[EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 7)

Unforgettable Family (Chapter 7)

Author: el byun

family, married life, drama, romance, with a little bit comedy

in chaptered

rate: pg-17

main role:

Byun Baekhyun (EXO), Song Hyohwa (OC)

summary:

“Menikahlah denganku! Aku ingin kau hidup bersamaku, tertawa bersamaku dan menangis bersamaku. Kita bangun keluarga kita sendiri. Hanya aku, kau dan anak kita.”

Desclaimer:

This story is my real imagination from my fiction “when i must be married”. Say no to plagiarism!

Fanfic ini juga di post di akun wattpad saya @elisabethbyun bersama karya saya yang lain.

~~~

[They are Adorable Child (?) ]

~~~

Tidak ada pekerjaan yang lebih indah dari seorang ibu yang sedang bermain dengan anaknya. Contoh saja Hyohwa, ibu muda ini bahkan sampai lupa waktu telah bermain dengan Baekshin putranya hingga siang hari. Selain mengganti popok dan memberikan asi, Hyohwa juga telah menyediakan mainan kecil untuk ia genggam walaupun sebenarnya putranya belum cukup kuat untuk menggenggamnya. Di umur yang belum genap 1 tahun 2 bulan menurut usia orang Korea ini, putranya masih bersikukuh untuk menggenggam jemarinya, jarak pandangnya untuk melihat masih cukup dekat hingga Hyohwa tidak tega untuk meninggalkannya lama-lama. Berada di dekatnya, lebih tepatnya ia berbaring miring di sampingnya sambil memperhatikan gerak-gerik kecil yang ia lakukan sepanjang waktu. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali Baekhyun berkunjung ke kamarnya. Hyohwa mengernyit sesaat untuk memeriksa jam dinding di kamarnya.

“10.33 ? Kenapa Eommoni tidak memanggilku untuk membantunya menyiapkan makan siang?” gumam Hyohwa. Wanita itu kembali menengok bayinya yang mulai mengusap wajahnya sembari menguap. Ia tahu, Baekshin-nya tengah mengantuk karena lelah bermain. Ia menrik sebuah bantal untuk kepalanya bersandar. Tangannya yang bebas mulai menepuk-nepuk pelan pantat mungil bayinya sambil sesekali mengusap keningnya agar bayinya segera tertidur.

“Eomma harus membantu Halmeonni-mu. Jadi kau akan sendirian. Eotteokhae?” Hyohwa memanyunkan bibirnya kesal saat ingin meninggalkan bayinya yang tertidur. Jujur, ia ingin sepanjang waktu berada di dekatnya tanpa melakukan hal lain. Tapi apa boleh buat, hidupnya tergantung dalam keluarga Byun sekarang. Walaupun ia belum sepenuhnya menjadi putri menantu keluarga ini. Apalagi ia sedang berusaha untuk merebut hati Tn Byun, ayahnya Baekhyun.

“Oke, kalau begitu Eomma akan menemuimu setiap 10 menit. Ah tidak, 5 menit. Jika ada sesuatu, menangislah! Oke!” ujar Hyohwa bermonolog walaupun ia tahu anaknya belum mengerti apapun yang ia katakan.

“Annyeong!” suara panggilan Baekhyun dari muka pintu membuat Hyohwa kelabakan.

“Sssttt… Baekshin tidur, kau tidak lihat hah?” teriak Hyohwa dalam bisik sembari menunjuk-nunjuk bayinya di depan pria berisik itu.

“Ah, geurae!” sahut Baekhyun saat mendekat. Pria berwajah imut itu mengamati bayinya yang tengah tertidur pulas di sana. Entah kenapa setiap hembusan nafas yang bayinya lakukan membuat darah Baekhyun berdesir tidak karuan. Rasanya kupu-kupu dalam perutnya berorkestra tanpa henti tanpa ia sadari.

“Oppa!” panggil Hyohwa sehalus mungkin. Ia seperti mendapat pencerahan saat Baekhyun datang. Pria ini datang di saat yang tepat menurutnya.

“Wae?” sahut Baekhyun tanpa menoleh. Ia sibuk mendudukkan dirinya di atas ranjang agar tidak mengganggu bayinya tertidur.

“Karena kau datang, mau kan Oppa bergantian untuk menjaganya? Hmm?” rayu Hyohwa beraegyeo. Kelopak matanya bahkan sampai berkedip-kedip manja saat Baekhyun menatapnya.

“Wae?” tanya Baekhyun kemudian. Ia sedikit heran saat Hyohwa tiba-tiba memintanya untuk menjaga putranya sendirian.

“Aku ingin membantu Eommoni menyiapkan makan siang. Aku tidak enak kalau tidak sesekali membantu. Ne?” ucap Hyohwa sembari menggelayuti lengan Baekhyun manja.

“Tapi aku..” Baekhyun menggantungkan kalimatnya karena ragu.

“Kau mau, oke! Gomawo.” sahut Hyohwa memutuskan. Sebenarnya ia tahu Baekhyun akan menolaknya karena menjaga bayi yang masih butuh perhatian khusus itu lebih sulit ketimbang menjaga bayi yang sudah mulai berjalan dan bermain sendiri. Apalagi bayi mereka lahir di usia prematur yang harus lebih ekstra penjagaannya.

Anggap saja Baekhyun menjawab ‘iya’. Pria itu sedari tadi juga diam saat Hyohwa mengiyakan sendiri permintaannya. Sedikitnya ia sudah menelan ludahnya hingga 3 x saat Hyohwa mulai beranjak dari tempat tidur dan meninggalkannya bersama bayi yang masih tertidur pulas. Ia hanya memandangi Hyohwa mengambil beberapa potong baju dan perlengkapan bayi lainnya untuk di letakkan di ranjang dekat jangkauan Baekhyun.

“Periksa popoknya setiap 15 menit. Jika basah berarti kau harus menggantinya. Ini ada tisu basah dan handuk kering. Aku juga sudah mempersiapkan botol asi jika Baekshin tiba-tiba bangun dan lapar. Kau tahu kan?” mendengar penjelasan penuh semangat Hyohwa, Baekhyun hanya mengangguk. Padahal sebenarnya ia cukup sulit menerima semua tugas yang tidak biasa ia lakukan. Bahkan saat di rumah sakit ia hanya diijinkan untuk menemaninya. Menyentuh sedikit saja, ia dilarang. Sekarang keadaanya berbeda. Ia bebas menyentuh bayinya sendiri yah walaupun ia juga harus berhati-hati saat ingin menggendongnya. Kalian tahu, Baekhyun cukup takut untuk mencoba menggendong Baekshin untuk pertama kali. Tubuh bayinya terasa sangat ringan, sehingga ia memeganginya dengan tangan gemetaran.

“Oppa? Kau melamun?” suara Hyohwa barusan membuyarkan pikiran Baekhyun yang sempat berputar-putar di kepalanya. Ia menggeleng lemah.

“Kalau begitu aku turun dulu. Bye, Baekshin-ah!”

Cup!

Hyohwa mengecup singkat kening putranya yang begitu lembut. Baekhyun menarik tangan Hyohwa saat wanita itu akan beranjak pergi. Ia menepuk-nepuk bibirnya sendiri memberikan tanda.

“Kau tidak ingin menciumku?” tanya Baekhyun yang masih memanyunkan bibirnya.

Permintaan Baekhyun barusan membuat Hyohwa harus celingukkan melihat sisi luar pintu kamarnya. Ia mendesah kesal saat menatap Baekhyun yang dengan mesumnya masih meminta cium padanya. Ia tahu larangan sentuhan intim yang dibuat Ny Byun pada mereka. Tapi apa boleh buat jika salah satu dari mereka bahkan saat keduanya memiliki hasrat yang sama yang ingin dipenuhi. Hyohwa pun tidak mengelak jika ia juga menginginkannya.

“Aish!” umpat Hyohwa kesal. Ia kembali celingkukkan dan mengambil posisi lalu mengecup bibir Baekhyun singkat.

“Sudah?” protes Baekhyun.

“Aku tidak jamin kau akan berhenti jika aku memberikannya lagi.” elak Hyohwa kemudian dengan cepat meninggalkan Baekhyun terpaku dalam posisinya.

“Ah, jinja!” umpat Baekhyun pasrah. Ia kembali menatap wajah polos bayinya yang begitu menggemaskan saat tidur. Pipinya bulat lembut dan kenyal saat ia menyentuhnya.

Tik.. Tok.. Tik.. Tok…

Suara jarum jam yang menggema di setiap sudut ruangannya membuat Baekhyun menguap tanpa henti. Matanya mulai sayu saat bosan memandangi Baekshin yang damai dalam mimpinya. Entah mimpi apa yang manusia kecil itu impikan hingga sentuhan Baekhyun pada pipinya tidak ia rasakan. Melihat jam dindingnya Baekhyun bergegas menyibak selimut Baekshin dan meremas popoknya lembut. Ia mengusap dadanya lega saat mengetahui popoknya tidak basah.

“Hiks.. Hiks…” tiba-tiba Baekshin merengek dan menggeliat pelan dari posisi berbaringnya. Baekhyun yang merebahkan diri di sampingnya kini terduduk untuk sekedar menepuk bokong bayi itu agar tertidur kembali. Namun sayangnya Baekshin justru membuka bola matanya melihat sosok ayahnya yang berada di depannya. Bayi itu enggan tertidur kembali mengenali wajah Baekhyun. Iris hitam pekatnya tak bergerak dan tak berkedip yang membuat seulas senyuman tergaris di bibir Baekhyun.

“Oh, kau mau minum asi?” ujar Baekhyun sembari mengambil botol di samping bantalnya. Ia sudah menempekan ujungnya di bibir putranya namun tidak ia sambut. Justru Baekhyun kaget saat bayinya mengusap-usap wajahnya dengan tangan mungilnya yang bersarung warna putih itu.

“Andwaeyo! Jangan lakukan itu? Apa wajahmu terasa gatal?” ujar Baekhyun sembari mengusap pipi bayi itu. Namun sesaat sentuhannya berakhir bayinya mengerutkan keningnya bersamaan dengan bibirnya yang ikut membuat bentuk ‘O’ kecil di sana.

“Aish, jinja! Akhirnya kau membasahi selimut dan tempat tidurmu, jagoan!” umpat Baekhyun seolah-olah marah padanya namun kemudian ia tersenyum.

Berkali-kali ia mencoba untuk membuka popok bayinya yang ia anggap begitu sulit saat ini. Bukan tentang cara membukanya, Baekhyun tahu itu. Tapi ia terlalu takut untuk tidak melukai bayi mungilnya. Ia terlalu menyayanginya sampai-sampai tidak tega melepas popoknya yang penuh dengan air kencingnya. Oke, Baekhyun harus menghidup nafasnya dalam-dalam untuk memantapkan hatinya. Ia ingat tugasnya menggantikan popok Baekshin jika basah. Kalau bukan karena ia ayahnya, Baekhyun akan memanggil seorang pengasuh untuk membantunya.

“Baiklah, kita mulai sekarang ya! Cha, na deul set..” ujar Baekhyun sambil meregangkan jemari tangannya agar tidak kaku. Jemari panjangnya telah berhasil merobek sisi kiri kanan popoknya dengan selamat. Baekhyun bahkan melakukan nafas panjang lagi untuk bersiap mengambil popok itu dari tuannya.

“Mwo?” Baekhyun membulatkan matanya sendiri kaget saat melihat sebuah benda mungil di tengah selangkangan bayinya. Batinnya ia ingin tertawa geli, namun ia justru seperti melihat bayangan dirinya. Yah mungkin saat ia bayi dulu juga seperti itu ukurannya. Yah, kalian tahu sendiri kan?

“Woah, Baekshin-ah! Kau ternyata sudah punya alat pencerah masa depan. Daebak!” ucap Baekhyun sambil mengacungkan kedua ibu jarinya bangga. Sekali lagi, haruskan Baekhyun mengatakan hal se-ambigu itu di depan putranya sendiri? Kini tangannya mengusap area kemaluan bayinya dengan selembar tisu basah yang telah di sediakan Hyohwa di sana. Lembut dan seperti sebuah jeli di sana. Ah, mungkin saja jika Hyohwa tahu ia pasti mengomel karena Baekhyun telah merangsang birahi seorang bayi yang masih polos.

“Cha, sudah selesai. Sekarang anak Appa sangat bersih sekarang. Kau mau bermain? Hmm..”

“Hmm, bagaimana kalau batu gunting kertas! Geurae… ” ujar Baekhyun kegirangan. Ia bahkan telah membuka sarung tangan putranya agar jemarinya dapat terlihat.

“Kawi, bawi, bo!” dan Baekhyun mengeluarkan kepalan tangannya yang berarti batu.

“Kita seri, jadi 1:1. Oke! Sekali lagi. Kawi, bawi, bo!” kali ini Baekhyun membentangkan telapak tangannya yang berarti Kertas.

“Kau kalah Baekshin-ah. Skor Appa, 2:1. Haha..” ujar Baekhyun tertawa lebar. Ia tahu yang kalah akan mendapat sentilan di dahinya. Baekhyun mulai menjimpitkan kari telunjuk dan jari tengahnya untuk bersiap-siap di depan kening putranya. Dan…

“Muach… Muach.. Muach…” sebuah kecupan gemas ia sematkan berkali-kali di pipi bulat bayi itu. Baekhyun tak henti-hentinya untuk tersenyum. Rasanya tiada hari yang akan datang seperti ini, pikirnya. Menerima perlakuan Baekhyun, bayinya mulai merengek hampir menangis. Sepertinya kecupannya tadi begitu keras hingga mengganggu kenyamanan bayinya. Oh, maafkan Ayahmu Baekshin-ah. Dia hanya terlalu sayang padamu.

“Minumlah, kau pasti haus dan lapar kan?” ucap Baekhyun sambil menempelkan puting botolnya di bibir Baekshin dan bayi itu langsung melahapnya. Bibirnya bergerak-gerak sambil membuat bentuk lucu sama seperti Baekhyun jika… Ah, jangan pikirkan itu sekarang. Hanya pikiran mesum Baekhyun lah yang tahu.

“Karena skornya masih 2:1 bagaimana kalau sekali lagi. Aku janji kau akan menang Baekshin-ah.”

“Kawi, bawi, bo!” dan akhirnya Baekhyun mengeluarkan gunting sehingga membuat dirinya kalah. Bagaimana tidak, baginya hanya bisa menggenggam dalam artian itu adalah simbol batu. Jenius sekali kau Tuan Baekhyun.

“Kau boleh menghukum Appa. Kau boleh memukulku!” Baekhyun menarik tangan putranya sendiri untuk ia pukulkan di wajahnya.

“Atau, menendangku?” sekali lagi Baekhyun menarik kaki putranya untuk memukul bagian dari tangannya. Namun justru ia merasakan sebuah sentuhan lembut merambat di jemari tangannya. Baekhyun yang menyadari sentuhan itu menolehkan pandangan menyusuri tubuh mungil bayi itu hingga sebuah kaitan di salah satu jemari tangannya. Baekhyun tersentak saat eratan tangan itu mencengkeram kuat jarinya. Jantungnya seakan seakan merosot ke bawah dan kupu-kupu yang mulai terdiam tadi kini berterbangan kembali. Ia seperti tengah jatuh cinta untuk yang pertama kali pada seseorang selain Hyohwa. Jantungnya berdegub begitu kencang saat kedua manik mata hitam bulat itu bertemu dengan kedua matanya. Bayinya seolah memiliki smile eyes seperti para penggemar menjulukinya.

“Aku mencintaimu, Baekhin-ah! Aku sungguh menyayangimu.” ungkap Baekhyun kemudian mengecup puncak kepala Baekshin sayang.

TBC…

Note:

Hallo, maaf ya telat kirim saya… Seharusnya minggu lalu, krn weekend ada banyak acara jd gk sempet.

Semoga kalian masih suka ya sama cerita ini. Karena semakin ke sini ceritanya malah jadi santai dan pendek.. Huhuhu

Please, jangan lupa tinggalkan jejak yah!

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 7)”

  1. Duh gk tau knapa baca chapter ini sepanjang cerita senyum senyum sendiri 😁😁 adem bngt pokoknya denger interaksi antara ayah dan anak, jadi ngebayangin baekhyun nnti klo jadi ayah bneran gimana ya? 😆😆😆 keren author 👍👍👍 ditunggu next nya ya 👏👏🙋🙋

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s