[EXOFFI FREELANCE] Cruel (BAB 1: Fogoh)

CRUEL

BAB 1: Fogoh

Written by: Audrey_co

Length: Chapter

Rate: Teen

Starring by: Xi Luhan aka Luhan, Shin Yeeun aka Byun Sungrin.

Summary: Sebuah misteri tentang Iblis bernama Fogoh begitu menggemparkan masyarakat Korea Selatan, khususnya di distrik Gwangju. Para anak-anak yang mengalami kejadian buruk dalam hidupnya memilih untuk menjadi Iblis di tangan seorang penyihir tua. Namun berbeda dengan Luhan, ia harus menjadi Fogoh karena alasan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun ia larit dalam kesedihan karena menjadi Iblis, tiba-tiba tuannya membawa pulang seorang gadis muda bernama Byun Sungrin. Gadis itu benar-benar membawa perubahan bagi hidup Luhan. Tapi, apakah manusia dan Iblis bisa bersatu? Apa bisa perasaan cinta ada di antara dua makhluk berbeda in?

Disclaimer: Seluruh cast milik Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya meminjam nama mereka. Isi cerita murni hasil pemikiran saya, NO PLAGIAT dan silahkan komentar jika menurut kalian cerita ini perlu dikomentari.

※Cruel※

Ada sebuah cerita di Korea Selatan yang bagi setiap orang menganggap itu adalah mitos yang menakutkan. Sebuah cerita tentang Fogoh; sebuah kaum di mana hewan bisa berubah menjadi manusia. Konon katanya, di sebuah gedung di pelosok kota Gwangju, seseorang pernah melihat sekumpulan hewan yang mengikuti langkah seorang pemuda yang mereka yakini adalah pemilik kaum Fogoh. Aku bukanya tak percaya, itu memang masuk akal. Tapi, ada satu sisi yang membuatku penasaran. Bagaimana caranya mereka hingga bisa menjadi seperti itu? Juga, kata orang tua, mereka itu membawa aura negatif bagi kota Gwangju. Aku penasaran akan hal itu, terlebih tentang asal-usul kaum Fogoh. Aku—

“Hoy, Byun Sungrin! Kau masih saja menulis hal tak berguna itu!” celetuk seseorang yang membuatku terkejut. Segera saja ku tutup buku harianku dan menatap orang itu tajam.  Perawakan seorang gadis berwajah oriental dengan rambut coklat madunya menatapku remeh dengan bibir yang sengaja tersenyum miring.

“Mau apa kau?”

“Hey, hey, hey… santai saja, Sung. Aku hanya ingin menyapamu.” Aku hanya berdecih ria. ‘Menyapa’ yang dia maksud bukanlah seperti pada umumnya. Merasa jengah, bola mataku berputar malas.

“Dengarkan aku, Seorim. Kau suka padaku, ya? Kau selalu dekat-dekat denganku dan jujur itu sangat-sangat mengganggu!” Seorim yang mendengar kalimatku seketika memukul keras mejaku. Apa perkataanku membuatnya marah? Di bagian mana?

“Yak! Kau mau mati di tanganku, eoh?!” bentaknya kasar. Aku yang sungguh tak takut padanya kini memalingkan pandanganku dan bertopang dagu, tersenyum jenaka seraya tertawa hambar.

“Aku memang mau mati, tapi tidak di tangan kotormu itu.” Ujarku setenang mungkin, membuat Seorim kesal adalah tujuanku sekarang.

“Kau! Kau benar-benar—”

Lihatlah. Dia speechless bukan?

“Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, kau boleh pergi.” Aku membuat gerakan seakan sedang mengusir seekor ayam. Gadis itu memakiku habis-habisan dengan nada rendah, namun hatiku tak nyeri sedikitpun.

Ini bukan pertama kalinya Seorim menggangguku. Sejak kelas satu dia selalu cari gara-gara padaku. Entah karena apa, yang pasti dari gerak-geriknya ia ingin mengucilkanku. Cih, dasar anak orang kaya sombong! Dia selalu berbuat semena-mena padaku, hanya kepadaku. Tak jarang aku dan dia dipanggil ke ruang BK karena kesalahpahaman yang terjadi. Bukan salahku, semua itu bermula dari Seorim. Aku hanya membela diri.

Tanpa aku sadar, ia telah berhenti memaki dan menyeringai lebar.

“Hoy! Teman-teman! Ternyata, kelas kita punya siswa yang aneh!” dahiku mengernyit, bicara apa gadis ini? apa baru saja dia ingin membuatku malu?

Semua siswa di kelas 9-1 melirik ke arah kami dengan tatapan penasaran. Sial! Apa yang akan gadis itu perbuat?

“Byun Sungrin, murid terpintar di kelas, ternyata adalah Fogoh!”

Terkejut. Semuanya menatapku tak percaya, begitu pula aku yang menatap ke arah Seorim. Gadis itu terlihat puas saat semua orang mulai menggunjingku habis-habisan. Aku yang sudah terbiasa hanya melegos dan kembali menulis short story di buku harianku. Kurasa Seorim masih tak puas, dia kemudian berseru lagi.

“Percayalah, yang kukatakan ini benar! Setiap hari dia menulis sesuatu tentang Fogoh di buku hariannya. Kalian tahu, ‘kan? Kita dilarang untuk mendekati apalagi membicarakan segalanya tentang Fogoh?” Kulihat semua orang menatapku aneh, beberapa diantaranya ada yang mengangguk membenarkan. “Tapi, Sungrin berbeda! Dia selalu membahas Fogoh dalam buku hariannya. Kurasa dia penasaran dengan asal usul kaumnya. Hahaha.”

Aku mengepalkan tanganku erat. Bisa-bisanya ia memfitnahku seperti ini? Lalu, apa hubungannya aku membahas Fogoh dalam buku harianku dengan aku yang kata gadis itu adalah Fogoh? Heol, Seorim menggelikkan juga bodoh! Irisku melirik setiap siswa yang kini memandangku takut. Semuanya menjauh, bahkan Seorim juga yang ditarik oleh siswa lainnya. Mereka semua rupanya termakan ucapan bodoh Seorim.

Seorim yang melihatku semakin terpojok, kini bersuara. “Jika Sungrin adalah Fogoh, maka orangtuanya adalah keturunan Fogoh—”

Brakk

Aku menggebrak mejaku keras. Bisa-bisanya dia membawa orangtuaku dalam masalah sepele ini?! Ini adalah pertana kalinya dia menyebut orangtuaku dengan bibir tajamnya. Aku yang sudah tak tahan kini mendekat ke arahnya dan menampar wajahnya keras. Semua orang terkejut, ini adalah pertama juga terakhir kalinya aku akan berbuat menyimpang. Seorim memegang pipi kirinya yang memerah, bahkan ia hampir menangis karenaku.

“Semua perkataanmu memang benar, terkecuali aku dan orangtuaku adalah Fogoh!”

Setelahnya aku menyambar tas juga buku harianku, dan kabur dari sekolah. Persetan dengan semuanya! Aku ingin mencari ketenangan!

※Cruel※

Setelah kepergianku, semua guru bahkan orangtuaku menelpon sekadar menanyakan keberadaanku. Aku yang benar-benar kesal kini mematikan ponselku dan membuangnya di tong sampah dekat halte bus. Merasa lelah, aku mendudukkan diriku di bangku panjang dan mengacak rambutku frustasi. Seorim sialan! Aku masih tahan jika dia menggangguku seperti biasa. Tapi untuk masalah Fogoh, aku sangat menentang karena ia menjadikan Fogoh sebagai bahan lawakannya. Dia pikir itu lucu? Cih! Tidak sama sekali!

Aku sebenarnya menyesal telah menamparnya. Ia memfitnahku juga orangtuaku itu bukanlah masalah besar bagiku. Mengapa? Aku tak peduli dengan kedua orangtuaku yang juga termakan bisikan tetangga soal aku yang aneh ini.

Pertanyaan, aku aneh dari mananya?

Fisikku sempurna, tingkat kewarasanku juga masih wajar. Aku pikir, mereka menganggapku aneh karena gosip yang tersebar kalau aku ini punya hubungan dekat dengan Fogoh. Heol, imajinasiku sedikit berlebihan. Tapi bisa saja, ‘kan? Karena hanya itu satu-satunya alasan yang paling logis juga umum bagi mereka yang memiliki pikiran cetek seperti sungai mati. Sigh.

Pandanganku menatap langit yang mulai menurunkan bulir-bulir air hujan kesukaanku. Semakin deras, bahkan kini terdengar gemuruh yang membuatku sedikit takut. Aku seketika menoleh saat mendengar suara seorang pria dewasa yang tengah terbatuk-batuk. Alisku bertautan, pria itu terlihat asing. Dengan pakaian lusuh itu dia masih terlihat tampan. Dipeluknya seekor kelinci dan anjing berwarna coklat. Aku merasa penasaran dengan pria itu.

Bus telah tiba, tapi aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Dia mulai mengangkat semua barangnya yang membuatnya kesusahan karena harus menggendong kelinci putih juga anjing coklat itu. Aku mendekat dan membawakan sebuah tas berisi makanan juga barang lainnya. Pria itu terkejut dan menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. Aku berdehem canggung dan tersenyum kikuk.

“Ayo, Ahjussi. Busnya akan segera berangkat,” ujarku sopan. Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk.

※Cruel※

Di sinilah kami; di dalam sebuah bus yang hanya ada aku, si pria, dan juga supir bus. Aku yang duduk di samping pria itu hanya menatap rok sekolahku lamat-lamat. Baju yang setengah basah membuatku sedikit merinding kedinginan. Pria itu menyenggolku sedikit—sekadar meminta atensiku. Netraku beradu dengan netra kelamnya yang terlihat menyejukkan. Jarinya menunjuk-nunjuk sesuatu ke arah depan yang tidak aku paham.

“Kau mau pergi ke pelosok Gwangju juga?”

Alisku bertaut mendadak—kaget. Pelosok Gwangju? Bukankah itu tempat di mana para kaum Fogoh berada? Pria itu menungguku menjawab dengan tangan yang masih menggantung di udara.

Kepalaku mengangguk ragu, “Y-Ya… aku ingin ke sana.” Ia terdiam sesaat.

“Untuk apa gadis muda sepertimu ke sana?” tanyanya lagi. Kurasa dia mulai curiga padaku.

“A-Aku—” tanganku menggenggam erat diaryku. Ayo Byun Sungrin! Cari alasan yang masuk akal.

S-Samchon! Aku ingin mengunjungi Samchon-ku. Ini adalah pertama kalinya aku mengunjunginya.” Ujarku seraya tertawa hambar, aku yakin seribu persen wajahku terlihat konyol sekarang. Pria itu akan semakin curiga, terlihat dari wajahnya yang tidak menampakkan ekspresi sedikitpun. Membuatku sedikit salah tingkah karena berpikir alasanku tadi tak bisa diterimanya.

Terjadi keheningan yang cukup lama, membuatku yang kaku ini semakin kaku karena sejak tadi pria itu tak mengeluarkan sepatah katapun padaku. Tak terasa, hujan mulai mereda. Bus juga sudah berhenti, menandakan kami sudah tiba sampai tempat tujuan. Aku dan pria itu turun bersama. Aku berniat membantu pria ini membawakan tas belanjaannya sampai di kediamannya.

“Kau yakin ingin membantuku? Samchon-mu pasti sudah menunggu kedatanganmu,” ujar pria itu yang terlihat khawatir. “Lagi pula, hujan akan turun lagi. Kau tak takut?”

“Aku akan membantumu, Ahjussi. Aku tidak memberitahu Samchon tentang kedatanganku, tadinya aku ingin membuat surprise.” Suara tawa yang terkesan memaksa keluar begitu saja dariku. Mencengangkan—ternyata aku sangat berbakat dalam bersandiwara.

Pria itu menangguk paham lalu meyuruhku mengikutinya. Aku melirik sekitar, benar-benar tempat terpencil di kota Gwangju. Rumah penduduk bahkan bisa kuhitung dengan jari. Kami berdua terus berjalan hingga memasuki hutan yang berisi pohon-pohon Hyperion yang kutahu hanya tumbuh di California. Aku tak bisa menahan rasa takjub saat melihat pohon tertinggi di dunia itu. Setelah berjalan cukup jauh, kami akhirnya tiba di sebuah gedung besar yang bertuliskan ‘불사‘ (bulsa) yang artinya keabadian. Baru saja kami sampai, tapi hujan turun tanpa aba-aba menyapu seluruh permukaan bumi dengan kejamnya. Pria itu melirikku yang juga meliriknya, kemudian tersenyum.

“Sepertinya kau tak bisa pergi ke rumah Samchon-mu kalau begini. Berteduhlah di rumahku. Akan kubuatkan minuman hangat,” tawarnya ramah dengan wajah yang terlihat bersinar. Aku yang berpikiran sama hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.

“Oh, iya, Ahjussi! Dimana kelinci dan anjing tadi?” tanyaku dengan kepala sedikit mendongak guna menatap wajahnya. Aku menyadari bahwa kini dia tak menggendong dua hewan lucu itu.

“Mereka ada di belakangmu.” Alisku berkerut—entah sudah yang ke berapa kalinya untuk hari ini. Awalnya aku berpikir kelinci juga anjing itu mengekor di bawah kaki kami, namun ternyata salah!

Seseorang menarik pelan tas sekolahku, aku bisa merasakannya. Spontan tubuhku berbalik dan terkejut karena mendapati dua anak laki-laki tengah menatapku ramah, bukannya seekor anak anjing juga seekor kelinci putih yang terlihat menggemaskan.

“Me-Mereka—” kegagapan selalu datang disaat yang tidak tepat, membuatku terlihat sangat konyol di depan orang-orang asing ini. Pria itu mengangguk membenarkan dugaanku.

Fogoh. Kau tahu itu, bukan?”

Jadi ternyata memang benar. Fogoh itu bukanlah mitos, mereka nyata!

TBC

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Cruel (BAB 1: Fogoh)”

  1. Oh my God…. Fogoh Yaaa… Kira2 yang jadi visual dari kelinci putih dan anjing coklat itu siapa ya??? Terus pria yang berbaju lusuh itu siapa,Luhan ya??? Ugh jadi penasaran d tunggu chapter selanjutnya thorrr 😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s