[EXOFFI FREELANCE] Cruel (BAB 2: Rusa Pemikat Hati)

417adf5b984f17684507c68542de79d1.jpg

CRUEL

BAB 2: Rusa Pemikat Hati

Written by: Audrey_co

Genre: Melodrama-Romantic

Length: Chapter

Rate: Teen

Starring by: Xi Luhan X Shin Yeeun

Summary: Sebuah misteri tentang Iblis bernama Fogoh begitu menggemparkan masyarakat Korea Selatan, khususnya di distrik Gwangju. Para anak-anak yang mengalami kejadian buruk dalam hidupnya memilih untuk menjadi Iblis di tangan seorang penyihir tua. Namun berbeda dengan Luhan, ia harus menjadi Fogoh karena alasan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun ia larut dalam kesedihan karena menjadi Iblis, tiba-tiba tuannya membawa pulang seorang gadis muda bernama Byun Sungrin. Gadis itu benar-benar membawa perubahan bagi hidup Luhan. Tapi, apakah manusia dan Iblis bisa bersatu? Apa bisa perasaan cinta ada di antara dua makhluk berbeda in?

Disclaimer: Seluruh cast milik Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya meminjam nama mereka. Isi cerita murni hasil pemikiran saya. Seluruh adegan dalam cerita hanya fiksi belaka demi hiburan semata. NO PLAGIAT dan silahkan komentar jika menurut kalian cerita ini perlu dikomentari.

※Cruel※

Aku masih tak bergeming dari keterkejutanku. Semua yang melihat makhluk ini pastilah juga melakukan hal yang sama denganku—terkejut dengan bibir yang menganga juga mata membulat bak burung hantu. Makhluk yang mereka gadang-gadang adalah mitos, kini berada di depan mataku. Kapan mereka berubah jadi wujud manusia? Harusnya aku melihat itu.

“Bukumu,” ujar si anak yang berkulit putih sembari menyerahkan diaryku. Ragaku kembali sekejap saat ia berujar dengan suara lembutnya. Wajahnya tampan dengan pipi yang bersemu merah juga bibir mungilnya yang sengaja dikulum membuatku terlena akan pesonanya. Ia tampan.

“Tadi terjatuh saat kau berbalik menatap kami.” Sambungnya yang mengira sebuah kesalahpahaman telah terjadi karena kediamanku.

Anak di sebelahnya tertawa pelan. Ia memiliki aura yang berbeda dengan pria putih itu. Dia terlihat lebih maskulin, kulit hitam yang jarang dimiliki orang-orang seperti kami, bibir tebalnya juga mata binarnya yang menyipit karena seulas senyum jenaka terhias di wajahnya.

“Apa kami sangat mengerikkan sampai kau tercengang seperti itu?” tanyanya masih dengan ekspresi yang sama. Kepalaku menggeleng cepat.

“Tidak,l!” bantahku. “Kalian tidak mengerikan. Malah, kalian sangat bersinar.” Gumamku kagum. Terdengar suara tawa pria dewasa yang berada di sampingku. Aku hanya tersenyum malu entah karena apa.

“Hahaha. Kau ini ada-ada saja, Nak. Ayo, masuk! Kau juga harus melihat yang lainnya,” ajak pria itu padaku. Sebuah anggukan samar ku tunjukkan. Kami berempat segera pergi ke tempat yang pria itu maksud.

※Cruel※

Appa~~

Kami baru saja masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti hutan mini. Seluruh anak-anak yang tengah bermain di sana segera memekik manja menyerukan panggilan pria ini. Aku yang sangat asing dengan suasana ini mendadak merasa canggung. Masuk ke dalam keramaian bukanlah gayaku yang Introvert ini. Irisku memperhatikan pria itu yang tengah memeluk seorang anak yang terlihat sangat-sangat cantik. Lebih cantik dari Hyerin si primadona sekolah-aku akui itu.

“Hohoho, Mia. Kau sangat merindukan Appa?” Pria itu mengacak surai coklat anak yang bernama Mia itu sesaat setelah ia mengangguk cepat.

Eung! Bukan hanya aku, tapi yang lainnya juga!” seru Mia yang bisa ku rasakan aura semangatnya, hingga rasanya hal itu menular padaku.

Appa, siapa mereka bertiga? Apa mereka sama seperti kita?” tanya anak laki-laki dengan wajah yang cukup membuatku gemas. Rambut hitam ikalnya terlihat manis juga wajah lugu itu membuatku ingin memeluknya karena ia terlalu imut. Aku yakin dia seumuran denganku, tapi kenapa wajahnya seperti menipu?

“Dua anak laki-laki ini adalah Fogoh, Junmyeon dan Jongin. Lalu, anak gadis ini adalah anak manusia.”

“Ha?!”

Semuanya seketika menatapku dengan tatapan aneh. Hah… dua kali sudah aku ditatap seperti ini. Semuanya seketika berkumpul di hadapanku, menatapku lamat-lamat dari kepala hingga ujung kaki. Aku risih, namun bagaimana lagi? Jadilah kepalaku yang tertunduk dalam, memikirkan sesuatu yang tidak berguna seperti; sepatu pria berwajah bule itu sangat keren atau rambut merah gadis tinggi itu sangat memukau.

“Perkenalkan dirimu, Nak.” Titah pria itu dengan ramah. Aku menggenggam erat buku harianku yang setengah basah. Daripada memikirkannya, aku paling takut untuk memperkenalkan diri di depan orang banyak. Introvert terlalu mengukung diriku dari hubungan sosial.

“Em… Aku… Byun Sungrin. A-Aku berasal dari tempat yang jauh dari sini.” Perkenalan yang sedikit aneh menurutku. Rasa gugupku semakin menjadi tat kala dua anak laki-laki yang berada di belakangku kini menggandeng tanganku tiba-tiba.

“Dia anak baik, saudaraku! Dia menolong Appa tadi saat ia kesusahan membawa barang-barang.” Anak yang bernama Jongin mencoba meyakinkan yang lainnya. Aku menunduk, sungguh malu rasanya digandeng oleh lawan jenis seperti ini. Apa lagi keduanya tampan dan memikat hati. Eh? Pikir apa aku ini?

“Itu artinya… dia menyerahkan diri?” tebak Mia. Aku spontan mendongakkan kepala, menyerahkan diri? Apa maksudnya, aku bersedia untuk menjadi Fogoh? Mataku menyipit bingung.

“Entahlah, Appa tidak tahu.” Jawab pria itu sembari melirikku. Pandanganku turun ke bawah, tentulah aku tidak mau. Meski berat dengan kehidupanku, setidaknya aku sangat bersyukur menjadi manusia.

Appa, kami ingin berkenalan dengan yang lainnya,” ujar Junmyeon memecah suasana kaku yang terjadi. Pria itu kemudian berdiri dan meninggalkan kami tanpa kata-kata. Memilih tak peduli, aku hanya menghela nafas berat.

Jongin menepuk tangannya sekali, “Ayo, Sungrin! Karena kita bertiga masih baru, bagaimana kalau kita berkenalan dengan yang lainnya?” aku hanya mengangguk saja mendengar usulan Jongin. Junmyeon kini memberi kode pada Mia untuk segera mengumpulkan para Fogoh yang sejatinya adalah anak-anak semua.

Cha~~ kenalkan mereka semua pada kami, Mia.” Pinta Jongin. Mia mengangguk dan menyuruh semua saudaranya berjejer rapi.

“Rambut pirang itu namanya Kris, si ular. Lalu, rambut hitam itu namanya Baekhyun, dia itu adalah tupai… blablabla,” Mia masih terus menjelaskan. Hingga tiba lah anak terakhir yang jujur sangat menarik perhatianku. Anak laki-laki yang paling pendiam juga terlihat kalem. Wajahnya imut disertai bibir tipis yang tergaris datar, aku menyukainya.

“Yang terakhir itu adalah Luhan. Dia adalah rusa.” Perkataan Mia melemah di akhir kalimat. Aku menautkan alis-lagi. Tadi dia terlihat sangat bersemangat. Kenapa sekarang dia jadi lesu seperti itu?

“Baiklah! Aku akan mencari pasanganku!” seru Jongin yang mulai mendekati para gadis satu persatu termasuk Mia. Junmyeon juga melakukan hal yang sama. Aku yang bingung hanya bisa mengamati dan berspekulasi ria. Pasangan? Apa maksudnya pacar? Heol, meski mereka Fogoh mereka tak jauh beda dari anak seumuranku yang sudah mengerti tentang cinta dan sebangsanya.

Sejenak aku hampir melupakan pria manis di ujung sana. Jiwaku seakan terpaku pada sosok Luhan. Ia cukup pendiam juga terlihat sendu. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku, rambut coklatnya yang entah mengapa begitu menarik, juga matanya yang memanglah seperti mata rusa, semua hal kecil itu sungguh menarik bagiku. Ia yang kini juga menatapku membuatku mendadak membeku. Tatapannya membuat sekujur tubuhku yang tadinya dingin menjadi hangat. Apa ini? apa ini yang biasa disebutkan orang-orang dengan ‘darahku berdesir’? Kenapa ini sangat menyenangkan?

Entah dorongan dari mana, aku mendekatinya tanpa keraguan. Senyumku merekah saat ia tak bereaksi apapun. Hingga detik kemudian aku merasakan sebuah tangan yang kini menggenggam erat jemariku, begitu posesif namun aku meyukainya.

“Kau memilihku, bukan?” akhirnya aku bisa mendengar suaranya. Tapi, apa maksud perkataannya?

“Me-Memilih? Oh! Tentu saja.” Aku terkekeh pelan-canggung. Meski aku tak mengerti apa maksudnya, aku memilih untuk berbohong dan mengikuti alurnya.

Kau cari masalah, Sungrin!

Tiba-tiba semua menoleh, menatap kami yang terlihat canggung. “Sungrin memilih Luhan? Wahh mate yang cocok!” pekik Baekhyun-aku ingat betul suaranya yang manly itu. Aku sungguh tak mengerti, tapi kepalaku mengangguk tanpa seizinku.

Aku menoleh saat Luhan semakin mengeratkan genggamannya, ia tersenyum.

“Kita adalah mate mulai sekarang.” Ia semakin melebarkan senyumannya, membuat jantungku berdebar semakin gila setiap detiknya. Mate? Maksudnya apa? Bahkan seluruh persepsi yang berputar di otakku tak bisa kupikirkan lagi. Ini sangat membingungkan untukku-si gadis sekolah menengah pertama tingkat akhir.

※Cruel※

Hari demi hari ku jalani di rumah pria yang ku temui di halte bus. Yah, sudah tiga hari ini aku berada di sana. Aku seketika lupa akan kehidupanku di kota Gwangju, aku tak memikirkan keluarga juga sekolahku. Bagiku, hal yang ingin ku jalani sekarang adalah bercengkrama dengan para Fogoh.

Menarik.

Selama ini aku terus mencari tahu tentang mereka. Beberapa fakta yang ku ketahui adalah asal-usul mereka. Ada yang terlahir menjadi Fogoh, ada juga yang tidak. Mereka yang tidak terlahir menjadi Fogoh adalah anak-anak yang memilih untuk menjadi Fogoh karena kehidupan mereka yang rumit. Satu hal yang masih belum jelas bagiku, cara manusia biasa berubah menjadi Fogoh masih begitu buram di kepalaku. Dari pada memikirkannya, lebih baik aku merehatkan kepalaku sejenak. Merenung sebentar kurasa tidak masalah

Di sela lamunanku, aku bersedih jika mengingat penjelasan Lucy—si ayam—tentang latar belakang penyebab mereka memilih menjadi Iblis yang membuat semua orang takut. Serumit apakah sampai mereka rela menjadi makhluk seperti ini? Saat ku tanya, mereka bungkam.

“Sungrin, kau tak menulis lagi?” itu suara Luhan yang bertanya padaku. Sejak kami menjadi mate, dia banyak berubah—kata Fogoh lainnya.

Senyumanku terulas samar, “Aku sedang tidak ingin.”

“Apa isi buku itu? Kau biasanya menulis dengan sangat serius, hingga melupakan mate-mu ini.” Sungut Luhan di akhir kalimat. Aku hanya terkekeh pelan lalu menyuruhnya untuk duduk di sampingku. Semilir angin di hutan buatan ini sungguh tak jauh beda dengan hutan yang ada di luar sana. Suara anak-anak yang sedang bersenda gurau membuatku nyaman, ditambah Luhan yang kini ikut menikmati keheningan bersamaku.

“Luhan, dimana Ahjussi?” pertanyaan yang baru saja terbesit di otakku-juga sedikit mengalihkan topik. Pria dewasa itu lekas pergi setelah hari di mana ia membawaku ke rumahnya dan memberi minuman hangat.

Sedikit bercerita. Saat itu hujan sudah reda. Namun, aku yang merasa tak enak pada Luhan memilih untuk bermalam sehari di sini. Setelah aku pikir kembali, tidak ada salahnya jika aku menetap sementara di sini. Toh, mereka semua juga tidak berbahaya-untuk sementara-dan aku juga malas untuk pulang ke rumah. Jadi, aku memilih untuk tinggal. Pakaian? Aku bisa bernapas lega karena Lucy dan Mia mau meminjamkan pakaiannya padaku.

“Dia selalu begitu, menghilang dan kembali membawa saudara baru.” Luhan menghela nafas, salah satu hal yang selalu ia lakukan akhir-akhir ini.

“Sungrin,” Panggilnya padaku. Aku yang tadinya asik menatap Chen yang sedang bermain bersama Seol kini menoleh ke arahnya. Bola mata hitam yang sangat aku sukai itu terlihat kelam. “Aku suka hujan.” Ia berucap lirih.

“Lalu?” Tanyaku yang sungguh tak mengerti maksud perkataannya.

“Bantu aku, Sung. Setidaknya aku ingin terguyur di bawah rintik hujan sekali lagi.” Ia menggenggam tanganku, mencoba meyakinkanku untuk membantunya.

“Tapi Luhan, bukankah Mia bilang kalian tidak boleh keluar dari sini?” Ujarku mengingatkan, sekadar menyuruhnya untuk berpikir kembali.

Setiap Fogoh memiliki pantangan yang berbeda-beda saat keluar dari gedung ini. Tak bisa dicontohkan, karena tak ada satu pun dari mereka yang berani melangkahkan kaki keluar gedung ini.

“Tentulah aku tahu, Sung.” Timpal Luhan seraya mengalihkan pandangannya. Ia melepas genggaman tangannya dariku.

Aku mengulum bibirku. Perasaanku benar-benar kacau. Selain karena melihat Luhan yang kecewa, satu sisi aku juga ingin menikmati hujan bersamanya. Kembali suasana hening meliputi kami. Aku dan dia tahu, sebuah hal yang sulit untuk dilakukan jika tanpa sebuah jimat atau ramuan seperti yang ada di film fantasi kesukaanku.

“Apa aku nekat saja?” Dengan cepat aku memukul lengan Luhan keras, membuatnya meringis kesakitan. Apa sebegitu inginnya dia menikmati hujan bersamaku? Dia itu lebih tua tapi pikirannya childish sekali.

“Biar kupikirkan caranya! Jangan sekali-kali kau mencoba untuk nekat!” Yah, meski aku tak tahu apa efek samping jika mereka keluar dari gedung ini, aku tetap bersi keras menentang keinginan Luhan untuk nekat pergi ke luar.

“Baiklah, aku mengerti.” Luhan mengerucutkan bibirnya, membuatku yang merasa gemas kini mencubit kedua pipinya keras tanpa memperdulikan pekikan pria itu.

“Kau sungguh menggemaskan. Terkadang, kau terlihat lebih seperti adik bagiku.” Ujarku sembari terkekeh pelan. “Haruskah aku memanggilmu ‘Rusa liar’?”

Luhan melipat kedua tangannya di depan dada. “Apa? Liar? Kau bilang aku ini imut, kenapa pakai kata ‘Liar’?” Aku hanya tertawa tanpa menjawab, tidak ada alasan bagiku untuk memanggilnya rusa liar. Aku hanya ingin saja karena menurutku julukan itu lucu untuknya.

“Kalau begitu, aku akan memanggilmu ‘Wonsungi‘!”

Aku mendelik kesal, “Wonsungi? Kau menghinaku?”

“Monyet tidaklah buruk. Lagi pula, hangul-nya ada nama tengahmu. “

Tak sanggup berkata-kata, kekesalanku tersalurkan melalui dengusan kasar dari hidungku. Tak kulirik lagi dia, sepatuku pun jadi objek pelarian atas rasa kesalku. Hanya bertahan beberapa menit saja aku mengerutkan kening, tangan Luhan tiba-tiba mengacak rambutku kasar. Kudengar dia terkeleh pelan dan terus-terusan menggumam panggilan baruku yang aneh—Wonsungi, Monyet.

“Ketahuilah satu hal, Sung. Meski aku adalah Fogoh, aku tetap tumbuh dan berkembang. Aku akan menjadi orang dewasa yang mana akan siap bersanding dengan mate-nya. Saat itulah, aku ingin berbahagia denganmu, Wonseungi-ku.” Luhan menatapku lamat-lamat, mencoba menyampaikan perasaannya melalui tatapan mata. Memang pada dasarnya aku yang tolol ini hanya mengangguk saja, menganggap perkataan Luhan tadi adalah bualan belaka.

Lagi pula, mana mungkin seorang Fogoh bisa bersanding dengan manusia biasa sepertiku?

Tidak mungkin adalah jawaban paling masuk akal bagiku.

TBC

P.s:

Cerita ini terispirasi dari mimpi Author. Nama Fogoh tercipta dengan sendirinya dari mimpi Author, mungkin karena saat itu Aut kangen pelajaran kelas 11/apaan -_-“

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Cruel (BAB 2: Rusa Pemikat Hati)”

  1. Hohoho,Thor mengapa kau tega menggambarkan my baby Kris sebagai ular…😭ceritanya bagus Thor jadi penasaran kayak Sungrin,serumit apakah kehidupan mereka sehingga mereka memilih untuk menjadi seorang Fogoh???? D tunggu chapter selanjutnya Thor…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s