[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] The Conffession – Shin Eun So

THE CONFFESSION

By Shin Eun So

EXO’s Park Chanyeol, OC’s Han Hyunji | Hurt/Comfort, Romance, Horror | General | Ficlet

Pada akhirnya, aku berani mematahkan kebimbanganku.

Semua karena…

Aku menyukaimu.

Hyunji menghela nafasnya panjang setelah membaca coretan pada halaman tengah buku penunjang mata kuliah statistiknya. Coretan yang lebih menyerupai graffiti yang sering ia lihat di tembok jalan menuju rumahnya, bahkan kalimat yang ditulis menggunakan spidol itu mampu menutupi grafik pada buku yang ia beli dengan menghabiskan hampir setengah gajinya sebagai pekerja kafe.

Hyunji yang telah mengganti seragam kafenya dengan kaos dan sweater cokelat berjalan menuju dapur, mencari sebotol air mineral yang kiranya dapat sedikit menurunkan hormon costirol-nya. Terlambat, ia baru saja berniat untuk melangkah kembali ketika melihat sosok pria itu tengah tersenyum ke arahnya. Ia mencoba mengabaikan tatapannya dan terus berjalan menuju lemari pendingin.

Satu teguk, tiga teguk, Hyunji meletakkan botol air mineral dengan kasar di atas meja, maniknya menatap tajam ke arah pria yang saat ini tengah sibuk menggiling biji kopi dengan wajah menyeringai. Sungguh saat ini ia ingin sekali menumpahkan makian kepada si barista-Kim Jongin yang penuh obsesi terhadap dirinya itu. Namun segera ia urungkan, banyak bicara bukanlah gayanya.

~

Batin Hyunji terus menguar tak jelas, ia masih bisa mentolerir saat Jongin memenuhi lokernya dengan tulisan-tulisan di sticky notes atau menggambar tanda cinta di botol minumnya dengan spidol permanen. Namun mencoret-coret buku yang ia beli dengan susah payah benar-benar melewati batas.

Rasa gusar itu sirna ketika manik Hyunji menangkap seorang bertubuh jangkung di seberang jalan tengah menendang-nendang batu kerikil, gerakkannya terhenti kala netra pria itu tertuju padanya. Dia-Park Chanyeol, lantas tersenyum dan melambaikan tangan, dan ini bukanlah hal yang biasa.

~

“Apa barista itu mengganggumu lagi?”

Hyunji mengangguk samar, ia melirik sosok Chanyeol dari sudut matanya yang mulai mengimbangi langkahnya.

“Tidak kuliah?”

Hyunji tak mendapat sahutan. Ia merasa heran, tak biasanya seorang Park Chanyeol rela membolos pada mata kuliah musik favoritnya. Bahkan ia dengan jelas melihat pria itu membawa gitar kesayangannya saat mereka menghabiskan waktu makan siang bersama di kampus. Hal yang justru mengingatkannya pada pembicaraan mereka siang tadi, Chanyeol mengatakan jika dirinya baru saja mengakhiri hubungan dengan Eunri. Apakah karena hal itu pria ini mengikutinya sekarang.

~

Hyunji awalnya ragu melanjutkan langkahnya ketika mereka tiba di sebuah jalan dengan cahaya lampu jalan yang terhalang pepohonan besar. Bukan karena takut gelap, hanya saja ia merasa jengah dengan kumpulan para gadis berkulit pucat yang mengenakan seragam lusuh.

“Astaga, aku baru melihatnya lewat sini, dia tampan sekali.”

Dugaan Hyunji benar, baru saja mereka berjalan beberapa meter, para gadis itu sudah berlarian ke arahnya, lebih tepatnya menuju Chanyeol.

“Lihat lengannya, ia pasti memiliki tubuh yang bagus.” Sahut gadis lainnya dengan goresan luka di pipi.

Sedangkan seorang gadis dengan rambut sebahu memandang dekat wajah Chanyeol “Tunggu, sepertinya dia…”

“Mau makan eskrim?”

Hyunji tiba-tiba berbalik dan memandang ke arah Chanyeol yang nampak terkejut.

“Siapa gadis ini? Kekasihnya?”

“Hoel, jauh dari ekspektasi.”

Para hantu gadis itu semakin berceloteh tak jelas. Hyunji yang tak tahan lagi akhirnya mengambil sesuatu dari dalam tasnya, buku statistik.

“Mau belajar bersama?”

Dan seketika para gadis itu berlari ketakutan, sedangkan Chanyeol hanya bisa menunjukkan ekspresi kebingungannya.

~

“Jadi ada hantu siswi SMA yang senang mengganggu pria tampan.” Chanyeol mencoba mendatarkan raut wajah, namun Hyunji dapat dengan jelas melihat lengkungan di bibirnya.

“Kau senang?”

“Tidak. Hanya saja, aku merasa lucu dengan caramu mengusir mereka. Aku yakin mereka dulu anak-anak yang senang membolos dan benci pelajaran”

Ya, Hyunji memang berbeda. Ia bisa melihat hal-hal yang orang normal tak bisa lihat. Ia bahkan bisa mendengar suara mereka walau terhalang dinding sekalipun, dan Chanyeol telah mengetahui hal itu sejak mereka kecil.

Hyunji kemudian beranjak dari bangku taman untuk membuang cup eskrimnya. Ia mengabaikan tempat sampah yang ada di dekatnya dan lebih memilih tempat sampah besar di seberang jalan.

Hal itu menarik perhatian Chanyeol untuk mengikuti. Keningnya semakin mengerut, memperhatikan tindakan Hyunji yang sibuk memungut sampah yang tidak sesuai dari dalam tong kemudian memasukkannya ke dalam tong lain berdasarkan jenisnya.

Belum sempat Chanyeol bersuara, Hyunji lebih dulu berucap.

“Penjaga tong sampah ini tidak suka jika masih ada sampah yang tercampur.”

Tak perlu penjelasan lebih, Chanyeol dapat merangkai sendiri alur cerita dalam kepalanya, mengapa Hyunji itu rela mengotorkan tangan hanya demi memilah sampah. Diam-diam ia tersenyum memperhatikan wajah gadis yang terkesan serius sekaligus terlihat manis itu.

~

“Sekarang aku benar-benar percaya.” Perkataan Chanyeol berhasil membuat Hyunji memandang ke arahnya, setelah beberapa menit mereka duduk dalam diam di halte bus.

“Andai aku mengikutimu setiap hari, pasti lebih banyak cerita menarik.”

Hyunji menunjukkan seulas senyumnya, walau saat ini adrenalin dalam dirinya tengah berpacu cepat.

Hingga menit kemudian, sebuah bus berwarna hijau datang, Hyunji lantas berdiri bersiap melangkah masuk.

“Kau tak naik?” Hyunji memalingkan badan, melihat ke arah Chanyeol yang masih diam di tempat.

“Masih ada tempat yang ingin kudatangi.”

Hyunji hanya mengangguk, kemudian kembali menaiki tangga bus hingga ia mendengar suara Chanyeol memanggil namanya.

“Hyunji-a… “

Hyunji menghentikan langkahnya, namun suara klakson sebuah truk tronton mengusik suara Chanyeol.

“A..apa?”

Chanyeol hanya menggeleng pelan seraya tersenyum, sedangkan Hyunji nampak membeku sejenak hingga suara supir bus meyadarkannya.

“Agasshi, masih ada yang kau tunggu?”

Hyunji kembali menggeleng dan segera duduk di salah satu bangku dekat jendela. Sesuatu bergetar di dalam tasnya, ia segera mengambil benda persegi panjang yang menampilkan sebuah panggilan dari kakaknya.

“Hyunji-a.” terdengar suara lemas dari ujung sana.

“Aku tahu.” Sahut Hyunji seraya memejamkan matanya erat.

“Kau sudah tahu? Kecelakaan yang dialami Chanyeol benar-benar hebat, dokter bahkan tak mampu berbuat banyak. Park Ahjumma sangat terpukul karena kejadian tak terduga ini. Jadi cepatlah pulang.”

Pegangan Hyunji pada telepon genggamnya melemah. Ia lantas menengok ke jendela, tepat pada halte bus tadi, dan sosok Park Chanyeol tak lagi terlihat.

Detik itu juga pelupuk matanya mulai basah. Ia sudah tahu jika sosok pria yang menemaninya pulang malam ini bukanlah sosok Park Chanyeol yang sering ia lihat di kehidupan nyata.

Hyunji bahkan dapat mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan pria itu walau berbaur dengan bisingnya jalanan.

Sebuah pengakuan yang mampu membuat isakkannya semakin dalam.

“Hyunji-a, sebenarnya akulah yang menulis di buku statistikmu.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s