[KRIS BIRTHDAY PROJECT] Secret of The Universe – ARK

39

Kris Wu & Kayra Park [OC] ● Romance, Crime, Angst ● PG-15

.

Rooftop gedung apartemen Kayra Park adalah landasan dimana dua pasang kaki manusia itu berpijak. Seiring derak jarum jam yang beringsut bersama aorta yang terus berdetak, meninggalkan detik-detik sebelumnya menjadi suatu masa yang mungkin akan mereka sesali. Mereka memiliki kesempatan, namun menjatuhkan diri pada tiada opsi yang dipilih. Tidak satupun pilihan yang ada terdengar benar untuk dilakukan. Baik untuk gadis Korea-Kanada seperti Kayra ataupun lelaki di hadapannya yang memiliki kondisi nyaris serupa, Kris Wu namanya.

“Kita masih bisa berhenti, Kris.” Kayra membuka konversasi, setelah sekian lama membiarkan hening mendominasi suasana. Kris terdongak, fokusnya tidak lagi tertuju pada ujung sepatu hitamnya, melainkan pada sepasang kornea milik gadisnya yang meminjam warna samudra—biru gelap yang menenangkan.

 

“Kau yang memiliki kesempatan, Kay. Sementara aku tidak,” Kris menjawab. Kayra dapat mendengar desau napas berat yang dilepaskan lelaki itu. Kepulan karbondioksida menguar sementara paru-paru mereka meregulasi udara. Musim dingin di Seoul tak ubahnya menjadikan ibukota negara itu laiknya lemari pendingin raksasa. Temperatur suhu terakhir yang sempat diketahui Kayra menunjuk angka dua puluh derajat—sangat cukup untuk membuat tubuh mereka bekerja keras melawan gigil dan gemetar kedinginan.

 

Mereka bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam sebuah ruangan, berbagi selimut hangat dan menyeruput coklat panas, tapi tidak untuk saat ini. Ketika sekon demi sekon yang berjalan seakan siap memisahkan mereka kapan saja, dalam keadaan apa saja, sementara mereka tak pernah siap untuk kehilangan satu sama lainnya.

 

“I can’t stop.”

 

Kayra menoleh, menumpukan atensinya pada sosok tegas di hadapannya. Seseorang yang kini menunduk dan melirihkan kalimat itu berulang-ulang. Sepasang kelopak matanya tertutup, sementara kepalanya mulai menggeleng perlahan. Kayra tahu, ia tengah berjuang melawan instruksi dari pikirannya sendiri—atau dari hatinya, Kayra tak pernah berani menduga.

Kris adalah definisi abstrak yang paling jelas menurut Kayra. Kris Wu adalah manusia yang tidak pernah bisa ditebak, meski Kayra telah membersamainya selama lebih dari tiga tahun. Lantaran Kris memiliki kawasan dalam dirinya yang tak boleh diusik oleh siapapun, termasuk oleh Kayra—gadis yang ia klaim sebagai kekasihnya.

 

“Kris, kumohon..”

 

Kayra mulai menangis.

 

Semesta tak pernah memperkenankan mereka untuk bersama. Kenyataan itulah yang selama ini berusaha mereka abaikan, sesuatu yang selalu mereka anggap sebagai kesalahan Tuhan dalam menulis takdir. Lika-liku romansa mereka dibungkus oleh selaput tebal bernama rahasia. Mereka telah berjalan terpincang-pincang, berulangkali harus berkelit untuk mencari celah—mencari tempat berpijak—sebab kisah mereka adalah apa yang disebut manusia lainnya sebagai hal yang paling hina.

 

Tidak seharusnya Kris mencintai Kayra, begitu pula sebaliknya.

 

“Maaf, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi setelah ini.” Telunjuk kanan milik Kris perlahan menyusuri aliran basah di pipi Kayra dan menghapusnya. “Jaga dirimu baik-baik, Kayra Park.”

 

Setelahnya Kris berbalik dan melangkah pergi. Sengaja ia tulikan telinga, bertingkah seakan-akan ia tak mendengar Kayra terisak. Jangkahan kakinya berderap mantap, sekuat tekadnya yang telah bulat. Ia tak bisa dihentikan oleh siapapun, bahkan oleh Kayra sekalipun. Ini hidupnya, ini hatinya. Hanya ia yang boleh memberi perintah untuk dirinya sendiri. Namun pada kenyataannya, sekuat apapun Kris menggenggam pendiriannya, suara tangisan Kayra yang mulai terdengar jauh mampu memicu kehadiran lapisan kaca pada kelopak matanya.

Karena tak peduli seberapa hebatnya manusia, semesta selalu memiliki cara untuk membuatnya meneteskan air mata.

 

※※※

 

Kaki-kaki panjang milik Kris dengan tangkas berderap. Tubuhnya lincah menghindari letupan amunisi yang dimuntahkan pelatuk para polisi. Bibirnya tak henti menyumpah, beberapa kali merutuki kebodohan anak buahnya yang tak becus bekerja—hingga mereka harus berada dalam kepungan aparat. Sialan, benar-benar sialan. Lain kali ingatkan dia untuk tidak menerjunkan orang-orang bodoh dalam misi sebesar ini.

 

Obat-obatan terlarang seberat 50 gram di saku celananya dan puluhan kilogram lainnya yang ada di gudang tua ini harus segera dipindah tempatkan.

 

“BERHENTI, KRIS! KAU TELAH DIKEPUNG!”

 

Refleks, Kris menoleh. Ia sempat melirik sekilas name-tag yang dikenakan polisi jangkung di hadapannya ini—Oh Sehun. Dengan mengacungkan pistol berjenis MAG4 ke arah Kris, Sehun bergerak ke depan perlahan-lahan, mencoba mempersempit pergerakan Kris untuk melarikan diri. Namun, Kris tidak menyerah semudah itu. Ia segera menyusun strategi. Tanpa banyak bicara, ia meraih pisau lipat dari saku celana, satu-satunya senjata yang ia miliki saat ini. Ia bodoh, ia tahu itu.

 

Ketika Sehun mulai merangsek maju, Kris segera melayangkan tendangan dengan kaki panjangnya ke arah tangan Sehun hingga pistol itu terlempar. Sehun tidak tinggal diam, ia segera membalas Kris melalui sebuah tendangan memutar yang mengenai tengkuk Kris dengan telak. Pisau lipatnya terpental jatuh. Kris ambruk sesaat, namun segera menguasai diri. Melihat Sehun telah menghubungi rekan-rekannya tak urung membuat Kris semakin terdesak. Ia berniat untuk melarikan diri ke sisi kanan, namun seorang polisi telah menghalangi jalannya.

 

“Waktunya untuk menyerah, Kris,” lirih polisi itu penuh penekanan.

 

Kris mendecih, “Tidak akan semudah itu!”

 

Lantas Kris menyerang polisi dengan name-tag Kim Jongin itu tanpa tedeng aling-aling. Ia segera meraih pisau lipatnya saat memiliki kesempatan dan menggunakan benda itu untuk menggoreskan sayatan panjang di lengan kiri Jongin. Keduanya terlibat adu fisik yang hebat, namun Kris tampak lebih dominan. Lelaki itu bahkan mampu mendorong Jongin hingga tubuhnya menempel dinding dengan tangan terpelintir, ia bahkan hampir saja berhasil mematahkan tangan kiri Jongin sebelum—

 

DOR!!

 

—tiba-tiba saja, sebulir timah panas menghujam punggung kirinya. Tembakan itu dilakukan cepat, di luar perkiraan Kris. Ia tidak tahu jika Sehun akan bangkit secepat itu. Segera saja cairan amis berwarna merah pekat membanjiri kaos putih yang Kris kenakan.

 

“Jangan bunuh dia! Kita masih membutuhkan informasi darinya di pengadilan!” teriak salah seorang polisi lain saat Sehun akan menarik pelatuknya sekali lagi.

 

Kris sepenuhnya ambruk. Ia jatuh tersungkur dengan punggung berlubang. Ia dapat merasakan denyut jantungnya yang semakin melemah, pandangannya yang mulai mengabur, serta rasa panas yang menjalari seluruh tubuhnya. Lalu entah bagaimana, ia bisa melihat senyuman Kayra melalui matanya yang setengah tertutup, yang sedetik kemudian berganti dengan suara isakan gadis itu memenuhi rongga kepalanya.

 

Kayra, gadis yang amat dicintainya. Gadis yang tak pernah menyerah atas dirinya, tak sepeduli sebrengsek apapun perbuatan yang telah Kris lakukan. Bagi Kris Wu, jatuh cinta pada Kayra Park adalah kesalahannya yang paling benar. Tak peduli meski semesta mengutuk perasaan mereka, ia akan tetap mencintai Kayra. Maka ketika embusan napasnya semakin berjarak, Kris membisikkan kalimat terakhirnya sebelum kesadarannya hilang.

 

“Sampai bertemu di pengadilan, Jaksa Kayra Park.”

 

—Selesai.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s