[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 26)

picsart_09-19-05-49-51.png

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |Wu Yifan a.k.a Kris Bae | etc~

Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

.

.

–Chapter 26–

.

.

Sehun menggeliat pelan dalam tidur nyenyaknya. Lantas, ia mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasa sinar matahari merambat masuk ke dalam kamarnya. Kini matanya sudah membuka dengan sempurna dan ia pun menegakkan tubuhnya sembari mengucek kedua matanya.

Ia sadar, jika di atas ranjang king size-nya, sang istri tidak berada di sana. Ya memang bukan hal aneh lagi jika Irene selalu bangun lebih dulu. Nyatanya semenjak 2 minggu kehamilan Irene, gadis itu sangat suka bagun di jam 6 pagi dan berpindah tidur di sofa ruang tamu. Sepertinya istrinya tertidur di sana lagi.

Sehun pun segera bangun, tidak menghiraukan tubuh atasnya yang polos tanpa kaos, rambut berantakan dan wajah khas bangun tidurnya. Ia segera keluar dari kamar utamanya dan turun ke lantai bawah. Tidak menunggu lama, mata Sehun menatap gadis cantik dengan piyama biru navy-nya itu sedang tertidur di sofa.

Segera saja Sehun menghampiri istrinya yang nampak tertidur pulas disertai selimut tipis berwarna krem yang menyelimuti tubuhnya. Sehun tersenyum kecil sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Irene. Sehun meraih jemari istrinya dan mengusapnya lembut.

Memang Sehun menyadari, jika nafsu makan istrinya sedang dalam peningkatan. Istrinya juga jadi sering manja padanya. Seperti menelfon Sehun untuk cepat pulang dengan alasan Irene sangat merindukan Sehun. Atau mungkin, Irene akan datang ke kantor Sehun dan menyuruh pria itu menemaninya makan ice cream.

“Sayang? Tidur di kamar ya? Nanti badanmu bisa sakit.” Bisik Sehun sambil mengecupi kening Irene berkali-kali. Dan hal itu membuat pergerakkan pada tubuh gadisnya. Irene membuka matanya yang sebenarnya masih ingin tertutup lebih lama.

Kini keduanya saling berpandangan dan Irene memilih untuk mengeratkan selimutnya pada tubuhnya. Perlahan tangan Irene merangkak untuk mengusap pipi Sehun yang menurutnya sangat tampan. Ya, memangnya siapa yang tidak mengakui ketampanan seorang Oh Sehun?

“Buatkan aku sarapan Hun.” Manja Irene sambil menarik tengkuk Sehun dan mencium bibir prianya sedikit lama. Sehun menghela nafas sambil mencium hidung Irene berkali-kali. Alhasil, gadisnya bersin.

“Mau sarapan apa hm?”

“Tidak jadi. Buatkan aku jus saja strawberry saja.” Irene berucap membuat Sehun mengangguk kemudian berdiri dari tempatnya. Namun Irene menggenggam jemari Sehun sebelum suaminya itu pergi. Gadis itu menegakkan tubuhnya sambil mengusap perutnya yang semakin hari semakin membuncit meski belum nampak sekali.

“Sehun? Kau belum menyapanya.” Kata Irene menarik-narik tangan Sehun untuk menyapa buah hati mereka dengan suara manjanya. Sehun tersenyum gemas kemudian berjongkok di depan perut Irene. Pria itu menyelesupkan tangannya pada piyama Irene dan mengelus perut istrinya itu dengan lembut. Seperti ia merasakan sesuatu di dalam sana.

“Selamat pagi anak appa.” Ucap Sehun sambil menatap Irene yang sudah tersenyum kecil sambil mengusap rambut Sehun.

“Jangan terlalu menyusahkan eomma ya sayang. Appa bingung, kenapa kau selalu menyuruh eomma-mu untuk tidur di ruang tamu.” Sehun menggelengkan kepalanya membuat Irene tertawa kemudian mencubit pipi suaminya dengan gemas.

“Baiklah, sekarang bikinkan aku jus-nya. Aku mau sekarang.” Ucap Irene mendesak pada Sehun dan pria itu mengangguk lalu pergi dari sana. Irene ikut menemani Sehun di dapur, di sana juga ada ajhuma yang sedang menyiapkan bahan masakan.

Ajhuma, apa masih ada strawberry di dalam kulkas?” tanya Sehun pada ajhuma Han dan wanita paruh baya itu nampak berpikir sejenak, “Bukankah buahnya sudah habis karena Irene memakannya kemarin?” Sehun melebarkan matanya. Bahkan Sehun baru membelinya 2 hari yang lalu. Dan sudah habis? Secepat itu?

“Sayang, kenapa kau makan semuanya? Lihat, aku tidak bisa membuatkan jus untukmu!” protes Sehun sedikit kesal karena Irene tidak bisa menahan hasratnya sedikit saja, sampai menghabiskan buah strawberry yang baru ia beli kemarin.

Tanpa Sehun ketahui, kini wajah Irene memerah dan detik selanjutnya istrinya itu langsung menangis. Air matanya keluar tanpa henti membuat Sehun terkejut karenanya. Bahkan ucapannya tadi bukan bermaksud untuk membentak Irene. Ia hanya tidak habis pikir,  buah strawberry bisa habis dengan cepat karena Irene.

“Kenapa kau memarahiku –hiks. Aku –hiks cuman makan sedikit Sehun. Kenapa kau marah padaku?!” rengek Irene masih sambil menangis. Sehun yang kahirnya merasa bersalah mendekati istrinya itu dan memeluk Irene.

“Sudah jangan menangis. Maafkan aku sayang, aku tidak marah padamu. Aku hanya –“

“Kau marah!” bantah Irene masih menangis dan akhirnya Sehun mengangguk setuju. Mengakui jika dirinya memang memarahi Irene, meski sebenarnya tidak. Hanya saja, Sehun merasa lebih baik mengiyakan ucapan Irene dari pada mereka berakhir bertengkar karena masalah sepeleh seperti ini.

“Ya maafkan sayang.” Ucap Sehun mencium puncak kepala Irene lembut dan akhirnya Irene tenang dan berhenti menangis. Sehun menangkup pipi istrinya dan mencium bibir Irene dengan lumatan lembut di pagi hari. Namun ciuman itu tidak berkahir lama karena Irene melepaskannya.

“Aku mau roti saja.” kata Irene pada Sehun.

“Pakai selai cokelat?” gadis itu mengangguk imut sedang Sehun akhirnya beranjak dan membuatkan roti dengan selai cokelat untuk istrinya. Selang beberapa menit, Sehun kembali dengan roti untuk istrinya. Irene tersenyum dan memakan roti itu dengan senyuman.

Namun baru satu gigitan, Irene meletakkan roti itu kembali ke atas piring dan menggeleng pada Sehun, “Kenapa?” tanya Sehun penasaran.

“Kau saja yang makan. Aku sudah kenyang.” Ucap Irene membuat Sehun melebarkan matanya.

“Sayang, tapi –”

“Buatku aku susu ya? Aku tunggu di kamar.” Ucap Irene semangat kemudian pergi dari sana meninggalkan Sehun yang sedangn mengumpat dalam hatinya. Ia seperti dipermainkan rasanya. Namun ia benar-benar harus sabar sepertinya. Ya, ini demi istrinya dan anaknya.

Sabar Sehun. Pria Oh itu membatin dalam hatinya.

_____

Sehun memasang dasinya sambil berkaca. Wajahnya nampak kesal hari ini. Bahkan setelah ia mengantar susu untuk Irene, gadis itu nyatanya sedang tidur kembali. Membuat Sehun hanya bisa memukul tembok. Sungguh Irene seperti menguji kesabarannya.

Cekrek

Sehun mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, menampakkan sosok gadis dengan bathrobe putih-nya dengan rambut basah. Sehun meneguk salivanya untuk beberapa detik dan kembali fokus. Sungguh, jika ia tidak ingat ucapan dokter, Sehun tidak akan membiarkan Irene bersantai pagi ini.

“Sehun!” teriak Irene membuat pria itu melonjak kaget dan berkahir mengusap dadanya. Apa Irene harus berteriak untuk mengejutkannya seperti itu? Sehun menatap Irene sambil menaikkan alisnya.

“Kenapa?”

“Jangan pakai dasi itu.” ucap Irene menggeleng cepat dan langsung mengambilkan dasi yang lain untuk Sehun. Memang Sehun memilih dasi berwarna biru safir, mengingat setelan jas-nya hari ini berwarna biru safir. Namun mengapa kata Irene tidak cocok? Sehun menyernyit bingung dan akhirnya membulatkan matanya ketika Irene membawakan dasi berwarna ungu untuknya.

“Sayang, jangan katakan jika kau menyuruhku –“ Irene mengangguk mantap sambil tersenyum. Sehun hampir stress rasanya. Mengapa Irene menjadi buruk seperti ini dalam dunia fashion? Bukankah biasanya, gadis ini yang selalu mencocokkan setiap warna untuk Sehun. Ungu dan Biru, apa ini benar-benar Irene?

“Cocok sayang. Coba kau pakai, pasti sangat bagus.” Ucap Irene tersenyum manis. Sehun menggeleng cepat sambil menatap Irene memohon. Namun istrinya itu menggeleng juga sambil melepaskan dasi biru yang menempel di tubuh Sehun dan memasangkan yang baru.

Jika Sehun bisa, mungkin saat ini ingin sekali ia menangis karena sikap Irene yang menyebalkan. Mengapa istrinya melakukan hal ini padanya? Apa salah Sehun sebenarnya? Apa ia benar-benar melakukannya karena sedang hamil? Atau memang ingin mengerjai Sehun saja?

“Sayang, ini tidak cocok.” Protes Sehun yang menatap penampilannya di depan kaca namun Irene menggeleng cepat sambil mengacungkan kedua ibu jarinya pada Sehun. Menandakan jika penampilan Sehun sangat tampan menurut pandangan Irene.

“Ini yang terbaik Sehun.” ucap gadis itu kemudian berjalan menuju lemarinya dan mengambil dress untuknya sendiri. Dan tanpa Sehun sadari, gadis itu malah berganti di depan Sehun tanpa canggung sedikit pun. Biasanya, Irene akan sangat marah jika Sehun melihatnya berganti pakaian. Namun tidak untuk saat ini.

“Irene jangan menggodaku. Aku harus bekerja pagi ini.” Ucap Sehun mendekat gadis itu dan langsung menggendong tubuh Irene yang sedang memakai dressnya. Bahkan belum sempat ia kancingkan dress pinknya itu. Sehun menggendong tubuh itu dan mendudukkannya di atas meja. Lantas, karena dress Irene yang belum di kancingkan dengan baik, membuat lengan sebelah kiri dress itu turun memperlihatkan bahu mulus Irene.

“Kau tahu sudah berapa lama aku tidak menyentuhmu hm? 2 minggu nyonya Oh! 2 minggu! Kau sadar betapa tersiksanya diriku karena itu huh?!” bentak Sehun membuat Irene terkejut.

“Maaf.” Ucap Irene sedih kemudian mengalungkan tangannya pada Sehun. Gadis mencium kening Sehun, mata, hidung dan bibir suaminya. Menyalurkan rasa cintanya untuk Sehun.

Sehun yang sudah tidak bisa menahan gejolak hatinya untuk segera menyambar bibir cherry itu, akhirnya melahap bibir Irene dengan rakus. Menekan tengkuk istrinya untuk membalas ciuman panasnya. Menyelusupkan lidahnya hingga terdengar bunyi decapan bibir keduanya.

Sehun juga mencium leher Irene, menghirup aroma gadisnya dalam-dalam. Membuat otaknya hilang akal untuk beberapa saat. Sehun mengusap punggung Irene yang memang masih terbuka karena dress itu belum dikancingkan. Irene menegang rasanya, sudah lama mereka tidak melakukan kegiatan se-intim ini jika diingat.

“Ah –“ Irene mendesah ketika bibir Sehun kembali menghisap lehernya.

“Mmh Sehun.” Irene bersuara saat tangan suaminya itu mulai mencari suatu pengait di sana. Namun dengan cepat Irene menahannya dan menggeleng lemah. Nafasnya tersenggal-senggal dan bibirnya memerah dan sedikit terbuka. Sehun melumat kembali bibi bawah Irene yang nikmat. Dan Irene hanya menerimanya dengan pasrah.

“Sehun –kauh bisa terlambat.” Ucap Irene dengan susah kemudian Sehun melepaskan tautan bibir itu dan mengancingkan dress Irene.

“Sampai kapan aku harus bersabar?” protes Sehun sambil menyandarkan kepalanya pada dada Irene. Gadis itu tertawa kecil kemudian mencium puncak kepala Sehun, “Kita harus chek up minggu depan. Kau tidak lupa kan?”

“Iya sayang.” Kata Sehun tersenyum kemudian mencium kening Irene dan menurunkan gadis itu dari atas meja.

_____

Suho mengurus beberapa administrasi untuk kepulangan Myungsoo. Setelah ini, ia akan ditahan bersama Hyo Eun dan Jung Hoo beserta Leo dan yang lain. Myungsoo juga sudah setuju karena sejujurnya ia lelah terus menjadi anak buah Ji Sung. Ia ingin memulai kehidupan barunya setelah keluar dari penjara.

“Ayo.” Ucap Suho setelah menyelesaikan pembayarannya. Myungsoo mengangguk. Keduanya berjalan bersama hingga tiba-tiba

“AAA!”

Greb

Suho dengan gerakan cepat menahan tubuh seseorang yang hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri saat berlari. Ya, mari kita sebut gadis bernama Lee Ana, adik dari Donghae. Gadis itu nyatanya sedang kabur lagi dari kejaran suster-suster. Dan keduanya kembali bertemu dengan cara yang sama, Suho menangkapnya sebelum Ana terjatuh dan mencium lantai rumah sakit yang dingin.

“Hah, mengapa kita selalu bertemu seperti ini?” protes Suho sambil menegakkan tubuh Ana. Gadis itu malah menatap kesal pada Suho, “Aku selalu sial setiap bertemu denganmu!” ucap Ana ketus membuat Suho sedikit kesal mendengarnya. Tidakkah Ana sadar jika Suho sudah menyelamatkannya dua kali? Jika tidak, mungkin Ana sudah 2 kali terjatuh karena sikap cerobohnya itu.

“Tidak berterimakasih, kasar dan juga tidak tahu sopan santun.” Kata Suho sambil menggeleng. Sedang Myungsoo yang berada di samping Suho hanya tertawa kecil melihat tingkah keduanya. Mungkin, obrolan kedua orang itu.

Ana yang mendengar ucapan Suho menggembungkan pipinya imut dan akhirnya menghela nafasnya panjang, “Terimakasih.” Ucap Ana menunduk kemudian melanjutkan langkahnya. Namun Suho menahan pergelangan tangan gadis itu sebentar membuat Ana membalikkan tubuhnya, “Kenapa lagi?”

“Kenapa kau selalu kabur saat minum obat huh?” tanya Suho yang memang sangat bingung, kenapa Ana selalu kabur saat minum obat. Apa rasa obatnya sangat pahit? Ataukah, ia memang membenci jika minum obat? Apa rasanya menyakitkan?

“Bukan urusanmu.” Ucapnya ketus sambil mencoba melepaskan genggaman Suho.

“Tidak mau menjawab? Baiklah, aku akan membawamu kembali kepada suster-suter itu.”

Greb

Ana dan Myungsoo membulatkan matanya saat Suho membopong tubuh gadis itu di atas pundaknya. Ana tentu saja meronta sambil berteriak tidak jelas, memukul-mukul punggung Suho agar melepaskannya. Namun Suho seakan tuli.

“Yak! Lepaskan aku!” teriak Ana.

Kini Suho menatap beberapa suster yang tengah kebingungan mencari seseorang dan Suho yakin mereka mencari Ana. Segera pria itu membawa gadis tersebut kembali. Para suster yang melihat Ana tengah digendong oleh Suho langsung terkejut.

“Nona Ana!” seru mereka bersama.

Suho menurunkan tubuh Ana dan gadis itu benar-benar menggeram luar biasa larena Suho. Bisa-bisanya Suho membawanya seperti itu.

PLAK

Myungsoo dan para suster serta beberapa dokter dan pengunjung rumah sakit terkejut ketika Ana melayangkan sebuah tamparan untuk Suho. Pria Kim itu memegangi pipinya sambil tertawa kecil. Tatapannya kembali menatap Ana yang sedikit terkejut dengan apa yang ia lakukan. Ana menatap tangannya sendiri dan akhirnya ia merasa bersalah. Sebenarnya, ia menampar Suho karena rasa gugupnya saja Suho menggendongnya di depan umum.

“Aku menyesal menyelamatkanmu.” Ucap Suho datar dan pergi dari sana. Myungsoo hanya diam sambil mengikuti langkah Suho pergi.

Ana menatap punggung Suho yang menjauh. Ada rasa bersalah yang menghampiri hatinya. Mengapa rasanya ia menyesal sudah melakukan hal itu? Sungguh, ia tidak bermaksud menampar Suho.

_____

Suho memeriksa beberapa file di meja kerjanya. Hingga ia tidak sadar seseorang sudah berada di depannya sambil melipat tangannya di dada.

Tok tok

Suho yang sudah tersadar langsung menaruh kertas itu di atas mejanya dan sedikit terkejut melihat kedatangan Sehun bersama Irene yang terlihat sedikit lebih berisi. Suho tersenyum kecil kemudian berdiri.

“Kau siap bertemu mereka?” tanya Suho pada Irene dan gadis yang sedang meremas tangan Sehun yang ia rengkuh itu tersenyum ragu dan mengangguk dengan gugup. Tentu saja Irene tahu maksud Suho bertemu siapa. Tentu saja bertemu Hyo Eun dan Jung Hoo.

“Kau baik-baik saja Irene?” tanya Suho melihat Irene yang nampak gugup. Dan gadis itu mengangguk kecil namun remasan di tangan Sehun semakin terasa saja. Sehun tersenyum kecil sambil mengusap tangan Irene lembut. Memberitahu gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Baiklah. Ayo ikut aku.” Ucap Suho tersenyum kemudian menujukkan jalan menuju sebuah ruangan bernuansa putih. Hanya ada sebuah meja dan kursi. Irene meremas lengan Sehun semakin erat dan Sehun mencium kening Irene sebentar untuk kembali menenangkannya.

“Silahkan duduk. Kau mau bertemu dengan siapa dulu? Hyo Eun atau Jung Hoo?” tanya Suho lagi sebelum ia memanggil salah satu tahanan. Kini Sehun menatap wajah Irene yang dipenuhi keringat. Ia benar-benar gugup dan takut saat ini. Bibirnya sedikit terbuka karena kegugupannya.

“Sayang?” lamunan Irene buyar ketika Sehun menyadarkannya jika sudah hampir 10 menit ia melamun. Irene menatap Sehun dan Suho bergantian dan meneguk salivanya dengan sulit.

“Hm Ju –Jung Hoo.” Ucap Irene gugup dan Suho mengangguk lalu bergerak menjauh untuk pergi ke sel tahanan.

“Kenapa kau mau bertemu Jung Hoo duluan?” tanya Sehun sambil merengkuh pinggang Irene mendekat padanya. Irene menggeleng sambil mengidikkan bahunya, “Aku rasa, kami memiliki lebih banyak hal untuk dibahas. Karena itu kurasa aku ingin bicara bersama Jung Hoo lebih dulu.” Ucap Irene tersenyum getir dan suaminya hanya mengangguk sambil mencium kening Irene.

“Kau mau aku temani?” tanya Sehun lagi dan gadis itu menggeleng.

“Aku bisa.” Ucap gadis itu tersenyum menenangkan.

Tak lama setelah itu, Suho kembali bersama seorang pria yang membuat Irene takut saat melihatnya. Gugup, gelisah, cemas, bingung, takut, semua perasaan bercampur menjadi satu. Sehun melepaskan pelukannya pada pinggang Irene dan mengusap kepala gadisnya sebentar.

“Aku tinggal.” Ucap Sehun sedikit berbisik dan Irene mengangguk.

Kini Sehun dan Suho pergi meninggalkan Irene yang saat ini duduk di depan Jung Hoo. Pria yang mengenakan pakaian khas seorang tahanan. Irene melipat tangannya sambil menundukkan kepalanya sebentar. Ia sedang merangkai beberapa kalimat untuk ia lontarkan pada Jung Hoo. Sedang pria Im itu hanya menunduk tak sanggup untuk menatap Irene.

“Sudah berapa lama kita mengenal?” tanya Irene sambil mendongakkan kepalanya menatap pria itu. Jung Hoo memalingkan wajahnya dan tidak menjawab.

“Aku ingat awal pertemanan kita karena apa. Itu karena kau meminjamkan buku tugasmu padaku, agar aku tidak kena hukuman.” Irene tersenyum tipis sambil mengingat masa sekolah mereka.

“Joo Hyun –“

“Aku belum selesai bicara.” Potong Irene cepat dan Jung Hoo menghela nafasnya. Mengalah untuk mendengarkan Irene mengungkapkan perasaannya saat ini.

“Aku mempercayai kalian bertiga. Aku menyayangi kalian, bahkan terkhususnya dirimu yang sempat memiliki tempat special di hatiku. Bahkan kita sudah bertunangan. Aku tahu semua itu kepalsuanmu, tapi setidaknya saat itu aku benar-benar mencintaimu Jung Hoo-ya.” Lirih Irene tersenyum masam. Jung Hoo semakin menunduk, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang.

Segala ucapan Irene seakan menusuk hatinya. Meski gadis itu berucap lembut tanpa nada marah padanya, tetap saja rasanya sangat sakit untuk di dengarkan.

“Aku sudah melupakan tentang perselingkuhanmu dengan Hyo Eun, meski aku yakin jika kalian memang sudah menjalin hubungan sebelum kau berpacaran denganku. Karena berkat kau, aku bisa bertemu dengan pria lain yang lebih baik darimu.” Ucap Irene tersenyum membuat Jung Hoo mengepalkan tangannya sangat kuat.

“Maakfkan aku.” Lirih Jung Hoo masih menunduk sedih. Tanpa sadar, mendengar ucapan Jung Hoo Irene meneteskan air matanya, ia tidak berniat menghapusnya dan tetap membiarkan likuid bening itu jatuh membasahi pipinya.

“Katakan saja alasanmu melakukan semua itu padaku.” Ucap Irene memohon membuat Jung Hoo menatapnya. Pria itu nampak ragu mengatakan yang sejujurnya pada Irene. Karena Jung Hoo yakin, jika Irene mendengarkan alasan sebenarnya rencana ini di buat, gadis itu akan shock setengah mati.

“Kau akan menyesal jika mendengarkan alasannya Joo Hyun.” Ucap Jung Hoo menggeleng lemah. Namun hal itu semakin membuat Irene penasaran, apa yang sebenarnya pria ini sembunyikan darinya? Hal mengerikan seperti apa yang akan membuatnya menyesal sudah mendengarnya?

“Katakan padaku, aku akan baik-baik saja.” Ucap Irene sekali lagi dengan penuh keyakinan. Jung Hoo menghela nafasnya berat dan melipat tangannya yang diborgol itu lalu ia di taruh di atas meja.

“Ini karena Ji Sung. Saat aku kuliah, ayahku hampir bangkrut dan aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa. Hingga akhirnya aku teringat Ji Sung. Hanya dia yang ada dipikiranku saat itu, membuatku akhirnya meminta bantuan padanya untuk menolong perusahaan ayahku. Ia setuju namun memberikan syarat jika aku akan selalu siap membantunya.” Jung Hoo menghela nafas panjang dan Irene semakin serius mendengarnya.

“Aku setuju karena aku berpikir menolongnya tidak akan sesulit pemikiranku. Namun aku salah. Nyatanya ia memintaku untuk menjalin hubungan denganmu, melamarmu hingga kita bertunangan dan itu semua agar –“ Jung Hoo menatap Irene ragu yang saat ini, gadis itu sedang mengeluarkan air matanya mendengar penjelasan Jung Hoo.

“Agar?” Irene berucap dengan suara gemetar, Jung Hoo menormalkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat. Ia memang sudah mempersiapkan hal ini. Maksudnya, menjelaskan pada Irene segalanya. Namun ia tidak tahu jika berbicara langsung dengan gadis itu akan terasa sangat sulit dan menakutkan. Seperti Ji Sung sedang mengawasi mereka di sini.

“Agar saat kita menikah, aku menyerahkanmu padanya dan ia membawamu pergi.”

“Apa?!” Irene menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan Jung Hoo. Maksudnya, ia akan memberikan Irene pada Ji Sung agar pria itu bisa memiliki Irene dengancara kotor itu? Ya Tuhan, Irene tidak habis pikir jika pria bernama Ji Sung yang hampir memperkosanya dulu sangat jahat dan licik. Pria itu sungguh menakutkan.

“Kalian –be –bekerja sama untuk menje –bakku?” Irene meneteskan kembali air matanya membuat Jung Hoo menyesal bukan main. Rasanya jika waktu bisa berputar, ia akan memilih menolak tawaran Ji Sung dan lebih baik ia bangkrut saat itu. Dari pada hidup dalam penyesalan terdalamnya. Sungguh, ini hidup yang menyakitkan.

“Maaf Joo Hyun, aku –“

“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!” bentak Irene menjauhkan tangannya saat Jung Hoo ingin menggenggam jemari gadis itu. Irene merasa sangat marah sekarang, pada sahabatnya sendiri. Seorang teman yang ia sempat sayangi, membagi keceriaan mereka bersama. Namun sekarang, mereka menjadi orang yang paling Irene benci seumur hidup.

“Kalian bukan manusia!” bentak Irene lagi menangis sambil menggeleng.

“Joo Hyun-ah –“

“Jangan sebut namaku! Kau brengsek! Aku membenci kalian semua!” kini Irene berdiri dan hendak pergi, namun Jung Hoo menahan tangan gadis itu membuat Irene meronta untuk dilepaskan.

“Maaf Joo Hyun, aku sungguh minta maaf sudah melakukan ini padamu.”

“Kau juga menjualku! Kalian berdua sama saja!” Irene berteriak.

“Kau –“

“JOO HYUN!” teriak Jung Hoo ketika gadis itu pingsan.

Pintu terbuka dan menampakkan sosok Sehun dan Suho di sana. Mendengar teriakan Irene membuat Sehun benar-benar tidak tenang. Sehun yang melihat istrinya pingsan langsung menatap Jung Hoo dengan wajah geramnya. Ia langsung menarik kerah baju Jung Hoo dengan kasar.

“Jika sampai terjadi apa-apa dengan istriku, kupastikan aku akan melubangi kepalamu! Camkan itu!” ucap Sehun dingin disertai tatapan super tajamnya pada Jung Hoo. Dan pria itu sedikit getir melihat Sehun yang sangat marah sekarang.

Sehun pun menggendong Irene sedang Suho membawa Jung Hoo kembali ke dalam sel. Sehun tidak menunggu lebih lama lagi, langsung membawa gadisnya kembali pulang. Ia takut sesuatu terjadi pada bayi mereka. Ia tidak mau Irene stress karena masalah ini.

_____

Seorang pria yang memakai mantel cokelatnya dengan rambut berwarna cokelat gelap nampak tersenyum saat ia baru saja tiba di bandara Incheon. Ia menghirup nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya dan tersenyum penuh arti. Pria itu membawa kopernya sambil melihat kumpulan orang yang berada di bandara.

“Ah, senang bisa kembali.” Gumamnya pelan.

Hingga seseorang berlari padanya. Pria dengan jas hitam lengkap disertai kacamata dan sebuah earspace di telinganya. Pria bernama Ji Sung itu tersenyum melihat sambutan dari pria berjas itu. Detik selanjutnya, pria berjas itu meraih koper Ji Sung sambil menundukkan kepalanya singkat.

“Mobil anda sudah siap sajangnim.”

“Ah baiklah.” Ji Sung tersenyum kemudian berjalan mengikuti pria berjas itu.

Pria itu membukakan pintu untuk Ji Sung. Dan setelah itu, pria berjas itu masuk ke dalam kursi pengemudi. Ia melajukan mobil sedan berwarna hitam tersebut dengan kecepatan normal. Nampak Ji Sung menatap pemandangan kota Seoul yang sudah tidak ia lihat beberapa minggu ini. Tepatnya hampir 1 bulan ia berada di Jepang dan ia rindu suasana di Korea.

“Anda ingin makan sajangnim?”

“Tidak. Langsung pulang saja. Aku masih banyak pekerjaan.” Kata Ji Sung tersenyum sambil membuka ponselnya. Di layar ponsel itu terdapat foto seorang gadis. Tentu saja gadis bernama Irene. Ya, gadis itu tidak pernah luput dari pikiran Ji Sung bahkan hanya 1 detik. Ia selalu merindukan gadisnya setiap saaat.

“Aku pulang sayang. Maaf sudah menunggu terlalu lama. Tapi setelah ini, aku akan membawamu pergi. Ke rumah kita.” Ucapnya tersenyum sambil mencium layar ponsel yang terdapat foto Irene itu, “Ya, dan kau harus mau bagaimana pun caranya.” Katanya lagi sambil menyimpan ponsel itu ke dalam saku mantelnya.

.

To be continued

.

Yuhuu Akuh apdet, wkwkwk. Maap membuat kalian menunggu sangat lama. Gimana chapter kali ini? Sukak tidak hehe. kuharap kalian sukakk.

komen jusyeo 🙂 Aku menanti loh gaes wkwkwk.

Nulis komentar gak buat kurapan kok, jadi gak usah jijik gitu yah.

Baiklah, sampai jumpa pada chapter berikutnya, sayonarahhh -,-

 

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 26)”

  1. Jisung cepatla ditangkap. Sepertinya ada sesuatu yg akan terjadi nih..
    Suka yaa liat ana sama suho. Apa mereka jodoh wkwkwk
    Udah lama bgt nunggu ff ni update

  2. wah………….
    cukup lama ya thor nunggunya..
    tapi gpp kok, aku ngerti….
    btw….suka banget ama kisahnya si suho.
    banyakin kisah mereka dong thor.
    oiya….
    semangat ya sehun dan irene untuk ngelalui semua ini.
    tetap semangat jugak buat authornya
    keep writing ya thor
    I’ll be waiting.

  3. Makin panjang aja nih konfliknyaaa..nanti ana bakal sma suho ya?ceileh holkay mah bisa aj asal gendong anak perawan orang hahahahahha
    Fighting thor!!!!:)

    1. Gak tahu tuh.. ana kok sukanya kabur 😂😂 dan kenapa harus ketmu suho yekan 😂..

      Wehh irene mau diculik 😁 iyakah??

      Oke dtnggu yahh…
      Thankyouuu….

  4. Lahh ak kog rada bingung yak?
    Ana itu sapa ya??? Sdah pernah ketemu Suho?!kapan?? Chap brapa yak?? Trus itu kog myungsoo bebas?? Ak yg pelupa ato ak ad ngeliwati 1-2 chapter😅..

    Tpi ttp suka sama moments hunrene yuhuuu😚

  5. Lahh ak kog rada bingung yak?
    Ana itu sapa ya??? Sdah pernah ketemu Suho?!kapan?? Chap brapa yak?? Trus itu kog myungsoo bebas?? Ak yg pelupa ato ak ad ngeliwati 1-2 chapter😅

    Tpi ttp suka sama moments hunrene yuhuuu😚

  6. ka salam knal iaa.
    aq mw jadi pembaca setianya kk dari sekarang. aq baru komen di part yg udah ketingglan jauh bnget ini cs aq jg baru bca ff ini dari beberapa hari” yg lalu ka. aq pikir sekalian aj laa di part yg baru kk post.
    dan ff nya kk bagus’ kata” nya enteng’gak yg ribet” dan mudah di pahami. so sweet’ greget dan bikin jantung deg”annya jg ada banget’ pokoknya kk siip deh 👍👍.
    maafkan aq dan makasiih ka.
    ttep semangat buat part selanjutnya. HWAITHING ..!!! aq tunggu

    1. Haloo wkwkwk 😁😁 panjang banget komentarnya..
      Makasih bnyk sudh mau mmbaca stay with me..
      Gak masalah kok mau ninggalin jejak di chapt berapa hehe…

      Semoga sukak yahh :))
      Oke dehh…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s