[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] – INCOMING CALL

1511918325832

 

truwita x AYUSHAFIRAA

proudly presents

.

.

.

‘ INCOMING CALL ‘

|| OC’s Tara Hwang x Park Chanyeol, feat. Byun Baekhyun ||

|| Drama, Fantasy, Romance ||

|| PG-15 || Oneshot ||

Selalu ada risiko dalam setiap kesempatan yang kita punya
dan keputusan yang kita ambil.
Lantas, mana yang lebih menyakitkan menurutmu?
Tersentuh tapi tak tergapai, tergapai tapi tak tergenggam?

DISCLAIMER

Fanfiksi ini adalah hasil kolaborasi antara author truwita dan AYUSHAFIRAA yang tentunya secara otomatis menjadi hak milik kami berdua. Terinspirasi dari film Jepang ‘So Long!’ AKB48 dan ‘Orange’ . Jika ada kesamaan lain dengan karya lainnya, itu murni ketidaksengajaan.

♫♫♫

 

Wanita itu duduk termangu di dalam sebuah kafe sambil memandang ke arah jalanan yang terbasahi rintik hujan sore itu, di depan secangkir americano yang telah dipesannya sekitar setengah jam yang lalu. Kini, americano yang sebelumnya panas perlahan mulai mendingin, sementara bibirnya belum terbasahi setetes pun minuman itu.

Dialah Tara Hwang, seorang penulis novel terkenal di Korea Selatan yang karya-karyanya selalu terpajang di bagian buku ‘Best Seller’ di berbagai toko buku. Sialnya saat ini ia sedang mengalami ‘writers block’, kalian tahu apa artinya itu? itu adalah keadaan di mana seorang penulis tak bisa melanjutkan menulis dan melahirkan karya-karyanya karena pikirannya menjadi buntu, tak ada satupun kata apalagi paragraf yang bisa dihasilkannya ketika dalam keadaan seperti ini. Menyebalkan, bukan?

Iseng karena tak ada hal yang bisa dilakukannya, wanita 36 tahun yang akrab disapa Tara itu memainkan ponselnya, menggulir layar datar ponsel pintarnya sembarangan seperti menjadi keasyikan baru bagi dirinya. Hingga akhirnya, guliran itu terhenti di menu kontak, tepatnya pada sebuah nomor bernama Chanyeol-ku’.

Beberapa tahun yang lalu, dirinya nyaris hilang akal. Jadi, biarkan saja dia melakukan hal bodoh lainnya sebagai pemuas kegilaan yang tersisa. Ia menyentuh ikon panggil di kontak tersebut, menempelkan layar ponsel di telinga, harap-harap cemas dengan senyum tersimpul seperti orang gila.

“Apa yang kulakukan?” ia mulai bermonolog sambil menggelengkan kepala. Akan tetapi apa yang terjadi kemudian membuatnya tertegun dengan debaran jantung meningkat tak wajar. Sebuah nada sambung terdengar.

Klik!

Halo?”

Suara itu… Tara menjauhkan ponselnya dari telinga, menatap layar ponsel itu lekat-lekat, memastikan bahwa nomor ponsel yang tertera di layar memang milik Chanyeol.

Halo? Siapa ini?” orang di seberang sana masih menanti Tara untuk bicara.

“Chan…” Tara bicara ragu-ragu. “Apakah… ini nomor Park Chanyeol?” sebuah kalimat sempurna akhirnya mampu terucap, dengan keringat dingin serta mata yang mulai basah. Hatinya langsung dipenuhi harap.

Ya, anda siapa? Ada perlu apa meneleponku?

Tara terdiam, airmatanya jatuh. Apakah ini halusinasi? Apa sekarang dirinya benar-benar mengalami gangguan jiwa? Atau apapun itu, Tara tak tahu apa yang sedang dialaminya sekarang. Yang jelas dia merasa sangat bahagia. Suara itu… Tara tahu dengan pasti. Dia tak mungkin bisa melupakan suara berat khas yang bisa membuat dunianya jungkir balik.

Ini tidak nyata, Tara tahu itu. Tapi kenapa bisa terasa begitu nyata? Biarlah, ia tak peduli.

“Chanyeol-ah, ini aku, Tara.”

Huh? Tara? Tara siapa? Aku tak mengenalmu! Sudah ya! Kau baru saja membuatku pulang terlambat!

“Tung-“

Tuuut!~ sambungan telepon itu terputus.

Tara menepuk-nepuk dadanya, sesak. Suara itu benar-benar milik Chanyeol, kekasihnya saat duduk di bangku SMA dulu. Dia Chanyeol! Demi apapun, lelaki itu adalah Park Chanyeol-nya!

 

♫♫♫

 

Hari semakin sore saja, dan pulang sekolah sendirian itu tidak enak. Tak ada teman yang bisa ia ajak mengobrol di jalan, memaksanya untuk tetap diam. Ya bayangkan saja jika kau berjalan sendirian tapi kau terus berceloteh, orang akan bilang apa tentang dirimu?

Semua ini karena panggilan tidak jelas asal usulnya itu! kalau saja ia tidak mengangkatnya, teman-teman se-geng-nya tidak akan meninggalkannya untuk pulang duluan.

“Cih! Tara? Siapa Tara? Aku tak pernah mendengar nama itu!” gerutu lelaki itu sedikit kesal. Name tag yang tertera di seragam musim gugurnya bertuliskan ‘Park Chan Yeol’, yang tentu saja adalah nama dirinya.

Park Chanyeol adalah seorang siswa kelas 2 SMA yang tahun ini baru akan menginjak usia 17 tahun.

“Tapi kenapa dia tahu namaku, ya? Jangan, jangan!”

Lelaki itu mengedarkan pandangannya secara hati-hati, menengok ke kanan dan ke kiri, “Jangan, jangan! Dia adalah seorang penguntit yang selalu memperhatikan gerak-gerikku!”

Tak lama, ia tertawa geli, menyadari kebodohannya.

“Aku pasti terlalu banyak menonton film-film tak bermutu! Ckckck!”

“Oi! Byun Baekhyun!” teriaknya memanggil nama sang sahabat yang terlihat sedang berduaan di halte bus bersama seorang gadis.

“Eoh? Chanyeol-ah! Kau baru pulang?” tanya sahabat yang berperawakan sedikit lebih kecil darinya namun tetap tampan, Byun Baekhyun.

Lelaki itu mengangguk, lalu memberi kode pada Baekhyun dengan lirikan matanya yang tertuju ke arah gadis di samping Baekhyun. Baekhyun yang mengerti maksud Chanyeol pun akhirnya memperkenalkan gadis manis itu.

“Dia Tara Hwang, sahabat kecilku yang baru pulang dari Amerika. Dan kau tahu? Dia akan pindah sekolah ke sekolah kita!”

Gadis berkepang dua yang memakai pakaian serba kekurangan bahan ala barat di samping Baekhyun itu mengukir senyumannya.

“Hai! Namaku Tara!”

“Ta? Tara?” Chanyeol melongo. Bukankah Tara itu nama penelepon tak jelasnya tadi?

 

♫♫♫

 

“Sungguh, Baekhyun-ah! Chanyeol mengangkat teleponku! Dia mengangkatnya! Aku jelas mendengar suara Chanyeol yang mengangkat teleponku tadi sore!”

“CUKUP!” tatapan tajam Baekhyun menusuk tepat ke mata Tara hingga Tara terdiam seribu bahasa dengan tubuh gemetar.

“BERHENTILAH BICARA TENTANGNYA! DIA SUDAH MATI, TARA HWANG!”

Tara meremas ujung roknya, berusaha menahan airmata yang sudah siap tumpah saat itu juga.

“Dia sudah mati ya?” wanita itu mengangguk-angguk, “Kau benar, Chanyeol sudah mati. Bahkan dia mati di pangkuanku sendiri.”

“Tara! Tara! Sayang!”

BLAM!

Baekhyun menyentuh pintu kayu kamarnya yang menjadi satu dengan kamar Tara semenjak mereka menikah 10 tahun yang lalu. Tunggu, bukankah kata-katanya tadi begitu kasar pada sang istri?

“Sayang, maafkan aku.” sesal Baekhyun.

Melupakan cinta yang pernah singgah di hati dan pergi tanpa permisi bukan hal yang mudah dilakukan, apalagi bagi seorang Tara Hwang. Meski Baekhyun dan Tara sudah menikah dan dikaruniai seorang putri, sepertinya cinta Tara akan selalu untuk Park Chanyeol seorang. Setidaknya, sebelum wanita itu berhasil mengalahkan masa lalu, menata ulang hatinya, dan memulai kembali sebuah lembaran baru.

 

♫♫♫

 

PLETAK!

“Aw!” pekik Chanyeol setelah sebuah penghapus papan tulis mendarat di kepalanya.

“Perhatikan ke depan, Park Chanyeol! Jangan lirik-lirik siswi baru itu terus!”

Perkataan gurunya seketika mampu mengundang gelak tawa dan godaan dari teman-temannya yang lain. Chanyeol merengut, saat matanya melirik ke arah Tara, siswi baru itu terkekeh pelan.

“Tara-ya, tunggu!” panggil Chanyeol pada Tara yang hendak melangkahkan kakinya keluar kelas untuk istirahat, Baekhyun sudah berdiri di ambang pintu kelas, menunggu mereka berdua.

“Ada apa, Chanyeol-ssi?” tanya Tara.

“Apa kau tahu nomor ponselku? Ah tidak, maksudku, apa kau yang menghubungiku kemarin sore?”

Tara terlihat mengerutkan keningnya, lalu menggeleng.

“Apa maksudnya gelengan itu?” tanya Chanyeol, masih loading hingga tak bisa mengartikan dengan jelas gelengan Tara.

Gadis manis itu tersenyum sembari menahan tawanya,

“Apa kau sedang memberiku kode keras agar kita bisa saling bertelepon ke depannya?” Tara tersenyum jenaka, sementara Chanyeol berkedip polos.

“Yak! Park Chanyeol! Tara Hwang! Ayo cepat kita ke kantin!” seru Baekhyun.

“Maafkan aku, Chanyeol-ssi. Aku sudah punya kekasih.” Gadis itu melenggang pergi mengikuti Baekhyun setelah memberikan sebuah kedipan, meninggalkan Chanyeol yang mematung. Merasa bodoh sekaligus malu untuk dirinya sendiri.

 

♫♫♫

 

Tara terus menatapi layar ponselnya di mana daftar panggilan keluar di ponselnya itu menampilkan nama kontak milik Park Chanyeol dulu yang tidak pernah ia ubah sekalipun untuk 20 tahun lamanya.

Chanyeol-ku

Outgoing call, 5 min 8 sec

“Maukah kau mengangkat teleponku lagi?” gumam Tara sebelum akhirnya benar-benar menekan ikon panggil pada kontak Chanyeol.

Kau lagi?! Kau ini siapa sih sebenarnya?! Kenapa meneleponku terus? Kau tak ada kerjaan lain ya selain mengganggu orang?!

“Kau lagi?! kau ini siapa sih sebenarnya?! Kenapa meneleponku terus? Kau tak ada kerjaan lain ya selain mengganggu orang?!” suara Chanyeol meninggi. Tak peduli dirinya yang sedang menghabiskan waktu istirahat di kantin bersama Baekhyun dan Tara kemudian menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain.

Aku Tara, Chanyeol-ah. Kau benar-benar tak ingat aku?” suara itu terdengar menyedihkan di telinga Chanyeol.

Tunggu! Tara?

Lelaki itu jelas melihat Tara tengah menikmati makan siangnya, duduk tepat di samping Baekhyun tanpa ponsel ataupun earphone di telinganya.

Aku Tara dari 20 tahun yang akan datang.

“Apa kau bilang?!” Chanyeol syok saat itu juga. Untunglah ia tidak tersedak permen karet yang sedang dikunyahnya.

“Kau pasti sudah gila!”

Tunggu! Jangan ditutup dulu!

Chanyeol memutar bola matanya malas, “Apa lagi?”

Kita bertemu di awal bulan September tahun 2009, tepatnya pada sore hari di tanggal 6.” Jelas wanita itu di telepon.

Chanyeol melihat kalendar di ponsel Baekhyun, hari ini tanggal 7 September 2009, dan kemarin adalah hari pertama ia bertemu seorang Tara Hwang. Benar! Tanggal 6 September!

Chanyeol diam. Tak tahu harus merespon seperti apa.

Aku benar, bukan?

“Kau pasti penguntit!”

Kau bersahabat dekat dengan sahabat kecilku, namanya Byun Baekhyun. Dialah yang memperkenalkan diriku padamu di halte pada suatu sore.

Tidak mungkin! Ini tidak bisa dipercaya dengan akal sehat! Tara jelas-jelas berada di hadapannya, dan seseorang meneleponnya mengaku sebagai Tara dari masa depan? Oh! Ayolah! Otak Chanyeol sangat sempit untuk mencerna hal-hal rumit macam ini!

“Kau… benar-benar penguntit andal!” bulu kuduk Chanyeol mulai berdiri. Merasa hal menakutkan tengah terjadi.

“Oh, apa yang harus kulakukan agar kau percaya? Ini juga sulit untukku. Kupikir aku sedang berhalusinasi sekarang. Tapi aku benar-benar berharap kau adalah Chanyeolku di tahun 2009. Kalau bisa, aku ingin mencegah pertemuan pertamaku denganmu.” suara dari seberang terus saja meracau, mengatakan hal-hal aneh yang membuat ketakutan Chanyeol semakin bertambah. Akan tetapi, di sisi lain, rasa penasaran lelaki itu mulai tumbuh. Seseorang yang bicara padanya itu terdengar marah dan putus asa. Meski akan lebih mudah baginya menganggap apa yang ia dengar hanya sebuah bualan semata. Namun, seperti ada sesuatu yang membuat Chanyeol merasa terikat dan harus mempercayainya.

“Kau… tahun berapa sekarang di sana?”

Tahun 2030.

“Kau sedang menerima telepon dari siapa sih? Serius sekali!” protes Baekhyun yang sedaritadi merasa diabaikan.

Chanyeol menatap lurus ke arah Tara, membuat gadis itu kikuk, salah tingkah. Lelaki itu sama sekali tidak mendengarkan ocehan Baekhyun yang mulai mengomel kesal.

“Aku sedang makan siang bersamamu, Tara.”

 

♫♫♫

 

“Tahun 2030.”

Tara mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk. Jantungnya berdebar, cemas. Sebenarnya ia tak tahu apa yang terjadi. Nalarnya pun tak bisa membenarkan. Tapi lebih dari itu, harapan kecilnya kembali dan kini sudah melambung, bahkan terlalu tinggi untuk hal yang belum tentu pasti.

Jinhee, putri kecilnya dengan Baekhyun mulai merengek, duduk tak nyaman di kursi bayi.

Tara menjauhkan ponsel, dan mencoba menenangkan putrinya. “Ssst… tenang, Sayang. Tunggu sebentar, oke? sebentar saja, ibu mohon.”

Suasana sekitar mulai riuh, para pelajar berseragam mulai memenuhi setiap sudut ruangan. Tanpa disadari, sebuah senyum tipis terukir sesaat. Hati wanita beranak satu itu menghangat. Rasanya seperti kemarin, dia juga melakukan hal yang sama dengan para pelajar itu. Berkumpul, bercengkrama, dan melakukan hal-hal bodoh yang memalukan.

Senyum simpul hadir di bibirnya. Ia mengedarkan pandangan, mengamati dekorasi kedai dengan saksama. Tak banyak berubah, hanya ada beberapa furnitur modern yang ditambahkan di tempat itu, selebihnya masih sama dengan apa yang terakhir kali ia ingat.

“Aku sedang makan siang bersamamu, Tara.”

Hening. tiga puluh detik berlalu tanpa kata.

“Ah, maksudku, aku sedang makan siang bersama teman-temanku. Dan salah satu temanku—seperti yang kau katakan sebelumnya, Baekhyun memperkenalkan gadis bernama Tara, kemarin. Tanggal 6 September 2009.” Chanyeol menjelaskan rincinya, walaupun mungkin lelaki itu juga tidak tahu mengapa dirinya harus menerangkan sedetail itu pada telepon tak jelas. Sepertinya, Chanyeol hanya merasa itu perlu.

“Aku tahu,” sudut bibir Tara tertarik. “Hari itu ada menu acar. Susah payah aku menelannya ketika Baekhyun memaksaku melahap potongan sayur yang dia berikan.” kenang Tara.

“Bagaimana—” suara Chanyeol tercekat. Tara bisa membayangan kedua mata pria itu yang membelalak dengan mulut terbuka lebar. Lagi-lagi membuat pikirannya terbang ke masa lalu.

“Sudah kubilang, aku dari masa depan,” yakin Tara, “aku… aku bisa memberitahu semuanya yang akan terjadi padamu.” suaranya bergetar saat ingatan tentang sebuah kecelakaan terlintas di benaknya.

Suara bel berdering nyaring dari seberang. Tara terhenyak, dan bayangan kejadian kelam itu buyar. “Waktu istirahatku habis,” terdengar suara riuh kekecewaan para siswa dan decitan kaki kursi yang menyentuh lantai. Disusul suara hentakan kaki bertempo cepat. “Kita bicara lain waktu.”

Panggilan terputus.

Tara menyeka keringat di pelipis. Entah mengapa rasanya begitu melelahkan. Namun, sebuah senyum terlukis menghangatkan ekspresi di wajahnya. Setetes air mata kebahagiaan jatuh. “Ya. Kita bicara lain waktu,” tirunya.

 

♫♫♫

 

[Tiga bulan kemudian, Desember 2009]

 

Chanyeol terbaring di atas single bed miliknya sambil menerawang, menatap plafon kamar. Hanya tersisa dua jam sebelum akhir pekan berakhir dan berganti hari. Biasanya ia menghabiskan akhir pekan untuk bersenang-senang bersama Baekhyun. Berbeda dari biasanya, kali ini dia harus menghabiskan pekan sendirian, karena pemuda yang tak lebih tinggi darinya itu harus pergi menjenguk neneknya yang sakit di desa. Namun, bukan itu inti ceritanya.

Chanyeol pergi mengusir bosan dari rumahnya pukul delapan pagi tadi. Lantas mengabiskan waktu berjam-jam di game center langganannya. Akan tetapi dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja ia memergoki Nam Jisung—kekasih Tara yang baru dikenalkan gadis itu minggu lalu—sedang berkencan dengan seorang gadis berambut sebahu. Mereka tampak bahagia dengan senyuman lebar, mengumbar kemesraan. Chanyeol berharap dia hanya salah mengenali orang, namun sayangnya tidak. Lelaki yang dilihatnya memang benar Nam Jisung. Chanyeol sudah memastikannya berkali-kali, jadi tidak mungkin ia keliru.

Apa yang terjadi dengan Tara?

Apa mereka putus?

Apa Tara baik-baik saja?

Chanyeol mencoba tenang, menarik selimut memejamkan mata untuk tidur. Namun, bayangan wajah Tara yang terluka dan bersimbah airmata malah muncul di kepala, membuatnya semakin merasa resah dan gelisah.

Chanyeol meraih ponsel di atas nakas, mencari nomor kontak Tara. Dia harus memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Tepat sebelum dia menekan ikon panggil, sebuah panggilan lebih dulu masuk.

“Tara?!” kegelisahan Chanyeol terasa begitu nyata ketika id pemanggil yang baru saja masuk menunjukan nama yang seharian ini menjejal di kepalanya. “Kau di mana? Kau baik-baik saja?” tanpa menunggu si pemanggil bicara, Chanyeol sudah melayangkan kalimat tanya.

“Chan… yeol… hiks…”

“Kau menangis?!” kedua mata Chanyeol membulat, tubuhnya reflek berdiri, dan tangannya yang terbebas meraih mantel bulu yang digantung di belakang pintu. “Apa yang terjadi?”

“Jisung… Jisung…”

Oh sial, “di mana kau sekarang?!”

“Aku… aku…”

“Tenang, tarik napas, dan katakan perlahan.” Chanyeol berusaha mengenyahkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang tiba-tiba muncul di kepala. Meyakinkan diri bahwa Tara sedang berada di tempat aman. Berulang kali Chanyeol mengatakan dalam hati, bahwa Tara tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh seperti menyakiti diri sendiri hanya karena pria tak tahu diri.

“Aku tidak tahu pasti ini di mana, hiks… hiks… tapi aku sedang berada di sebuah taman.”

“Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu dan jangan ke mana-mana atau melakukan hal yang tidak-tidak!”

Chanyeol memasukan ponsel ke dalam saku celananya. Bergegas turun ke lantai satu dan menyambar kunci mobil milik ayahnya yang tergeletak di atas meja dekat televisi.

Akan tetapi, ketika Chanyeol sudah duduk di balik kemudi, ia teringat panggilan—yang katanya—dari masa depan sebulan yang lalu.

Chanyeol teringat bagaimana nada harap di sela-sela isak tangis yang tertangkap telinga. Wanita dari masa depan itu mengatakan, apapun yang terjadi, jangan pernah sekalipun dia melibatkan diri. Tak peduli perasaan apa yang Chanyeol miliki, jika benar Chanyeol menyukai Tara setulus hati, dia hanya perlu membiarkan gadis itu sendiri.

“ARRRRGGGH!” Chanyeol memukul setir dan mengusak wajah frustasi. Diliriknya jam tangan sudah menunjukkan pukul 11 malam. Cuaca di luar juga sedang minus-minusnya. Salju tebal yang menutup seluruh permukaan jalan akan menjadi kendala besar jika ia tetap nekat berkendara keluar.

Apa yang harus dia lakukan?

Lebih dari sepuluh menit ia terdiam, berkutat dengan pikiran. Sebagian dari dirinya mencegah untuk beranjak, percaya dengan perkataan sosok wanita yang mengaku bernama Tara dari masa depan. Katanya, jika dia tetap memaksakan diri untuk terlibat, maka tak pernah ada kebahagiaan yang akan gadis itu lihat. Tapi sebagian lagi mengumpat, persetan dengan masa depan yang sudah wanita itu lihat, Chanyeol tidak bisa membiarkan Tara menangis di bawah butiran salju yang turun cukup lebat.

 

♫♫♫

 

Chanyeol berhenti, menepikan mobil dengan hati-hati. Ia melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil saat tiba-tiba seruan wanita terngiang di telinga.

“Chanyeol, dengarlah, semua hanya akan sia-sia, jangan pernah mencintainya! Takkan pernah ada akhir yang bahagia jika kau bersikeras untuk berkencan dengannya!!

Keparat. Kenapa Chanyeol tidak boleh mencintainya? Bukankah mencintai adalah hak asasi manusia? Lagipula Chanyeol belum tahu apa nama perasaan yang ia rasakan, belum tentu itu cinta, apalagi berencana untuk berkencan dengannya. Sekarang yang terpenting adalah menemukan Tara, dia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun. Kenapa suara wanita di kepalanya tidak mau mengerti juga?

“Kumohon, percayalah padaku, kabulkan inginku. Jangan pernah datang mencari gadis itu di bulan Desember, saat malam bersalju.”

Malam di bulan Desember, dan saat ini bersalju.

Pikirannya tak tentu, dia tak ingin percaya. Nalarnya pun tak bisa membenarkan. Benarkah wanita yang selama ini selalu menghubunginya via telepon adalah Tara? Tara Hwang dari masa depan? Bagaimana bisa?

Bukan, bukan itu yang paling penting. Yang terpenting adalah kenapa Tara dari masa depan bersikeras melarangnya untuk jatuh cinta pada Tara di masa sekarang dan berusaha melarang pertemuan mereka malam ini?

 

♫♫♫

Lama sejak Tara merasa begitu gelisah seperti saat ini. Jinhee sudah tertidur lelap dalam box bayinya, begitu juga Baekhyun, lelaki itu bahkan masih mengenakan kemeja kerja.

Di luar sana, hujan sedang turun begitu deras, menjadi latar kegelisahan yang sempurna. Ponselnya tergenggam erat di depan dada. Sudah sebulan, sejak terakhir kali dia bisa melakukan panggilan ke masa lalu. Karena setelahnya, setiap kali Tara mencoba, hasilnya selalu sia-sia. Nomor yang dia tuju sudah tidak lagi terdaftar. Meski demikian, Tara tidak pernah lelah untuk terus mencoba, berharap dalam cemas yang berselimut asa.

Begitupun dengan malam ini, dia masih terus mencoba menghubungi nomor Chanyeol. Tak peduli nada tulalit dan seruan operator yang mengatakan hal serupa atau sambungan yang tiba-tiba terputus tanpa aba-aba.

Tara hampir menyerah dan melempar ponselnya saat suara teriakan frustasi terdengar dari sana, “sial! Beri aku alasan kuat kenapa aku tidak boleh jatuh cinta pada Tara? Kenapa kau bersikeras melarangku mencarinya saat malam bersalju? Tak tahukah kau bahwa saat ini nyawa gadis itu mungkin sedang terancam mati beku?!”

“Chan… yeol,” Tara kehilangan kemampuan berbicara selama beberapa saat.

“Katakan!”

Tara mengerjap dan menjatuhkan setetes likuid, “karena pada tahun berikutnya, tepat di hari ulang tahunmu yang ke delapan belas… aku… aku…”

“Katakan dengan jelas! Jangan membuang-buang waktu!” Chanyeol sudah menjambak rambut dan memukul-mukul setir untuk melampiaskan rasa frustasi. Jika mengingat bagaimana kepribadiannya sebelum ini, Chanyeol pasti akan berteriak dan mengatakan omong kosong! Chanyeol selalu berpikir dengan logika dan tidak pernah mempercayai apapun yang tidak bisa dia buktikan langsung dengan mata kepalanya. Tapi dalam kasus ini berbeda. Chanyeol seperti dipaksa untuk percaya, suka atau tidak.

Tara sudah menangis tersedu-sedu, tak kuasa untuk melanjutkan kalimatnya. Bayangan tubuh Chanyeol yang berlumur darah dan bau anyir yang menusuk hidung membuat seluruh tenaganya lenyap tak bersisa. Bayangan itu masih terekam sangat jelas bahkan sampai pada detail terkecil, seolah semua baru saja terjadi kemarin.

“KENAPA KAU MALAH MENANGIS?!” Chanyeol kalap dan ikut terisak setelahnya. Entah kenapa hatinya seperti diiris sembilu. Hatinya ngilu, pun merasa pilu ketika tangisan Tara berubah menjadi kalimat sendu setelah cukup banyak waktu yang berlalu.

“Aku adalah penyebab kematianmu hari itu.”

Harusnya, Chanyeol terkejut dan lagi-lagi berteriak omong kosong akan kata-kata wanita di seberang sana. Harusnya Chanyeol menganga, enggan percaya atau mengkeret dengan rasa takut di setiap jengkal tubuhnya mengingat kematian yang akan menyapa tak lagi lama. Namun, bukan itu. Bukan hal-hal seperti itu yang Chanyeol rasakan. Dia merasa terluka untuk hal yang tak bisa ia jabarkan dengan logika.

“Ha-harusnya… harusnya aku-”

“A-apa kau pernah mencintaiku?” pertanyaan ragu-ragu itu sukses membuat Tara termangu, bukankah seharusnya lelaki itu bertanya alasan di balik kematiannya yang akan segera tiba? Kenapa lelaki itu malah menanyakan hal yang tidak berguna?

Dengan emosi yang meluap-luap, Tara menjawab, “tentu saja! bahkan aku masih mencintaimu, akan selalu mencintaimu. Tak peduli dengan ragamu yang tak lagi bisa kusentuh, atau eksistensimu yang sudah tak lagi ada di sampingku!”

“Aku mencintamu, Chanyeol. Sangat mencintaimu!” tangisnya meledak. Tara tidak lagi peduli kemungkinan besar bahwa Baekhyun dan Jinhee akan terbangun karenanya. Dia sudah tak lagi sanggup berpura-pura bahagia dengan apa yang sudah dia punya. Karena jauh di dalam hatinya, ia sangat tersiksa. Tara benar-benar menderita dengan rasa cinta yang tak kunjung pupus setelah kehilangan tuannya.

Chanyeol diam. Ia  kehilangan kata-kata. Sebelumnya dia tidak pernah berpikir tentang cinta yang begitu besar bisa dimiliki manusia terhadap sesamanya. Mungkin karena umurnya baru menginjak tujuh belas tahun November lalu, jadi dia tidak bisa memahami seutuhnya perasaan yang sedang Tara bicarakan. Satu yang Chanyeol mengerti pasti, wanita itu begitu menderita dengan perasaan cintanya.

 

♫♫♫

 

Baekhyun mengenyahkan rasa ngilu dan udara dingin yang menusuk tulang-belulang. Dia baru saja menerima telepon dari ibu Tara bahwa anak gadisnya belum juga pulang ke rumah. Baekhyun sudah menelepon ponsel Tara juga nomor teman-teman perempuannya barang kali satu di antara mereka mengetahui keberadaan Tara. Tapi nihil, mereka menjawab dengan kalimat serupa.

Baekhyun hampir putus asa. Dia sudah mencari ke tempat-tempat yang mungkin gadis itu datangi, seperti sekolah, tepian sungai Han, perpustakaan, tempat penyewaan komik dan lain-lain. Bahkan Baekhyun sudah mengelilingi pusat perbelanjaan dengan pikiran-pikiran negatif yang bersarang di kepala.

Tapi sepertinya, Tuhan masih memberkati. Dari kejauhan, Baekhyun melihat tubuh gadis itu duduk di atas ayunan taman dengan kepala tertunduk. Tak perlu sampai melihat wajahnya, Baekhyun yakin kalau gadis itu adalah orang yang sudah ia cari-cari dan membuatnya ketakutan setengah mati dengan asumsi-asumsi tolol yang berkecamuk tak mau berhenti.

Hatinya mencelos saat didapatinya tubuh gadis itu hampir membeku. Segera Baekhyun melepaskan mantel dan memakaikannya ke tubuh si gadis.

“Chan… yeol.”

Baekhyun tersenyum pahit, dia bukannya tidak tahu kalau kedua sahabatnya itu memiliki kedekatan berlebih dan tak biasa. Tak jarang ia merasa cemburu. Tapi Baekhyun tahu, dia tidak dalam posisi yang benar untuk merasa seperti itu.

“Maaf membuatmu kecewa, tapi ini aku.” Baekhyun tersenyum sambil mengenyahkan salju yang tertumpuk di atas topi yang Tara kenakan.

 

♫♫♫

 

Tara terbangun dengan sakit kepala hebat yang mendera. Tangannya tersambung dengan selang infus. Ia juga mengenakan piyama kotak-kotak yang sedikit kebesaran yang tidak pernah ia ingat kapan membelinya. Ketika sesaat kemudian bau obat-obatan  menyengat menusuk penciuman, barulah Tara sadar bahwa ia tidak sedang berada di rumahnya. Dia berada di rumah sakit, tempat yang tak pernah tercatat dalam daftar tempat yang ingin ia sambangi. Tapi lihat apa yang terjadi saat ini, Tara malah terlentang di atas kasur pesakitan itu.

“Jangan duduk dulu!” suara itu rendah, tegas dan merdu menyapa telinga. Di tengah sakit kepala dan tubuh yang mendadak terasa remuk, Tara memfokuskan mata untuk melihat siapa yang baru saja bicara.

“Chan… yeol?” tahu-tahu kedua matanya sudah basah, “Park Chanyeol?!” Tara mengabaikan rasa sakitnya untuk duduk dan memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan sekedar ilusi maupun fatamorgana, mengingat tempatnya sekarang bukanlah gurun Sahara.

Lelaki itu berdecak sebal. Dia mendekat dan mendorong pelan tubuh Tara untuk kembali terbaring dengan satu tangannya yang terbebas. Sedangkan tangannya yang lain memeluk segumpal daging hidup dengan kepala tak berambut.

“Jin… hee?!” Seingat Tara, Jinhee mempunyai rambut yang lebat di kepalanya sejak ia dilahirkan.

“Dia aman, mungkin sedang berada di ruang staff bersama para suster,” terang Chanyeol. “Syukurlah, kau sudah siuman. Aku benar-benar terkejut saat mendapatimu tak sadarkan diri di dalam kamar.”

Tara tidak begitu mempedulikan ucapan lelaki itu, dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri, mencoba menarik partikel udara di tengah kubangan rindu yang menyesakkan dada.

“Bisakah kau mendekat?”

Chanyeol menyernyit, tapi memilih menurut tanpa banyak bertanya.

Tara mengulurkan kedua tangan untuk menyentuh seluruh bagian wajah Chanyeol. Wanita itu menikmati sensasi nyata dari sosok lelaki di hadapannya. Tak kuasa membendung rindu lebih lama, Tara melingkarkan lengan di leher pria itu dan memeluknya erat, “kau benar-benar Park Chanyeol-ku, aku benar. Kau bukan sekedar ilusi perwujudan fantasiku.”

Chanyeol kebingungan dengan sikap wanita itu yang tiba-tiba saja memeluknya dan mengatakan sesuatu yang ganjal tertangkap telinga. Tapi rengekan putranya yang merasa tak nyaman dalam gendongan lebih dulu mencuri fokus. Susah payah Chanyeol melepaskan diri, dan menimang bayi laki-laki dalam gendongannya dengan frustasi.

Pintu kamar rawat Tara menjeblak terbuka, memperlihatkan sosok lelaki dengan setelan jas yang sudah kusut dan simpulan dasi yang terbuka. Jangan lewatkan wajahnya yang memerah dan berkeringat sedang berusaha mengatur napas.

“Apa yang terjadi?” Baekhyun bergegas masuk dan berjalan mendekat pada ranjang Tara. Kecemasan tergambar jelas di wajahnya.

Chanyeol mengendikkan bahu, masih sibuk meredakan tangisan bayi dalam pelukannya. “Dia sudah tak sadarkan diri di lantai saat aku menemukannya.”

Suara hentakan kaki terdengar, seorang wanita dengan jubah dokter kebanggaannya masuk, diikuti dua perawat di belakang. “Sudah sadar?” pertanyaan itu dilayangkan pada Chanyeol, karena mata wanita itu mengarah padanya.

“Permisi, biar kuperiksa lebih dulu.”

Tanpa diperintah dua kali, Baekhyun menggeser posisinya.

“Syukurlah, dia hanya shock dan kelelahan, dan selamat Tuan, dia sedang mengandung janin berusia delapan minggu.”

Baik Chanyeol maupun Baekhyun tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan rona bahagia di wajah mereka.

Dokter itu mendekat ke arah Chanyeol dan mengatakan sesuatu sebelum dua suster yang tadi mengekor di belakangnya pergi meninggalkan ruangan. Kedua mata tajam milik wanita berprofesi mulia itu menatap galak pada Chanyeol yang mulai pucat dan berkeringat.

“Apa sih yang bisa kau lakukan selain membuat Sanha menangis?! Aku hanya memintamu menjaganya sebentar selagi aku berkeliling memeriksa pasien!” wanita itu mengambil alih bayi ke dalam dekapannya. Lalu membungkuk sekilas ke arah Baekhyun dan berlalu meninggalkan ruangan.

“Maaf, tadi itu—”

“Aku tidak ingin mendengar alasan konyolmu, Chanyeol.”

Chanyeol cemberut dan memasang wajah merajuk, “Sayang… Tara sedang mengandung anak kedua, kau kapan?”

Wanita itu membelalak dan memukul kepala suaminya sambil melirik sekitar, “jangan berharap yang tidak-tidak! Jika menjaga Sanha sebentar saja kau tidak bisa!”

 

♫♫♫

Baekhyun masih mengenakan kemeja kerjanya yang dua kancing atasnya kini terbuka, dan bagian tangannya digulung sampai siku. Tangannya begitu telaten mengelap tangan Tara dengan handuk basah.

“Terimakasih,” gumam Baekhyun tanpa menatap wajah istrinya.

Tara yang semula sibuk dengan fakta-fakta baru—bahwa wanita berjubah dokter tadi adalah istri Chanyeol dan bayi laki-laki dalam gendongannya tak lain adalah buah hati mereka—tidak begitu mendengar gumaman Baekhyun.

“Apa? Kenapa?”

“Terimakasih,” ulang Baekhyun, kali ini kedua mata mereka bertemu. “Sudah bersedia tumbuh dan hidup bersama denganku, juga mengandung dan melahirkan anak-anakku.” Pengakuan itu terdengar sangat tulus, membuat Tara tanpa sadar meneteskan airmata haru. Mungkin selama ini hati Tara terlanjur beku, dia terlalu sibuk hidup dalam belenggu masa lalu.

Semilir angin meniup tirai jendela, membuat keduanya bergedik merasakan udara dingin menyapa. Baekhyun berbalik untuk merapatkan selimut Jinhee yang tertidur di dalam box bayi dan menutup kaca jendela untuk menghalau udara. Namun pemandangan yang disajikan di luar jendela membuat Baekyun bernostalgia.

Malam itu, salju perlahan turun. Dia tersenyum, dan kembali duduk di pinggir ranjang istrinya, membelai surai wanita itu dengan penuh kasih sayang.

“Aku mencintaimu…” bisik Baekhyun yang membuat tubuh Tara membeku dan jantungnya berdetak cepat untuk kali pertama.

Senyum di bibir Baekhyun pudar, tatapan penuh cintanya berubah menjadi gelap, “apa kau masih ingat? Hari saat salju turun begitu lebat, saat aku menemukanmu hampir mati membeku? Kupikir aku sudah menjagamu dengan baik, tapi kejadian hari ini membuatku kembali merasakan ketakutan yang sama.” Kemarahan tergambar jelas di sana, lelaki itu sedang marah pada dirinya sendiri.

“Maafkan aku,” Baekhyun menundukkan kepala, seiring dengan airmatanya yang luruh, “aku pikir… aku pikir… kau—” Baekhyun tak kuasa melanjutkan kalimatnya, dia menangis seperti bocah yang baru saja terjatuh ke tanah dan mendapati lututnya berdarah.

“Aku tak pernah bisa membayangkan dunia tanpa eksistensimu. Tanpamu, hidup pun terasa mati.”

Tanpamu, hidup pun terasa mati. Tara tersenyum miris. Dia tahu betul kalimat yang baru saja Baekhyun katakan. Kalimat yang sangat akrab dengan kehidupan sebelumnya, atau kehidupan di dalam mimpinya? Entahlah. Tara masih belum bisa berpikir banyak. Yang pasti Tara bersyukur itu tidak benar-benar terjadi.

Sebenarnya, hatinya teriris saat tahu fakta bahwa wanita yang menikah dengan Chanyeol bukanlah dirinya. Tak ada yang tahu bagaimana Tara mencintai Chanyeol begitu besar. Tapi cinta saja memang belum cukup sebagai alasan untuk melaksanakan pernikahan, jadi Tara memutuskan untuk tidak berpikir macam-macam.

Meski kecewa dengan kenyataan yang ada, tapi percayalah, semuanya masih jauh lebih baik dari pada hidup dalam penyesalan, rasa bersalah serta cinta yang begitu menyiksa setiap jengkal tubuhnya. Tara bergedik, seolah pengalaman yang dia rasakan begitu nyata.

Pikirannya buyar oleh sentuhan bibir Baekhyun di punggung tangannya dan terus naik ke atas; pundak, leher, rahang, dagu, sampai pada bibir kering dan pucat tanpa gincu. Perlahan tapi pasti, hangat dan mendebarkan. Tara terkejut, sensasi yang terasa sedikit asing. Meski begitu, keduanya tidak memerlukan banyak waktu untuk terlarut dengan emosi masing-masing.

Ciuman itu seperti awal sebuah cerita. Kata pertama yang ditulis di atas selembar kertas dengan cinta yang berhias metafora dan disempurnakan oleh frasa-frasa apik yang ditulis para pujangga.

 

-END-

 

5 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] – INCOMING CALL”

  1. baper bngt yaampun sumpah nyezz kelewatan ini mah T.T
    seneng juga ada wujud baekhyun disini ❤ meskipun chanyeol tetep peran pertamanya sih xD

    kurang nyantol di otak sh alurnya :"v ku bingung, tapi gatau mau nanya siapa /plak
    mungkin aku yg lola, sampe" bcanya 2x buat ngerti :")

    kak as collab sama siapa tuh? ._. hallo kaka author truwita xD aku baru kenal yaa.. jadi slm kenal..
    Collab yg memuaskan dn baper ;"

    1. Yakan si yeol rajanya wong lagi ultah. LOL
      Alurnya emg bikin sangsi, i know it. But, We’ve been trying our best. Hehe
      Lah? Kamu bisa tanya aku atau @ayushafiraa
      Masih gak mudeng? Baca 3x gih. /ditampol/

      Halo, LiMi. Salam kenal juga yaa, panggil aja Tata :))
      Syukur alhamdulillah kalo memuaskan ^^
      Thanks for read and comment, beibh! ❤

    1. Uncc😙😙
      Moal gagal yu, kapan2 kudu dan wajib hukumnya bikin kolab season 2. Haha, jangan kapok.
      Tengkyuuu beib, amazing fiction by us ❤ ❤ ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s