat Hanbi hanya menuding wajahnya dengan telunjuknya dari kejauhan.

“Apa?”

“Cuci wajahmu bodoh! Ada bekas lipstikku di sana. Tsk..” Ujar Hanbi dengan masih menatap kesal Lay. Ia geli dengan bekas bibirnya sendiri yang tidak pria itu ketahui masih menempel di sana. Lay mendesis kesal lalu melepaskan jas berwarna putih susunya dan melemparkannya dengan sengaja di dada Zitao lantas melenggang pergi menuju pintu bertuliskan anak panah toilet di dinding.

“Bagaimana? Kau sudah baikan?”

Sementara Lay mendengar celotehan menggelikan Zitao, ia berpapasan dengan dokter Choi yang kebetulan kembali dari toilet. Dan hal sama yang dilakukan Hanbi padanya, dokter itu menunjuk pipi kanannya dan mengisyaratkan Lay untuk memeriksanya sendiri.

Sial!-umpat Lay dalam hati

Ia mendorong pintu masuk ke dalam toilet dengan kesal. Ia melihat sebuah wastafel dengan cermin di sana. Lay menggulung kedua lengan kemejanya hingga diatas siku dan mengadahkan telapak tangannya di bawah keran. Ia menyalakannya dan aliran air dingin langsung mengguyur telapak tangannya.

“Dia memang kekasihku. Jadi berhenti berharap aku bisa menjadi tunanganmu Tuan Kim! ….. “

Kalimat pekikan suara Hanbi tadi masih terngiang di telinganya.  Ia menatap cermin yang menggambar raut wajahnya. Sekelebat bayangan Lian tiba-tiba muncul bersamaan dengan konversasi pertengkaran mereka. Lay tidak tahu kenapa wanita itu begitu menginginkan Lay untuk menghindarinya.

“Jika kau memang kekasihku, tolong jangan ganggu aku! Pergilah!”

Pernyataan Lian barusan memang berbanding terbalik dengan apa yang Hanbi akui untuknya. Harusnya kekasihnya melakukan hal sama yang dilakukan seorang sepasang kekasih. Lay benar-benar mengharapkan hal itu untuk sekian lama semenjak perubahan sikap Lian padanya.

Lay mengusap wajahnya frustasi hingga menghancurkan tatanan rambutnya. Ia baru menyadari bekas lisptik itu setelah sebuah bercak berwarna pink menempel di jari tangannya akibat aksi brutalnya. Lay tidak mau ambil pusing lagi. Ia membiarkan semua bersih seperti semula. Abaikan Lian untuk sementara, mungkin adalah awal yang lebih baik.

*****

Zitao masih menatih Hanbi memasuki rumahnya setelah Lay memasukkan password dan membukakannya untuk mereka. Tanpa berniat membantu, Lay melenggang menuju dapur untuk mengambil air minum. Sungguh tenggorokkannya terasa kering sejak menunggui wanita itu sadar di klinik. Ia sedikit melirik betapa repotnya Zitao membantu Hanbi. Sesekali ia menemukan Zitao memicing sinis padanya dan Lay hanya mengabaikannya. Waktu hampir menunjukkan tengah malam saat mereka sampai di kediaman Hanbi.

“Hey, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri, brengsek!” umpat Hanbi saat Lay ketahui Zitao tengah memaksa menggendong Hanbi untuk menuju kamarnya di lantai dua.

“Aku rasa mulai hari ini kita harus tinggal di dekat Hanbi.” ucap Lay setelah sekembalinya Zitao dari mengantar Hanbi kemudian mendudukkan pantatnya di sofa di seberang Lay merebahkan diri.

“Aku sudah bilang pada Hanbi barusan.”

“Dia pasti menolak!” terka Lay.

“Tidak.” sahutan Zitao barusan membuat Lay terperanjat dan mendudukkan tubuhnya.

“Tidak apa-apa jika kita membantunya menyelesaikan teka-teki kencannya.”

“Huh, sudah kuduga.”

“Aku harap Boss tidak berbuat sesuatu lagi untuk memanfaatkan kesempatan mencuri perhatian Hanbi.” ungkap Zitao dengan nada kesal.

“Hey, dia yang menciumku. Aku tidak memintanya. Cih.. Dasar!”

“Aku bekerja dengan profesional Huang. Tolong jangan jadikan perasaan pribadi mencampuri misi kita. Kau tahu prinsip seorang agen, bukan?” lanjut Lay dengan nada penuh penekanan. Ia sudah bosan mendengar celotehan Zitao tentang kecemburuannya. Ia pikir Zitao harus berbenah diri.

“Seharusnya aku yang memperingatkanmu.” dumal Lay lalu merebahkan tubuhnya lagi di sofa panjangnya.

“Boss!”

“Tidur! Aku lelah untuk hari ini.”

*****

Pagi ini sinar mentari tinggi lebih cepat, tepat pukul 7 pagi jalanan di sekitar kawasan apartemen Hanbi telah padat kendaraan. Nyatanya musim panas tahun ini menjadi favorit orang-orang untuk mulai bekerja lebih pagi. Tak terkecuali agen yang bernama Zitao ini, ia bahkan telah bangun dan menyelesaikan kewajiban paginya dalam bangku toilet. Entah, ia merasa sedikit tidak enak badan dan mual saat terbangun.

Suara keran air yang berhenti dilanjutkan dengan putaran kenop pintu kamar mandi bawah menampilkan wajah Zitao yang bernafas lega. Ia menyapu seluruh ruang tengah bersofa tempatnya tertidur tanpa bantal karena sang inspektur telah menyita seluruh bantal di sekujur tubuhnya karena mengeluhkan sakit punggung.

“Boss?” panggil Zitao saat mengetahui sosok atasannya telah menghilang dari sofa semenjak ia tinggalkan ke toilet.

“Ck, kebiasaan! Dasar inspektur jorok!” ia memulung potongan kemeja Lay di bawah meja dan menemukan celana kainnya di atas meja seperti yang pria itu lakukan pertama kali di rumah ini.

Zitao merasa ada yang janggal saat tidak menemukan sosoknya di seluruh ruangan ini?

Keluar?

Tidak mungkin ia keluar dengan menanggalkan bajunya seperti ini, kan?-pikir Zitao.

Pip.. Pip.. Pip.. Pip…

Zitao mendengar suara kode pintu apartemen terbuka. Ia mengira inspekturnya benar gila jika berjalan-jalan di luar tanpa pakaian. Belum Zitao menyambut, seseorang sudah muncul dengan pakaian lengkap berkemeja berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam.

“Kau Luhan kan?” sapa Zitao heran.

Jika yang datang Luhan, dimana keberadaan inspektur gila itu?

“Apa sekarang kau tinggal di sini?” tanya Luhan. Bahkan pria itu tidak kaget saat menemui Zitao tengah bertelanjang dada dan hanya berbalut singlet di depannya.

“Sementara, hanya untuk menja-“

“Dimana Hanbi? Aku ingin menemuinya.” potong Luhan dan langsung melangkahkan kakinya ke tangga menuju lantai kedua.

“Sepertinya dia belum bangun. Kemana kau pergi selama ini? Kau sudah menyelesaikan masalah di cafe itu?” cerewet Zitao mengekori Luhan. Namun sayangnya Luhan bahkan tidak menggubris pertanyaan pria jangkung ini.

“Aaahh… Pelan-pelan!”

Seketika Zitao melebarkan kedua matanya mendengar suara mirip Hanbi. Atau mungkin memang Hanbi karena mereka mendengarnya tepat setelah sampai di depan pintu wanita itu.

“Hnn?” gumam Luhan yang juga mendengar suara itu. Kini Zitao dan Luhan saling beradu pandang.

“Tahan sebentar, aku hanya menggoyangkannya sedikit!”

Mereka bergerak cepat mendekatkan telinga mereka di muka pintu berbahan kayu mahone yang menyekat kamar Hanbi. Baik Luhan maupun Zitao sama-sama mendumal dan bertengkar dalam bisik. Jantung Zitao sudah berolahraga semenjak suara pekikan itu terdengar di telinganya.

“Dasar inspektur gila, cih!” umpat Zitao.

“Zhang di dalam?” tanya Luhan masih dengan perasaan bingung dan was-wasnya.

“Ahh, jangan di situ!”

“Tunggu!” cegah Luhan saat mengetahui Zitao akan membuka pintu. Ia mencegah bukan berarti tidak memperbolehkannya masuk.

“Tenang dulu, kita tidak boleh berpikir negatif. Oke! Ada baiknya menunggu mereka keluar dan mendengar penjelasan dari mereka.” ucap Luhan sok bijak. Ia sedikitnya tahu watak Hanbi tidak akan berbuat sejauh otak kotor yang mungkin dipikirkan manusia bernama Zitao ini.

“Kau gila? Dia sepupumu!” pekik Zitao dalam bisik. Ia terlihat begitu emosi mendengar ide konyol Luhan untuk menunggu.

“Lebih gila lagi jika kita-“

“Aaww.. Lay, please aku sudah tidak tahan!”

“Kita berdua yang gila jika membiarkan mereka bercinta. Dasar bodoh!”

CEKLEK!

TBC…

Note:

Aku cuma mau bilang ini terakhir yah udah aku kasih bonus sekali nih.. Mungkin seminggu setelah dipost aku bener2 akan kirim delete request-nya. Jika memang masih mau baca, kuy cari aja via wattpad yah di @elisabethbyun. Di lanjutin di sana kok..

Tolong hargai setiap author dengan meninggalkan jejak kalian.. Author juga manusia gaes..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s