[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] JUST YOU AND ME – HaloKvn

Chanyeol, Sojin (OC) || Romance || G

“Aku ingin bertemu dengan mu hari ini.” sahut nya tiba-tiba sambil terus mengejar ku dari belakang.

Aku tersentak, lalu berbalik seraya menatap nya tajam karena masih dengan rasa marah yang masih menyala-nyala akibat kejadian tadi. Bagaimana tidak? Tepat setelah genap 4 tahun kami tidak bertemu, ia malah berpelukan dengan mantan kekasih nya.

“Jangan membual!” nada tinggi dalam tenggorokan ku akhirnya pecah.

“Sojin, dengarkan aku dulu.” pinta nya memelas.

“Berisik, setelah sekian lama kita tidak bertemu. Dan ini kejutan yang kau bicarakan saat di telepon tadi? Hah! Lucu tuan Chanyeol.” ucap ku dengan pongah karena muak.

“Lalu ini sambutan mu?” tanya nya datar.

Lucu! Dia malah memikirkan masalah ‘sambutan’ konyol nya, dan sama seperti nya sama sekali tidak memikirkan bagaimana hati ku tersayat saat ini.

“Jangan temui aku lagi, dan patut nya kau bersyukur. Karena aku masih menimbang untuk hubungan kita.” ucap ku sambil pergi meninggalkan nya, lalu masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa.

Aku menyalakan mesin dengam brutal, anggap saja sebagai tanda bahwa aku sedang emosi. Terpuji lah kau pencipta mobil. Berkat mu, lidah ku jadi tak perlu mubazir bergerak hanya untuk meluapkan amarah.

***

Aku membuka pintu rumah dengan kasar, lalu segera melangkahkan kaki ku ke anak tangga dekat ruang tengah, berniat untuk memasuki kamar.

Dari kamar aku mendengar ada suara mobil datang aku pun segera menyambar jendela untuk melihat siapa si pemilik mobil yang berhenti di halaman rumah ku, aku melihat Chanyeol turun dari mobil lalu berlari kecil dan setelah itu masuk ke dalam rumah ku.

Astaga! Kenapa dia harus datang?!

beruntung orang tua ku sedang tidak ada di rumah, dengan begitu. Jika terjadi perdebatan sengit, aku akan mendominasi perdebatan nya tanpa khawatir ada yang mendengar.

Terdengar suara derap langkah kaki dari luar kamar ku. Dan aku bisa merasakan, sekarang ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kamar ku.

Tok.. Tok..

“Sojin, buka dulu pintu nya.” ucap nya dari luar.

“Pergi sana!” ucap ku mengusir.

“Kau yakin ingin aku pergi? Aku baru saja sampai.” di berkata sambil masih mengetuk pintu.

“Pergi saja sana! Aku tak peduli!” teriak ku keras, sambil berusaha menahan air mata ku agar tak meruak keluar.

“Baiklah, aku pergi.” ucap nya lemas.

Sekarang sudah terhitung 30 menit setelah kepergian nya.

Senyap. Hening sekali..

Hah! Lucu. Kali ini malah aku yang merasa menyesal telah menyuruh nya pergi. Aku lalu membuka pintu untuk melihat sekitar.

Dan saat aku mengedarkan pandangan, ekor mata ku menangkap sesosok pria dengan tubuh tinggi sedang duduk.

Aku tak bisa berbohong pada diri ku sendiri, aku mencintainya. Tapi apa harus berpelukan di hari saat kita pertama bertemu setelah sekian lama?

Di tambah lagi wajah mantan kekasih nya yang seolah menyampaikan pesan padaku bahwa ia telah menang dan aku kalah telak dalam senyum licik nya.

Tapi kali ini, Cinta mengalahkan logika. Aku harus membuang ego ku jauh-jauh, itu kah kunci agar bisa saling pengertian.

“Chanyeol, kau belum pulang?” tanya ku sambil menepuk pundak nya pelan.

Ia menoleh, lalu melihat ku.

“Sojin?” tanya nya tak percaya.

“Iya aku Sojin.” sahut ku lembut.

“Kau sudah tak marah??” tanya nya yang sesaat membuat aku tertegun.

Aku menggelengkan kepala memberi tanda bahwa aku sudah tak marah padanya.

Ia berdiri, aku pun mengikuti gerak tubuh nya. Kita saling berhadapan sekarang.

Sedetik kemudian, ia memeluk ku. Sangat erat, dekapan pelukan nya sangat hangat membuat ku nyaman sampai ke relung hati ku yang paling dalam.

Aku merindukan pelukan nya, aku merindukan senyum nya, aku merindukan suara nya. Aku merindukannya.

Tanpa sadar aku menangis, cukup deras. Sampai-sampai air mata ku memberikan bekas pada pakaian Chanyeol.

“Aku merindukanmu.” kalimat itu sukses membuat dada ku bergemuruh girang.

“Aku merindukanmu.” ucapnya lagi.

“Aku merindukanmu.” ucapnya sekali lagi.

“Ayolah, bukan hanya kau yang merasakan rindu.” timpal ku sambil melepas pelukan nya.

“Hei, jangan menangis.”

“Aku wanita bodoh! Aku sensitif.”

Ia tersenyum lalu menghapus air mata ku, mengelap secara lembut sambil sesekali ibu jari nya bermain di kelopak mata ku.

“Aku ingin membicarkan sesuatu dengan mu.” ucap nya mencairkan suasana.

“Apa?” tanya ku heran.

“Ikut aku ke taman.” ajak nya sambil menarik tangan ku.

Aku mengikuti nya sambil bertanya-tanya dalam hati. Bingung, aku buntu untuk yang satu ini.

Begitu sampai di taman kami mendudukan diri kami di sebuah bangku yang berkapasitas dua orang, aku masih ingat. Hanya ada kami berdua saat itu.

“Begini, aku ingin meluruskan semua nya.” dia berkata membuka pembicaraan.

Aku tak bergeming, aku telalu malas untuk membahas nya.

“Hyera datang menghampiri ku saat itu, dia memaksa ku untuk kembali padanya karena ia tahu aku telah kembali ke Korea.” jelas nya.

“Lalu, kau jawab apa?” akhirnya aku luluh dan bertanya.

“Tentu saja aku jawab tidak, bagaiamana mungkin aku kembali pada orang yang telah meninggalkan ku saat aku dalam keadaan paling sulit?” jelas nya lagi.

Chanyeol membenarkan posisi duduk nya, sekarang ia mengahadap ke arah ku.

“Sojin, lihat lah ke sini.” dia meminta dengan lembut.

“Apa?” tanya ku ketus, sambil berbalik lalu sekarang kami saling berhadapan.

“Ia juga meminta ku untuk menikahinya.” jelas nya dan seketika kepala ku mendidih mendengar nya.

“Namun lagi-lagi aku tolak. Karena aku sudah punya pengisi hati. Dan itu kau Sojin.”

“Berhenti menggombal.” celetuk ku ketus.

“Aku ingin menikah dengan mu, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anak ku kelak. Aku Cinta tidak bukan cinta, aku sayang padamu Sojin.”

“Menggombal itu gaya New York ya?” jawab ku masih tak percaya.

Chanyeol lalu berlutut di hadapan ku, kaki kiri ya di turunkan ke bawah untuk menopang tubuh nya. Sedangkan kaki kanan nya ia gunakan untuk menjaga keseimbangan nya.

Kini ia mengeluarkan sebuah kotak cincin berbentuk merah delima, lalu membuka nya. Aku melihat ada satu cincin yang terbuat dari emas putih, di atas nya ada sebuah ukiran bunga-bunga yang membuat aku terperangah.

Aku mengangguk dengan mantap. Lalu setelah nya ia memasangkan cincin itu pada jari ku dengan lembut.

“Jangan pedulikan Hyera atau siapapun itu. Aku hanya ingin kau memikirkan ku juga dirimu, JUST YOU AND ME.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s