[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (4) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

[  BUTTERFLY in Hunan (4)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Chanyeol

Supported by EXO`s Suho; Kris; Baekhyun; Kai; Chanyeol; Tao; Yixing

OC`s Minrin, Ren, Runa, Hyerim, Yara, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story  rated by Teen served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Chanyeol of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Hunan [Kris]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Aku akan membawa mereka ke tempat pertama kali aku bertemu dengan Junmyeon. Jika kau berhasil membuatnya berubah pikiran, pastinya kau akan datang kembali bersama dengan Junmyeon.

“Kau bisa bertemu dengan mereka bertiga, dan aku bisa melanjutkan kehidupanku dengan si bodoh itu. Bagaimana? Tidakkah penawaranku sekarang terdengar sangat menggiurkan?”

Jia-yi sungguh tidak menyesal karena sudah menyetujui tawaran dari Minrin. Sungguh, dia malah bersyukur karena pada akhirnya bisa terlepas dari kungkungan Minrin tanpa bisa berbuat apa-apa.

Dia juga sangat berterima kasih pada Kris yang dipikirnya akan menolong. Tapi semua rasa senang itu terpaksa Jia-yi tepis dan buang begitu saja saat dia tahu kalau Kris nyatanya juga terlibat dalam lubang hitam mengerikan yang berusaha Jia-yi tinggalkan.

Miris, memang. Jia-yi ingin mengasihani Ren karena harus punya seorang Ayah yang terlibat dalam masalah. Tapi ketidak tahuan Ren juga yang berhasil membuat Jia-yi bertahan dalam diam.

Dia tidak bisa mengajukan protes apapun saat Kris berkata bahwa dia akan membawa Jia-yi kepada Arshavin. Pun tak bisa ia utarakan keinginannya untuk bertemu dengan Baekhyun—karena dia tahu Kris akan menemui Baekhyun setelah menyerahkannya pada Arshavin—karena sekali lagi, Ren ada di sini, bersama mereka.

“Kau mengenal Minrin?” tanya itu yang akhirnya berhasil lolos dari bibir Jia-yi setelah ia menimbang-nimbang. “Ya, aku mengenalnya dari Arshavin. Dia adalah jalurku menemui Arshavin juga. Mengapa?” tanya Kris santai, seolah mereka sekarang tidak sedang bicara mengenai kasus mengerikan saja.

“Bagaimana dengan Junmyeon?” tanya Jia-yi lagi.

“Ah, psikopat itu? Dia kekasih Minrin, bukan?” kata Kris tak kalah santai dari sebelumnya. Tanpa sadar, Jia-yi lemparkan pandang ke arah Ren yang ternyata tengah sibuk dengan ponselnya.

Sebuah headphone entah sejak kapan terpasang di telinganya, sementara samar-samar Jia-yi bisa mendengar suara lagu yang keluar dari sisi headphone tersebut. Pantas saja Kris bisa berbicara dengan santai, pikir Jia-yi tanpa sadar.

“Lalu bagaimana kau bisa mengenal Baekhyun?” seolah tengah menginterogasi, lagi-lagi Jia-yi membuka tanya. Pertanyaan yang akhirnya membuat Kris terdiam sejenak. “Aku mengenal mereka semua, Jia-yi.” katanya.

“Mereka semua?” ulang Jia-yi memastikan.

“Chanyeol, Kai, Kyungsoo, yang kau temui setelah kau bertemu denganku. Arshavin dan komplotannya, Yixing, juga Luhan. Dan pembunuh berantai itu, Baekhyun.” kata Kris membuat Jia-yi tersenyum simpul. “Tidak, kau tidak mengenal mereka semua.” kata Jia-yi, merasa menang.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak mengenal mereka semua sebaik aku mengenal mereka.” pungkas Jia-yi, mematahkan rasa putus asa yang beberapa sekon lalu hampir saja hinggap di dalam batinnya. “Aku terkejut juga, kau ternyata tahu begitu banyak. Padahal, kita bertemu secara tidak sengaja karena kau mencari Ren.” sambung Jia-yi.

Diam-diam gadis itu berusaha mengingatkan Kris pada hal yang membuat mereka bertemu dulu, mencari Ren. Kalau saja saat itu Jia-yi tidak bertemu dengan Kris dan tidak terlibat dengan Chanyeol, mungkin saja pada akhirnya kehidupan tidak akan menarik Jia-yi pada hal semiris ini.

“Ya, setidaknya aku sekarang benar-benar mengenalmu. Dulu aku tidak tahu tentangmu. Tapi begitu Minrin mengontakku untuk mencarimu dan membawamu pada Arshavin, aku jadi mengerti.

“Kau tahu, terkadang dalam sebuah perang, kita harus mengorbankan nyawa pion-pion tertentu untuk menyelesaikan perang tersebut atau setidaknya mencapai kata damai. Kalau saja kau memahami situasinya, nyawamu adalah bendera damai bagi Arshavin.”

Ya, Jia-yi tahu itu. Setidaknya sekarang dia paham. Kematiannya berarti kehancuran Ayahnya, dan hancurnya Ayah Jia-yi berarti kemenangan atas pembalasan dendam yang semua orang—orang-orang yang menyimpan dendam pada Ayahnya—rencanakan.

“Aku tahu, bagaimanapun aku berusaha berlari, pada akhirnya aku akan dibunuh, bukan?” kata Jia-yi membuat Kris tersenyum tipis. “Ya, Nona Wang. Kematian adalah bagian dari takdirmu, yang segera akan menyambut.” katanya.

Hening beberapa saat sebelum akhirnya Jia-yi kembali buka suara.

“Kalau begitu, aku boleh mengajukan permintaan sebelum aku mati?” pinta Jia-yi kemudian. Kris terdiam sejenak, lantas diliriknya Jia-yi dari spion mobil sebelum dia menghela nafas panjang.

“Apapun asal kau tidak minta untuk kuselamatkan.” kata Kris.

Jia-yi, tersenyum simpul sebelum dia buka suara. “Tolong, beritahukan pada Baekhyun jika Minrin menyembunyikan adikku di tempat yang hanya diketahui oleh Minrin. Kata Minrin, tempat itu adalah tempat dia dan Junmyeon pertama kali bertemu.”

“Hanya itu?” tanya Kris.

Tanpa sadar, kabut bening menutupi pandangan Jia-yi sekarang. Kalau boleh jujur, gadis itu ketakutan. Dia tahu mobil Kris tengah membawanya pada kematian, tetapi Jia-yi terlalu takut untuk memberikan perlawanan.

Dia tidak ingin nyawa lain melayang hanya karena pelariannya. Jia-yi ingin hidup, dia ingin selamat, tapi tidak dengan cara mengorbankan nyawa orang lain.

“Apa kau akan benar-benar menemui Baekhyun setelah ini?” tanya Jia-yi.

“Ya, aku akan menemuinya dan mengatakan kalau kau ada di tangan Arshavin. Perjanjianku dengan Minrin hanya sampai membawamu pada Arshavin. Sisanya, perjanjianku dengan Baekhyun, memberitahukan di mana Arshavin berada.

“Lalu, aku akan memberitahukan pada Chanyeol tentang keberadaan Arshavin dan Baekhyun. Chanyeol akan menghubungi kepolisian internasional dengan bukti-bukti yang sudah aku kirimkan—bukti yang kudapatkan dari Arshavin juga Baekhyun tanpa mereka ketahui—dan mengakhiri katastrofi ini.

“Kehidupan itu sungguh rumit, kalau kau tidak pandai menempatkan diri di dalam rencana orang lain, setidaknya kau harus belajar bertahan hidup di dalam rencana itu. Jadi… apa kau ingin aku menyampaikan hal lainnya pada Baekhyun?” tanya Kris kemudian.

Mendengar penuturan Kris, Jia-yi setidaknya bisa bernafas lega. Tidak lama lagi, semua ini akan berakhir. Bencana ini akan dihentikan, semuanya mungkin akan dapat kembali ke tempat asalnya.

“Kalau begitu… bisakah aku minta pada Baekhyun untuk membawaku pergi? Aku tidak peduli, aku sudah mati, atau aku akan bertahan hidup sampai akhir, tapi bisakah… kau katakan padanya untuk membawaku pergi dari Hunan setelah semua ini berakhir?”

Terdiam adalah hal yang berikutnya Kris lakukan. Permintaan Jia-yi terlampau berat. Kris sendiri bahkan tidak yakin apa dia bisa bertahan sampai berhasil menyampaikan pesan Jia-yi pada sang pembunuh.

Tapi toh, pada akhirnya Kris mengiyakan juga permintaan gadis itu.

“Baiklah, aku akan mengatakannya.” ucap Kris memunculkan sebuah senyum di wajah Jia-yi, hanya sebentar, sebelum gadis itu akhirnya menyandarkan tubuhnya dengan santai di mobil dan memejamkan matanya.

“Perjalanan kita masih panjang, bukan? Aku ingin tidur sejenak sebelum menghadapi semuanya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku heran, dia sudah sehancur ini tapi kau masih berusaha menyelamatkannya.”

Sehun berkelakar kala dilihatnya bagaimana Baekhyun duduk menyandarkan diri di kursi, selagi maniknya mengawasi sosok yang terbaring lemah di atas tempat tidur.

“Permintaan Jia-yi. Dia begitu ingin menyelamatkan orang ini.” sahut Baekhyun ringan. Sehun lantas mengembuskan nafas panjang. “Apa kabar Runa? Kau sudah memastikan dia ada di tempat yang aman?” tanya Sehun kemudian.

Baekhyun menggeleng pelan.

“Aku tidak bisa katakan dia ada di tangan yang aman. Tentu saja, dia bersama dengan seorang psikopat sekarang. Minrin namanya, tapi jangan khawatir, selama Jia-yi tidak bersama dengannya, bisa kukakatakan kalau nyawa Runa akan aman,” tutur Baekhyun.

“Sudah aku duga sejak awal, ada yang salah denganmu saat menyelamatkan Jia-yi. Sekarang, kita malah terlibat dalam masalah seperti ini. Seharusnya dari awal kau bunuh saja dia.” kata Sehun, runyam juga benaknya karena harus mengkhawtirkan keadaan Runa terus menerus padahal gadis itu tidak tahu apa-apa.

“Kau juga begitu, mengembalikan Hyerim, kau pikir situasinya akan jadi mudah jika kekasih Hyerim muncul?” ucap Baekhyun tidak mau kalah.

“Sudahlah,” Sehun akhirnya menyerah, “Yang jelas, kau harus pastikan kalau Runa akan kembali dengan selamat. Kalau tidak, kupastikan aku akan memberanikan diri untuk membunuhmu.” sambungnya membuat Baekhyun tergelak.

Hah, memberanikan diri, katamu.” kata Baekhyun.

“Kau tahu sendiri aku tidak suka terlibat dengan hal-hal semacam ini. Dan juga, di mana Chanyeol yang kau bicarakan itu, mengapa tidak kunjung datang dan menengok komplotannya ini?”

Baekhyun terdiam sejenak. “Aku sudah menghubunginya, dia tengah berurusan dengan kepolisian internasional. Hendak melaporkan semua yang sudah kuberitahukan padanya mengenai kejadian yang ada di Seoul.

“Bukti-buktinya juga sudah jelas. Aku hanya tinggal menunggu kabar dari rekanku yang ada di Hunan.” tutur Baekhyun, menjelaskan rencananya pada Sehun.

Wow, wow. Tunggu dulu, apa itu artinya aku akan tertangkap juga?” kata Sehun membuat Baekhyun menatapnya sekilas. “Tentu saja tidak, aku yang akan tertangkap, bodoh.”

Mendengarnya, Sehun akhirnya bisa mengembuskan nafas lega. “Lalu siapa rekan di Hunan yang kau ceritakan ini?” tanyanya kemudian.

“Zhang Yixing, sahabat Wang Jia-yi sekaligus tangan kanan Arshavin.” kata Baekhyun.

Sontak, Sehun membulatkan mulutnya tak percaya. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Baekhyun melibatkan diri pada situasi pelik seperti ini? Baekhyun bahkan merelakan diri untuk tertangkap meski dia tahu bagaimana resikonya jika sudah tertangkap.

“Jadi Zhang Yixing ini musuh dalam selimut bagi semua orang ya.” komentar Sehun.

“Tidak, dia bukan musuh. Dia memang menginginkan kematian Jenderal Wang juga, dan kematian Jia-yi diinginkannya semata-mata karena tak bisa membunuh Jenderal Wang. Dia membelot dari Arshavin karena dia juga ingin Arshavin tertangkap.

“Sama sepertiku, sepertimu, juga seperti orang-orang lain yang menginginkan kematian keluarga Wang, kita semua hanyalah korban. Tetapi, kita tidak lemah dan berdiam selayaknya korban-korban lain.”

Sehun mengangguk-angguk paham. “Ya, ya, aku mengerti. Kau bahkan bisa menaruh hati pada Jia-yi. Lucu sekali, kau menaruh hati pada korbanmu sendiri. Umm, ceritamu hampir bisa kuanalogikan dengan kecintaan seekor ular pada tikus putih yang seharusnya ia santap.”

Baekhyun menyernyit. “Mengapa kau mengistilahkan Jia-yi sebagai tikus putih? Dia terlalu cantik untuk disamakan dengan tikus.” kata Baekhyun berhasil membuat Sehun tergelak. Di pendengaran Sehun sekarang Baekhyun terdengar seolah hendak melucu padahal dia tahu benar Baekhyun tidak sedang bercanda.

“Baiklah, baiklah. Lalu kau ingin aku menganalogikannya seperti apa?” tanya Sehun.

“Kupu-kupu.”

Well, kupu-kupu memang indah. Tapi mereka tidak berumur panjang. Mengapa kau menyamakannya dengan Jia-yi?” Sehun menyernyit tak mengerti. Tapi Baekhyun malah tersenyum samar, tanpa sadar ia biarkan memori tentang Jia-yi menyeruak masuk ke dalam benaknya.

“Seperti kupu-kupu, dia sangat cantik, dan lembut, juga tidak berbahaya. Terlihat begitu rapuh tetapi keindahannya justru menjadi daya tarik kuat yang memabukkan. Sayang, seperti kupu-kupu yang tidak berumur panjang, dia juga begitu.

“Bagi kupu-kupu, kematian adalah hal yang menanti setelah mereka memamerkan keindahannya selama beberapa hari. Sama halnya dengan Jia-yi, meski dia memiliki banyak orang yang menaruh ketertarikan padanya, tidak ada satupun dari orang-orang itu yang berhasil memilikinya.

“Karena dia akan mati. Semua orang, semua yang tertarik padanya, tahu benar kalau dia akan mati. Tetapi tidak ada yang merasa kasihan padanya, karena mereka tahu kalau kematian itu adalah takdir baginya.

“Jadi kau tidak bisa menganalogikan perasaanku pada Jia-yi sebagai sebuah rantai makanan. Karena dia bukan mangsaku, melainkan tontonan. Akan lebih baik, jika kau katakan aku menjadi seekor ular yang tengah menyaksikan seekor kupu-kupu yang sekarat.”

Sehun terdiam sejenak. Tanpa sadar, rasa kasihan justru muncul dalam batinnya jika mengingat si gadis berwajah dingin dengan kulit pucat yang sempat ditemuinya itu.

“Kasihan, padahal dia ke Seoul hanya untuk menemukan adiknya, tapi dia malah harus menghadapi kematiannya sendiri. Tidak salah lagi kalau dia disamakan dengan kupu-kupu. Kalau kuhitung, sejak awal bencana ini sampai sekarang, setidaknya sudah dua minggu berlalu. Dan normalnya, seekor kupu-kupu dewasa akan mati di usia ini.”

Baekhyun tersenyum samar. “Tapi ada juga kupu-kupu yang hidup hingga satu tahun. Menurutmu, apa Jia-yi akan bisa menjadi kupu-kupu yang bertahan dengan usia panjang?” pertanyaan Baekhyun itu akhirnya membuat Sehun menatap dengan alis berkerut.

“Maksudmu, kau akan menyelamatkannya sehingga dia tidak akan mati di usia muda?” tanyanya begitu ia sampai pada satu kesimpulan.

Baekhyun adalah seorang yang penuh misteri. Dan sampai sekarang pun Sehun tidak bisa memercayai pria itu sepenuhnya. Tapi, Baekhyun seringkali menunjukkan puluhan plot twist dalam rencananya, entah Baekhyun sengaja atau tidak melakukannya, tapi Sehun sudah kesulitan menerka jalan pikiran rekannya itu.

“Aku tidak bicara begitu. Ah, dia terbangun Sehun.” kata Baekhyun sebelum dia akhirnya memandang ke arah tuubh lemah yang sekarang bergerak pelan.

PIP! PIP!

Alarm kecil yang Sehun miliki berbunyi kemudian. “Timing yang sempurna, kita juga kedatangan tamu, Baekhyun. Maukah kau menyapanya selagi aku memeriksa keadaan pasienku?”

Baekhyun kemudian tersenyum. Ia raih senapannya yang ada di atas meja sebelum dia berkalimat:

“Dengan senang hati, jangan terkejut kalau ada suara berisik.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Dad, apakah tidak apa kalau kita tinggalkan dia?”

Kris menatap ke arah putri semata wayangnya begitu gadis belia itu bersuara. Sejak tadi, rasanya Ren tidak menaruh perhatian pada keberadaan Jia-yi di mobil sewaan mereka. Tapi sekarang tiba-tiba saja Ren bertanya.

“Tidak masalah, dia ada di tangan yang aman.” kata Kris kemudian.

Ren menyernyit. Benaknya tidak berkata seperti itu saat melihat ekspresi muram Jia-yi saat turun dari mobil mereka tadi.

“Sepertinya dia justru terlihat tertekan. Dad, kau tidak melakukan hal buruk padanya, bukan?” sampailah Ren pada satu kesimpulan, kalau keadaan menyedihkan Jia-yi sedikit-banyak disebabkan oleh Ayahnya juga.

Hey, ada apa denganmu? Tiba-tiba menuduhku membuat orang lain menderita?” tanya Kris dengan nada meninggi.

Mendengar nada tinggi yang Ayahnya pamerkan, Ren akhirnya mengembuskan nafas panjang. Sejak awal, dia memang tak pernah bisa bicara baik-baik dengan Ayahnya. Adanya bencana yang menghancurkan Seoul pun rupanya tidak ikut menghancurkan kecanggungan yang ada di tengah kedua orang itu.

“Aku hanya berpendapat.” kata Ren ketus.

Kris akhirnya menghela nafas panjang. Dia ingin sekali, sungguh ingin, menjelaskan situasinya pada Ren. Tapi dia tahu, menjelaskan semuanya pada Ren hanya akan membuat gadis belia itu merasa ketakutan, dan bahkan mungkin ia akan mendapatkan stigma buruk di mata putrinya.

Tapi Ren juga bukan anak berusia tujuh tahun yang bisa dia bohongi begitu saja. Gadis itu cerdas, seperti Kris tentu saja. Dan tidak mudah bagi Kris untuk terus bertahan dalam kebohongan sementara putrinya bisa menganalisis kebohongan itu dengan cukup mudah.

“Dia akan baik-baik saja, Ren.” kata Kris kemudian.

Tanpa sadar, Ren tertawa pelan. Dilemparkannya pandang ke arah sang ayah sebelum dia kemudian kembali buka suara.

“Kalau memang dia akan baik-baik saja, lalu apa maksud pembicaraan Dad dengannya tadi? Bukankah dia sedang menyampaikan pesan kematiannya pada Dad?”

Sontak Kris terperangah, sadar jika Ren tidak berdiam karena tidak tahu apa-apa, melainkan karena dia telah mendengar semuanya.

“Berapa banyak yang kau dengarkan, Ren Wu?” tanya Kris.

“Semuanya, Dad. Aku mendengar semuanya.”

Kris sudah akan bicara lagi untuk menyahuti perkataan Ren jika saja dia tidak disambut dengan pemandangan kelewat janggal di hadapannya.

Hah, Byun Baekhyun, seharusnya aku tidak percaya dengan mudah padanya.” kata Kris begitu dia hentikan laju mobilnya di dekat sebuah barrack yang ada di kawasan pergudangan di tepi kota Hunan.

“Ada apa, Dad?” tanya Ren khawatir, pemandangan di depan juga menganggunya tentu saja.

Bagaimana tidak, sekarang dilihatnya dengan jelas bagaimana seorang pria dan seorang wanita tengah ditodong oleh satu pria lain menggunakan senjata api, tepat di kepala.

“Dia tidak akan membunuh dua orang itu ‘kan, Dad?” tanya Ren saat Kris tidak kunjung buka suara.

“Tidak, tapi mungkin saja dua orang itu yang hendak membunuhnya. Kita tunggu dulu di sini.” kata Kris akhirnya, memilih bersembunyi di jalanan sepi ketimbang mendekati tempat yang dalam waktu dekat mungkin saja akan berubah menjadi tempat kejadian perkara.

Sementara Ren sendiri menatap tak percaya. Bagaimana bisa seorang dengan dua senjata api di tangan justru dikatakan Dadnya sebagai sosok yang nyawanya mungkin saja terancam?

Tentu saja, mereka tidak bisa mendengar konversasi yang tercipta di luar sana. Tapi jelas sekali bagi Ren, pemandangan mengerikannya. Meski ternyata kejadian ala film action yang sempat Ren bayangkan tidak terjadi, adrenalinnya cukup terpacu.

“Mereka tidak jadi baku tembak.” kata Ren saat melihat si pria menurunkan dua senjata yang tadi dia todongkan.

“Baguslah, kalau begitu ayo turun.” titah Kris.

“Turun? Dad, katamu kita akan menemui Paman Baekhyun.” ujar Ren tidak terima. Sementara Kris hanya bisa menghela nafas panjang. Bukan salah Ren kalau dia sudah lupa pada keadaan Baekhyun.

Gadis itu masih berusia delapan tahun saat pertama kali bertemu dengan Baekhyun.

“Si pria dengan dua senjata itu adalah Paman Baekhyun.” kata Kris saat dia sudah turun dari mobil dan melongokkan kepala ke dalam mobil melalui jendela.

Menyerah, Ren akhirnya mengikuti langkah Ayahnya juga. Meski diam-diam dia merasa tidak percaya juga kalau sosok yang beberapa tahun silam diingatnya sekarang sudah berubah begitu banyak.

Hey, Baekhyun,” panggil Kris begitu dia sampai di dekat tiga orang yang masih bergeming di depan pintu masuk menuju barrack.

“Oh, hai Kris. Dan ah, lihat siapa yang datang mengunjungiku setelah sekian lama.” si pria Byun memamerkan senyum ke arah Ren. Senyum yang justru dibalas Ren dengan pandang curiga sebab dalam pandangannya, senyum si pria sangat serupa dengan senyum-senyum psikopat dalam film.

Dad, dia benar-benar Paman Baekhyun?” tanya Ren, enggan beringsut takut pada Ayahnya, tapi juga enggan berada di dekat jarak jangkau Baekhyun.

“Tentu saja ini Paman, Ren. Kau sudah lupa?” kata Baekhyun santai, dia lantas melemparkan pandang ke arah sepasang muda-mudi lain yang sejak tadi menjadi penonton dalam diam.

“Kris, ini adalah—”

“—Aku sudah tahu, dia Chanyeol, dan mantan tunangannya, Lee Yara. Aku pernah menjadi fotografer untuk pertunangan mereka.” kata Kris saat ia lemparkan pandang ke arah dua orang itu.

“Tidak kusangka kau juga bagian dari lingkar hitam ini.” komentar Chanyeol.

“Bertahan hidup di Seoul itu sulit, Bung.” sahut Kris santai.

“Baiklah, karena kita sudah saling bertegur-sapa, sebaiknya kita masuk ke dalam. Untukmu, Park Chanyeol, rekanmu yang bernama Kim Jongin ada di dalam.” ucapan Baekhyun berhasil membuat ekspresi Chanyeol mengeras.

“Pengkhianat itu?!” geramnya.

Baekhyun menatap dingin. “Dia bukan pengkhianat. Jongdae dan Arin menyekapnya. Selama ini dia menerima perlakuan mengerikan yang membuat keadaannya—” kalimat Baekhyun sontak terhenti begitu dia menyadari keberadaan Ren di sana. “—Sudahlah, kau lihat saja sendiri. Dan Kris, pastikan Ren tidak melihat apapun yang akan menjadi trauma baginya.”

Kali ini giliran Ren yang menatap tidak mengerti. “Kenapa? Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang sudah Dad lakukan selama ini.” ujarnya tidak terima. Si gadis di sebelah Chanyeol, tersenyum simpul.

“Aku juga dulu berpikir begitu, Ren. Sebelum aku sadar kalau mengetahui apa yang tidak seharusnya aku ketahui, adalah beban yang berat bagi hidupku. Dan juga, aku tidak mau terlibat lebih jauh dalam urusan kalian bertiga.” kata Yara.

Kris pun mengangguk mengiyakan.

“Paman Baekhyun benar. Ren, sebaiknya kau bersama dengan Yara saja selagi Dad bicara dengan Paman Baekhyun.” kata Kris.

Ren malah merengut menerima nasehat Ayahnya. “Tapi Dad—”

“—Nanti kalau kau sudah dewasa, paman sendiri yang akan menceritakan semuanya padamu, Ren. Tenang saja, kita mungkin bisa bekerja sama juga saat kau sudah dewasa.” ucapan Baekhyun sekarang malah membuat Kris menatap tajam ke arahnya.

“Jangan kau berani-berani mendekati putriku, orang gila!”

please wait for the next story: Hol(m)es in Hunan (5)

IRISH’s Fingernotes:

Ini rekor tersingkat aku ngetik Hol(m)es. Dan entah kenapa (mungkin karena series ini adalah yang terakhir) aku jadi begitu bersemangat! Hahaha! Membayangkan apa yang akan terjadi di hari berikutnya ituloh yang bikin bahagia.

Karena hol(m)es bukan cerita cinta menye-menye yang biasa, jadi yah, mau enggak mau aku sebenernya berat hati juga kalau harus mengakhiri cerita ini dengan sebuah sad ending. Tapi mau bagaimana lagi, melodrama is lyfe di sini. Terpaksa, aku siksa lagi beberapa orang cast di dalam cerita ini sebelum berakhir.

Jangan khawatir, tahun depan aku akan datang dengan series lain yang lebih menggigit (enggak, bukan cerita thriller atau politik-distopia kayak gini lagi tenang aja) tapi aku akan bawa cerita sejarah! Yesseu! Aku sudah bertapa beberapa bulan demi ngedapetin ide untuk series birthday EXO yang selanjutnya, dan kita nanti akan berjalan-jalan di lingkar waktu Perang Dunia.

Aku sendiri belum yakin kapan bakal mulai series Perang Dunia ini, tapi mungkin biar kalian enggak keburu lupa sama ceritanya (karena jarak Mei ke September itu jauh, Bung) jadi aku mungkin akan mulai September aja. Jadi September s/d Mei deh, runtut, setiap bulan ada dan kalian enggak akan keburu lupa, LOL.

Terus untuk Januari s/d Mei tahun depan… entahlah… aku belum mikir.

Kembali ke perkara Jia-yi, semakin ke sini ngetik Hol(m)es bikin aku makan hati karena kzl sama bapaknya Jia-yi. Bikin musibah aja ke anak perawannya, padahal si anak perawan ini belum pernah patjaran. ‘Kan kasian kalau bernasib jomblo sampai mati.

Nah, aku enggak mau bagi spoiler lagi, karena tersisa beberapa series lagi sebelum aku mengucap selamat tinggal pada Hol(m)es. Sampai ketemu besok malam!

Ps: selamat hari lahir, duhai Park Chanyeol yang enggak pernah masuk ke dalam bias list aku entah karena kamu terlalu jangkung mirip sama mantan, atau karena muka kamu terlalu lawak mirip sama mantan juga.

Pps: ini true, eksistensi seorang Chanyeol itu mengingatkan aku pada mantan, dan yeah, sebagai korban gamon aku jadi musuh sama Chanyeol. Meski yah… mantan tentu aja secara fisik enggak secakep Chanyeol, LOL. Maaf Yeol, mungkin nanti setelah aku bisa move on aku bisa ngebiasin kamu, meski hanya sedikit.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

6 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (4) — IRISH’s Tale”

  1. WKWKWKWKKWK AKU KOK NGEKEK PAS SI SEHUN NGATAIN BEKYUN NARO HATI KE JIAYI YG NOTABENE KORBANNYA HUAHAHAHAH

    “Karena dia akan mati. Semua orang, semua yang tertarik padanya, tahu benar kalau dia akan mati. Tetapi tidak ada yang merasa kasihan padanya, karena mereka tahu kalau kematian itu adalah takdir baginya.” <– dibagian ini aku bener2 miris sama jiayi : ( ya lord… tinggal menyabung nyawa aja dia dan lalu ajal menghampiri… padahal niat ke Seoul cuma buat nyari adeknya heungs

    BTW KAGET JUGA TIBA2 BAEKSEHUN-YARACEYE UDAH DI HUNAN. KAPAN NYUSULNYA HEIII

    KRIS ITU JUGA BEGO DAH BENTAK-BENTAK REN. GAK INGET APA JAMAN REN ILANG? (2)

  2. baru ff yang ini otakku menolak mengerti rish,,,itu si cimol unyu2 teganya dibiarin metong dengan cara ganas..mnding luhan diracun doang..cimolku,,kasiannya dirimu mol mol..kayaknya aku harus baca dari awal pelan pelan ne biar tmabha ngeh..tapi ngebaca kata2nya baek duh makjang..biar kata pembunuh berantai tapi mulutnyaaaa ngalah2in playboy internasional…cabe cabe…
    untuk kesekeian kalinya “terjerumus” dalam lingkaran irish hahahahahhahah
    fighting!!!!!!!!:)

  3. SIAPA YANG BILANG JUNMEN PACARAN AMA MINRIN? SIAPA? GA ADAAAAA

    SEHUN BAEKHYUN UDAH REUNI AJA. TAPI MASAK SEMUA BAKAL MATI SIHHHH AAHHHHHHHH

    KRIS ITU JUGA BEGO DAH BENTAK BENTAK REN. GA INGET APA JAMAN REN ILANG?

    JADI CIWI CIWI ITU MASIH SAMA MINRIN?

    I WANT MORE BAEKHYUN-REN SCENE. KOK MEREKA GEMAYYY IHHHH

    ITU CHANYEOL MASIH BABAK BELUR YA?

    MANA INI BELUM TAMAT LAGIIIII

  4. Sejenak ku menjadi bingung.. Posisi Kris, Jia yi, dan Baekhyun dkk ini ada di Seoul atau Hunan?? Td stlah Jia yi turun, kris tau” udh nongol di tmpat Baek aj. Please give me pencerahan.. mba Irish😭😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s