[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] DANGDUT SERIES : SAYANG – by AYUSHAFIRAA

PicsArt_09-02-11.41.56

‘Sayang, nganti memutih rambutku, ra bakal luntur tresnaku.’

`SAYANG`

 

A part of `Dangdut Series` by AYUSHAFIRAA

`Starring EXO’s Chanyeol x GIRL’S DAY’s Minah, feat. EXO’s Xiumin`

|| Friendship, Hurt/Comfort, Romance, Sad ||

// Teen // Vignette //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata. Inspired by ‘Via Vallen – Sayang’.


Dangdut Playlist :

[Chen Gotik – Tarik Selimut] [Lay Kirana – Melanggar Hukum]  [Kris Citata – Meriang] ― NOW PLAYING ♫ [Chanyeol Vallen – Sayang] [ Coming Soon ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

 

[Seoul – November, 2017]

Kata orang, persahabatan antara lelaki dan perempuan itu tidak akan pernah benar-benar tulus selamanya. Entah salah satu atau keduanya, di suatu titik pasti akan merasakan rasa yang lebih dari sekedar ingin diakui sebagai sahabat. Dan mungkin, hal ini juga berlaku bagi persahabatan antara Chanyeol dan Minah. Persahabatan yang sudah terjalin selama kurang lebih 15 tahun di antara keduanya seperti sudah menumbuhkan benih-benih cinta di hati mereka berdua.

“Chan!” panggilan itu berasal dari suara si cantik Minah. Saat ini, ia dan si pemuda bertubuh jangkung bernama Park Chanyeol itu tengah menghabiskan malam minggu di sebuah bar di pusat kota.

Panggilan berupa teriakan sedikit keras dari Minah tadi akhirnya bisa mengalihkan perhatian Chanyeol yang saat itu sedang duduk sendirian di depan meja barista. Netra Chanyeol membesar ketika dilihatnya Minah datang dengan menggandeng mesra seorang lelaki yang tak asing.

“Lihat aku datang bersama siapa!”

“Kak Minseok?” meski lupa-lupa ingat akan namanya, Chanyeol jelas tahu siapa lelaki itu. Saat SMA dulu, Minah pernah menyukai Minseok yang merupakan kakak kelas mereka secara diam-diam dan Chanyeol selalu menjadi tempat Minah berbagi kegalauannya.

“Hai, Chanyeol!” sapa Minseok tanpa canggung. “Kalian sering datang ke tempat ini berdua saja?”

Chanyeol mengangguk, tangan kanannya kemudian bergerak menarik Minah agar berdiri di sisinya. “Kami selalu berkencan di sini. Iya kan, Sayang?”

Minah menatap Chanyeol tak percaya. Tak mengerti juga apa maksud Chanyeol memanggilnya ‘Sayang’ di depan lelaki yang jelas-jelas pernah ia sukai.

“Oh, kalian sekarang berkencan? Baguslah, kalian memang terlihat cocok sekali sejak jaman SMA.” Ujar Minseok santai menanggapi ucapan Chanyeol, membuat Minah akhirnya pasrah menyadari Minseok tak pernah memiliki perasaan yang sama untuknya.

Sementara itu, Chanyeol terus memperlihatkan senyuman menyebalkan ke arah Minah yang justru membuat gadis itu semakin kesal. “Benarkan apa kataku? Kita memang cocok sekali, Sayang.”

“Berhenti membuatku malu, Park Chanyeol.”

Minseok tertawa, “Kalau begitu aku tinggal saja ya? Aku tidak mau menjadi perusak momen kalian.”

Lelaki yang lebih tua itu akhirnya pamit meninggalkan Minah dan Chanyeol berdua di depan meja barista. Sepeninggal Minseok, Minah tampak murung, sedikit kecewa melihat respon lelaki itu tadi. Walaupun sudah lama sekali perasaan itu terlupakan, Minah masih saja memiliki kegugupan yang sama seperti waktu dulu saat kembali berjumpa dengan Kim Minseok sekarang.

“Hei,” Chanyeol mengelus pipi Minah lembut. “Jangan tekuk wajahmu seperti itu, nanti aku tidak bisa melihat kecantikanmu lagi.”

“Kira-kira, kalau tadi kau tidak memanggilku ‘Sayang’, akan seperti apa ya malam hari kita ini bersama Kak Minseok?”

Chanyeol menggeleng, “Aku akan tetap memanggilmu ‘Sayang’ kalau kau berani dekat-dekat dengan lelaki lain lagi, walaupun itu bukan Kak Minseok sekalipun.”

Dahi Minah mengerenyit, heran. “Kau ingin melihatku jomblo seumur hidup ya?!”

“Tidak kok,” jawab Chanyeol. Lelaki itu kini tersenyum penuh arti sembari menggenggam kedua tangan Minah hangat. “Aku hanya ingin membuatmu melihatku seumur hidupmu.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin kau menghabiskan sisa hidupmu hanya bersamaku, Minah.”

Minah tertawa lepas, tak menganggap serius semua perkataan lelaki itu.

“Baiklah, baiklah. Aku akan bersamamu selamanya, Chan.”

.

.

.

Gadis itu menatap ke arah layar hitam ponsel pintarnya. Layar ponselnya baru saja meredup setelah ia tak kunjung menyentuhnya selama beberapa menit. Nada pesan Chanyeol yang setiap hari memanggilnya ‘Sayang’ sudah dirasa cukup keterlaluan. Karena apa? Minah tak suka perasaan yang dirasanya saat ini harus muncul di dalam persahabatannya dengan lelaki itu. Minah tak ingin terlalu merasa memiliki Chanyeol, itu saja.

“Bagaimana caramu bertanggung jawab atas perasaanku ini, Chan?” gumam Minah. “Harus kepada siapa aku berbagi kali ini kalau tokoh utama dari penyebab kegalauanku adalah dirimu?”

.

.

.

2017-11-27, 01.12 PM ― Chan

‘Bisa kau temui aku di taman sekarang?’

 

Hari itu, semua terasa kembali seperti semula. Setelah lebih dari satu minggu Chanyeol tidak mengirim pesan kepada Minah bak hilang ditelan bumi, lelaki itu tak lagi menulis kata ‘Sayang’ dalam pesan yang baru saja dikirimnya. Segera setelah mendapat pesan tersebut, Minah bergegas pergi berlari ke taman kompleknya untuk menemui Chanyeol. Dari bunyi pesan yang dikirim lelaki itu, Minah merasa seperti ada hal penting yang ingin lelaki itu sampaikan padanya.

“Ada apa, Chan?” tanya Minah dengan nafas memburu tak teratur. “Kau ke mana saja? Seminggu lebih kau menghilang tanpa kabar, ada apa sebenarnya?”

Lelaki tinggi itu tersenyum,

“Ternyata kau peduli sekali padaku ya, Sayang.” Ucap Chanyeol sembari memberi elusan lembut di kepala Minah.

“Tentu saja aku peduli, kau ini kenapa sih?” meski Chanyeol terlihat tersenyum saat ini, namun tetap saja seperti ada yang mengganjal dalam senyumannya.

“Hei, Chanyeol! Ada apa tiba-tiba kau menghubungiku ingin bertemu di sini?” Minseok keluar dari mobilnya, menghampiri Chanyeol yang sedang berdiri berhadapan dengan Minah. “Ada kau juga, Minah.”

Minah semakin tidak mengerti, apa sebenarnya yang ingin disampaikan Chanyeol sampai-sampai ia harus mengundang Minseok untuk bertemu di waktu yang bersamaan.

Chanyeol menghela nafasnya. “Perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan, Minah. Begitu juga dengan perasaanmu, Kak.”

“Apa maksudmu, Chanyeol? Aku tidak bisa menangkap arah bicaramu.” Minseok tertawa, canggung dengan situasi semacam ini.

“Kau dan Minah, saling mencintai, Kak. Dan aku ingin kalian hidup bahagia bersama selamanya.” Jelas Chanyeol yang seketika membuat mimik dua insan di hadapannya berubah terkejut.

Minah meremas ujung rok pendek sepahanya. “Maaf, Kak Minseok. Bisakah kau tinggalkan kami berdua sebentar?”

“Oh, tentu.”

Remasan tangan Minah kini beralih ke bagian dada kaos hitam Chanyeol. Maniknya yang berkaca-kaca menatap Chanyeol begitu tajam.

“Kau ini kenapa, Park Chanyeol? Waktu itu kau bilang kau ingin aku menghabiskan sisa hidupku hanya bersamamu, tapi kenapa sekarang? Kenapa… sekarang kau merubah ucapanmu?” kristal bening di pelupuk mata Minah akhirnya jatuh juga, tak tertahankan.

“Kau sakit parah? Apa kau akan segera mati sebentar lagi? TOLONG JELASKAN PADAKU SEBENARNYA ADA APA DENGAN DIRIMU?!”

Chanyeol menggeleng lemah. “Tidak, aku tidak sakit ataupun akan segera mati.”

“Lalu?”

“Aku akan menikah.”

Tiga kata dalam satu kalimat itu seketika saja mampu meluluh-lantakkan dinding hati Minah yang semula begitu kokoh untuk seorang Park Chanyeol. Tangannya perlahan melemas, tak mampu lagi meremas kaos hitam lelaki itu sekuat tenaga.

“Menikah? Dengan siapa?”

“Dengan perempuan pilihan orang tuaku.”

Minah tersenyum pahit, “Lantas kenapa kau harus membawa Minseok masuk ke dalam hal ini?”

“Bagaimana pun, aku harus melihatmu bahagia, Bang Minah.” Jawab Chanyeol.

Dan hari itu, menjadi hari terakhir seorang Park Chanyeol bertemu dengan Bang Minah. Sejak hari itu pula, yang Minah tahu, Chanyeol menikah dan melanjutkan hidupnya di luar negeri, entah di belahan dunia bagian mana. Mereka tak lagi saling bertukar kabar melalui pesan atau apapun. Hubungan mereka berakhir, sejak hari itu.

.

.

.

[Seoul – November, 2067]

Suasana taman di sebuah rumah sakit pagi hari ini cukup dapat menentramkan hati. Ditemani angin yang berhembus sepoi-sepoi, sepasang suami-istri yang sudah berusia senja tampak duduk berdua di sebuah bangku. Sang istri yang merupakan seorang pasien di rumah sakit itu duduk di atas kursi roda, sedangkan sang suami duduk mengisi bangku taman.

Kim Minseok dan Bang Minah, ya, merekalah pasangan suami-istri yang sudah berbagi kasih hingga di masa tua mereka. Memiliki 4 orang anak dan 9 cucu, hidup mereka sudah bahagia tanpa cela.

Tangan penuh kerut Minseok bergerak membelai rambut putih Minah yang tipis, memberi sentuhan penuh kasih sayang pada sang wanita tercinta yang sudah menunjukkan kekuatannya dalam menghadapi penyakit kanker rahim selama 14 tahun terakhir ini.

“Lusa nanti, usia pernikahan kita akan menginjak 48 tahun. Kau ingin hadiah apa dariku, Sayang?” tanya Minseok.

Minah menggeleng lemah sambil mengukir sebuah senyuman manis. “Aku tidak perlu apa-apa lagi. Aku hanya ingin terus berada di sisimu.”

“Itu sudah pasti, Sayang. Aku akan ada untukmu sampai kapanpun itu.”

Setelah Minah selesai berjemur di bawah sinar matahari pagi itu, Minseok mendorong kursi roda istrinya tersebut untuk kembali ke ruangan rawat khusus lansia. Karena sudah begitu lama dirawat di rumah sakit tersebut, Nenek Minah sudah dikenal baik oleh banyak dokter, perawat, serta pasien lainnya. Di ruangan itu, ada 6 ranjang yang sudah terisi oleh 5 orang, menyisakan 1 tempat tidur kosong di samping ranjang Minah. Biasanya, ranjang kosong itu akan ditiduri oleh siapapun dari keluarga yang tengah menjaga pasien di malam hari. Namun rupanya, kini tak bisa lagi seperti itu. Ranjang kosong di samping ranjang Minah kini telah siap ditiduri oleh seorang pasien baru.

“Apa ruangan kita akan kedatangan pasien baru?” tanya Minah pada seorang perawat yang tengah merapikan ranjang kosong tersebut.

“Iya, Nek. Jadi saat Nenek nanti berbaring ke kiri, Nenek tidak akan melihat ranjang kosong lagi.” jawab si perawat itu, ramah. “Ah, itu dia pasien barunya!”

Minah dan Minseok spontan berpaling, melihat ke arah kedatangan seorang pria lanjut usia yang sama-sama membutuhkan bantuan kursi roda yang terlihat didorong oleh anak laki-laki 10 tahunan. Jantung Minah berdebar, melihat sosok pria lanjut usia tersebut seperti sosok yang tak asing.

“Maaf, permisi?” Minah menghentikan anak laki-laki itu.

“Ada apa, Sayang?” tanya Minseok, bingung.

“Ya, Nenek?”

Pria tua di atas kursi roda itu memandang ke arah Minah yang menghentikannya. Tatapan mata tua itu tampak melebar dan berkaca-kaca seketika.

“Apa kau Bang Minah?”

“Park Chanyeol?”

Mungkin ini sudah waktunya bagi Minseok untuk berhenti. Chanyeol yang 50 tahun lamanya menghilang dari hidup Minah, kini telah kembali. Minseok cukup tahu, bagaimana pun cara Minah mencoba bertahan untuknya selama ini, nama Park Chanyeol pasti masih terselip di celah terkecil relung hati wanita itu.

Pertemuan itu terjadi begitu mengharukan. Minah dan Chanyeol saling berbagi cerita soal kehidupan mereka masing-masing selama 50 tahun terakhir. Sebenarnya, Chanyeol juga sudah cukup lama kembali ke Korea. Saat kembali ke negara ini, penyakit jantungnya semakin lama semakin parah hingga ia dirujuk ke rumah sakit yang akhirnya mempertemukannya dengan Minah. Istri Chanyeol sudah meninggal 30 tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan, mengharuskannya menjadi duda dari 2 anak yang kini sudah memiliki 5 cucu.

“Sayang, aku pulang dulu sebentar. Aku janji akan segera kembali.” Minseok mencium kening Minah tepat di hadapan Chanyeol. Mendengar panggilan ‘Sayang’ itu keluar dari mulut Minseok dan bukan dari mulutnya, Chanyeol merasa seperti ditampar.

“Aku senang melihatmu akhirnya bisa hidup bahagia bersama Kak Minseok.” Ucap Chanyeol, sedikit dibumbui oleh kebohongan.

“Terimakasih, Chan. Itu juga berkat dirimu.” Ya, karena mungkin, kalau Chanyeol tidak pergi, Minah akan hidup bahagia bersamanya.

.

.

.

Di hari peringatan 48 tahun pernikahan Minah dan Minseok, kondisi wanita 74 tahun itu tiba-tiba saja memburuk. Minseok yang saat itu tengah menyiapkan beberapa kejutan untuk sang istri tercinta mendapat telepon dari rumah sakit dan tanpa banyak berpikir ia langsung tancap gas untuk menemui istrinya di rumah sakit.

Sementara itu, Chanyeol yang berada di satu ruangan yang sama juga tak mampu melihat Minah harus berjuang melawan semua rasa sakit itu seorang diri akhirnya meminta izin dokter untuk mendampingi wanita itu di tengah berjuta rasa sakit yang dirasakannya.

Chanyeol menggenggam tangan Minah, sedangkan Minah seakan melampiaskan seluruh rasa sakit itu dengan balas menggenggam tangan Chanyeol kuat-kuat. Minah menangis, tak sanggup menahan kesakitan luar biasa di bagian perutnya lebih lama lagi.

“Aku tidak bisa…” lirih Minah berlinang airmata.

“Bertahanlah, Minah. Aku mohon, jangan menyerah!”

DEG!

Chanyeol menyentuh dadanya sendiri. Tiba-tiba saja, ia pun harus merasakan penyakit jantungnya kambuh di saat seperti ini. Namun, dengan sekuat tenaga, Chanyeol berusaha menyembunyikan rasa sakitnya demi memberi kekuatan lebih pada Minah, wanita yang nyatanya masih teramat sangat ia cintai.

“Chan…”

“Hm?” sahut Chanyeol, lembut.

“Aku tidak sanggup lagi…” lirih Minah.

Chanyeol menggeleng cepat, “Kau tidak boleh pergi. Kita baru saja bertemu lagi.”

“Maaf…”

“Kumohon, Sayang…”

Untuk pertama kalinya setelah 50 tahun terlewati, Minah akhirnya bisa mendengar panggilan itu lagi dari Chanyeol. Panggilan yang teramat ia rindukan, panggilan yang telah lama ingin menjadi panggilan seumur hidupnya dari Chanyeol, akhirnya terdengar lagi.

Dalam kesakitannya, Minah tersenyum lemah. “Aku mencintaimu, Chan.”

Bunyi alat pendeteksi detak jantung Minah terdengar begitu nyaring, sebuah garis lurus terpampang begitu jelas di layar monitor.

“Kalau kau pergi, maka biarkanlah aku ikut pergi bersamamu, menemanimu, Sayangku.”

Minseok berdiri terpaku di ambang pintu, menyaksikan detik-detik kepergian sang istri yang membuat pengakuan cinta kepada Chanyeol sebagai kata-kata terakhirnya. Hatinya teriris, itu pasti.

Pria tua itu lantas melangkah dengan langkah lemas, menghampiri ranjang sang istri di mana Chanyeol masih tampak setia menggenggam tangannya. Mata Chanyeol tampak terpejam dengan kepalanya yang tertidur di dekat kepala Minah. Saat itu, Minseok belum menyadari, kalau ternyata Chanyeol juga sudah menghembuskan nafas terakhirnya tak berapa lama setelah Minah pergi.

Sayang,

Hingga memutih rambutku,

Tidak akan luntur cintaku…

 

– Selesai.

 

Happy Birthday, Chanyeol!^^

Maafkan diri ini yang membuat kisah cintamu tragis wkwk XD Tapi daripada itu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Park Chanyeol~~♡

Wish you all the best yaa unchhh 😍😍😍❤

 

unnamed (1)

unnamed

wp-1497754680295.png

10 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] DANGDUT SERIES : SAYANG – by AYUSHAFIRAA”

  1. sayang, apa kowe krungu jerite atiku. mengharap kau kembali. sayang, nganti memutih rambutku. ra bakal luntur tresnaku.
    *maafkan malah nyanyi

    1. Mungkin bakal happy ending nanti di dunia lain :”) iya memang nyesek, tapi mungkin rencana Tuhan lebih baik hehe jadi mereka meninggal di waktu yg hampir bersamaan dalam posisi masih saling mencintai satu sama lain :”)

    1. Mungkin cinta mereka akan bersatu di dunia lain hehe :”) alhamdulillah kalau perasaanku di ff ini nyampe ke kamu:”)❤ iya dia kan second lead, biasalah tersakiti karena peran utama ceweknya cuma cinta sama peran utama cowok 😢💔 alhamdulillah, terimakasih banyak 😍 jangan bosen2 baca ff aku yaa😙❤

    1. Huweee maapin yaa udah bikin kami nangis, tapi syukurlah kalau kamu bisa merasakan kesedihan ff ini hehe :”) alhamdulillah, terimakasih banyak😍❤ jangan bosen2 baca ff aku yaa hehe😘❤

Tinggalkan Balasan ke alya Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s