[EXOFFI FREELANCE] The Lens

[EXOFFI FREELANCE] The Lens - (Oneshot).jpg

The Lens

Tittle: The Lens

Author: Berry Cupcakes

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: PG-15

Main Cast:

-Sehun (EXO) as Oh Sehun

-Oh Raena (OC) as Oh Raena

Summary: “Aku hanya ingin menjadi objek indah yang kau abadikan lewat lensa kamera mu”

Disclaimer : Asli punya saya. Okay?

Author’s note: Tolong di Read, Comment, Like. Dan….jangan diplagiat. PLEASE!!

####

“Kau melakukan banyak hal dengan kameramu. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjadi bagian dari objeknya”

Kedua tangannya masih memegang buku yang berjudul ‘Cahaya dan ALat Optik’ tersebut. Ia bersandar nyaman di bangku panjang yang berada di lorong samping kelasnya tersebut. Beberapa saat berkutat dengan buku itu. Kegaduhan terdengar jelas di sekeliliingnya. Tapi syukurlah dia bukan orang yang mudah terganggu hanya karena bising.

“Sehun! Satu kali lagi, please!” gerombolan gadis itu masih bersikeras dan menarik-narik tangan pria berkulit pucat tersebut.

Reina, si gadis yang membaca tak jauh dari mereka, masih fokus dengan bacaannya. Sebelah tangannya melingkar sekitar perutnya saat ia mulai larut dalam bacaannya. Posisi tangannya sedikit meninggi dari sebelumnya karena ia merasa semakin nyaman di bangku tersebut sehingga badannya sedikit merosot.

“Sehun!” beberapa pria ikut dalam keributan tersebut. Tampaknya ikut membujuk si pria albino. Dan beberapa lagi sepertinya berpihak padanya dan menasehati para gadis agar melepaskan Sehun.

“Besok saja, ya? Okay?” pintanya berusaha berkompromi. Suara bising tanda tak setuju langsung menguar. Mereka protes banyak sekali sampai Sehun tak bisa mencerna semuanya. “Baterai nya sudah habis. Lagi pula sebenarnya apa guna kamera ponsel kalian itu?” tanya nya menimpali.

“Woi! Sehun sudah bilang baterai nya habis. Lepaskan saja, bagaimana? Kalian membuat seragamnya kusut. Aku yakin sedikit lagi kalian pasti akan merobek kemejanya” lerai seorang pria karena sejak tadi perempuan kelas mereka benar-benar tidak manusiawi saat memaksa Oh Sehun. “Kalau seragamnya hancur juga kalian pasti tak akan ada yang mau tanggung jawab. Iya kan?” sambungnya nyinyir dan mendapat sorakan dari perempuan yang mengelilingi Sehun. Tapi sekalipun begitu membuat para gadis tersebut menyerah dan melepas Sehun.

“Terima kasih, Chan” ujarnya seiring nafas lega. Dan teman nya tersebut hanya melempar senyum tanda tak terlalu peduli pada tindakan nya dan beranjak pergi.

“Boleh aku duduk di sini?” suara yang sejak tadi berusaha keras lepas dari para cengkraman para gadis sekarang ditujukan pada Reina.

Ia mengangkat pandangannya dari bukunya. Sedikit terkejut Sehun yang tadinya berada di sekitar pintu kelas mereka telah berada di sampingnya.

Reina mengangguk pelan. Senyum Sehun muncul bersamaan dengannya. “Terima kasih” ujarnya.

Reina berusaha tenang dengan kembali melihat bukunya. Ia kenal pria di sebelahnya. Oh Sehun. Pria ini satu kelas dengannya. Tapi bukan itu yang membuatnya spesial sehingga Reina bisa mengingatnya lebih dari anak kelasnya yang lain.

Ichinose Reina. Ia anak pertukaran pelajar dari Tokyo untuk satu tahun ini. Bulan lalu, saat ia datang pada satu hari sebelum dimulai nya ajaran baru untuk melihat-lihat bagaimana sekolahnya, ia bertemu pria ini. Entah apa yang dilakukan pria itu di sekolah. Tapi saat itu pula sosok nya dengan mudah mengambil atensi Reina. Semudah membiarkan pria itu masuk ke hati nya.

“Kelas kita selalu ribut, benar kan?” tanyanya. Pria itu mengutak-atik kameranya tapi jelas ia berkali-kali melihat ke arah Reina. Sengaja memberikan atensi. Ia pikir akan aneh kalau mereka hanya diam. Tapi ia memang masih ingin mengutak-atik kameranya. Tapi kalau ia bicara tanpa melihat sama sekali lawan bicaranya, itu tidak sopan tentunya.

Reina diam saat kalimat itu ditujukan padanya. Ia tidak ahli dalam basa-basi.

Sehun menoleh sepenuhnya pada gadis disebelahnya saat ia tak mendapat jawaban apapun, gumaman sekalipun.

“Kau…..mengerti bahasa Korea kan?” tanya nya ragu. “Do you speak Korean?” lanjutnya dengan bahasa inggris yang beraksen sangat Korea.

Reina mengangguk. “Kau sudah berbicara padaku sebelumnya” jawab Reina dengan bahasa Korea yang lancar, tanpa dialek apapun. Seolah dia orang Korea asli. Kau lupa? Pertanyaan itu hanya ia lanjutkan di kepalanya karena ia merasa tidak percaya diri mengatakannya. Memangnya siapa dia? Sampai Sehun harus mengingatnya.

Sehun menarik senyumnya. “Aku ingat. Hanya saja waktu itu kau juga tak menjawab apapun saat aku bertanya. Jadi kupikir kau tidak lancar bahasa Korea”

Reina tetap dengan ekspresi datarnya. Reina mengangguk paham dalam hatinya. Sehun tak tahu Reina. Padahal gadis itu jelas mengenalkan dirinya di depan kelas saat ia baru pindah ke sekolah ini. Dan ia memakai bahasa Korea. Jelas sekali Sehun tak peduli pada sosok pendatang baru di kelas nya.

“Jadi bagaimana?” tanya nya dengan duduk agak menyamping menghadap si lawan bicara. “Sekolah kita, maksudku”

“Aku tidak tahu” jawab Reina terlihat tidak peduli. Sehun hanya mengernyit. “Seperti sekolah” lanjutnya jujur.

Sehun terkekeh mendengar jawaban yang menurutnya aneh tersebut. Ini memang sekolah. Apanya yang seperti?

Reina merasa ia mulai tak tenang saat melihat mata yang membentuk bulan sabit tersebut. Kenapa pria ini terlihat sebegini manisnya? Padahal saat diam, ia terlihat sangat dingin. Yahh….Oh Sehun memang begitu. Sekali ia bicara, aura nya berubah drastis.

Reina diam karena ia merasa Sehun sedang menertawakannya. Apa ia tampak sekonyol itu?

“Kau lucu” ujarnya masih dengan wajah ramahnya.

Reina berusaha memutar otaknya. Ia tahu ini akan menjadi sangat canggung kalau ia hanya diam saja. Tapi jelas ia tak pernah berpikir ia akan mengangkat topik pembicaraan lebih dulu.

“Kau…..selalu membawa kamera?” tanya Reina agak canggung. Jujur saja Reina sering melihat Sehun. Walau selama 1 bulan sekolah di sini tak satu kali pun Sehun bicara dengan nya atau hanya sekadar menyapa nya.

Sehun langsung mengangguk. “Aku suka fotografi. Karena itu aku selalu membawanya bersamaku. Kalau ada objek yang bagus bisa langsung ku foto. Karena itu pula aku malah jadi bagian dari seksi dokumentasi. Aku memfoto atau merekam hal-hal yang akan berkesan saat kita lulus nanti. Tapi masalahnya…..banyak sekali orang apalagi gadis yang meminta difoto setiap saat” paparnya. “Kau tahu? Uang saku ku habis setiap bulannya hanya untuk membeli hardisc. Menyedihkan, bukan?” ujarnya meminta persetujuan seolah dia memang sekeberatan itu. Tapi jelas senyum tipis yang tak luntur itu tak mengatakan hal itu.

“Aku tahu” jawab Reina. Sehun mengangkat sebelah alisnya tidak terlalu mengerti maksudnya. “Aku melihatmu selalu mondar mandir setiap kali acara sekolah. Tidak capek?” tanya Reina terus melihat ke arah bukunya. Ia tidak suka melakukan kontak mata dengan orang asing, terlebih pria.

“Lumayan. Tapi aku suka jadi seksi dokumentasi. Kalau kalian berbaris apalagi harus panas-panas an untuk acara acara tertentu aku malah bebas bergerak. Bisa ke kantin, makan, tidur, dan sebagainya” jawabnya dengan ekspresi usil seolah puas dengan dirinya sendiri.

“Apa itu indah?” tanya Reina kemudian menoleh ragu pada Sehun. Ia hanya tak nyaman. Sedari tadi Sehun berusaha sopan dengan terus menatapnya, tapi ia malah terus menunduk membaca.

Sehun tertawa singkat. “Apa aku menyinggung mu?” tanya Sehun. Mungkin menyebalkan saat mendengar orang lain bersenang-senang saat kau menderita.

“Bukan” jawab Reina pelan. Dan langsung membuat Sehun mengangkat alisnya. “Kau mengatakan kau suka memotret objek yang indah. Jadi…..apa itu indah?” tanya nya ragu

Sehun bungkam. Senyum nya untuk sedetik luntur “…..Tidak” jawabnya kemudian melihat ke depan. “Tapi sudah menjadi tugasku”

“Kau yang membidik objek yang kau foto terlihat sangat keren. Kau selalu menjadi seksi dokumentasi. Tapi aku lebih suka saat kau memfoto objek yang kau suka. Bukan hanya karena kewajiban”

###

‘Aku selalu ingin menjadi objek spesial yang kau abadikan melalui lensa kameramu. Yang ingin kau ambil dengan kehendakmu sendiri’

Sehun memotret beberapa anak yang minta di foto. Reina sejenak melempar pandangan pada mereka. Ucapan Sehun tentang berapa banyak orang yang ingin difoto olehnya terbukti benar. Reina terus mengamatinya diam-diam dengan ekor mata nya. Jantungnya berdegup tidak beraturan melihat sosok Sehun yang sedang mengatur fokus kamera nya. Terlihat benar-benar keren.

“Mau ku foto?” suara itu tak membuat Reina terkejut karena ia sudah tahu Sehun memang berjalan ke arahnya.

Reina menurunkan buku nya. “Tidak, terima kasih” jawabnya pelan. Suaranya selalu sepelan ini. Membuat kebanyakan orang tak suka berbicara dengan nya. Mau bagaimana lagi? Sejak dulu Reina memang tidak pernah punya teman dan jarang sekali diajak bicara.

“Sudahlah….tak masalah. Aku memfoto semua orang. Tidak usah sungkan” ujarnya memegang kamera nya mulai mengatur angle yang pas.

“Memfoto ku sama sekali bukan tugasmu”

“Hah?” Sehun berhenti dan menjauhkan kamera nya dari wajah nya saat ia mendengar kalimat yang sedikit aneh baginya. Nyaris tak ada orang yang menolak difoto olehnya.

“Itu tugas dokumentasi kan? Untuk di edit dan tunjukkan di album kelulusan nanti. Jadi kau tak perlu memfoto ku” ujar Reina sedikit menggigit bibirnya. “Aku tidak akan di sini sampai kelulusan. Jadi…..kau bisa menghemat space hardisc mu” Reina sadar dia bukan bagian dari angkatan Sehun. Dia hanya siswi pertukaran pelajar. Dan akan kembali saat tahun ini selesai.

“Foto satu orang tak akan langsung memenuhi hardisc ku” ujar Sehun tapi ia tak memaksa. Ia memilih mendudukkan dirinya di samping Reina.

###

“Aku selalu melihatmu. Kau mengabadikan banyak hal melalui lensa kameramu. Dan aku selalu menatapmu melalui lensa mataku”

“Hitungan ke-3 bilang kimchi. 1…2…3!” ujar Sehun dan langsung dituruti oleh orang-orang di hadapan nya.

“Okay….sekarang yang non-formal, okay?” ujar nya dan orang-orang tersebut langsung merubah pose nya.

“Lagi! Lagi! Lagi, Sehun!” gerombolan itu langsung memaksa untuk foto yang lebih banyak. Padahal jatah tiap kelas adalah satu foto formal dan satu foto non-formal.

“Astaga! Sekarang giliran anak kelas lain!” ujarnya dan terombang-ambing dengan goncangan orang-orang yang meminta foto tambahan.

“Satu kali lagi, please!” ujar mereka berkali-kali meyakinkan.

“Fine” Sehun menghela nafasnya dan orang-orang tersebut kembali menyusun formasi kelas mereka. “Say kimchi”

“KIMCHIII”

“Sekarang menyingkir” ujarnya langsung mengusir.

“Satu kali lagi, Sehun!” ujar mereka dan jari telunjuk mereka mengacung untuk memohon

“Tidak. Cepat kembali ke kelas” ujar Sehun tegas karena ia tahu ini tak akan ada akhirnya kalau ia menuruti. Sudah terlalu tahu tabiat orang-orang di sekolahnya

“Yaahhh” suara kecewa tersebut langsung terdengar bersamaan. Tapi mereka akhirnya menurut karena sedikit mentoleransi Sehun masih banyak pekerjaan.

Sehun mendudukkan dirinya lemas di bangku panjang dimana Reina juga duduk. Reina meliriknya sedikit. Ia tahu bagaimana lelahnya Sehun seharian ini. Pria itu menjadi fotografer tunggal untuk memfoto tiap kelas dan juga perorangan nya. Yang Reina tahu sekarang adalah mereka benar-benar percaya dengan kemampuan Sehun dan sama sekali tak berpikir memanggil pro.

“Kenapa memfoto sekarang dan bukan saat kelas 3 nanti?” tanya nya pada Sehun.

“Heumm……” Sehun bergumam menimbang-nimbang. “Beberapa orang suka saat wajahnya masih baby face, jadi lebih baik sekarang. Lagi pula kalau mau ganti, nanti setelah kelas 3 masih bisa foto ulang, kok. Kalau masa depan tinggal di tunggu saja. Masa sekarang yang tak akan terjadi 2 kali” ujarnya masih memandang lelah ke depan.

“Tidak ada yang terjadi 2 kali”

Gumaman singkat Reina langsung membuat Sehun menoleh. “Heum?” Sehun menegakkan punggungnya dan kali ini menatap serius gadis di sampingnya.

“Semuanya hanya sekali. Masa lampau, sekarang, ataupun masa depan. Satu detik yang lalu pun tak akan bisa terulang. Jadi….aku tidak mengerti kenapa orang-orang sibuk memfoto. Mereka bilang mengabadikan kejadian. Faktanya itu hanya selembar foto. Itu tak sama. Suhu, cahaya, aroma, suara, tak semua bisa direka ulang sama persis” ujarnya terlihat sedikit menerawang

Sehun terkekeh mendengarnya. “Kalau sama persis kan bahaya” jawabnya dengan nada jenaka.

“Apa?” Reina tidak mengerti kenapa ia malah mendapatkan reaksi seperti itu.

“Misalkan saja ada yang buang angin saat pengambilan foto. Kan tidak nyaman kalau melihat fotonya harus mencium aroma yang sama lagi” Sehun terkikik dengan ucapannya sendiri. Perlahan sudut bibir Reina juga tertarik.

“Barusan kau tersenyum?” tanya Sehun memperhatikan sudut bibir Reina yang beberapa saat lalu tertarik.

“Memangnya kenapa?” tanya Reina canggung karena Sehun melihatnya sampai seperti itu.

“Aku tidak pernah lihat” jawab Sehun jujur.

“Oh?” Reina menunduk. Memilih melanjutkan membaca novel di tangan nya yang berjudul ‘The Lens’

“Manis sekali” komentar singkat itu membuat tubuh Reina kaku seketika. Ia mengangkat pandangan nya kembali ingin memastikan ia tak salah dengar “Kalau kau tersenyum seperti itu manis sekali” ulang Sehun lagi

Reina tertegun. “Boleh aku pinjam kameranya sebentar?” pinta nya.

“Boleh. Tapi untuk apa?” ujarnya dan menyerahkan kamera di tangan nya.

Reina mengambilnya dan menekan salah satu tombol di sana. Sehun hanya berkedip beberapa kali setelah ia mendengar suara jepretan kameranya.

“Kau memfoto ku?” tanya nya heran.

“Maaf” ujar Reina buru-buru mengembalikan kamera Sehun. Ayolah! Ia dan Sehun tidak seakrab itu, dan ia berani-berani nya mengambil foto tanpa meminta izin terlebih dahulu? Itu terdengar sangat lancang.

“Aku hanya bertanya” ujar Sehun mengulas senyum tipis pertanda ia tak masalah dengan tindakan Reina.

“Aku tak pernah melihatmu berfoto” ujar Reina menunduk.

“Apa?” tanya Sehun memastikan pendengaran nya karena suara Reina benar-benar pelan.

Reina mengangkat wajahnya ragu sambil menggigit pipi bagian dalam nya “Kau selalu memfoto orang lain. Tapi tak pernah ikut berfoto. Dan anehnya tak satupun orang sadar kalau kau tak pernah ikut dalam foto” ujarnya. Ada sedetik kebisuan diantara mereka. Dan Reina pikir ia salah bicara. “Setahuku sih….. Entahlah…. Aku tidak pernah dengar ada yang bertanya kenapa kau tak ikut difoto atau mengajak kau ikut  berfoto. Aku merasa itu aneh” ujarnya ragu.

Sehun seharian memfoto semua orang. Dan ia juga mengambil foto anak kelas nya. Reina tidak ikut berfoto karena mau bagaimana pun ia memang bukan bagian dari kelas dan semua orang menganggapnya asing. Nyaris tak ada yang mau berbicara dengan nya. Tapi Sehun memang bagian dari kelas itu sejak kelas 1. Dan dia berteman baik dengan anak-anak kelasnya.

“Semua orang terlalu terbiasa melihatku mengambil foto mereka. Jadi tak pernah ada yang punya pikiran ada yang tak masuk dalam foto tersebut”  jelas Sehun. Reina mengangguk mengerti. Sehun melihat hasil foto yang diambil Reina. Tersenyum melihat foto close-up dirinya di kamera nya sendiri. Foto itu biasa saja, jelas hasil jepretan amatir. Tapi entah kenapa membuatnya senang. Mungkin karena itu adalah foto pertama nya dalam waktu beberapa tahun terakhir ini? “Kau yang pertama sadar”

“Oh?”Reina merasa canggung tanpa sebab.  “Ngomong-ngomong bagaimana dengan hari ini? Menemukan sesuatu yang menarik untuk di foto?” tanya nya berusaha mencari topik pembicaraan.

Sehun menyamankan dirinya di sandaran bangku panjang tersebut. Ia menerawang mengingat-ingat. “Hari ini aku terlalu sibuk memfoto orang-orang sampai refleks ku mengambil foto jadi berkurang. Ya, aku melihat sesuatu yang cantik hari ini. Tapi aku tak sempat mengambil foto nya”

“Ohh….. Sayang sekali” ujar Reina berusaha menanggapi sekalipun ia tahu ia adalah orang yang membosankan dalam percakapan seperti apapun.

“Ngomong-ngomong kau selalu membaca buku. Apa sebegitu menariknya?” tanya Sehun melihat buku di tangan Reina. Sehun berkali-kali melihat gadis ini dengan buku. Baik itu buku pelajaran, pengetahuan umum, ataupun novel. Benar-benar tipikal anak berprestasi yang terpilih dan dikirim untuk pertukaran pelajar.

“Aku suka membaca karena aku bisa melihat dari pemikiranku sendiri. Terserah mau bagaimana membayangkannya” ujar Reina menatap sekilas sampul novel nya.

“Ahh…. Aku tidak suka membaca. Aku lebih suka menonton” ujar Sehun dan menaikkan salah satu kakinya untuk menimpa yang lain nya.

“Kalau menonton……Aku tidak bisa mempercepatnya. Hanya menunggu sampai selesai. Kalau membaca kapan selesainya tergantung aku. Dan……kalau menonton aku merasa terbatasi”

“Terbatasi?” Sehun merasa aneh dengan kata-kata Reina. Ia tidak mengerti.

“Semuanya sudah pasti. Bagaimana ceritanya. Ekspresinya. Orangnya. Aku seperti tak ikut andil apa-apa. Jadi……aku tidak suka” ujar Reina memikirkan yang terjadi padanya tiap kali ia menonton.

“Kalau begitu Weekend ini mau nonton bersama?” tawar Sehun

“Apa?” Sehun terkesiap mendengar ajakan yang terlalu tiba-tiba tersebut.

“Kalau dari ucapanmu bukankah itu artinya kau jarang menonton?” tebak nya langsung.

“Yeah?” Reina kehilangan kosa kata untuk sejenak.

“Aku mengajakmu untuk nonton. Aku tahu film yang bagus” uajr Sehun yakin.

“Aku tak suka bioskop” ujar Reina sedikit tidak enak hati. Sehun bermaksud baik, tapi ia malah menolak.

“Kenapa?” tanya Sehun mengernyit

“Layarnya terlalu lebar sampai tak semuanya bisa masuk ke mataku. Rasanya sakit saat layar sebesar itu dijejalkan dan dipaksa memasuki mataku”

Sehun nyaris tertawa mendengar penjelasan yang baginya terlalu abstrak tersebut. “Kau agak unik, kau tahu?”

“Kau terlalu sopan” ujar Reina dengan sedikit gelengan. “Orang biasanya mengatakan aku Freak. Sejak dulu selalu begitu”

“Kau sedang mengatai dirimu sendiri Freak?”

“Aku tak punya opini pada diriku sendiri. Tapi bukankah opini orang tentangmu adalah pantulan dari dirimu? Itu refleksi” ujar Reina tersenyum canggung. Dari dulu ia selalu seperti ini. Hanya Freak.

Sehun menatapnya serius untuk beberapa detik. Tatapan yang Reina sendiri tidak tahu apa artinya. “Bukankah kau mengerti sifat-sifat pemantulan? Baik itu cermin ataupun lensa. Tak satupun bayangan persis seperti objek. Terkadang lebih besar atau lebih kecil. Terkadang berlawanan arah. Terkadang terbalik. Bahkan cermin datar juga begitu. Jadi kenapa kau menerima begitu saja pendapat orang tentangmu?” tanya nya terdengar tajam.

Reina menunduk mendengar nada setajam itu pada dirinya. Ia bukan orang yang bisa mendapat tekanan langsung saat berbicara.

“Lain kali tanya saja pada dirimu sendiri. Karena bagaimana dirimu yang sesungguhnya, hanya kau yang tahu pasti dan kau yang menentukan” ujar Sehun dan ada sedikit helaan di ujung nya. Tidak tahu kenapa pria itu terlihat kesal saat ini.

Reina menunduk semakin dalam. Bertanya pada dirinya sendiri? Reina diam. Sejenak benar-benar melakukan yang dikatakan Sehun. Namun detik itu pula wajahnya menjadi lebih suram

Dear life, hari ini aku bertanya pada diriku sendiri. Dan ia mengatakan ‘Kau hanya anak culun yang jelek’.

“Aku yakin aku tak pernah menjadi objek yang kau foto. Karena aku tak memiliki daya tarik apa apa”

###

“Sehun, jadilah pacarku!” Sehun hanya menatap gadis dihadapan nya. Matanya menatap memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

“Maaf, aku hanya bisa menganggapmu sebagai teman” ujarnya dan gadis itu langsung berlari dengan air mata membasahi pipi nya.

###

“Ternyata kau populer” Sehun menoleh saat mendengar celetukan dari sampingnya. Reina. Masih gadis yang sama. Entah kenapa Sehun menjadi sering mendudukkan dirinya di kursi panjang di lorong di samping kelas nya dan menghabiskan waktu istirahat dengan gadis berdarah Jepang tersebut. Kadang mereka bercakap-cakap. Tapi tak jarang juga Sehun hanya membersihkan kameranya, mengutak-atiknya, atau apapun dan Reina masih dengan buku-bukunya.

“Apa?” tanya Sehun meminta kejelasan.

“Bukankah kemarin kau mendapatkan pernyataan cinta dari seorang gadis?” tanya Reina menatap Sehun. Yang Sehun sadari gadis ini lama-kelamaan tidak masalah menatapnya. Well…..Sehun sadar saat pertama kali bertemu Reina hampir selalu menunduk.

“Kau lihat?”

“Aku baru dari perpustakaan. Jadi tak sengaja lihat” jawab Reina jujur.

Sehun diam sejenak. Entah untuk apa tapi masih memikirkan perkataan Reina.

“Kenapa tak terima saja? Kau tahu? Banyak orang yang pacaran sekalipun bukan karena cinta. Tidak ada salahnya kan?” tanya gadis itu lagi.

Sehun menghela nafas panjang. “Pertama, aku tidak suka asal pacaran. Aku bukan orang yang sebegitunya ingin pacaran sampai akan menerima gadis manapun. Kedua, kalau aku menerimanya dan kami putus nantinya, hubungan kami akan lebih buruk daripada aku menolaknya dari sekarang. Ketiga, kalau aku menerimanya kami akan melakukan banyak hal yang dilakukan oleh orang pacaran, dan aku ingin melakukan hal-hal seperti itu hanya dengan orang yang memang kusukai. Tapi yang paling penting adalah saat ini aku sedang menyukai seseorang, dan aku ingin dia jadi pacarku. Kalau aku pacaran dengan orang lain aku tak akan bisa pacaran dengan nya”

Reina merasa seketika lidahnya kelu. Tapi ia berusaha sebaik mungkin agar tak mengubah ekspresinya.“Begitu?” Reina buru-buru membaca kembali bukunya sebelum ekspresinya menjadi aneh. “Apa dia cantik?” tanya nya sekilas melirik Sehun.

“Sangat” jawab Sehun yakin.

Cantik. Sehun suka mengambil foto objek yang cantik. “Baguslah. Jadi kau bisa mengambil fotonya sebanyak-banyak nya” ujar Reina dengan senyum tipisnya.

“Kalau itu…..Menurut tebakanku dia tak suka difoto. Jadi aku hanya satu kali mengambil fotonya. Mau lihat?” tawarnya dan merogoh sakunya.

“Itu…..Aku…..” Reina merasa otak nya blank. Ini terlalu mendadak. Ia sudah tahu akan patah hati sejak pertama kali jatuh cinta pada Sehun. Hanya saja ia tak berpikir ia akan melihat secara langsung pemilik hati pria itu.

Sehun mengambil dompet nya. Reina tak punya alasan untuk menolak karena aneh kalau ia kabur sekarang. Tapi sungguh ia tak ingin melihatnya.

“Cantik kan?” ujar Sehun menyodorkan selembar foto yang ia tarik dari dompet nya.

Reina mengernyit saat matanya menangkap gambar di foto itu. Foto yang Sehun bilang merupakan foto satu-satunya yang ia miliki dari gadisnya. “Ini kan…..” Reina mengangkat kepalanya melihat ke Sehun.

Pria itu langsung terbahak-bahak saat melihat ekspresi Reina.

Reina diam melihat Sehun tertawa. Jadi ini jenis lelucon yang baru? Reina tak berpikir apapun tentang ini. Ia hanya kembali pada bukunya.

“Aku serius, ini gadis yang ku suka” ujarnya diantara tawa nya.

“Tidak lucu, Sehun. Mataku tidak rusak. Itu pohon, bukan seorang gadis” okay, foto itu cantik seperti kata Sehun. Tapi tetap saja bukan gadis atau setidaknya manusia. Hanya pohon yang di ambil dari jarak jauh saat matahari hampir tenggelam. Angle nya bagus. Sempurna. Sehun mungkin akan juara kalau ia mencetaknya dengan ukuran lebih besar dan mengikutkannya dalam lomba.

Sehun masih butuh beberapa detik untuk meredakan tawanya. Reina kembali pada bukunya. Sehun masih memandangi foto di tangannya. Tatapannya melembut.

“Aku serius, ini foto gadis cantik yang kusukai dan ingin kujadikan pacar” gumamnya pelan sambil masih menatap foto di tangannya.

Reina menggeleng halus tanda tidak mengerti sekaligus tak peduli. Sehun mungkin jatuh cinta pada fotografi dan mungkin foto yang ia pegang adalah yang paling ia sukai. Tapi bisakah pria itu tak sinting mengatakan ingin memacari foto?

###

Sehun berjalan di sebuah lorong yang tepat berada di samping kelasnya dulu. Menatap bangku panjang yang ada di sana. Bangku itu kosong. Tak ada siapapun lagi di sana. Sehun memasang senyum tipis yang sedikit terlihat miris. Menyenangkan saat ia mengingat satu tahun yang ia habiskan di sana setiap jam istirahat. Tapi menyiksanya saat hari itu tak akan terulang.

“Sehun!” Sehun langsung berbalik saat mendengar namanya dipanggil.

“Mau kabur ya! Kau ini! MOS nya sudah dimulai. Seharusnya kau mengambil foto anak baru agar setelah ini berakhir mereka tahu mereka pernah menjadi sekonyol itu. Ini penting tahu!” gerutu pria yang lebih pendek darinya tersebut.

“Iya, iya, Baek. Aku hanya ke toilet sebentar tapi kau sudah secerewet ini” ujarnya dan kembali ke lapangan utama sekolah mereka.

###

Sehun menatap layar komputernya. Melihat-lihat beberapa gambar yang ia ambil hari ini. Ia mengutuk saat melihat lagi-lagi space di komputernya tinggal sedikit lagi. Ia mendesis. Kenapa orang-orang sangat narsis sih? Kalau hanya foto kegiatan MOS anak baru sebernarnya tak sampai sebanyak itu. Tapi masalahnya semua panitia yang bertemu dengannya selalu minta difoto. Dan itu…..berkali-kali sampai mereka puas.

Sehun mengambil kameranya. Dan menyalakan lampu kamarnya. Ia mengarahkan lensa kamera itu ke arah dirinya. Menekan tombolnya saat ia rasa seharusnya foto nya akan bagus. Shit! Ia langsung menyerapah saat blitz kamera terlalu silau mengenai matanya. Kenapa pula dia lupa mematikan blitz nya? Sekarang matanya sakit karena memang jarak wajahnya dengan kamera terlalu dekat. Sehun melihat hasil fotonya. Dan sesuai tebakannya. Wajahnya jelek sekali karena ekspresi yang sudah ia siapkan sebelumnya jadi tak berguna.

Sehun menghela nafas panjang dan kembali meletakkan kameranya. Sudah cukup. Ia sudah terlalu malas untuk mengambil foto dirinya sendiri lagi.

Tangannya kembali mengutak-atik komputernya. Membuka sebuah folder di sana. Hanya ada 2 foto di dalamnya. Foto close up dirinya yang masih memakai seragam sekolah. Dan satu lagi….Foto yang ia ambil bahkan sebelum memulai kelas 2 nya.

Sehun mengklik foto tersebut. Pohon. Itu salah satu gambar terbagus yang pernah ia ambil tapi entah kenapa malah tidak ingin ia ikutkan lomba apapun. Karena foto ini berharga, Sehun hanya ingin menyimpannya untuk dirinya pribadi.

Sehun mengklik mouse nya. Memperbesar gambarnya berkali-kali lipat. Sehun menarik senyumnya dan menyandarkan dirinya dengan nyaman di kursinya melihat hasil perbesaran gambar tersebut. Matanya menatap lembut ke foto tersebut. Siluet seorang wanita yang sedang bersandar ke sebuah pohon dengan tangannya memegang buku.

“Kenapa dulu aku tak menyatakan cinta padamu, Rei?”

END

Halooo….. Aku Berry Cupcakes balik lagi. Yah….FF Sehun lagi. Ini FF aku yang ke-5 yang di post di sini. Ngomong-ngomong FF ini terinspirasi dari penderitaan anak-anak dokumentasi saat aku SMA. Dan saat itu aku suka sama salah satu anak dokumentasi. Tapi aku nggak seberuntung Reina yang bisa ngomong sama cowok yang dia suka. Aku nggak pernah ngobrol satu kali pun. Dan mungkin dia bahkan nggak tahu aku ada di dunia. #Jiaahh….curcol.

Pokoknya gitu deh…. Selamat membaca karya aku yang lainnya.

Best regards,

Berry Cupcakes.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s