[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES – EPILOGUE in SEOUL — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

[  EPILOGUE in Seoul  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO

OC`s Minrin, Ren, Runa, Hyerim, Yara, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story  rated by Teen served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

— cerita ini kudedikasikan untuk mengenang sebuah mozaik mengenai masa depan yang punya kemungkinan untuk benar-benar terjadi —

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ada rahasia yang sebaiknya diketahui oleh semua orang. Ada juga, rahasia yang baiknya disimpan untuk diri sendiri, dibawa sampai mati dan dikenang sebagai bagian dari memori.

“Siapa yang ingin kau hancurkan, Tao?” seorang pria tua bertanya pada pemuda yang sekarang duduk berlutut di hadapannya, ketakutan.

“Seseorang yang sudah menghancurkan hidupku, Tuan.” jawab Tao dengan suara bergetar hebat. Lantas, si pria tua tertawa lantang. “Ha! Ha! Tidak kusangka, seorang anak muda sepertimu sudah memiliki dendam yang membara.”

Tao, mengeratkan kaitan jemarinya yang sekarang bertumpu di atas lutut, sementara dia masih tidak berani memandang ke arah pria tua dengan tawa psikopat yang ada di hadapannya.

Well, well. Aku sudah terlalu tua untuk bisa memiliki dendam sepertimu. Bagaimana jika, kita bekerja sama? Aku akan mengajarkanmu cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah menghancurkanmu.

“Tapi sebagai imbalannya, kau harus menyelesaikan pekerjaan yang mungkin tidak akan bisa aku selesaikan: menghancurkan kota Seoul.” sontak Tao tersentak saat mendengar ucapan pria tua tersebut.

“M—Menghancurkan Seoul?” ulangnya dengan nada tak percaya.

“Ya, mengapa? Kau tidak berani? Apa kau tidak pernah tahu, bagaimana orang-orang berbuat kriminal tanpa ketahuan? Kau hanya perlu menghancurkan Seoul dengan cara yang kuajarkan.

“Gunakkan otakmu untuk menyelamatkan diri, sekaligus menghancurkan musuhmu. Tidak perlu khawatir, Tao, kekuatan hukum di negara sekarang bisa dinilai dengan berapa banyaknya uang yang bisa kau berikan kepada mereka.”

Pemuda belia bernama Huang Zi Tao itu kontak menunduk, tidak bisa dibayangkannya bagaimana ia harus menghancurkan kota Seoul—yang bahkan belum pernah dipijaknya. Kalau saja Tao boleh jujur, dia ingin menolak dengan alasan yang sudah jelas: takut.

Tetapi, Tao tidak punya jalan lain untuk menuntaskan dendam yang telah tumbuh bersama dengan dirinya, menjadi bagian dari tiap inci tubuhnya. Jadi Tao mengangguk tanpa pikir panjang.

“Baiklah, aku bersedia.” kata Tao kemudian membuat pria tua tersebut menyunggingkan sebuah senyum samar. “Bagus, kalau begitu… hal pertama yang harus kau lakukan adalah mengubah identitasmu.”

“Ba—Bagaimana aku harus mengubahnya?” tanya Tao.

Pria tua itu menatap ke arah langit kosong di luar gedung pencakar langit yang disinggahinya. Lantas dia menatap Tao lagi, sebelum mulutnya terbuka dan sebaris kalimat meluncur dengan lancar dari sana.

“Arshavin, mulai saat ini kau akan hidup dengan identitasku: Arshavin.”

***

Namaku Wang Jia-yi, aku terlahir dari keluarga yang dikatakan sempurna, dan aku pun tumbuh sebagai gadis yang punya kehidupan begitu baik. Tetapi, mengapa kehidupanku tiba-tiba saja berotasi dan terhenti di titik terendahnya?

Shift malam lagi, Jia?”

Jia-yi tersadar dari lamunan—lebih tepatnya, kantuk yang berubah menjadi lamunan—nya saat ia dengar Yixing menyapa. Gadis itu kemudian memutar pandang, menatap ke arah Yixing yang berdiri di ujung ruangannya dengan membawa tumpukan file di tangan.

“Hmm, ya, aku bertukar shift jaga dengan temanku. Dia sedang ada acara keluarga.” kata Jia-yi, dia tepuk-tepuk pelan pipinya, berharap rasa kantuk yang mendominasi sejak tadi bisa menghilang.

“Kau sudah shift malam selama enam hari berturut-turut, disambung dengan shift pagi dengan jumlah yang sama. Apa tubuhmu tidak lelah, huh? Mengapa selalu memaksakan diri untuk menolong orang lain?” Yixing berkata, sekaligus menasehati, dia kemudian duduk di sofa ruangan Jia-yi—ruang yang sebenarnya hampir tidak pernah ditempati oleh Jia-yi karena dia lebih suka menetap di rumah sakit daripada di rumah.

“Aku suka di sana, Yixing. Kesakitan yang ada di sana serasa membuatku merasa hidup—bukan dalam artian negatif, tentu saja. Aku hanya merasa… saat di rumah sakit aku bisa berkomunikasi dengan lebih banyak orang. Dan rasanya menyenangkan.” kata Jia-yi mengenang, senyum bahkan muncul di wajah gadis itu sekarang.

Mendengar penuturan Jia-yi, Yixing akhirnya mengangguk-angguk paham.

“Aku penasaran, bagaimana kira-kira kehidupanmu kalau kau tiba-tiba dipaksa untuk tidak bekerja di rumah sakit lagi ya,” gumam Yixing, maniknya mulai sibuk menilik satu persatu file yang ada di pangkuan, sementara Jia-yi kini menatapnya dengan ekspresi muram.

“Aku akan hancur, kurasa…”

***

Akankah orang-orang masih mengingatku setelah aku mati? Apa mereka akan memperingati satu tahun kepergianku? Dua tahun kepergianku? Bahkan… sepuluh tahun setelahnya? Atau, aku hanya akan menangis meratapi kesendirianku dalam kematian?

Di sana kami bertemu untuk pertama kalinya, di makam ibunya, yang bersebelahan dengan makamku. Ya, aku telah dianggap mati, oleh semua orang. Kematian merenggut identitasku beberapa bulan silam, dan aku terbangun sebagai seorang yang baru…

Byun Baekhyun, adalah identitasku sekarang, begitu juga dahulu.

“Ah, maaf. Mengapa Anda terus menatapku?” vokal lembutnya menyadarkanku dari lamunan, membuatku ingat bahwa aku sedari tadi terus menatap ke arahnya—yang mana dia secara kebetulan tengah berkunjung ke makam ibunya.

“Maaf.” kataku sebelum akhirnya melangkah meninggalkannya dengan cepat. Aku tidak ingin dia mengingat wajahku, tidak ingin dia tahu kalau aku adalah dalang di balik kematian ibu dari sahabatnya.

Ya, ibu dari Zhang Yixing… aku lah yang membunuhnya.

***

Tuhan, jika boleh, izinkan saja aku meminta pengharapan atas orang-orang yang berarti di dalam kehidupanku. Aku tidak ingin diselamatkan, karena aku tahu Engkau juga enggan menyelamatkanku.

“Bisa aku memercayaimu?”

Satu tanya Yixing utarakan pada calon sekutunya. Sementara si calon sekutu, pembunuh berantai berdarah dingin yang sekarang duduk di hadapannya, hanya menjawab dengan sunggingan senyum kecil.

“Kau tak bisa percaya pada pembunuh. Tapi kau bisa percaya, kalau rencana ini akan berhasil.” katanya membuat Yixing mengembuskan nafas panjang. “Aku hanya ingin mereka hancur, tapi kau ingin membunuh mereka.” kata Yixing kemudian.

Si pembunuh, lantas menjilat sekilas bibir bawahnya yang sejak tadi terkatup rapat, helaan nafas panjang bahkan lolos dari bibirnya, membuat Yixing menatap dengan pandang bertanya-tanya.

“Apa sulitnya menyetujui rencanaku? Kau hanya perlu terlibat dengan Arshavin selagi aku menyelesaikan semuanya. Lalu aku akan membawanya padamu, terserah padamu kemudian, ingin dia dibunuh atau dibiarkan hidup.

“Tapi kalau di tanganku, semua nyawa harus berakhir. Jadi jangan percayakan keselamatannya padaku karena kau sudah tahu pasti, aku akan membunuh siapapun yang mengetahui identitasku.

“Terlebih, jika dia seorang wanita.”

***

Jadi, tolong kabulkan saja apa yang tertulis dalam surat kematianku ini.

“Apa aku membangunkanmu, Jia-yi?” Kris bertanya saat dilihatnya Jia-yi bergerak tak nyaman di kursi penumpang belakang mobilnya.

Tahu jika Kris menyadari terjaganya dia, Jia-yi lantas membuka mata, menatap ke arah Kris sejenak sebelum dia buka suara.

“Apa Ren tertidur?” tanyanya membuat Kris menyernyit tidak mengerti. “Melihat bagaimana dia sekarang mendengarkan lagu mellow yang tidak pernah jadi favoritnya, kupikir dia tertidur.” sahut Kris.

“Oh…” Jia-yi malah ber-oh ria, “…, Kalau begitu, apa kau punya selembar kertas dan bolpoin, Kris?” tanya Jia-yi kemudian.

“Untuk apa? Mau menulis keinginanmu sebelum mati?” Kris bertanya dengan sebuah tawa mengikuti. Tapi bukannya mendapat balasan tawa, Kris justru mendapati bagaimana Jia-yi tersenyum muram.

“Ya, begitulah…”

***

Jika boleh, berikan Ayahku ganjaran yang sama menyakitkannya dengan yang telah dia lakukan, Tuhan. Ayah telah menjadi pendosa yang melukai banyak orang, mengubah banyak orang menjadi kriminal haus darah.

“Aku sebenarnya ingin membiarkanmu hidup.”

Jenderal Wang—aih, tidak, jangan memanggilnya begitu sekarang. Dia tak lagi menjadi seorang Jenderal mengingat bahwa kematian putri sulungnya empat tahun silam telah mengungkap rahasia gelap yang telah pria tua itu sembunyikan selama separuh umurnya.

Penggelapan dana, human traficking, jual-beli senjata ilegal, penyalah gunaan wewenang, termasuk beberapa pelanggaran-pelanggaran kecil lain telah menjatuhkannya ke dalam hukuman penjara selama dua puluh tahun yang baru dihabiskannya seperlima waktu.

“Siapa kau?” mantan Jenderal itu bertanya pada sosok sipir pria yang sekarang berdiri di samping jeruji besinya.

“Seorang pembunuh.” jawab sipir itu.

“A—Apa?” tanya sang mantan Jenderal dengan nada tidak mengerti.

“Sudah kukatakan, aku sebenarnya ingin membiarkanmu hidup. Tapi ternyata, orang-orang tidak berpikir kau layak hidup. Jadi mereka membunuhmu… delapan jam yang lalu. Bukan ulahku, sungguh. Aku tahu mereka hendak membunuhmu, tapi kubiarkan saja.” si sipir misterius menjelaskan dengan santai.

Sang mantan Jenderal yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari Wang Jia-yi itu akhirnya menatap nanar. Tahu bahwa nyawanya telah dipermainkan dan diakhiri delapan jam yang lalu.

Tapi dia tidak bisa menyelamatkan diri.

“Cara yang mereka gunakan untuk membunuhmu, sama dengan cara yang kugunakan untuk membunuh putrimu.” lagi-lagi sipir itu bicara.

Tidak, Jenderal Wang bukannya marah karena hidupnya diakhiri, dia bahkan sudah bisa menduga kalau hal-hal seperti ini akan terjadi. Tapi kalimat terakhir sipir—yang sudah jelas merupakan seorang penyelinap—itu lah yang mengejutkannya.

“Kau yang membunuh Jia-yi?” tanya Jenderal Wang, vokalnya bergetar. Masih dia ingat jelas bagaimana tubuh membiru putrinya ia temukan telah terbujur kaku di atas tempat tidur kamar si sulung itu, dengan mata membelalak.

Jenderal Wang tahu, putrinya tidak mati dengan tenang. Kesakitan yang terpancar dari sorot mata yang telah tidak memiliki nyawa itu jelas masih tersimpan. Tapi saat itu Jenderal Wang tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.

Putri sulungnya telah direnggut dengan paksa. Wang Jia-yi, gadis yang tutup usia di angka dua puluh enam itu adalah kebanggaan Jenderal Wang selama ini, karena paras dan kelakarnya yang selalu mengingatkan Jenderal Wang pada mendiang istrinya.

“Bagaimana mungkin kau tega membunuh seorang seperti Jia-yi?” tanya itu membuat sang sipir terdiam. Dia sendiri tidak tahu, bagaimana bisa dia tega? Karena dia seorang pembunuh?

Atau, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya pun dia sendiri tidak sampai hati?

***

Selamatkan keluarga kecil yang telah menyelamatkanku. Kris dan putrinya, Runa dan kekasihnya. Beri juga Hyerim kebahagiaan karena ia telah kehilangan orang yang dia cintai karenaku. Kalau boleh, tolong perbaiki kelakar Minrin dan kekasihnya itu juga.

“Minrin, hentikan. Kau dan Ren selalu saja bertengkar di pagi hari!”

“Dia yang memulai!”

“Kau yang memulai, dasar tidak sadar umur!” Ren menyalak. Selama empat tahun belakangan, pagi-pagi tenang yang dulu selalu Ren miliki hancur sudah karena kehadiran satu—tidak, dua—orang anggota keluarga tambahan yang membuat mental Ren sepenuhnya berubah.

“Apa!? Kau bilang aku tidak sadar umur!?” dengan nada meninggi Minrin menuntut, dipandanginya Ren dengan mata melotot, sementara Ren membalasnya dengan pelototan yang tidak kalah bulat.

“Sudah, Minrin. Kau ini, mengalah saja pada Ren, dia masih kecil.” vokal lembut lain menyahuti, membuat Ren menatap sinis ke arah sumber suara yang baru saja membelanya. “Diam, Hyerim-ssi. Tidak perlu pura-pura baik, aku tahu kau hanya ingin pendekatan dengan Ayahku.” kata Ren diikuti dengan anggukan mengiyakan dari Minrin.

Hey! Apa-apaan kalian?” si pria yang disebut Ayah oleh Ren sekarang berbalik, konsentrasinya pada pancake yang hendak ia masak sontak buyar begitu didengarnya seorang Ren—bocah yang seharusnya masih sibuk memikirkan nasib barbie di usianya sekarang—justru bicara hal yang tidak-tidak.

“Apa, Dad? Paman Baekhyun yang bercerita padaku, kalau Dad dan Hyerim ini tiba-tiba saja jadi dekat. Ingat Dad, aku tidak siap untuk punya ibu tiri, apalagi sejahat Hyerim.”

Kris sekarang mendesis pelan. Dalam hati ia sungguh ingin menyarangkan sebuah tamparan dengan menggunakan loyang panas yang ada di tangannya, di wajah Baekhyun. Tetapi pria bermarga Byun itu sudah begitu lama tidak datang, jadi Kris hanya bisa mengumpatnya saja dalam hati.

“Jangan dekat-dekat dengan Baekhyun, dia bisa mendoktrinmu menjadi seorang yang tidak benar.” peringat Kris hanya disahuti Ren dengan kedikan bahu tak peduli. “Dan rapikan kamarmu, Ren. Runa akan singgah di sini lusa.” kata Kris lagi.

“Runa akan datang?” tanya Hyerim. “Well, yeah. Tahun ini dia mengambil liburan di tengah kuliahnya. Kau tahu sendiri, setelah memutuskan untuk menjalani hubungan jarak jauh dengan Oh Sehun itu, dia fokus mengejar studi magister.” jelas Kris, tidak sadar jika sekarang Ren tengah menatapnya dengan pandang geram.

“Oh, God! Dad, yang benar saja! Memangnya rumah ini sudah berubah jadi penampungan tunawisma!?” kata Ren, dengan geram gadis belia itu melangkah meninggalkan meja makan, menuju kamarnya.

Well, Ren tentu akan membersihkan kamarnya.

***

Yixing, meski dia telah melukaiku dan memunggungiku, dia tetap seorang sahabat yang telah menemaniku selama belasan tahun. Yixing seorang yang baik, Tuhan, aku yakin itu, jadi tolong selamatkan dia juga.

“Sudah kukatakan, lolos dari jeruji jauh lebih mudah daripada masuk ke dalamnya, bukan?” Yixing tertawa mendengar tanya yang baru saja masuk ke dalam pendengarannya.

“Luar biasa, sekarang kau tak hanya jadi pembunuh, tapi juga bisa punya banyak kontak pengacara-pengacara terkenal.” sahut Yixing pada si pria berpakaian serba gelap yang memapaknya di luar kantor polisi.

Ah, mengingat Yixing memilih berdiam di tempat kejadian saat dia melakukan percobaan pembunuhan terhadap Arshavin, Yixing akhirnya mendapatkan hukuman percobaan tiga bulan, dengan sidang yang sudah dia jalani selama tiga tahun.

Berbeda dengan Jenderal Wang yang menghabiskan waktu dengan menunggu di balik jeruji, Yixing justru bisa hidup dengan tenang setelah menyerahkan diri. Alasannya sungguh klasik: dia dipaksa untuk jadi kaki tangan, dengan nyawa istrinya sebagai ancaman—oleh Arshavin.

Polisi tentu cukup puas karena berhasil menangkap Arshavin, dalang di balik sinkholes buatan di Seoul. Sehingga percobaan pembunuhan yang Yixing lakukan tidak akan begitu berarti bagi mereka.

“Di mana Sehun, kau sudah tidak menjadikannya partner lagi?” tanya Yixing kemudian.

“Oh, Sehun sedang disibukkan dengan persiapan kelulusan seseorang akhir-akhir ini. Kalau kupikir-pikir, Sehun justru jadi partnerku dalam jangka waktu paling lama. Hah, bocah itu… dia kelihatan seperti anak baik-baik, padahal jiwanya psikopat juga.”

***

Jangan libatkan Jin-yi dalam masalah apapun lagi, Tuhan, aku mohon. Dia akan menjalani hidup yang berat setelah ini, jadi tolong… jangan menyulitkannya lagi. Jin-yiku hanya seorang remaja belia yang tidak tahu apa-apa.

Hey!”

Sehun mendongak kala didengarnya vokal melengking seorang gadis masuk ke dalam pendengaran.

“Ayo, Jinhee-ah.” kata Sehun pada si gadis selagi gadis itu mengangguk cepat, dia masih disibukkan oleh dua orang teman di sebelah kiri dan kanannya yang sekarang malah lebih sibuk memerhatikan penampilan Sehun ketimbang bicara pada si gadis.

Omo! Jinhee, dia kakakmu?” tanya salah seorangnya. “Ah, ya, dia adalah kakakku.” jawab si gadis dengan nada kikuk.

“Ya Tuhan! Beruntung sekali kau karena punya kakak setampan dia. Bisakah aku dapat nomor teleponnya?” belum sempat si gadis memberi jawaban ya atau tidak, atensinya sudah direbut oleh langkah Sehun yang mendekat.

“Besok kita bicara lagi, ya!” kata gadis itu sambil kemudian meninggalkan dua temannya, menghampiri Sehun.

“Gadis-gadis tidak tahu diri itu, beraninya meminta nomor teleponku. Mereka pasti belum pernah merasakan bagaimana bola mata mereka dicongkel keluar oleh jariku ya?” gerutu Sehun membuat si gadis bergidik ngeri.

“Berhenti bicara hal-hal seram. Dan juga, kenapa kau tiba-tiba menjemputku?” katanya membuat Sehun mengedikkan bahu.

“Kau mungkin saja diculik. Ayo, Baekhyun sudah menunggu kita.” kata Sehun sambil masuk ke dalam mobilnya, si gadis pun mengekor dengan patuh.

“Aku dengar Yixing keluar dari penjara hari ini.” kata gadis itu saat berada di dalam mobil. “Hmm, kau ingin bertemu dengannya Jinhee?” tanya Sehun membuat gadis itu terkekeh pelan.

“Kau bisa berhenti memanggilku dengan nama Jinhee, Sehun-ssi. Oh Jinhee itu ‘kan hanya identitas palsu yang Baekhyun buatkan untukku.” kata si gadis—Wang Jin-yi.

Sehun menghela nafas panjang. “Ya, dia membuat identitas palsu yang sungguh luar biasa. Bisa-bisanya dia menjadikanmu adikku. Dan juga, kenapa kau berakhir mengikuti kami? Kau tidak takut pada kehidupan mengerikan yang kami jalani, huh?” tanya Sehun sembari mulai melajukan mobilnya.

“Tidak,” Jin-yi berkata cepat, “…, Untuk apa aku takut? Kehidupan kalian lebih baik daripada konspirasi mengerikan di luar sana.” sambungnya sambil menatap ke luar jendela. Sehun sendiri memerhatikan gadis itu dalam diam, tanpa sadar tersenyum samar.

“Itu juga motivasimu menjadi mahasiswa tertua di jurusan arsitektur bukan?” tanya Sehun dijawab Jin-yi dengan anggukan mantap. “Ya, aku tidak ingin Seoul kembali hancur. Jadi aku harus menjadi seorang arsitek yang bisa membangun bangunan kokoh di Seoul, sehingga bangunannya tidak akan hancur hanya karena ledakan yang diciptakan oleh dendam.”

Mendengar ucapan si gadis, Sehun hanya dapat tergelak.

“Astaga, terlalu lama menghabiskan waktu dengan Baekhyun ternyata memang berdampak buruk pada semua orang. Lihat caramu bicara sekarang, sudah sangat mirip dengannya.”

Jin-yi hanya merengut mendengar ucapan Sehun, lantas pandangan Jin-yi tertuju pada sebuah plang menuju pemakaman.

“Sehun-ssi, bisa kita ke makam Jia-yi sebentar?”

***

Kemudian Chanyeol, Jongin, Sehun… kasihanilah mereka, Tuhan. Bagaimanapun, mereka hanya orang-orang yang telah tersesat dalam belenggu politik mengerikan yang dua negara ini suguhkan. Maafkan saja, kali ini, apa yang telah mereka lakukan.

Hey, Jia-yi. Tidak terasa, sudah empat tahun berlalu, ya?”

Vokal bass seorang Park Chanyeol terdengar. Di hadapannya, terdapat sebuah boks kaca di mana di dalamnya ada satu guci kaca berwarna putih beserta beberapa lembar foto dari gadis bersurai panjang yang tengah tersenyum.

“Selama bertualang di Seoul, kau pasti tidak bisa tersenyum seperti ini.” kata Chanyeol lagi, mengingat bahwa selama berada di Seoul Jia-yi tidak pernah memamerkan senyum ceria, atau bahkan tawa.

“Dulu aku pikir dia seorang yang sombong.” satu suara terdengar menyahuti, membuat Chanyeol tertawa kemudian. “Ya, kau benar Jongin-ah. Oh, Jia-yi, aku membawa Jongin, juga istriku, Yara. Kau mengingat mereka berdua, bukan?”

***

Kyungsoo, Minseok, Reen, Jongdae, Arin, Luhan… orang-orang yang telah meregang nyawa dengan percuma hanya karena permasalahan yang tidak seharusnya menjadi urusan mereka, aku akan bertemu dengan mereka setelah ini, bukan? Apa mereka akan menerima kedatanganku? Atau… mereka akan berusaha membunuhku setelah aku terbunuh? Ah… membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.

“Aku pikir itu Chanyeol.” Sehun berkata begitu dilihatnya tiga orang keluar dari pintu masuk menuju pemakaman, pandang Sehun kemudian bersarang pada mobil gelap yang ada di sana. “Ah, itu mobil Baekhyun, apa dia ada di sini juga?”

“Siapa yang ada di sini?” tanya Jin-yi saat ia berdiri di sebelah Sehun.

“Semua orang, ayo, katamu kau ingin bertemu Jia-yi.” ucap Sehun sambil melangkah menuju pintu masuk pemakaman tersebut.

Keduanya mengukir langkah menuju ruang tempat Jia-yi disemayamkan, langkah Sehun pun terhenti saat ditemukannya sosok pria berpakaian gelap juga berdiri di dalam ruangan yang hendak dia tuju.

“Ada apa?” tanya Jin-yi.

“Baekhyun masih di dalam. Kita tunggu saja dulu.” ucap Sehun sambil kemudian membawa langkah Jin-yi menjauh.

Diam-diam Jin-yi merasa heran juga. Bukankah Sehun sudah sangat terbiasa pada kehadiran Baekhyun? Mereka bahkan tinggal bersama. Tapi ada apa dengan sikap Sehun sekarang?

“Memangnya kenapa kalau Baekhyun ada di dalam sana?” tanya Jin-yi tak bisa menahan keingin tahuannya.

“Dia mungkin ingin berbaikan dengan Jia-yi.”

***

Lalu… Baekhyun, pembunuh berhati dingin yang entah bagaimana justru telah menghangatkan hatiku, bisakah… aku bertemu dengannya sebelum aku mengembuskan nafas terakhirku? Atau, bisakah dia saja yang membunuhku?

Terdiam adalah hal pertama yang Baekhyun lakukan setelah ia sampai di depan makam Jia-yi. Tanpa sadar, senyum terukir di wajah pria itu.

“Kau menggantikan tempatku, Jia-yi. Aku sudah lelah berpura-pura mati selama hampir sepuluh tahun. Dan aku tahu kau pasti ingin berada di dekat ibumu. Jadi, aku hentikan sandiwara kematianku.” kata Baekhyun memulai.

“Kau tidak sempat menceritakan apapun padaku, dan akupun begitu. Maaf, karena aku terpaksa mengakhiri hidupmu, Jia-yi. Saat itu, mati adalah jalan terbaik buatmu. Untuk menghentikan semua kekejian atas dendam yang orang-orang simpan terhadap Ayahmu.”

Baekhyun kemudian menghela nafas panjang.

“Apa kita sudah berbaikan sekarang? Kalau iya, aku ingin menyampaikan berita buruk kepadamu.” kata Baekhyun lagi. “Ayahmu mati terbunuh, dengan racun yang kugunakan membunuhmu. Sudah empat tahun berlalu sejak kematianmu, Jia-yi, dan keadaannya tidak juga membaik.

“Jangan khawatirkan Jin-yi lagi, dia akan baik-baik saja. Dan jangan khawatirkan semua orang yang dulu terlibat dalam petualanganmu. Mereka semua sudah baik-baik saja. Satu-satunya orang yang tersisa dan tidak baik-baik saja adalah kau sendiri.

“Apa kau tidak lelah, tertidur selama empat tahun? Apa kau tidak rindu pada kehidupanmu? Apa… kematianmu menyenangkan?”

***

Baekhyun satu-satunya orang yang bisa kupercaya, meski dia sendiri berkata bahwa dia tidak bisa dipercaya. Meski dia hidup dengan berbalut kebencian, tetapi aku telah melihat sisi lain dari dirinya. Dia adalah seorang pelindung yang bisa dipercaya.

“Cih, dua bocah itu, mereka pikir bisa menipuku dengan bersembunyi?” omelan lolos dari bibir Baekhyun begitu dia melangkah keluar dari ruang tempat Jia-yi dimakamkan.

Tentu saja dia tahu bagaimana Sehun dan Jin-yi sekarang berhimpitan di ruang sebelah, berusaha menghindarinya. Dan Baekhyun sedang tidak ingin repot-repot bicara pada mereka. Ada yang harus pria itu temui, seseorang yang tengah menunggunya di luar pemakaman.

Sesampainya Baekhyun di luar gedung, maniknya segera bersarang pada mobil mewah yang masih terparkir di pelataran. Lantas Baekhyun mengukir langkah mendekat, diketuknya kaca jendela mobil itu, menampakkan dua orang pria dan satu wanita masing-masing di kursi kemudi dan kursi penumpang belakang.

“Lama tidak bertemu, Park Chanyeol. Apa kabar?” kata Baekhyun.

“Ya, lama tidak bertemu. Kudengar kau tidak lagi menjadi pembunuh bayaran.” sahut Chanyeol ringan sebagai sapaan.

“Membunuh sudah mulai membosankan. Kehidupan rumah tanggamu dengan Yara menyenangkan?” tanya Baekhyun lagi, pandangnya kini bersarang pada Yara yang tengah duduk menyandarkan diri dengan perut membesar.

“Yara sedang hamil anak kedua kami.” kata Chanyeol.

“Wah, kalian sungguh luar biasa. Dan apa kabarmu, Jongin?” sapa Baekhyun pada pria di balik kemudi. Pria itu menyunggingkan sebuah senyum, memamerkan deretan geligi sempurnanya yang terakhir kali dalam ingatan Baekhyun, sudah hancur.

“Kau lihat, aku hidup dengan baik seolah tak pernah terjadi hal buruk apapun.” kata Jongin, lantas dia menatap Baekhyun dengan manik menyipit. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Ah, aku? Aku sedang berbaikan dengan Jia-yi.” jawab Baekhyun.

“Oh, baguslah kalau kau sudah berbaikan dengannya.”

***

Pada akhirnya… aku pun tidak bisa selamat dari peperangan ini. Aku takut mati, Tuhan, tapi aku lebih takut menghadapi apa yang akan terjadi kepadaku jika aku selamat. Jadi, kurasa mati adalah pilihan terbaik saat ini.

Tetapi Tuhan, aku tidak ingin mati dengan cara yang tidak adil. Mati di tangan Baekhyun pun sebenarnya adalah cara yang tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan. Lebih baik mati di tangan Baekhyun daripada harus mati di tangan orang lain.

“Kau juga yang membunuh Jia-yi juga, bukan?”

Sebuah tanya Yara utarakan pada Baekhyun, membuat pria Byun itu terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia tersenyum dan mengangguk.

“Ya, aku yang membunuhnya. Tapi aku akui aku sebenarnya juga telah jatuh hati padanya.” tutur Baekhyun membuat Yara menatap dengan alis bertaut. “Mencintai, tapi membunuh.” sahut Yara, pandangan tentang mengakhiri nyawa orang yang dikasihi tak pernah jadi hal mengenakkan bagi batin Yara.

“Mencintai tidak harus berarti memiliki, Nyonya Park.” kata Baekhyun.

Yara pun akhirnya menyerah. “Terserah kau saja,” ujarnya, dia baru saja hendak membuang pandang saat akhirnya pandangnya kembali ia tumpukan pada Baekhyun.

“Kalau suatu hari kau menemukan seseorang yang benar-benar kau cintai, jangan lukai dia. Karena kalau kau benar-benar mencintainya, kau tak akan sampai hati melihatnya terluka, apalagi melukainya dengan tanganmu sendiri.”

***

Aku juga belum sempat memberitahu Baekhyun, kalau aku telah membunuh seseorang. Apa dia akan bangga padaku? Atau, dia akan berkata-kata sarkatis lagi padaku? Ah, aku sungguh ingin bicara padanya saat ini.

“Aku jadi seorang antagonis di sini.” kalimat sarat akan rasa tidak terima Baekhyun ucapkan petang ini. Sementara gadis bersurai sebatas bahu yang jadi lawannya bicara hanya bisa mengembuskan nafas panjang.

“Kau tahu kau bukan antagonis.” kata si gadis.

“Ya, ya, kau bisa bicara begitu sekarang. Kenapa juga kau memilih untuk ikut denganku? Padahal sudah kukatakan kalau aku ini seorang pembunuh.” ujar Baekhyun masih dilingkupi rasa kesal.

“Karena aku memercayaimu, tentu saja. Bukankah Jin-yi juga ikut denganmu karena tahu dia bisa percaya padamu?”

“Dia mengikutiku dan Sehun karenamu, Jia-yi.” ucap Baekhyun membuat si gadis tertawa pelan. “Dan aku ikut denganmu karena aku percaya padamu, Baekhyun.” lagi-lagi si gadis—Wang Jia-yi—mengulang kalimat yang sama.

“Kau terdengar sangat percaya diri sekarang.” ledek Baekhyun.

Well, aku sudah pernah membunuh seseorang. Tentu saja aku bisa bangga.” kata Jia-yi, mengingatkan Baekhyun pada cerita tentang bagaimana Jia-yi membunuh Luhan di pesawat yang dipiloti Junmyeon.

“Jangan bercanda. Satu nyawa itu tidak ada artinya, terlebih lagi, kau hanya menuangkan racun ke minumannya, pembunuhan yang sangat sederhana.” kata Baekhyun masih tidak ingin kalah.

“Berhentilah mengikutiku, Jia-yi, tidak bisakah?” tanya Baekhyun, hampir putus asa. Dia sudah terbiasa hidup sebagai bagian dari bayangan kehidupan yang gelap, menyendiri dan tidak dikenal.

Tapi dia tidak terbiasa dengan keberadaan dua orang wanita dan satu bocah berstatus dokter di kehidupannya juga.

“Aku bisa membantu Sehun. Kau tahu aku seorang ahli medis juga. Mengapa kau selalu menolakku? Sudah kukatakan, hidup atau mati, aku ikut denganmu Byun Baekhyun.” tegas Jia-yi membuat Baekhyun menatap si gadis dengan pandang menyipit.

“Tapi kau sudah mati, Wang Jia-yi.”

Mendengar ucapan Baekhyun, Jia-yi hanya bisa tersenyum kecut, sebelum dia kemudian menyunggingkan sebuah senyum kecil.

“Kematianku bukan hanya tentang pembunuhan. Tetapi bagaimana caraku akhirnya terjebak di dalam sebuah sinkhole dengan kehidupan gelap di dalamnya. Aku tidak dipaksa untuk bertahan hidup di dalam sinkhole itu dengan tangan kosong. Aku dipaksa untuk berpikir kritis layaknya Holmes, mempertaruhkan nyawa, mengorbankan nyawa orang lain.

“Meskipun… pada akhirnya akupun gagal menyelamatkan diriku sendiri. Perkataanmu benar, Baekhyun. Secara teori aku memang sudah mati. Tapi kau dan beberapa orang di sini sebenarnya tahu benar kalau aku masih hidup, bukan?”

fin

7 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES – EPILOGUE in SEOUL — IRISH’s Tale”

  1. Junmen ga kbagian dialog?
    Itu 🏡nya 크리스 rame sm para 여자 😄
    Thank u.. 😘 크리스 slamet dr ldakan yg ngagetin 렌 di kumpulan NG scene sblm’ny, udah pasrah sih klo irish metong-in 크리스 tp trnyt, he’s fine ☺
    Brhrp jg sbnr’ny jia yi ‘somehow’ bs slmt, ntah tu racun cm ksh effect ‘as if’ jia yi bnrn mati bwt ngecoh/bo’ong-in Mr.왕 /ky racun yg di pk di drama d’moon embraces d’sun/ky yg di drama 영발 itu 😗
    Udah 2 aja ni ya yg main actress’ny die scara fisik tp ruh’ny msh trus brsm soulmate’ny ☺ (arin di ff bday u/ anne & jia yi di ff ni)
    Jin yi asik bgt pny abang sganteng 세훈 😘 tp deep inside he’s another ‘saiko!’ 😬
    크리스 akuh dicomblangin sm eks-ny luhan? 😞 huh, garella.. Td’ny pas scene ren sm minrin seteru tu dah ngbayangin bkl da interaksi shounen-ai nya krisho 😁

  2. Wang Jia-yi selamanyaaa :*

    sejujurnya setelah aku baca ff ini sampe tamat, meninggalkan trauma wkwkwk
    bisa dikatakan pemeran utama cewek nya mati dan itu buat galau, tapi aku sangat suka baca ini beda dari yg lain soalnya 🙂

  3. Masih susah percaya kalo ini udah end :””))

    AAAKKKKKK TERIMA KASIH KAK IRISH TERNYATA DADDY KU MASIH HIDUPPPPPP
    BUT WHY ITU HYERIM DEKET DEKET AMA BAPAKKU?! JAUH JAUH KAU HYERIM!!
    DAN LUV BANGET SI MINRIN AMA REN YANG KOMPAK GITU

  4. Jia-yi yang sebenarnya masih hidup, itu pegangan teguh yang masih aku pegang, setidaknya untuk sekarang ini. Karena… kaya ganjil aja. Tapi… Ah, syudahlah..😂:v

  5. Syedih syumpah pas tahu jiayi beneran mati…pdhal dia bisa sma baek biar s cabe ga kejam2 amat lagi hiks..hiks..tp klo ga mati juga baek ga bakal sadar…tak tahulah hrus ngomong apa..q syedih tingkat dewa…mna mnet bkin emosi..lha ini apa mah ngomong ngyg lain hahhhaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s