[EXOFFI FREELANCE] Cruel (Bab 3: Penjelasan yang Mengejutkan)

417adf5b984f17684507c68542de79d1.jpg

CRUEL

BAB 3: Penjelasan Yang Mengejutkan

Written by: Audrey_co

Genre: Melodrama-Romantic

Length: Chapter

Rate: Teen

Starring by: Xi Luhan and Shin Yeeun

Summary: Sebuah misteri tentang Iblis bernama Fogoh begitu menggemparkan masyarakat Korea Selatan, khususnya di distrik Gwangju. Para anak-anak yang mengalami kejadian buruk dalam hidupnya memilih untuk menjadi Iblis di tangan seorang penyihir tua. Namun berbeda dengan Luhan, ia harus menjadi Fogoh karena alasan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun ia larut dalam kesedihan karena menjadi Iblis, tiba-tiba tuannya membawa pulang seorang gadis muda bernama Byun Sungrin. Gadis itu benar-benar membawa perubahan bagi hidup Luhan. Tapi, apakah manusia dan Iblis bisa bersatu? Apa bisa perasaan cinta ada di antara dua makhluk berbeda in?

Disclaimer: Seluruh cast milik Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya meminjam nama mereka. Isi cerita murni hasil pemikiran saya. Seluruh adrgan dalam cerita hanya fiksi belaka demi hiburan semata. NO PLAGIAT dan silahkan komentar jika menurut kalian cerita ini perlu dikomentari.

BAB 1: Fogoh | BAB 2: Rusa Pemikat Hati

※Cruel※

Akhir pekan. Seharusnya disaat seperti ini aku bergelung dalam selimut sembari membaca buku pelajaran. Tapi, untuk pertama kalinya aku melakukan sesuatu yang tak pernah kulakukan—menyanyi. Aku memang pecinta musik, tapi tak pernah terlintas di kepalaku untuk menyanyi selayaknya idol-idol kesukaanku.

Sebagai informasi, para Fogoh selalu memiliki acara di setiap akhir pekan. Mereka membuat panggung mini juga beberapa dedaunan pohon jati mereka tumpuk untuk dijadikan alas duduk. Seluruh acaranya telah disusun oleh Raylin juga Chen. Aku yang mendapat giliran ketiga setelah Baekhyun dan Lucy kini tengah berdiri dengan kaku, di tanganku terdapat sebuah kertas yang bertuliskan judul lagu yang harus aku nyanyikan. Ini buruk! Aku saja tak pernah tahu bagaimana suaraku dan mereka malah menyuruhku untuk bernyanyi. Suara Baekhyun juga Lucy sangatlah merdu. Aku tak yakin ini akan baik.

“Ayo, Sungrin! Bernyanyi lah!” Seru Jongin yang duduk paling depan bersama mate-nya, Mia. Bibirku terkulum, kegugupan yang sialnya tak bisa dikompromi membuat semua orang gemas melihatku.

“Ada apa denganmu, Sungrin? Kau gugup?” Tanya Junmyeon cemas. Aku mengangguk patah-patah.

Aku tak tahu sejak kapan Luhan berdiri di sampingku. Ia merebut kertas yang hampir basah karena keringatku, membuatku terkejut bukan main dan nyaris menampar wajahnya. “Kau membuatku terkejut!” Pekikku kesal. Ia menunjukkan senyum lebarnya.

“Lagu ini adalah lagu kesukaanku. Mau bernyanyi bersama?” Pertanyaan Luhan sukses membuatku terdiam. Menyanyi bersama? Suara Luhan sangatlah merdu -karena aku pernah tidak sengaja mendengarnya bersenandung saat sedang mandi- sedangkan aku? Entahlah… aku tak ingin mengatakannya.

Luhan memegang pundakku dan berbisik “Kita akan menyanyikannya bersama. Jadi, jangan gugup lagi.” Ia tersenyum kemudian bergumam lagi, “Fighting, Wonsungi!”

Darahku berdesir, seketika pertuku dipenuhi oleh kupu-kupu yang entah berasal dari mana. Kurasa wajahku bersemu merah karena kini semua kaum Fogoh menggodaku dan Luhan.

“Baiklah, mari kita lakukan.” Kepercayaan diriku kembali. Aku mengambil nafas dalam, jadikan ini yang paling berkesan.

Luhan mulai bernyanyi. Tak kusangka suaranya bagus sekali. Kini giliranku untuk bernyanyi, aku mencoba menyuarakannya semampuku. Hasilnya? Tidak buruk. Aku sempat melirik semua orang yang tengah terpaku karena suaraku. Sehebat itukah aku?

Lagu berakhir, kami berdua mengakhirinya dengan harmoni yang indah. Semua orang bertepuk tangan, tak terkecuali Luhan yang kini memandangku. Malu, itu yang kurasakan saat ini.

“Luhan sudah berubah,” tak sengaja kudengar Kris bercakap dengan Chen saat menuruni panggung.

Aku melirik Luhan yang pergi ke arah berlawanan, dan segera mungkin mendekati Kris juga Chen yang terlihat serius. “Apa maksud perkataanmu, Kris?” Kedua makhluk itu saling bertatapan, kemudian mengangguk bersamaan.

“Luhan, dia sebenarnya adalah pemuda yang pemurung juga pendiam-“

“—sangat pendiam!” Potong Chen saat Kris menjelaskan.

“Lalu?” Alisku berkerut, aku butuh penjelasan lebih.

“Luhan itu bukannya rela ingin menjadi Fogoh, tapi Appa kami yang memaksanya untuk menjadi Fogoh. Itu karena Luhan yang hampir saja membocorkan asal-usul kaum kami.” Aku tak bisa menahan ekspresi terkejut ketika Kris menyelesaikan kalimatnya. Rupanya begitu. Pantas saja Mia terlihat sedih saat memperkenalkan Luhan padaku waktu itu.

“Sungrin, ku harap kau juga tak melakukan hal yang sama. Kau juga jangan melanggar peraturan kaum Fogoh. Kau akan berada dalam bahaya besar jika berani melanggarnya. Kau mengerti?” Perkataan Chen yang terkesan menasihati membuatku kembali berpikir keras. Bagaimana ini? Berarti memang tak ada jalan untuk mengabulkan keinginan Luhan.

※Cruel※

Tak kusangka hari berjalan begitu cepat. Aku yang tak lagi merindukan rumah membuatku terlihat seperti anak yang tidak tahu diuntung. Jika saja orang lain tahu bahwa aku lebih memilih kaum Fogoh daripada mereka, aku yakin mereka akan menggunjingku dan menyuruhku untuk menjadi seorang Fogoh juga. Bagaimana lagi? Rasa penasaranku terhadap kaum ini begitu besar, hingga aku lebih memilih untuk tinggal sementara dan memutuskan untuk menjadi mate Luhan.

Sekarang aku tahu, mate adalah pasangan yang sudah berkomitmen untuk menjadi Fogoh selamanya. Aku meringis, ini bukanlah takdirku. Aku tahu itu. Menjadi seorang Fogoh secara suka rela bukanlah gayaku. Maksudku, aku adalah tipikal orang yang tidak berpikiran pendek dan mengedepankan perasaan. Meski terkesan tega, tapi semua ini demi masa depan yang masih belum pasti.

Ini sudah terlalu lama semenjak aku menampar Seorim. Aku seperti lari dari masalah. Bukannya begitu, hanya saja aku sudah tak tahan lagi dengan mereka yang memandang sebelah mata kaum Fogoh. Aku juga tak membela mereka, tapi setidaknya setiap makhluk hidup harus saling menghormati satu sama lain, bukan?

Tapi,

Di samping itu,

Aku telah membuat kesalahan!

Kebohongan yang aku buat membuat banyak orang terlibat dalam cerita picisanku ini. Salahku, memang, aku tak bisa berpikir secara dewasa. Maksudku, aku selalu diliputi rasa penasaran. Makanya, aku berani mengambil resiko yang tinggi.

Pada akhirnya, aku harus meluruskan kesalahpahaman ini. Aku menoleh ke samping, mendapati wajah berseri Luhan yang tengah bermain dengan semut-semut kecil. Sepertinya ia terlihat bahagia, aku jadi tak tega untuk mengatakannya. Kurasa ia sedikit risih karena ditatap, jadinya ia memandangku dengan wajah bingungnya.

“Ada apa, Sung? Kau ingin mengatakan sesuatu?” Luhan mengembalikan semut-semut itu ke tanah. Aku yang mengulum bibirku hanya bisa menghela nafas. Kurasa, aku harus memutuskannya.

“Luhan, kuharap kau mau mengerti.” Aku memainkan jari-jariku random. Aku yakin sekarang Luhan tengah penasaran dengan kelanjutan kalimatku.

“Aku… sebenarnya… tak mengerti. Kenapa aku harus berbohong? Kenapa aku harus menjadi mate-mu? Kenapa aku masih menetap di tempat yang bukan seharusnya? Semua itu telah… aku pikirkan sejak kemarin.” Luhan tak bersuara. Pasti lah dia sedang mencoba mencerna perkataanku yang terkesan rumit.

“Bukan maksudku untuk mengecewakanmu. Hanya saja, aku harus pulang. Mungkin saja orangtuaku sedang cemas sekarang. Meskipun pada awalnya aku tak berniat untuk kembali ke rumah, namun aku mencoba untuk tidak egois. Semuanya menungguku kembali. Dan jika mereka menemukanku di sini, maka habislah kalian para kaum Fogoh.” Lanjutku dengan nada lirih. Sebisa mungkin aku menahan bulir cairan asin yang berasal dari pelupuk mataku.

Luhan menunduk. Terdengar helaan nafas darinya. Sambil menunduk, ia berkata; “Sebenarnya, tak ada seorang pun yang bisa melihat rumah ini.” Aku diam seribu bahasa, memandang Luhan penuh tanya.

Tak terlihat oleh seorang pun? Ah, aku melupakan sebuah fakta—yang membuatku berada dalam posisi sangat fatal ini—bahwa mereka adalah Iblis. Bodoh kau, Byun Sungrin!

“Melihatmu mengingatkanku dengan kejadian empat tahun lalu, saat aku masih berumur 12 tahun. Aku yang juga penasaran dengan kehidupan para Fogoh memilih untuk kabur dari rumah saat sore hari dan menjelajah sendiri ke hutan antah-berantah ini. Hutan yang terlihat sunyi, tapi aku merasakan kehadiran seorang-tidak, sebuah kaum yang tidak ku ketahui.”

Pria di sebelahku ini mengusap wajahnya hingga air mata yang sempat membasahi wajahnya tak tersisa lagi. Ia kembali melanjutkan ceritanya. “Saat itu sama sepertimu, mendadak turun hujan lebat. Aku yang sangat menyukai hujan tak peduli dan terus menelusuri hutan dengan kedua kakiku. Tak sengaja aku melihat Appa yang sedang memungut kayu di tengah hujan. Aku tak tega karena ia terlihat kesusahan. Aku memutuskan untuk membantunya. Kemudian, ia membawaku ke rumahnya. Rumah yang hampir tiga jam aku cari namun tak kunjung aku dapatkan.”

“Percayalah, Fogoh adalah Iblis! Aku mengetahuinya ketika tak sengaja melihat mereka yang sedang bersama Appa di sebuah ruang kecil di rumah ini. Hari itu, aku melihat Chen yang nampak kesakitan dan matanya berwarna merah darah. Seketika perasaan takut menguasaiku. Sehari setelahnya, aku berniat kabur dan menceritakan semuanya pada Polisi. Tapi, Appa yang tahu niatku langsung mencegahku dan membawaku ke ruangan kecil itu.”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Jadi, semua yang dikatakan orang tua itu tidak bohong? Sungguh tak bisa dipercaya, Fogoh adalah Iblis? Itu artinya, Luhan juga Iblis? Air mataku kembali mengucur. Tuhan memanglah tidak main-main dalam membuat hati seseorang merasa bimbang, layaknya kapal yang terombang-ambing di atas samudra luas tanpa Nahkoda.

Luhan menengadahkan kepalanya, kurasa sedang dia mencoba untuk tidak menangis lagi. “Appa mengikatku di kursi dan mengeluarkan sebuah buku tua dari dalam lemarinya. Ia kemudian membacakan sederet mantra yang membuat seluruh tubuhku rasanya hancur semua. Setelahnya aku merasa aneh, tiba-tiba aku berubah menjadi rusa kecil yang terlihat menyeramkan. Aku tahu, saat itu aku telah menjadi Fogoh sepenuhnya. Aku tak bisa lagi kembali pada keluargaku. Seluruh hidupku telah berubah, dan jujur itu membuatku sangat terpukul.”

Suara guntur yang terdengar menjadi soundtrack dari keheningan yang tercipta. Aku yang masih terkejut tak berani berkata-kata setelah pemuda rusa itu menyelesaikan perkataannya.

“Aku tak akan melarangmu. Cepatlah pergi sebelum kau menyesal sama sepertiku!” Luhan bangkit dari duduknya, ia berujar tanpa menatapku.

Terus terang saja, ada bagian dari relung hatiku yang terasa sakit. Seperti beribu-ribu jarum yang membuat hatiku sesak. Pertama kalinya aku merasa takut kehilangan seperti ini. Benar-benar tidak enak bagiku si gadis pemula.

Lagi-lagi terdengar suara gemuruh di luar, menandakan bahwa saat ini sedang hujan lebat. Jam menunjukkan pukul 9 malam, hanya kami berdua yang tersisa dari yang lainnya. Aku menatap kosong ujung baju kuning yang tengah ku kenakan. Baju milik Mia ini benar-benar besar. Membuatku terlihat seperti sedang menggunakan dress. Sedang asik memikirkan baju Mia, sepasang kaki kini berada di depan kedua kakiku. Luhan? Aku pikir dia sudah pergi tadi.

“Sebelum kau pergi, aku ingin menagih janjimu. Sekarang katakan, cara apa yang tepat agar aku bisa bermain di bawah guyuran hujan di luar sana.” Sungrin mendongakkan kepalanya seraya meneguk saliva kasar. Bagus. Kau melupakan yang satu itu, Byun Sungrin—batinku.

TBC

Hehehehe…. udah lama nggak nulis auhtor’s note hehehehe….

Cuma mau bilang, aku kangen Luhan. Tq.

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Cruel (Bab 3: Penjelasan yang Mengejutkan)”

  1. aq baru nemu ff ini. ijin baca iaa ka…
    ff nya keren ka’ imajenasiku tinggi tentang khidupan fogoh ‘ pantangan ap yg sebenarnya ada di khidupan mereka’ gimana jlan takdir luhan sama sungrin ntar ??
    aq ngrasa bakal banyak liku”.. ( sok tau ‘ itu rahasia author .. !! aq cuma nebak ka )
    kk aq tunggu next selanjutnya .
    tetep semngat ..!!💪💪

  2. huh kk..
    keren critany..
    aq bingung tntg kaum fogoh dan bru pertamakali bca ff tentang fogoh. fogoh itu sebenarny baik atw jhat sich kk
    ksihn luhan, tega gk ya sungrin ninggalin luhan..
    Duh penasarn ma chapter selanjutny..

    Ditunggu ya kk next chapterny.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s