[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 7)

K O K O B O P (Track 7)

Author: El Byun

Chaptered

Rate: Pg-17

Genre:

Alternate Universe, Action, Romance, Angst, Mature

Cast:

Lee Hanbi (OC)

Zhang Yixing aka Lay | Huang Zitao aka Tao | Wu Yifan aka Kris | Xi Luhan aka Luhan

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good readers!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

~~~

[Track 7 : FIRST – THE CEO KIM JUNMYEON]

~~~

“He is my first, from my past” – Hanbi

.

.

.

.

Alunan musik sang maestro Bethoven yang dimainkan solo oleh violin yang berdiri di sudut restoran dan waitress yang berlalu-lalang di antara meja-meja pelanggan mengiringi Hanbi berjalan menghampiri meja bernomor 01 yang berada tepat di bawah lampu gantung besar yang menyilaukan. Netranya menangkap sosok mengenakan suit berwarna hitam mengkilat tengah duduk membelakangi kedatangannya. Entah kenapa dadanya terasa bergemuruh semenjak menginjakkan kaki masuk ke dalam restoran bergaya Eropa ini. Bahkan pesan yang tertera pada surat estafet yang Lay tunjukkan berkat ketiga petunjuk itu membuatnya berpikir keras sebelum memutuskan untuk bersedia menemui pria kencan pertamanya. Jujur saja, seumur hidup Hanbi belum pernah melakukan kencan dengan seorang pria asing seperti ini. Hanya dengan Luhan lah teman kencannya walaupun pria itu hanya bersikap normal layaknya partner makan padanya. ia juga tidak mengelak telah merindukan orang itu lagi. Heran, karena semenjak kejadian di cafe Jepang di departemen store itu, Luhan tidak pernah kembali menghubunginya, bahkan Hanbi sekalipun.

Wanita muda itu berhenti beberapa langkah di belakang pria itu untuk menarik nafasnya dalam untuk menormalkan moodnya yang sempat kacau. Ia ingat pesan Lay padanya untuk bersikap ramah dan sopan pada pria kencannya. Jangankan untuk mengacuhkannya, berkata kasar seperti mengumpat pun Lay melarangnya. Ingat, Hanbi harus mendapatkan perkamen itu demi menyelamatkan ibunya. Dan semoga saja pria kencan pertamanya ini akan dengan senang hati untuk membantunya. Dan lagi, sebenarnya Hanbi benci mengemis seperti ini.

Tanpa memberikan salam sapa Hanbi menarik sebuah kursi di depan pria itu kemudian duduk. Ia menatap pria itu tengah sibuk menggunakan sebuah aplikasi office di dalam layar ponselnya. Pria itu bahkan sepertinya tidak berniat untuk menyapa Hanbi. Mata dan jemarinya terus bergerak beriringan.

“Kau datang?” ucapnya yang masih tidak memalingkan pandangan dari layar ponselnya. Hanbi sebenarnya tidak menyukai sikapnya yang mengacuhkannya seperti ini. Apa pria ini tidak menganggap Hanbi ada? Apa memang pria ini tidak ada niat sama sekali untuk memenuhi permintaan surat misterius itu?

Hanbi menyilangkan kedua tangannya di dada lalu bersandar di punggung kursinya dengan tegak. “Ya.” sahutnya singkat. Perlu diingat, Hanbi memang tipe-tipe orang yang melakukan apa yang orang lain perlakukan padanya.

“Aku Kim Junmyeon. Senang bertemu denganmu!” baru setelah memperkenalkan diri pria itu mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis pada Hanbi. Pria itu bahkan hanya memperkenalkan diri tanpa meminta untuk berjabat tangan. Sopan sekali. Junmyeon menggeser bokongnya untuk duduk lebih tegak di hadapan Hanbi serta membenarkan jasnya yang sedikit miring karena kegiatannya bermain ponsel tadi.

“Aku sudah memesan sesuatu untukmu.”

Klik!

Junmyeon menjentikkan jarinya di udara dan tak lama kemudian dua orang waitress yang datang membawakan sepasang mangkuk lebar dengan gaya yang anggun diletakkan di depan kedua orang itu bersamaan. Semangkuk Potato and porcini soup sebagai hidangan appetizer mereka.

“Maaf, kenapa tidak langsung ke menu utama saja?” tolak Hanbi sebisa mungkin halus. Mendengar hal itu ekspresi wajah Junmyeon sedikit terkejut. Ia bahkan kembali menarik jasnya agar tetap rapi walaupun tidak akan kusut sekalipun saat ia bergerak.

“Kenapa? Cicipi dulu, makan makanan yang ringan agar lambungmu tidak kaget saat…”

“Aku tahu. Makanlah!” potong Hanbi lalu mendekatkan tubuhnya mendekati bibir meja. Memasang kain dalam pangkuannya lalu mengambil sepucuk sendok sup itu dan memasukkannya dengan lembut di mulutnya.

Kim Junmyeon, pria itu masih terpaku melihat sikap wanita di depannya. Ia pikir siapa yang tadi mempersilahkan makan, namun sekarang justru menjadi kebalikkannya. Akankah Junmyeon harus mengganti kodratnya sebagai pria? Yang dalam arti saat berkencan. Yah, walaupun bukan kencan yang sebenarnya.

“Bagaimana kabarmu?” Junmyeon memulai konversasi setelah menelan sesuap sup di tenggorokkannya. Pertanyaan yang terdengar akrab itu membuat Hanbi sedikit heran. Ia merasa diperlakukan seperti seseorang yang lama tidak bertemu dengannya.

“Apa aku pernah bertemu denganmu? Aku bahkan tidak memperkenalkan diriku.” sahut Hanbi malas.

“Kau Lee Hanbi, kan…”

“Kau?”

“…putri Tuan Lee Donghae, pewaris bisnis mansion elit yang terkenal di Korea Selatan. Aku tahu itu.” lanjut Junmyeon, namun masih menyisakan beberapa pertanyaan di benak Hanbi. Ia bahkan tidak mengatakan darimana pria itu mendapat informasi itu, walaupun sebenarnya ia tidak kaget dengan ketenaran ayahnya. Namun, apa yang membuat namanya terseret di dalam ketenaran ayahnya? Bahkan Hanbi begitu menghindari bertatap muka dan pertemuan dirinya dengan para kolega bisnis ayahnya yang kini kian tidak jelas.

Pletak!

Hanbi meletakkan sendoknya sedikit kesal. Ia menatap manik mata Junmyeon serius. Bahkan mereka telah menghentikan aktivitas makan mereka beberapa saat lalu saat konversasi itu dimulai.

“Kau tahu aku?” tanya Hanbi memastikan. Namun Junmyeon justru membalasnya dengan kekehan geli. Pria itu mengambil kertas tisu di depannya untuk mengusap bibirnya.

“Kau benar-benar tidak ingat aku?” tanyanya kembali kemudian. Hanbi memiringkan kepalanya linglung saat mendengarnya. Ia pikir Hanbi paranormal yang bisa mengingat masa lalu dengan rinci?

“Aniyo!” Hanbi menggeleng lalu mengambil gelas air putih untuk ia telan. Kerongkongannya terasa kering saat berbincang dengannya. Lebih tepatnya Hanbi tidak menyukai sup kentang. Ia merasa seperti bayi.

“Kita satu kelas saat kelas 4 di Kyunghee. Aku si anak culun berkacamata yang duduk di depanmu. Kau selalu menarik kursiku ke belakang saat aku akan duduk. Kau ingat?” selepas Junmyeon bercerita Hanbi sedikit mengulas senyum miring lalu menganggukkan kepalanya pelan. Ia sedikit tidak ingat akan itu. Namun beberapa memori kecil mulai muncul begitu saja.

“Apa aku yang memanggilmu dengan sebutan Myunmyun?” celetuk Hanbi tiba-tiba. Air muka Junmyeon mendadak masam saat mendengarnya. Ia juga mengingat julukan yang pernah Hanbi layangkan untuknya. Perlahan keping demi keping memori berputar, bayangan gedung sekolah dan wajah-wajah masa kecilnya teringat kembali.

“Hahaha.. Jadi kau Myunmyun itu? Benarkah kau Myunmyun?” lagi-lagi Hanbi mencetuskan nama menggelikan itu. Bahkan ia mengatakannya sambil tertawa riang. Beberapa pengunjung di dekatnya sedikit menoleh ke arah wanita itu heran. Junmyeon menatap malas Hanbi yang tak henti menyebut nama laknat itu berkali-kali. Ia menunggu wanita itu berhenti. Ada secercah rasa bahagia juga saat Hanbi mulai mengingatnya. Apalagi saat wanita itu mengeluarkan tawa khasnya saat ia mengenalnya dulu.

“Kau yang membuatku berubah Bi-ah.” ujar Junmyeon saat tawa Hanbi mereda dan membuat bibir wanita itu bungkam. Ia hampir saja hilang kendali saat ia kembali pada masa kecilnya dulu yang bahagia.

“Berhenti berpura-pura akrab denganku!” ujar Hanbi mendadak dingin. Wanita muda itu kembali menatap mangkuk supnya malas tanpa berselera untuk menyantapnya lagi. Sebaliknya, Junmyeon justru menganggap celotehan dingin Hanbi seperti lelucon. “Wae?” ujarnya yang masih terkekeh.

“Itu hanya masa lalu. Jangan mengungkitnya lagi.” sahut Hanbi cepat sambil mengaduk-aduk supnya malas. Kepalanya terasa sedikit sakit mengingat masa lalu. Bukan tentang hal memalukannya. Namun…

~~~~~

flashback on

“Eomma!”

Setahun semenjak kepergian ibunya Hanbi selalu mengurung dirinya di kamar sama halnya ketika di sekolah, gadis itu juga menyembunyikan dirinya di kamar mandi perempuan saat jam istirahat tiba. Ia benar-benar menghindari adu mulut dengan teman-temannya seperti biasa ia lakukan. Bahkan bekal makan siang yang selalu dibuat oleh koki di rumahnya hanya bersanding di antara buku-buku di dalam tasnya tanpa ia sentuh sekalipun. Ia menangis dalam diam di sana. Ia tahu beberapa temannya mengetahui keberadaannya di dalam bilik nomor 3 di sana. Dan selalu di tempat itu ia bersembunyi. Yang biasanya gadis itu bersikap jahil dan sombong pada teman-temannya dengan kekayaan orang tuanya, kini ia sendiri yang dibully karena kecengengannya dan isu ibunya yang kabur dari rumah. Sebenarnya hanya pernyataan tidak benar terhadap ibunya itulah yang membuatnya tidak terima. Dalam niat ia ingin sekali membela, namun ia sudah tidak punya pegangan lagi untuk berdiri. Hanya dirinya sendirian. Sendiri. Dalam hiruk pikuk keramaian orang-orang di sekitarnya yang bersikap seolah tanpa beban.

“Ha.. Ha.. nbi!”

Tok… Tok… Tok…

Suara ketukan pintu bilik kamar mandi dan suara gagu itu membuyarkan keheningan dan kacaunya pikiran Hanbi di dalam sana.

“KHA!” teriak Hanbi mengusir. Ia tidak perduli siapapun yang ada di balik pintunya.

“Ka.. kau harus keluar da.. dari sana Bi-ah! Ka.. kau boleh mem.. mem.. mengejekku sepuasmu ji.. jika kau ingin. A.. aku bersedia.”

BRAK!

Gadis itu memukul pintunya sendiri dari dalam. Ia menginginkan ketenangan dan orang itu pergi dari sini. Ia meringkuk di atas toilet dan kembali menangis tersedu-sedu di sana. “Hanbi-ah!” ucap orang itu pelan nyaris tak bersuara.

Hanbi melihat ke bawah pintu biliknya yang memperlihatkan sepatu anak laki-laki. Ia baru sadar, ia hampir saja menganggap orang itu adalah teman perempuannya yang biasa mengganggunya. Namun tidak. Hanbi mengusap kasar kedua matanya yang basah. Ia berdiri untuk membuka pintunya, akhirnya.

“Luhan oppa?” panggilnya.

Hanbi berjalan perlahan keluar dari persembunyiannya. Ia melihat sosok mengenakan seragam sekolah yang senada dengannya. Anak laki-laki itu mengenakan kacamata dan menunduk malu saat melihat Hanbi keluar. “Myun?” ujar Hanbi heran. Anak itu mencoba menarik tangan Hanbi namun gadis itu menolak.

“Pergi kau!” tolak Hanbi sambil mendorong pundak anak itu hingga terhempas sedikit. Anak itu membenarkan posisi kacamatanya dan mendekati Hanbi lagi. Ada perasaan takut saat ingin berbicara pada Hanbi. Ia mencoba meraih pergelangan tangannya lagi, perlahan. Hanbi sedikit menjauh melihat pergerakan anak laki-laki itu.

“I.. ikutlah denganku!”

Tanpa mendengarkan tolakan Hanbi, anak laki-laki itu sudah menarik Hanbi keluar dari dalam kamar mandi perempuan. Mereka berjalan setengah berlari menyusuri koridor sekolah yang penuh dengan lemari brangkas yang berjejer rapi di sepanjang perjalanan mereka. Hanbi terlihat bingung. Suasana sekolahnya kini sudah sepi. Apa mereka sudah pulang? Pikirnya.

“Kemana semuanya pergi?” tanya Hanbi kemudian. Tangannya masih dipegang erat oleh anak laki-laki yang membawanya. Tanpa menjawab apapun akhirnya mereka sampai di taman belakang sekolah tempat biasa anak-anak bermain dan mengadu kekayaan. Yah, semua yang bersekolah di sini berasal dari orang-orang terpandang termasuk anak laki-laki berdandan culun ini.

Mereka duduk di bangku yang telah ditunjukkan anak laki-laki ini lengkap dengan tas Hanbi dan tas anak itu. Ia tidak tahu maksud dan tujuan anak itu membawanya ke sini. Anak berkacamata itu mengeluarkan sebuah kotak makan dan sebuah cup kecil dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Hanbi. “Ma.. makanlah! Ta.. tapi sebelum itu, makan sup dulu agar perutmu tidak kaget saat menerima makanan yang berat!” ujarnya saat menyodorkan sebuah cup kecil pada Hanbi. Tangannya begitu gemetaran saat menunggu gadis itu meraihnya.

Plak!

Hanbi dengan cepat mendorong cup supnya jatuh menyirami lantai tanah taman itu. Hanbi tidak cukup mudah menerima kebaikan orang lain. Apalagi soal makanan, ia tidak memperdulikan itu. Kecuali orang itu bisa mengembalikan ibunya kembali. Andai.

“Ke.. kenapa dibuang?” tanya anak laki-laki itu polos.

“Aku tidak suka sup!” jawab Hanbi ketus. ia bahkan enggan untuk melihat ke arah anak laki-laki yang ia panggil Myun tadi saat di toilet.

“Pa.. padahal itu buatan eommaku. Ya sudah kalau kau tidak mau makan.”

Hanbi tercekat mendengar kata ‘eomma’ yang anak itu sebutkan. Sedikit rasa bersalah mengingat Hanbi juga seringkali dibawakan bekal oleh ibunya. Namun pancaran mata polos anak laki-laki itu terlihat tidak keberatan saat Hanbi membuang makanannya. Anak itu justru membuka kotak bekalnya sendiri yang sudah ia keluarkan untuk dimakan. Hanbi berulang kali menelan ludahnya sendiri karena kelaparan. Ia memeluk tas ranselnya yang ia baru sadar juga memiliki kotak bekal yang ia bawa dari rumah.

Aroma lasagna menyambar begitu saja di depan hidung Hanbi. Ia tahu masakan itu yang katanya sangat enak saat dimakan hangat-hangat. Ia seolah mencium aroma panggangan gosong saat ibunya mencoba memasaknya dulu. Hanbi tidak mengelak dulu ia ingin sekali memakan itu dan menyuruh ibunya untuk memasak makanan Italia itu. Namun akhirnya dibuang sia-sia di tong sampah saat tahu rasanya tidak begitu enak. Mungkin karena memang ibunya tidak bisa memasaknya. Hanya masakan Korea sederhana dan lebih banyak masakan China yang dibuatnya. Namun melihat Myun yang dengan lahapnya menyantap lasagnanya Hanbi seakan ingin gigit jari. Ia mengetuk ujung sepatunya menahan hasrat. Namun karena tidak sabar ia membuka tasnya sendiri dan mengeluarkan kotak makanannya yang hanya berisi gimbab dan telur gulung beraneka bentuk di sana. Desahan kecewa melanda kerongkongan Hanbi. Nafasnya berat menerima bekal makanannya. Ini pertama kalinya ia membuka bekalnya. Sebelumnya ia tidak pernah membukanya sampai di rumah dan meminta seseorang mengantarkan makanan delivery dari luar untuk ia makan.

“Myun!” panggil Hanbi pelan. Myun yang ia panggil sedikit menolehkan kepalanya. Mulutnya yang masih mengunyah dan bibirnya yang belepotan dengan saus tomat membuat Hanbi ingin tersenyum. Gadis itu tersenyum tipis hampir tidak kelihatan. Ia menyodorkan bekal makanannya untuk anak laki-laki itu. “Makanlah milikku!” tawar hanbi kemudian. Myun berhenti mengunyah saat Hanbi menatap kotaknya dengan antusias. “Kau mau?” Myun menawarkan kotak bekalnya. Hanbi mengangguk dengan cepat lalu menyambar kotak bekal Myun dan memberikan kotak bekalnya sendiri di pangkuan Myun tiba-tiba.

“Ta.. tapi itu bekasku…” dengan cepat Hanbi menggeleng sambil menyantap dengan lahap lasagna milik Myun tanpa berpikir lagi. Bebannya sempat menghilang sesaat merasakan nikmatnya makanan itu. Setidaknya Hanbi tidak lapar lagi. Ia bahkan tidak ingat ini sudah jam berapa. Myun tersenyum.

Di tengah Hanbi makan, Myun melihat pengawalnya berdiri jauh di depan pintu masuk taman sambil berdiri membelakangi mereka. Myun yang menyadari kehadiran pengawalnya langsung mengait tasnya kemudian beranjak berdiri. Ia menepuk pundak Hanbi pelan hingga membuat gadis itu tersedak.

“Mo… mobilnya sudah datang. Ayo!” ajaknya kemudian.

“Mwo?” sahut Hanbi kelabakan. Mulut Hanbi yang masih penuh makanan itu harus berusaha keras menelan sambil berbicara. Pipi chubby-nya terlihat menggembung dan saus tomat yang belepotan di ujung bibir hingga dagunya membuat Myun mendesah pelan kemudian mengambil tisu dari dalam kantung tas luarnya. Tanpa rasa jijik Myun mengusapi bekas saus itu hingga bersih. Hanbi tahu Myun adalah anak yang mencintai kebersihan. Ia tidak segan untuk membersihkan apapun yang kotor di tubuhnya. Mungkin Hanbi adalah gadis yang beruntung kali ini.

Lagi-lagi Myun menarik tangan Hanbi untuk berdiri dari tempat duduknya. Myun mengambil paksa kotak bekal yang Hanbi pegang dan menaruhnya di bangku begitu saja. Hanbi berulang kali menolak, namun Myun tetap memaksa seperti biasanya.

“Benarkah kita sudah boleh pulang?” tanya Hanbi saat duduk di dalam mobil mewah Myun.

“Iya.” jawab Myun sambil membenarkan kacamatanya.

Mobil Myun melaju di aspal jalanan kota Seoul dengan mulus. Suara mesin mobilnya bahkan tidak terdengar sekalipun, hanya alunan musik klasik mengiringi ruang bernafas mereka, termasuk seorang supir dan seorang pengawal di sampingnya. Begitu sampai di depan gerbang rumah Hanbi, pengawal Myun membuat komunikasi melalui earphone-nya yang membuat Hanbi menebak-nebak.

“Semua terkondisi dan aman, Tuan Kim.” ujar pengawal itu menoleh pada Myun. Begitu mobil berhenti, pengawal itu turun dan membukakan pintu samping Hanbi terduduk. Hanbi masih bingung dengan semua perlakuan Myun padanya.

“Ha.. Hanbi-ah. Ini pertemuan terakhir ki.. kita, aku harap kau tidak me.. menangis lagi. Se.. semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi.” ucap Myun sebelum Hanbi beranjak pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Hanbi memelas hampir meneteskan air matanya. Sedingin-dinginnya sikap Hanbi. Sejahat-jahatnya Hanbi memperlakukan teman-temannya, ia tetaplah gadis rapuh yang akan sedih jika seseorang yang mulai memperlakukannya sebaik Myun, walaupun anak itu telah ia sakiti. Myun kembali membenarkan kacamatanya yang merosot.

“Aku… me.. meminta Appa untuk memindahkanku bersekolah di A.. Amerika. Se.. semua yang kulakukan hari ini adalah untukmu. Aku tahu apa yang te.. terjadi pada ibumu.”

“Ja.. jadi, jangan menangis Ha.. Hanbi-ah.”

“Bye..!” ucap Myun melambaikan tangannya.

“Myunmyun.. Hiks!” Hanbi menangis tanpa berteriak saat tubuhnya ditarik oleh pengawal Myun. Berat saat Hanbi melepaskan Myun. Hanya dia satu-satunya orang yang mengerti keadaannya, namun kini ia harus pergi. Ia sekarang sadar kenapa sekolahnya begitu sepi saat Myun menariknya dari dalam kamar mandi perempuan. Anak culun yang kaya raya itu ternyata bisa berbuat lebih heroik ketimbang anak yang hanya terkagum pada aksi penyelamat superhero-nya. Hanbi berdiri di depan gerbang rumahnya sambil sesenggukkan melihat mobil Myun mulai melaju meninggalkannya seorang diri menghadapi kenyataan hidupnya yang ia terima terlalu dini ini. Tapi bukan Hanbi jika gadis itu menyerah begitu saja. Ada secercah harapan saat ia mengingat pesan Myun padanya.

“Jangan menangis!”

Flashback off

~~~~~

“Hanbi?”

Goyangan di punggung tangannya dan suara Myun khas orang dewasa itu membuyarkan lamunannya. Pria itu bahkan tidak gagu lagi seperti dulu. Kini pegangan sendok supnya telah berganti menjadi garpu. Ia bingung saat menyadari keganjilan itu. Mulutnya hampir akan memanggil pria itu dengan sebutan ‘Myun’ namun ia urungkan saat melihat sajian di depan matanya. Sebongkah lasagna besar tersaji indah di atas meja lengkap dengan liukan uap panas dari dalamnya. Siapapun akan lupa diri jika melihat makanan menakjubkan ini. Junmyeon mengambil sebuah pisau besar yang telah disediakan di meja untuk memotong lasagna itu. Jika boleh mengira tebal lasagna itu hampir 5cm. Mengingat gumpalan daging dan keju mozarella yang begitu nikmat saat memasuki mulut Hanbi, wanita itu hampir tak bisa berkata-kata lagi. Walaupun ia telah memiliki kebebasan memilih makanan, ia lupa akan menikmati makanan ini lagi semenjak kepergian teman kecilnya. ‘Myun’ yang dulu berkacamata culun, berkulit pucat dan kerap ia jahili dengan menarik bangkunya saat duduk kini menjadi sosok Kim Junmyeon yang tampan, mungkin lebih tepatnya adalah istilah ‘Charming’ menempel di tubuhnya. Sungguh, kini Hanbi baru menyadari perubahan itu saat baru mengingat Junmyeon adalah Myunmyun-nya saat kecil.

“Bon a petite!” ucap Junmyeon saat selesai menaruh sepotong lasagna di piring Hanbi. Wajah pria itu begitu bahagia saat menyuapi dirinya dengan lasagna. Potongan memori tentang bibir Myun yang dipenuhi saus kembali melayang di atas kepalanya. Ia sadar telah merindukan lucunya pria ini.

Lasagna di piring Hanbi membuat hatinya teriris sakit. Menoleh pada masa kecilnya, ia tampak menyedihkan dulu, bahkan hingga sekarang orang yang sama pun memberikan hal manis serupa untuk mengulang kenangan itu. Haruskah Hanbi berterima kasih? Haruskah Hanbi membalas budi? Tapi bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Tolong, Hanbi butuh seseorang untuk membantunya sekarang!

“Myun, kenapa mereka mengambil Eomma-ku?” Hanbi bergumam sendiri tanpa melihat sosok Junmyeon yang masih asik mengunyah. Ia tampak seperti seorang anak hilang yang putus asa karena tidak menemui ibunya. Ia bahkan memanggil Junmyeon dengan julukan masa kecilnya.

“Bisakah aku hidup tenang saja dengan orang yang kusayangi? Kenapa aku memiliki sosok ayah yang brengsek seperti dirinya, Myun? Kenapa mereka mengancamku dengan hal-hal yang kubenci pada Eomma? Membunuh? Haruskah mereka melakukan itu? Kenapa Myun?” ucap Hanbi yang masih menunduk menatap lasagna-nya iba. Ia seakan berbicara pada sebuah makanan, seolah-olah benda mati itu adalah temannya masa kecil.

“OPPA!!”

Seorang wanita berbusana gaun glamour bernuansa hitam berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Junmyeon dengan cepat. Kedatangannya dari sisi belakang membuat Junmyeon memutar tubuh dan kepalanya bersamaan. Seketika ekspresi wajahnya berubah khawatir. Junmyeon berdiri untuk menyambut wanita itu.

“Kenapa kau menyusulku? Sudah ku bilang malam ini aku tidak bisa mengajakmu makan malam. Aku punya janji.” ujar Junmyeon membela diri. Wanita itu terus menatap tajam sosok Hanbi yang masih terduduk manis di kursi makannya. Hanbi pun juga sangat malas bertemu dengan wanita lain yang merusak misi kencannya.

“Tapi kau kencan dengan wanita lain. Haruskah aku baik-baik saja?” protes wanita itu masih manatap Hanbi sinis. Ia bahkan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

“Dia… Ah, begini saja. Aku akan pesan tiket ke Hawaii untuk mengganti kencan kita. Oke!”

Wanita itu masih diam sambil menggoyangkan pundak mulusnya pelan untuk berbalik ke arah Junmyeon. Pria itu memperhatikan gerak-gerik wanitanya memastikan. Biasanya cara ini selalu berhasil untuk mengatasi masalahnya dengan wanita-wanita kencannya.

Wanita itu mendekati Junmyeon dan mengait lengannya lembut sambil sesekali melirik Hanbi, berharap ia cemburu. “Jadi kapan kita berangkat!” ucap wanita itu kemudian. Junmyeon menghela nafasnya jengah lalu menjawab, “Besok pagi. Setuju?” tawarnya balik.

“Nanti malam!”

“Baiklah, nanti malam. Jadi pergilah untuk bersiap. Oke!”

Wanita itu yang mulanya bersikap dingin dan menatap Hanbi sinis, kini menatap Junmyeon lembut. Ia mengusap lengan kekar Junmyeon manja kemudian mengangguk seperti anak kecil yang habis diberi permen. Ia memeluk pinggang Junmyeon sesaat sambil memainkan dasinya. Junmyeon tidak keberatan akan itu, yang ia tahu wanita memang suka diberikan harapan manis kemudian ia bermanja-manja olehnya. Sederhana bukan?

“Aku menunggumu sayang. Jangan lupa hubungi aku!” ujarnya manja lalu mengecup pipi Junmyeon sesaat. Ia melirik Hanbi sinis lagi kemudian beranjak pergi dari sana.

Kalian tahu bagaimana keadaan Junmyeon sekarang? Ia ingin muntah. Jujur saja, Junmyeon tidak benar-benar serius saat berkencan dengan seseorang. Ia bahkan mengusap bekas bibir wanita itu dengan tisu yang ia raih di mejanya kemudian kembali duduk di meja bersama Hanbi yang telah ia abaikan demi wanita ular itu.

“Ternyata kau pria brengsek?” sindir Hanbi terkekeh. “Wow, hanya dengan liburan mewah wanita itu berubah? Sinting! Kau tidak serius kan berhubungan dengan wanita seperti itu? Heol, dia bahkan minta berangkat malam ini.” lanjut Hanbi kemudiann memutar bola matanya jengah. Ia berkacak pinggang dalam posisi duduknya. Pria yang dulunya berparas culun ini ternyata lebih brengsek saat ia dewasa.

“Aku tidak serius Bi. Tenang saja.” sahut Junmyeon yang kemudian disambut kekehan di udara oleh Hanbi.

“Tapi setelah bertemu denganmu, aku mulai tertarik.”

“Apa?”

“Sepertinya aku sudah menyukaimu, Lee Hanbi.”

.

.

.

.

TBC…

Note:

Hollaaa! Maaf, aku telat ngirim ke exoffi. Mungkin setelah ini ff ini bakalan aku tarik untuk direvisi. Karena seiring berjalannya waktu kayaknya dr ide awal kurang sesuai untuk alurnya sampai disini. Walaupun summarynya tetep masih paten.

Dan kemungkinan besar aku gk akan publish lagi di wordpress. Ijin kak admin, plis! Hehe.. Maap ngrepotin.

Tapi aku tetep lanjutin ceritanya via wattpad, yg punya akun boleh stalking di @elisabethbyun udah sampe track 8

Ya udah, segitu aja. Makasih untuk readers yg masih setia baca cerita ini. Walaupun banyak yg silent. PD amat / plak.

Ucapkan bye2 untuk Kokobop by el byun..

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 7)”

  1. min min min di next again dong …. penasaran gmn reaksi x hanbi dri kata* x junmyeon sma gmn reaksi x lay sma tao… ah,, aku hrp lay bnr p.u di ff ini

    Pada tanggal 07/12/17, EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s