[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] Last Minute – Presiousca

Chanyeol x Yonhee x Dahye || Romance Angst || T

.

.

Waktu itu Yonhee sangat sedih karena tak lulus ujian masuk universitas.

Bukan akhir dunia, pikirnya. Masih ada lain kesempatan, di lain tahun. Usia Yonhee juga masih dua puluh, masih panjang jalannya sampai ke pemberhentian.

Gadis itu mencoba menghibur diri sendiri. Tak terlalu berhasil tapi.

Mata cokelatnya terjatuh ke tanah. Memikirkan bagaimana respon ibunya nanti setelah tahu putrinya telah gagal. Tiba-tiba sepasang sepatu datang, ditemani sepedanya.

“Hai, aku punya sepeda.”

Laki-laki asing yang menuntun sepeda itu, berhenti di depan Yonhee untuk menyapa. Yonhee terdiam sebentar, tak tahu gerangan apa laki-laki ini memamerkan sepeda.

Mungkin dia ingin menjualnya? Atau mungkin hendak menyewakan? Ah ya, bisa juga.

“Maaf, tapi aku sedang tidak ingin menyewa sepeda.”

“Oh, bukan! Kau mau pulang kan? Kau bisa pakai sepedaku,” potong si lelaki.

Yonhee menggeleng sopan, “aku bisa jalan kaki.”

“Biar aku saja yang jalan kaki. Kau bersepedalah pelan-pelan. Aku ingin mengantarkanmu sampai rumah. Itu pun kalau kau tidak keberatan.”

Dia, lelaki itu tersenyum sampai giginya ikut menyapa. Yonhee sampai tertular senyumannya tanpa sadar.

“Namaku Park Chanyeol. Aku baru saja diterima di universitas Sunkyunkwan. Laporkan aku ke polisi kalau macam-macam padamu.”

Dia, laki-laki asing dengan sepeda ini, namanya Park Chanyeol. Menawarkan sepeda dan dirinya untuk membawa Yonhee pulang. Menarik juga.

Diam-diam, gadis itu mengetik pesan untuk dikirim ke salah seorang teman. Yonhee tersenyum geli setelah pesannya telah terkirim.

-Dahye, jika aku menghilang selama 48 jam sejak kau menerima pesan ini, itu berarti aku diculik Park Chanyeol, mahasiswa Sunkyunkwan-

Langkah antisipasi, pikirnya. Karena saat Dahye membaca pesan, itu berarti dia sedang menuntun sepeda dengan Park Chanyeol. Berjalan bersama menuju rumahnya sambil bersenda gurau.

Chanyeol ternyata orang yang baik. Terlalu baik untuk dicurigai sebagai seorang penculik. Dia juga lelaki yang humoris dan pandai bermusik.

Keren, batin Yonhee.

.

.

“Kau pikir aku meminjamimu sepedaku waktu itu secara gratis?” Chanyeol bersedekap sombong sekali.

Yonhee tak berhenti menyedot lime juice di gelas karena malas mendengarkan keluhan teman dekatnya itu.

Ya. Kau tidak salah baca. Mereka memang sudah menjadi teman dekat setelah empat puluh delapan jam pulang bersama menuntun sepeda. Kurang lebih tiga bulan sudah berlalu.

Chanyeol akan menghubunginya via pesan singkat atau sesekali main ke rumah. Sesekali juga pergi keluar bersama untuk makan malam, seperti sekarang.

“Kau mau aku yang bayar makananmu?”

Chanyeol menggeleng, “aku mau kau jadi pacarku.”

Yonhee tentu saja langsung terbatuk parah. Beberapa orang menatapnya penasaran, beberapa yang lain terheran. Gadis itu tersedak minuman sampai wajahnya memerah. Entah merah karena terbatuk keras atau karena gugup.

“Kau mau aku mati ya?!”

“Tentu saja tidak! Aku mau kau jadi pacarku! Kalau bisa jangan ditolak, nanti hubungan kita jadi aneh.”

Yonhee tak tahu harus bagaimana. Ini adalah cara menyatakan cinta paling tidak masuk akal. Chanyeol lebih seperti merampok dan Yonhee harus mau memberikan uangnya. Terlalu memaksa.

Yeah, Chanyeol memang gila, tapi mau bagaimana lagi? Yonhee juga tidak bisa menolak. Dan tak mau menolak.

Maka dari itu, Yonhee diam-diam mengetikkan pesan setelah menerima Chanyeol sebagai pacarnya. Mengirim pesan itu kepada salah seorang teman yang sangat dia percaya.

-Dahye, aku menerima ajakan Chanyeol untuk berpacaran hari ini. Kau harus menamparku besok. Aku pikir aku sudah gila-

.

.

Chanyeol itu sangat payah dalam hal menyatakan perasaan. Yonhee seharusnya tidak usah heran juga kali ini karena cara melamar Chanyeol sama buruknya.

“Dua karyawan ayahku itu sebenarnya oknum penjual organ manusia. Kalau kau tidak mau menikah denganku, aku akan meminta mereka mengambil ginjalmu untuk dijual.”

Saat itu, mereka berdua sedang makan malam bersama di kafe milik ayah Chanyeol. Yonhee tertawa sampai perutnya terasa keram karena apa yang baru saja Chanyeol katakan adalah omong kosong.

“Kau sedang melamar atau mengancamku, Chanyeol?”

“Kau tidak mau kehilangan ginjal kan?”

Yeah, tentu saja Yonhee tak mau kehilangan ginjal. Gadis itu tak mau kehilangan apapun, baik ginjal maupun hati. Jadi yeah, lagi-lagi Yonhee menerimanya.

Membuat Chanyeol bersorak bahagia, bak orang gila. Pria itu juga memeluk dua karyawan yang tadi dia tuduh sebagai oknum penjual organ manusia.

Dasar gila, batin Yonhee.

-Dahye, aku dan Chanyeol harus segera menikah agar ginjalku tidak dijual. Betapa sialnya aku-

Yonhee ingat, itu adalah pesan yang dia kirim kepada sahabatnya, Dahye, setelah lamaran Chanyeol dia terima.

Wanita tua itu tersenyum lemah mengingat momen yang sudah berlalu lama. Sekarang, dia sudah menginjak usia enam puluh dua.

Chanyeol, suaminya pun sama. Usianya sekarang sudah menginjak enam puluh lima. Mereka berdua bersyukur karena menua bersama, dalam ikatan cinta.

Tapi sekarang, Yonhee sudah tua dan renta. Dia menderita kanker pankreas stadium akhir yang sudah lama diderita. Kondisinya juga sudah tak bisa diusahakan, ujar dokter baru saja.

Dia sekarat. Yonhee sedang sekarat saat dia mengingat momen pertamanya bertemu Chanyeol. Dan masih sekarat saat sampai pada bayangan lamaran mereka.

“Yonhee, kau pulanglah saja…” Chanyeol berbisik di depan telinga istrinya.

Sambil menggenggam tangan keriput Yonhee yang sudah tak bisa digerakkan.

“Aku akan selalu mencintaimu tak peduli kau ada dimana. Aku tidak bohong.”

Yonhee tersenyum lemah setelah mendengar bisikan Chanyeol. Dia senang sekali, jujur saja. Ini adalah kali pertama Chanyeol mengatakan cinta padanya. Benar-benar melegakan karena bisa mendengarnya sebelum dia berpulang.

“Dahye…” pemilik nama yang Yonhee sebut berjalan mendekat.

Wanita yang sama tuanya dengan Yonhee itu mengusap airmata. Adik kandung Chanyeol yang telah berjasa mencomblangkan mereka berdua itu mencoba terlihat tegar.

Ya. Park Dahye, yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita Yonhee sebenarnya adalah adik Chanyeol. Baru setelah Yonhee menerima lamaran sang kakak, Dahye mengakui semuanya.

Adik iparnya itu membungkuk, hendak mendengar hal apa yang hendak Yonhee ucapkan.

“Chanyeol bilang dia mencintaiku. Aku yakin aku tidak salah dengar…”

.

.

Peeeeeep…

.

.

End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s