[EXOFFI FREELANCE] Love My Self, Love Yourself (Chapter 2)

Love Myself, Love Yourself  |

| Oh Sehun & Byun Mora |

| Byun Baekhyun, Lee Jieun (IU) |

| Son Wendy |

| Romance x Fantasy |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Jika kau ingin menghancurkan hidupmu,

Lakukan secara diam dan tenang.

Jangan membuat orang lain yang melihatnya

Merasa bersalah karena sudah membiarkanmu.

Prev : Prologue | 1

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

—×◦ L.M, L.Y ◦×—

In Mora’s Eyes. . .

Dengan hati-hati, aku melangkah keluar dari gudang penyimpanan dan mengintip ke ujung lorong yang berbelok ke arah kanan. Terdapat beberapa ruangan di sepanjang lorong gedung, tidak mungkin kan mereka berada di salah satu ruangan itu?

Kutelusuri gedung secara perlahan, saat aku akan melangkah ke arah kanan terdengar beberapa suara. Aku berhenti dan kembali ke gudang penyimpanan, membuka pintu secara hati-hati dan menatap beberapa peralatan kebersihan.

“Baiklah, mari kita mulai.”

Kubuka pintu gudang lebar-lebar. Aku menarik napas dan berkonsentrasi, kuarahkan tangan kananku dimana terdapat gelang yang sering kupakai. Barang-barang yang berada di gudang mulai bergerak secara pelan tapi pasti, aku membawa sebagian peralatan dan menumpuknya di lorong gedung. Kupikir, itu cukup banyak.

Aku harus membakar semua peralatan ini tapi jangan sampai gedung juga ikut hancur, hanya sebuah kebakaran kecil. Masalahnya, kemampuanku dalam mengontrol dan membuat api itu cukup buruk. Aku tidak ingin membuat masalah besar lainnya.

“Konsentrasi!Konsentrasi!”

Bisikku pada diri sendiri.

Aku berjongkok di depan tumpukkan peralatan, ku ulurkan tangan dan merasakan energi yang ada di sekitar. Memusatkan diri untuk membuat sesuatu yang panas dan berwarna merah.

‘Busshhh’

“Oh, Tidak!”

Ini terlalu kecil, tapi aku terlalu takut untuk menambahkan api lagi. Oh! Andai saja ada korek api, sekarang aku sedikit menyukai kegunaan barang-barang yang berada di dunia ini. Sungguh! Itu jauh lebih praktis.

Kulirik dua ruangan yang berada tidak jauh dariku, aku melangkah ke salah satu ruangan dan mencoba membuka pintu.

‘Cklek’

Bagus! Mungkin, tidak sepenuhnya hari ini aku sial.

Ruangan itu cukup besar, ada satu meja yang cukup lebar berada di tengah ruangan dan beberapa kursi yang mengelilinginya. Aku berjalan masuk dan memeriksa di beberapa laci yang terletak di sudut ruangan. Mungkin saja, aku akan kembali beruntung dan menemukan sesuatu yang bisa dipakai.

Sayangnya, itu nihil. Tidak ada benda yang dapat kugunakan.

Aku menarik salah satu kursi di sana dan mendudukinya. Selama beberapa menit, aku hanya menatap ke depan dimana ada benda putih yang cukup besar seperti sebuah layar.

Haruskah aku mencoba membuat api lagi? Atau menunggu sedikit lebih lama, kupikir api yang sudah kubuat di luar sebentar lagi akan membesar.

“Tidak! Aku tidak bisa menunggu,”

Aku membuka tas dan mengeluarkan payung yang tadi kubeli, ku tutup rapat pintu ruangan ini dan berjalan menuju layar putih itu.

Aku kembali memusatkan pikiran, berkonsentrasi untuk membuat api lagi. Besar! Cukup besar, ayolah! Semoga kali ini berhasil.

‘Bussss’

Yah, itu besar. Malah sangat besar hingga aku merasakan panas dari api yang kubuat sendiri.

‘Ring!Ring!Ring!’

‘Sreettt,’

‘Byurrrr!’

Air mulai keluar dari alat pencegah kebakaran, segera kubuka payung yang sejak tadi kupegang.

Suara panik terdengar dari luar. Aku mendekati pintu ruangan dan membukanya sedikit, ada banyak orang berkumpul di sekitar tumpukkan peralatan yang tadi kubakar. Api di luar juga sudah mulai membesar. Oh! Harusnya aku tidak perlu membakar ruangan ini.

Baiklah! Kupikir dengan adanya air, aku tidak perlu menunjukkan diri. Aku berjongkok di depan pintu dan mengulurkan tangan ke luar, kuberikan aliran listrik yang cukup besar melalui aliran air di lantai.

“Aww! Sial,”

Aku melompat kecil menjauhi pintu. Oh ya ampun, Byun Mora! Kau sungguh bodoh! Aku terkena aliran listrik yang kubuat sendiri. Ukhh, kakiku sedikit sakit. Harusnya tadi, aku berdiri di atas kursi saja.

Kembali mendekat ke arah pintu dan kulihat orang-orang tadi sudah jatuh pingsan di lantai, kuharap mereka baik-baik saja. Aku bisa terkena masalah, jika membunuh orang di sini.

Baru saja, aku akan keluar terdengar derap langkah terburu-buru yang cukup ramai. Segera aku kembali bersembunyi di balik pintu.

“Apa yang terjadi? Kenapa semua orang pingsan?”

“Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi anda harus segera keluar dari sini,”

Setelah derap langkah menjauh, aku keluar dari persembunyian dan berjalan menuju dimana orang-orang tadi keluar.

Sekitar lima belas meter aku berjalan, kutemukan sebuah ruangan yang cukup besar dengan dua pintu yang terbuka lebar. Aku berjalan mendekat dan tercekat begitu mendapati seseorang yang sangat kukenal, pemuda itu hanya duduk diam tanpa melakukan apapun.

Sehun. Oh Sehun.

Pakaian Pria Oh itu sudah sangat basah, wajahnya sangat masam. Aku tahu, dia tidak baik-baik saja. Sehun bergeming, padahal aku yakin dia mendengar suara langkah kakiku. Begitu aku berada di dekatnya, segera saja kulindungi pria itu dengan payungku.

“Kenapa kau masih di sini?”

×◦◦×

In Author’s Eyes. . .

Gadis itu keluar dari lift dengan membawa satu kantong belanjaan di tangan kanan, malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya. Byun Mora baru saja pulang dari petualangannya, menjelajahi sudut kota Seoul agar ia dapat membuka pintu dimensi.

Sayangnya, keberuntungan belum juga menghampiri gadis itu. Meski Mora sudah berkeliaran hingga larut malam, dia tak mendapatkan hasil apapun. Pada akhirnya, dia melangkah ke minimarket untuk membeli beberapa makanan kecil dan memutuskan untuk pulang ke apartemen.

‘Ting-Tong!Ting-Tong!Ting-Tong!’

Mora terpaku pada seseorang yang terus saja menekan bel apartemennya, gadis itu menghela napas lelah.

“Kenapa dia datang lagi?”

Gadis Byun itu rasanya ingin menangis, tidak bisakah Oh Sehun datang besok pagi saja?

Lihat! Mora bahkan tahu bahwa Pria Oh itu sedang mabuk. Sehun tampak sempoyongan, untuk berdiri dengan benar saja dia tidak bisa. Lalu, kenapa pria itu repot-repot datang ke apartemen Mora sedangkan apartemen Sehun sendiri berada tepat satu lantai di bawah.

Begitu Gadis itu berjalan mendekat, dia dapat mencium bau alkohol dan bau amis dari tubuh Sehun. Ketika Mora melirik pria itu, bekas muntahan terdapat di jaket yang sedang Sehun kenakan.

“OH SEHUN! Ini sudah ketiga kalinya dalam satu minggu, kau mengangguku saat tengah malam. Kenapa kau terus mencariku, sih?”

Sehun menoleh, untuk beberapa saat dia hanya diam memandang gadis itu. Mungkin, mencoba untuk memfokuskan diri.

Tuan Muda Oh itu mencoba mendekat pada Mora dengan pandangan yang masih tidak fokus, Sehun meraih lengan kiri gadis itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Mora.

“Hari ini sungguh buruk untukku dan kepalaku serasa akan pecah,”

“Itu karena kau mabuk, bodoh. Aku sudah bilang berapa kali untuk tidak minum, kenapa kau sangat keras kepala? Dan menjauh dariku! Kau sangat bau,”

Mora mungkin tak melihatnya, meski tak ada respon dari Sehun. Tapi Tuan Muda Oh itu tersenyum kecil mendengar celotehan dari tetangganya itu.

Karena tak ingin berlama-lama, akhirnya Mora membuka pintu apartemen dan membawa Sehun masuk. Gadis itu meletakkan Sehun di atas sofa dan memberi bantal serta selimut, tapi sebelum itu Mora menyuruh Sehun melepaskan jaketnya yang terkena muntahan.

Lagi-lagi, Mora menghela napas sambil menatap Sehun yang sudah sejak tadi menutup mata.

“Lima hari yang lalu, kau datang dalam keadaan mabuk. Lalu dua hari kemudian, kau datang dengan wajah yang penuh dengan memar. Sekarang, kau datang lagi dengan keadaan mabuk. Kenapa kau terus datang mencariku?”

“Karena hanya kau yang kumilikki,”

Mora membeku, dia pikir Sehun sudah tertidur dan tidak akan mendengar karena pria itu sedang mabuk.

Gadis Byun itu menggelengkan kepalanya, dia tak bisa membiarkan kesalahpahaman ini terus terjadi.

“Sehun, kupikir besok kita perlu bicara.”

“Baiklah, apapun itu aku akan mendengarkan. Tapi sekarang, aku mau tidur dulu.”

Setelah mematikan lampu, Mora pergi meninggalkan Sehun. Gadis itu pergi menuju kamar mandi sambil membawa jaket Sehun yang berbau amis, Mora merendam jaket itu agar bau dan bekas muntahan menghilang.

Yah, benar. Sebaiknya, Mora juga beristirahat untuk hari ini. Dia bisa bicara dengan Sehun besok dan menjelaskan bahwa Mora sama sekali tak memiliki ketertarikkan pada pria itu, dia murni hanya ingin menolong Sehun.

Lagipula, kenapa sebuah bantuan menjadi suatu hal yang aneh? Bukankah itu merupakan perbuatan yang baik? Jika saja Mora tak menolong Sehun, mungkin nyawa pria itu sudah hilang.

Pertemanan antara Mora dan Wendy pun terjadi karena ia yang menolong Gadis Son itu membawa barang belanjaan, jadi kenapa sebuah pertolongan merupakan hal aneh?

Entahlah, Mora sungguh tak mengerti. Dia hanya ingin berbuat baik pada seseorang tanpa memandang siapapun orang itu.

×◦◦×

Gadis itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi, lalu atensinya kembali pada Sehun yang masih tertidur lelap di atas sofa. Mora yakin, jaket pemuda itu sebentar lagi akan kering tapi sang pemilik masih enggan beranjak dalam mimpi.

“Tuan Muda Oh! Tidakkah menurutmu matahari sudah terlalu tinggi? Cepat buka matamu!”

Mora menyibak kasar selimut pemuda itu, Sehun yang merasa terganggu mulai menggerutu dan perlahan membuka mata.

“Jangan berteriak! kepalaku masih pusing.”

“Karena itu, cepatlah bangun dan cuci mukamu. Aku sudah menyiapkan sup dan teh hangat,”

Setelah membereskan selimut dan bantal yang tadi digunakan Sehun, Mora kembali ke dapur untuk menyiapkan sup dan menuangkan teh hangat. Sedangkan Tuan Muda Oh itu masih berada di kamar mandi.

Ditariknya, salah satu kursi meja makan dan Mora duduk sambil menunggu kedatangan pemuda itu. Tak lama, Sehun datang dengan tampang yang masih sedikit mengantuk. Tuan Muda Oh itu mengambil tempat yang berlawanan dengan Mora dan meminum teh hangat.

Sehun makan dalam diam sedangkan Gadis Byun itu hanya memperhatikan setiap gerak-gerik orang yang berada di depannya, tak ada satupun dari mereka yang memulai konversasi. Hanya suara dentingan sendok makan dari Sehun mengisi keheningan di antara mereka.

“Kau tidak makan?”

“Kau pikir, ini masih jam berapa? Aku sudah sarapan pagi tadi,”

“Seharusnya, kau membangunkanku. Kita bisa sarapan bersama,”

“Lucu sekali! Mendengar hal itu dari seseorang yang baru saja menggerutu ketika dibangunkan,”

Tuan Muda Oh itu tak ambil pusing mendengar nada sindiran dari Mora, sedangkan Gadis Byun itu sendiri sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. Dia dengan santainya kembali menuangkan teh hangat di gelas Sehun.

“Oh! Dimana gelangku?”

Mora baru sadar ketika tanpa sengaja dia melirik pergelangan tangannya yang sedang sibuk menuangkan teh, tak ada gelang di sana. Gadis itu beranjak dari kursi dan mencari di counter dapur tapi sayang, dia tak mendapatkan hasil apapun.

“Ada di meja dekat sofa dimana tempat aku tidur tadi,”

Gadis itu melemparkan tatapan tajam pada Sehun.

“Seharusnya, kau bilang dari tadi.”

Tapi Sehun hanya mengangkat kedua bahunya acuh, pemuda itu masih melanjutkan acara makan tanpa peduli dengan tatapan Mora yang nampak kesal.

“Kau tidak pernah melepaskan gelang itu?”

“Ini benda yang penting untukku,”

Setelah kembali ke kursi, gadis itu segera memakai gelang yang tadi sempat dia lepas.

“Yah, aku tidak peduli benda apa yang ingin kau pakai. Hanya saja, jaga jari ke empatmu agar tetap kosong.”

“Memang kenapa?”

Sesaat Sehun berhenti dan menatap serius pada gadis itu.

“Karena aku akan melamarmu,”

Mora terdiam membeku sedangkan Tuan Muda Oh itu tersenyum tipis lalu melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda.

“Sehun dengar, kupikir kita benar-benar harus bicara.”

“Bicara saja, aku mendengarkan.”

Pemuda itu kembali menyendokkan sup yang tinggal sedikit lagi. Sehun menunggu, ucapan dari Gadis Byun itu.

“Aku menolongmu itu murni dan tidak ada tujuan lain,”

Anggukkan didapatkan Mora sebagai respon pernyataannya.

“Jadi maksudku, aku sama sekali tak mempunyai maksud tertentu. Apalagi mencari perhatianmu karena aku tertarik,”

Sehun meletakkan sendok makan dan meminum tehnya, lalu dia memberi atensi penuh pada Gadis Byun itu.

“Lalu?”

Gadis itu mengernyit heran mendengar pertanyaan Sehun, dia tidak mengerti maksud dari pertanyaan yang Tuan Muda Oh itu ucapkan.

“Lalu? Apa maksudmu? Oh Sehun, kau mengerti dengan apa yang coba aku jelaskan, bukan?”

Tuan Muda Oh menghela napas, kini dia beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu depan. Sedangkan Mora hanya diam tak mengerti, mata gadis itu mengikuti kemana Sehun pergi.

“Aku pulang,”

‘Blamm!’

Mora tersadar begitu mendengar suara pintu yang ditutup.

“Oh! Aku bahkan belum memberikan jaketnya,”

Baru saja, Mora berniat akan menyusul Tuan Muda Oh itu tapi segera dia batalkan. Gadis Byun itu melirik jam yang menunjukkan hampir pukul sebelas siang, dia ada janji untuk pergi piknik bersama Wendy. Sedangkan Mora belum menyiapkan makanan—meski Wendy mengatakan untuk tidak membawa apapun, karena gadis itu yang akan membuat bekal—tetap saja, dia merasa tidak enak. Lagipula, Mora bisa memberikan jaket itu nanti ketika dia akan menemui Wendy.

Jadi, Gadis Byun itu mulai sibuk membereskan rumah dan membuat makanan. Hanya beberapa sandwich serta salad buah, bagaimanapun dia tak seahli Wendy yang dapat membuat berbagai jenis makanan.

Bekal sudah selesai, lalu Mora melipat jaket pemuda itu dan memasukkan ke dalam sebuah tas kertas. Merasa tidak ada yang tertinggal, gadis itu segera keluar dan berjalan menuju lift.

Apartemen Wendy dan Sehun berada di lantai yang sama, Gadis Byun itu berniat untuk memberikan bekal terlebih dahulu dan menyuruh Wendy untuk bersiap-siap. Selagi Gadis Son itu sibuk, Mora akan mengembalikan jaket ini.

Begitu sampai di depan pintu apartemen Wendy, Gadis Byun itu segera menekan bel.

‘Cklek,’

“Oh ya ampun! Kau sudah datang? Aku baru selesai membuat bekal untuk kita,”

Mora tersenyum dan memberikan kotak makanan pada Gadis Son itu.

“Kau bisa bersiap-siap, sekarang. Aku ada urusan sebentar,”

“Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membuat apapun,”

“Ini tidak banyak, cepat ganti bajumu! Aku akan pergi sebentar.”

“Oh, baiklah.”

Gadis Byun itu berbalik meninggalkan Wendy, tak lama terdengar suara pintu. Baru saja, dia berjalan beberapa langkah. Mora mendapati Sehun yang masuk ke dalam lift, gadis itu mempercepat langkahnya. Sayang, begitu dia sampai pintu lift sudah tertutup rapat.

Mora berniat menyusul pemuda itu. Entah kenapa, dia mempunyai perasaan yang tidak baik. Gadis Byun itu melihat ekspresi panik dan kaku dari wajah Sehun. Yah, walaupun selama ini Mora tahu wajah Sehun memang kaku dan sedatar tembok dinding kamarnya.

Begitu pintu lift terbuka tanpa pikir panjang, Mora segera masuk dan menekan tombol ke lantai dasar. Sungguh! Dia punya firasat buruk tentang ini.

Dengan tergesa-gesa, Mora keluar dari lift dan berlari menuju pintu gedung. Dia mendapati mobil Sehun yang baru saja keluar dari parkiran, lalu Mora segera menghentikan taksi dan menyuruh sopir untuk mengikuti mobil Tuan Muda Oh itu.

“Oh! Wendy, aku melupakannya.”

Gadis Byun itu segera mengambil smartphone dan menelpon Wendy.

“Halo, Wendy.”

Sesaat Mora diam mendengar jawaban dari Gadis Son itu.

“Aku sungguh minta maaf, ini benar-benar mendesak. Setelah ini, aku berjanji akan menemanimu kemana saja.”

Setelah mendengar gerutuan dari Wendy dan mendapatkan persetujuan gadis itu, Mora sekali lagi meminta maaf dan menutup telpon.

Atensi gadis itu tertuju pada jalanan yang mereka lewati, mereka masuk ke dalam sebuah kompleks perumahan. Mora merasa heran, apa yang akan dilakukan Sehun di sini? Di sebuah kompleks perumahan mewah.

Mora menyuruh supir taksi untuk menghentikan mobil, gadis itu mengambil jarak agar Sehun tak menyadari keberadaannya.

Setelah membayar ongkos taksi, Mora keluar dari mobil dan mengikuti Sehun yang sejak tadi sudah masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar.

“Apa yang terjadi?”

Mata gadis itu membulat besar, begitu melihat beberapa orang tergeletak di halaman rumah yang Sehun masukki.

Benar bukan? Mora sudah merasa ada yang tidak beres dengan hanya melihat ekspresi pemuda itu. Tapi, bukan itu permasalahannya. Gadis Byun itu harus memutuskan untuk sekali lagi menolong Sehun atau kali ini, dia akan meninggalkan pemuda itu begitu saja.

Mora berbalik, hendak meninggalkan rumah mewah itu. Kemudian, gadis itu menghentak-hentakkan kaki dengan kesal. Lalu, dia kembali berbalik dan mendekati satpam yang sejak tadi sudah pingsan. Dia merogoh kantong celana satpam itu dan mengambil smartphonenya.

“Baiklah, aku memang tidak bisa bersikap masa’ bodoh.”

Gadis Byun itu menelpon polisi dan meminta ambulan untuk segera datang. Tapi Mora yakin, paling tidak butuh tiga puluh menit untuk mereka datang kesini. Dan Mora harus masuk ke sana untuk menolong Sehun.

Helaan napas terdengar dari Gadis Byun itu.

“Nyawa seseorang lebih penting, lagipula aku bisa menghapus ingatan mereka nanti.”

Mora mencoba untuk meyakinkan diri, kemudian dia berjalan menuju pintu masuk rumah itu.

“Aku sungguh tidak beruntung hari ini,”

Baru saja, gadis itu memasukki rumah. Mora mendapati ada dua orang yang baru saja bangkit, badan mereka besar dan tinggi serta beberapa memar terdapat di wajah mereka.

“Maaf, tapi kalian harus kembali ke lantai dan ini akan cukup lama.”

Setelah memberi peringatan, gadis itu segera mengeluarkan aliran listrik hingga membuat dua pria bertubuh besar tadi pingsan.

Melanjutkan langkahnya, gadis itu berjalan mengendap-ngendap menuju ruang tengah. Ada sekitar enam orang berbadan besar di sana, Sehun yang berdiri tegap menatap sinis pada mereka. Mungkin, tiga orang yang berada di belakang Pemuda Oh itu adalah pelayan rumah, satu orang pria dan dua orang wanita yang berdiri di sudut dekat tangga.

“Wah! Aku tidak percaya, paman melakukan segalanya sebelum aku menandatangani dokumen hak milik. Baiklah, setelah semua ini aku akan segera menyerahkan warisan ke panti sosial.”

“Itu jika anda berhasil lolos dari kami,”

Empat orang berbadan besar menyerang Sehun dan dua orang sisanya menyerang pelayan pria yang mencoba membantu Tuan Muda Oh. Tentu saja! Tak sulit mengalahkan dua orang itu, pelayan pria itu sudah jatuh pingsan. Sedangkan Sehun sudah terpojok dengan memar di seluruh tubuhnya.

“Sialan kau!”

Sehun menendang salah satu kaki pria besar itu, sayangnya tuan muda itu kembali menerima pukulan dari pria besar yang lain.

“Maaf mengganggu, tapi aku tak bisa membiarkan hal ini.”

Akhirnya, Mora memutuskan untuk keluar dan menolong Tuan Muda Oh itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Mata Sehun membulat besar begitu melihat Gadis Byun itu.

“Apalagi? Tentu saja menolongmu,”

Setelah mengucapkan hal itu, Mora mengeluarkan aliran listrik dan membuat tiga pria bertubuh besar itu pingsan.

Sehun membeku, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Tiga pria bertubuh besar sisanya mulai melangkah mundur, takut-takut menatap Mora yang mulai berjalan mendekat.

“Ba…Bagaimana bisa kau—“

“Ya, baiklah. Aku memang hebat, bukan?”

Mora memotong ucapan Sehun, lalu dia kembali memberikan sengatan listrik pada tiga pria itu hingga pingsan.

“Sebenarnya, kau ini siapa?”

Atensi Gadis Byun itu tertuju pada Sehun yang menatapnya dengan wajah penasaran.

“Aku? Aku seorang penyihir hebat, tapi itu dulu.”

Tuan Muda Oh itu mengernyit heran mendengar penjelasan dari Mora. Gadis itu kembali mengangkat tangannya.

“Hei! Apa yang kau lakukan!”

Sehun berteriak marah begitu mendapati dua orang pelayannya jatuh pingsan karena aliran listrik dari Mora.

“Maaf, Sehun. Aku harus melakukan ini, setelah aku pergi nanti keberadaanku akan hilang dan siapapun tak akan mengingatku. Masalahnya, aku belum bisa pergi sekarang sehingga aku terjebak di duniamu. Jadi maaf, aku harus menghapus ingatanmu tentang kejadian ini.”

Segera setelah memberi penjelasan, Mora memberi sengatan listrik pada Sehun hingga pingsan. Gadis itu mendekati Sehun yang tergeletak di lantai.

“Padahal, aku susah payah menyelesaikan kesalahpahaman pagi tadi. Tapi sekarang, aku harus menjelaskan kembali.”

Mora menatap sekitar dan menghela napas lelah, dia harus menghapus ingatan mereka tentangnya satu persatu. Gadis Byun itu kembali menatap Sehun, tangan Mora terulur mengeluarkan cahaya.

“Kau akan melupakan semua hal yang berkaitan denganku untuk hari ini, dari pertama kali membuka mata sampai terakhir kali melihatku.”

Setelah menghapus ingatan Sehun, gadis itu mendatangi semua orang yang berada di sana. Mora melakukannya dengan cepat, dia khawatir polisi akan segera datang. Begitu selesai dengan pekerjaannya, Mora segera pergi dari rumah itu dan bersembunyi tidak jauh dari sana.

Hingga polisi datang sampai semua orang dibawa ke rumah sakit, Mora terus mengikuti. Begitu salah satu dari mereka terbangun dan memastikan tak mengingat keberadaannya, Mora bernapas lega dan memutuskan untuk pulang ke rumah.

×◦◦×

Pagi itu dengan membawa tas yang berisi bekal, Mora berniat untuk menemui Wendy yang sudah menunggunya di bawah. Ketika Gadis Byun itu keluar dari lift, dia mendapati Sehun, Wendy, dan Pak Lee sedang berbincang.

Jadi, dengan percaya diri Mora menghampiri mereka.

“Nah, ini orangnya. Kemarin, Pak Lee bilang kau berlari terburu-buru mengejar Sehun.”

Semua orang menatap Mora, tentu saja! Gadis Byun itu kebingungan. Dia tidak tahu, seseorang akan bertanya perihal kemarin. Lalu, Mora malah menatap Sehun yang sedang memperhatikannya.

“Aku tidak tahu, apa yang sedang kalian bicarakan? Tapi aku sama sekali tak bertemu dengannya kemarin. Itu hanya samar-samar, mungkin kemarin malam tanpa sengaja aku masuk ke apartemennya.”

“Sehun mengira itu apartemennya, aku hanya ingin mengembalikan jaket.”

Wendy menatap serius pada Mora dan setengah tidak percaya.

“Jadi, kau meninggalkanku kemarin hanya untuk mengembalikan jaket?”

“Tidak! Tentu saja bukan itu, aku sungguh ada urusan penting lain.”

Gadis Son itu masih menatap Mora dengan wajah penuh selidik, sedangkan Sehun sudah pergi meninggalkan mereka. Pak Lee sendiri sudah kembali pada posnya.

“Wendy, aku benar-benar punya keperluan mendesak kemarin.”

“Oh! Baiklah, kita akhiri saja ini.”

Son Wendy mencoba untuk mengalah dan mengakhiri perdebatan ini. Kalau boleh jujur, Gadis Son itu masih sedikit jengkel pada Mora yang pergi begitu saja.

“Tunggu sebentar di sini, aku perlu bicara pada Sehun.”

“Awas saja! Kalau kau main pergi,”

Mora mengangguk dan melangkah mendekati Sehun yang masih menunggu di depan pintu lift.

“Sehun, sore nanti aku akan mengembalikan jaketmu dan ada hal yang perlu aku bicarakan.”

Tuan Muda Oh itu menoleh pada Mora. Sejujurnya, Gadis Byun itu sedikit terkejut mendapati tampang tak suka dari Sehun.

“Kupikir, tidak ada hal yang perlu dikatakan lagi. Bukankah kau sendiri yang bilang tidak tertarik padaku? Tentang jaket itu, kau bisa membuangnya.”

Begitu pintu lift terbuka, Sehun segera masuk dan tanpa menunggu respon dari Mora, pemuda itu menutup pintu lift.

Dan Mora tetap bergeming, dia tak mampu mengatakan apapun. Gadis itu tak mampu berpikir, seketika semuanya menjadi kosong.

“Bagaimana? Bagaimana bisa dia mengingatnya?”

Kali ini, Mora sungguh yakin, dia sudah terlibat dengan masalah besar.

—×◦ to be continued ◦×—

JHIRU’s Note :

Hohoho . . .

Berjumpa lagi dengan ane^^

Yang belum baca Butterfly, epilog Play(Boy) dan final chapter Shadow, silahkan dibaca!

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Itu berarti banget buat ane dan memberi semangat buat nulis chapter selanjutnya. Sekian dan terima kasih.

Kunjungi : WordPress | Wattpad | Twitter | Instagram

 

 

 

 

 

 

 

 

26 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love My Self, Love Yourself (Chapter 2)”

  1. Nah loh nah loh…
    hayo… mbak mora gimana kok bisa gagal?

    nah, mas sehun! kok ndak mempan sama sihir nya mbak mora. Ada apa gerangan? Jangan jangan mas sehun ada klainan nih

    Ya udah deh, see you next chapter author nim♡♡

  2. Klw misal sihirnya mora gagal berarti sehun bukan manusia dong.
    Duh penasaran…
    Jd gimana? Mora bakal balik kedunianya kah? Sehunnya gimana?

  3. anak ayam ngambek lamarannya ditolak wkakakakakakakaka
    lucu bgt ih ngeliat sehun bgituuuu…fighting thir!!selalu ditunggu kelanjutannyaaaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s