[EXOFFI FREELANCE] Everything Has Changed (Chapter 12)

Title |Everything has Changed

Author|RHYK

Cast|               Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jisoo ‘BlackPink’ as Arial Ahn

Additional Cast| Hye Ri ‘Girls Day’

                                 DK ‘SVT’

                                 Yuju ‘G-Friend’

                                June ‘Ikon’

                                Jun ‘SVT’

                                    Sejong ‘Gugudan’ as Huijin

Length|Chapter

Genre| AU – Romance –Sad –Collage life –Fluff –Friendship

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks! Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

POSTER| by rhayk

Autor Note’s| CHAPTER PROTEKSI BISA MINTA PASSWORDNYA KE GOT TO PASSWORD SAMA ADMINNYA. OKAY?

**Chapter 11 perlu dibaca karena kalo enggak akan melewatkan sesuatu yang penting!**

Quotes| Karena.. semuanya telah berubah dan tak sama lagi.

Previous Chapter|Unique Girl >>  Suck Feeling >> Gemintang >> Value >> Punishment >> Sick or Secret? >> The End of Us >> Lost >> Sweetest Kiss >> Wedding Dress >> She is pregnant >> No More happy [now]

Summary this Chapter|

“Apa sahabat wajar untuk dirindukan?”

-=12=-

Arial Ahn side’s

Kejadian terakhir saat pesta prompt bukanlah imajinasiku yang terlalu liar ataupun mimpi para fans Sehun yang ingin diakui dengan status pacar olehnya, namun setelah dia mengantarku untuk pulang ke Rumah Besar keluarga Oh ia mengatakan bahwa kalimat itu hanya untuk membuat semua rekannya terdiam dan tak banyak bertanya.

Ya, aku tahu akan sedikit keterlaluan jika saja kalian yang merasakan ini –apalagi jika kau mempunyai perasaan lebih dari teman, kata-kata yang kata Sehun adalah sebuah gurauan bisa berakhir dengan penyiksaan mental.

Seperti depresi misalkan saja, lalu bagaimana denganku? Hyeri bertanya padaku pagi harinya dimana ia menemukanku hanya melamun dibalik selimut tanpa aku sadar bahwa aku sama sekali tidak tidur setelah aku memintanya untuk  mengantarku pulang ke rumah besar dengan alasan ingin melihat Luhan dan juga menyapa Huijin yang sedang ujian –apa kondisiku akan masuk pada depresi? –Oh tidak, sama sekali bukan depresi, hanya saja itu sedikit membuatku terkejut dan kehilangan akal untuk sesaat.

Tapi, setelah berhari berlalu atau mungkin saja minggu berlalu dari malam pesta prompt aku tidak lagi bertemu dengan dia.Seakan kesibukan menenggelamkan segala luang waktu dan kesempatan kami untuk sekedar bertukar kabar walau hanya dengan stiker SNS atau sapaan ‘kau tidur?’ yang jadi pertanyaanku kini adalah Sehun yang terlalu sibuk atau Aku yang selalu lupa untuk membalas chat line darinya? Mungkin –keduanya adalah jawaban yang benar.

Sejak kami memulai kuliah di tempat yang berbeda, dengan minat yang berbeda seringkali aku merasa bahwa Sehun tidak lagi menganggap penting apapun yang ada hubungannya denganku.Atau mungkin saja –aku yang merasa seperti itu, tidak tahu. Hanya saja, rasanya sedikit sulit dan aneh memulai aktivitas harianku sendiri tanpa ada Sehun disana, entah hanya kehadirannya atau mungkin campur tangan bala bantuannya untukku mengerjakan Tugas.

“Kau melamun lagi?Apa ada masalah –akhir-akhir ini kau selalu begitu, Nona Ahn.”sapa suara yang membuat hatiku untuk sejenak tenang ketika mendengarnya, dibalik hiruk-pikuk kehidupan kampus yang amat melelahkan dan juga agak merenggangnya hubungan persahabatanku dengan lelaki arogan itu, suara Luhan adalah yang terbaik untuk didengar, bahkan indahnya mengalahkan suara pemain drama musical yang sering aku tonton bersama dengan Luhan akhir-akhir ini.

Kami bersama untuk pergi ke arena Taman bermain yang tak jauh dari pusat kota Seoul, aku melirik Luhan yang mulai memakan pancake mini rasa madu yang ia beli, sementara aku hanya menyesap jus jeruk yang es –nya sudah mencair karena terlalu lama menunggu Luhan untuk bermain arena adrenalin. Dan, aku juga baru menyadari bahwa kesukaan kami ada beberapa yang saling bertolak-belakang, salah satu dari banyak adalah soal selera makan dan juga minum. Sedangkan Sehun, bukan orang pemilih jika sedang bersamaku, ia akan tetap memakan apapun dan meminumnya, meski aku tahu ia tidak begitu suka –sedangkan aku suka, tapi aku tak pernah memaksanya untuk mengikuti seleraku, Sehun adalah lelaki dan juga sahabat yang seperti itu.

“Jika aku boleh jujur padamu, oppa.

Luhan menoleh kepadaku sambil menatapku penuh penantian –seakan ia selalu penasaran dengan setiap inchi perasaanku. Ia seakan ingin selalu tahu banyak, namun aku malah membuat dinding dan mencegah Luhan untuk menyentuh dinding itu. “Ya?”

“Apa sahabat wajar untuk dirindukan? Entah bersama Sehun menjadi kebiasaan yang membuatku candu atau memang karena tugas-tugasku yang menumpuk di kampus, aku rindu pada saat kami masih di sekolah yang sama, itu cukup membuatku mempunyai alasan untuk belajar semangat hingga lulus, tapi –seperti sekarang ini, dan seterusnya akan begitu, aku rasa agak sulit menghilangkan kebiasaan untuk bergantung terus padanya.”

Aku bahkan tak dapat memahami situasi –karena aku kini dengan pacarku dan juga kaka dari Sehun, rasanya sulit membagi keadaan menjadi dua, aku sendiri bingung menempatkan kapan waktu yang tepat untuk memberi tahu Luhan apa yang mengusik pikiranku dan juga mencoba untuk memahami Luhan sebagai seorang pria.

Membuatku merasa menyesal karena sudah mengatakan semuanya pada Luhan tanpa ada beban, ia menatapku dengan sedikit intens, ia selalu hangat saat menatapku namun kali ini  terlihat lebih serius dari yang biasa. “Jika kebiasaan bergantungmu sulit untuk dihilangkan, maka bergantunglah padaku, Arial.”

huh?

“Kau bisa bergantung padaku, sampai hidupku selesai. Jadi, Ahn Arial –ssi ­kau mau menikah denganku?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan Luhan yang membuatku lagi-lagi tak berkedip, apa hobi kakak –adik ini adalah membuat orang jantungan?Kenapa, semuanya dikatakan tanpa melihat situasi.Luhan masih menatapku, menunggu jawaban apa yang aku berikan untuknya, ini adalah sebuah hal yang patut difikirkan secara baik-baik, dan sebuah pernikahan dengan orang yang dicintai pasti adalah impian setiap insan manusia, tak terkecuali aku yang sudah menemukan Luhan dengan segenap keberuntungan yang tak dapat dengan mudah oleh orang lain, singkatnya –aku sungguh beruntung untuk dicintai tanpa syarat oleh pria yang hampir sempurna seperti Luhan.Itu adalah berkat terbaik yang diberikan oleh Tuhan untukku, walau tentu saja berkat itu tak pernah ada bandingannya dengan Sehun yang hadir beberapa tahun lebih awal dari Luhan dalam hidupku.Dan, aku tidak ingin menjadi serakah untuk memiliki keduanya, setidaknya Sehun selalu akan ada untukku sebagai sahabat, dan orang yang di sampingku ini akan menemaniku seumur hidup, boleh jadi seperti itu bukan?

Setelah membuat Luhan menunggu, akhirnya aku mengangguk sambil berucap, “Tentu saja, penolakan tak akan sampai dua kali bukan?”

Luhan tertawa senang mendengar jawabanku, ia segera menarik diriku kedalam dekapannya, ia mengelus suraiku penuh kelembutan.Seakan lelaki itu benar-benar yakin padaku untuk menghabiskan sisa hidupnya denganku, tanpa ada penyesalan seperti yang terkadang Sehun ucapkan ketika ia sedang kesal padaku. “Benarkah?ah,kau membuatku hidup, Arial.Aku kira kau akan menolak lagi seperti pada festival musim semi.”sindir Luhan, yang membuatku tak bisa menyembunyikan rona merah dipipiku.

“Sepertinya, jika menolak hal baik dua kali –aku akan sial nantinya.”kekehku sambil memandang Luhan yang masih menatapku jenaka.

**

Normal side’s

Sampai hari sejak terakhir Luhan melamar Arial, gadis itu belum juga bertemu dengan Sehun.Padahal, ia sendiri sudah berjanji pada Luhan untuk memberi tahu berita bahagia itu dari mulutnya dan bukan dari Luhan.Mungkin akan menyenangkan mengejutkan Sehun dengan berita ini. Begitulah kata Arial, saat Luhan akan mengabari Sehun masih dihari yang sama saat lelaki itu melamar gadis unik nya itu.

Gadis itu mendesah pelan begitu melihat isi chat yang mengatakan bahwa pertemuannya dengan Hyeri di café saat mereka kumpul waktu SMA batal dengan alasan Hyeri melupakan laporan yang harusnya dikumpulkan hari ini, dan Arial? Tentu saja ia masih malas, namun berkat Sehun yang selalu mengomelinya tiap hari lewat telpon membuat gadis itu jadi rajin mengerjakan tugasnya.

Hanya rajin sebatas itu.

Tapi, sepertinya itu sudah lama sekali –tentang Sehun yang sering menghubungi gadis itu lewat via suara.Kini, setelah atensinya sempat memusat pada Hyeri yang membuatnya menunggu di café selama hampir sejam, fikiran Arial teralihkan begitu melihat jendela chat nya dengan Sehun yang tak jarang ia hapus, kecuali chat tak dapat di back –up.

Ia sempat berfikir untuk memulai chat namun mendengar kabar dari Sanha yang kebetulan satu kampus dengan Sehun namun fakultasnya bersebelahan membuatnya tahu bahwa fakultas Sehun sedang sibuk akhir-akhir ini.Jadi, ia mengurungkan niatnya untuk memberi kabar pada Sehun.

Tok tok!

Seseorang mengetuk meja dimana Arial sedang melamun, kemudian fikiran gadis itu buyar ketika melihat sosok pengetuk meja tadi duduk dihadapannya, ia hanya sendiri kali ini.Lelaki itu tersenyum lebar pada Arial, namun kali ini lelaki itu terlihat lebih dewasa –jauh berbanding saat mereka masih dibangku sekolah sekitar beberapa bulan lalu. “Seokmin –ah? Oraeman..”

“Yaa, oraemanida, Rial –ah. Sedang apa di sini?”sapa lelaki itu yang diakhiri dengan tanya.Arial hanya tersenyum kecil begitu melihat perubahan besar pada diri lelaki yang tak pernah bisa mengakui bahwa ia kalah telak dari Sehun, lelaki yang selalu ingin membuat Arial menjadi nomor satu dihatinya, lelaki yang tak pernah menyerah meski ditolak hampir puluhan kali oleh Arial, kini seorang lee seokmin yang sedang ada dihadapannya adalah seorang pria beristri yang hampir menjadi orang dewasa yang normal untuk kebanyakan, Arial cukup merasakan perubahan itu atau memang akhir-akhir ini ia selalu merasa sensitif terhadap perasaannya sendiri. Arial terlalu sibuk bergumul dalam hati, hingga tak sadar bahwa Seokmin kembali bertanya hal yang sama, “Yaa.Aku tanya padamu sedang apa di sini?apa dengan Sehun?”

Arial gelagapan begitu mendengar nama Sehun tersebut, “eoh?Sehun? –tidak, kami tidak bersama sekarang.”

“Apa maksudmu?Memang kalian pacaran?” Seokmin mengernyitkan dahinya tak mengerti, membuat Arial segera menyilangkan tangannya, ah, Sehun hampir membuatnya frustasi  “Bukan, maksudku adalah kami tidak kuliah di kampus yang sama, kami memutuskan untuk kuliah dengan minat kami masing-masing. Bagaimana kehidupan pernikahan kalian?Apa menyenangkan?Yoo Joo adalah gadis impian para pria satu sekolah, kau tahu bukan?”

Arial menggoda Seokmin, berusaha untuk menghibur lelaki itu, karena apa yang Arial lihat dari matanya adalah sorot mata yang hampir ia kenal sebagai pribadi ceria yang aneh selama tiga tahun kini berubah menjadi muram dengan kefrustasian yang seakan memuncak namun tetap ia sembunyikan dengan baik.Apa pernikahannya dengan Yoo Joo hampir tidak berjalan baik, ataukah tidak sama sekali berjalan baik?

Seokmin meminum segelas air putih yang disediakan waitress tepat saat ia tiba barusan dan kemudian menatap Arial sambil mengulas senyum pahit. “Bertapa menyenangkannya membuat pria di luaran sana iri padaku karena telah menikah dengan Yoo Joo, jika lelaki itu tahu bahwa hukuman terberat dalam melukai wanita adalah hal yang sepadan akankah mereka berhenti untuk menyakiti wanita?Sedikit frutasi karena harus menuruti keinginannya yang aneh.”

“Hukum karma itu berlaku untuk mereka yang tak mengerti peringatan Tuhan.Jalani saja semampumu, Tuhan hanya sebentar mengambil kebahagiaanmu.Dan, wanita hamil memang seperti itu, ibuku bilang bahwa itu adalah bawaan bayi, jadi –jangan salahkan Yoo Joo.”dengus Arial sambil menyesap minuman miliknya yang hampir habis. “Bagaimana, jika saja –kebahagiaanku ada padamu, Rial –ah?”tanya Seokmin begitu serius,membuat Arial seketika terdiam, selang sedetik tawa lelaki itu meledak. “Bercanda. Lihatlah, kau bahkan selalu panik ketika dibilang begitu.Apa Sehun tak pernah tertawa seperti ini ketika melihat wajah blank mu?”

“Dia itu –manusia dengan pengendali ekspresi terbaik.oh ya, aku akan menikah dengan kaka tiri  Sehun bulan April nanti.”

ah, CEO Ohesang Grup, Xi Luhan?Lelaki oriental itu?”

eo.wae?

“Tapi, wajahmu tak menggambarkan seperti seorang yang habis dilamar. Kau harusnya bahagia karena kalangan orang pintar dan cerdas yang menaksirmu, Arial. Wajahmu, tak sebahagia itu, sangat jauh dari ekspektasi yang aku sering lihat dalam drama, ketika wanita di lamar oleh kekasihnya.”

Keadaan canggung seiring obrolan mereka yang tampaknya menjadi tak bersahabat, Seokmin memilih untuk memesan minumnya langsung ke table order untuk menghindari atsmofer yang membuatnya semakin aneh ketika berjumpa lagi dengan Arial, tentu setelah pelaksanaan pernikahannya usai dengan Yoo Joo, ini adalah kali pertama mereka bertemu lagi.Tak sampai sepuluh menit lelaki itu ke table order dia sudah kembali dengan dua gelas coffe isi es dengan white cream diatasnya, ia memberikan satu gelas untuk Arial dan kembali duduk di bangku yang sama. Arial hanya mengaduk coffenya seperti orang yang hilang arah, sementara Seokmin membuka layar ponselnya dan mengetikkan beberapa kata sebelum akhirnya layar ponsel itu kembali mati dan ditaruh di atas meja.

Arial dihantui rasa penasaran, mengapa bisa Seokmin berubah menjadi begitu dingin padahal asal ada Arial didekatnya ia akan segera update instagram tapi sekarang menjadi Sehun kedua. Arial tak pernah benar-benar mempunyai niat untuk bertanya namun tiba-tiba bibirnya nyeletuk begitu saja, “Apa… Yoo Joo sangat bahagia saat kau mengajaknya menikah?”

Seokmin hanya menatap dengan pandangan menerawang jarak jauh seakan ia kembali mengingat hari yang mungkin saja bersejarah dalam hidupnya, namun anehnya tidak pernah ada garis bahagia dalam raut wajah lelaki itu kini.Seakan, Seokmin yang Arial lihat kini adalah hasil cloning yang tak berhasil membuat ekspresi wajah. Deruan nafasnya terdengar begitu rendah, seakan menandakan lelaki itu tak benar-benar bahagia dengan kehidupannya yang sekarang,membuat Arial diam-diam menyesali telah bertanya seperti itu pada Seokmin.

Arial side’s

Benar. Seokmin yang katakan memang tak salah namun juga tak sepenuhnya benar, bahwa yang ia katakan aku tak sebahagia gadis yang dilamar kekasihnya pada umumnya, ini memang aneh, atau mungkin saja itu adalah efek dari kegelisahanku karena belum memberi tahu Sehun soal pernikahan mendadak nya dengan Luhan.Aku bahagia dengan lamaran Luhan yang ia lakukan tempo hari untukku, namun memang nyatanya selalu ada sisi diriku yang lain seakan tak menerima kabar bahagia itu.

“Wajah gelisahnya sirna begitu aku bilang akan menikahinya. Setelahnya ia menangis.”jawabnya setelah terdiam agak lama, ia kemudian mengalihkan fokusnya padaku yang masih termenung dengan jawaban Seokmin. Aku mengerjapkan mataku, menyentakkan tubuhku kebelakang, “ah, begitukah?tapi –sepertinya aku belum bertanya padamu sedang apa di sini?Kau tak mungkin secara kebetulan dan bertemu denganku di sini, kan?” Aku mengalihkan topik pembicaraan, agar atsmofernya tak canggung lagi. Seokmin mengangkat alisnya, sepertinya ia juga baru ingat bahwa tujuannya ke sini memang bukan bertemu denganku.

“Aku akan bertemu dengan dokter kandungannya Yoo Joo.”

Aku mengangguk mengerti mendengar jawaban Seokmin dan segera beranjak, mengingat aku juga akan mengecek kondominium Sehun, mungkin akhir pekan kali ini ia ada di sana. “Baiklah, jika nanti Yoo Joo akan melahirkan tolong kabari aku, jika tidak sibuk aku akan usahakan ke sana.”

Seokmin benar-benar hanya mengangguk dan tak menahanku sama sekali. “Baiklah. Hati-hati.”

“Pernikahanku sepertinya tidak akan mewah dan hanya ada upacara sederhana yang dihadiri keluarga, jadi, aku harap kau tak marah padaku.”

Um,baiklah. Tidak apa-apa. Lagipula, kenapa harus repot menikah dengan orang yang berbeda warga Negara?Bagaimanapun, aku harap kau akan bahagia.

Gomawo,seokmin –ah.Aku pergi duluan kalau begitu.”

Dia sama sekali tak memanggilku, sampai aku keluar dari cafe, membuat aku sadar dengan amat sangat, bahwa kebahagiaan seseorang terletak pada seseorang lainnya. Membuatku ikut berpikir, jika selama ini kebahagiaanku terletak pada kedua orang itu, dan kebahagiaan Luhan ada padaku, lalu apa benar, kebahagiaanku yang tersisa ada pada Luhan? lalu –bagaimana dengan Sehun?Siapa kira-kira yang menjadi bahagianya Sehun, selain ibunya?Siapa wanita yang beruntung itu?

**

Aku menekan bel intercom yang tersambung ke dalam kondominium Sehun,setelah menekan bel dan tidak ada jawaban, tanganku menekan beberapa digit nomor sebagai password pintu namun salah, entah sejak kapan lelaki itu menggantinya, membuat aku hanya tertawa tak percaya. “Sial!

Namun merutuk seperti itu membuatku tiba-tiba saja merasa diabaikan oleh sahabatku sendiri, memang haknya mengganti password pintu namun, bukankah keterlaluan setelah dengan ilegal ia memakai tanggal ulang tahunku untuk password nya dan sekarang tanpa memberi tahu aku dia menggantinya dengan kode lain? Entah karena terlalu lelah atau mungkin kelewat kesal dengan sikap Sehun yang mendingin tiba-tiba saja, membuat kakiku serasa lemas dan diwaktu yang sama aku malah menitikkan air mata. “Oh Sehun, kau benar-benar menyebalkan!”

**

Sehun side’s

“Aku akan menikah dengan Arial pada bulan Desember nanti.” Itulah yang keluar dari bibirnya pada saat menemuiku di sebuah siaran stasiun televsi.Dulu, aku begitu menjadikan pria yang lebih tua sekitar empat tahun dariku ini sebagai panutan, namun seakan keadaan dan waktu yang merubah kami.Terdengar klise alasannya, jika perubahan yang terjadi antara kami adalah karena seorang gadis.Gadis yang sudah ada dalam kehidupan kami sejak bertahun-tahun lamanya.

Suara penelfon pada tempo hari itu masih dengan jelas mengiang di telingaku yang hampir peka karenanya.”Apa kau, ada menemui Arial hari ini?” Kini, dia menanyakan keberadaan gadis itu padaku, apa itu terdengar masuk akal? Seseorang yang akan menikah malah tidak tahu keberadaan wanitanya sama sekali, apa ia berniat untuk memulai peperangan?

“Dia sedang berkumpul dengan teman SMA, aku akan menyuruh Hyeri mengabarimu jika nanti Arial sudah tiba di flat mereka–hyung.” Sambungan segera aku putus tanpa perduli lagi dengan dia yang masih ingin banyak bicara di sana. Berikutnya, aku kembali menempelkan benda tipis itu ditelingaku, menelpon seseorang yang akan diajak berkompromi kali ini. “yeobseyeo?Sehun –ah, wae geurae?”

“Tolong, kabari namchin –nya Arial dan bilang bahwa Arial sudah ada di flat kalian, aku bilang padanya bahwa kalian habis bertemu hari ini.Tolong sampaikan seperti yang aku katakan pada dia, Hyeri –ah.”

“Tapi, kenapa?”

“Bantu aku kali ini.”

Beep

Sambungan telfon berakhir sampai sana, aku hanya menyembunyikan diriku dibalik tembok menuju kondominiumku,jaraknya cukup jauh dari elevator sehingga ia tak cukup menyadari bahwa aku selalu berdiri di tempat yang sama dalam kurun waktu akhir-akhir ini. Pertama kali, dia hanya sekali mengetuk pintu kamarku dan pergi, lalu waktu berikutnya ia menungguku selama 15 menit dan setelah itu pergi sehabis menerima telfon dari Luhan, lalu yang ketiga belum sampai elevator ada sebuah panggilan yang kedengarannya mendesak dan ia pergi, lalu sekarang ia berjongkok di depan pintu kondominium kamarku dengan rambut sepinggang yang terjatuh menjuntai sehingga menutupi pipinya, ia menyingkap rambutnya perlahan, raut wajahnya begitu murung entah karena apa, begitu ia ingin berdiri tiba-tiba saja ia terjatuh dan tergeletak di atas lantai porselen yang mendingin.

Normal side’s

Mata Sehun membelalak kaget, begitu ia melihat Arial tak sadarkan diri dan terjatuh di atas lantai porselen. Lelaki itu melangkah cepat, merengkuh gadis itu dan segera membawanya ke dalam kondominium nya.

Wajah gadis itu sembab, membuat Sehun bertanya-tanya apa yang terjadi padanya hingga ia sangat ingin bertemu dengan dirinya, sementara dirinya sendiri merasa ingin selalu menghindari Arial sejak kabar pernikahan itu terdengar.Entah mengapa juga, Sehun menjadi merasa kecewa pada dirinya sendiri. Tak seharusnya ia membiarkan gadis itu terus menunggu sendirian,setelah lelah dengan jadwal kuliahnya yang ia yakini ilmu astronomi lebih berat daripada ilmu komunikasi.

**

“Apa gejala anemianya terlihat lagi, Hayoung sunbae?”tanya Sehun yang berdiri di belakang seorang gadis yang dipanggil Sehun sebagai sunbae. Sementara, gadis bernama Hayoung itu masih mengecek tanda vital Arial yang masih belum sadar. “Bukan gejala, namun kini menjadi sungguhan, ia juga kelelahan dan banyak fikiran yang membuatnya tertekan tanpa ia sadar –sepertinya dia gadis yang ceria, jadi itu membuatnya tak sadar bahwa tingkat stressnya meningkat akhir-akhir ini.Aku memberinya suntikkan dengan dosis yang disarankan agar ia dapat istirahat lebih lama, mungkin tidurnya bisa lebih lama, jadi aku harap kau jangan membangunkan dia, ketika kau mau kuliah besok.”

Sehun mengusap wajahnya, ia masih belum lega sepenuhnya setelah mendengar penjelasan Hayoung, semakin membuatnya khawatir bukan main pada Arial, mengapa ketika semuanya berjalan normal, segalanya menjadi berantakan seperti ini?Seharusnya, Sehun tak mengharapkan apa-apa saat pesta tahun baru tahun lalu. “Bagiku, hal lucu adalah saat aku mengobati kekasih orang yang aku sukai.”

“Jadi, itu sebabnya kau mengajakku untuk jadi pasanganmu saat pesta prompt?”

Hayoung hanya menaikkan bahunya, sambil tersenyum jenaka, menyuruh Sehun menebak sendiri apa jawabannya.Ia merapihkan alat dokternya, setelah rapih Sehun mengantarnya untuk ke elevator.Jam sudah terhitung terlalu malam untuk mengantar gadis itu pulang sendirian, walau ia bilang ia ke sini bersama teman satu angkatannya yang tinggal di dekat sini. “Kau tahu, Sehun –ah?Akan sangat beruntung jika kita menemukan seseorang yang saling melengkapi dan saling menyayangi dengan tulus tanpa kepalsuan.”

“Kenapa sunbae berkata seperti itu?”

“Seseorang berpetuah selalu berdasarkan pengalaman, dan kau –lelaki yang selalu tulus, meski terkadang kau kesulitan untuk mengungkapkannya.”ujar Hayoung yang membuat Sehun tersenyum kecil sambil membenarkan kata-kata seniornya itu.

Ting!

Elevator terbuka, Hayoung segera masuk ke dalam elevator sementara Sehun hanya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

Sehun membuat sarapan untuk Arial sepanjang malam, setelah menyelimuti gadis itu dengan benar, ia terduduk di samping Arial cukup lama dan mengeluarkan sebuah buku,menulis sebuah surat untuk Arial, setelahnya ia segera mengambil beberapa barang keperluannya dan pergi dari kondominium, meninggalkan Arial yang belum sadar sendirian.

**

Gadis itu terbangun begitu sadar, hal yang ia lihat adalah langit-langit yang sudah tak asing untuknya, lalu matanya berpendar menuju cahaya yang masuk dari gorden yang dibiarkan terbuka walau tak begitu lebar, begitu ia menoleh kearah nakas ada kantong obat dan juga ponsel miliknya tertata rapih, begitu juga dengan tas dan blazer yang ada di sofa tak jauh dari tempat Arial berbaring.

Kepala Arial masih berdenyut, meski yang ia ingat terakhir adalah ia sempat berjongkok karena menunggu Sehun dan keadaannya yang tiba-tiba menjadi melankolis. Arial bahkan tak sempat untuk berbagi cerita dengan Sehun,tentangnya yang kini punya darah rendah karena lelaki itu yang sibuknya keterlaluan hingga membuatnya merasa diabaikan.Itu mungkin hal sepele, namun untuk Arial itu sama saja bahwa Sehun benar-benar berubah sejak mereka kuliah di tempat yang berbeda.

Gadis itu beranjak turun dari tempatnya berbaring, namun tiba-tiba saja ia menginjak sebuah buku yang terletak di atas lantai, buku itu seperti dihalangi sesuatu hingga tak bisa tertutup rapat, begitu Arial mengambilnya ternyata ada pena dan ada tulisan yang tertulis untuk Arial pada salah satu halaman itu, Arial tersenyum begitu ia melihat jenis tulisan yang diam-diam ingin sekali ia contoh karena bentuknya yang hampir sempurna untuk ukuran lelaki,sementara dirinya yang wanita saja tak sampai serapih itu. Arial sempat celingak-celinguk barangkali saja ada Sehun di sini, namun setelah mencari ke berbagai sudut kondominium nya hanya ada dirinya seorang, akhirnya ia memutuskan untuk membaca surat itu, tanpa izin dari Sehun.

Untuk Arial,

Kau akan menggila jika aku menyobek kertas ini dan menaruhnya dalam sebuah amplop cantik dan meninggalkannya di meja, jadi aku putuskan untuk menulisnya di sini. Aku harap kau dapat menyuci piring sehabis sarapanmu jika kondisimu sudah lebih baik.

Ahn Arial.. kau selalu saja melibatkanku dalam kerepotan yang tak terhingga, aku sudah lelah dengan aktivitasku dan ketika aku sampai ada orang pingsan di depan kondominiumku, itu benar-benar memalukan dan menyusahkan.Sudah sering aku bilang untuk menjaga kesehatanmu, karena kau mempunyai gejala anemia, dan sekarang aku ucapkan selamat karena kau benar-benar punya penyakit itu sekarang.

Ah, sepertinya aku tak usah risau jika kau sakit sekarang,karena sepertinya akan ada seseorang yang menjagamu nantinya, cepat atau lambat. Aku sungguh tidak ingin tahu tentang pernikahan kalian, entah itu rincian atau rencana kalian nanti, aku harap kau jangan memusingkanku dengan hal-hal itu.

Arial berhenti membaca surat itu, ia baru membacanya sebagian yah, tiba-tiba saja gadis itu menitikkan air mata sambil tertawa tak percaya, lelaki ini menulis  surat keluhan untuknya, Sehun seakan sedang mencercanya sekarang ini, andai lelaki itu dapat banyak bicara seperti di dalam surat ini, betapa menyenangkannya untuk Arial entah mengapa, namun gadis itu juga merasa senang untuk itu ia juga tertawa saat membacanya.Baginya, ini benar-benar Oh Sehun yang sudah ia nantikan untuk bicara, setelah sulitnya untuk sekedar bertemu atau mendengar suaranya lewat via telpon dalam beberapa minggu terakhir.Surat ini, cukup membuatnya berimajinasi dapat mendengar suara lelaki itu, walau ia pasti sedang menjalani kesibukkannya.

**

Arial side’s

Kondominium milik Sehun aku tinggalkan dengan keadaan rapih, khawatir kalau Sehun akan marah padaku jika saja aku meninggalkannya dalam keadaan berantakan. Namun, sepertinya bukan benar-benar hal itu yang aku khawatirkan, setelah membaca surat dari Sehun perasaanku kian lega dan juga bertambah kacau.Memang awalnya surat itu berawal keluhannya padaku, namun ketika aku membacanya menuju bagian akhir surat itu seakan itulah perasaan yang benar-benar ia sampaikan padaku, dan hatiku merasa sakit membacanya.

Ah, sepertinya aku tak usah risau jika kau sakit sekarang,karena sepertinya akan ada seseorang yang menjagamu nantinya, cepat atau lambat. Aku sungguh tidak ingin tahu tentang pernikahan kalian, entah itu rincian atau rencana kalian nanti, aku harap kau jangan memusingkanku dengan hal-hal itu.

Akhir-akhir ini, banyak yang menjadi atensiku dan itu sungguh mengganggu.Entah itu tentang perkuliahanku atau teman-temanku yang terus bertanya apa kau itu sungguh kekasihku? Namun, aku masih bohong pada mereka dan akan menjadi pembohong besar jika terus seperti ini, tapi aku tak pernah bisa berbohong dengan orang-orang terdekatku, terutama dengan gadis bernama Arial. Awalnya, aku memang sibuk, sehingga aku menunda untuk menghubungimu. Lalu, saat hari di mana aku ingin menghubungimu tiba-tiba saja kekasih asli dari Arial bertemu denganku tak sengaja dan bilang bahwa mereka akan menikah.Apa kau tahu, apa yang aku bathinkan? ‘ah, seharusnya aku tak menunda-nunda untuk menghubunginya.’

..seharusnya hari itu aku menuruti perasaanku untuk menghubungimu. Aku berkata dalam hatiku seperti itu, namun kemudian aku mencoba untuk berpikir logis, ‘ah, syukurlah impian gadis bodoh itu tercapai.’

Aku mencoba untuk mensyukuri itu, mencoba mengerti bahwa salah satu impian gadis itu kini tercapai yang tadinya untukku itu terlihat seperti angan saja. Ku kira, aku akan senang jika suatu hari akan datang hari dimana aku terbebas dari gadis bernama Arial Ahn, namun –anehnya ketika hari itu benar-benar datang dan tiba aku merasa kecewa. Aku rasa, kini aku bukan manusia pengendali ekspresi terbaik, karena kini aku tidak pintar untuk mengutarakan perasaanku sehingga ekspresiku menjadi tak terkendali, aku menjadi normal.

Sepertinya kau lupa dengan janjimu, bahwa kau tak akan menikah muda.ah, bukan janji tepatnya tetapi kau yang mengatakan itu padaku.Maafkan aku, jika saja seandainya aku tidak datang pada hari pernikahan kalian, itu karena aku sibuk.Kau bahkan tahu bahwa aku adalah orang pintar, bukan?

Dari,

Mr. Arrogant, OSH.

Agassi, apa anda ingin membayar?” sebuah suara pelanggan minimarket yang berdiri di belakangku membangunkanku dari lamunan.Aku meminta maaf dan mundur dari depan meja kasir, “Anda bisa duluan, oryoshin.”

Aku hanya kembali keluar tanpa membawa belanjaan apapun, melainkan hanya sekaleng kopi instan yang segera aku buang sampahnya dan berjalan menuju stasiun subway.

“Arial!” seseorang memanggil namaku, membuatku segera membalikkan badan dan ada Luhan yang segera berjalan ke arahku dan memelukku dengan cepat, raut wajahnya begitu khawatir, dan aku melupakan bahwa aku tidak mengabarinya sejak malam. Aku terlalu terpaku pada keberadaan Sehun yang menghilang dari pandanganku. “Hyeri bilang kau sudah pulang ke flat, aku menghubungimu  berkali-kali tapi ponselmu tak aktif.”

ah,benar –aku habis bertemu dengan temanku yang ada di fakultas kedokteran dan tinggal di kondominium dekat sini.”

“Sepagi ini?”tanya Luhan, wajahnya agak pucat begitu aku sadar, sambil menganggukkan kepala, Luhan hanya menghela nafas lega dan tiba-tiba saja ia hilang kesadaran saat tanganku masih melingkar diperutnya. “oppa!kau kenapa?”

chegiyeo.. tolong hubungi ambulans.”

bersambung..

**baca

Proteksi bisa dichapter mana aja, suka-suka saya. Oh ya, cerita ini dengan penuh tanggung jawab saya akan sy selesaikan. Setelah itu, kemungkinan besar saya akan meminta admin untuk menghapusnya, karena saya merasa cerita ini gak bagus. Kebukti dari kalian yang seperti gak mengapresiasi cerita ini. Pada chapter 17 cerita ini selesai. So, silahkan di baca. Karena di wattpad pun ff ini saya akan buat beda versi dan setelah itu random chapter saya private ehehehe^^

Jadi, kalian bisa follow akun wattpad saya terus log out dan login kembali^^

Saya ucapkan terimakasih untuk para pembaca yang masih setia membaca cerita abstrak ini. ^^

Find me on:  Wattpad | Instagram  | My World

 

 

 

 

 

 

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Everything Has Changed (Chapter 12)”

  1. Jangan dihapus lah.. Nanti kl gue kangen baca gimana? Ini aja udah gue ulang 3 kali 😭

    Arial jangan nikah sm Luhan lah.. Kasihan Hun-nie.. Atau Sehunnya sama gue aja, ikhlas lillah hilata’ala gue mah 😂😂

    Ditunggu next, chap nya kak 😄

  2. Jangaann dihapuss…akyu syuka inii. Kalo buka d wp q ga ngerti hahahahaha..maklumin yes bru aja gabung d ff..ne aja msh bingung..wp kmren cba buka bingung jahahaha..ne kok mlah beda bhasan yaa…
    Fighting thor!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s