[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES – BEHIND the HOLES — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

[  BEHIND the HOLES  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO

OC`s Alessa, Reen, Arin, Minrin, Ren, Runa, Hyerim, Yara, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic crack-comedy story  rated by Teen served in oneshot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

— yang sudah terjadi, belum tentu benar-benar sudah terjadi —

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

ZHANG YIXING

“Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Ayahmu dan Ayahku bertemu?” tanya Jia-yi tidak sabaran. Jelas ia tahu siapa ayah Yixing, seorang panglima perang yang selama hampir tiga puluh tujuh tahun mengabdi untuk negara.

Sementara Ayahnya sendiri sekarang berkedudukan sebagai seorang menteri di parlemen negara, dan dari yang Jia-yi dengar, Ayahnya tengah bekerja sama dengan beberapa pihak luar negeri untuk melakukan kudeta.

“Pengkhianatan.” tatapan Jia-yi membulat kala di dengarnya kata itu meluncur dari bibir Yixing. Benar dugaannya, bukan? Pasti ada yang tidak beres di sini, Jia-yi sudah menduga hal itu, tentu saja.

“Keduanya tengah berusaha bekerja sama secara ilegal untuk menyelesaikan level holmobile legend yang tidak pernah berhasil Ayahku lewati.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KRIS WU

Dad,” panggil Ren kikuk.

Hm?” hanya sahutan kecil yang keluar. Kris masih sibuk dengan kamera dan komputer jinjingnya.

“Aku ingin bicara.”

“Ya. Bicaralah saja,” balas Kris tanpa sedikitpun menatap wajah putrinya.

Ren menghela nafasnya. Ia ingin ayahnya bicara dengan menatap matanya. Tapi sepertinya itu hal yang hampir mustahil. “Besok ada rekreasi sekolah ke Namdaemun. Jadi…” ucapan Ren terhenti sejenak karena ia mengobrak-abrik isi tasnya, berusaha menemukan surat persetujuan dari orang tua untuk mengikuti kegiatan rekreasi sekolah yang sedang ia bicarakan. “Aku power bank, juga tongsis. Bisakah Dad memberiku uang untuk membelinya?”

***

“Selain itu ada hal lain yang ingin kubicarakan mengenai putri Anda.”

“Hal lain?”

“Ya. Ini soal Ren yang membawa produk tupp*rware ke sekolah,” jawab Yunho. “Kurasa aturan sekolah sudah jelas menyatakan jika para murid tidak diperkenankan untuk membawa produk berbahaya ke sekolah. Selain karena dapat mengganggu konsentrasi makan mereka, itu juga dapat memicu kecemburuan sosial antar-siswa. Sedangkan, Anda tahu sendiri apa yang akan terjadi jika tupp*rware milik Ren hilang, bukan?”

“Ah, ya. Aku tahu itu. Tapi aku sengaja membawakan putriku tupp*rware agar dia bisa makan dengan nyaman dan yang lainnya. Hal-hal semacam itu dan bukannya ‘hal-hal lain’. Kuharap Anda bisa memakluminya karena aku sendiri cukup sibuk.”

Yunho tersenyum diplomatis.

“Aku tahu itu, Tuan Wu. Tapi peraturan tetaplah peraturan.”

***

“Cepat masuk ke mobil.” Suara dingin itu datang begitu tiba-tiba hingga Ren hampir terjungkal ke depan dari duduknya di kursi tunggu. Sedangkan pemilik suara dingin yang notabene adalah ayahnya langsung melenggang di lorong yang sepi.

Otomatis Ren segera menyusul ayahnya. “Dad, aku minta maaf. Aku tidak sengaja! Mereka yang memulainya! Mereka berusaha mencuri tutup tupp*rwareku!”

Kris berbalik tajam. “Tapi yang kau lakukan tetaplah salah, Nona. Menghajar temanmu sampai mereka masuk rumah sakit hanya karena tupp*rware? Bagaimana jika kasusnya jadi makin panjang?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

PARK CHANYEOL

“Kau ada di Namdaemun saat sinkhole itu muncul?” Jongin jadi orang pertama yang berhasil menemukan kalimat untuk menyahuti penuturan Jia-yi.

“Aku melihatnya.” Jia-yi berucap yakin. “Aku bahkan berdiri di tepi sinkhole tersebut. Ah… sayang sekali aku tidak punya holstogram dan tidak bisa mengupdate holstoryku di sana.” Jia-yi tertawa sarkatis, tahu jika ia sekarang mungkin dianggap konyol oleh dua orang yang mendengar ceritanya.

***

“Aku hanya tahu Chanyeol dari salah seorang kenalan.” Jia-yi menyahut, gadis itu bergerak mengusap tengkuknya saat dirasanya Kyungsoo tidak memberi komentar apapun. Diam-diam, Jia-yi menyesal juga menyetujui tawaran baik Chanyeol yang meminta Kyungsoo untuk mengantar gadis itu.

“Siapa?” lagi-lagi pertanyaan dingin Kyungsoo terdengar.

“Kris, seorang fotografer freelance.” sahut Jia-yi, tahu jika bicara panjang lebar dengan pemuda di depannya tidak akan membuatnya memenangkan apapun.

“Ah, duda ngenes beranak satu itu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

DO KYUNGSOO

“Alessa! Pergi dari sini! Jangan mendekat! Cepat!” Kyungsoo berteriak sampai suaranya serak. Ia tidak peduli lagi dengan tubuh bagian bawahnya yang mati rasa. Yang ia takutkan gadis sarkas itu akan melakukan hal-hal gila seperti biasa.

“Tidak!” Alessa tak bisa menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap berdiri, dia terjatuh dengan benturan di kepala lebih dulu. Tak cukup keras untuk membuatnya kehilangan kesadaran, tapi cukup untuk membuat kepalanya berdarah dan rasa sakit menderanya. Senter di tangannya terlepas, jatuh masuk ditelan lubang gelap.

“Alessa!” Kyungsoo terlalu panik melihat cairan gelap mengalir dari tengkuk gadis itu. Ia tak peduli dengan kakinya yang beku, ia juga tak memerhatikan pijakan, sehingga kakinya tergelincir dan tubuhnya terperosok masuk ke dalam sinkhole.

Arghh!”

“Kyungsoo!!”

Hey! Stop! Stop! Stop!”

“Apa-apaan ini!? Mengapa efek gempanya sangat tidak profesional!?”

***

“Do Kyungsoo!!”

“Men—jauh, Al!”

Hati-hati sekali Alessa melangkah ke bibir si lubang biadab—begitulah Alessa memberinya nama—sambil terus mengumpat.

“Bicaralah! aku tak bisa melihat apapun.”

“Aku akan melamarmu kalau aku selamat kali ini. Peduli setan dengan ayahmu atau sekolahmu!”

“Jangan bicara aneh-aneh, dasar generasi micin!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KIM JONGIN

Suara berisik musik tempo cepat dipadu sinar mentari yang tumben-tumbennya masuk ke ruangan gelap itu sedikitnya mengusik Jia-yi. Tak lama, akhirnya gadis Wang itu terbangun dari tidurnya. Ia duduk di sofa, satu hal yang kini dibingungkan Jia-yi bagaimana bisa tubuhnya terkapar di benda putih empuk ini saat kemarin malam seingatnya ia tertidur di atas meja?

Hyung yang mengangkatmu ke sofa. Tenang saja, dia tidak macam-macam kok Jia-yi-ssi. Hanya memindahkanmu karena kemarin malam ia perlu meja yang kau tiduri. Lagipula, Chanyeol hyung tidak suka body-body gadis yang tidak berisi.”

***

“Kupikir kau bisa membantunya sedikit, hyung. Dia sama saja seperti kita.” Jongin akhirnya ikut bicara.

Ingin sekali Jia-yi membantah dan mengatakan kalau dia sama sekali tidak sama dengan dua orang yang sekarang bersama dengannya. Tapi Jia-yi tahu, mengatakan hal semacam itu tidak akan membantu saat ini. Anggap saja, ia sedang mengalah demi kebaikan.

“Dia tidak sama seperti kita, Jongin. Dia tumbuh dengan kasih sayang, di negara yang tenang. Tidakkah kau lihat perbedaan mental stage kita dengannya? Kita hanyalah bujang lapuk yang sudah berstatus jomblo sejak lahir.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KIM MINSEOK

“Mengapa kau menolongnya?” akhirnya kalimat itu Alessa lontarkan.

Mengapa? Sebenarnya Jia-yi juga ingin tahu. Dia tidak ingin menjebak diri dalam masalah. Sungguh, Jia-yi tadi sempat khawatir tentang kemungkinan bahwa Baekhyun akan terbangun dan tiba-tiba saja mencekiknya sampai mati.

Tapi mengapa ia terus berkeras ingin menolong?

“Karena author kita menyuruhku menyelamatkannya.” jawab Jia-yi sekenanya.

“Oh, aku sudah tahu jawabannya memang tidak berfaedah.”

***

“Kau benar-benar akan membawaku kembali, Kyung?” tanya Alessa membuka konversasi.

“Kembali?” Jia-yi mengulang dengan nada sarat akan pertanyaan. Kembali ke mana yang sedang dua orang ini tengah bicarakan? Pikirnya.

“Ya. Waktu itu kita sudah ke kantor urusan agama. Hanya karena Ayahku datang, kau sudah lari menyelamatkan diri. Memang, apa seramnya seorang Cho Kyuhyun? Dan, kapan kau akan melamarku?”

***

Minseok menggunakan sebelah tangannya masuk ke bagian belakang tubuh Reen, berusaha membuka kancing rok span ketat yang Reen pakai, Minseok merasa hormon kejantanannya memuncak terlebih ketika kancing itu terbuka dan rok span ketat yang Reen kenakan mulai melonggar.

Minseok mulai memasukkan tangannya ke bagian dalam rok Reen ketika wanita itu tiba-tiba mendorong tubuh Minseok dan menggeleng kasar, “Tidak, Minseok. Ini salah.” katanya.

“Cerita kita bukan cerita no-child dengan rate 17+ yang pantas melakukan adegan vulgar seperti ini.”

***

“Kau akan keluar? Menemuinya? Untuk apa?” Jia-yi bertanya dengan nada menuntut.

Well, sekarang mereka tengah diuntungkan. Menurut Jia-yi, pria di luar sana mungkin tidak membawa senjata apa-apa. Minimal, dia tidak membawa bom atau granat, atau bahan-bahan peledak sejenisnya yang bisa membuat mereka mati seketika.

Tapi mengapa Kyungsoo justru berniat menemuinya?

“Memintanya untuk memfollow holstagramku. Dia adalah seorang selebgram, kau tidak tahu itu?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

OH SEHUN

“Ini sudah hari ke-tiga sejak dia tidak mau makan.”

Sebuah suara menyambut rungu Sehun ketika pria itu tengah sibuk dengan belasan lembar resume medik di meja.

Dia yang mana yang sedang kau bicarakan?” Sehun bertanya, diliriknya gadis yang berdiri di ujung pintu tenda—Kwon Runa, namanya, dia seorang mahasiswa nutritionist semester delapan—yang tengah menatap dengan pandang menerawang.

“Dia, dia dia. Cinta yang kutunggu, tunggu, tunggu.”

***

“Aku baik-baik saja, Dokter. Hanya sedikit—” Tidak banyak tenaga yang bisa Runa kerahkan untuk berucap karena tubuhnya lebih dahulu tertarik masuk dalam sebuah pelukan tiba-tiba. Bisa dengan jelas Runa merasakan Sehun menempelkan kening dan mata di pundaknya. Napas si lelaki memburu, diselingi sedikit batuk-batuk. Tanpa seuntai kata pun.

Sialan, bagaimana Runa tidak susah bernapas sekarang?

“Gempa!” Mendadak Runa panik, merasakan guncangan lagi. “Hatiku gempa karenamu, Dokter! Ini berbahaya!”

***

Selama ini Runa kira Sehun adalah orang biasa, yang sederhana, dan yang merelakan gaji untuk diberikan orangtua. Namun begitu mendengar frasa ‘milikku’ yang Sehun lontar saat ditanya mengenai kepemilikan mobil mewah yang terparkir manis di tepi jalan, Runa membatin curiga. Bertanya-tanya dalam hati akan apa yang sebenarnya Sehun coba sembunyikan di sini.

Kendati sudah duduk di samping Sehun dan memastikan Jia-yi dan Jin-yi sudah masuk mobil, Runa masih menekuk keningnya. Cara Sehun mengendarai mobil ini pun bisa dikatakan seperti sudah terbiasa. Entahlah, Runa pikir segala hal yang dilakukan Sehun terasa perlu ditanyakan sekarang.

Tahu jika tengah menjadi sasaran tatap, Sehun akhirnya membiarkan katup bibirnya terbuka, “Tanyakan saja.” Ia seolah paham. Terlanjur basah, Runa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bertanya, “Kau ini siapa?”

Akan sangat lucu jika Sehun menanggapi dengan lelucon dan tetap keras kepala mengatakan bahwa ia adalah dokter bedah biasa. Lagipula, lelaki ini mulai tak bisa menahan diri untuk menutupi segalanya di depan si gadis. Setelah membelokkan mobil ke persimpangan, Sehun menambatkan pandangan pada Runa.

“Sebenarnya, aku adalah seorang anggota jojoba.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

XI LUHAN

Luhan hanya bisa duduk diam sekarang. Tunangannya lah yang jadi satu-satunya orang tempat Luhan mengadu. Sayang, sampai jam menunjukkan angka lima sore hari, gadis itu belum tampak juga. Diam-diam Luhan tersadar. Gadis yang berstatus sebagai tunangannya itu harusnya sudah ada di rumah sejak jam tiga tadi mengingat dia hanya mengisi dua jam kelas bahasa asing di sebuah lembaga pembelajaran.

Apa yang menghambat gadisnya?

Luhan berusaha menerka-nerka. Apa tidak ada bus yang bisa membawa tunangannya pulang? Sialan. Membayangkan hal itu entah mengapa sekarang membuat Luhan merasa jadi pria paling bodoh di dunia.

Bukankah dia seharusnya sadar tentang hal ini sejak satu setengah jam yang lalu?

Lekas, Luhan bangkit dari tempatnya sedari tadi terpekur tanpa hasil. Diraihnya salah satu kunci mobil yang ada di atas meja, sementara tangannya yang lain menarik jaket kulit berwarna cokelat tua yang tersampir di bahu sofa.

“Aku harusnya ingat kalau hari ini ada diskon akhir pekan di holamart! Hyerim pasti ada di sana, termakan iming-iming diskon beli 1 gratis 1, lalu dia akan membeli pulsa di kasir. Sial!”

***

“Lukanya cukup parah, Bung. Dia perlu ke rumah sakit.” si pria asing berkata.

“Aku akan mengobatinya.” Luhan menyahut.

“Apa kau seorang dokter?” tanya pria tersebut dengan nada sarkatis yang membuat Luhan melemparkan pandangan. “Tidak. Memangnya kau sendiri dokter? Aku tahu semua hal tentang luka-luka kecil semacam ini, Tuan.”

Mendengar perkataan Luhan, Sehun akhirnya mengembuskan nafas panjang.

“Aku seorang anggota jojoba.”

***

Putaran tersebut mencapai akhirnya kala sisi depan mobil Sehun menabrak lampu jalanan. Tubuh keempat manusia yang berada di dalamnya, sedikit terdorong ke depan saat tabrakan terjadi namun seatbelt menyelamatkan mereka yang tak berakhir tragis tatkala tabrakan terjadi. Napas keempatnya terengah-engah dengan jantung berdegup keras.

Eunghhh,” suara lenguhan Hyerim terlolongkan, membuat radar Luhan menyala dan menengokan kepala dengan wajah cemas ke arah Hyerim yang tampak memasang wajah menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya.

“Hyerim, tolong jangan menggodaku sekarang. Pertama, kita sedang ada dalam situasi yang berbahaya. Dan kedua, kita sedang ada di dalam fanfiksi, aku tidak akan bisa seenaknya menarikmu ke dalam kamar kita.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

HUANG ZI TAO

“Nyawa siapa yang kau inginkan?” tanya Baekhyun, seolah tukar-menukar dengan nyawa sebagai objek pertukaran yang sekarang tengah menjadi bisnis mereka adalah hal yang lumrah untuk dibicarakan.

“Wang Jia-yi. Bawa gadis itu ke sini untukku.”

Sejenak, Baekhyun terdengar mendengarnya. “Mengapa? Karena gadis kecil di sana itu terlihat sama kesepiannya denganmu?” pertanyaan Baekhyun membuat Tao terdiam. Lantas, sikap diam pemuda itu membuat Baekhyun mendapat celah untuk kembali bicara.

“Jangan kambuh, Baekhyun. Aku tahu kau diam-diam punya jiwa pedofil. Tapi gadis yang merupakan adik dari Wang Jia-yi itu sudah terlalu tua. Coba kau cari sasaran lain yang lebih muda.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

BYUN BAEKHYUN

“Apa kau belum menikah?” Baekhyun sedikit berjengit mendengar pertanyaan Jia-yi. Tidak disangkanya, gadis di sebelahnya ini akan punya keberanian untuk menanyakan hal semacam itu.

“Aku baru saja kehilangan istriku.”

“Oh, aku kira kau seorang jomblo dari lahir.”

***

“Apa kau pandai bermain peran?”

“Bermain peran? Apa maks—”

 “Wah. Lama tidak berjumpa, Park Chanyeol. Aku datang mengunjungimu untuk mengajak bekerja sama. Dan juga, kuperkenalkan kau pada wanitaku, namanya Jia-yi.”

Hampir saja jantung Jia-yi melompat keluar dari persinggahan ketika maniknya bertemu dengan manik gelap milik sosok yang beberapa waktu lalu sempat terjebak dengannya itu.

“C-Chanyeol-ssi…” lirih Jia-yi berhasil merenggut atensi Chanyeol.

“Senang bertemu denganmu lagi, Jia-yi.” kata Chanyeol, tersenyum ramah pada Jia-yi sebelum dia kemudian melemparkan pandang penuh kebencian pada pria yang ada di sebelah Jia-yi. “Dosa apa yang sudah kau perbuat, Jia-yi? Sampai kau harus mengakhiri masa lajangmu dengan berpura-pura menjadi kekasih seorang duda ngenes sepertinya?”

***

“Lihat? Wanitaku bahkan ikut berargumen. Kau tidak merasa malu?” kata Baekhyun.

Menyerah, Chanyeol akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.

“Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan padamu, Jia-yi. Tapi keputusanmu untuk bersama dengannya adalah keputusan paling gila. Apa kau tidak bisa melihat orang lain yang lebih pantas untuk bersanding denganmu?” usai mengucapkan kalimat itu, Chanyeol membuka pintu kamar yang ada di sampingnya, mengisyaratkan pada dua orang itu untuk masuk sebelum akhirnya Chanyeol sendiri memilih hengkang.

“Apa yang dia bicarakan? Dia terdengar seperti seorang yang sedang patah hati saja, dasar korban gagal move on.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KIM JONGDAE

“Kau sudah selesai dengannya?” tanya si pria.

“Apa yang akan kita lakukan dengan tubuhnya?” tanya si wanita.

“Tidak perlu melakukan apapun, Arin. Biarkan saja dia di sana. Toh, sudah tak ada orang di kota ini yang mau repot-repot menyelamatkan orang lain. Dan juga, Chen, kau katakan akan ada acara makan malam indah di rumah target kita, bukan?” Tao berucap, dilemparkannya botol kaca itu pada pria bernama Jongdae yang kerapkali Tao panggil sebagai Chen di sebelahnya sebelum dia memberi isyarat pada si wanita untuk melajukan mobilnya.

“Ya, tak ada juru masak di rumah itu jadi Arin dipercaya untuk memasak menu makan malam kami nanti.” sahut Jongdae.

“Kalau begitu salah satu dari kalian bisa menyelesaikan tugas ini. Bunuh Byun Baekhyun, dan buat seolah Wang Jia-yi yang melakukannya. Mudah, bukan?” ucap Tao, terukir sebuah senyum kecil di wajahnya sementara dia mengawasi ekspresi masing-masing orang yang ada di dekatnya.

“Racun apa ini, Tao?” tanya Jongdae.

“Sianida. Kau ini kurang update, ya? Tidak tahu kalau kasus pembunuhan menggunakan sianida ini jadi booming selama beberapa waktu terakhir?”

***

“Apa yang sejak tadi kau pikirkan, Dae-ya?” akhirnya Arin beranikan diri untuk angkat bicara. Kalau boleh jujur, dia amat merasa terganggu karena sikap monoton Jongdae itu. Pasalnya, Arin juga bukan tipe orang yang senang melihat seseorang melakukan tindak monoton.

Jadi, bisa dikatakan kalau sekarang Jongdae sudah menyenggol ambang batas betahnya.

“Tidak ada, Arin-ah. Sudah, tidak perlu kau pikirkan.”

Nah, yang seperti inilah yang membuat Arin semakin kesal. Sifat Jongdae yang terlampau tertutup dan tidak bisa percaya pada orang lain ini. Buat apa pria itu mengikrarkan kata cinta dan mengurai keinginan untuk hidup bersama dengan Arin kalau untuk jadi terbuka saja dia tidak bisa?

“Kau tahu kau bisa menceritakan masalahmu padaku, Dae-ya. Aku bukannya seseorang yang tidak bisa kau percaya.” Arin kemudian berkata, enggan dia untuk beradu argumen di saat keadaan Chen sedang tidak stabil seperti ini.

Arin tahu benar bagaimana dia harus memainkan peran, menenangkan Jongdae sehingga pria itu bisa berpikir rasional lagi dengan tanpa mengedepankan emosi seperti saat ini.

“Sampai kapan, Arin?” sebuah tanya terlontar dari bibir Jongdae.

“Apanya?” Arin balik bertanya, kalimat gamblang Jongdae barusan rupanya sudah membuat Arin merasa begitu ragu untuk menarik kesimpulan sendiri mengenai maksud di balik pertanyaan si pria.

“Sampai kapan kau akan bergabung dengan kelompok jojoba yang diikuti oleh Oh Sehun itu? Tidak bisakah kita jadian saja supaya kau tidak lagi menjadi jomblo bahagia?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

ZHANG YIXING (2)

“Apa… Arin melakukannya?” tanya Jia-yi membuat sosok Jongin memaksakan maniknya untuk membuka.

Sklera—bagian putih di bola mata—milik pria itu sudah berwarna merah, memar dan Jia-yi pastikan ada banyak pembuluh darahnya yang pecah. Saat Jongin membuka mulut, gigi seri Jongin tampak mencuat keluar, hampir terlepas dari gusinya, sementara darah segar mengucur keluar dari bibirnya.

“Kau… bersamanya?” tanya lirih itu lolos dari bibir Jongin.

“Tidak. Maksudku, ya, aku bertemu dengannya. Tapi aku tidak berada di pihak yang sama dengannya. Apa yang sudah dia lakukan padamu? Bagaimana… dia tega…” isakan tanpa sadar lolos dari bibir Jia-yi, tanpa bisa dia kontrol, likuid bening dari kedua kelopak matanya juga ikut berjatuhan.

Tidak bisa dia bayangkan bagaimana rasa sakit itu selama ini menyiksa tubuh Jongin. Darah di sekujur tubuh Jongin dan bau busuk yang tercium dari tubuhnya, sudah jelas dia setidaknya selama beberapa minggu menerima penyiksaan mengerikan ini.

“Gigiku…”

“Apa?” Jia-yi menatap tak mengerti.

Jongin mengembuskan nafas, kepayahan. “Ada sisa daging ayam yang terselip di celah gigiku…”

***

“Jongin… berapa lama micro-sd ini di dalam mulutmu? Mungkin akan sakit jika aku menariknya paksa.” kata Jia-yi, sebab saat dia goyang-goyangkan benda itu tak juga bergerak dari tempatnya terselip.

Kalau Jia-yi tarik paksa, bisa saja luka lain tercipta di gusi Jongin. Atau lebih buruk lagi, mungkin geligi Jongin yang sudah rapuh lainnya ikut terlepas. Mana tega Jia-yi membayangkan Jongin kehilangan semua giginya?

Anggukan samar yang Jongin berikan kemudian Jongin berikan sebagai jawaban. Jia-yi lantas mengerahkan tenaganya untuk menarik paksa micro-sd tersebut dan—

Akh!”

“Ah! Maafkan aku!”

—seperti dugaan Jia-yi, gigi Jongin yang lain menjadi korban. Entah bagaimana, tiba-tiba saja gigi Jongin tertarik keluar, bersamaan dengan tertariknya gusi pemuda bermarga Kim itu juga.

“Tidak apa-apa…” Jongin mengerang kesakitan, “…, gigi itu semuanya gigi palsu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KRIS WU (2) with KIM JUNMYEON

Ehm,” Jia-yi berdeham pelan, berusaha merenggut atensi dari dua orang gadis yang sibuk dengan lamunan masing-masing di seberangnya sebelum dia kemudian berhasil mendapatkan atensi dari Hyerim.

Um, Hyerim, boleh aku tahu di mana Luhan? Kenapa dia tidak bersama denganmu?” tanya Jia-yi hati-hati. Mendengar tanya Jia-yi sekarang, Hyerim hanya bisa menghela nafas panjang.

“Kami putus. Aku memutuskan untuk pergi ke Hunan dan Luhan tidak mau hubungan long-distance. Ya sudah, hubungan kami tidak lagi bisa dipertahankan.”

***

Pada akhirnya, Jia-yi putuskan untuk mengambil kantong kecil tersebut, diperhatikannya bubuk berwarna putih yang ada di dalamnya sejenak, sebelum Jia-yi dengan hati-hati memasukkan sedikit demi sedikit bubuk itu ke dalam botol wine.

“Ah…”

Sialnya, tindakan Jia-yi itu justru terpergok oleh Minrin, yang sekarang berdiri di dekat tirai dan menatapnya dengan tatapan membulat.

“Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan.” tiba-tiba saja Jia-yi tergeragap, ditariknya kantong kecil tersebut menjauh dari botol wine sementara Minrin mengerjap cepat, memahami apa yang baru saja terjadi.

Lantas, Minrin melangkah ke arah Jia-yi dan disunggingkannya sebuah senyum meledek. “Tidak seperti yang kupikirkan? Aku sudah melihat semuanya.” kata Minrin membuat Jia-yi akhirnya menghela nafas panjang.

“Tapi, kenapa author cerita ini sama sekali tidak kreatif, sih? Racun andalan yang dia punya hanya sianida saja, ya?”

“Bukan begitu, author kita hanya mampu menggaet sianida sebagai sponsor ceritanya.”

***

“Terima kasih.” Jia-yi memilih untuk mengabaikan narsisme Minrin dan berterima kasih pada gadis itu ketika sudah selesai mengobatinya.

Minrin tertawa kecil. “Jangan berterima kasih padaku, Nona.”

“Kenapa?”

“Karena aku berpihak pada dalang semua kekacauan ini.” Minrin tersenyum. Begitu dingin dan terasa mematikan.

“Ka—Kau ada di pihak Arshavin?” tanya Jia-yi memastikan.

Minrin mengedikkan bahu tak peduli. “Bukan Arshavin, tapi authornya.”

***

“Jia-yi?”

“K—Kris?”

“J—Jia-yi…”

“Kris…”

“Jia-yi…”

“K—Kris…”

“Astaga. Dad, kau dan wanita ini sedang apa, sih? Mau bermain peran ala film Hollowood?”

***

Sekilas dilihat, Jia-yi seperti korban penganiayaan.

“Apa kau habis dipukuli?” kontan Ren bertanya saat dia sampai pada kesimpulan tentang penganiayaan yang mungkin diterima Jia-yi.

Mendengar tanya si gadis belia, Jia-yi akhirnya menoleh, dipandanginya Ren yang sekarnag memasang raut penasaran dengan sebuah senyum muram.

“Ya, bayangan bernasib jomblo sampai akhir series telah memukulku.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

PARK CHANYEOL (2)

Terdiam adalah hal yang berikutnya Kris lakukan. Permintaan Jia-yi terlampau berat. Kris sendiri bahkan tidak yakin apa dia bisa bertahan sampai berhasil menyampaikan pesan Jia-yi pada sang pembunuh.

Tapi toh, pada akhirnya Kris mengiyakan juga permintaan gadis itu.

“Baiklah, aku akan mengatakannya.” ucap Kris memunculkan sebuah senyum di wajah Jia-yi, hanya sebentar, sebelum gadis itu akhirnya menyandarkan tubuhnya dengan santai di mobil dan memejamkan matanya.

“Perjalanan kita masih panjang, bukan? Aku ingin tidur sejenak sebelum menghadapi semuanya.”

“Menghadapi apa? Menghadapi fakta kalau kau dipastikan akan jadi jomblo abadi selama series ini?”

***

Baekhyun menyernyit. “Mengapa kau mengistilahkan Jia-yi sebagai tikus putih? Dia terlalu cantik untuk disamakan dengan tikus.” kata Baekhyun berhasil membuat Sehun tergelak. Di pendengaran Sehun sekarang Baekhyun terdengar seolah hendak melucu padahal dia tahu benar Baekhyun tidak sedang bercanda.

“Baiklah, baiklah. Lalu kau ingin aku menganalogikannya seperti apa?” tanya Sehun.

“Kupu-kupu.”

Well, kupu-kupu pagi, atau malam?”

***

Sontak Kris terperangah, sadar jika Ren tidak berdiam karena tidak tahu apa-apa, melainkan karena dia telah mendengar semuanya.

“Berapa banyak yang kau dengarkan, Ren Wu?” tanya Kris.

“Semuanya, Dad. Aku mendengar semuanya. Termasuk soal Dad yang lebih memilih untuk jadi duda lapuk selamanya. Termasuk juga rencana Dad dengan author untuk memaksaku dekat dengan Paman Baekhyun yang jadi terduga pedofil.

“Aku bukan Siti Nurbahol, Dad! Perjodohan itu sudah tidak zaman, dasar Dad zaman now.”

***

PIP! PIP! PIP! PIP!

—Ren segera mematikan panggilannya. Rupanya Kris pergi ke kamar mandi tanpa membawa ponsel.

Ugh, dia itu belum tua, tapi kenapa selalu lupa membawa hal-hal penting?” gerutunya sambil kemudian bangkit.

Didekatkannya beberapa barang bawaannya yang sejak tadi memiliki jarak beberapa sentimeter, sebelum Ren kemudian dengan hati-hati mengukir dua langkah ke arah—

BLAARRRR!!

Jantung Ren mungkin saja akan melompat dari persinggahan begitu didengarnya suara ledakan keras diikuti dengan api besar tiba-tiba saja menyala dari arah—

“TIDAK!! DAD!!!”

DAD!!!”

“D—D-DAADDDAD!!!”

“Tunggu! Author, ada apa dengan efek echonya? Kenapa tidak ada efek echo saat aku meneriakkan ‘Dad’? ini tidak sesuai dengan perjanjian kontrak kita! Kau juga sudah berusaha menjodohkanku dengan terduga pedofil, dasar author masokis!”

***

“Dengan benda ini aku membunuhmu.” lagi-lagi Baekhyun berkata, “…, kau pernah dengar tentang risin? Kupikir, dalam dosis yang tidak begitu tinggi kau bisa bertahan setidaknya satu atau dua hari lagi.”

Kini Jia-yi tergeragap. Dia bukannya harus memikirkan nasibnya saat ini, tetapi dia harusnya memikirkan apa yang telah ia biarkan terjadi pada hidupnya selama beberapa hari terakhir.

“A—Apa? Tadi kau bilang… kau membunuhku dengan apa? Micin?”

fin

[ authornya tidak punya apa-apa untuk dikatakan ]

4 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES – BEHIND the HOLES — IRISH’s Tale”

  1. Awal2 bc kirain ni smcm kumpulan spin off dr tiap chptr/mmbr & ex of exo, msh srius bc’ny..
    Tp kok!? Jia yi mule nybut2 author 😅
    bis tu yg laen jg pd mule lebay 😄
    sblm smp ke part’ny 첸, pnasaran bgt sm new vocab-jo jo ba itu 😙 tak kira jojoba oil 😋 trnyt itu nm trganisasi t4 diriku & 세훈 bernaung slama ini! 😂 meanwhile 크리스 & 백 da di grup sblh, perkumpulan duda ngenes!
    Ini ky kumpulan scene2 NG klo di drama2, yg msk di folder ‘dibuang sayang’ 😁
    Keren rish 😀 /as always smua ff bwtn irish 짱!!
    Comedy mode on!

  2. ingin ku berkata kasar….huahhahahahahahahahhahha sumpah ini yang paling konyol wkakakakkkakaka..ku tak punya apa apa untuk ditulis saking tercengang dengan kekonyolan ini hahahahhahahhaaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s