[Ficlet-Mix] Maybe Love by ShanShoo

32c5aa5b63290677eeb5b3d74c4ba34b--park-chanyeol-exo-chanbaek

ShanShoo’s present

Chanyeol with Reyna

All prompt of the fanfiction is basically from One Hundred Ways to Say ‘I Love You’

-o-

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @ikhsaniaty

***

One : He Said

“Have a good day at work.”

            Chanyeol baru saja tiba di Starbucks yang terletak bersampingan dengan tempat bekerjanya. Pagi ini ia memutuskan untuk menikmati satu kap kopi moccachino kesukaannya sebelum ia memulai aktivitasnya. Dan sesaat setelah ia mendorong pintu masuk, ia mendapati seorang gadis tengah menunggu pesanannya sembari menyangga dagu di atas meja pelanggan, sementara matanya terpejam seakan ia sedang menikmati tidur singkatnya di sana.

Itu Reyna, rekan kerjanya selama satu tahun terakhir. Reyna Byun belum menyadari keberadaan Park Chanyeol. Dan selama Reyna masih memejamkan matanya, ia melihat pegawai Starbucks hendak menyerukan nama pembeli satu kap kopi di tangannya. Belum sempat pegawai itu berseru, Chanyeol datang lebih dulu ke arahnya dan menanyakan kepada siapa kopi itu ditujukan.

“Reyna Byun,” jawabnya, mengikuti arahan Chanyeol agar bersuara pelan.

Nama itu memang tertulis di kertas yang menempel pada badan kapnya. Chanyeol mengembangkan senyuman, lantas mengeluarkan spidol berwarna hitam dari dalam saku celananya untuk menuliskan sesuatu di kertas itu.

“Silakan, kau bisa memberikannya sekarang,” bisik Chanyeol, takut Reyna mendengarnya. Ia pun berbalik meninggalkan Starbucks dan melupakan niatnya untuk membeli kopi di pagi hari.

Sang pegawai yang tampaknya mengerti pada tujuan Chanyeol pun kembali menyerukan nama Reyna, membuat gadis setengah mengantuk itu bergegas menghampiri bagian pemesanan untuk membayar dan menerima pesanannya. Sampai akhirnya, ia menyadari sesuatu yang aneh dari kertas berisi namanya itu.

“Have a good day at work.”

***

Two : What I Heard from Him

“I dreamt about you last night.”

 

            “Sudah mendapat kopi pagimu?” pertanyaan bernada manis terlontar dari mulut Chanyeol, ketika Reyna baru saja tiba di kubikelnya seraya menyimpan kap kopinya di atas meja. Mata laki-laki itu tampak berbinar, entah karena apa.

Reyna menaikkan sebelah alisnya. “Ya. Kenapa?”

Chanyeol menggeleng kecil. “Selamat menikmati kopimu,” katanya.

“Kau tidak membeli?”

“Tidak.”

“Tumben?”

“Oh, kantung matamu menghitam! Apa kau kurang tidur semalam?”

Reyna menggerutu kesal mendengar Chanyeol berteriak seperti itu. Untung saja ruangan tempat mereka bekerja belum dipenuhi oleh pegawai lainnya.

“Aku nyaris tidak tidur karena harus mengerjakan sebagian project untuk acara amal minggu depan,” jawab gadis itu lesu.

“Tapi aku mendapati kualitas tidur yang bagus semalam.” Chanyeol menatapnya lekat. “Bahkan aku hampir saja terlambat―”

“Aku tidak bertanya.” Reyna mendesah. “Chanyeol, bisakah kau kembali ke tempatmu?”

Sepertinya, Chanyeol tidak menggubris apa yang dikatakan rekan kerjanya itu. “Kau tahu, Reyna? Semalam aku tidur begitu nyenyak karena …”

“Karena apa?!” rasanya, Reyna ingin menendang bokong Chanyeol hingga menembus langit ketujuh.

“Karena aku memimpikanmu semalam.”

“Lalu?” sepasang alisnya saling bertautan, namun jujur saja, jantungnya bertalu teramat cepat. Tidak! Ini tidak boleh terjadi!

“Tidak.” Chanyeol malah mengedikkan kedua bahunya singkat. “Aku hanya ingin kau tahu saja.” Lantas, dia menyengir lebar.

“Oh, Chanyeol―”

“Kopimu bisa mendingin jika tidak diminum sekarang.”

Reyna menatap Chanyeol agak kesal, sedangkan laki-laki itu masih saja mengembangkan senyum, sebelum akhirnya berlalu meninggalkannya menuju kubikelnya sendiri.

Oh, tunggu! Apakah Chanyeol tadi melihat pipinya yang sudah semerah kelopak mawar merah muda?

***

Three : Caring

“Take my seat.”

            Waktu bergulir begitu cepat. Malam hari sudah menjelang dan Reyna ingin segera bergegas menuju halte bus, sebelum ia kehilangan bus terakhirnya. Di sampingnya, Chanyeol tampak tak lelah mengoceh ini itu sampai membuat kuping Reyna terasa panas. Tetapi, Reyna tidak memarahinya. Setidaknya, ia masih bisa terjaga dan tidak jatuh tertidur di jalan seperti yang ia takutkan. Tubuhnya lesu. Dan matanya lelah. Namun anehnya, Chanyeol sama sekali tidak menunjukkan gejala kelelahan. Matanya bahkan masih saja berkilat senang setiap kali ia berbicara dengan Reyna.

Sesampainya mereka di halte, bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Mereka cepat-cepat memasukinya di antara desakan penumpang lain yang ingin masuk. Oh, sialnya, Reyna tidak kebagian tempat duduk. Tetapi Chanyeol beruntung, ia bisa duduk sembari menyandarkan punggungnya ke kursi penumpang.

Menyadari jika gadis itu tidak kebagian tempat duduk, Chanyeol menepuk bahunya beberapa kali.

“Hei, Reyna.”

“Apa?”

“Kau bisa mengambil tempat dudukku.”

“Apa?” Reyna terkesiap. “Tidak usah. Kau saja yang―”

“Aku tahu kau kelelahan di sepanjang hari ini,” sergahnya. “Jadi, cepatlah duduk di sini sebelum kau jatuh pingsan dan menghebohkan seisi bus.”

Reyna tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menyerah pada keadaan. Lagi pula, tubuhnya memang ingin duduk bersandar dengan nyaman seperti apa yang Chanyeol lakukan barusan. Gadis itu pun akhirnya mengikuti saran Chanyeol. Ia duduk di tempat Chanyeol, sementara rekannya itu ikut berdiri berdesakan dengan penumpang malam lainnya.

“Merasa baikan?” tanya Chanyeol sembari menundukkan kepalanya.

Tanpa sadar, Reyna mengukir senyuman tipis. “Very,” bisiknya.

***

Four : Sweet Cookies

“I saved a piece for you.”

            Reyna bersyukur sedalam-dalamnya karena hari ini adalah hari dirinya libur bekerja. Seharusnya ia memanfaatkan waktu liburnya untuk beristirahat di atas tempat tidur, tetapi ia malah memilih mengunjungi rumah sewa Chanyeol yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Oh, kau datang?” di hadapannya, Chanyeol mengenakan celemek berwarna hitam, sementara rambutnya yang ikal ia beri sebuah bando agar tidak menghalangi pandangannya.

“Apa aku menganggu waktumu?” tanya Reyna, gusar.

Chanyeol tertawa renyah. “Of course not,” sahutnya. “Masuklah. Aku baru saja membuat kukis rasa jeruk untuk ibuku. Dan ketika firasatku mengatakan kalau kau akan datang kemari, aku sudah menyisakan sebagian kecilnya untukmu.”

Dalam diam, Reyna merasa terharu. Rekan kerjanya selama setahun ini benar-benar bersikap baik padanya. Reyna jadi bertanya-tanya, bagaimana bisa ia masih menunjukkan tingkah laku buruknya di depan Chanyeol, sedangkan Chanyeol malah berperilaku sebaliknya.

“Kau membuat kukis rasa jeruk?”

“Mm-hmm.”

Let me try one.” Reyna beranjak memasuki pantri dapur Chanyeol yang merupakan sumber dari aroma memabukkan kukis buatan laki-laki itu. Chanyeol lantas menyodorkan stoples kecil berisi kukis hangat buatannya. Sensasi yang dirasakan indra pengecap Reyna sungguhlah luar biasa. Reyna bersumpah, kukis ini adalah kukis paling enak setelah buatan ibunya sendiri.

How’s the taste?”

Reyna menoleh cepat, selagi mulutnya sibuk mengunyah. “It’s very delicious!”

***

Five : Kindness

“I’m sorry for your loss.”

            “Apa? Datanya hilang?”

“Ya … dan … dan … aku benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang.” Reyna terus saja terisak sembari memeluk bantalnya dengan tangan yang bebas, sementara tangan yang lain menggenggam erat ponselnya di telinga. Tengah malam, Reyna terpaksa menghubungi Chanyeol dan memberitahukan padanya bahwa data yang sudah ia buat untuk acara amal nanti hilang begitu saja. “Sepertinya … aku belum menyimpan data baru yang aku buat tadi malam. Aku … aku langsung mengeluarkan microsoft-nya begitu saja dan … dan …”

“Sshh … calm down, Reyna,” sahut Chanyeol di seberang sana. Suaranya terkesan parau karena acara tidurnya terganggu, tapi sepertinya Chanyeol tidak mempermasalahkan hal itu. “I’m sorry for your loss,” ujar Chanyeol setelah sekian lama keheningan mengungkung keduanya.

What should I do?” Reyna semakin terisal hebat. Berakhir sudah hidupnya di tangan bosnya nanti. Dan sesaat ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya―

“Aku akan membantumu menyelesaikannya, Rey.” Ucapan Chanyeol mengakhiri pikirannya yang buruk. Asap hitam tebal yang semula membumbung tinggi di atas kepalanya seakan sirna, hanya dengan mendengar Chanyeol mengatakan hal itu dengan nada serius.

“Kau …” Reyna menyeka air matanya. “Kau benar-benar akan … membantuku?”

“Mm-hmm,” gumam Chanyeol, seperti biasa.

“Oh, thanks, God.” Reyna tertawa senang. “Terima kasih, terima kasih, Park Chanyeol. Kau benar-benar penyelamatku!”

Chanyeol ikut tertawa mendengarnya. “Keberatan bila aku memintamu untuk mentraktirku kopi di Starbucks selama tiga hari?”

Biasanya, Reyna tidak pernah mengindahkan permintaan apa pun yang menurutnya begitu mengganggu. Reyna bahkan tidak segan mendiamkan Chanyeol selama berhari-hari lamanya karena tingkah konyolnya yang kelewat batas. Tetapi kini, Reyna tak memandang Chanyeol sebagai sosok yang menyebalkan lagi. Dan permintaannya barusan malah ia respons dengan senyuman kecil disertai anggukan yang tidak bisa Chanyeol lihat.

“Tentu saja. Tidak masalah. Tiga hari, bukan?”

“Setiap hari juga boleh, kok.”

“Mati saja kau!”

-oOo-

uhukk…. tes-tes….

AYOOOO SIAPA YANG KANGEN SAMA DUO UNYU CHAN-REY???? xD xD

udah lama juga ya aku nggak ngepost fanfiksi tentang mereka, kapel kesayangankuuuu :****

btw, kalian suka scene yang mana nih, dari kelima cerita di atas? hehehe x))))

ehiya, nggak kerasa juga ya bentar lagi ultahnya mas ceye. duuuh reyna kudu beli kado apa ya buat si mas caplang ini? ada saran? wkwkwk xD

sampai bertemu di fanfiksiku selanjutnya, ya ;))))

jangan lupa mampir ke wattpad sama blog-ku juga kalau ada waktu x))))

Salam sayang,

Isan♥

2 tanggapan untuk “[Ficlet-Mix] Maybe Love by ShanShoo”

    1. halooooo deaaar~~~~ :***
      ceye tetep swiiit mau bagaimanapun juga x)))
      hihi iya, cewek mana pun pasti bakal leleh sama sikap chanyeol yang gentel ini x) nggak tahu deh kalau reyna 😀
      makasih yaaa udah mampir dan berkomentar ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s