[EXOFFI FREELANCE] Love Myself, Love Yourself (Chapter 1)

love myself, love yourself.jpg

|  Love Myself, Love Yourself  |

| Oh Sehun & Byun Mora |

| Byun Baekhyun, Lee Jieun (IU) |

| Romance x Fantasy |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Jika kau ingin menghancurkan hidupmu,

Lakukan secara diam dan tenang.

Jangan membuat orang lain yang melihatnya

Merasa bersalah karena sudah membiarkanmu.

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

—×◦ L.M, L.Y ◦×—

In Author’s Eyes. . .

    Sekitar dua puluh menit yang lalu, Mora yakin, dia sedang berkeliaran di sudut jalan kota Seoul. Seperti malam-malam sebelumnya, gadis itu menjelajahi sudut kota mencari tempat untuk membuka pintu dimensi.

    Tapi dering telpon menginterupsi kegiatan yang sedang dia lakukan, lalu tanpa pikir panjang Mora segera menuju tempat ini.

    Gedung besar di hadapannya adalah bukti dari tindakan ceroboh gadis itu, alih-alih mendengarkan peringatan sang pemilik telpon agar tidak datang ke sini. Sedetik pun, tak ada keraguan dari Mora untuk menginjakkan kaki di kantor polisi.

    Ini hampir tengah malam, jadi wajar saja jika suasana gedung yang sedang dia masukki terasa sepi. Hanya ada beberapa petugas dan calon narapidana lainnya, lalu salah satu dari mereka adalah sang mpuh-nya masalah. Siapa lagi? Kalau bukan, Oh Sehun. Bukankah baru dua hari yang lalu Pemuda Oh itu keluar dari rumah sakit? Dan hal pertama yang Mora ketahui setelah menghilangnya Sehun adalah keberadaan pemuda itu di kantor polisi.

“Apa anda, Byun Mora?”

“Ya, saya wali dari Oh Sehun.”

    Setelah menyelesaikan beberapa dokumen, akhirnya Sehun dibebaskan dari kantor polisi. Kini Mora memimpin jalan menuju keluar gedung, lalu Sehun mengikuti gadis itu tanpa suara.

    Mora terlalu malas untuk membuka konversasi. Lagipula, untuk apa dia memulai pembicaraan jika kalimat ‘terima kasih’ tidak akan gadis itu dapatkan.

    Mereka berada di halaman gedung, lalu Sehun mempercepat lajunya hingga pemuda itu berada tiga langkah di depan Mora. Sehun menghentikan langkah, lalu Gadis Byun itu ikut berhenti dan menatap heran pada sang pemuda.

“Aku sudah bilang untuk tidak datang, bukan?”

    Ding dong! Mora benar, bukan? Tak ada ucapan terima kasih untuknya. Bukan hal yang sulit membaca pola pikir, Oh Sehun.

“Lalu, kenapa kau menghubungiku?”

    Sehun berbalik, sesaat Pemuda Oh itu hanya diam menatap Mora. Entahlah, Gadis Byun itu tidak berminat mengetahui isi kepala dari seorang, Oh Sehun.

“Karena aku tidak ingin menghubungi siapa pun, jadi polisi itu mengambil smartphone-ku. Lalu, dia melihat nomormu yang dengan sengaja kuberi nama ‘wali di rumah sakit’. Lagipula, aku sudah berteriak di telpon agar kau tidak perlu datang.”

    Entahlah, Mora tidak tahu. Fakta mana yang membuatnya lebih terkejut, tentang Sehun yang begitu aneh memberi nama pada nomor telpon seseorang—Gadis Byun itu bahkan ragu, Sehun mengetahui nama-nya meski mereka sudah beberapa kali bertemu—atau kenyataan bahwa dia sendiri, lagi-lagi melibatkan diri dengan masalah Pemuda Oh itu.

    Agaknya, Mora mulai menyetujui ucapan Baekhyun. Pria Byun itu mengatakan bahwa Mora cenderung menganggap diri sebagai seorang pahlawan, dan orang-orang di sini berpendapat Gadis Byun itu memiliki sindrom Hero complex.

“Sejujurnya, apa yang kau inginkan dariku?”

    Gadis itu menghela napas pasrah, apa semua orang punya pikiran yang sama? Baik di dunia asalnya maupun di sini, semua orang selalu mempertanyakan alasan dibalik sebuah bantuan. Sungguh! Gadis itu tidak tahu bahwa sebuah kebaikkan bisa terlihat menjadi suatu hal yang jahat di mata orang lain.

“Tidak ada, Tuan Oh Sehun.”

    Tentu saja! Pemuda Oh itu menatap Mora tak percaya. Lagi-lagi, Gadis Byun itu mendapati Sehun sedang memikirkan suatu hal.

“Apa kau tertarik padaku?”

    Sungguh! Dari puluhan alasan yang ada, kenapa Sehun memilih jawaban yang paling konyol? Bahkan, Mora tak bisa mengatakan apapun untuk menyanggah tuduhan dari pemuda itu.

“Maaf, tapi aku tidak bisa memberikan hal yang kau inginkan.”

“Oh! Terserahlah.”

    Mora tak akan mengatakan apapun! Menjelaskan suatu hal pada seorang, Oh Sehun adalah tindakan yang sia-sia. Itu sama saja dengan berbicara pada tembok, Tuan Muda Oh itu tidak akan berubah pikiran. Karena Mora tahu, Sehun selalu menganggap pendapatnya sebagai suatu kebenaran.

    Gadis Byun itu menatap malas kepergian Sehun, Oh Sungguh! Dia tidak pernah sejengkel ini dalam menghadapi seseorang.

“Lain kali, aku tidak akan memikirkan bahwa itu sebuah pelanggaran atau sebuah tindak kejahatan. Aku benar-benar akan memberikan sengatan listrik padamu hingga kau jatuh pingsan!”

    Tatapan marah mengikuti Sehun yang baru saja melewati Gadis Byun itu, Tuan Muda Oh itu meninggalkan Mora dengan mengendarai motor sportnya.

    Sehun membelah jalanan malam kota Seoul, pemuda itu menarik gas motornya hingga dia berhenti di sebuah rumah yang cukup besar. Setelah memarkirkan kendaraan, Sehun berjalan menuju dalam rumah. Suasana sungguh hening, semua pelayan sudah beristirahat.

    Ada satu orang yang masih terjaga dan menyambut kedatangan Sehun, kepala pelayan yang bertanggung jawab atas rumah ini.

“Selamat datang, Tuan Muda.”

    Pemuda Oh itu hanya memberi anggukkan atas salam yang dia dapatkan.

“Sore tadi, paman anda datang berkunjung untuk menyampaikan pesan bahwa besok ada pertemuan di perusahaan.”

“Wah! Tua bangka itu bahkan tahu aku sudah pulang ke rumah,”

    Sehun berlalu begitu saja dan masuk ke dalam kamar, Pemuda Oh itu menghela napas sambil melemparkan diri ke atas ranjang. Kemudian, dia melirik pas photo yang cukup besar terpajang di dinding kamar.

    Ada mendiang orang tuanya dan Sehun kecil di sana. Enam tahun berlalu setelah kepergian mereka, rumah ini terasa sepi. Semenjak orang tuanya meninggal, anggota keluarga lain mulai menunjukkan wajah asli mereka. Saudara dari ayahnya mulai mendebatkan tentang keberadaan Sehun dan mencoba untuk merebut apa yang telah diberikan pada Pemuda Oh itu.

    Tentu saja! Tak akan sulit menghilangkan keberadaan Sehun yang dianggap sebagai sumber pembuat masalah. Tapi Pemuda Oh itu bukanlah seorang yang bodoh, dia tak akan membiarkan begitu saja hasil perjuangan dari kedua orang tuanya direbut oleh orang-orang serakah.

    Sehun bangkit dari ranjang, dia membuka laci kecil di samping tempat tidur. Ada sebuah kalung berbandul batu permata putih dan sebuah surat yang sedikit lusuh, pemuda itu sudah berkali-kali membacanya. Hanya surat itu yang bisa sedikit mengurangi rasa rindu pada orang tuanya.

×◦◦×

In Mora’s Eyes . . .

‘Ting!’

    Pintu lift tertutup dengan sempurna, aku hanya termenung menatap pantulan diri sambil mengeratkan pegangan pada tas.

Nampaknya, Seoul merupakan pilihan buruk untukku. Memiliki tetangga yang tidak punya rasa terima kasih dan cenderung menyakiti diri, tidaklah cukup sebagai sumber masalah. Oh tentu saja! Ada satu masalah yang datang lagi, ini masalah pekerjaan. Sudah dua minggu berlalu dari tanggal penerimaan uang hasil kerjaku, tapi salah satu perusahaan dimana tempatku mengirim sebuah tulisan belum juga membayar.

Tidak! Itu bukan berarti aku sama sekali tidak memiliki uang, tabunganku lebih dari cukup untuk menanggung biaya kehidupan sehari-hariku untuk beberapa bulan ke depan. Hanya saja, itu hasil kerja kerasku tak seharusnya perusahaan besar seperti itu melakukan tindakan yang tidak adil.

Begitu pintu lift terbuka, aku segera mengambil langkah untuk keluar dari situ.

Aku tertegun mendapati dua orang yang tak asing sedang melakukan konversasi, mereka berdua berada tak jauh dariku. Bahkan, aku bisa mendengar suara mereka.

“Lama tidak melihat anda, Tuan Oh Sehun. Apa anda baik-baik saja?”

    Adalah suara Pak Lee yang bertanya dengan ramah pada Sehun. Aku dapat melihatnya, ada raut khawatir dari beliau. Itu bisa dimengerti, terhitung hari ini, sudah tiga hari Pemuda Oh itu tak menampakkan diri di gedung apartemen. Tapi sayangngya, itu tak berlaku padaku. Mengingat tingkah laku Sehun semalam hanya menambah buruk hariku.

    Mungkin, pertanyaan Pak Lee diakibatkan beberapa luka kecil yang terdapat pada wajah Pemuda Oh itu. Sedangkan terakhir kali beliau melihat Sehun dimana pemuda itu harus dibawa ke rumah sakit. Lihat! Bagaimana mungkin orang-orang di sekitarnya tak merasa cemas jika dia sendiri tak bisa menghargai sebuah kehidupan.

“Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya,”

    Kuakui, tak ada kesan dingin dalam nada suaranya. Hanya datar dan tak ada emosi, tapi itulah yang membuatku geram. Apa Tuan Muda Oh ini tak dapat mengucapkan terima kasih? Pak Lee sudah menolongnya bahkan menanyakan keadaan pemuda itu. Oh sungguh! Ini sudah sangat keterlaluan.

    Meski Pak Lee hanya tersenyum maklum pada Sehun dan beliau sudah kembali pada rutinitasnya—mengawasi orang-orang yang berada di depan pintu masuk gedung—

    Sedikitpun, aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Meski tatapan tajam yang kudapatkan dari Sehun, mengisyaratkan untuk menyingkir dari depan pintu lift.

“Aku tak punya waktu berurusan denganmu,”

“Oh tentu saja! Tuan Muda Oh yang terhormat sepertinya sedang terburu-buru. Bahkan, untuk bersikap sopan pada seseorang pun anda tak memiliki waktu.”

    Sehun menampakkan wajah tak suka atas ucapanku. Sayangnya, aku tidak peduli dengan hal itu.

“Hentikan! Sikapmu yang kekanak-kanakkan itu, Oh Sehun.”

    Pemuda itu mendengus ketika mendengar ucapanku, dia mengambil satu langkah mendekat padaku.

“Tidakkah itu ucapanku? Kau yang harusnya berhenti mencari perhatianku dengan mencampuri semua urusanku,”

    Aku tertawa geli mendengar ucapannya. Ah! Betapa lucunya pola pikir dari Tuan Muda Oh ini, apa dia tak bisa memikirkan alasan lain yang lebih masuk akal?

    Kuhentikan tawaku dan kembali memberi tatapan serius pada Sehun.

“Yah, aku terlalu malas menjelaskan hal itu padamu. Tapi, aku punya satu saran bagus untukmu.”

    Tangan kananku yang kosong, ku ulurkan pada jemari kiri Sehun. Sesaat, dia menatapku dengan wajah heran. Lalu, beberapa detik kemudian pemuda itu terkejut dan menghepaskan tanganku.

    Tingtong! Tepat sekali! Aku menghadiahkan sebuah sengatan listrik kecil pada tangannya. Lagipula, Sehun tak akan berpikiran yang macam-macam. Pemuda itu pasti akan berpikir aku memegang sebuah alat sentrum kecil di tangan. Wah! Padahal semalam aku sudah bertekad membuatnya jatuh pingsan.

“Jika kau ingin menghancurkan hidupmu, lakukan secara diam dan tenang. Jangan membuat orang lain yang melihatnya merasa bersalah karena sudah membiarkanmu, bukankah kau tidak ingin dikasihani?”

    Aku tak tahu, bagaimana reaksi Sehun atas ucapanku. Dan sayangnya, aku juga tak ingin tahu pikiran apa yang dimilikki pemuda itu setelah mendengar ucapanku. Aku pergi begitu saja dan tanpa sedikit pun menoleh, melenggang pergi meninggalkan gedung apartemen.

    Jika boleh jujur, aku sama sekali tak ingin mengucapkan hal itu. Tapi berbicara baik-baik pada Sehun tak akan membuahkan hasil, pria itu selalu menganggap dirinya lah yang paling menderita hingga bantuan ataupun saran dari orang lain tak akan pernah diterima atau didengarnya.

    Tak jauh dari gedung apartemen, aku berhenti di sebuah minimarket. Membeli sebotol minuman berenergi dan mengistirahatkan diri di kursi yang tersedia.

    Berkali-kali, kucoba untuk menenangkan diri tapi suasana hatiku tidak juga membaik. Bagaimanapun masih ada satu masalah yang harus kuhadapi, jika perusahaan majalah itu tetap saja tak ingin membayar. Mungkin, hari ini tanpa sadar aku akan menghancurkan seisi gedung perusahaan itu.

    Sekitar tiga puluh menit, aku berdiam diri. Akhirnya, aku kembali melanjutkan perjalanan. Awalnya, aku berniat untuk naik taksi tapi perasaanku masih belum membaik. Kupikir, menghabiskan waktu dengan berjalan menuju kantor majalah itu bukanlah pilihan yang buruk. Lagipula, cuaca sedang tidak panas malah sedikit berawan. Mungkin, sore atau malam nanti akan turun hujan. Jadi, sebelum pergi tadi aku kembali masuk ke minimarket untuk membeli payung hanya untuk berjaga-jaga jika hujan turun.

    Yah, aku tak akan berhemat. Lagipula, kali ini aku sungguh berniat untuk pulang ke tempat asalku. Jadi, tidak ada salahnya kuhabiskan semua uang yang sudah kuperoleh.

    Aku tak percaya, butuh waktu cukup lama untuk sampai ke kantor ini. Kupikir, aku sudah berjalan selama empat puluh menit. Harusnya, aku naik taksi saja.

    Lima belas menit sudah berlalu, tapi manager yang bertanggung jawab atas penerbitan karya tulisku masih belum juga menunjukkan batang hidungnya. Oh ya ampun! Bagaimana cara perusahaan ini mendisiplinkan karyawan? Berapa lama lagi aku harus menunggu?

    Kulirik dua orang yang berada di samping kananku, mereka sudah lebih dulu datang. Dari raut wajah mereka yang terlihat masam, sepertinya mereka sudah lama menunggu. Jadi, kuputuskan untuk membuka konversasi dengan mereka.

“Maaf, apa kalian sedang menunggu manager Ahn?”

“Iya, kami sudah menunggu hampir dua jam. Tapi dia masih belum datang juga,”

    Dua jam? Astaga! Jika itu aku, sudah pasti sejak lama kutinggalkan tempat ini. Entahlah, aku merasa dia tidak akan datang. Jadi, kuputuskan untuk menyelinap masuk ke dalam kantor lebih jauh. Yah, siapa tahu ternyata dia sedang bersembunyi.

    Saat aku berniat untuk menaikki tangga, kudapati sebuah pintu keluar dan sebuah koridor yang menghubungkan dengan gedung di sebelah. Itu aneh, bangunan sebelah terlalu sepi. Tak ada satupun orang atau karyawan yang berada di sana.

    Jadi, aku memutuskan untuk berjalan ke sana. Setelah memperhatikan sekitar dan merasa tak ada orang, segera kupacu lajuku memasukki gedung sepi itu. Mungkin, karena sudah terlatih jadi aku dapat merasakan ketika seseorang berjalan mendekat.

    Secara spontan, aku segera bersembunyi di sebuah ruang kecil dekat pintu masuk gedung. Ketika kusadari, itu adalah gudang penyimpanan alat-alat kebersihan—terdapat sapu, penyedot debu, kain pel, dan peralatan lainnya—

“Saya sudah mengamankan tempat ini, tak akan ada yang curiga jika kita membawa tuan muda.”

    Oh tidak! Sepertinya aku terlibat dalam masalah lain. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku ikut campur dalam masalah ini? Oh ya ampun, sepertinya nyawa seseorang sedang dipertaruhkan.

    Setelah mendengar langkah kaki itu menjauh, aku memberanikan diri membuka pintu dan mengintip keluar. Tidak ada siapa-siapa di sini. Kupikir, aku tak bisa diam saja. Tapi bagaimana caraku menolong orang itu, bahkan wajahnya saja aku tak tahu.

“Haruskah aku membuat keributan kecil? Tapi apa?”

    Aku bergumam pada diriku sendiri, menguras otak mencari jalan keluar untuk masalah ini. Pandanganku mengawasi sekitar, mataku terpaku pada alat pencegah kebakaran yang berada di langi-langit gedung.

“Baiklah, mari kita buat sebuah pertunjukkan kecil.”

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

    Sehun tahu, sekarang situasi sedang buruk. Pemuda itu sedang terdesak, semua orang yang berada di dalam ruangan ini tak menginginkan keberadaannya.

“Jangan mempersulit hal ini, Sehun-a. Kau hanya perlu menandatangani dokumen itu dan paman akan bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu,”

    Tatapan miris dilayangkan pemuda itu pada paman dan bibinya. Sejak awal, Sehun sudah mencurigai ada hal yang aneh. Hanya saja, Tuan Muda Oh itu terlalu lengah dan menganggap remeh saudara dari ayahya itu.

“Wah! Aku sangat terkesan dengan paman, karena tidak memiliki kemampuan untuk merebut langsung dari ayah. Dengan cara pengecut paman melakukannya,”

    Senyum sinis dilemparkan Sehun. Pemuda itu tahu, dibalik senyum ramah itu, pamannya sedang menahan amarah. Ah! Lagipula untuk apa bersikap sopan sekarang, meski Sehun menandatangani dokumen penyerahan hak milik pun, dia akan tetap diseret ke suatu tempat. Yah, memang cara terbaik adalah menghilangkan keberadaan Sehun dari dunia ini.

    Kalau boleh jujur, sejak tahu kedatangan dia kemari adalah sebuah kesalahan. Sehun mencoba untuk tenang dan memikirkan cara agar bisa lolos dari sini. Yah, meskipun pemuda itu tahu tempat ini pasti sudah dipenuhi dengan orang-orang dari pamannya.

    Bahkan, Sehun sama sekali tak menyentuh minuman itu. Siapa tahu, teh yang berada di depannya ini sudah diberi racun atau obat tidur.

“Sayang sekali, padahal aku sudah mencoba bersikap baik padamu.”

    Sehun melirik bibinya yang sejak tadi hanya diam, beliau memberikan kode pada sekretarisnya yang segera membuka pintu ruang rapat itu.

‘Ring!ring!ring!’

    Itu suara alarm kebakaran dan tak lama kemudian air keluar dari langit-langit gedung, membasahi semua orang dan dokumen-dokumen yang terletak di atas meja.

“Tuan segera keluar dari gedung ini! Sepertinya terjadi sesuatu,”

    Salah satu pengawal dari pamannya masuk dan memberi peringatan, segera saja paman dan bibi Sehun berlari keluar. Ah, tidak lupa juga mereka meninggalkan Sehun sendirian di ruangan itu. Pemuda Oh itu sama sekali tak beranjak, pakaiannya sudah basah kuyup karena terkena air dari alat pencegah kebakaran.

    Sehun terlalu marah, mata pemuda itu masih terpaku pada dokumen yang berada di depannya.

‘Dap!dap!dap!’

    Tuan Muda Oh itu merasakan air tak lagi mengenai-nya, Sehun mendongak dan mendapati seseorang sedang memegang payung melindunginya dari air.

“Kenapa kau masih di sini?”

    Mora, itu Byun Mora. Bagaimana bisa gadis itu berada di sini? Mora menepuk pelan punggung Sehun. Mungkin, menyadarkan pemuda itu atau hanya sekedar memberi semangat padanya.

“Tegakkan punggungmu, Oh Sehun. Jangan lemah begitu! Beri pelajaran pada mereka,”

    Sehun tertegun mendengar ucapan gadis itu, itu benar! Dia adalah pemilik di sini. Sehun bisa melakukan apapun dengan warisan yang sudah diberikan ayahnya. Pemuda Oh itu tiba-tiba saja berdiri, Mora yang berada di sampingnya sedikit terkejut. Tapi dia tetap melindungi Sehun dari guyuran air, meski sekarang dia tengah kesusahan karena perbedaan tinggi badan mereka.

    Tuan Muda Oh itu melangkah keluar ruangan dengan Mora yang masih setia di sampingnya, memegang payung dan melindungi pemuda itu dari air. Sehun melirik beberapa pengawal yang jatuh pingsan di lorong koridor, pemuda itu sedikit penasaran akan hal yang terjadi tapi dia tidak terlalu mengindahkannya.

    Setelah keluar dari gedung, Sehun mendapati paman dan bibinya yang masih sibuk mengeringkan diri. Pemuda Oh itu datang mendekat dan memberi hormat.

“Senang bisa bertemu dan berbicara dengan paman dan bibi, tentang hal yang kita bicarakan tadi. Sejujurnya, aku sudah memiliki rencana sendiri untuk menyumbangkan semua hasil kerja keras ayah pada orang-orang yang lebih membutuhkan.”

“Kau!”

    Sehun tersenyum manis menanggapi kemarahan pamannya, lagipula ada banyak orang yang melihat mereka. Tidak mungkin, pamannya akan bertindak bodoh.

“Sampai jumpa, paman dan bibi. Masih banyak hal lain yang perlu kukerjakan,”

    Tuan Muda Oh itu berlalu pergi, meninggalkan semua orang yang menatap geram padanya.

    Mora mengikuti Pemuda Oh itu dalam diam hingga mereka berhenti di samping sebuah mobil berwarna hitam, Sehun berbalik dan menatap lurus tepat ke mata gadis itu. Tangan Pria Oh itu terangkat mengenggam tangan Mora yang sedang memegang payung.

“Kau! Byun Mora, mulai hari ini kuizinkan untuk berada di sisiku. Dan kau dilarang untuk meninggalkanku, sebelum aku sendiri yang melepaskanmu.”

    Mata gadis itu membulat besar, menatap tak percaya atas apa yang diucapkan Sehun. Kini Mora benar-benar yakin, dia harus segera pergi dari sini.

—×◦ to be continued ◦×—

JHIRU’s Note :

Annyeong, berjumpa lagi dengan ane^^

Sejujurnya, ketika diriku sedang menulis note ini keadaan ane masih shock diakibatkan adegan buka-bukaan Sehun. Setelah lama gak spazzing tentang Sehun, bahkan ane sudah menduakan eh gak deh mentigakan atau malah mengempatkan. Yah, pokoknya diriku ngelirik ke laki-laki lain di grup sebelah. Di pagi hari yang mendekati siang, ane nemu video Sehun nge-dance di konser tanpa baju atasan cin..

Iya, gak pakek acara buka satu atau dua kancing kemeja lagi tapi ini bener2 di umbar. Ya elah, nih anak ayam makin hot aja. Tahun kemarin, setelah ane kecipratan langsung air suci Sehun rasanya gak ngaruh kalau dibandingin ngeliat nih video.

Pas EXO’rDium ane kecewa gak mampir di sini, tapi klw konser kali ini lewat juga. Kudu nyari kemane ngeliat Sehun yang tambah Hot, oh ya ampun bikin mimisan anak perawan aja. Manalagi, sekarang Sehun gak sekrempeng kayak dulu. Sepertinya, badan Sehun agak berisi y. Pas banget pokoknya.

Ya udah deh, kita hentikan cuap2 gak jelas ini.

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Itu berarti banget buat ane dan memberi semangat buat nulis chapter selanjutnya. Sekian dan terima kasih.

Kunjungi : WordPress | Wattpad | Twitter | Instagram

34 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love Myself, Love Yourself (Chapter 1)”

  1. HAHAHAHA LUCU JUGA SIHH.
    si sehun tbtb kek gt bikin mora bingunnnng
    Tbc nya author pas bgt timingnya, bikin penasaran gmn selanjutnya😆

  2. Ku kira belum up date, eh ternyata aku yg ketingglan. Udah chap 2 malah. Ya udah deh gak papa, mending terlambat dripada nggak sma sekali.

    Keep writing deh author

  3. Uh keren banget seru banget. Bisa gak updatenya 1 mggu dua kali, ceritanya bikin gak sabar 😥 tapi demi Sehun pasti setia nunggu kok 😀 Semangaaat buat next chapter 🙂

    1. Wahh 1 minggu 2 kali…
      tp ane kudu ngrim ff yg lain, sdngkn di sini maksimal 2 ff. Sabar y, klw gak ada halangan ane usaha-in rajin updatenya.
      Terima kasih sudah membaca^^

    1. hahahaha….iya…
      saat pengeditan jg ane bru sadar, ini mirip adegan drama apa y?
      begitu nyadar itu mirip K2, ane langsung rubah adegan payung itu jadi adegan genggaman tangan (Biar romantis aja gitu). Tp begitu masuk ke adegan selanjutnya, penampilan Sehun bner2 gak keren saat memberi peringatan ama paman dn bibinya. masa’ iya udah basah kuyup, eh keluar dr gedung diseret pula ama cewek. akhirnya, ane batalin dn kembali ke ide awal.
      terima kasih udah membaca><

  4. aseekkk,,sok cool deh anak ayam…kemaren aja ga mau dibantu lha skarang ga ngebolehin pergi..emang sih anak ayam ne terlalu manly untuk ditolak hahahhahahaha
    fighting thor!!!!good job

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s