[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (5) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

[  BUTTERFLY in Hunan (5)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chanyeol

Supported by EXO`s Suho; Kris; Baekhyun; Kai; Chanyeol; Tao; Yixing

OC`s Minrin, Ren, Runa, Hyerim, Yara, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story  rated by Teen served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chanyeol of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Hunan [Kris]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Sebuah plot twist menyambut Jia-yi begitu dia sampai di hadapan Arshavin. Sahabatnya, Zhang Yixing, berdiri tegap di sisi Arshavin selagi Jia-yi didudukkan dengan paksa di lantai dengan kedua tangan terikat ke belakang, bak seorang tawanan yang akan dihukum mati.

“Selamat datang di rumah, Jia-yi.” kata Arshavin begitu mendapati pandangnya bertemu dengan Jia-yi. “Bagaimana, perjalananmu menyenangkan?” tanyanya lagi saat yang dia dapatkan dari Jia-yi hanya sebuah pandang tajam dan desis kebencian.

“Sangat menyenangkan.” jawab Jia-yi tenang. “Dan terima kasih atas sambutanmu.” sambungnya lagi sambil menatap ke arah Yixing yang hanya memamerkan tatapan tanpa ekspresi.

“Wah, tidak perlu berterima kasih padaku. Seorang tamu spesial tentu saja harus dapat penyambutan istimewa dariku.” kata Arshavin sembari berdiri dari kursi besarnya. Well, dalam pandangan Jia-yi pria itu terlihat seolah menganggap dirinya sebagai raja yang sedang duduk di atas singgasana.

Tentu dia tidak tahu, bagaimana muaknya Jia-yi menghadapi situasi semacam ini. Jia-yi teramat benci situasi yang sekarang mencekiknya, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab dia hanya substitusi atas eksistensi sang ayah.

“Oh, aku juga menyiapkan sambutan bagian kedua untukmu.” kata Arshavin, dengan angkuh dia tepukkan tangannya satu kali, dan terbukalah pintu ruangan di belakang Jia-yi. Jia-yi sendiri sudah terlalu lelah untuk menyempatkan diri membuang tenaga hanya untuk melihat siapa gerangan yang datang.

Yang ada, dia hanya bisa mendengar suara langkah tergesa-gesa di belakang, dan sekon kemudian—

PLAK!!

—sebuah tamparan bersarang dengan sangat keras di wajahnya. Diikuti rasa sakit lain begitu Jia-yi rasakan pengalas kaki si penyambut kedatangan Jia-yi kedua itu bersarang di rusuknya.

Argh!” Jia-yi melolong kesakitan, kepayahan dia berusaha menahan rasa sakit akibat injakan-injakan yang sekarang dia dapatkan tanpa tahu apa salahnya.

“Rasakan, wanita jalang! Apa yang telah kau lakukan pada Minrin!?” teriakan itu menyadarkan Jia-yi, menariknya pada plot twist lainnya: Kim Junmyeon si psikopat ada di sini.

Ugh!” Jia-yi segera membalik tubuh, memaksa dirinya untuk tengkurap dalam situasi juga rasa sakit luar biasa yang sekarang menusuk tubuhnya. Darah keluar dari mulut Jia-yi tanpa bisa ditahannya, tetapi kehilangan sedikit darah tidak sebanding dengan rasa sakit yang sekarang dia rasakan di tubuh.

“Santai sedikit, Junmyeon. Bukan salahnya kalau kau telah lalai menjalankan tugasmu.” kata Arshavin seolah berusaha menengahi, padahal sedari tadi dia juga hanya jadi penonton.

“Apa katamu!? Ini salahku!?” emosi Junmyeon sontak tersulut saat mendengar perkataan Arshavin. “Aku bisa saja langsung membunuhnya di tempat kalau kau tidak memerintahkanku untuk membawanya!” sambung Junmyeon.

Dengan nafas terengah-engah pria itu bergerak menarik paksa rambut panjang Jia-yi yang terurai berantakan. Erangan kesakitan lain sekarang lolos dari bibir Jia-yi, tetapi pandangnya telah bertemu dengan sepasang manik kelam Junmyeon yang menyimpan kebencian.

“Kemana kau membawa Minrin!?” teriaknya di depan wajah Jia-yi, sontak si gadis pun menutup mata, sudah siap menerima rasa sakit lain yang mungkin akan menerjang kalau saja Junmyeon memutuskan untuk tidak menunggu jawabannya.

“Aku tidak tahu…” lirih Jia-yi, sadar bahwa Minrin pasti telah membawa ketiga tawanannya pergi tanpa memberitahu Junmyeon. Pun Jia-yi tidak ingin jadi orang bodoh yang mengatakan apapun dengan jujur.

Dia sudah terlalu sering terjebak kejujurannya sendiri.

“Lalu bagaimana kau bisa ada di sini!?” lagi-lagi teriakan marah Junmyeon terdengar. Geram karena Jia-yi tak kunjung buka suara, Junmyeon akhirnya mengempaskan Jia-yi ke lantai, membuat kepala Jia-yi terbentur dengan cukup keras ke lantai, sampai si gadis harus kepayahan menahan kesakitannya.

“Dia tidak mau menjawabmu, Junmyeon. Tentu saja, kebisuannya juga merupakan kesalahanmu. Ah, bagaimana ini ya? Padahal aku tidak ingin membunuhmu karena kau sangat berguna.” Arshavin lagi-lagi angkat suara, rupanya pria itu lebih suka menikmati kesakitan Jia-yi lalu bersikap layaknya calon penyelamat.

“Yixing, bawa Jia-yi ke tempat yang sudah kita siapkan. Kita akan bersenang-senang dengannya setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Junmyeon.” titah Arshavin.

“Baiklah.” Yixing berkata, kemudian dia melangkah mendekati Jia-yi, menarik paksa si gadis untuk terbangun dan menyeret langkah mengikuti langkah Yixing.

Keduanya kemudian melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Junmyeon dan Arshavin yang larut dalam konversasi—yang bahkan sama sekali tidak ingin Jia-yi ketahui.

“Kau sungguh keterlaluan.” sempat Yixing dengar bagaimana Jia-yi berucap lirih. Kehidupan telah menarik Jia-yi pada keadaan yang paling tidak diinginkannya. Dia dilemparkan ke Seoul untuk bertahan hidup di tengah bencana, kemudian ditarik kembali ke Hunan untuk menghadapi kematian.

Bukankah nasib Jia-yi begitu menyedihkan?

“Kau katakan aku keterlaluan? Bagaimana dengan Ayahmu?” Yixing balik bertanya.

“Dia akan dapat balasannya. Tapi mengapa kau melakukan ini padaku dan Jin-yi?” tanya Jia-yi lirih dengan sisa-sisa kekuatannya, sementara dia masih menyeret langkah mengikuti Yixing yang sekarang mencekal lengannya kuat-kuat.

“Tidak tahu, ya. Kau juga sudah begitu tega hidup dengan menyimpan memori tentang kematian kakekku. Bukankah aku juga pantas melakukan hal yang sama?” pertanyaan Yixing berhasil membuat Jia-yi tersentak.

“S—Siapa yang memberitahumu?” tanyanya tanpa sadar.

“Baekhyun. Kau pikir, kau satu-satunya orang yang mengenal pembunuh itu? Hah, kau itu sebenarnya terlalu naif, atau bodoh? Bisa-bisanya memberitahukan semua rahasiamu pada seorang pembunuh sepertinya.” kata Yixing.

Sekarang, benak Jia-yi sibuk menganalisis. Keadaan seperti apa lagi ini? Baekhyun dan Yixing saling berhubungan satu sama lain? Lalu bagaimana dengan Arshavin? Sial, harusnya Jia-yi bisa menduga ini sejak awal.

Baekhyun adalah awal dari semua plot twist yang menyambut Jia-yi. Gadis itu terlampau percaya pada Baekhyun sampai dengan lancang telah memberanikan diri menceritakan tentang kehidupannya.

Padahal, di akhir, semua yang Jia-yi ceritakan pada pria itu justru berbalik menjadi bumerang pada Jia-yi.

“Jangan biarkan Baekhyun melukai Jin-yi, Yixing. Aku mohon.” akhirnya Jia-yi berkata, teringatlah dia pada apa yang dia pesankan pada Kris beberapa jam yang lalu. Bagaimana jika Baekhyun melakukan sesuatu yang buruk terhadap Jin-yi?

“Tidak akan. Kau harusnya berterima kasih padaku, karena aku masih berniat menyelamatkan Jin-yi.” kata Yixing, masih enggan menatap Jia-yi, tanpa tahu jika gadis yang berstatus sebagai sahabatnya selama bertahun-tahun itu sekarang tengah menahan tangis.

Ada ratusan pertanyaan sekarang di benak Jia-yi. Dia ingin tahu, sangat ingin tahu, dari mana dan kapan semua ini sebenarnya berawal. Jia-yi tahu, rencana sempurna yang digunakan untuk menjebaknya juga sekaligus menghancurkan Seoul ini bukan sekedar rencana simpel yang diciptakan selama beberapa hari saja.

Tapi Jia-yi tahu, dia tidak bisa mengutarakan satupun pertanyaannya karena Yixing tidak akan menjawab pertanyaan tersebut. Jadi, yang bisa Jia-yi lakukan sekarang hanyalah menganggap Yixing sebagai orang yang sama: sahabatnya.

“Yixing…” akhirnya satu kata lolos dari bibir Jia-yi, selagi keduanya melangkah melintasi taman di kediaman Arshavin—yang mana siapapun tidak akan menduga kalau seorang psikopat lah yang tinggal di rumah megah tersebut.

“Ada apa?” tanya Yixing, vokalnya melembut, tidak lagi sedingin tadi.

“Aku takut… Apa mati akan terasa menyakitkan?” tanya itu berhasil membuat Yixing memelankan langkah.

Tidak, Jia-yi tidak tahu bagaimana hancurnya Yixing saat harus menggeret paksa dirinya pada pintu kematian. Sebenarnya, bukan hanya Jia-yi yang sekarang menahan tangis, tapi juga Yixing.

Dua orang itu sama-sama tidak tahu, jika mereka tengah hancur bersama, terluka bersama. Ego mendorong Yixing untuk menguatkan diri dan melupakan sejenak fakta bahwa Wang Jia-yi adalah satu-satunya orang yang ada di sisinya ketika dia hancur.

Tapi Jia-yi tidak ingin menarik Yixing ke dalam garis hitam memorinya. Bagi Jia-yi, Yixing tetaplah seorang sahabat yang sangat berarti di dalam kehidupannya. Sosok yang ada di sisi Jia-yi saat gadis itu tidak lagi punya siapa-siapa.

“Aku tidak bisa menjawabnya, Jia.” vokal lembut Yixing sekarang berhasil meloloskan likuid bening yang sejak tadi berusaha Jia-yi tahan. Yixing memang tidak berubah, dia tetap jadi seorang sahabat bagi Jia-yi.

Hanya saja situasi memaksanya untuk berbalik menyerang. Masa lalu kelam yang seharusnya sejak awal Jia-yi ceritakan dengan berani pada Yixing itu justru membawa Jia-yi pada keadaan seperti ini, yang penuh rasa sakit.

“Kemana aku akan pergi setelah aku mati?” lagi-lagi tanya itu Jia-yi utarakan. Sebuah senyum tanpa sadar muncul di wajah Yixing, pria itu tahu benar Jia-yi tidak sedang berusaha mengulur waktu, melainkan menghabiskan sisa waktunya dengan sahabat yang selama beberapa waktu ini tidak ditemuinya.

“Ke langit, kau sendiri pernah mengatakannya padaku. Orang-orang yang mati akan naik ke langit, berubah menjadi bintang dan suatu hari akan jatuh ke bumi, terlahir kembali sebagai pribadi baru yang punya kehidupan serta takdir baru.” mendengar ucapan Yixing, Jia-yi akhirnya bisa tersenyum.

“Apa kita akan berteman lagi di kehidupan selanjutnya, Yixing? Aku janji, aku tidak akan menyembunyikan rahasia apapun darimu jika kita bertemu lagi.” kata Jia-yi, tanpa bisa ditahannya, suara gadis itu sekarang bergetar menahan tangis.

Yixing sendiri tidak bisa menjawab. Pria itu hanya bisa menarik dan mengembuskan nafas panjang, sebelum dia hentikan langkah dan berbalik menatap Jia-yi yang sekarang berderai air mata. Sejak tadi gadis itu rupanya menangis dalam diam.

“Ya, tentu saja. Aku akan menjadi sahabatmu lagi, Jia. Aku juga janji, aku tak akan jadi seorang pengecut yang gagal melindungi sahabatnya. Jadi, kau harus pastikan kita bertemu lagi di kehidupan berikutnya, mengerti?” kata Yixing, perlahan ditariknya Jia-yi ke dalam pelukan.

Untuk beberapa saat dia biarkan Jia-yi menangis di rengkuhannya, hal yang selama ini selalu Jia-yi lakukan ketika gadis itu terluka sementara dia hanya punya Yixing di sisinya.

“Kau harus kuat, Jia. Kematian bukan berarti akhir dari segalanya, ingat?” kata Yixing, ditepuk-tepuknya pelan punggung Jia-yi, berharap dia akan bisa mengurai sedikit rasa sakit yang Jia-yi rasa sekarang meski tentu saja usahanya percuma.

Jia-yi sudah terlampau sakit.

Ingin, ingin sekali Jia-yi katakan kalau dia tak ingin sendirian, dia ingin mengatakan pada Yixing kalau dia ingin hidup, ingin memperbaiki semua yang belum sempat diperbaikinya. Saat ini dia bahkan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Yixing, bertukar cerita setidaknya.

Dia ingin Yixing tahu bagaimana sulitnya cara Jia-yi bertahan hidup selama bencana terjadi di Seoul, tapi Jia-yi tahu dia tak akan punya cukup waktu sampai hal itu terwujud. Jadi, Jia-yi hanya berdiam saat Yixing melepaskan rengkuhannya, kembali membimbing langkahnya menuju ruang kecil yang terlihat dari tempatnya sekarang berdiri.

“Aku akan dibunuh di sana?” tanya Jia-yi akhirnya.

“Aku sudah berusaha menghubungi Ayahmu, Jia. Tetapi dia sepertinya sudah tahu tentang keadaanmu, dan… kupikir tidak peduli. Arshavin begitu marah karenanya, jadi aku tidak lagi bisa berusaha membujuknya untuk tidak membunuh siapapun.

“Ayahmu bersembunyi dengan sangat baik, dan kau terpaksa jadi objek yang menerima kemarahan Arshavin. Sungguh, aku ingin menyelamatkanmu kalau aku bisa. Tapi aku sendiri juga tidak mampu.

“Mengapa kau tidak minta bantuan pada siapapun saat kau akan dibawa ke tempat ini? Bukankah kau bisa meminta bantuan pada orang lain?” Jia-yi juga ingin menanyakan hal yang sama pada dirinya.

Mengapa dia tidak berusaha meminta bantuan? Karena dia sudah tahu kalau pada akhirnya nyawanya juga akan tetap diincar?

“Aku tidak ingin membahayakan Jin-yi. Kalau aku terus berlari, sementara Ayah berkeras untuk bersembunyi, dendam kalian semua tidak akan terbalaskan sampai kapanpun. Seseorang harus berkorban untuk mengakhirinya.” kata Jia-yi akhirnya.

Jujur, dia sebenarnya juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Yang Jia-yi inginkan hanya membawa Jin-yi kembali ke Hunan, menjalani kehidupan normalnya—kehidupan monoton yang entah mengapa sekarang sangat dirindukannya—tapi mau bagaimana lagi, hal semacam itu tidak mungkin akan terjadi.

“Tapi kau bisa minta tolong.” kata Yixing, hampir putus asa. Dia ingat Jia-yi adalah seorang cerdik yang tidak mungkin bisa terjebak begitu saja. Yixing pun menduga jika membawa Jia-yi ke hadapan Arshavin bukanlah perkara yang mudah.

Tentu saja Yixing sendiri tidak percaya begitu mendapati Jia-yi dengan mudahnya bisa dibawa ke hadapan Arshavin, tanpa perlawanan.

“Siapa yang akan berani menolongku?” tanya yang Jia-yi loloskan dari bibirnya sekarang membuat Yixing bungkam. Benar juga perkataan Jia-yi, siapa yang mau berurusan dengan lika-liku politik dan kekotoran yang ada di dalamnya hanya untuk menyelamatkan nyawa seorang wanita?

Memilih diam, Yixing akhirnya tidak lagi bisa menemukan kata yang tepat untuk digunakannya menyahuti Jia-yi. Sementara langkah mereka ternyata telah mencapai tempat terpencil yang sudah Arshavin siapkan.

Bukan untuk Jia-yi, tentu saja, tapi untuk semua orang yang diculiknya kemudian ia bunuh dengan sadis dan mayatnya dilenyapkan.

“Di mana kau ingin dimakamkan?” batin Jia-yi seketika mencelos saat mendengar tanya itu lolos dari bibir Yixing. Mereka membicarakan kematian seolah hal itu bukanlah masalah besar.

Nyawa Jia-yi seolah bisa dinilai dari konversasi santai mereka.

“Seoul, kalau bisa di dekat makam ibuku.” akhirnya Jia-yi menjawab.

“Baiklah.” kata Yixing, dia lantas membuka pintu ruangan sempit berbau busuk yang sekarang ada di depannya. “Masuklah,” kata Yixing.

Jia-yi tidak tahu, dengan cara apa dia akan dibunuh, tapi begitu saja dia pasrah. Padahal bisa saja dia menyerang Yixing dan—benar. Seharusnya, Jia-yi serang saja Yixing dengan membabi buta, lalu dia bisa berlari mencari jalan keluar di tengah kediaman luas milik Arshavin.

Tapi ah, percuma saja. Tenaga Jia-yi bahkan tidak akan cukup untuk sekedar berlari.

“Terima kasih, Yixing.” kata Jia-yi sebelum dia masuk ke dalam ruang dengan pencahayaan remang tersebut.

Terima kasih? Batin Yixing menggemakan ucapan Jia-yi. Untuk apa gadis itu berterima kasih? Karena Yixing telah menjadi sosok sahabat di akhir hidup si gadis, atau terima kasih karena Yixing jadi orang yang mengantar Jia-yi pada kematian tersebut?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Jadi, kalian menyelamatkanku hanya untuk memanfaatkanku saja.”

Kalimat itu susah payah Jongin loloskan dari bibir, selagi maniknya mengawasi satu persatu wajah asing di sana. Well, yang dia ingat hanya Chanyeol dan Yara. Sisanya? Dia tidak kenal sama sekali.

Hey, aku menyelamatkanmu bukan karena aku ingin.” Sehun terdengar menyahuti, “Hanya saja, kalau kau tidak selamat, dia—Baekhyun—tidak akan menyelamatkan seseorang yang berarti untukku.” sambung Sehun membuat Jongin membuang pandang.

Tubuhnya memang sudah tidak terasa sakit, luka-luka menyedihkannya sudah berbalut perban. Bibirnya yang terakhir kali Jongin ingat membengkak karena pukulan dan gusinya yang robek bahkan sekarang tidak lagi terasa sakit.

Aneh, mungkin pria berkulit pucat yang mengaku dokter itu sudah memberi anestesi dosis tinggi pada Jongin saat pria itu tidak sadarkan diri.

“Siapa yang ingin kalian lacak?” tanya Jongin akhirnya.

“Jang Minrin.” sahut Baekhyun, dia kemudian melangkah ke arah Jongin, diletakkannya sebuah ponsel di hadapan Jongin—yang dengan paksa didudukkan meski keadaannya sekarang sudah serupa dengan mumi, sementara di depannya diletakkan sebuah meja duduk dengan laptop di atasnya.

“Hyerim membawa ponsel selama pelarian—rencana Sehun, rencana yang juga tidak akan kau mengerti—jadi kau pasti bisa melacaknya.” kata Baekhyun lagi.

Jongin, melemparkan pandangnya ke arah Chanyeol, seolah meminta persetujuan.

“Lakukan saja, Jongin-ah. Aku sudah bicara pada Yara mengenai apa yang terjadi. Segera setelah kau menemukan keberadaan Jang Minrin ini, aku dan Yara akan menyusul mereka, kau menunggu di sini dengan si dokter.

“Baekhyun akan menyusul Jia-yi—kau tidak tahu, tapi Jia-yi sekarang pasti jadi seorang tawanan—dan Kris juga putrinya sedang dalam perjalanan untuk kembali ke Los Angeles. Kita bisa memperbaiki semuanya, Jongin. Kita hanya perlu mengakhirinya dengan cara yang benar.” penuturan Chanyeol sekarang rupanya terdengar lebih logis di dalam pendengaran Jongin.

“Baiklah, hanya karena kalian berkata kalau menemukan Jang Minrin akan mengakhiri semuanya.” Jongin menyerah juga, tertatih-tatih dia berusaha menggerakkan jemarinya di atas keyboard—dengan bantuan Sehun yang rela menjadi penyanggah gratis kedua lengan pemuda Kim itu tentu saja.

Melihat kerjasama yang mau tak mau sudah terjalin di antara beberapa orang yang ada di sana, Baekhyun akhirnya tersenyum samar.

“Bagus. Sekarang, aku akan bersiap menemui Arshavin.” katanya sambil meraih jaket gelap yang ia sampirkan di sandaran kursi.

“Apa yang akan terjadi pada Kris? Bagaimana jika Arshavin mengincarnya karena tahu dia bekerja sama denganmu?” tanya Chanyeol kemudian, teringat pada Kris yang dua jam lalu sudah meninggalkan barrack tempat mereka bersembunyi.

Pria Wu itu memutuskan untuk kembali ke Los Angeles bersama putrinya setelah menyampaikan semua informasi yang dia miliki. Dan Chanyeol tentu tahu, Baekhyun bukan tipikal baik hati yang begitu saja membiarkan orang-orang yang sudah terlibat dengannya pergi.

“Sayang sekali, Ren mungkin akan menikmati saat-saat terakhir bersama Ayahnya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Dad, kita kembali begitu saja ke Los Angeles?”

Kris menatap anak gadisnya begitu didengarnya sebuah tanya lolos dari bibir si gadis. Samar, Kris pamerkan sebuah senyum di wajahnya selagi dia menenteng amplop cokelat tebal di tangan.

“Ya, kita akan pulang.” kata Kris kemudian, “Paman Baekhyun sudah membelikan dua tiket ke Los Angeles untuk kita.” sambungnya.

Ren sendiri menatap tak mengerti. Rasanya, beberapa jam yang lalu Ayahnya sama sekali tidak punya rencana untuk kembali ke Los Angeles dan tahu-tahu saja sekarang keduanya sudah berada di bandara, menunggu penerbangan menuju Los Angeles.

“Apa tidak apa-apa meninggalkan semua orang?” tanya Ren lebih hati-hati, dia tengah bicara tentang Jia-yi tentu saja, Ren masih ingat bagaimana menyedihkannya keadaan Jia-yi, mungkin saja, pemandangan mengerikan itu menyisakan trauma bagi Ren. Siapa yang tahu?

“Sudah kukatakan, semuanya akan baik-baik saja. Mengapa kau tidak pernah memercayaiku sekalipun?” tanya Kris kemudian, sadar jika Ren bahkan merasa khawatir saat ia tengah bersama dengan Kris.

Padahal, keduanya hanya perlu duduk manis dan menunggu penerbangan empat puluh lima menit lagi. Tapi Ren rasanya begitu gelisah dan takut.

“Aku tidak pernah tahu Paman Baekhyun seperti itu. Bagaimana Dad bisa berteman dengannya selama ini?” tak ayal Ren merasa ingin tahu juga, gatal rasanya lidah gadis belia itu kalau tidak menanyakan soal apa yang ingin dia ketahui.

Mendengar tanya dari putrinya, Kris hanya bisa menghela nafas panjang.

“Panjang ceritanya, nanti saja begitu sampai di rumah aku ceritakan. Tunggu di sini sebentar Ren, aku harus ke kamar mandi.” kata Kris kemudian.

Ren tentu saja hanya bisa mengangguk pasrah begitu tahu ‘kamar mandi’ jadi pengalihan perhatian sang ayah dari konversasi yang berusaha Ren buka.

“Kau tidak ke kamar mandi?” tanya Kris sambil menatap Ren seolah gadis itu adalah anak berusia tujuh tahun yang nanti akan merengek karena ingin buang air.

“Tidak, Dad. Aku bisa ke kamar mandi sendiri, tidak harus bersama denganmu.” kata Ren menolak dengan tegas. Dongkol juga dia karena Ayahnya terlampau menganggapnya sebagai anak kecil.

Okay, kalau begitu tunggu aku di sini sampai aku kembali.” kata Kris sebelum dia meletakkan tas punggungnya di lantai, dekat dengan kaki Ren. Sementara pria itu memasukkan amplop cokelat di tangannya ke dalam saku jaket yang ia kenakan, dan mulai mengukir langkah menuju penanda toilet yang ada di ujung koridor tempat mereka berada.

Berusaha mengusir rasa bosannya, Ren kemudian menyandarkan tubuh di jendela kaca yang ada di belakangnya—tahu dia kalau dalam beberapa menit seorang security akan memperingatkannya untuk tidak bersandar di kaca tersebut—sambil memasang headphone yang sejak tadi menganggur di lehernya.

Segera setelah Ren menekan pilihan ‘play’ di ponselnya, sebuah lagu bernada tinggi mengalun masuk ke dalam rungunya, menulikan Ren sesaat dari apapun yang terjadi di dekatnya.

Beberapa menit Ren habiskan dengan mendengarkan lagu, sampai kemudian dia sadar kalau Kris telah pergi terlalu lama. Dengan gelisah, Ren melepaskan headphonenya, melempar pandang ke arah koridor tempat toilet berada dengan dahi berkerut sambil kemudian menatap lagi ke arah bawaan yang ada di dekatnya.

Dia tidak mungkin meninggalkan barang bawaannya begitu saja di sana dan masuk ke toilet pria untuk mencari Kris, bukan? Tapi Ren juga merasa tidak nyaman. Jadi, gadis belia itu segera menekan nomor-nomor familiar di handphonenya, menunggu nada sambung yang—

PIP! PIP! PIP! PIP!

—Ren segera mematikan panggilannya. Rupanya Kris pergi ke kamar mandi tanpa membawa ponsel.

Ugh, dia itu belum tua, tapi kenapa selalu lupa membawa hal-hal penting?” gerutunya sambil kemudian bangkit.

Didekatkannya beberapa barang bawaannya yang sejak tadi memiliki jarak beberapa sentimeter, sebelum Ren kemudian dengan hati-hati mengukir dua langkah ke arah—

BLAARRRR!!

Jantung Ren mungkin saja akan melompat dari persinggahan begitu didengarnya suara ledakan keras diikuti dengan api besar tiba-tiba saja menyala dari arah—

“TIDAK!! DAD!!!”

—kamar mandi.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau pasti ada di belakang semua ini, Huang Zi Tao.”

Vokal dingin Junmyeon segera menyambut Arshavin begitu pria itu menyebut namanya. Well, Arshavin telah meninggalkan nama Tao itu beberapa tahun yang lalu, dan dia paksakan dirinya untuk terlahir kembali sebagai seorang Arshavin.

“Memangnya apa yang sudah aku lakukan?” tanya Arshavin dengan nada seolah tidak bersalah. Dengan santai dia duduk di atas kursi megahnya, mengawasi Junmyeon yang sekarang menatap penuh kebencian.

“Apa yang sudah kau lakukan pada Minrin?!” teriakan yang tadi sempat Junmyeon lemparkan pada Jia-yi sekarang dia lemparkan juga pada Arshavin.

Mendengar kemarahan Junmyeon, Arshavin justru dengan santainya tertawa.

“Mana aku tahu? Salah satu orangku mungkin telah membunuhnya sekarang.” sahut Arshavin santai.

“Kau sungguh tidak bisa kubiarkan hidup!” Junmyeon berkata lantang. Pria itu baru saja hendak meraih pistol yang ia selipkan di bagian belakang celananya tiba-tiba saja sudah raib.

Begitu Junmyeon membalik tubuh, seorang pria bersetelan gelap telah berdiri di hadapannya, menodongkan pistol—milik Junmyeon, demi Tuhan!—di keningnya dan—

DORR!! SRASH! BRUGK!

—menyarangkan peluru tersebut di kepala Junmyeon.

“Astaga, Baekhyun. Seharusnya kau menjaga jarak kalau ingin membunuhnya.” kata Arshavin begitu dilihatnya tubuh Junmyeon terjatuh ke lantai dengan mata membelalak.

Kesal, si pria bermarga Byun itu kemudian mengusap noda darah yang menodai wajahnya. Rupanya darah dari kepala Junmyeon yang baru saja ditembaknya dari jarak dekat menyiprat ke wajah.

“Sialan. Darah bajingan kotor ini mengenai wajahku.” kata Baekhyun geram.

Ha! Ha!” Arshavin tertawa cukup keras, “Kau mau membasuh wajah dulu? Atau makan malam? Aku sudah memesankan menu favoritmu, Byun. Mari, kita makan-makan dulu sebelum kubawa kau pada korban terakhirku.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Hunan (6)

IRISH’s Fingernotes:

Lagi-lagi, ini part dua dari ‘butterfly in Hunan’ mencetak rekor waktu pengerjaan yang sama kayak series sebelumnya—bagian pertamanya, maksudku. Ini efek apa gerangan? Kok tumben sekali aku bisa gercep ngerjain fanfiksi ini? Apa karena series ini akan segera berakhir? Atau karena aku sampai tanggal 30 nanti bakal ngelembur jadi aku ngebut? LOLOLOL.

Ya udahlah, jangan dibahas kecepatan 2 rpm-nya tachometer yang aku pake saat ngetik Hol(m)es series kritis alias series akhir ini. Mari kita omelin dulu Jia-yi, karena dia terlalu percaya sama Icing, padahal Icing itu jahat.

Eh, enggak ya? Yixing enggak jahat loh. Sampe akhir (akhir di sini sih, enggak tau besok) dia masih jadi sosok sahabat buat Jia-yi. Meski enggak bisa ngebantu setidaknya dia nemenin :”) apa kabar sahabat kalian yang malah nikung gebetan?

Aduh, gimana ya aku harus ngejelasin karakter Yixing ini. Sebenernya dia itu baik, tapi brengsek aja gitu, ngejebak temen sendiri, nusuk dari belakang, terus akhirnya balik lagi jadi sosok sahabat. Agak enggak konsisten dia, bikin pengen nabok tapi enggak tega, nanti Jia-yi enggak punya temen lagi.

Ya… mari kita mengheningkan cipta sesaat untuk mengingatkan Ren pada kepergian sang Ayahanda, Kris Wu (kemudian aku berlari cantik dulu dari kejaran sang pemilik OC sekaligus bias, Len K).

Terus Baekhyun, ah iya Baekhyun. Ini si kampret Byun enggak ada endingnya ya nyiptain plot twist di kehidupan Jia-yi. Eh cabe, kamu pikir kamu itu siapa mau berani-berani nyempil mulu di hidup Jia-yi? Gebetan juga bukan.

Ini enggak ada yang mau berterima kasih gitu karena Jongin sama Sehun aku biarin hidup? Atau aku harus bangkitin Minseok sama Kyungsoo si duet pembunuh temen seprofesinya Baekhyun dulu buat neror kalian dalam delusi?

Atau aku harus lemparin Arin sama Jongdae ke delusi kalian? Kapan lagi gitu, bisa menikmati momen bersama pasangan psikopat (begitu ngebahas couple ini aku agak-agak miris, kalau mereka bener bersama kasian banget itu anak mereka bakal berbentuk kayak apa?).

Dan sekali lagi, sujud syukur kehadirat Tuhan YME karena series besok adalah penutup. Nanti aku kasih bonus sedikit deh, epilog. Cuma masalahnya, sampai detik ini aku masih belum bisa nentuin nasib Jia-yi.

Enaknya dia dibunuh atau dibiarin hidup?

Btw, besok ketemu lagi sama Chanyeol-Yara dan Minrin ya! Sambil aku mikir lagi, Jia-yi akan lebih berfaedah eksistensinya kalau dia dibunuh atau dibiarin hidup sampai akhir.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

5 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (5) — IRISH’s Tale”

  1. Kak lilis /bahasa kak len wkwkw/

    WHY AIRMATAKU NYARIS TUMPAH DI ADEGAN YIXING-JIA? YIXING KALO BESTPREN YA BESTPREN AJA GAK USAH MUKA DUA GITU! EH TP MENDING DENG DIBANDING SAHABAT YG NIKUNG GEBETAN KITA /SLAPPED/

    “Ke langit, kau sendiri pernah mengatakannya padaku. Orang-orang yang mati akan naik ke langit, berubah menjadi bintang dan suatu hari akan jatuh ke bumi, terlahir kembali sebagai pribadi baru yang punya kehidupan serta takdir baru.”  ENTAH WHY AKU SUKAK PERUMPAMAANNN INIII, MENGGAMBARKAN KALO REINKARNASI ITU NYATA DITAMBAH PAS JIA BILANG: “Apa kita akan berteman lagi di kehidupan selanjutnya, Yixing? Aku janji, aku tidak akan menyembunyikan rahasia apapun darimu jika kita bertemu lagi.”

    DAMN IT, AKU SEDIHHH :((( DIANTER KE PINTU KEMATIAN SM SAHABAT SENDIRI ITU NYESSSS. AH SUDAHLAH. TP AKU MASIH PUYENG2 GIMANA SM MASALAH KAKEKNYA YIXING YG DIBUNUH SM BAEKHYUN, BAEKHYUN JG GK BISA DIPERCAYA, MULUT EMBER GITU :(((

    EHANJIR KRISHO DIBABAT LANGSUNG DISINI. SATU LEDAKAN. SATU DITEMBAK

    MINRIN NIKMATI JANDAMU

    REN NIKMATI YATIMMU

    HAHAH OC-OC KAK LEN SEBATANG KARA SEMUA. HOREEE, HYERIM ADA TEMEN NGEJANDA /DITEMPELENG/ BUAKAKAKAKK

    NEXT DITUNGGU. SIAPA TAU ADA PERANG BERDARAH WOW PAS HADAP2AN SM ARSHAVIN

  2. Balikin cimol m umin rish..sian bener mah iduo mreka cm btr doang..msh pgn liat cimol rayu2an n alesa..hahahahha
    Cabe cabe..bisa amat bkin hti ini kedut2..rada ga rela story yg ini ktmu end..tp klo ga end nti durasiny nyaingin kangburnaikhaji mlah ksna kmari lg critany hahahahahahahaha
    Dtunggguuuu bingiiitttzzz lanjutannyaaaaa ya auhtor kesayangan akoh yang paling jjang!!!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s