2ND GRADE [Chapter 27]

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 27 [On-Off. Off-On]

Andai tombol perasaan bisa diubah-ubah sesuka hati dan sesuai kebutuhan.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun

[CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene | [17] Sunyoung

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance | School Life

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25| 26

.

.

Kwon Sunyoung:

Runa putus?

Kau tahu sebabnya, kak?

Apa yang Park Chanyeol lakukan?

Baekhyun mengehela napas terang-terangan, “Aih, gadis Kwon itu. Apa dia lupa kalau sepupunya begitu suka Park Chanyeol? Kenapa baru bilang kalau sudah putus?” Jemarinya menari di layar ponsel untuk mengetikkan balasan.

Byun Baekhyun:

Sudah agak lama mereka putus.

Mungkin ini sedikit sulit kau percaya.

Tapi sejujurnya Chanyeol yang salah.

Tadinya Baekhyun sedikit menyesal karena terlalu cepat mengetikkan kata. Seharusnya ia merangkai kata yang lebih lembut terlebih dahulu agar tidak tercipta keterkejutan yang berlebih bagi si penerima pesan.

Kwon Sunyoung:

Jangan bercanda.

Ah, terlanjur. Ya sudah, Baekhyun balas seadanya saja.

Byun Baekhyun:

Apa hal seperti ini bagus untuk bahan candaan?

Baru saja ia memencet tombol kirim, sebuah suara menyapa rungunya.

“Kau sudah pesan?”

Baekhyun menatap lelaki yang duduk di depannya, “Kupikir kau akan lama, jadi aku pesan lebih dulu.” Ia menyendok tiramisunya, santai. Lagipula lelaki yang memang mengajaknya bertemu itu sudah membawa segelas americano.

Tanpa berbasa-basi, lelaki tersebut membuka suara―berniat langsung mengutarakan maksud intinya di pertemuan ini, “Ini tentang Runa.”

“Baiklah, seperti yang kuduga. Seorang Oh Sehun tidak akan meminta untuk bertemu kecuali alasannya adalah Kwon Runa.” Tidak bermaksud menyindir, Baekhyun hanya suka tebakannya benar seratus persen. Ditatapnya Sehun yang mengembus napas pelan, “Lalu, apa sekarang kau mau meminta saran bagaimana cara menyatakan perasaan dengan benar?”

“Aku sudah melakukannya,” aku Sehun tanpa aba-aba. Sebenarnya Baekhyun baru akan menyantap tiramisunya lagi, namun ia terdiam dan menatap Sehun dalam detik-detik yang termasuk lama. Baekhyun masih diam kala ia memakan tiramisunya yang sempat ia tinggalkan, usai menelan kunyahan untuk ditransfer ke lambung, katup bibirnya terbuka untuk membuat suara, “Dan ditolak.” Asumsinya benar-benar sempurna.

“Begini, Sehun.” Baekhyun membenarkan duduknya, bersikap seolah ia tengah menghadapi masalah serius yang butuh penyelesaian secara cepat dan tepat. “Aku tidak akan menyalahkanmu karena aku yakin sudah banyak yang berbuat begitu. Toh juga semuanya sudah terjadi.”

“Apa Runa memutuskan untuk kembali pada Chanyeol?”

“Kau mengira itu alasan dia menolakmu?” Sejemang Baekhyun berujar setengah tak percaya, lalu Sehun segera menambahi, “Mereka bahkan berciuman sebelum liburan.”

Tadinya Baekhyun ingin bertanya dari mana Sehun bisa tahu. Namun setelah dipikir kembali, barangkali ini semua berawal dari dirinya yang dengan bodoh menceritakan hal tersebut pada Seunghee. Maka, ia hanya menahan rasa bersalahnya dengan menunjukkan cengir kecil. “Yah, memang begitu, sih. Tapi kurasa Runa tidak membuat kejadian itu sebagai simbol mereka kembali bersama.”

Bukannya menjawab, Sehun malah menebar pandang seakan menerawang. Mau tak mau Baekhyun membuka mulut lagi, “Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya?” Si lawan bicara meniup udara dan menyesap americano hingga setengah tandas, kemudian bicara, “Mungkin aku perlu menjauh terlebih dahulu.”

.

.

.

-0-

.

.

.

Sehun hilang.

Bukan hilang secara harfiah, hanya saja lelaki itu seperti menghilang―tak pernah kelihatan batang hidungnya sama sekali. Selama empat hari, Runa masih maklum. Namun ketika hampir menginjak tiga minggu, ia heran juga. Mungkin Sehun diculik, atau tiba-tiba memutuskan untuk sekolah di luar negri, atau mendadak melakukan pernikahan karena perjodohan sejak kecil.

“Ayolah, drama opera sabun sudah terlalu banyak akhir-akhir ini. Kau tak harus menambahinya dengan bayanganmu, Kwon Runa,” bisik-bisik kecil Runa lakukan pada dirinya sendiri sembari melepas celemek. Dia meniup udara dan melangkah sesantai mungkin menyusuri rak-rak penuh barang. Sebentar-sebentar masih berharap mendadak lelaki surai pirang itu berjalan mendorong pintu minimarket dan menunjukkan cengiran. Tapi yang ada hanyalah tatapan Jungkook yang mengiringi langkahnya pergi. Tatap heran itu tercipta karena cletukan asal yang si gadis lontar sebelum melangkahkan kaki keluar, “Setidaknya sesekali lambaikan tangan, doakan aku di jalan atau bagaimana. Dasar hemat kata. Tidak jantan.”

Yang tidak tahu apa-apa jadi kena getahnya juga.

Untungnya usai membasuh tubuh di bawah air, Runa bisa lebih berpikir jernih. Cukup lama ia bersandar pada bantal yang ia susun sedemikian rupa sambil memandang layar ponsel.

“Kupikir mengirim pesan bukan tindakan memalukan,” gumamnya. Sebuah ‘oii’ sudah diketikkan, jarinya masih maju-mundur di depan layar. “Tidak, tidak, itu tetap saja memalukan.” Dia mengembus napas, berniat meletakkan ponsel di nakas. Namun sepertinya ia kurang fokus hingga pegangannya pada ponsel hampir terlepas. Dengan gerakan refleks dia menegapkan tubuh dan menangkap ponsel sebisanya. Alhasil, ponsel kesayangannya tidak jadi mencium lantai. Bukan saatnya bernapas lega, karena sebagai gantinya ia segera memelototkan mata kala mendapati layar ponselnya berubah.

Luar biasa sial karena ia malah melakuan sebuah panggilan.

Runa mematung setelah ia berhasil mematikan sambungan, bahkan sekadar berteriak kaget pun ia tak sempat. Jantungnya lantas bekerja lebih cepat, “Ini seratus persen tidak sengaja.” Perlahan mencoba ia bernapas, “Dia tidak akan sadar. Jangan sadar. Jangan kirimi pesan. Jangan―WAKH!” Disembunyikannya ponsel yang baru saja bergetar ke bawah selimut. “Kwon Runa ceroboh! Bagaimana kau akan menyembunyikan wajahmu?” Untuk sesaat yang tak wajar, ia malah menginginkan sebuah telepon balik. Tapi ia malah jadi seperti orang tak tahu diri nantinya. Jadi yang dapat dilakukan hanya mengecek pesan yang baru masuk.

Oh Sehun:

Sehun sedang berlatih, telponlah lagi nanti.

“Aku tidak akan telpon lagi, kok!” Mendadak saja, entah kenapa, Runa menjadikan Irene sebagai sasaran tebakan dari siapa yang mengambil alih ponsel Sehun sekarang. Semenjak Sunyoung mengatakan sesuatu mengenai hubungan Sehun dan Irene, rasanya jadi berbeda. Runa pikir mungkin omongan sepupunya benar, mengingat bagaimana dekatnya hubungan kedua manusia yang sedang dibicarakan ini. Tidak tahu, deh, benar atau tidak. Yang jelas Runa jadi lebih sering sadar diri saja dia adalah orang yang baru mengenal Sehun dibanding dengan Irene. Pantaslah penolakan yang ia beri pada Sehun tak terlalu memberi efek pada si lelaki. Barangkali Sehun sudah cukup puas masih ada Irene di sampingnya. Tidak tahu bagaimana hal tersebut yang ada dalam benak Runa.

Dia terdiam agak lama, “Sepertinya pertunjukannya sangat penting, sampai-sampai dia berlatih sampai larut begini.” Desah napasnya terdengar keras akibat kamar yang sunyi. Perlu setengah menit penuh baginya sebelum kembali bergumam, “Apa kata-kataku terlalu kasar waktu itu?” Bayangannya jatuh pada kejadian di pantai bersama Sehun. Mendadak wajahnya berubah setingkat lebih merah daripada sebelumnya, kemudian ia berguling di atas ranjang. Saat berhenti ia bisa merasakan gelisah kuat yang membuat semuanya makin tak nyaman.

Sialan, kenapa aku seperti ini, batinnya kesal. Lihat bagaimana keningnya memunculkan angka sebelas, lalu sudut-sudut bibirnya yang turun, sungguh menunjukkan bagaimana suasana hatinya saat ini.

Runa nyaris terlonjak saat merasakan ponselnya bergetar lama. Sebuah panggilan masuk. Di sudut hati ia mengharap Sehun yang menjadi melakukannya.

“Halo, Runa. Kau sudah mengedit kuesionernya?” Ini jelas-jelas Seunghee. “Kau memintaku untuk mengingatkanmu tadi siang.”

“Ah, benar.” Jelas saja yang Runa gunakan adalah nada kecewa. Namun lekas disingkirkannya perasaan pribadi dan mulai memikirkan tugas kelompoknya, “Sudah kuedit. Kau mau memeriksanya lagi? Aku bisa mengirimnya lewat email.”

“Sepertinya tidak perlu diperiksa lagi. Kirimkan saja pada Jungkook. Dia bilang akan menggandakannya agar Senin pagi bisa kita sebar.”

“Um, begitu? Baiklah, akan aku kirimkan setelah ini.” Usai beberapa obrolan singkat yang keluar dari masalah tugas―salah satunya tentang janji Seunghee mengantar Runa belanja mengisi persediaan rumah esok hari, sambungan tersebut terputus. Bukan hal yang sulit mengirimkan email pada Jungkook dalam waktu yang singat.

Kwon Runa:

Kuesionernya sudah kukirim lewat email.

Seunghee bilang kau akan menggandakannya.

Berhubung Runa yakin jika Jungkook masih melakukan kerja sampingan malam ini, maka ia tak begitu kaget saat pesan balasan dari Jungkook datang lumayan cepat.

Jeon Jungkook:

Berapa?

Oh, pantas cepat. Hanya mengetik begitu saja, rupanya.

Kwon Runa:

100 saja.

Pakai uangmu dulu, ya?

Sebuah oke dan Runa pikir dirinya bisa tidur setelah ini. Ia menggosok gigi, mencuci muka dan kakinya sebelum bergelung dalam selimut. Memilih memikirkan hal lain seperti mengenai beberapa tugas yang harus ia selesaikan sebelum tenggat waktu, ketimbang nantinya kembali memikiran hal memusingkan mengenai lelaki bernama Oh Sehun.

“Runa?”

Jantung Runa hampir meloncat dari tempatnya mendapati pintu kamar terbuka tiba-tiba. Pelakunya adalah sang sepupu yang tidak tahu diri mengganggu orang lain selarut ini.

“Setidaknya ketuk pintu dulu!” sungutnya sebal.

Tak peduli, Sunyoung langsung masuk pada inti pembicaraan yang ingin ia sampaikan, “Aku mengundang seseorang untuk menginap selama semalam.”

“Aku senang tidak mood. Jangan ganggu aku hanya karena hal-hal seperti itu, untuk malam ini. Pokoknya terserah, deh. Sana, sana, keluar!” Sebentar lagi agaknya Runa makin menekankan suara, “Dan panggil aku kakak, tolong!”

Runa sama sekali tidak tertarik pada teman Sunyoung yang menginap atau apalah. Dia hanya butuh tidur lebih cepat detik ini juga!

.

Sesuatu yang sang gadis tak tahu adalah hal mengejutkan lain yang dibawa Kwon Sunyoung.

Dan sesuatu itu sukses membuat esok paginya menjadi lebih buruk dan buruk bagi Kwon Runa.

“Kau gila?!” Jika tidak bisa menahan diri, pasti Runa sudah melempar lampu yang mendiami nakas di samping ranjangnya. “Kwon Sunyoung di mana kau letakan otakmu, ha?!”

“Kenapa kau sangat marah? Dia tamuku, bukan tamumu.” Sebenarnya Sunyoung merasa gentar, ia belum pernah menghadapi amukan yang seperti ini dari Runa.

“Masa bodoh itu tamu siapa!” Sekarang Runa melemparkan bantal, lalu mendorong bahu Sunyoung dengan tenaga amarahnya. “Aku tidak peduli kau masih ingin dekat dengan Chanyeol. Tapi jangan bawa dia kemari! Aku tidak mau melihatnya!”

“Ayolah, dia bahkan tak melakukan apa pun.”

“Aku sangat sangat sangat membencimu, Kwon Sunyoung!” Kali ini mata Runa sudah berkaca-kaca, “Setidaknya katakan tamumu itu Park Chanyeol,” dia mulai terisak, “jika aku tahu, aku tidak akan keluar kamar. Kenapa kau membuatku melihatnya. Hariku sudah buruk akhir-akhir ini.” Dia teringat bagaimana yang ia dapati saat keluar kamar adalah sapaan milik Chanyeol. Walau sudah menghindar, entah bagaimana dengan sialnya keduanya kembali berpapasan. Bukannya Runa masih punya perasaan, namun saat terlanjur merasa tersakiti pada seseorang, kelihatannya gadis ini belum bisa dengan lancar untuk berinteraksi.

“H-hei kenapa kau menangis?” Bagus Sunyoung, kau baru saja mulai panik? “Baiklah, maafkan aku. Tak akan kuulangi lagi. Aku akan memintanya pulang lebih cepat. Berhenti menangis, kak.”

“Urusi saja Kak Chanyeol-mu!” Dengan cepat diraihnya salah satu jaket di lemari dan tak lupa ponsel, sebelum akhirnya memakainya dan melangkah pergi dengan terburu. Sama sekali Runa tak melirik Chanyeol yang tengah terduduk gelisah di sofa ruang tamu.

“Kak,” Sunyoung menahan lengannya tepat di depan pintu, sebelum sang sepupu benar-benar pergi. Lantas Runa berucap sarat penekanan, “Aku menyukainya, sangat. Tapi itu sebelum dia berselingkuh selama hampir satu setengah bulan dengan teman sekelasku sendiri. Kau tidak tahu apa yang sudah kulalui, dari tidak punya teman sama sekali, menjadi bahan penggencetan, dan pada akhirnya diselingkuhi oleh pacar yang kuanggap sebagai satu-satunya orang yang bisa membuatku senang menapak lantai sekolah,” ia masih berkaca-kaca, “sekarang aku sudah melepaskanya, aku sudah memulai hal yang baru lagi. Jangan buat aku mengingat hal yang sudah-sudah, itu menjijikkan saat tahu rasa sakitnya terus membekas.”

Yang Sunyoung lakukan adalah mematung, setengah terkejut karena rupanya Park Chanyeol memberi efek yang begitu besar pada hati Runa. Di sisi lain, gadis itu kembali melanjutkan dengan nada yang merendah, “Aku bahkan menutup diri. Ternyata benar, aku memang menolak siapa pun datang. Aku menolak Oh Sehun.” Seolah ia tengah bergumam, “Ini menyebalkan,” napasnya diembuskan saat ia mulai terisak, “sekarang aku malah merindukannya. Tapi aku tidak ingin bertemu, itu membuatku merasa bersalah. Mengesalkan.”

Kwon Sunyoung jelas-jelas ternganga, “Kau … suka Oh Sehun?”

“Aku benci kau. Jangan bicara padaku.” Tak mengindahkan tanya milik si sepupu, Runa langsung berjalan pergi. Menahan diri untuk tidak menangis sambil merutuki nasibnya yang seolah paling mengenaskan.

“Sialan, harusnya aku bisa menahan mulutku.” Masih berjalan, masih pula sibuk menghapus air mata, Runa mengumpati diri sendiri. Sepertinya dia terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, dan permasalahan Sunyoung yang mengundang Chanyeol ke rumah menjadi hal yang sukses menghancurkan seluruh pertahanan hatinya hingga ia menangis jelek begini.

“Aih, memalukan!” Diacaknya rambut dengan gemas, “Kenapa aku mengatakannya sambil menangis? Dan kenapa aku harus menangis?!” Rasanya Runa ingin menggulingkan diri ke jelanan sekarang juga. Sebelum semua itu terlaksana, nyaris dirinya terlonjak karena getaran ponsel di saku jaket.

“Ya, Seunghee, ada apa menelpon pagi-pagi?”

“Bukankah kita akan pergi belanja?”

Desah frustasi milik Runa menandakan bahwa ia seribu persen lupa. Lalu dia berucap pelan, “Ada sesuatu yang terjadi. Boleh aku menumpang mandi di rumahmu? Dan … aku juga perlu meminjam pakaian.”

.

.

.

“Aku benar-benar tidak mau bicara pada Sunyoung selama beberapa hari. Dia mengesalkan,” ujar Runa seraya memilih sayur yang paling segar untuk dipindah ke troli. Sementara Seunghee memasang tampang berpikir usai mendengar cerita sang karib. Runa tak bercerita semuanya, tentu. Ia melewatkan bagian pengakuannya pada Sunyoung mengenai Sehun.

“Mungkin Sungyoung melakukannya karena dia terlalu menyukai Chanyeol sebagai … kau tahu, teman, kakak lelaki, sejenis itu, deh.” Seunghee menunjuk sayur yang ada di tangan kiri Runa, membuat gadis tersebut mengangguk dan sudah menentukan pilihan. “Kenapa tidak sekalian saja dia yang pacaran dengan lelaki itu? Cih,” cericip Runa langsung dibalas Seunghee dengan kekeh pelan.

“Hei, mau kutraktir es krim setelah ini?” Ditawari begini, langsung Seunghee berpikir sejenak, “Aku baru menghabiskan es krim milik Kak Sehun tadi pagi, bisa ubah menu traktirannya?” Mendengar nama Sehun disebut, Runa jadi terpancing, “Wow, dia membolehkanmu menghabiskannya? Hebat.”

“Tidak tahu, tadi dia terburu-buru mengiakan saat aku bertanya.” Kali ini Seunghee yang memilih beberapa buah.

“Dia pergi ke suatu tempat?”

“Latihan untuk pertunjukan, akhir-akhir ini ia makin sering pulang malam.” Detik selanjutnya, Seunghee seperti merasa sedikit aneh. Namun ia melanjutkan dengan sengaja, “Dia sering melewatkan sarapan karena bangun kesiangan. Aku juga tak yakin dia sering minum vitamin.”

“Serius? Apa pertunjukannya begitu penting?” Beberapa sosis dan sejenisnya mulai menghuni troli, Runa melakukannya cepat. Tepat sasaran, lekas Seunghee menjawab, “Kurasa begitu. Kenapa? Kau terlihat khawatir.”

“Ti-tidak! Aku cuma tanya, kok.” Wajah Runa terlihat lucu saat ini, “Tadi katanya kau ingin menu traktiran lain. Mau pilih apa?”

“Sebenarnya aku tidak masalah apa pun itu.” Sekarang Seunghee sudah tersenyum lebar, “Kita makan apa saja yang terlihat menarik nanti.” Jawaban yang Runa beri begitu berbeda dengan jawaban yang pernah ia dengar sewaktu insiden kecelakaan kecil Sehun, dahulu. Jika waktu itu Runa menanggapinya dengan santai dan tak acuh, rasanya barusan justru memberi aura yang berbeda.

Ah, Seunghee curiga.

Tentunya mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk belanja, sampai-sampai nongkrong di salah satu meja dengan masing-masing mangkuk es krim beda rasa menjadi hal yang perlu dilama-lama.

“Aku sudah menghubungi Jungkook masalah kuesioner kelompok kita,” tutur Runa usai menelan es krimnya. Dia mengedar pandang sesaat dan menambahkan, “Dan omong-omong kalau tidak salah si Raja Kerja Paruh Waktu itu juga membantu di sekitar sini saat akhir pekan.”

“Raja Kerja Paruh Waktu? Maksudmu Jungkook?” Ikut-ikutan mengedar pandang adalah yang Seunghee lakukan.

“Siapa lagi? AH, itu dia, kenapa bisa kebetulan seperti ini.” Tangan Runa terangkat untuk membuat sebuah lambaian semangat, “Jeon Jungkook!”

Semula Jungkook cuma melirik dan berpura tak mendengar, namun entah angin apa yang membuatnya berhenti sejenak dan kembali  menatap dua gadis tadi. Tak ada yang tahu Jungkook sedang mengumpat dalam hati untuk merutuki kakinya sendiri yang begitu saja melangkah ke arah Runa dan Seunghee berada. Kala sudah sampai di sebelah Runa, Jungkook menaikkan alisnya, “Apa?”

“Aih, seharusnya kau lebih bersikap akrab pada teman sekelompokmu.” Gumaman yang tak diindahkan tersebut berganti menjadi topik lain selanjutnya, “Kau ada waktu, kan? Duduklah, kutraktir es krim.” Gadis ini menarik Jungkook untuk duduk di sisi lain dari meja berbentuk persegi yang mereka tempati.

“Apa aku sudah bilang aku ada waktu?” Seperti biasa, mengesalkan.

“Mau rasa apa? Aku pesankan, deh. Nanti kita bisa ke minimarket bersama karena aku bertukar jadwal dengan Kang Seulgi.” Sepertinya bersama dengan Jungkook sekian lama sudah membuat Runa kebal dengan sifat si lelaki. Dia begitu saja beranjak dari duduknya, namun segera terhenti oleh ucapan Jungkook. “Jangan tambahkan kacang.”

Kaget, tentu saja. Tapi Runa bisa dengan cepat menanggapinya, “Oh, kenapa aku merasa kau sedang bersikap imut?” Padahal ada kata yang lebih tepat, seperti memiliki kadar gengsi yang tinggi, contohnya. Lelaki itu hanya mendengus dan mengalih tatapan, tak sengaja berlabuh pada parah Seunghee. Sejemang mereka bersitatap, hingga akhirnya suara Jungkook terdengar, “Apa?”

Yang Seunghee lakukan adalah terkekeh kecil, memutuskan untuk menatap Runa yang setengah berlari menuju kedai es krim. Ah, harusnya dia lihat bagaimana Jungkook menahan senyumnya untuk sepersekian sekon. Sayang sekali.

Di sisi lain, sesudah membayar dan kini menunggu es krim disiapkan, Runa mengeluarkan ponselnya. Membuka percakapan milik Oh Sehun.

Kenapa kau tidak meminum vitaminmu dengan rutin?

Ia memandang kalimat yang baru diketik, lalu membuang napas dan buru-buru menghapusnya lagi.

Hei, aku baru baca artikel, katanya sarapan dan minum vitamin itu tidak boleh sampai terlewatkan jika ingin sehat.

“Aku seperti orang bodoh.” Dihapusnya kembali pesan yang baru diketik.

Jangan sakit.

Runa menggeleng sendiri, menghapusnya dan mengetikkan kalimat lain.

Kwon Runa:

Jangan membuat Seunghee khawatir dengan tidak sarapan dan melupakan vitaminmu.

“Oh Seunghee, aku akan berhenti menggunakan namamu lain kali,” gumamnya pelan. Sadar diri jika ia terlalu pengecut dan penuh lumuran dilema sekarang.

Kegiatan nongkrong bersama selain mereka isi dengan obrolan, pun diisi dengan pembahasan mengenai kemajuan tugas penelitian kelompok mereka. Kemudian setelah semua selesai, tentu saja Runa dan Jungkook harus berpisah dengan Seunghee untuk pergi ke minimarket.

“Jungkook,” untuk memulai sebuah konversasi, sebuah panggilan Runa layangkan. Karena tahu dirinya tidak akan mendapat tanggapan seperti ‘iya’, ‘kenapa’, atau sekadar ‘hm’-pun, gadis ini langsung masuk pada topik yang ingin ia perbincangkan, “Jawab ini. Apa menurutmu lelaki―”

“Aku malas bicara.”

“Setidaknya dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!” Sebuah tepukan kesal Runa sarangkan ke lengan sang lelaki. Begitu keras kepalanya ia karena memaksakan diri untuk melanjutkan ucapan yang sempat terputus tadi, “Apa seorang lelaki mudah menghilangkan perasaan setelah ditolak? Dan apa lelaki lebih suka hubungan tanpa status sejenis … teman rasa pacar?”

Jungkook terlihat berpikir sejemang. “Kurasa kalau itu Oh Sehun, jawaban untuk pertanyaan pertama adalah tidak.” Tak sampai sedetik, Runa sudah menanggapi, “Bagaimana kau bisa tahu?” Tahu tentang siapa lelaki yang dibicarakan, pun dengan jawabannya.

“Aku hanya menjawab, bukan memaparkan alasan jawabanku.”

Ada jeda diam yang lama hingga Jungkook menuturkan jawabannya untuk pertanyaan kedua, “Masalah teman rasa pacar kurasa terdengar menyenangkan. Mungkin sebagian besar lelaki berpikir begitu, berada di dalam hubungan yang bisa melakukan ini-itu seperti sepasang kekasih, namun di sisi lain bisa berpindah incaran sesuka hati. Suatu keuntungan yang besar.”

Tadinya Runa hampir membesarkan hatinya berkat jawaban pertama Jungkook, tapi begitu mendengar jawaban kedua mendadak ia lemas lagi. Sekarang sudah jelas. Penuturan Jungkook kelewat cocok dengan keadaan Irene dan Sehun.

“Tapi kalau Oh Sehun … mungkin dia benar-benar serius.”

Runa mengangkat kepalanya, “Kau hanya membesarkan hatiku.” Dan yang Jungkook lakukan adalah berdecih lalu melangkah lebih cepat untuk sampai di minimarket. Ada sebuah dorongan yang membuat Runa menilik ponselnya. Seperti yang ia duga, tak ada sebuah pesan balasan atau apa pun sejenis itu di sana.

“Serius pantat kuda!” Dia mengeratkan gigi-giginya, “Ah, tidak tahu, deh! Aku tidak mau mengurusinya lagi!”

.

Seharusnya keadaan menjadi seperti apa yang Runa bayangkan: pekerjaan selesai dengan baik dan ia akan cepat-cepat pulang untuk menyelesaikan tugas. Namun begitu menyadari eksistensi Sunyoung di minimarket, Runa tahu persis akan ada yang tidak beres setelah ini.

“Jangan katakan pada Ayah kalau aku di sini.”

Anehnya, Sunyoung terlihat tidak kaget sama sekali, “Aku akan melakukannya dari dulu jika aku ingin.” Bukankah ini tandanya ia sudah mengetahui apa yang sang sepupu lakukan sejak lama? Diam-diam Runa merasa berhutang berterima kasih.

“Lalu kenapa baru bilang?”

“Paman …” Sunyoung tahu ada rasa tegang yang dipancarkan manik sepupunya, “Paman Oh tahu kalau kau tidak pernah ikut les semester ini. Dia menelpon tempat les tadi pagi dan mendapati tak ada namamu dalam daftar absensi. Aku diminta mencarimu.”

Hanya gumaman ‘sial’ yang dapat Sunyoung dengar.

.

.

.

.to be continue

SUKURIN LU GALAU, SALAH SENDIRI, DASAR/nid

Mulai keliatan tuh yaampun keponya, dasar gengsian sih 😦

Sebenernya aku tu pingin ngobrol banyak, tapi ya Allah, nyuri-nyuri ngejadwal aja seminggu sekali :'((((( Yaudah hehe gapapa yang penting update :3 Semangat yang hampir UAS, atau udah UAS? Aku UAS juga nih wkwk Makanya itu belum bisa janji minggu depan update u.u Ya tapi aku usahakan ya sayang wakakak

Eh iya, mau tanya aja nih. Kalok semisal ada ff baru, kalian lebih suka ke genre apa? Psikologi atau Adventure atau Campus Life? Aku ada beberapa konsep tapi masih bingung wkwk Udah milih satu sih buat rilis habis 2nd Grade, tapi masih belum yakin ahaha :’v Ya gitu aja sih hehe. Makasih ya kalian ❤

P.s: Pict Runa besok yah :3 Baru liat komenan barusan waktu ngejadwal, belum siap-siap Runanya/gagitunid.

.nida

22 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 27]”

    1. iya sehun, jangan nyerah, entar ff-nya gak laku :(( /gagitu nid/ /bakar nida/ wkwkw gak, candaaa wkwk
      iya tunggu yaa ahaha maapin nih ah aku lelet banget updatenyaa, maaf yaa u.u tapi ciyusan makasih loooooh udah mau ngikutin terus sampe sini ❤ unch lah :* terbaeqqq

    1. iya dia mah udah gengsi, malah dilema, emang gajelas /tampar runa/ /dibejek
      oh gabisa, yang jadian sama sehun itu aku /dibakar/ /gakding
      IYA MAMASIH UDAH DISEMANGATIN ❤ ya allah seneng wkwk makasih udah ngikutin ff ini terus u.u jadi merasa bersalah aku sering telat update, makasih ya pokoknyaaa :*

  1. Aduuuhhh gw kira TBC.y bakal ketemu sehun.. malah sunyoung😑
    Ini ff ni kog greget amat ya..bener2 seperti kehidupan nyata…
    Aaaaaaaaa sukaaaaa

    1. ahahaha bentar, benar lagi koook wkwk sunyoung lagi ngeeksis dolooo wkwk
      kehidupan nyata sebenernya lebih ngedrama :’) /itu elu nid/ /ga/ /kok…. /abaikan
      uuu makasih yaak udah mau ngikutin ff ini terusss, aku usahain cepet kelar biar gak pada ngerasa digantungin :’v digantungin gebetan aja udah susah :’) /udah nid
      btw makasih banyakkkk ❤

  2. Galau deh rindu Sehun. 😀
    ff ini tuh slh satu yg paling ditunggu. Seminggu sekali update jga udh makasih bnget, bisa ngobatin reader yg nunggu cerita ini. Semangat terus buat chapter selanjutnya, gk sabar Sehun-Runa 🙂

    1. iya, orang sejenis sehun gak digalauin tuh sayang /plak
      maapin yak aku kebanyakan late update huhuhu tapi makasih banyakkk tetep mau ngikutiiin, aku usahain cepet kelaaarrr, makasih banyak udah bacaa, sayang deh pokoknyaa ❤

    1. wkwk masuk akal tapi sebenernya tetep aja penuh drama, drama idup /nid
      makasih banyaaaaaakkkk, ujianku gak lancar-lancar amat kemarin 😦 tapi untung gak remed :’) masih was was sih ipk-nya naik apa engga :’) btw makasih banyak sekali lagii ❤

    1. wkwk
      makashi yaaa masih mau ngikutin dan ninggalin komen di ff super lelet update iniiii, aku harap ini ff cepet selese :’v makasih banyak pokoknyaaa ❤

    1. sebenernya sehun rindu aku /lalu hening/ /lalu ditampar/ /g
      yashh, emang kalok kangen siapa yang bisa nolak yak :’v
      sunyoung timbul tenggelam dia wkwk
      makasih banyak lohh udah ngikutin ff super lelet update ini, ya allah seneng masih ada yang baca :’) makasih banyakkkkk, sayang deh {} semoga ff ini cepet kelar wkwk

  3. Thx nid dah munculin 백 wlw bentar ☺ jg scene ‘progres’ seungheexjungkook 😊
    Ur imagination saat galau tu plot soap opera yg dah terlalu mainstream runa~야 😆 ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Deuh, yg mo mentas sbk bgt menyibukan diri lthn smbl mnata ht 😀 pasca di tolak.
    Sialan sunyoung! 😤 brani2ny bw 찬 nginep di rmh runa /wlw dah nbak sih wkt dy ‘stngh’ info ke runa mlm’ny.
    찬 dngr ga smua kata2 runa ke sunyoung sblm prg? Smoga dngr ya.
    Boleh jg tu ‘tmn rasa pcr’ 😁
    Hm.. Klo nex ff stlh 2nd grade ini yg campus life brasa jd sequel’ny 😍 mau genre apa pun klo bwtn author ksayangan ‘of course’ starring by bias ksayangan pasti dinanti 😁

    1. ahaha aku juga sebenernya kangen interaksinya bekyun sama yg lain kak wkwk tunggu yah entar dia ngeeksis lagi koook
      rightttttt wkwkw runa kebanyakan makan opera sabun jadi pikirannya kemana mana tuh wkkww
      insiden penolakan agak agak sensitip gitu deh jadi yang ditolak jadi hmmmmmmmmm/apasihnid
      motif sunyoung belum diketahui dengan pasti :’v tapi seenggaknya dia jadi tau hubungan runa-chanyeol sebenernya gimana wkwk
      eaaaaaaaaaaaaakkkk definisi temen rasa pacar itu sesungguhnya menggiurkan :3
      IH TERHARU WKWK 2nd grade versi campus life wkwk tapi belum kepikiran, walau pingin hihi takut kepanjangan :’v yang ini aja lelet updatenya :’) syedi dd
      btw makasih ya kakniiinndyyy, udah ngikutin ff late update ini dengan setiaa, sayang banget deh unch unch unch {} aku lagi berusaha biar cepet kelaaarr, makasih kakaaa ❤

  4. Hahahaha giliran ga dhubungin sma sehun galau deh runa..eh tpi kesian jg chanyoel dbiarin aj druang tamu ga d apa2in..kan mubajir d anggurin..sni buat q aja hahahahahah
    Fighting thor!mkin ga sbar nggu kelanjutanny gmna

    1. yaa gitu, gengsian sih dia, padahal tinggal bilang iya aja yak 😦 /nid
      wakakak kehadiran canyol yang cuma sekejap ternyata diperhatikan juga, ia dia kasian aslinya, serba salah mau gimana dia teh, sok atuh ambil aja /plak
      makasih yaaaaaa, makasih banyak banyak semangatnya, makasih juga udah mau ngikutin ff telat update ini, aku usahain cepet kelaaarrrr, makasih banyak unch:* ❤

    1. iya tuh galau galau sendiri runa mah 😦
      wkwk sehun semedi dulu :vvvv
      makasih ya udah ngikutin ff ini walau akunya kadang telat update, makasih bangeeeettttt ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s