GAME OVER – Lv. 33 [Retrouvailles] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] —  Level 31Level 32 — [PLAYING] Level 33

The door to heaven is still so far

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game Over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 33 — Retrouvailles

In Author’s Eyes…

“Hentikan!”

Seruan keras dari seorang pemuda lantas membangunkannya, membuatnya tersadar bahwa dia tidak lagi berada di dalam ketidak sadaran yang membelenggu.

“Apa yang terjadi padaku?” si pemuda berkata. Dia lantas melempar pandang berkeliling, menatap ke arah belasan orang karakter yang masih terbelenggu dan terlelap.

“Mengapa aku terbangun?” sekarang, dia sadari bahwa dia jadi satu-satunya orang yang terbangun di dalam sistem. Seseorang membangunkannya, dia tahu itu. Tapi dia tidak bisa—

‘Perhatian! Memulai WorldWare berarti Anda telah menerima dan memahami semua syarat dan ketentuan di dalam permainan. Semua efek samping yang terjadi setelah bermain di dalam WorldWare merupakan risiko yang harus Anda tanggung sendiri dan tidak menjadi tanggung jawab dari NG Game Factory. Segala jenis tuntutan hukum tidak akan bisa Anda ajukan pada NG Game Factory. Apa Anda menyetujuinya?’

—ah, rupanya, seseorang memang benar-benar berusaha masuk secara ilegal dan pada akhirnya membuat si pemuda terbangun. Hembusan nafas panjang lantas lolos dari bibir pemuda itu, sebelum dia mulai melangkah, membiarkan sistem memberinya pakaian yang pantas untuk dikenakan.

Dia suka warna hitam, dan properti-properti berwarna serupa segera melekat di tubuhnya, selagi dia mengawasi player yang dengan lancang baru saja masuk ke dalam sistem dan membuatnya terbangun sebelum waktunya.

“Apa yang dia inginkan di sini?” gumam si pemuda begitu ditangkapnya wajah yang tertera dalam icon berisikan ID sang player di dalam penglihatannya.

Well, jangan tanya bagaimana dia melakukannya. Dia memang mampu, karena mengetahui segala hal yang ada di dalam dunianya adalah kuasanya juga. WorldWare adalah dunianya, dan tentu saja semua orang asing yang masuk ke dalam dunianya bisa dia ketahui dengan mudah.

Termasuk tentang player yang baru saja masuk ke dalam sistemnya.

“Apa yang harus aku lakukan padamu? Membunuhmu begitu saja tidak akan terasa menyenangkan.” kata si pemuda, lantas dia sunggingkan sebuah senyum sarkatis sebelum dia melesat cepat keluar dari dalam sistem yang telah menidurkannya, dia bawa dirinya masuk ke dalam Eden’s Nirvana—yang secara tidak langsung ditandainya sebagai area yang dia miliki—mengawasi gerak-gerik si player selagi dia bersembunyi dalam gelap.

“Ini tidak adil. Dia hanya bermain-main di tempat tinggalku.” si pemuda menggerutu, kemudian timbul niat jahilnya untuk mengerjai si tamu tidak diundang. Jadi, dengan cepat dia melesat sambil membawa sebuah knife di tangan, dia bawa tubuhnya meluncur ringan ke arah avatar si player dan—

SRAT!

“Katakan… dengan cara apa aku harus membunuhmu, HongJoo?”

—satu kalimat perkenalan pemuda itu berikan di telinga avatar si player, selagi si player terlihat menggerakkan avatarnya kesana-kemari, mencari keberadaan si pemuda. Kekehan pelan lantas lolos dari bibir pemuda tersebut saat melihat kebingungan di tindakan lawannya.

Dia baru saja akan menyarangkan sebuah serangan lagi saat player tersebut malah berlari keluar dari arena, membelenggunya. Ya, dia tidak bisa keluar dari arena tempatnya sekarang mendekam.

“Sial. Seharusnya aku sudah tahu kalau terbangun begitu cepat akan berakibat buruk bagiku juga.” kata si pemuda, dia kemudian duduk di bawah sebuah pohon, memerhatikan profilenya sendiri selagi menganalisis.

“Invisible Black, ya, nama yang keren juga.” katanya sambil tersenyum. Dia kemudian melempar pandang ke arah pintu keluar arena tempatnya sekarang terkurung lagi. “HongJoo… karena player itu aku terbangun, bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Ada apa? Kau tidak pernah melihat sepasang kekasih bercumbu?”

Apa yang dilihatnya? Memangnya aku sebuah tontonan? Memangnya, apa yang aku lakukan sekarang terlihat pantas untuk ditonton?

“Ah, uhm. Astaga, kemana perginya Taehyung tadi?”

Ugh.” Invisible Black membuka kedua maniknya, sudah beberapa kali dalam satu pekan ini ingatan aneh masuk ke dalam memorinya. Padahal, dia baru saja merasa nyaman dengan kesendirian yang membelenggunya di dalam Eden’s Nirvana.

Pagi ini, begitu membuka mata, semuanya sudah jadi begitu berbeda. Dia tidak lagi jadi satu-satunya karakter yang terbangun. Invisible Black tahu itu, tetapi dia masih juga terbelenggu di dalam Eden’s Nirvana, dan dia benci itu.

“Player, bersiap untuk login.”

Alis Invisible Black terangkat begitu didengarnya sebuah suara dari server menyambut di tengah stagenya. Begitu semangat Invisible Black terasa, Eden’s Nirvana segera menyesuaikan diri dengan keadaan dari karakter yang ada di dalamnya.

Terlihat, seorang player masuk ke dalam stage tersebut, membuat Invisible Black mengatap diam dari tempat persembunyiannya. Sempat dia terperangah sejenak, kesulitan membedakan player yang sekarang masuk ke dalam arena dengan dirinya sendiri.

Sebab, dia tidak lagi menemukan avatar aneh seperti saat pertama kali melihat player masuk ke dalam arena. Sekarang, dia justru seolah tengah berhadapan dengan seseorang yang terlihat sama sepertinya.

“Selamat datang di survival mode, Medusaria. Anda sekarang berada di trial town, Eden’s Nirvana. Lingkaran yang melindungi Anda adalah circle-tube. Untuk memulai battle, Anda dapat menginjak start yang ada di bagian kanan bawah circle-tube.”

Begitu cepat, Invisible Black bisa melakukan scanning terhadap identitas dari player yang sekarang ada di hadapannya.

“Senang bertemu denganmu, Tarin Lee. Sekarang, saatnya kita bermain…” gumam Invisible Black sebelum dia melesat ke arah si gadis—Medusaria—yang masih tampak kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya.

SRAT!

“Katakan… dengan cara apa kau ingin aku membunuhmu, Medusaria?” satu tanya Invisible Black selipkan ke dalam pendengaran player yang ada di hadapannya.

Tidak menunggu waktu lama, pertarungan sengit pun terjadi. Melawan seorang player baru tentu bukan sebuah kesulitan bagi Invisible Black yang telah berminggu-minggu melatih dirinya sendiri di dalam stage yang kosong.

Dia mengenal Eden’s Nirvana sebaik dia mengenal dirinya sendiri.

SRASH!

“Maaf, Anda tidak berhasil menyelesaikan Eden’s Nirvana. Silakan login kembali untuk mengakses stage lainnya.” tepat setelah mendengar server berucap, sosok Medusaria yang tergeletak di tanah dengan bersimbah darah pun lenyap.

“Dia bukan lawan yang sulit dikalahkan.” ucap Invisible Black, dilihatnya status yang ada di dalam profilenya, dia telah naik dua level.

 “Player, bersiap untuk login.”

Notifikasi berikutnya masuk ke dalam pendengaran Invisible Black, lagi. Kali ini seorang player muda masuk ke dalam Eden’s Nirvana, tidak terlihat selengah player sebelumnya, tapi juga tidak terlihat berbahaya bagi Invisible Black.

“Selamat datang di survival mode, Anonimouse. Anda sekarang berada di trial town, Eden’s Nirvana. Lingkaran yang melindungi Anda adalah circle-tube. Untuk memulai battle, Anda dapat menginjak start yang ada di bagian kanan bawah circle-tube.”

Pertarungan sengit ke-dua pun berlangsung di dalam Eden’s Nirvana, menyisakan sebuah kemenangan lagi bagi Invisible Black karena bagaimanapun, dia telah mengenal stage ini lebih baik daripada siapapun.

Beberapa player pun silih-berganti masuk ke dalam Eden’s Nirvana, memberikan Invisible Black kemenangan mutlak juga kenaikan level yang sangat signifikan padahal dia diam-diam mulai merasa bosan.

BLARRR!

Invisible Black mencipta ledakan di tubuh lawannya yang ke-enam belas. Dan setelah mendengar ucapan selamat tinggal dari server, tanpa sadar Invisible Black melempar pandang ke arah sebuah pintu keluar yang muncul untuk menarik keluar player ke-enam belas tersebut dari dalam Eden’s Nirvana.

Iseng, Invisible Black mengikuti arah keluarnya player tersebut dan—

SRAT!!

Argh!” sebuah teriakan kesakitan menyambut Invisible Black. Dia sekarang berdiri di tengah-tengah sebuah stage, di mana berdiri seorang karakter lain di sana.

“Maaf, Anda tidak berhasil menyelesaikan Eden’s Nirvana. Silakan login kembali untuk mengakses stage lainnya.”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Invisible Black menatap ke arah sumber suara, seorang karakter dengan pakaian gelap serupa dengan miliknya sekarang tampak menatap dingin.

“Darimana kau berasal?” tanya karakter itu lagi.

“Eden’s Nirvana.” jawab Invisible Black. “Ini di France?” tanyanya kemudian. Si karakter menjawab dengan anggukan. “Ya, namamu Invisible Black?” tanya si karakter.

Invisible Black menjawab dengan sebuah anggukan.

“Dan kau Black Radiant?” tanya Invisible Black, disadarinya kalau penampilannya sekarang terlihat serupa dengan Black Radiant yang ada di hadapannya, sementara equipment yang keduanya miliki pun terlihat sama.

“Sepertinya, bukan kebetulan jika kita bertemu.” kata Black Radiant kemudian.

Senyum sarkatis disunggingkan Invisible Black sebelum dia buka suara.

“Setiap dunia punya aturan, termasuk di dalam WorldWare sendiri. Tidak ada tempat untuk dua pemenang, atau dua karakter dominan. Aku atau kau—Black Radiant, salah satu dari kita harus menempati posisi dominan itu.

“Jadi katakan, di mana kau ingin menempatkan diri?” Invisible Black melempar pandang ke arah Black Radiant yang sekarang menatapnya dengan sebuah senyum sarkatis serupa. “Di sini adalah tempatku.” ujarnya.

“Tapi bisakah kau beranjak keluar dari tempat ini? Tidak, bukan?” Invisible Black sekarang seolah pamer, bahwa dia bisa keluar dari Eden’s Nirvana sementara kemungkinan besar dia yakin jika Black Radiant tidak bisa melakukan hal yang sama.

“Kau bahkan tidak ada di dalam jajaran karakter yang ada di sini, Invisible Black. Tidak ada tempat untukmu, kau tidak sadar itu? Lalu, kau pikir kau bisa menggeserku dari tempat yang seharusnya kutempati?”

Invisible Black hanya menatap dalam diam. “Kalau begitu salah satu dari kita harus lenyap. Karena seperti yang kukatakan tadi, tidak ada dua tempat untuk pemenang.” katanya, sekon kemudian manik gelapnya berpijar, memamerkan sebuah genderang perang bagi Black Radiant yang ada di hadapannya.

“Kau pikir kau bisa mengalahkanku?” tanya Black Radiant.

“Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan dan memiliki tempat ini.” Invisible Black membalas. Duel di antara keduanya pun dimulai, mengabaikan kemungkinan bahwa seorang player mungkin saja akan masuk ke dalam stage tempat mereka sekarang berduel.

SRAT!! BLAR!!

“Ugh!” Black Radiant tersungkur di tanah, kemampuan battlenya yang tidak sebanyak Invisible Black tentu saja merugikannya di saat seperti ini. Tapi dia juga tidak mau kalah dari lawan yang sekarang ada di hadapannya.

Sebenarnya, dia juga berpikir keras, mengapa dia harus repot-repot melakukan pertarungan dengan sesamanya? Padahal keduanya bisa sama-sama menempati tempat yang mereka inginkan.

Rupanya, bagi Invisible Black, tidak ada ruang untuk dua orang pemimpin. Dia tidak suka jika spotlightnya harus dibagi dengan Black Radiant. Invisible Black rupanya tahu benar, kalau dia bisa jadi seorang player yang unggul hanya dengan menyingkirkan seorang pesaing seperti Black Radiant.

“Aku tidak akan membiarkanmu memiliki tempat ini sendirian, Black.” kata Black Radiant di tengah kesakitannya. Invisible Black hanya menyunggingkan sebuah senyum. “Tidurlah sementara waktu ini, Radiant. Tidurlah dan latih kemampuan bertarungmu sehingga saat kita bertemu lagi, aku tidak harus membantaimu seperti saat ini.” kata Invisible Black sebelum bayangan Black Radiant perlahan-lahan berubah menjadi tidak kasat mata dan akhirnya menghilang.

Dia tahu, Black Radiant tidak mati, atau terhapus. Dia hanya akan berpindah ke dalam stage yang terisolasi, Invisible Black tahu itu meski dia sendiri tidak tahu darimana dia bisa mengetahuinya.

Semua informasi begitu saja ada di dalam benaknya seolah dia telah mengetahuinya selama bertahun-tahun. Dia bahkan tahu semua kelebihan yang dimilikinya tanpa harus memeriksa satu persatu equipment yang ada di dalam martial boxnya.

“Selamat datang di survival mode, HongJoo. Anda sekarang berada di trial town, France. Lingkaran yang melindungi Anda adalah circle-tube. Untuk memulai battle, Anda dapat menginjak start yang ada di bagian kanan bawah circle-tube.”

Invisible Black terkesiap. Satu ingatan seolah memaksa keluar dari benaknya, ingatan yang begitu tajam tapi entah mengapa menyakitkan juga saat ia paksakan untuk diingat. Tapi tentu saja, tidak sulit bagi Invisible Black untuk mengingat sosok bersurai karamel yang sekarang berdiri di hadapannya tanpa bisa melihat keberadaan Invisible Black.

Salah satu kemampuannya yang bisa dia aktifkan bahkan tanpa harus berusaha begitu keras, menjadi invisible di hadapan lawannya.

“Aku harus mencobanya.” sekarang, si gadis dengan ID HongJoo tersebut dengan santainya menginjak satu-satunya batas pemisah antara dirinya dengan Invisible Black, membuat Invisible Black bisa melangkah dengan santai mendekati gadis itu selagi ia menganalisa identitas si gadis.

“Namaku Song Jiho. Omong-omong, sampai jumpa lagi. Senang bertemu denganmu.”

“Ya, sampai bertemu lagi, Song Jiho-ssi.”

Argh!” Invisible Black mengerang kesakitan begitu beberapa memori memaksa masuk ke dalam benaknya. Dia hanya mencoba untuk mengakses beberapa informasi mengenai identitas dari player yang sekarang ada di hadapannya saat nyatanya dia disuguhi memori lain yang tampak sama familiarnya.

Invisible Black yakin dia pernah bertemu dengan gadis ini, beberapa kali, dalam ingatannya. Tetapi dia yakin dia tidak pernah berada di tempat keduanya bertemu. Dan dia yakin, bukan dia yang menemui si gadis. Sebab, selama beberapa pekan dia terkurung di dalam Eden’s Nirvana, sebelum ia tertidur selama beberapa hari dan saat terbangun dia sudah diteror oleh memori samar yang menimbulkan rasa sakit tersebut.

Akhirnya, Invisible Black melempar pandang ke arah si gadis yang sedang tampak memasang raut waspada terhadap sekitarnya. Tidak sadar kalau pengawasan sang musuh—Invisible Black, dalam hal ini—justru berjarak begitu dekat dengannya.

“Kaukah itu… Song Jiho? Biar kulihat… bagaimana kau bisa ada di dalam ingatanku?”

Kali ini, dia tidak sekedar menyerang membabi-buta. Permainan Invisible Black bisa dikatakan lebih halus. Dia hanya melempar teror-teror kecil pada HongJoo, membiarkan gadis itu menangkis beberapa serangannya dan mendapatkan poin dari serangannya.

Waktu sepuluh menit di dalam demo version pun berlangsung teramat cepat bagi keduanya. Tidak ada luka berarti yang didapatkan HongJoo—berkat sikap terlampau manusiawi yang Invisible Black pamerkan padanya. Dan Invisible Black sendiri seolah memang ingin membiarkan gadis itu keluar begitu saja.

Good game, HongJoo.” Invisible Black berucap, tidak terdengar oleh sang lawan tentu saja, karena dia masih menggunakan mode ‘tidak terlihat’ yang jadi unggulannya sebagai sebuah karakter.

Well played, Jiho… Ternyata kemampuanku tidak buruk juga di dalam survival mode.” HongJoo bicara pada diri sendiri, tersenyum sembari menepuk kedua bahunya bergantian, menyemangati diri sendiri.

“Aku sebaiknya logout sekarang,” kata HongJoo sebelum dia melangkah ke arah pintu keluar dari stage tempat dia berada, tanpa dia tahu, Invisible Black mengekor di belakangnya. Langkah Invisible Black terhenti begitu Jiho melangkah keluar dari pintu logout di sana.

Dia tahu, dia bisa saja mengikuti HongJoo dan masuk ke dalam stage lainnya, tapi entah mengapa, Invisible Black tidak ingin mengikuti si gadis lebih jauh lagi. Dia tahu dia tidak akan bisa melakukannya.

Sebab itu, Invisible Black pun akhirnya menyunggingkan sebuah senyum kecil.

“Sampai bertemu lagi, HongJoo.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hey, Taehyung, ada apa?”

Jiho baru saja keluar dari survival tubenya begitu dia dapati beberapa orang player dibawa keluar dengan menggunakan tandu dan dimasukkan ke dalam ambulance yang menunggu di luar pintu masuk gedung.

“Aku tidak tahu, kudengar ada stage yang berbahaya di dalam sana.” kata Taehyung—dia sudah keluar dari survival tube beberapa menit lebih cepat daripada Jiho.

“Apa maksudmu dengan berbahaya?” tanya Jiho tidak mengerti.

Taehyung pun angkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Saat aku terbangun dan menunggumu selesai dari demo version, tiba-tiba saja seorang player keluar dari survival tube dengan berteriak histeris dan muntah-muntah. Dia terlihat seolah menerima siksaan di dalam stage trialnya.

“Lantas kudengar dari orang-orang kalau dia adalah orang ke… umm, aku tidak yakin, entah sebelas atau dua belas—yang jelas hitungan belasan—yang mengalami hal serupa. Itulah mengapa waktu untuk menjalani demo version pun dipersingkat menjadi sepuluh menit.” Taehyung menuturkan.

Jiho yang mendengarnya pun hanya bisa mengangguk-angguk mengiyakan. Sementara tanpa sengaja maniknya menangkap konversasi kecil di sudut ruang luas tempat mereka berada.

Seorang pemuda jangkung tengah berhadapan dengan pria berusia kisaran tiga puluhan, dengan mengangguk-angguk dan tertunduk takut. Sementara pria itu terlihat begitu geram—dari ekspresinya.

Dan Jiho simpulkan, sesuatu yang salah terjadi di dalam demo version ini, yang menyebabkan beberapa player mengalami hal yang tidak sewajarnya terjadi.

“Karena mereka mencoba meluncurkan gaya gaming baru, mungkin saja ini termasuk dalam politik persaingan yang pernah kau bicarakan itu, bukan?” tanya Jiho pada Taehyung.

“Bisa jadi begitu. Tapi memangnya keadaan seperti apa yang ditimbulkan pada playerplayer itu? Sampai mereka terlihat seolah baru saja menaiki roller coaster sebanyak tujuh kali berturut-turut tanpa henti.” kata Taehyung sambil menggeleng-geleng pelan, dia kemudian melempar pandang ke arah Ashley—yang masih memilih untuk menunggu di tempat yang sama meski sekarang gadis itu berdiri membelakangi Taehyung dan Jiho.

“Astaga, gadis itu masih saja membawa gaya hidup lamanya.” gerutu Taehyung, “Memangnya dia itu sedang ada di acara fashion show? Mengapa memakai pakaian yang memamerkan punggungnya begitu?” omel Taehyung lagi, secara otomatis membuat Jiho melempar pandang ke arah yang Taehyung pandang juga.

Well, bukan salah Taehyung kalau dia mengomel panjang-lebar karena Ashley Kim nyatanya mengenakan short-dress dengan punggung rendah yang secara otomatis membuat punggung mulus gadis itu terpampang jelas ketika surainya ia ikat.

“Bukannya kau berangkat dengan Ashley tadi? Mengapa baru memperhatikannya sekarang?” tanya Jiho, dia ingat benar bagaimana dirinya dipaksa untuk naik bus ke tempat pelaksanaan demo ini sebab Taehyung harus menjemput Ashley dari salon tempat gadis itu mempersiapkan diri.

“Tadi dia tidak mengikat rambutnya, mana aku tahu kalau dia memakai pakaian begitu. Tunggu di sini, aku harus memperingatkan Ashley. Aku tidak mau orang-orang berusaha mengambil keuntungan darinya.” tanpa menunggu waktu, Taehyung segera melangkah meninggalkan Jiho, selagi Jiho hanya bisa menggeleng-geleng pelan—pasrah.

“Taehyung, Taehyung. Sikapmu saja sudah begitu, masih tidak mau mengaku kalau kau dan Ashley masih saling menyukai meski telah jadi saudara?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Satu musim berlalu di Seoul setelah versi demo dari WorldWare dirilis. NG Game Factory pun telah melakukan perbaikan-perbaikan terhadap permasalahan yang ditemukan di dalam versi demo.

Pundi-pundi uang pun mulai mengalir dengan lancar ke kantong keuangan utama NG Soft, melalui pimpinan seorang programmer muda yang sekarang menduduki kursi direktur utama sekaligus pimpinan proyek WorldWare, NG Soft mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit jumlahnya.

Sayang, si programmer muda rupanya tidak berpikir demikian.

“Kita akan melakukan peluncuran perdana WorldWare akhir bulan ini. Kau, bersiap-siaplah untuk opening speech.” dua kalimat langsung masuk ke dalam rungu sang programmer—Seo Johnny—begitu dia masuk ke dalam ruang kerjanya.

Opening speech?” tanya Johnny memastikan.

“Ya, apa perkataanku kurang jelas?” ulang si pembicara, seorang pria berusia pertengahan empat puluh dengan cerutu di tangan dan asap mengepul di dalam ruangan Johnny—asap yang sebenarnya sangat Johnny benci.

“Maaf, Tuan Kim. Aku akan siapkan opening speechnya.” ujar Johnny kemudian.

Si pria—Kim Haejoon, lantas bangkit dari kursi yang didudukinya dengan angkuh sejak tadi. Jemarinya kemudian bergerak menyentuh sebuah bingkai foto yang ada di atas meja Johnny.

TRAK!

Dengan sengaja dia jatuhkan foto tersebut ke lantai. “Aku sudah berbaik hati menyediakan tempat yang sangat tinggi ini untukmu, bahkan kujadikan adikku sebagai minoritas—well, si bodoh Junmyeon itu memang tidak punya bakat dalam dunia game—dan aku bahkan menyingkirkan adik sepupuku sendiri.

“Jangan kau sia-siakan kesempatan yang sudah kuberikan ini, Seo Johnny. Kau tahu aku bukan orang baik dan kaupun begitu. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali, jangan buat aku menyesal karena memberi kesempatan hidup bagi sepupuku hanya karena kau memintanya.” kata Haejoon sambil melangkah mendekati Johnny—yang sedari tadi masih berdiri di tempat yang sama, menunduk dalam-dalam sambil berusaha menyembunyikan emosinya.

“Aku mengerti.” kata Johnny.

“Bagus kalau kau mengerti. Sudah sampai di mana progress WorldWare?” tanya Haejoon kemudian membuat Johnny mendongak. “Demo versionnya sedikit bermasalah. Stage yang bernama Eden’s Nirvana sepertinya terlalu berbahaya jadi tim programmer memutuskan untuk meniadakannya di versi resmi.

“Beberapa karakter NPC masih perlu disempurnakan, tapi jangan khawatir, akhir pekan ini kami akan menyelesaikannya. Angka saham WorldWare masih mengalami peningkatan, beberapa vendor bahkan menawarkan kerjasama karena mereka tertarik pada sistem AVBM yang kita unggulkan.” tutur Johnny, tentu dia tahu benar bagaimana perkembangan WorldWare karena sudah selama beberapa bulan ini dia bertanggung jawab atas perkembangan game tersebut.

Sekarang masalahnya hanya satu: Johnny sebenarnya tidak menginginkan kuasa atas WorldWare. Dia dipaksa untuk menggantikan posisi adik Kim Haejoon—Kim Junmyeon—yang dianggap kurang berbakat.

Sementara Johnny sendiri bekerja di sana dengan ancaman.

“Bagus, sebaiknya kau tunjukkan satu demo lagi padaku saat semuanya sudah sempurna. Lalu bagaimana dengan setting villain utama? Kau masih berkeras membuat villainnya terlihat seperti player kebanyakan, bukannya seperti monster?” tanya Kim Haejoon, teringat pada proposal yang Johnny ajukan mengenai karakter villain utama dalam WorldWare yang nyatanya terlihat seperti seorang player.

“Ya, Tuan Kim. Menyamarkan beberapa villain seperti player akan membuat permainan ini menjadi lebih menarik. Rekan-rekan di dalam tim juga berpikir demikian, mereka bahkan ingin ikut serta menyumbangkan beberapa karakter mereka sebagai NPC yang berbalut identitas player, tapi—”

“—Tidak.” Haejoon segera memotong dengan kasar. “Apa?” Johnny menatap tidak mengerti. “Jangan libatkan terlalu banyak karakter NPC di tengah-tengah player, permainan ini hanya akan jadi membosankan. Cukup satu saja, karakter villain utama yang kau bicarakan itu.

“Aku ingin lihat proposal karakternya, juga trialnya. Bawakan padaku karakter villain tersebut akhir pekan ini, Johnny, atau kau tahu sendiri apa yang akan terjadi pada sahabatmu yang sekarang terbaring di rumah sakit.” Haejoon berkata, mengancam—lebih tepatnya.

Dia kemudian menepuk pundak Johnny beberapa kali sebelum akhirnya dia tinggalkan Johnny sendirian di ruangan tersebut.

“Kau mengancamku lagi, Kim Haejoon?” dengan rahang terkatup rapat, Johnny berkata. Pemuda itu mengukir langkah gusar, dibukanya jendela ruangannya dengan kasar, berharap bisa mengenyahkan sisa asap dari cerutu yang Haejoon sesap, juga berharap kekesalannya akan ikut enyah juga.

Pemuda itu kemudian melangkah meraih foto yang tadi dengan sengaja dibanting Haejoon ke lantai. Beruntung saja kaca bingkai foto tersebut tidak pecah, sehingga Johnny tidak harus menyimpan dua kekesalan dalam satu waktu.

Dia kemudian meletakkan foto tersebut kembali di atas nakas. Johnny terdiam sejenak, dipandanginya foto tersebut dengan pandang muram. Delapan bulan sudah berlalu sejak Johnny mengalami sebuah kehilangan yang sangat besar—kecelakaan mendadak yang menimpa seorang sahabat, saudara, sekaligus tutor baginya—dan detik ini tiba-tiba saja dia sudah didudukkan dengan paksa di atas sebuah singgasana penuh konspirasi.

I can’t do this anymore, bro.” kata Johnny, bicara pada sosok di dalam foto—di mana di dalam foto tersebut tampak dirinya tengah tertawa ceria dengan tangan merangkul bahu seorang pria beberapa centimeter lebih pendek darinya. “Beban ini terlalu berat untukku. Perusahaan sudah memainkan terlalu banyak konspirasi demi keuntungan sepihak, dan aku tidak ingin terlibat terlalu jauh karena aku tahu, nyawaku mungkin terancam juga.

“Aku juga lelah, menjadi manekin yang mereka perintah untuk melakukan ini dan itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain, aku juga seorang pekerja yang harus menuruti apa kata atasan hanya demi meneruskan kehidupan yang sekarang kutopang dengan pekerjaanku.

“Meski aku tidak ingin, tapi aku harus melakukannya. Bukan demi kebahagiaanku, karena bekerja seperti ini tidak membuatku bahagia. Tapi demi keselamatan kita berdua. Kau tahu sendiri bukan, jika aku tidak menuruti apa yang mereka katakan, nyawamu yang jadi ancamannya. Mengapa kau tidak terbangun dari tidur panjangmu dan membantuku?

“Kau sudah berbuat banyak di demo version. Dan aku sekarang berencana untuk merekammu dalam ingatan Kim Haejoon melalui sosok yang akan menjadi villain utama. Pintu menuju kebebasan kita masih begitu jauh, dan tentu saja hal ini akan membuat Haejoon tahu kalau aku tidak ingin terlibat dalam rencana liciknya bukan, Jongdae?”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Selamat hari Jum’at! Hari pendek yang setiap satu minggu selalu kunanti karena hari jum’at berarti kerja setengah hari yang amat sangat menyenangkan! Kita ketemu lagi di level 33 dari Game Over—yang alhamdulillahnya masih bisa aku ketik dengan lancar meski di tengah jadwal padat melata.

Berbahagialah kalian, karena sedikit demi sedikit pertanyaan yang lagi-lagi udah terkubur selama belasan level di cerita-cerita sebelumnya sekarang pelan-pelan udah mulai aku buka—eh bukan, Invisible Black yang buka ya.

And another plot twist, Jongdae/Chen sosok aslinya adalah seseorang yang dikenal baik sama project-leader kita sekaligus leader di dalam survival mode 4.2.4, Seo Johnny. Bukan plot twist juga sih, karena sejak awal Johnny sudah ngaku kalau dia yang buat karakter Black Radiant sama Red Hair Witch.

Aw, aw. Red Hair Witch itu Wendy, aka Son Seungwan, kan? Itu artinya mereka bakalan ketemu—bukan spoiler, tapi memang bener ada ini, wkwk. Tapi cerita yang bikin mereka ketemu juga tentu bukan sekedar romansa menye-menye atau Johnny yang berusaha nikung Wendy dari Baekhyun.

Yah hitung-hitung Wendy aku kasih selingan deh di tengah kesepiannya dia yang ditinggal Baekhyun gitu /slapped/. Dan kalian jangan bersedih, karena Black-Joo di sini ketemu lagi dong. Aku baik ‘kan baik ya?

Nah, udah deh aku enggak mau banyak berceloteh karena semangat berceloteh hanya akan ngebuat aku bagi-bagi lebih banyak spoiler lagi dan overload-spoiler itu enggak baik buat ingetan kalian, LOLOL.

Sampai ketemu hari minggu, stay healthy and happy weekend!

Salam ketjup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

36 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 33 [Retrouvailles] — IRISH”

  1. Ohh hoo, begitu toh
    Tapi kenapa black radiant uda muncul di demo version sebelumnya? Atau yg di level 32 itu demo version yg diminta kim haejoon di level 33 ini? Tapi kan katanya mau dihapus eden’s nirvana nya, oh iya sih ntar di versi resminya ya.
    Trus jongdae itu samakah kek chen yg di worldware? Ahh banyak sekali pertanyaan, haha

  2. Ketemu lagi sama saya hehehe. Cuma mau tanya maksud dari ini “Dan aku sekarang berencana untuk merekammu dalam ingatan Kim Haejoon melalui sosok yang akan menjadi villain utama” maksudnya apa?? Jadi Chen yang di WW itu kenangannya dari Jongdae yang sahabatnya Jhonny?? Nah maksud merekam ingatanmu dalam ingatan haejoon itu apa?? Tell me juseyo..
    Semangat lanjut mbaRish 😂

  3. Dear Irishnim,

    Jadi apa ChenBebek itu yang temenan sama Johnny, dan partner lamanya BaekCabe dan hubungan Benci-tapi-tjinta dengan BaekBlack itu adalah sepupunya Kim Haejoon??

    Omegat…
    Aku jadi keingat drama Korea jaman Joseon, di mana bahkan adik sendiri bisa di singkirkan kalo lagi dalam masa perebutan takhta, ato dalam masa transisi dinasti, ati kalo mau neguhin posisi. What, Haejoonssi, sepupu sendiri. Tapi emang klo dalam teori politik jaman dulunya sih, justru sodaraan yg merupakan ancaman kuat,
    /maapkeun, aku makin jauh dan ngawur/

    Himneseyo,

    Sincerely,
    Shannon

  4. Kim Haejoon, anda kok ular sekali.. Udah kayak petinggi2 perusahaan yg di drama2 korea.. Kezel akutuuu..
    Invisible Black.. Black Radiant.. Aku suka sama kalian pokoknya..
    Seo Johnny.. Aku padamuu 😘😘😂

    Dah lah pokoknya manut sama kak Irish..
    Fighting!!!!

  5. ohh jadi awal black radiant tuh sepeeti itu, kejam banget yahh si haejoon, cuma mikir keuntungan perusahaan tanpa mikir karyawannya.
    hmm dari awal worldware memang sudah mencurigakan, ternyata benar
    btw duhh si baek manis banget memperlakukan jihoo dg baik 😂
    .
    buat kak irish semangat terus lanjutin ceritanya 😚😚 tambahin ide” kreatif plus imajinatif ala kkak yg bikin cerita tambah greget 😂😂 oh ya jaga kesehatan juga ya kak, aku padamu kak 😚😚😂

  6. Kog licik amat si itu Kim haejon?!!
    Minta dicekik Ampe mati….

    And….
    The secret of main valian opened!!!!!
    Kim Jongdae!!!
    Si Johnny Seneng amat si jadiin manusia buat karakter 😐

  7. Kaget gua ka, astaga. Jadi chen itu sahabatnya jonny, astaga ga nyangka aku tuh
    Ketemuin aja wendy ma jonny, jadian sekalian juga gapapa biar baek-wen putus trus baekhyun biar jadian ma jiho /jahat banget aku/ 😂 bodo ah terlanjur suka baek-ho

  8. Pas jhony lagi curhat ane ngerasa black radiant itu jongdae a.k.a chen. Dan, tadda! That’s right bung!
    Gapapa si IB gak inget sama jiho, toh didalem game dia udah kenalan again. Setidaknya BB udah kenal jihoo didunia nyata.

    Dan,, iyakiyak buat aja seungwan dekat dengan someone selagi BB lagi bertukar kehidupan di worldware 😅 diriku senang kok, apa lagi sampe jadian, beuuhh mantab jiwa 😂😂 someone nya seo jhony ea kak 😆

    Kutunggu dirimu hari minggu kak😘💕

  9. Waah, jadi selama ini Johnny jadi pimpinan Worldware gara” diancem sama Haejoon, kok kesel ya 😡
    Yes, akhirnya Invisible Black ketemu lagi sama Jiho 😄
    Sukaa ~
    Kak Irish 최고
    Semangat terus ya ka 😊

  10. Ai don laik haejoon….😂😂 memori invisible black sma baekhyun beradu… 😃 penasaran memori siapa yg lebih mendominasi nantinya dlm tubuh invisible😅

    Hwaiting Rish😉

  11. Hallo hai kak irish, sedikit telat sih perihal sapa menyapanya. Maunya sih dr mlam tadi leave comment nya, tapi apa daya tugas menumpuk, dan mata mulai meredup. Bantal dan kasur lebih menarik kak. Hehe… 😀

    Cinta memang tidak harus memiliki ya taehyung. Yang sabar ya.

    Tukan bener, eksistensi invisible black lebih d tunggu dari pada mas byun baek. Btw kak irish, wendy bkal selingkuh nih? Jahat euy…

    See U next chap!!!♡♡♡

  12. Sukaa.. setelah nunggu apdetan dari kemarin akhirnya muncul juga.
    Oke udah mulai paham sekarang. Penasaran next part misteri apa lagi nih yg bakal keungkap

  13. rish, dirimu msh niat bnget y bikin Wendy-Johnny.
    pasti ada2 aja moment buat mereka be2.
    Invisible black is back, yah meskipn flashblack pn gak papa. Kasihanilah kami yg jomblo ini dn udh kesemsem banget ama Baek ver.black. Semangat rish nulisnya^^

  14. Akhirnya pertanyaan tentang black joo ini kejawab juga jongdae yg di rumah sakit sama johnny yg di jadiiin boneka ini ada nyangkut nyangkut nya sama konspirasi konspirasi itu kah,,, ehh tapi di flashback ini kok aku lebih suka jiho sama taehyung ya (ᴖ◡ᴖ)♪ parah tuh si black player nya sampe muntah muntah gitu

  15. akhirnya muncul juga…
    bner kta kak irish, pertanyaan” yg menghantuiku perlahan lahan kejawab juga..

    semangat kak…
    ditunggu next lv.nya

  16. akhirnya cabeku mencungul lagi walaupun ini cuman flashback tapi aku bahagia kok :”) itu si tuan kim jahara banget ya kak.jahatin baekhyunku,lah si johnny pula di ancem gitu.ato jangan² kecelakaan si jondae juga gegara dia ? aku gedek pengen nampol dia pakek sandal swallow nya sehun biar gak banyak tingkah lagi :”)
    kutunggu lv berikutnya kak irish, semangat kerjanya plus ngetik ffnya juga 🙂

  17. jadi jongdae ada versi aslinya.
    ada harapan ga sih jiho sama black 😦 ada aja ya ya ya?
    ku ingin mereka bersama
    wendy sama johnny aja lah ya.
    btw
    aku butuh spoiler yang banyaaak 😦

  18. Eiyaaaak. Bolak balik kesini akhir nya datang jua part yg ditunggu. 😍😍😍😍
    Jadi di Invisible ini kenal Jihoo karna dpt memorinya Baekhyun. Daebaaaak keren banget kak Irish .

  19. Akhirnya setelah menunggu sekian lama. Aahhh invisible black akhirnya muncul lgi trus udh ketemu jiho. Lebih baik endingnya JIHO NIKAHIN BAEKHYUN!!!!! Sungguh ingin ku melihat mereka bersama. Jongdae knpa ?? berkaitan sma baekhyun juga ya ?? Ahh sudah lh dari pada tersesat dlm ekspektasi yg tinggi lebih baik menunggu kelanjutanya sja. SEMANGAT KAK IRISH LANJUTIN FF INI. DI TUNGGU HARI MINGGU.

  20. Paham paham paham…akhirnya aku paham sm game over..yaampun setelah level 33 baru paham juga??ah sungguh terlalu diriku ini..wkwk
    Eh eh..aku suka si invisible banyak partnya..haha..bener katamu rish,,keberadaan invisible lebih aku rindukan daripada mas baekhyun asli..wkwk…suka moment invisible black sm hongjoo..
    Dan dan dan babang jongdae akhirnya muncul..meskipun cm namanya aja..eh dia sepupu haejoon bkn yak??
    Aq tunggu ya next levelnya di hari minggu..
    Semangat ya buatmu Irish…

  21. Akhirnyaaaaaa..irish….bkin orang melabkolis aja semingguan nungguin apdetaaannn…pagi2 buka hp akhirny muncul…..
    Wuaahhhhh mkin kesini makin suipp critanyaaa…irish smngat yaaaa kerjanyaaaaaaa biar smngat juga ngrtiknyaaa…trus jgn lupa mnum vit biar ga skit..#apaaainsiheyke hahhahahahahaha
    Irish jjang!!!!!!!kecup kecup irish

  22. Uwow, nggak kerasa nemu tbc aja saking asyiknya bacanya.
    Lucu juga first meet nya black sama radiant ngingetin aku sama tom & jerry, wkwk*upss.
    Next next…, nggk sabar nunggu hari minggu ^_^

  23. Invisible black dibangunin aja ngamuknya separah gitu :”v
    jadi.. Si invisible black sama black radiant dari awal ktmu juga udah berantem,musuhan..
    Mana si baekhyun belagu amat pula.. Di lvl** lu juga mati maz :”v
    ceritanya makin jelas, makin gasabar juga xD

    1. Hahahahahaha klo pun black mati kan msh ad baek..tp ttep hot an black sih ya hahahaha
      Moga aj orish berubah pkiran bkin black ttp idup wkakakakak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s