[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (6) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

[  BUTTERFLY in Hunan (6)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chanyeol

Supported by EXO`s Suho; Kris; Baekhyun; Kai; Chanyeol; Tao; Yixing

OC`s Minrin, Ren, Runa, Hyerim, Yara, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story  rated by Teen served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chanyeol of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Hunan [Kris]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Menit berselang, Jia-yi masih terkurung sendiri di ruang remang yang mau tak mau membuat ketakutan menghampirinya meski hanya sejemang. Sesak diam-diam menyusup masuk ke paru-paru Jia-yi di tiap menit yang ia lewati selama berada di ruang sempit tersebut.

Pikir Jia-yi, Arshavin pasti sedang mencoba menghancurkan mentalnya. Tapi tidak, Jia-yi tidak selemah itu. Berada di ruang pengap dengan bau anyir bercampur busuk ini tidaklah seberapa dengan apa yang telah Jia-yi hadapi dalam beberapa hari terakhir.

Perlahan, jemari Jia-yi bergerak meraba saku pakaian yang ia kenakan, tersenyum simpul saat ia temukan lipatan kertas kecil ada di sana. Well, gadis itu seolah sudah menerima dengan rela mengenai kematiannya ini.

Begitu terjaga di mobil Kris—usai terlelap selama kurang lebih satu jam—Jia-yi bahkan sempat meminta pada Kris untuk memberinya secarik kertas dan pena, Jia-yi ingin menulis kenangan terakhir dalam hidupnya. Dan tentu, Kris pun tidak menolak permintaan tersebut.

FLASH!

Jia-yi terkejut bukan main saat tiba-tiba saja lampu terang berwarna putih menyindari ruang tempat ia terkurung. Sekarang, jelas sudah semua pemandangan di mata Jia-yi. Dia terkurung dalam ruang kosong, dengan sebuah kaca besar di salah satu sisi ruangan, menampakkan ruangan lain yang lebih sempit dengan dua buah kursi yang menghadap ke arahnya.

Kemudian, Jia-yi lihat bagaimana lantai keramik yang dipijaknya berwarna kehitaman, bukan karena lumut atau kotor, tetapi karena darah yang dibiarkan mengering entah sudah berapa lama.

Belum lagi, sisa-sisa bercak darah yang ada di tembok. Rupanya dari sanalah bau busuk itu Jia-yi endus ketika dia masuk ke dalam ruangan ini. Bahkan sekarang, bisa Jia-yi lihat bagaimana dari pintu—pintu lain yang ada di ruang sempit di balik kaca tersebut—di sana terbuka dan menampakkan dua orang yang dikenalnya.

Yixing dan Arshavin. Keduanya dengan santai duduk di kursi kosong yang menghadap ke arah Jia-yi, seolah mereka siap untuk—ya. Benar. Mereka akan menonton kematian Jia-yi.

Lekas, manik Jia-yi memandang sekeliling ruangan, mencari benda-benda yang mungkin saja akan digunakan untuk membunuhnya. Tetapi dugaan Jia-yi ternyata salah.

“Tidak perlu mencari, Jia-yi. Tidak ada senjata apapun yang aku sembunyikan di sini. Dan maaf karena sudah membuatmu menunggu, aku harus menjamu malaikat pencabut nyawamu untuk makan malam dulu.”

Sebuah suara keluar dari speaker yang terletak di dua sudut ruangan, rupanya Arshavin bisa mengakses komunikasi searah dari tempatnya sekarang duduk dengan santai dan menonton.

Tatapan Jia-yi kemudian bersarang pada sebuah jam analog yang ada di belakang Arshavin. Rupanya, Jia-yi harus benar-benar menghitung waktu kematiannya mulai sekarang.

“Apa kau punya keinginan terakhir?”

Mendengar ucapan Arshavin, Jia-yi lantas mendongak, ditatapnya paras dingin Arshavin yang sekarang menatapnya seolah Jia-yi bernilai tidak lebih dari sekedar sampah yang harus dibuang.

“Hentikan.” bibir Jia-yi menggumam lirih.

“Apa?” ulang Arshavin. Jia-yi, menatap pria itu sejenak sebelum dia akhirnya mengembuskan nafas panjang. “Hentikan tindakanmu ini, Arshavin. Bukankah, kematianku akan menebus dendam yang begitu ingin kau balaskan?”

Arshavin menyunggingkan sebuah senyum samar setelah mendengar perkataan Jia-yi. Lantas, dia menyandarkan tubuh dengan santai di kursi, enggan memberi komentar terhadap apa yang Jia-yi katakan. Dan Jia-yi pun tahu benar, Arshavin sekarang bertindak seolah tengah berusaha menggodanya.

Dia tidak akan menuruti apa yang Jia-yi inginkan, omong-omong.

“Karena kau sudah mengucapkan keinginan terakhirmu, jadi lebih baik aku segera mempertemukanmu dengan malaikat maut itu.” kata Arshavin sebelum dia memberi isyarat kecil pada Yixing.

Hal yang membuat Yixing melangkah keluar ruangan tersebut selama kurang lebih sepuluh sekon dan kembali masuk ke ruangan yang sama. Jia-yi sendiri menunggu dalam diam, yang bisa dilakukannya hanya mengawasi apa yang tengah terjadi. Sampai atensinya direnggut oleh suara pintu berderit di dekatnya.

Rupanya, malaikat maut yang Arshavin bicarakan telah datang.

“Baekhyun,” kata Jia-yi, terdengar seolah berusaha menyapa pria itu dengan ramah ketimbang merasa terkejut. Jia-yi sudah tahu, ada kemungkinan bahwa Baekhyun lah orang yang akan membunuhnya. Sebab Baekhyun adalah salah satu ‘orang’ Arshavin, meski pria bermarga Byun itu sendiri adalah pengkhianat nomor satu Arshavin.

“Sudah kau ucapkan permintaan terakhirmu?” bukannya balas menyapa, Baekhyun justru mengutarakan pertanyaan yang serupa dengan Arshavin tadi. Hey, memangnya Jia-yi sedang ulang tahun? Sampai-sampai semua orang tiba-tiba saja peduli pada apa yang ia inginkan.

“Sudah.” toh, Jia-yi jawab juga pertanyaan pria itu.

Baekhyun sendiri mengangguk-angguk. “Baguslah.” katanya, lantas dia duduk di lantai tidak jauh dari tempat Jia-yi sejak tadi berdiri waspada. Baekhyun sandarkan tubuhnya di dinding kotor yang penuh bekas darah mengering seolah tempat itu sama sekali tidak menjijikkan buatnya, selagi manik Baekhyun mengawasi tiap gerakan kecil yang Jia-yi lakukan.

“Bagaimana kau akan membunuhku?” tanya Jia-yi, suaranya sekarang bergetar ketakutan, Baekhyun tahu itu. Karena sekarang, Baekhyun sendiri merasa heran. Dia rasa Jia-yi sudah cukup banyak berhadapan dengan situasi mengerikan sebelum ini, tetapi mengapa baru sekarang Baekhyun mendengar ketakutan lolos dari diri gadis itu?

“Aku sudah membunuhmu.” kata Baekhyun ringan, tapi sanggup membuat Jia-yi menatapnya dengan pandang membulat tak percaya. “Apa maksudmu?” tanya Jia-yi tak mengerti.

Baekhyun, melempar pandang sekilas ke arah Arshavin sebelum dia memandang Jia-yi lagi. “Beberapa hari yang lalu saat kau meregang nyawa, aku sebenarnya bukan menyelamatkanmu. Tapi aku telah membunuhmu.” tutur Baekhyun, dengan santai dia kemudian mengeluarkan sebuah alat injeksi yang terbuat dari logam.

“Dengan benda ini aku membunuhmu.” lagi-lagi Baekhyun berkata, “…, kau pernah dengar tentang risin? Kupikir, dalam dosis yang tidak begitu tinggi kau bisa bertahan setidaknya satu atau dua hari lagi.”

Kini Jia-yi tergeragap. Dia bukannya harus memikirkan nasibnya saat ini, tetapi dia harusnya memikirkan apa yang telah ia biarkan terjadi pada hidupnya selama beberapa hari terakhir.

Besar kemungkinan, Baekhyun telah menyuntikkan racun ke dalam tubuh Jia-yi. Racun yang tentu saja secara teori Jia-yi ketahui memang dapat membunuh secara perlahan. Yang dia tidak tahu, berapa banyak racun itu telah disuntikkan Baekhyun ke dalam tubuhnya?

“Jadi, selama beberapa hari ini kau sudah berjalan-jalan dengan mayat?” tanya Jia-yi, disunggingkannya sebuah senyum pahit, tahu bahwa meski dia berusaha menyelamatkan diri, semuanya sudah terlambat.

Tidak pernah ada harapan hidup bagi seseorang yang telah terinjeksi racun mematikan.

“Kupikir kau ingin mati dengan tenang.” sahut Baekhyun ringan, “…, sejak awal kau sudah tahu benar kalau aku memang berniat membunuhmu? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak percaya pada siapapun?” lagi-lagi kalimat Baekhyun mengingatkan Jia-yi pada hal yang pernah diucapkan pria itu.

“Ya, aku ingat kau pernah mengatakannya. Hanya saja, kau memberitahuku saat kau telah berulah.” kata Jia-yi, tidak lagi punya cara untuk menyelamatkan diri, Jia-yi akhirnya mengedikkan bahunya acuh. “Yah, lagipula siapa yang akan peduli pada nyawaku.” katanya berhasil membuat Baekhyun terdiam selama beberapa saat.

Pria itu bahkan melemparkan pandang ke arah Arshavin, selagi pria di balik kaca itu menatap tak senang. Adegan damai semacam ini bukanlah harapannya.

“Seharusnya kalian saling menyerang dahulu, sebelum nona ini terbunuh.” kata Arshavin kemudian angkat bicara. Muak, Jia-yi akhirnya melempar pandang ke arah Baekhyun. “Aku tidak ingin menyerangmu. Kalau kau mau menyerangku, silakan saja.” katanya mempersilakan Baekhyun.

Sedangkan Baekhyun sendiri menggeleng pelan, disunggingkannya sebuah tawa kecil sebelum dia buka suara. “Bertarung dengan wanita hanya akan melukai harga diriku.” katanya santai.

“Berapa banyak waktu yang aku punya?” tanya Jia-yi lagi, mengabaikan keberadaan Arshavin di balik kaca tersebut, dia malah santai berkelakar dengan Baekhyun.

“Dua hari, maksimal. Sehun katakan kalau kau setidaknya akan bertahan satu minggu dengan dosis yang kusuntikkan.” terang Baekhyun. Jia-yi akhirnya mengangguk-angguk paham. “Lalu bagaimana jika dia masih ingin kau membunuhku?” tanyanya sembari melempar pandang ke arah Arshavin.

Baekhyun, melempar pandang ke arah yang sama sebelum dia akhirnya tertawa pelan.

“Aku sudah dengar dari Kris, kau ingin aku membawamu pergi dari tempat ini, hidup atau mati. Sepertinya, aku bisa mewujudkan keinginanmu itu, aku akan membawamu pergi, kemudian dua hari lagi aku akan membawamu ke pemakaman yang kau inginkan.”

Senyum tanpa sadar merekah di wajah lelah Jia-yi. “Terima kasih,” katanya membuat Baekhyun menatap tak mengerti. “Terima kasih untuk apa?” tanyanya.

“Karena setidaknya kau tidak membunuhku dengan cara mengerikan yang aku bayangkan sebelumnya.” ucap Jia-yi.

Baekhyun sudah akan bicara menyahuti gadis itu saat tiba-tiba saja suara teriakan marah Arshavin tidak masuk ke dalam pendengaran mereka.

“Bunuh dia, Baekhyun! Atau aku akan membunuhmu!”

Hey, aku sudah membunuhnya. Sudah kukatakan padamu, bukan? Aku bahkan mengirimkan buktinya padamu. Tidakkah foto saat jarum itu masih menancap di pembuluh darahnya jadi bukti yang nyata?” sahut Baekhyun, sama sekali tidak terlihat takut pada ancaman Arshavin.

Tentu saja, buat apa pula seorang pembunuh takut untuk mati?

“Kalau kau tidak membunuhnya, biarkan aku yang—argh!”

Jia-yi terkejut bukan main saat tiba-tiba saja didengarnya erangan kesakitan Arshavin. Bodohnya, Jia-yi justru melempar pandang ke arah kaca di dekatnya. Sekarang, bisa dengan jelas dilihatnya bagaimana darah mengotori kaca tersebut, menutupi pandangan Jia-yi.

“Apa yang terja—Yixing!” Jia-yi segera berseru, sadar bahwa apapun yang mungkin terjadi di sana pastilah ada hubungannya dengan Yixing.

“Jangan khawatir, dia sudah merencanakannya.” kata Baekhyun, dia sekarang bergerak untuk berdiri, melangkah menyejajari Jia-yi sebelum akhirnya dia kembali buka suara. “Tenang saja, kematianmu tidak akan terasa menyakitkan, Jia-yi.” sambungnya.

Jia-yi menoleh, mau tak mau ia justru menyunggingkan sebuah senyum.

“Aku tahu, aku hanya akan merasa sakit ketika seluruh tubuhku tidak bisa aku gerakkan lagi, bukan? Kemudian aku tidak akan merasakan apa-apa lagi. Kau ternyata bukan hanya seorang pembunuh yang handal memakai senjata, tetapi juga racun.” kata Jia-yi, menyelipkan sebuah pujian di tengah kalimat yang sebenarnya penuh rasa sakit.

“Aku hanya tidak ingin kau mati dengan cara yang menyakitkan.” kata Baekhyun lagi.

Jia-yi memilih diam, dia melangkah mendekati kaca yang sekarang berlumur darah, tidak bisa dia dengar dengan jelas apa yang sekarang terjadi di sana, tapi dia yakini sesuatu yang buruk pasti terjadi.

“Apa Arshavin mati?” tanpa sadar tanya itu menguar dari vokalnya.

“Tidak mungkin. Dia bahkan lebih kejam daripada iblis. Bagaimana mungkin dia bisa mati dengan mudah?” jawab Baekhyun, terkesan tidak tahu diri memang, karena dia sendiri juga seorang kriminal yang telah merenggut banyak nyawa secara paksa, tapi bisa meledek Arshavin.

“Lalu apa yang akan terjadi pada Yixing?” tanya Jia-yi kemudian.

Berbeda dengan keingin tahuan Jia-yi, Baekhyun justru menatap gadis itu dengan alis berkerut. “Dia menyerahkan diri kepada polisi. Chanyeol sedang dalam perjalanan ke tempat ini, bersama dengan polisi.

“Yang perlu Yixing lakukan hanya melumpuhkan Arshavin saja. Sedangkan aku bersama denganmu di sini. Segera setelah polisi tiba, semuanya akan berakhir.” tutur Baekhyun.

“Bagaimana denganmu? Kau akan berlari lagi?” tanya Jia-yi dijawab Baekhyun dengan senyuman kecil. “Tentu saja tidak. Untuk apa aku melarikan diri?”

Tidak, tentu Jia-yi tidak bisa percaya begitu saja pada ucapan pria itu. Tapi melihat bagaimana Baekhyun masih ada di ruangan yang sama dengannya sampai detik ini, entah mengapa rasa percaya itu muncul juga.

“Baiklah, aku percaya padamu. Sebaiknya kau berhenti jadi kriminal setelah tertangkap.” kata Jia-yi kemudian.

“Mengapa?” tanya Baekhyun, “Dengan adanya seorang kriminal, mereka yang ingin terlihat baik akan benar-benar terlihat baik. Tidakkah kau memikirkan hal yang sama?”

Jia-yi terdiam sejenak. Dia ingin mengolah jawaban atas pertanyaan Baekhyun barusan tapi benaknya sudah terusik pada hal lainnya. Jin-yi, apa Jin-yi baik-baik saja?

“Ya, dia baik-baik saja. Chanyeol yang bertanggung jawab atas Jin-yi sekarang.”

“Runa dan Hyerim, mereka baik-baik saja?” tanya Jia-yi lagi. “Chanyeol juga yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka.” lagi-lagi Baekhyun menjawab.

“Lalu… Ayahku?”

Tawa pelan akhirnya lolos dari bibir Baekhyun. “Kurasa kau perlu menonton berita, Nona Wang. Setidaknya sudah dua hari ini kau jadi berita terkenal di televisi. Penangkapan Ayahmu, dan hilangnya kau juga adikmu.”

“Ayahku akan mendapatkan hukuman, bukan?” tanya Jia-yi memastikan.

“Tentu saja. Dia akan membayar apa yang telah diperbuatnya dan—ah, Chanyeol baru saja mengontakku jika dia dan polisi sudah tiba. Bagaimana, kau mau menunggu mereka di sini atau ikut denganku?” Jia-yi menatap Baekhyun tak mengerti saat mendengar tawaran pria itu.

“Ikut denganmu, apa maksudnya?”

“Aku bisa mengantarmu ke Seoul, Jia-yi. Kau bisa habiskan dua hari terakhirmu di sana. Jin-yi akan baik-baik saja. Bukankah, seseorang juga harus bertanggung jawab atas keselamatanmu?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kantuk sudah menyerang Minrin begitu dia memaksakan diri untuk terjaga selama lebih dari lima puluh enam jam. Sungguh, kalau saja dia tidak ingat bahwa dia tengah menyandera tiga orang bersamanya, Minrin pasti memilih tidur.

Hey, sampai kapan kau mau mengikat kami seperti ini?” Minrin tersadar dari lamunan setengah mengantuknya begitu dia dengar Hyerim bersuara. Lantas, Minrin melempar pandang ke arah Hyerim dan tertawa pelan.

“Jangan berpura-pura bodoh. Kau sudah melepatkan ikatan itu sejak sepuluh menit yang lalu. Tenang saja, seseorang tengah dalam perjalanan ke sini untuk menyelamatkan kalian semua jadi… jangan pikirkan keberadaanku.” kata Minrin membuat Hyerim mau tak mau menarik tangannya yang nyatanya, memang sudah terlepas.

“Lalu sejak tadi kau juga berpura-pura bodoh?” sahut Hyerim ketus.

“Seseorang di sini harus pura-pura tidak tahu. Ah, harusnya aku tidak bersikap sebaik ini pada kalian karena Jia-yi itu pasti gagal membawa Junmyeon kembali.” gerutu Minrin kemudian, terlintas dalam benaknya tentang bagaimana keadaan yang mungkin Arshavin ciptakan sekarang.

“Psikopat satu itu? Mengapa juga kau ingin dia kembali? Kau dan dia berkencan?” tanya Hyerim, tangannya sekarang bergerak melepaskan ikatan di tangan Runa dan Jin-yi, dua tawanan lainnya.

“Tidak, sih. Dia itu bodoh dan mudah ditipu, jadi aku kasihan padanya. Tapi aku tidak heran juga kalau seumpama dia mati karena Arshavin, sebagai seseorang yang mengaku penjahat, dia terlalu naif.” kata Minrin santai. Tidak bisa berbohong, benak gadis itu sebenarnya berkemelut.

Harap-harap cemas Junmyeon akan selamat, tapi dia juga tahu kalau dia tidak bisa mengharapkan hal itu. Bagaimanapun, Junmyeon sudah terlibat langsung dengan Arshavin, dan kecil kemungkinannya seseorang bisa terlepas dengan mudah dari Arshavin, kecuali orang itu seorang pembunuh selicik Baekhyun.

“Sepertinya kau sudah pasrah.” kata Hyerim lagi.

“Mau bagaimana? Aku tidak ingin terlibat dengan pembunuhan berantai terencana macam ini, tapi sikap cerobohnya memaksaku untuk terlibat. Sekarang, semuanya sudah berubah menjadi rumit.

“Baekhyun, tentu saja tidak mau tawanannya mati begitu saja karena dia tahu tawanannya berguna. Lalu Junmyeon, akan dengan bodohnya ditipu oleh Arshavin. Setidaknya lihat sisi baik di sini, kita berempat selamat.” kata Minrin, senyum dia paksakan untuk muncul di wajah, meski perasaannya sejak tadi terasa tidak enak.

“Anggap saja, kalau dia mati itu berarti kau mendapat karma dariku.” sahut Hyerim ringan. “Karma?” ulang Minrin dengan nada meledek. Hyerim sendiri menatap dengan mata membulat. “Ya, kau sudah membunuh orang yang kucintai. Pantas saja kalau alam juga merebut orang yang kau sayangi.” kata Hyerim tidak mau kalah.

“Hah, kalau aku saja terkena karma seperti ini, apa kabar Jia-yi yang benar-benar jadi pembunuh kekasihmu?” kabar Jia-yi tentu saja tidak akan lebih baik dari kabar Minrin sekarang.

Setidaknya meski dia harus menelan pil pahit kematian Junmyeon—hal yang sebenarnya tidak Minrin harapkan—tapi dia harus bersyukur karena setidaknya dia masih berkesempatan untuk hidup.

“Dia akan mati.”

“Apa?” kali ini Jin-yi yang bersuara, mendengar Runa menyebutkan kemungkinan kematian kakaknya adalah hal yang terlampau mengejutkan bagi Jin-yi. Karena gadis belia itu biasanya lebih suka menjadi pendengar dalam diam.

“Dia akan mati.” ulang Runa, ditatapnya nanar tiga orang di sana bergiliran, sebelum Runa tersenyum pahit. “…, sekarang aku sadar, Jia-yi sebenarnya rotasi masalah ini. Dan aku tahu, saat Sehun membawanya ke tenda pengungsian kami beberapa hari yang lalu… sesuatu pasti telah terjadi pada Jia-yi. Aku tidak tahu apa, atau bagaimana, tapi aku yakin… dia akan mati.”

Tidak lagi bisa berkata-kata, Jin-yi hanya bisa tertunduk dalam-dalam, gadis itu menangis dalam diam. Dia tidaklah begitu dekat dengan Jia-yi, tapi dia tahu benar bagaimana usaha Jia-yi untuk menemukannya saat ia berada di Seoul.

Mana dia tahu kalau pada akhirnya perjalanan sang kakak harus berakhir pada kematian?

“Sebenarnya…” Jin-yi berkata lirih di tengah tangis samarnya.

“Ada apa, Jin-yi?” tanya Runa, membuat Jin-yi memberanikan diri untuk menatap ke arah gadis bermarga Kwon itu sebelum akhirnya dia kembali buka suara. “…, Kakak selalu melarangku untuk datang ke Seoul. Dia katakan, Seoul berbahaya. Kalau saja, aku mendengarkan ucapan Kakak saat itu, pasti semuanya tidak akan berakhir begini.”

Baik Runa, maupun Hyerim dan Minrin, sama-sama mengembuskan nafas panjang saat mendengar ucapan Jin-yi sekarang.

“Setidaknya, kau sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang terjadi. Di dunia ini, peran jauh lebih berharga daripada uang, Jin-yi. Kalau kau tidak pandai-pandai memasang peran dalam skenario orang lain, kau tak akan mendapatkan uang, dan tidak juga bisa bertahan hidup.

“Kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi pada kakakmu. Tapi mengingat bahwa kita tidak sedang berhadapan dengan seorang pencopet melainkan seorang pembunuh yang telah mengumpulkan orang-orang yang bernasib sama dengannya—menjadi korban kekejaman ayahmu—kecil kemungkinannya mereka akan membiarkan Jia-yi hidup.

“Bahkan kalau boleh jujur, aku juga ingin membunuh Jia-yi saat ini. Dia sudah bertindak begitu bodoh, mengubah dirinya menjadi seorang pembunuh hanya karena rasa takut.” Hyerim berkata, tidak sepenuhnya berisikan kebencian, karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia justru merasa kasihan.

Mengapa seorang Jia-yi yang sejak awal telah jadi satu-satunya orang paling naif dalam skenario yang Arshavin ciptakan justru mencipta plot twist lain: dia juga bisa jadi seorang pembunuh, saat dia berhadapan dengan Luhan?

Meski korbannya bukan Luhan, tetap saja Hyerim menganggap tangan Jia-yi telah dikotori oleh dosa berat, membunuh.

BRAK!

“Ah! Itu mereka pasti datang.” kata Minrin kemudian menghentikan konversasi serius yang sempat tercipta di antara mereka berempat.

“Chanyeol!” panggil Minrin lantang begitu dilihatnya sosok pemuda jangkung diikuti seorang wanita berparas sempurna di belakangnya. “Oh! Yara juga ada di sini! Astaga, lama sekali tidak bertemu kalian berdua, teman lama.” kata Minrin hampir melonjak kegirangan.

“Jangan terlalu senang, polisi ada di luar, persiapkan dirimu untuk jadi saksi.” kata si gadis yang datang bersama Chanyeol, Lee Yara.

“Okay, lalu bagaimana dengan mereka?” kata Minrin.

“Aku akan bicara pada mereka.” ucap Chanyeol, “…, Yara, kau bawa Minrin pergi.” sambungnya sembari melangkah ke arah tiga orang yang sekarang telah berdiri berjajar, di mana Hyerim yang berperan sebagai tameng, berdiri selangkah lebih maju daripada dua rekannya selagi maniknya mengawasi Chanyeol dengan waspada.

“Jangan khawatir, aku bukan orang jahat—well, aku juga jahat, sebenarnya—tapi dalam kasusmu, aku tidak berusaha mencelakakan kalian. Polisi ada di luar, hendak menyelamatkan kalian sebelum mereka bergerak menuju persembunyian Arshavin.

“Kau Kwon Runa, bukan? Si dokter menyebalkan bernama Oh Sehun itu menunggumu. Dan kau, Wang Jin-yi…” Chanyeol menghentikan kalimatnya sejenak, “…, mulai sekarang kau adalah tanggung jawabku, karena kakakmu atau ayahmu, tidak akan lagi bisa mengurusmu lagi. Keduanya sudah tidak ada.”

Jin-yi menatap dengan pandang nanar. Dia baru saja hendak menarik dirinya pada kemungkinan bahwa Jia-yi mungkin saja akan selamat, saat tiba-tiba saja pria asing di hadapannya mengucapkan hal yang sama mengerikannya dengan yang Runa katakan.

“Kakakku, mati?” tanya Jin-yi dengan suara bergetar ketakutan. Melihat keadaan lemah gadis belia di hadapannya, Chanyeol malah mengembuskan nafas panjang. “Tidak perlu menangis dengan cara berlebihan. Pemakamannya tidak akan dilaksanakan malam ini jadi simpan air matamu untuk menangis di pemakamannya saja.”

please wait for the last story: Epilogue of Hol(m)es

IRISH’s Fingernotes:

Yalordiniapa. Yalordiniapa(2). Yalordiniapa(3).

Aku udah baik, Jia-yi satu-satunya yang enggak aku bunuh dengan cara yang tsadest. Ya… tapi ujung-ujungnya dia juga mati lah. Enggak greget soalnya kalau dia enggak dibunuh juga kayak yang lain, LOLOLOLOLOLOLOL.

Tenang, bagian akhir dari Hol(m)es ini justru enggak berat, kalian hanya perlu ‘nrimo nasib Jia-yi yang sudah restinpeace, wkwk. Aku baik, ‘kan? Enggak ada adegan thriller lagi di sini, yeay!

Eits, tapi tentu aja series ini belum berakhir tanpa adanya sebuah epilog. Dan yes, ending yang sebenarnya akan saya tampilkan di epilog esok hari. Ehem, beserta beberapa behind story dari pemeran-pemeran yang ada di Hol(m)es.

Nanti untuk penjelasan lebih rinci akan diceritakan oleh Baekhyun dan Jia-yi di dalam bonus story. Jadi, masih ada: epilogue, behind the holes, sama holes in holmes theory, plus afterword enggak penting, yang akan aku publish besok ;D berbahagialah, duhai pemilik bias juga OC yang nasibnya masih dipertanyakan, besok akan kujelaskan dalam holes in holmes theory.

Dan berbahagialah kalau ada bagian-bagian mengganjal dalam cerita ini sebelumnya, karena besok juga akan dijelaskan. Dan bersenang-senanglah karena di afterword, aku akan ceritakan dengan lumayan rinci tentang konsep lengkap Hol(m)es ini, supaya tidak ada dendam di antara kita, gengs.

So, see you around! Salam ketjup, Irish.

Ps: eyke sedih cyin, tanggal 29 sama 30 jadi hari berat, do’akan kesuksesanku yha ;((

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

10 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (6) — IRISH’s Tale”

    1. Bincang2 santai antara jia yi & 백 tu ky obrolan spasang kekasih ☺ yg wlw blm resmi jd’an cm jlas2 slng sk, dewasa, keren, ga menye2/lebay melodrama, Aaa.. 촣아!! 😍
      Lay paling dikit part kemunculan & dialog’ny ya 😅 tao jg sih 😁
      Jd mana ini Mr. 왕 sumber sgala benang kusut dendam tak berkesudahan?? Creator dr berbagai sinkholes dimana-mana..
      Mo lnjt bc epilogue, behind the holes, sama holes in holmes theory, plus afterword bwt nglengkapin puzzle2 yg bertebaran dr kisah ff ni
      Jaa ne~ rish..

  1. kecewaaaaaa jia-yi meninggal, nyesek banget
    rasanya di jautuhin banget, karena aku setia ngikut hol(m)es dari awal tanpa terlewat sekalipun karena jia-yi aku setia lho :'(, yg awal nya berharap jia-yi nanti pas end masih hidup walapun gimana keadaanya, gak sesuai ekspektasi euy 😥
    dasar baekhyun sekecilpun itu ada hati adduh
    kok aku kesel sama chanyeol juga, aku berharap sih minrin mati juga -_-
    baper sumpahh 😥

  2. hiks,,mesti nangis apa ga sih ini???? walupun matinya ga sadis tapi paling sedih hiks hiks…cabe lho sempat2nya bikin hati ini jatuh cuma dengan secuil kalimat cemitu…kayak mati tu indah banget kalo ditangan cabe jadinya..kurang-kurangin lah be pesonamu be..ga capekah terlalu mempesona noona-noona diseluruh penjuru dunia..ini ngmong ngelantur krena terlalu syedih dengan kisah hidup jia-yi..::(
    sesok tang enteni lanjutanny yo..dengan berderai air mata pastinya,,,:(
    see,,kepincut lagi sama ceritamu rish..pdhal besok closing,,,yatuhaannnnnn

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s