[Chapter 3] Story Of Our Family – Selviakim

adaa

Story of Our Family [Chapter 3]

selviakim storyline

Byun Baekhyun, Kim Taeyeon, Min Yoongi, Kim Taehyung, Kim Yerim, and Kim Sohyun.

Drama, family, school-life, hurt, sad, and life.

“We are family, right?”

General.

I own the plot.

Poster by deerkkamjong07 – IndoFanficArt

sorry for typo(s)

%^%^%^%^%

[prolog] [chapter 1]

***

-Chapter Sebelumnya-

“Kita perlu bicara, Sohyun” ucap laki-laki itu yang masih menatap Sohyun. Sedangkan Sohyun, dia langsung meninggalkan laki-laki itu tepat setelah ia selesai bicara. Laki-laki itu berusaha menahan Sohyun. Namun, Yonggi lebih dulu menahannya sebelum ia memegang tangan Sohyun. Setelah Sohyun mulai menjauh dari mereka, Yonggi langsung menatap laki-laki itu dengan tatapan menyelidik. ‘Park Eunho’. Nametag di almamater pria itu.

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Sohyun. Tapi, melihat dia mengabaikanmu, jangan mengganggunya ataupun bertanya tentang dirinya dengan orang lain. Jangan pernah mendekatinya lagi. Aku tidak takut untuk melukaimu jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi padanya.”

-Story of Our Family Chapter 3-

-In Author’s eye-

“Yoongi! Yoongi! Taehyung berkelahi dengan Mark!”

Teriak Namjoon dan Hoseok langsung membuat Yoongi terbangun dari tidurnya. Saat ini sedang istirahat kedua. Istirahat pertama, dia sudah makan bersama adik-adiknya. Tapi, sekarang dia terbangun akibat teriakkan Namjoon yang mengejutkannya. Taehyung berkelahi? Oh, ayolah. Taehyung sangat jarang mencari masalah yang sehingga membuatnya harus berkelahi. Maka dari itu, Yoongi langsung berlari menuju ke kelas Taehyung dan Yeri. Diikuti dengan Namjoon dan Hoseok. Mark salah satu orang yang tidak menyukainya karena Yoongi menjadi kapten basket buat dia. Lalu, apakah Mark lebih memilih melukai adiknya daripada berhadapan langsung dengannya? Sungguh kekanakkan sekali.

Yoongi mengatur nafasnya setelah tiba di depan kelas Taehyung. Setelah selesai, dia langsung masuk dan dia melihat jika Taehyung dan Mark berkelahi. Yang dia lihat, Taehyung memukuli Mark dan Mark tidak melawan melainkan hanya menunjukkan seringainya.

“Brengsek!” Teriak Taehyung. Tidak ada yang berani menghentikan mereka berkelahi. Bahkan, Jimin dan Jungkook yang merupakan teman dekat Taehyung, tidak berani mendekat. Pasalnya, yang dipukul Taehyung sekarang adalah anak tingkat tiga yang merupakan kakak kelas mereka. Yoongi melihat sekeliling ruangan dan menemukan Yeri di belakang Jimin dan Jungkook. Dari yang dilihat Yonggi, Yeri sedang ketakukan.

Yoongi langsung menghampiri Taehyung dan Mark. Walaupun perlu tenaga yang kuat untuk memegang Taehyung agar berhenti, akhirnya dia berhasil dengan bantuan Namjoon dan Hoseok.

“Hentikan, Tae!” Teriak Yoongi di hadapan Taehyung yang sudah dipegang erat oleh sahabatnya. Sedangkan Mark, terduduk di salah satu kursi sambil menyeka bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah lalu menyeringai kecil.

“Dia hampir melakukan pelecehan seksual kepada Yeri, hyung!” Teriak Taehyung. Yoongi terpaku. “Biarkan aku memukulnya lagi. Supaya dia tidak melakukannya lagi, hyung!” Teriak Taehyung sambil memberontak supaya pegangan dari kedua sahabat kakaknya melemah. Yoongi masih terpaku. Sampai pada akhirnya, dia menatap Jimin dan Jungkook menyuruh mereka membawa Taehyung keluar. Merekapun menurut untuk membawanya keluar dengan bantuan Namjoon dan Hoseok. Sementara itu, Yoongi langsung melihat Mark dengan tatapan marah. Sementara yang dilihat, hanya menunjukkan seringai kecilnya. Yoongi yang sudah tidak tahan, langsung memukul wajah Mark. Dia ingin memukulnya lagi jika tangan Namjoon tidak menahannya.

“Jangan menjadi pengecut, Mark. Kalau kau punya masalah denganku, uruslah denganku!”

Yoongi berucap dengan dinginnya. Mereka semua jadi tontonan.

“Ada apa ini?!”

Teriak Lee ssaem saat memasuki kelas. Sepertinya, ada yang melapor jika terjadi perkelahian. “Yoongi, Mark, Namjoon dan juga Hoseok, temui saya di ruangan sekarang,” ucap Lee ssaem sambil menatap mereka dengan tatapan marah. “Kalian semua bubar,” lanjutnya sambil menatap semua murid secara bergantian. Semua murid langsung menunduk patuh.

“Saya akan menemui Anda nanti, Lee ssaem. Saya ingin mengurus adik saya dulu,” ucap Yoongi lalu menghampiri Yeri yang masih diam mematung di belakang kelas. Dia menepuk pundak Yeri dan membuatnya terkejut ketika melihat kakaknya sudah ada di depannya dengan senyumannya. “Kita pulang, ne?” Tanya Yoongi yang masih dengan senyumannya. Yeri hanya menganggukkan kepalanya. Yoongi menarik Yeri dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan yang lain, mengambil tas Yeri dan Taehyung yang ada di atas meja. Dia memberikan kedua tas itu kepada Yeri.

“Saya permisi,” ucap Yoongi sambil membungkuk kepada Lee ssaem. Lee ssaem hanya menatapnya bingung karena dia baru saja datang dan masih tidak mengetahui masalahnya. Yoongi langsung menemukan Taehyung dan kedua sahabat Taehyung saat keluar dari kelas adiknya. Ia menghampirinya dengan tangan yang tidak lagi menarik Yeri.

“Kita pulang, ne?” Pertanyaan Yoongi untuk Taehyung, sama dengan pertanyaannya kepada Yeri tadi. Taehyung hanya mengangguk patuh. Yeri memberikan tas Taehyung kepada pemiliknya. Yoongi menatap Jimin dan Jungkook secara bergantian.

“Aku minta tolong kepada kalian untuk menjaga Sohyun sampai aku menjemputnya nanti sore,” ucap Yoongi kepada Jimin dan Jungkook. Jimin dan Jungkook hanya mengangguk patuh sambil tersenyum. Sebenarnya, mereka sudah dekat dengan Yoongi dan semua sahabat kakak Taehyung. “Kami akan menjaganya, hyung,” ucap mereka bersamaan.

***

Yoongi, Taehyung, dan Yeri memasuki rumah dalam diam dan langsung duduk di ruang tengah. Mereka sedang menunggu ayahnya. Pasalnya, saat di dalam bis tadi, Yoongi menghubungi Baekhyun apakah dia bisa datang ke rumah karena ada sedikit masalah yang terjadi. Dan Baekhyun akan datang. Baekhyun memang seperti itu. Dia akan datang jika anak-anaknya mempunyai masalah. Bahkan dia pernah datang saat dia ingin pergi meeting yang sangat penting untuk perusahaannya. Dia berusaha menjadi ayah yang baik setelah kejadian yang menimpa Sohyun beberapa tahun yang lalu.

-Baekhyun POV-

“Kali ini apa masalahnya, Yoongi?”

Ucapku langsung saat masuk ke dalam rumah dan duduk di samping Yoongi. Terlihat cuman ada dia dan si kembar. Dari yang kulihat, penampilan Yoongi dan Yeri baik-baik saja. Berbeda dengan Taehyung, di wajahnya terlihat lebam serta bibirnya yang sedikit berdarah.

“Apa yang terjadi padamu, Taehyung? Dan di mana Sohyun?” Tanyaku berusaha setenang mungkin. Aku melihat wajah Taehyung sedari tadi. Oh, ayolah. Ayah mana yang tidak akan marah melihat wajah anaknya lebam seperti itu? Apalagi Taehyung menggunakan seragam sekolahnya.

“Aku akan menjelaskan, appa. Tapi, bisakah Yeri menunggu di kamarnya saja? Dan Sohyun masih di sekolah, aku akan menjemputnya saat pulang sekolah nanti,” ucap Yoongi sambil menatapku. Aku pun hanya mengangguk pelan sambil melihat Yeri. Yeri langsung berdiri meninggalkan kami dan menuju ke kamarnya. “Sekarang jelaskan padaku, Yoongi,” ucapku kemudian.

“Sebenarnya, akan lebih baik jika Taehyung yang menjelaskannya kejadiannya. Tapi, aku akan memberitahu appa sedikit. Taehyung seperti ini karena melindungi Yeri dari pelecehan seksual yang ingin dilakukan teman basketku kepadanya. Itu yang aku dengar. Sebenarnya, dia tidak bisa kusebut teman basket. Lebih tepatnya, musuh basket,” jelas Yoongi. Aku menghembuskan nafas dengan pelan sambil menatap Taehyung.

“Bisakah kau memberitahu apa yang terjadi, Taehyung?” Tanyaku sambil melihat ke arahnya. Dia hanya menundukkan kepalanya. Tidak ingin menatapku. Sejujurnya, aku tidak menyukainya seperti ini. Aku lebih suka dia seperti biasanya. Meskipun itu membuat suaraku habis karena berteriak kesal akibat tingkah lakunya.

“Saat aku dan Yeri datang ke kelas selesai makan di kantin bersama Sohyun dan Yoongi hyung, beberapa senior laki-laki berdiri di depan kelas kami. Yeri masuk terlebih dahulu dan aku ada di belakangnya. Aku melihat secara langsung jika Mark mengangkat rok Yeri dengan tinggi bahkan menyentuh pinggangnya. Yeri langsung melihat ke belakang dan terkejut. Mungkin dia berpikir jika aku yang melakukannya. Tapi, nyatanya bukan,” Taehyung menghentikan penjelasannya. Dia mengambil nafasnya secara perlahan dan menatapku. Aku dan Yoongi hanya diam. Menunggu penjelasannya lagi.

“Saat itu, aku sudah ingin memukul Mark. Tapi, Han ssaem sudah ada di antara kami dan ingin masuk ke kelas. Sehingga, aku membatalkan niatku. Sepertinya, Han ssaem tidak tahu apa yang terjadi karena dia hanya menyuruh murid bubar untuk masuk kelas karena bel sudah bunyi. Aku pun langsung masuk ke kelas dan berniat akan ke kelas Mark dan memukulnya jam istirahat kedua. Saat bel istirahat berbunyi dan aku baru saja berdiri, Mark masuk ke dalam kelas. Aku tidak tahu alasan masuk ke kelas karena apa. Yang penting, aku langsung memukulnya.”

Penjelasannya Taehyung berakhir. Keheningan langsung menghampiri kami.

“Mark itu, kakak kelasmu?” Tanyaku akhirnya pada Taehyung. Ia langsung mengangguk kecil. Aku pun melihat Yoongi. “Apakah dia temanmu?” Tanyaku pada Yoongi.

“Kami berbeda kelas dan kami saling tidak suka satu sama lain. Tapi, dia anak tim basketku,” ucap Yoongi samil menatapku.

“Apakah kau bisa membantu Taehyung? Atau appa yang datang ke sekolah kalian?”

“Biar aku dan Yoongi hyung yang mengurus hal ini appa,” sahut Taehyung. Aku mengangguk pelan.

Appa akan menemui Yeri. Yoongi kau bisa mengurus Taehyung, bukan? Angan lupa menghubungi ibu.”

Yoongi mengangguk. Aku pun berdiri dan berjalan ke kamar Yeri dan Sohyun. Aku mengetuk pintu pelan. Yeri membuka pintu sambil menundukkan kepalanya.

“Lebih baik kita berbicara di dalam, Yeri-ah,” ucapku pelan. Jujur saja, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Pasalnya, Yeri adalah perempuan. Dan Taeyeon cocok dengan hal ini. Karena Taeyeon lebih bisa mengontrol emosinya daripada aku.

Yeri mengangguk lalu duduk di kasurnya. Aku pun duduk di pinggir kasurnya. Ia masih menunduk.

Appa sudah mengetahui masalah kali ini,” ucapku memulai pembicaraan. Yeri masih menunduk. “Apa kau tidak ingin berbicara sesuatu?” Lanjutku pelan.

“Apa Appa marah padaku?” Dia berbicara. Aku hanya tersenyum kecil. Pikirkan saja, ayah mana yang tidak marah jika anaknya mendapatkan perilakuan yang tidak senonoh seperti itu?

“Angkat kepalamu. Siapa yang bilang jika appa marah?” Ucapku pada akhirnya. Dia mengangkat kepalanya. “Itu bukan kesalahanmu, kau adalah korban di sini. Jadi, jangan salahkan dirimu sayang.”

Ucapku sambil mengusap kepalanya. Yeri hanya mengangguk kecil lalu memelukku.

-Baekhyun POV End-

-Sohyun POV-

“Aku bilang pergi, Eunho!”

Eunho ada dihadapanku sekarang ini. Bel sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu dan dia tetap saja menggangguku. “Tidak, sampai kita bicara,” ucapnya dengan menggenggam erat tanganku.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Eunho.”

Aku berusaha melepaskan tangannya, tapi kekuatan dia lebih besar bukan?

“Woy, Eunho. Dia tidak mau bicara denganmu. Kita teman sekelas, aku tidak ingin memukulmu.”

Terima kasih, Jungkook oppa! Langsung saja, Eunho melepaskan genggamannya dan aku langsung berlari ke tempat Jungkook dan Jimin. “Sudahlah, lebih baik antarkan aku pulang,” ucapku lalu menarik salah satu tangan mereka dan meninggalkan Eunho sendiri di sana.

“Kau harus bilang kepada kami jika terjadi sesuatu padamu dan Yeri!” Ucap Jimin oppa sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku hanya memutar bola mataku.

Pletak!

“Sakit, eoh!” Teriakku di hadapan Jimin oppa.

“Makanya jangan memutar bola matamu kalau lagi bicara sama yang lebih tua,” ucapnya santai. “Masih untung aku panggil oppa,” gerutuku yang masih dapat di dengarnya.

“MWO?!”

“Sudahlah kalian berdua. Aku akan mencari taksi. Teman-teman Suga hyung sudah mulai harus belajar sore ini, jadi tidak bisa mengantar kita. Jim, jaga Sohyun,” ucap Jungkook oppa sambil berjalan meninggalkan kami.

***

“Woah, ada adik Yoongi yang lain. Siapa namamu, cantik?”

Ucap seorang pria sambil berjalan mendekatiku. Sepertinya dia salah satu sunbae di sini. Aku langsung berdiri di belakang Jimin oppa. Walaupun badannya rendah disbanding teman-temannya, dia masih tinggi jika bersamaku.

“Tolong jangan membuat keributan, sunbae. Ini masih di sekolah,” Jimin oppa berucap dengan hati-hati. “Hmmm, jadi kalau bukan di sekolah, aku bisa membuat keributan dengan adik Yoongi? Baiklah.” Dia berkata sambil menyeringai. Aku melihat tag name di bajunya. Mark Lee. Sepertinya, satu angkatan dengan Yoongi oppa.

“Ma-maksudku bu-bukan begitu, sunbae.

Jimin oppa terlihat gugup. “Tapi, sayangnya ini bukan di sekolah, Jimin. Ini di samping gedung sekolah, tepat di jalan raya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?” Pria yang bernama Mark itu kembali berucap dengan seringai di wajahnya. Lalu berjalan mendahului kami. Kami berdua hanya diam seperti patung, tidak ingin melihatnya.

Brruukk!

Aku di dorong ke tengah jalan raya dan terjatuh. Belum sempat aku berdiri, aku kembali di dorong. Namun, terpental sangat jauh. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya.

“SOHYUN!”

Itu suara Jimin oppa. Yang kulihat sekarang, jalanan, mobil yang terhenti, dan Jimin oppa berlari ke arahku. Lalu, semuanya gelap.

-Sohyun POV End-

***

-In Author’s eye-

Brak!

Appa, Sohyun kecelakaan!” Teriak Yoongi saat membuka pintu kamar adik perempuannya dengan keras.

“APA?!”

-tbc.

Author’s note: 
doakan chapter 4 secepatnya diposting. hehe.
Sangat mengharapkan komentar 🙂
-09Dec2017.

selviakim.

9 tanggapan untuk “[Chapter 3] Story Of Our Family – Selviakim”

  1. Omoooo akhirnya di post lanjutannya, lama kali aku tunggu ny.. tpi gk ppa, tetap like sma cerita ny.. semoga chap selanjutnya lbh cepat yaaa.. Fighting 😆

  2. Akhirnya update kak ceritanya ringan tapi baguuuussssss…. kisah pesaudaraannnnn….. ditunggu next nya ya….. semoga doa cepet ostingnya terkabul amin….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s