[EXOFFI FREELANCE] One More Time (Chapter 3A)

Title    : One More Time Chapter 3A “ Bitter Love “

Author    : Whitecreamy

Cast    : Oh Sehun, OC Cho Yoonjung and Jino

Support Cast    : Luhan, Kim Minseok, and Kim Kai (mentioned)

Genre    : Romance, Sad, Angst

Rating    : WARNING PG 17+++

Disclaimer    : I just own the story. Chapter 2 dan 3 menceritakan tentang kilas balik kisah cinta Yoonjung dan Sehun. Please, leave ur comment n like ☺

Summary    :

Previous chater

Sehun dan Yoonjung pertama kali bertemu di festival bunga sakura, Jinhae. Pertemuan itu membawa mereka ada pertemuan berikut nya yang terus membuat mereka menjadi dekat. Mereka menyadari telah saling jatuh cinta, akhirnya mereka pun menjadi sepasang kekasih. Selama menjalin hubungan dengan Sehun, gadis itu merasa ada yang disembunyikan oleh Sehun. Mobil dan apartemen mewah serta black card ,benarkah itu semua hanya fasilitas kantor?? Hingga akhirnya Yoonjung mengetahui fakta di balik itu semua dari mulut ayah Sehun. Apa yang dikatakan oleh ayah Sehun pada Yoonjung? Apakah gadis itu marah pada Sehun setelah mengetahui yang sesungguhnya?

Beautiful Poster by Byun Hyunji @ Poster Channel

Hari kelulusan itu pun tiba. Dengan jubah hitam dan toga diatas kepala, Yoonjung telah resmi menyandang gelar sarjana seperti yang dia impikan selama ini. Ia lulus dengan nilai sempurna dan menjadi lulusan terbaik tahun ini. Dia mendapatkan banyak sekali ucapan selamat dari teman – teman. Yoonjung terus tersenyum di sepanjang acara wisuda hari itu. Terlebih nyonya Choi yang merupakan ibu kepala panti asuhan datang jauh – jauh dari Busan untuk melihat putri kebanggaannya di wisuda.

Dari banyak nya tamu di acara wisuda itu, Yoonjung juga melihat kehadiran seseorang yang memiliki status sebagai kekasihnya. Oh Sehun hadir di acara itu bersama seorang pria yang baru diketahui nya kemarin sebagai ayahnya. Tuan Oh sangjin. Dua pria itu menjadi pusat perhatian semua orang. Pasalnya, setelah sekian lama menjadi penyumbang dan sekaligus pemberi beasiswa terbesar di universitas itu, ini adalah kali pertama Tuan Oh Sangjin datang dalam acara wisuda. Sebelumnya beliau tidak pernah hadir.

Saat acara telah resmi berakhir, Sehun mencari Yoonjung. Dia ingin sekali mengucapkan selamat juga memberi penjelasan mengenai kehadirannya di acara ini pada Yoonjung. Selain itu, Sehun sangat merindukan Yoonjung. Di hari mendekati wisuda, Yoonjung sangat sibuk, hampir tidak bisa dihubungi maupun ditemui. Menyiksa Sehun karena harus menahan rindu yang sangat dalam pada gadisnya.

Yoonjung sedang berkumpul bersama teman – temannya. Mereka tertawa dan mengambil foto bersama sebagai kenangan. Dari kejauhan, Sehun mengamati gadis nya. Memberi kode agar gadis itu menarik diri dari teman – temannya. Entah gadis itu tidak tahu sama sekali atau pura – pura tidak tahu, tapi Yoonjung terus saja mengabaikan Sehun. Gadis itu seolah menghindari kontak mata yang Sehun lakukan. Ada apa dengan Yoonjung hari ini? Dia terlihat tidak seperti biasanya.Terpaksa Sehun pun mendekat, ia tidak punya banyak waktu karena setelah ini dia harus kembali ke kantor.

“Hun, tolong lepas kan tanganmu!” Yoonjung meronta saat Sehun menarik gadis itu dan membawanya ke tempat yang cukup sepi.

“Aku ingin bicara sebentar dengan mu.” Jelas Sehun lalu melepaskan tangannya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita.” Jawaban yang terlontar dari mulut Yoonjung membuat Sehun tertegun. Nada suara Yoonjung sangat ketus dan sorot mata nya memperlihatkan kekecewaan. Sehun tidak tahu apa yang telah terjadi sebelumnya, hanya saja Yoonjung yang ada di hadapannya saat ini sangat berbeda. Ia tersnyum di hadapan semua orang kecuali Sehun. Wajahnya tampak masam.

“Apa maksudmu dengan tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita?” Alis Sehun bertaut, menatap kekasihnya dengan tajam.

Sehun akhirnya mendapat kesempatan untuk bicara berdua dengan kekasihnya. Ketika suasana telah kondusif, dia menarik Yoonjung ke tempat yang agak sepi dari kerumunan. Ada yang harus dia bicarakan kepada Yoonjung, selain mengucapkan selamat kepada gadis nya itu. Yaitu, perihal kedatangannya ke acara ini bersama pemilik dari Oh group perusahaan yang memberi beasiswa  kepada Yoonjung. Ia takut Yoonjung berpikiran yang tidak – tidak. Maka, Sehun telah mengarang sebuah alasan agar Yoonjung percaya. Alasan yang sama seperti biasanya , bahwa dia hanya sekedar melakukan tugasnya sebagai pekerja magang yang kali ini diberi tugas menemani Sang Bos Besar ke acara ini. Sehun sangat yakin bahwa Yoonjung akan percaya seperti biasanya. Namun, dugaan Sehun ternyata salah besar.

Gadis itu meronta saat Sehun menariknya ke tempat yang agak sepi. Dengan sorot mata tajam yang memancarkan rasa marah dan kecewa, Cho Yoonjung berkata,

“Tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita.” Ucapnya dengan tegas.

“Apa maksudmu dengan tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita?” Alis Sehun bertaut, menatap kekasihnya dengan tajam.

“Aku sudah tahu semuanya. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Nada suara Yoonjung berubah dari tegas menjadi ketus. Matanya masih menatap tajam ke arah Sehun.

“Tolong,jangan membuatku bingung. Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan!” suasana berubah menjadi sunyi beberapa saat. Hingga akhirnya, Yoonjung membuka suara. Dengan sorot mata yang tidak berubah, dengan tegas ia berkata,

“Kau jelas mengerti apa maksudku. Jadi, berhentilah berbohong, Tuan Muda Oh.” Yoonjung lantas pergi begitu saja meninggalkan Sehun yang berdiri terpaku di tempatnya.

Tuan Muda Oh. Cukup satu kalimat itu saja untuk membuat Sehun memahami maksud perkataan Yoonjung. Gadis itu telah mengetahui semuanya. Tentang jati diri Sehun yang sesungguhnya. Sehun menyesal telah membohongi gadis itu tentang siapa dirinya. Tapi Sehun lebih menyesal karena Yoonjung tahu tentang dirinya dari pihak lain. Bukan dari dirinya.

“Bodoh !” Sehun merutuki dirinya sendiri.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang paling bahagia bagi seorang Cho Yoonjung. Ia telah lulus kuliah dengan nilai sempurna, dinobatkan menjadi mahasisiwi teladan dan paling berprestasi di kampusnya. Mendapatkan gelar sarjana seperti yang ia impikan selama ini. Nyonya Choi bahkan datang jauh – jauh dari Busan untuk menyaksikan acara wisuda nya. Seluruh teman – temannya memberikan ucapan selamt juga memberi hadiah kelulusan. Tidak hanya itu, tawaran beasiswa melanjutkan program S2 sudah menanti bahkan beberapa perusahaan sudah menawari Yoonjung sebuah posisi yang cukup bagus untuk ia tempati jika Yoonjung bersedia bergabung. Yoonjung seharusnya bahagia dan bersyukur. Bukannya merenung dan mengurung diri seharian di apartemennya seperti ini. Mengabaikan perutnya yang lapar juga panggilan telepon dan chat dari teman – temannya.

Yoonjung hanya ingin sendiri saat ini. Dia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Pikirannya begitu kacau dan kalut. Di satu sisi ia begitu bahagia dengan semua anugerah yang Tuhan berikan untuknya, di sisi lain nya, Ia begitu tidak bersyukur dengan kisah cinta nya.

Yoonjung sempat berharap bahwa saat wisuda nanti Sehun akan datang. Pria itu memang datang, tapi Yoonjung tidak bahagia. Ia justru sedih. Setelah ia mengetahui kebenaran tentang pria itu, Yoonjung ingin sekali segera pergi menjauh dan tidak berhubungan dengan laki laki itu. Maka dari itu, Yoonjung memilih mengabaikan laki – laki itu selama masa persiapan wisuda.

“Perkenalkan, aku Oh Sangjin. Pemilik Oh Group sekaligus ayah dari kekasihmu.”

Yoonjung terdiam mendengar kalimat tersebut. Beberapa menit dibutuhkan gadis itu untuk mencerna kalimat tersebut dengan baik. Oh Sangjin. Pemilik oh group sekaligus ayah dari kekasihnya, Oh sehun. Otak Yoonjung tiba – tiba terasa ditarik ke beberapa waktu yang lalu saat ia berada di apartemen Sehun. Sebuah foto keluarga yang dipajang di dinding ruang tengah. Seorang laki – laki berwibawa dengan pakaian tradisional Korea, dia adalah ayah Oh Sehun. Laki – laki yang kini duduk di sofa ruang tamu nya. menatap Yoonjung dengan tatapan yang tampak tenang namun sesungguhnya menimbulkan efek yang mengerikan bagi tubuh Yoonjung.

“Ada apa nona Cho? Kau terlihat begitu kaget? Apakah putraku belum menceritakan apapun tentang diriku padamu?” tanya tuan Oh menatap heran ke arah Yoonjung. Gadis itu tak mampu berkata – kata, hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

“Ah, sayang sekali!” Tuan Oh membenarkan posisi duduknya.”Seharusnya Sehun memberitahu mu tentang diriku. Bukankah latar belakang keluarga sangat penting dalam menjalin sebuah hubungan?”

Yoonjung hanya mampum mengagguk, nyali nya tiba – tiba menciut. Mungkin karena saat ini ia sedang berhadapan dengan pemilik Oh Group yang ternyata adalah ayah kekasihnya. Sebuah fakta yang tidak pernah Sehun beritahukan padanya. Karena ternyata Sehun adalah seorang putra konglomerat. Itulah mengapa Sehun memiliki segala kemewahan yang selama ini ia tutupi dengan dalih fasilitas kantor. Yoonjung tersenyum miris. Kini ia tahu darimana asalnya mobil, apartemen mewah dan black card yang Sehun miliki.

“Jadi, bagaimana hubungan mu dengan putraku? Sejauh apa kalian telah bersama?” Yoonjung tidak segera menjawab. Ia meremas jari jemarinya untuk menghilangkan kegugupannya. Karena demi apapun saat ini Yoonjung sangat gugup dan takut. Kalimat apa yang sekiranya bisa menjawab pertanyaan Tuan Oh dengan tepat?

“Nona Cho? Kau mendengarkanku?”

“Ne.” jawab Yoonjung dengan sedikit bergetar,”Ehm, kami, ehm maksudku aku dan Sehun menjalani sebuah hubungan yang tidak jauh berbeda dengan pasangan lain pada umumnya.”

“Oh,jadi ternyata benar kalau kalian berpacaran ya?” Yoonjung mengangguk dengan takut.

“Hem, aku tidak masalah jika kalian memang berpacaran, tentunya jika hanya untuk bersenang – senang. Sebagai ayah Sehun, aku sangat tahu selera gadis putraku. Dan jika dilihat dari luar, kau sebenarnya tidak terlihat istimewa. Tapi justru itulah yang membuat ku khawatir.” Tuan Oh mengambil cangkir teh hijau nya. Menyesap nya sedikit kemudian meletakkan kembali cangkir itu.

“Sehun ku tidak pernah membantah perkataanku. Anak itu selalu menuruti apa yang aku inginkan. Tapi semenjak dia berhubungan dengan mu, Sehun ku mulai berubah. Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada putraku hingga dia jatuh begitu dalam padamu. Kau hanya gadis sederhana, sangat sederhan nona Cho. Yatim piatu yang tidak memiliki apa – apa selain otak cerdas.”

Yoonjung memejam kan matanya. Berusaha sekuat mungkin menghalau air mata yang hendak menerjang keluar saat ia mendengar kalimat Tuan Cho yang sangat merendahkan dirinya.

“Putraku Oh Sehun sangat lah sempurna. Dia tampan dan juga mewarisi seluruh kekayaan ku, putraku itu juga memiliki hati yang baik. Semua wanita menginginkannya. Termasuk pula dirimu, nona Cho. Tapi sebagai seorang ayah, tentu aku memikirkan yang terbaik untuk putraku.”

“Jadi, nona Cho, tidak masalah jika kau dan Sehun hanya bersenang- senang dalam hubungan ini. Namun jika kau ingin melangkah lebih jauh, aku harap kau memikirkannya lebih dulu. Karena untuk menjadi menantu keluarga Oh, tidak hanya dibutuhkan otak yang cerdas. Tapi juga materi dan kedudukan. Kau…jelas tidak memiliki dua hal itu.” Tegas Tuan Oh sebelum akhinya beranjak dari tempat duduknya.

“Aku harap otak cerdasmu tidak salah dalam mengambil keputusan. Karena jika terjadi sedikit saja kesalahan, kekuasaanku bisa melakukan apapun yang bahkan tidak bisa kau bayangkan,”

Yoonjung dibuat menggigil dengan pernyataan terakhir Tuan Oh. Laki – laki dengan aura berkuasa itu akhirnya meninggalkan apartemen Yoonjung bahkan tanpa perlu mendengarkan sepatah kata pun dari Yoonjung. Beberapa saat setelah Tuan Oh angkat kaki dari apartemennya, Yoonjung masih duduk terpaku di tempatnya tadi. Wajahnya menunduk, menatap kosong lantai apartemennya. Sementara kedua tangannya mengepal, keringat dingin bercucuran dari dahinya.

Otaknya buntu. Tidak ada yang mampu ia pikirkan kecuali kenyataan bahwa Sehun telah membohongi nya. Kini semua kejanggalan dalam hubungan mereka telah terungkap. Mobil dan apartemen mewah sehun, dan juga black card yang dia miliki. Jelas itu semua bukan fasilitas kantor melainkan fasilitas dari ayahnya. Kekasihnya ternyata seorang putra konglomerat, dan dengan bodohnya Yoonjung tertipu.

Tubuh Yoonjung merosot ke lantai. Ia mulai menitikkan airmata. Ia tidak menyangka bahwa hubungan manis nya dengan Sehun selama ini berbalut kebohongan. Pantas saja, Han Soon Hee sempat heran dan kaget saat ia mengetahui sosok kekasih Yoonjung. Han Soon Hee pasti tahu siapa Sehun, mengingat status sosial mereka yang tidak jauh berbeda.

“Bodoh ! Kau bodoh sekali, Cho Yoonjung !” Yoonjung memukuli kepalanya sendiri. Merutuki kebodohan nya selama ini. Seharusnya Yoonjung hati – hati pada Sehun sejak awal, jadi ia tidak terjebak seperti ini. Seharusnya,saat itu Yoonjung tidak dengan mudah menerima perasaan Sehun. Yoonjung tidak pantas bersanding dengan pria sempurna semacam Sehun. Laki – laki itu bak seorang pangeran berkuda putih yang baik dan tampan. Penerus tahta kerajaan. Sedangkan Yoonjung ibarat seorang anak pelayan yang tidak pantas bersama Sang Calon Raja. Tidak pantas dan tidak tahu diri. Oh Group telah berbaik hati memberi beasiswa padanya, maka tidak sepantas nya Yoonjung juga ingin mendapatkan Sang Pewaris Oh Group . Itu namanya tidak tahu diri.

Satu – satu nya hal yang terlintas di benak Yoonjung hanyalah… dia harus menjauhi Oh Sehun !

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” bisik Yoonjung di tengah kegelapan malam. Gadis itu duduk di tepi jendela kamar menata gelapnya langit malam yang tidak berbintang. Gadis itu sedang galau mengenai nasib hubungan nya dengan sang kekasih, Oh Sehun.

Sementara itu di atas ranjangnya, ponsel Yoonjung terus bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Oh Sehun. Yoonjung tahu itu, tapi ia sengaja mengabaikannya. Sudah tiga hari Yoonjung dan Sehun tidak berkomunikasi baik via ponsel maupun bertemu langsung. Mengabaikan semua panggilan masuk dan juga chat yang berasal dari Sehun. Setiap kali Sehun berusaha menemuinya secara langsung, Yoonjung selalu menghindar. Situasi ini sebenarnya sangat tidak nyaman tapi untuk saat ini Yoonjung sedang tidak ingin bicara dengan Sehun, biarlah seperti ini, Yoonjung perlu waktu untuk menenangkan diri.

Yoonjung beranjak menuju tempat tidur. Ponsel nya masih bergetar, panggilan masuk dari Sehun. Yoonjung mengambil ponselnya, gadis itu menekan tombol merah pada layar ponsel dengan segera ia menonaktifkan ponselnya lalu memasukkannya ke laci nakas. Yoonjung naik ke atas ranjang, dia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Gadis itu memejamkan mata, mencoba tidur. Yoonjung berharap segera terlelap tapi justru yang terjadi adalah gadis itu kembali melelehkan air mata.

“Yoonjung, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu!“ Sehun setengah berlari mengerjar langkah Yoonjung menuju halte bis di area apartemen gadis itu.

“Aku sedang sibuk! Lain kali saja.” jawab Yoonjung sambil terus berjalan tanpa menolehkan kepala nya sedikitpun ke belakang.

Ini sudah satu minggu sejak wisuda, dan Yoonjung masih marah pada Sehun. Sesungguhnya gadis itu tidak benar – benar marah, ia hanya sangat kecewa pada laki – laki itu. Tega sekali ia membohongi Yoonjung tentang identitas nya, ditambah lagi dengan kedatangan Tuan Oh Sangjin yang membuat Yoonjung mengalami mental break down. Seminggu ini, Yoonjung lalui dengan rasa tidak percaya diri yang besar setiap kali sedang sendiri. Gadis itu selalu teringat pada fakta bahwa kekasihnya Oh Sehun merupakan putra pemilik Oh group perusahaan yang telah menanggung biaya kuliah Yoonjung. Yoonjung seperti tidak tahu membalas budi, ia justru mengencani pewaris perusahaan itu. Yah, walau ini bukan sepenuhnya salah Yoonjung. Gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa Sehun ternyata “sebesar” ini sejak ia pertama bertemu. Salahkan Sehun yang tidak jujur padanya!

“Yoonjung, aku mohon berhentilah! Kita harus bicara!” Bujuk Sehun lalu menarik tangan gadis itu hingga membuat mereka saling berhadapan. Sehun memandang kedua bola mata Yoonjung mencoba meyakinkan gadis nya,”Hanya sebentar saja.”

“Maaf Hun, aku tidak bisa. Bukankah aku sudah menjelaskan padamu bahwa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku sudah tahu semuanya! Aku tahu siapa dirimu, Hun!”

“Tapi kau mendengarnya dari pihak yang salah!” sanggah Sehun.

“Aku rasa ayahmu adalah pihak yang paling benar untuk menjelaskan semua hal yang menyangkut putranya.” Jawab Yoonjung dengan sinis.

Sehun tidak kaget ketika Yoonjung menyebut ayahnya sebagai pihak tersebut. Karena laki – laki itu sudah menduga sebelumnya. Tidak ada pihak lain yang tidak menyukai hubungannya dengan Yoonjung kecuali ayahnya. Sebagai anak, Sehun sangat mengenal tabiat Sang Ayah. Pria tua itu akan melakukan apapun untuk memisahkan mereka berdua.

“Salah besar jika kau memercayai apa yang ayahku katakan,” suara Sehun melemah, matanya menatap wajah Yoonjung dengan sorot kesedihan. Sedih karena ayah nya selalu saja mengusik kehiduan asmara nya.

“Lalu siapa yang harus aku percayai, hm?” sorot mata Yoonjung menajam, ia lalu melanjutkan,”apa aku harus mempercayai mu yang sudah membohongiku?”

Dada Sehun terasa sakit saat mendengar kalimat itu. Yoonjung sungguh marah padanya.

“Aku tahu bahwa aku bersalah karena itu berikan aku kesempatan untuk menjelaskan”

“Maaf, tapi aku benar – benar tidak punya waktu untuk itu” ucap Yoonjung dengan tegas. Ia melepaskan tangan Sehun dari pergelangan tangannya, kemudian berbalik kembali melanjutkan langkahnya menuju halte bus. Kebetulan sekali bus yang akan ditumpangi Yoonjung sudah tiba, gadis itu langsung masuk ke bus dan mengambil tempat duduk di kursi paling belakang.

Wajahnya tertunduk menatap sepasang sepatu hitam nya. Ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan beberapa kali, lalu gadis itu menoleh ke belakang dari jendela bus, ia menyaksikan Sehun yang masih berdiri di tempatnya tadi.

“Apa yang sudah ayah katakan pada Cho Yoonjung?!” Sehun masuk ke ruangan ayah nya begitu saja, tanpa mempedulikan sopan santun sebagai seorang anak. Tuan Oh yang sedang duduk membaca laporan perkembangan perusahaan nya mengangkat kepala, memandang ke arah putra semata wayangnya yang berdiri tepat di depan meja kerjanya. Tuan Oh menutup buku laporan di hadapannya, ia mengamati wajah putranya yang tampak merah padam, dia tahu putranya sedang marah.

“Sejak kau masih kecil, ayah selalu mengajarkanmu sopan santun. Lalu dimana sopan santun mu sekarang? Kau sedang berhadapan dengan ayah mu!” ujar Tuan Oh dengan tenang meski sebenarnya ia marah dengan kelakuan Sehun.

“Selama ini aku selalu menghormati ayah,menuruti semua perkataan ayah, aku juga selalu mengikuti semua keputusan yang ayah buat tentang hidupku. Tapi, aku tidak suka jika ayah selalu mencampuri kehidupan percintaanku!” Sehun menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan,” tidak cukup kah bagi ayah memisahkan ku dari dua wanita sebelumnya? Lalu sekarang ayah juga ingin memisahkan ku dengan Yoonjung?”

“Semua itu ku lakukan demi kebaikanmu.”

“Kebaikan seperti apa yang ayah inginkan?!”

“Untuk masa depan mu, masa depan ayah, juga perusahaan kita.” Jawab Tuan Oh, lalu berdiri dari tempat duduknya,” dengar anak ku, kau terlahir istimewa, oleh karena itu kau juga harus bersanding dengan wanita yang istimewa pula.”

“Omong kosong !” seru Sehun tak dapat lagi menahan amarah.” Aku tidak peduli bila ayah terus mencoba menghentikan hubungan ku dengan Yoonjung, karena aku juga tidak akan pernah berhenti berjuang untuk hubungan ini.” tegas Sehun. Laki laki itu diam sejenak, menunggu reaksi ayah nya. Namun laki – laki berusia separuh abad itu hanya diam.

Sehun membungkuk pada ayahnya, lalu berbalik meninggalkan ayahnya yang masih terpaku di tempat. Laki – laki itu tidak menyangka bahwa kali ini putranya tidak main – main. Dia sangat serius bahkan berani menantang Sang Ayah. Bagaimanapun, masalah ini tidak bisa dibiarkan. Putranya harus segera lepas dari jeratan Yoonjung.

Kebiasaan Sehun ketika sedang stress adalah menelpon Gege nya sekaligus minum buble tea. Laki – laki itu berada di dalam mobil, terhubung dengan panggilan internasional, karena Luhan sedang berada di China saat ini. Melalui earphone yang tersemat di kedua telinganya, Sehun mendengarkan perkataan Luhan.

“Aku bersyukur ayah ku tidak sekejam itu.” Ucap Luhan setelah Sehun selesai berkeluh kesah padanya,”aku masih ingat dengan gadis bernama Kim Jooeun. Gadis itu langsung menghindarimu begitu tahu identitas mu yang sebenarnya. Kalian bahkan baru masuk tahap pendekatan. Lalu, Bae Irene yang sangat cantik itu. Ayahnya memiliki perusahaan advertising yang sedang berkembang, ibunya seorang dosen, latar belakang nya cukup bagus, tapi ayah mu menolaknya juga. Apalagi, Cho Yoonjung yang hanya yatim piatu, ayah mu sudah pasti menolak. Tuan Oh benar – benar punya selera tinggi soal menantu.”

“Lalu sekarang aku harus bagaimana, Ge?” tanya Sehun mengacak – acak rambut nya dengan frustasi.

“Kau harus segera menjelaskan semua nya pada Yoonjung sesegera mungkin. Aku takut dia termakan ucapan ayahmu yang provokatif itu.”

“Yoonjung sedang marah padaku. Dia menghindari ku selama berhari – hari. Aku sudah mencoba berbagai cara , Ge.”

“Kalau kau sudah mencoba sepuluh kali dan dia tetap menghindari mu, maka kau harus mencoba hingga seratus kali. Jangan menyerah dengan mudah, hm?”

“Ehm.”

“Kau tentu tahu apa yang dia suka dan tidak suka. Jadi selamat beripkir adik ku yang tampan. Aku harus pergi dulu. Bye…” sambungan telepon terputus tiba-tiba

“Ge? Halo, kau masih disitu? Halo…” Ah! Sehun memukul setir mobilnya. Kesal ! Karena Luhan memutuskan sambungan seenak jidatnya. Suasana hati Sehun sedang sangat buruk, Luhan justru membuatnya semakin buruk. Dengan kesal, Sehun melepas earphone dari telinganya. Tangan nya meraih segelas besar buble tea di dashboard, menyesapnya hingga habis. Kedua matanya tertuju pada bola raksasa berwarna jingga yang saat ini bersiap tenggelam. Otak Sehun berusaha mengingat – ingat apa saja yang menjadi kesukaan gadis itu. Setengah jam Sehun habiskan untuk berpikir, namun masih saja buntu. Ia memutuskan untuk pulang, Ia perlu mandi, otak nya butuh penyegaran. Di perjalanan pulang, saat mobil nya berhenti karena lampu merah, Sehun melihat sebuah boneka Teddy Bear yang sangat besar dipajang di toko. Sebuah ide pun melintas di kepalanya.

Tepat pukul tujuh pagi, sarapan telah siap di meja makan. Segelas susu dan roti panggang dengan selai coklat kesukaannya. Yoonjung juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Sudah sekitar seminggu ini ia magang di Departemen Luar Negeri Korea. Salah satu tempat impian nya untuk berkarir. Yoonjung bersyukur karena hari – hari nya dipenuhi dengan kesibukan, sehingga ia tidak terlalu memikirkan masalahnya dengan Sehun. Ya, walau di sela kesibukannya ia masih teringat Sehun. Yoonjung belum mengambil keputusan lebih lanjut tentang nasib hubungannya dengan Sehun. Apakah berlanjut atau tidak?

Bel apartemennya berbunyi, Yoonjung segera berjalan ke depan untuk membuka pintu. Begitu membuka pintu, Yoonjung mendapati sebuah boneka beruang berwarna putih dengan ukuran super besar, bahkan tinggi boneka itu hampir menyamai tinggi tubuhnya. Yoonjung melihat ke kanan dan ke kiri, sepi tidak ada siapapun. Lalu siapa yang menaruh boneka ini di depan pintu apartemannya.

“Hai, Cho Yoonjung ! Selamat pagi!” sebuah suara dengan logat khas anak kecil terdengar dari boneka itu. Tangan boneka itu bahkan bergerak gerak melambai ke arah nya. Yoonjung meneliti boneka itu dengan baik, hingga mata nya menangkap sepatu hitam yang amat dia kenali. Begitu tahu siapa dalang dibalik boneka itu, Yoonjung langsung bergerak masuk dan menutup pintu,vtapi gerakan cepat si pemilik sepatu berhasil mencegah pintu itu tertutup dengan sempurna.

Yoonjung berusaha menutup pintu nya lagi, tapi kaki itu tidak mau menyingki,r bahkan tubuh beruang besar itu merangsek masuk ke dalam apartemennya. Yoonjung terus berusaha mencegah boneka itu masuk tapi apalah daya nya, tenaga si beruang tentunya lebih besar dari tubuh mungil nya.

Yoonjung kini berhadapan pada dalang boneka besar itu, yang tak lain adalah Sehun. Pria itu mengenakan kemeja putih persis seperti warna bulu boneka beruang itu.

“Apa yang ingin kau lakukan Oh Sehun?! Sudah ku katakan, aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu!” melihat wajah Sehun membuat Yoonjung berang. Pagi indah nya terusik oleh pria yang saat ini hanya menatapnya dengan wajah datar.

“Iya, aku tahu, sayang” Sehun tersenyum menggoda Yoonjung,tak peduli gadis itu sedang marah padanya, nyatanya saat Sehun memanggil nya sayang, pipinya terlihat memerah,” sahabat ku ini ingin bicara dengan mu.” Sehun menepuk kepala si Beruang

“Aku tidak punya waktu untuk meladeni mu atau beruang mu ini!” oh ya tuhan! ketus sekali ! Sehun baru tahu kalau kekasihnya saat marah ternyata sangat mengerikan. Yoonjung berlalu mengabaikan Sehun dan beruangnya, menuju ke ruang tengah dimana meja makan nya berada.

Sehun membawa beruangnya mengikuti Yoonjung, gadis itu duduk di kursi makan. Dia mengambil susu sekaligus roti panggang untuk sarapan. Sehun duduk di kursi yang berada tepat di samping Yoonjung. Ia menggerakkan beruang nya ke arah Yoonjung, agar boneka itu seolah memeluk Yoonjung dari samping tapi Yoonjung malah menghindar.

“Hai, Cho Yoonjung !” Sehun menggerakkan tangan beruang itu, mengelus rambut Yoonjung, lagi – lagi Yoonjung menghindar,”perkenalkan aku sahabat Sehun. Namaku…” Sehun berhenti sejenak. Ia belum memberi nama beruang ini,” namaku…. Yehet !” ujar Sehun dengan logat khas anak kecil. Memberi nama sekenanya pada beruang itu.

Yoonjung tertawa meremehkan,”nama yang sangat aneh.” Cibir Yoonjung.

“Ya, namaku memang aneh. Salahkan saja Sehun yang bodoh itu, dia tidak memberikan nama yang bagus untuk ku.” Nada suara Sehun berubah menjadi khas anak kecil yang sedang merajuk. Yoonjung tidak menanggapi, dia memilih meneguk segelas susu yang sudah ia siapkan tadi.

“Oh, bukankah roti panggang isi coklat adalah makanan favorit Sehun? Apakah aku boleh membawanya pulang untuk Sehun? Laki – laki bodoh itu sering tidak sarapan selama kau marah padanya. Dia terlihat begitu mengenaskan.”

Yoonjung pura – pura tidak peduli dengan terus melahap roti panggangnya.

“Beberapa waktu yang lalu, Oh Sehun bercerita padaku kalau kau sedang marah padanya. Itu semua karena si bodoh Sehun itu membohongi mu. Aku kesal sekali padanya! Bagaimana bisa dia membohongi mu? Seharusnya dia jujur tentang siapa dirinya.” beruang itu bergerak – gerak ke arah Yoonjung, kali ini Yoonjung tidak menghindar. Dia membiarkan satu tangan boneka itu berada di lehernya. Yoonjung bisa merasakan kelembutan bulu boneka itu.

“Tapi setelah mendengar alasannya berbohong, aku jadi memahami perasaannya.” Yehet berhenti sebentar, tubuhnya miring bersandar pada sisi meja makan. Seolah sedang menatap Yoonjung.

“Si bodoh itu membohongi mu karena dia takut kehilanganmu.” suara Yehet terdengar seperti seorang anak yang sedang mengaku bohong pada ibu nya,” dia takut apabila kau tahu siapa dirinya yang sesungguhnya, kau akan meninggalkannya. Sebelum nya, Sehun pernah dekat dengan dua orang gadis, yang pertama menjauhi nya setelah tahu status sosial Sehun. Padahal Sehun baru memulai pendekatan . Yang kedua juga gagal karena alasan yang sama. Dan kali ini, bersama Cho Yoonjung, Oh Sehun tidak ingin gagal. Ia tidak ingin mengulang kejadian yang sama.”

Yoonjung berhenti mengunyah, ia meletakkan roti nya kembali ke atas piring. Dia memutar kepalanya ke samping, menatap ke arah si boneka beruang bernama Yehet itu.

“Apa yang dilakukan oleh Oh Sehun memang tindakan yang bodoh. Karena itu dia menyesal. Sangat menyesal. Dia meminta maaf pada mu.” Sunyi, baik Sehun, Yehet, maupun Yoonjung memilih diam.

“Tolong maafkan Sehun, ya?” Yehet bersuara lirih. Menusuk hingga ke kedalaman hati Yoonjung. Jauh di dalam hati nya, ia mulai berpikir untuk memaafkan Sehun.

“Sehun sangat mencintaimu. Bersamamu dia berpikir tentang sebuah masa depan. Masa depan yang hanya dirimu sebagai satu – satunya wanita dalam hidupnya. Tidak ada hal lain yang dia inginkan selain dirimu.”

Yoonjung memainkan jari jemari nya di atas meja. Apa yang harus ia lakukan? Memaafkan Sehun?

“Sehun berjanji tidak akan membohongi mu lagi. Jadi tolong maafkan dia ya? Kalau sampai dia menyakiti mu lagi, aku akan memukul wajah nya. Agar dia merasakan bagaimana rasanya memiliki wajah jelek.” Yoonjung tertawa mendengar kalimat terakhir Yehet. Entah mengapa kalimat itu terdengar lucu. Padahal Sehun dan Yehet adalah orang yang sama dengan karekter suara yang berbeda. Apa jadinya kalau Sehun memiliki wajah jelek, masihkah dia memiliki banyak penggemar?

“Ah, betapa manisnya saat yoonjung tertawa ! Pantas saja Sehun teresona lalu jatuh cinta padamu. Jadi,apa itu artinya kau sudah memaafkan, si bodoh Sehun?” suara Yehet terdengar seperti seorang anak kecil yang sedang menjahili adiknya.

“Entahlah, aku akan memikirkannya dulu.” Gadis itu belagak jual mahal. Dia mengambil gelas susu, lalu meneguk habi isinya. Dengan cepat, gadis itu beranjak dari kursi lalu mengambil blazer dan juga tas kerjanya.” Cepat pulang sana ! aku harus  pergi berkerja.”

“Tunggu dulu ! ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan,”Sehun beserta Yehet beranjak dari kursi menghadang langkah Yoonjung menuju pintu keluar.

“Apa lagi?”

“Oh Sehun akan pergi ke Swiss lusa untuk urusan pekerjaan. Kalau kau merindukannya, kau hanya perlu menelponnya lalu laki laki itu akan terbang dari Swiss untuk memelukmu.” Kalimat Yehet menjadi penutup moment pagi itu. Sehun yang menjadi dalang, akhirnya muncul dari balik tubuh besar Yehet. Laki – laki itu lalu menaruh Yehet di dekat pintu kamar Yoonjung.

“Jangan lupa menelpon  kalau kau merindukanku, ehm?” Sehun berucap sambil melangkah mundur ke arah pintu. Laki – laki itu tersenyum ke arah Yoonjung, seketika jantung Yoonjung berdebar keras, warna merah menghiasi pipi nya, gadis itu kembali merasakan apa yang ia rasakan saat jatuh cinta pada Sehun. Ah, sepertinya Yoonjung kembali jatuh pada pesona Sehun.

Lusa, Sehun benar – benar terbang ke Swiss untuk mengurus masalah perusahaan cabang disana. Dan sejak pulang dari rumah Yoonjung pagi itu, Sehun tidak hentinya mengharapkan ada telepon dari Yoonjung. Ia bahkan tidak mengaktifkan silent mode saat meeting. Ia takut melewatkan panggilan masuk dari Yoonjung kalau men silent ponselnya. Saat ini tidak ada yang lebih ia harapkan selain telepon dari Yoonjung.

Sementara itu Yoonjung juga gelisah. Hampir setiap malam ia tidak bisa memejmakan mata kalau belum memeluk Yehet. Boneka beruang super besar itu bahkan menjelma menjadi Sehun di malam hari. Mata Yoonjung silap, dan tubuhnya jadi berangan dipeluk langsung oleh Sehun saat tidur. Pelukan Yehet dengan pelukan Sehun tentu berbeda.

Hari ke tujuh sejak kejadian pagi itu,

Yoonjung bergerak gelisah di atas ranjang nya. Ia melirik ke arah jam dinding, pukul dua dini hari. Tapi matanya tidak merasa mengantuk sedikit pun. Ia sudah memeluk Yehet, tapi tetap saja tidak merasakan kantuk. Yoonjung mengambil sesuatu dari balik bantalnya. Yaitu ponsel. Hem, Yoonjung menyembunyikan ponsel nya disitu, sifat jual mahal nya yang membuat nya melakukan hal itu. Ia tidak boleh dengan mudah memaafkan Sehun atau bahkan menelpon Sehun saat merindukan laki – laki itu.

Tapi kali ini, Yoonjung akan menyingkirkan rasa jual mahal itu. Ia merindukan Sehun dan tidak bisa menahannya lagi. Yoonjung menekan angka delapan, nomor panggilan cepat Sehun. Perempuan itu menempelkan ponsel nya ke telinga. Terdengar nada tunggu disana.

Sementara di Korea waktu telah dini hari, di Swiss matahari telah naik menyinari bumi. Sehun baru saja menyelesaikan makan siang dengan asistennya bernama Kim Taejun. Laki – laki itu mengamati ponselnya. Dalam hati ia bertanya, mengapa Yoonjung tidak menelponnya. Padahal Sehun yakin sekali gadis itu pasti merindukannya. Sehun bisa merasakan rasa rindu itu.

“Hyung, dua puluh menit lagi ada pertemuan dengan Mr. Schultz. Kita harus bergegas, dia tipe orang yang sangat tepat wakut.” Kim Taejun mengingatkan atasannya.

Sehun mengangguk, tepat ketika Sehun beranjak dari kursi ponselnya berbunyi. Dari Yoonjung !!

“Halo, Yoonjung..” tidak ada jawaban dari Yoonjung, sementara Kim Taejun sudah memberi kode pada atasannya untuk segera berangkat. Lalu terdengarlah suara itu. Suara parau yang amat Sehun rindukan, menggetarkan seluruh jiwa dan raganya.

“Hun, aku merindukan mu.”

Hanya satu kalimat itu, dan Sehun langsung berlari keluar, menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan restaurant.

“Hyung, kau mau kemana?!” teriak Taejun kebingungan dengan tingkah Sehun.

“Kau handle pertemuan dengan Mr. Schultz. Aku harus kembali ke Korea sekarang!”

Taejun berdiri melongo di tempatnya. Meng handle pertemuan dengan Mr. Schultz? Taejun menepuk jidat nya. Ya Tuhan…

Kantung mata Yoonjung terlihat sedikit lebih besar, terdapat warna hitam di bawah nya. Ugh, ini semua karena dia tidak bisa tidur semalaman. Merindukan Sehun merupakan penyebab utama nya. Yoonjung memeriksa ponsel nya, tidak ada satu pun panggilan ataupun chat dari Sehun. Perempuan itu mendesah, lantas duduk di sofa ruang tengah.

Apa yang Sehun lakukan sekarang? Mungkinkah lelaki itu juga merindukannya? Kira – kira Sehun akan menepati janji nya atau tidak? Tapi terbang dari Swiss ke Korea membutuhkan waktu yang cukup lama. Apa itu mungkin??Di tengah kegalauan hati nya, bel apartemen Yoonjung berbunyi. Gadis itu cepat cepat bergerak menuju pintu depan. Mungkinkah itu Sehun? Hati Yoonjung sepenuhnya berharap bahwa itu adalah Sehun. Kalau benar itu Sehun, Yoonjung berjanji akan memaafkan Sehun dan memberi kesempatan bagi lelaki itu memperbaiki kesalahannya.

Begitu pintu dibuka, mata Yoonjung menangkap sosok itu. Kemeja putih nya tampak lusuh, dua kancing teratas nya terbuka, dasi nya sudah tidak beraturan, dan jas nya tersampir di pundak lelaki itu. Penampilan nya berantakan sekali, tapi Yoonjung justru menyukai nya. Dia terlihat sangat tampan dengan penampilan acak – acak kan nya itu.

Yoonjung tersenyum bahagia, hatinya terasa disiram air yang menyejukkan. Sosok itu bergerak mendekat lalu menarik tubuh mungil Yoonjung ke dalam dekapan nya yang begitu erat. Lelaki itu terus mengeratkan pelukannya, mencium aroma tubuh Yoonjung yang sangat wangi. Dia merindukan wanitanya. Sangat !

“Terimakasih telah merindukanku.” Bisik Sehun dengan suara hampir tidak terdengar.

Senyuman Yoonjung melebar. Ia melingkarkan kedua tangannya di punggung Sehun. Menepuk punggung itu perlahan,”Terimakasih telah menepati janji mu.”

“Jadi apa kau sudah memaafkan ku?” tanya Sehun dengan hati – hati.

“Aku memaafkan mu. Jangan diulangi lagi, ya.” Pinta Yoonjung.

“Hem, aku janji tidak akan mengulangi nya lagi.” Sehun melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah ayu kekasihnya. Sehun tersenyum ketika mendapati lingkaran hitam dan kantung mata tebal Yoonjung. Ah, Yoonjung pasti sangat merindukannya. Sehun mengusap pipi Yoonjung, lantas mendaratkan sebuah ciuman kerinduan di bibir Yoonjung. Gadis itu tersenyum, lalu membalas ciuman Sehun.

“Kita mau kemana, Hun?” tanya Yoonjung penasaran.

“Kau akan tahu nanti.” Jawab Sehun disertai senyuman misterius. Yoonjung tidak menanggapi. Ia pasrah kemana Sehun akan membawanya jalan – jalan di akhir pekan ini. Sejak mereka berbaikan, lelaki nya itu selalu penuh kejutan.

Namun siapa disangka, Sehun ternyata membawa Yoonjung ke kantor pusat Oh Group. Seketika tubuh gadis itu menegang. Ia langsung teringat pada wajah Tuan Oh yang garang sekaligus berwibawa saat mendatangi rumah nya. Untuk apa Sehun membawanya ke tempat ini? Apakah dia akan mengajak Yoonjung menghadap Tuan Oh?

“Tenang saja. Ini hari Sabtu, dan ayah ku tidak ada di kantor. Biasanya saat akhir pekan seperti ini, beliau pergi bermain golf bersama rekan bisnis nya.” ujar Sehun mencoba menenangkan Yoonjung yang tampak gelisah.

Sehun keluar dari mobil terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Yoonjung,”Hey, tidak usah takut begitu. Percaya padaku, eoh?” Sehun mengulurkan tangannya pada Yoonjung. Awalnya Yoonjung ragu untuk turun, namun saat melihat Sehun mengulurkan tangan dan tersenyum pada nya, Yoonjung berusaha mengenyahkan keraguan itu. Gadis itu pun menyambut uluran tangan Sehun. Sambil bergandengan tangan mereka berjalan memasuki gedung Oh Group yang sangat megah itu.

“Karena ini akhir pekan, kantor sedikit sepi. Hanya ada beberapa karyawan saja yang sedang lembur.”

Mereka terus berjalan, satu kali bertemu seorang perempuan yang merupakan pegawai Oh Group. Begitu melihat Sehun, wanita itu membungkukkan badannya. Setelah itu, wanita itu melihat ke arah Yoonjung dengan tatapan menilai. Yoonjung akui, wanita tadi jauh lebih menarik dari dirinya. Cantik, dengan proporsi tubuh yang sangat ideal.

“Percayalah, hanya kau satu – satu nya wanita yang paling cantik di kantor ini. Kebanyakan dari mereka melakukan operasi plastik.” Sehun seolah mengerti apa yang dirasakan oleh kekasihnya. Yoonjung hanya mampu tersenyum malu. Mereka pun masuk ke dalam lift,”Ruangan ku ada di lantai paling atas. Kau akan menyukai pemandangan dari kantorku. Sangat indah.”

Apa yang dikatakan Sehun memang benar. Kantor sehun sangat rapi, dan pemandangan nya sangat indah. Yoonjung berkeliling ruangan itu sembari menunggu Sehun selesai menyiapkan sesuatu. Gadis itu melihat sebuah bingkai foto kecil di atas meja kerja Sehun. Oh, bukankah itu foto nya? Dengan background bunga Sakura, dan dirinya yang sedang membagikan brosur.

“Foto itu diambil di hari pertemuan pertama kita. Luhan Ge yang mengambil foto itu.” Seru Sehun sembari mendekat ke arahnya.

“Aku tidak menyangka kau menyimpan foto ku.” Celetuk Yoonjung yang mengundang reaksi kaget dari Sehun.

“Memangnya kau tidak menyimpan foto ku?” tanya Sehun penasaran.

Yoonjung tersenyum malu, menampakkan sedikit gigi nya. Perlahan ia bergeser dari hadapan Sehun.” Tidak.” Jawabnya singkat. Raut wajah Sehun terlihat kecewa, namun tidak lama kemudian Sehun sudah terlihat biasa – biasa saja.

“Tidak apa – apa. Aku sendiri yang akan memajang foto ku di apartemen mu nanti. Foto yang sangat besar, agar kau selalu ingat bahwa kau punya kekasih yang tampan seperti ku.”

“Aish, sombong sekali.” cibir Yoonjung.

“Kalau begitu, ayo ikut aku ! Ada yang ingin ku tunjukkan padamu.” Sehun mengambil tangan Yoonjung, menariknya menuju ruangan yang cukup luas yang berada tepat di sebelah ruangan Sehun.

Sehun dan Yoonjung duduk di sebuah kursi. Sementara di depan sana terdapat sebuah layar yang menyala, menampilkan wajah close up Sehun. Suara musik mulai terdengar. Film pun mulai berputar. Di awali dengan foto pernikahan ayah dan ibu Sehun, lalu foto masa kecil Sehun hingga dewasa. Sepertinya ini film yang menggambarkan kisah hidup Oh Sehun dari kecil hingga saat ini.

Tidak hanya itu, film yang berputar saat ini juga menjabarkan tentang Oh Group. Awal mula perusahaan itu dari sebuah bisnis kecil hingga bisnis bertaraf internasional. Bahkan diperlihatkan pula seluruh gambar kantor cabang Oh Group di beberapa negara lain, seperti di China, Jepang, Swiss, Amerika. Tidak hanya itu, film itu membuat Yoonjung tahu seberapa banyak aset keluarga Oh. Bukan hanya perusahaan, tapi juga perkebunan, departement store, restaurant, dan masih banyak lagi.

“Semua itu adalah milik ayah ku.” Ucap sehun, yang langsung dipotong oleh Yoonjung,

“Dan semua itu akan menjadi milikmu di kemudian hari.” Sehun tak menanggapi hal itu, ia fokus pada bagian selanjutnya dari film itu.

“Satu – satu nya yang benar – benar milikku adalah itu.” Sehun menunjuk gambar sebuah tempat bernama Little Step.” Itu adalah studio dance yang aku bangun bersama kedua sahabatku, Luhan dan Kai.”

Berikutnya, Yoonjung disuguhi gambar yang memperlihatkan Sehun sedang latihan menari bersama dua orang temannya. Sehun sungguh terlihat berbeda di gambar itu. Dia hanya mengenakan celana training, kaos putih dan sebuah topi di kepalanya. Lalu muncul sebuah video yang menampakkan Sehun,beserta Kai dan Luhan mengikuti kompetisi dance. Video berikutnya, mereka bertiga tampil di sebuah acara pertunjukkan seni tari terbesar di California sebagai tamu undangan. The Asian Dancer. Begitulah Sehun dan teman – temannya menamakan kelompok tari mereka. Dari keseluruhan video yang ada, video terakhir yang menjadi favorit Yoonjung. Sehun melakukan solo dance di atas genangan air. Lelaki itu mengenakan celana hitam dan kemeja putih yang kemudian dua pakaian itu basah saat Sehun mulai menari di atas genangan air.

Yoonjung menahan nafas saat melihat foto itu. Sehun sangat seksi saat menari. Pria itu jelas sangat berbakat.

“Aku tahu kau akan terpesona saat melihat ini.”celetuk Sehun sambil menahan tawa saat melihat ekspresi Yoonjung yang terlihat begitu terpesona dengan tarian Sehun.

“Kau keren sekali.” puji Yoonjung tanpa mengalihkan pandangan dari layar.” Lalu kenapa kau berakhir menjadi pebisnis seperti sekarang?”

“Ayahku tidak mengijinkan ku menjadi penari.” Jawab Sehun,”aku dan Luhan Ge, memiliki nasib sama. Kita berdua suka menari, tapi tidak bisa mewujudkan cita – cita menjadi profesional dancer. Itu semua karena aku dan dia terlahir sebagai anak tunggal yang harus meneruskan seluruh bisnis keluarga. Sementara Kai memiliki kebebasan menjadi apapun yang dia inginkan. Tidak ada tekanan dari keluarganya. Saat ini Little Step dikelola oleh Kai.”

Yoonjung ikut prihatin mendengar kisah Sehun. Nasib hidup Sehun ternyata tidak sesempurna yang dia lihat dari luar. Beberapa menit kemudian film telah berakhir.

“Sekarang kau sudah tahu siapa Oh Sehun sesungguhnya melalui film itu. Apa ada yang masih ingin kau ketahui?” tanya Sehun.

“Hem.” Yoonjung mengangguk.

“Apa?”

“Aku ingin melihat mu menari di hadapanku.” Sehun terkekeh mendengar permintaan Yoonjung.

“Kau serius?”

“Ya, aku serius. Menarilah untukku.”

Sehun berpikir sejenak lalu mengangguk – angguk meng iya kan permintaan kekasihnya. Gadis itu begitu sumringah,”aku akan menari untukmu.”

“Yey!!” seru Yoonjung kegirangan.

Yoonjung mengira perjalanan mereka telah berakhir setelah makan siang. Tapi ternyata tidak. Sehun membawa nya ke sebuah tempat rahasia yang berada di luar kota Seoul, tepatnya di Ilsan. Entah tempat apa yang akan mereka kunjungi, Sehun tidak menceritakan apapun padanya.

Mereka tiba di lokasi tepat ketika hari telah senja. Yoonjung tidak tahu tempat apa persis nya ini, sebuah tempat yang terletak di perbukitan dengan rumput hijau yang tergelar laksana karpet alam yang begitu luas. Mereka berdua turun dari mobil, Sehun menggandeng tangan Yoonjung. Keduanya tidak bicara sama sekali. Yoonjung mengedarkan pandangannya ke penjuru tempat ini. Kalau saja mereka datang di pagi hari, pasti pemandangannya sangat indah.

Mereka terus berjalan hingga akhirnya Yoonjung menyadari bahwa tempat ini merupakan pemakaman. Nisan – nisan kecil tertanam di tanah.

“Hun, kita akan mengunjungi makam siapa?” tanya Yoonjung. Sehun memalingkan wajah ke arah Yoonjung.

“Ke makam ibu ku.” Jawab Sehun kemudian.

Yoonjung tercenung. Pantas saja ada yang janggal saat Yoonjung melihat film tadi, dari keseluruhan film tidak nampak kisah tentang ibu sehun. Beliau hanya diceritakan di awal saja.

“Ibuku meninggal saat aku lulus SMP.” Sehun memulai kisahnya,” beliau meninggal karena kecelakaan mobil. Saat itu ayah dan ibu bertengkar. Ibu marah karena ayah menduakan ibu dengan seorang wanita yang merupakan rekan bisnis nya. Beliau pergi dari rumah dalam keadaan marah kepada ayah yang tidak mau melepaskan wanita itu. Kondisi emosi ibu yang tidak stabil membuatnya tidak konsentrasi menyetir. Lalu terjadilah kecelakaan itu.”

Mereka berhenti di salah satu nisan dengan nama Yoo Sangmi. Sehun melepaskan tautan tangan nya pada Yoonjung. Ia membukkukan tubuhnya penuh. Memberi penghormatan pada mendiang ibunya.

“Ibu, ini aku putramu Sehun. Maaf baru mengunjungi mu setelah sekian lama.” Ujar Sehun menatap lurus pada pusara ibu nya,” ibu, aku tidak datang sendiri. Di sampingku ada perempuan yang sangat aku cintai. Namanya Cho Yoonjung.”

Yoonjung turut membungkukkan badannya, lantas memberi salam . Tiba – tiba Sehun menarik tubuh Yoonjung,

“Ibu, aku mencintai gadis ini. Aku ingin menikahinya. Aku mohon ibu memberikan restu.” Ungkap Sehun membuat Yoonjung menolehkan wajahnya ke arah Sehun. Ia melihat keseriusan wajah Sehun, laki – laki itu tidak main – main dengan keinginannya. Apalagi ini bukan pertama kali nya Sehun mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Yoonjung.

“Aku dan Yoonjung mungkin belum terlalu lama menjalin hubungan. Tapi aku yakin dengan keputusan ku untuk menikahi nya. Dia gadis yang baik, ibu. Tidak hanya cerdas tapi dia juga mandiri dan pandai memasak. Seandainya ibu masih ada, pasti ibu akan menyukainya.”

Senja turun  Di ufuk barat, matahari hanya menyisakan sedikit cahaya nya. Angin semilir membelai wajah mereka berdua. Seolah merupakan jawaban ibu nya terhadap permintaan restu Sehun.

“Ibu ku sudah memberikan restu…” Sehun berdiri menghadap Yoonjung sekarang. Menggenggam kedua tangan Yoonjung erat,”menikahlah denganku, Cho Yoonjung.”

Lamaran kedua Sehun. Dan Yoonjung masih ragu untuk menjawab ya. Ibu Sehun mungkin merestui mereka. Tapi bagaimana dengan ayah Sehun. Beliau sudah pasti tidak akan setuju. Bagi Yoonjung, restu kedua orang tua sangatlah penting untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.

“Aku akan menjawabnya tapi tidak sekarang.” Yoonjung tersenyum. Di dalam hati berdoa semoga Sehun bisa memahami.

“Jangan membuatku menunggu terlalu lama untuk mendengar jawaban mu.” Pinta Sehun yang sudah dua kali digantung kan jawabannya oleh Yoonjung. Laki – laki itu jelas kecewa dengan jawaban Yoonjung, tapi dia akan mencoba bersabar, ia yakin Yoonjung pasti akan menerima lamarannya. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk dengan mantap.

“Pulang sekarang ya? Aku sudah lapar lagi.” Ungkap Yoonjung seraya menarik Sehun.

“Pulang ke apartemen mu ya? Aku merindukan masakan mu.”

Mereka berjalan meninggalkan pemakaman. Masih bergandengan tangan.

“Hun, mengapa makam ibu mu berada jauh dari Seoul?” tanya Yoonjung saat di perjalanan pulang.

“Karena ibuku lahir di Ilsan.” Jawab Sehun singkat.” Beliau seorang pelukis.”

“Oh benarkah?” Yoonjung terkejut dengan fakta itu,”mungkin kau mendapat bakat seni itu dari ibu mu.”

“Hem, sayangnya aku dan ibu sama – sama tidak bisa mewujudkan impiannya. Karena ibu menikah dengan ayah, jadi ibu meninggalkan dunia seni nya. Sementara aku harus melanjutkan bisnis ayah ku.” Sehun tersenyum getir setelahnya. Menyadari kesamaan nasib nya dengan sang ibu.

Yoonjung tak menanggapi. Ia merenung. Sehun tidak terlihat seperti penampilan luarnya. Seluruh pria di dunia bisa saja iri dengan apa yang Sehun miliki. Ketampanan dan kekayaan. Tapi setelah satu hari perjalanan ini, Yoonjung menyadari kecacatan dalam kesempuraan itu. Sehun nya juga merasakan luka. Luka karena tidak bisa menggapai cita – cita nya. Luka karena ketidak utuhan keluarganya. Dan mungkin juga karena luka sebagai pewaris tunggal dari Oh Group. Status yang membuatnya tidak bisa memilih wanita secara sembarangan.

Yoonjung bertanya pada diri nya sendiri. Pantaskah dia menjadi pendamping Oh Sehun? Nyaris 100 persen hati nya menjawab iya atas lamaran Sehun. Tapi Yoonjung masih butuh sedikit… lagi bukti bahwa Sehun memang mencintainya.

Selepas makan malam, Sehun menyulap ruang tengah apartemen Yoonjung menjadi arena dance. Kursi dan meja disingkirkan ke tempat lain. Menyisakan satu buah kursi yang berfungsi sebagai kursi penonton pertunjukan Sehun malam ini. Laki – laki itu menepati ucapannya yang akan menari untuk Yoonjung.

“Kau pilih saja lagu yang kau sukai. Aku akan membuat gerakan nya secara langsung.” Ujar Sehun. Laki – laki itu telah berdiri di tengah arena pertunjukan mini nya.

“Lagu dari ponsel ku atau ponsel mu?” tanya Yoonjung.

“Terserah pada mu saja.”

Yoonjung mengambil ponsel Sehun. Ia memeriksa library musik. Melihat koleksi lagu Sehun. Tapi kalau memakai lagu dari ponsel Sehun, laki – laki itu pasti sudah hafal diluar kepala irama lagu nya. Akan mudah bagi Sehun membuat gerakan juga koreo nya. Ah, sebaiknya Yoonjung memberi sedikit tantangan pada Sehun. Gadis itu meletakkan ponsel Sehun, lalu mengambil ponselnya sendiri. Dia punya koleksi lagu klasik di ponselnya. Yoonjung memilih satu lagu, lalu menge play nya.

Begitu mendengar alunan lagu yang Yoonjung pilih, Sehun langsung mendesah kecewa.

“Aduh, kenapa lagu itu sih? Itu lagu untuk mengiringi  tari balet.” Sehun melancarkan protesnya.

“Memangnya kenapa dengan tari balet? Aku suka melihat balet. Begitu indah dan penuh cerita.”sanggah Yoonjung.

“Tapi tari balet adalah spesialisasi Kim Kai !” Sehun tak menyerah.

“Owh, bagus kalau begitu! Itu artinya kau pernah belajar balet pada teman mu itu kan?” Yoonjung tak mau kalah.

“Sayang, aku mohon ganti lagu nya.”

“Kau bilang akan menari untukku. Aku bebas memilih lagu dari ponsel ku atau ponsel mu. Dan aku memilih lagu ini. Jadi…” Yoonjung tersenyum licik,” Kau harus mengikuti keinginan ku, kekasihku yang tampan.”

Sepertinya Sehun tidak akan menang dalam perdebatan ini. Ia melirik Yoonjung sekilas. Masih berharap Yoonjung akan mengganti lagu nya. Tapi Yoonjung justru melihat sehun dengan tajam, seolah menanti aksi Sehun. Ya sudahlah, Sehun pasrah.

“Baiklah, putar ulang lagu nya.” suruh Sehun yang disambut dengan riang oleh Yoonjung.

Musik bernuansa klasik itu mulai mengalun. Yoonjung membenarkan posisi duduknya agar nyaman melihat pertunjukan Sehun. Sementara sang penari masih berdiri mematung di tengah lantai. Wajahnya menunduk, mengingat – ingat gerakan balet yang pernah Kim Kai tunjukkan padanya. Sehun menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan.

Dengan sepenuh hati, Sehun mulai menggerakkan anggota tubuhnya. Jujur , dia sama sekali tidak ingat gerakan balet yang pernah Kim Kai tunjukkan. Tapi demi memuaskan penonton spesial nya, Sehun akan berusaha sebaik mungkin.

Musik terus mengalun, Sehun pun terus bergerak mengikuti nalurinya. Ia menajamkan telinga, meresapi setiap nada yang ia dengar dari lagu itu, lalu mewujudkannya dalam bentuk gerakan yang luwes dan indah. Bahkan dalam imajinasi nya, Sehun tengah menari bersama Yoonjung. Di tengah guyuran hujan salju. Hanya ada mereka berdua di atas lantai dansa, menari, berputar dengan indah di atas lantai yang licin oleh salju. Semua terlihat begitu indah dan terasa menyenangkan.

Sehun membuka mata nya, melihat tepat ke arah Yoonjung yang juga menatap nya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Kagum, terpesona dan beragam ungkapan takjub lainnya. Gadis itu menahan nafas sedari tadi. Entah mengapa saat Sehun menari dengan indah, pasokan udara di sekitarnya menjadi berkurang. Dan jantungnya tiba – tiba bekerja memompa darah lebih cepat. Berdesi – desir, hanya karena melihat Sehun menari.

Sekitar satu menit lagi, lagu bernuansa klasik itu berakhir. Sehun bergerak ke arah Yoonjung yang terdiam di kursinya. Tidak ada salahnya menarik gadis itu lalu mengajaknya menari di sisa lagu ini. Sehun mendekat lalu dengan cepat menarik Yoonjung. Gadis itu memekik kaget.

“Menarilah bersama ku.”

“Aku tidak bisa menari, Hun!”

“Aku akan mengajari mu.”

Sehun menaruh kedua tangan Yoonjung di lehernya, sementara kedua tangan laki -laki itu tersemat di pinggang Yoonjung. Wajah mereka begitu dekat. Dua pasang mata itu saling menatap, menyelam masuk ke dalam jiwa. Dahi dan hidung mereka bersentuhan. Hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing – masing. Tubuh mereka terus bergerak pelan ke kiri dan ke kanan. Tanpa mereka sadari lagu telah berakhir. Sementara tubuh mereka justru menempel semakin dekat. Hingga mereka merasakan ada gejolak aneh pada diri mereka. Sehun merasakan suatu dorongan yang begitu kuat di dalam dirinya. Yang akhirnya membuat laki – laki itu mendorong Yoonjung ke dinding. Memenjarakan tubuh mungil gadisnya.

Nafas mereka memburu, dan entah siapa yang memulai terlebih dahulu, mereka kini telah menautkan bibir. Sehun mencium Yoonjung begitu dalam dan intens. Sementara Yoonjung hanya bisa diam menerima perlakuan Sehun. Ciuman itu beralih ke daun telinga Yoonjung. Lalu turun ke leher Yoonjung yang sensitif. Sehun bermain – main di ceruk leher yang meloloskan desahan dari bibir Yoonjung. Desahan itulah yang membuat Sehun memutuskan mengangkat tubuh mungil Yoonjung ke kamar nya.

Semua terjadi begitu cepat. Yoonjung tidak bisa mengingat detail nya, yang dia tahu, kini ia terbaring diatas ranjang dengan Sehun berada di atasnya. Ia tidak tahu kemana perginya pakaian yang tadi menghangatkan tubuhnya. Tapi tak apa bila pakaian itu hilang, tubuh kokoh Sehun telah memberinya kehangatan yang lain. Kehangatan yang tidak bisa ia jabarkan.

Sehun bergerak ke bawah, menuju perut Yoonjung. Laki – laki itu mencium perut Yoonjung sambil menggumamkan sesuatu. Setelahnya ia kembali ke atas. Di tatapnya wajah cantik Yoonjung yang berpeluh. Sehun membelai rambut halus Yoonjung. Beberapa detik Sehun memilih diam dan menikmati kecantikan Yoonjung.

Saranghae.” Bisik Sehun dengan segenap perasaan cinta. Ia mencintai Cho Yoonjung dan Sehun ingin memiliki nya.

Nado Saranghae.” Jawaban singkat Yoonjung itu membuat Sehun yakin melakukannya.

Setelah itu, Yoonjung seperti dibawa terbang oleh Sehun menuju langit ke tujuh. Melewati setiap langit dengan perasaan bahagia yang tidak bisa ia jabarkan. Sampai – sampai yoonjung takut terjatuh. Maka dari itu ia mengeratkan pelukannya ke punggung kokoh Sehun. Ketika mereka sampai di langit ketujuh, Yoonjung tidak bisa lagi mengungkapkan bagaimana perasaannya.

Tuan Oh meradang keesokan hari nya. Pasalnya ia tidak menemukan putranya ada di kantor pada jam yang semestinya. Oh Sehun tidak pernah terlambat sebelumnya. Tuan Oh curiga putranya sedang bersama gadis itu. Apalagi Tuan Oh mendapatkan laporan dari salah satu karyawan yang kemarin lembur bahwa Oh Sehun membawa Cho Yoonjung ke kantor kemarin.

“Dimana Sehun sekarang?” Tuan Oh bertanya dengan tidak sabar saat Kim Minseok asisten pribadinya masuk ke ruangannya.

“Menurut laporan anak buah ku, Tuan Muda Oh ada di apartemen Nona Cho saat ini. Sepertinya mereka menghabiskan waktu berdua kemarin. Mereka bahkan terdeteksi pergi mengunjungi makam Nyonya Oh di Ilsan”

Tuan Oh mengepalkan tangannya menahan emosi. Beliau ternyata salah perhitungan terhadap Cho Yoonjung. Dia kira gadis itu tidak ada bedanya dengan dua gadis sebelumnya yang langsung mundur ketika mendapat peringatan dari nya, tapi gadis itu justru semakin menancapkan kuku nya erat – erat pada putra semata wayang nya. Cho Yoonjung berbahaya bagi masa depan putranya terutama bagi masa depan Oh group. Dia harus segera disingkirkan.

Bukan dengan langkah kecil, tapi gadis itu harus disingkirkan dengan langkah besar.

To be continue

A/N :  hai gaes, ada yang masih menunggu kelanjutan cerita ini nggak ya? Aseli nya chpater 3 ini panjang banget, akhirnya aku bagi jadi 3A dan 3B. jangan lupa  comment ya, komentar kalian adalah vitamin bagi saya ☺ xoxo

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] One More Time (Chapter 3A)”

  1. Aigoo baru baca chapter ff ini lagi *hiikkzzz
    Seruuu, daebak storynya
    Pas scene dimakam, Sehun ngenalin Yoonjung sama ibunya, sumpah ini bikin nyesek..
    Next kaka author..
    Oiya kak, punya wattpad gak???

  2. aaaaaaa….membyangkan sehun nari cuma pake kemeja putih dan celana item..omoooooo….pemandangan terdashyat abad iniii…..gegara beduaan akhirny brojol deh little oh sehun habis iniiii…syuka syukaaa..fighting thor!!

    1. Pas nulis bagian itu aq ingat sm solo performance sehun di konser exordium yg nari di genangan air. Sumpah ituu bikinnnn………….😗😗

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s