[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] We Broke Up – DieJungs88

38
Chanyeol & OC (Yoojung) || Romance || G

.

.

.

Hubungan kami telah berakhir seminggu yang lalu, kandas begitu saja. Segalanya berjalan dengan begitu cepat, secepat bagaimana aku merasa lelah, walau tak secepat bagaimana aku melupakan segalanya. Teman-teman pun tak habis pikir, tiba-tiba bertengkar, tiba-tiba saling tak kenal. Aku apalagi, aku merasa bukan diriku, tapi aku juga merasa inilah diriku.

Semuanya baik-baik saja selama tiga tahun terakhir. Park Chanyeol menyatakan cinta kepadaku di hari kelulusan, lalu kuterima lelaki itu, kami berpelukan, berbagi senyuman, saling bercanda, berbagi sedih, sama-sama menangis, dan sekarang sama-sama membenci. Mungkin.

Ini bisa dikatakan sebagai akhir, tapi jika aku mau, ini bisa menjadi awal. Semuanya terasa begitu berbeda, sangat asing, dan tak kukenal, seperti aku mendatangi dunia yang lain. Sebenarnya, pada pemikiran terdalam, aku memikirkan tentang dunia yang berubah, atau diriku yang terubah? Teman-temanku masih tetap seperti sehari, seminggu, sebulan, dan setahun yang lalu. Kami masih tetap mengerjakan tugas bersama, duduk di kafe yang sama, ke toko buku yang kami langgani, dan melihat majalah berjudul Elle –yang terus kami lihat setiap minggu. Lalu, apa yang berbeda dengan aku yang sebelum-sebelumnya? Egoku terus menepis, hatiku berusaha membuta.

Hubunganku dan Chanyeol berakhir karena diriku –karena aku yang memutuskannya, tapi menurutku ini semua berawal dari Chanyeol sendiri. Dia selalu mengutamakan seluruh aspek keharusannya. Dia harus mendatangi kelas tambahannya, dia harus membantu guru pembimbingnya, dia harus mendapat nilai bagus, atau dia harus mengikuti kegiatan kampusnya. Aku hanya memiliki dua puluh persen dari minggunya –minus waktu tidur dan waktu mandinya yang sangat lama.

Puncak dari segala hal tersebut adalah saat dia mengikuti saran dari gurunya untuk menempuh pendidikan lebih lanjut ke Norwegia. Negara yang entah di mana itu, kenapa dia harus ke sana? Apa menjadi seorang reporter harus pergi ke luar negri? Kurasa melaporkan berita di Norwegia ataupun Seoul tak ada bedanya selain dalam bahasa yang digunakan dan dia paling hanya bisa berbicara bahasa Inggris.

Saat itu kami berada di kafe yang biasa kudatangi dengan teman-temanku. Kafe itu bergaya minimalis, tapi bernuansa metropolitan yang begitu kental. Beberapa musisi jalanan biasa tampil di depan pintu masuk dengan lagu-lagu akustik pilihan. Semuanya begitu tertata rapi, semua yang tidak termasuk Park Chanyeol.

Aku memintanya untuk meluangkan jadwalnya, berharap kami bisa menghabiskan waktu sebagai ganti kencan yang selalu tertunda. Mungkin duduk dengan berbincang ringan bisa mengurangi kegelisahanku. Kemudian dia datang, dengan laptopnya yang dia dijinjing dan diletakkan di hadapanku. Matanya bahkan tidak teralih sedikit pun –entah kepadaku atau kepada pelayan wanita yang melirik-lirik dirinya.

“Chanyeol, mari kita putus.”

Kalimat itu menguar begitu saja, tanpa rem, apalagi ancang-ancang. Kurasa dia benar-benar tidak menganggap hubungan kami serius. Dia bahkan masih serius berkutat dengan pekerjaannya. Jika lelaki di luaran sana memohon sambil berlutut, Chanyeol berbeda lagi. Dia sangat tak terduga, juga di luar ekspektasi. Dia seperti hanya-

“Oh, kenapa?” Sambil mengalihkan pandangannya sejenak.

-begitu saja, seperti layaknya Park Chanyeol, karena dia adalah Park Chanyeol.

“Kau begitu menyebalkan. Mau sampai kapan kita seperti ini? Memangnya, aku pacarmu atau bukan?”

Aku benar-benar tak dapat menahan rasa, walau sebisa mungkin kutekankan rasaku, masih ada rasanya kata yang agak menyakitkan.

“Tentu. Jika bukan pacar, siapa lagi?”

Dan aku menyadari bahwa dia memanglah Park Chanyeol yang sebenarnya.

“Aku tak mau tahu. Kita hanya bisa sampai di sini saja.”

Ini adalah titik di mana rasa jenuhku telah melebihi ambang batas. Rasa muak mulai tertanam, sedikit kutekan, semakin mengembang di sudut lain. Chanyeol dan aku memang sudah seharusnya berakhir. Untuk hubungan yang tiga tahun tak lebih dari sekedar berpegang tangan, hubungan kami tak cukup kuat untuk terus berdiri.

Sampai langkahku memasuki yang kedelapan, Chanyeol memanggilku, “Yoojung!”

Dia menumbuhkan rasa yang membuat bunga-bunga dalam rongga dadaku mengambang, menarik syaraf mulutku hingga sepertinya akan ikut terkembang pula. Aku tak berbalik, masih menunggu untuk kelanjutannya.

“Kenapa kita harus sampai di sini saja? Aku dapat mengantarmu sampai rumah. Hanya tunggu hingga laporanku selesai.”

Kenapa dia harus menginjak-injak bunga-bungaku yang mulai bersemi?

Ya, karena dia adalah Park Chanyeol, seseorang yang menemani tiga tahun terbodohku.

.

Kami telah putus, dan suatu pagi, ketika dia bersanding dengan seorang wanita lain, ketika mereka saling berbagi senyum, kemesraan, dan kehangatan, aku tahu aku tak dapat melakukan apapun.

Kami telah putus, tapi aku masih memikirkan bahwa kami akan kembali bersama. Bagaimana dia bersama wanita itu, aku tahu bahwa akulah yang salah.

Mawar…

Yang anggun yang cantik

Yang berharga yang dijunjung

Mawarku milikku

Dulu kami memulai hubungan dengan suatu hal yang begitu manis. Chanyeol menyatakan perasaannya di upacara akhir tahun dan orang-orang bersorak untuk kami, juga aku yang begitu bahagia, dengan naif berpikir tentang suatu pernikahan.

Tatapanmu membuaiku

Senyumanmu menenangkanku

Kasihmu menjagaku

Cintamu hidupku

Meski Chanyeol tak memiliki waktu yang begitu banyak untukku, tapi aku begitu menyukai segala waktu yang kami habiskan, hingga aku terus menginginkan waktu lebih dan lebih lagi.

Mawarku mawarnya

Mawarku miliknya

Kamu miliknya

Kamu milik siapa?

Kami telah putus dan kukira itu bukanlah hal yang serius, tapi Chanyeol telah bersama dengan seseorang, menjadi dirinya yang tak pernah seperti itu kepadaku. Dia menjadi sosok berjiwa romansa. Selagi aku masih berharap kepadanya, dia telah menggenggam hati yang lain.

Tatapanmu menikamku

Senyummu menyakitiku

Kasihmu melukaiku

Cintamu membunuhku

Bagaimana Chanyeol memperlakukan wanita itu, adalah bagaimana hatiku berubah menjadi hancur. Dia tahu aku terluka, tapi dia tak ingin tahu bagaimana aku terluka. Alasannya adalah karena kami telah putus.

Mawarku

Mawarnya

Dulu milikku

Sekarang miliknya

Bagaimana dia yang tak ingin berhubungan denganku adalah suatu luka.

“Hai, Yoojung.”

Bagaimana dia yang berusaha tak acuh, menyakitiku. Bahkan ketika wanitanya menyapaku.

“Hai, Yeri.”

“Kau tak perlu bersedih. Cukup putuskan dia dan lihat apa yang terjadi setelahnya, dia akan berusaha mengejar dirimu.”

“Benarkah? Kurasa itu bukan hal yang buruk.”

“Hm, lakukanlah!”

“Yeri! Ayo kita melihat pertunjukan musim semi bersama-sama!”

Cinta pertamaku telah berakhir, pergi bersama sahabat terbaikku, karena kami telah putus.

END

2 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] We Broke Up – DieJungs88”

    1. Bantu jawab ya, admin yang ngepost termasuk saya, mengcopy ff perserta dari note grup line (dimana para juri menilai) jadi maaf, format italic dan lainnya hilang.

      Semoga bisa dimengerti 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s