GAME OVER – Lv. 31 [Prototype] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal ThropeLevel 21Level ??Level 30 — [PLAYING] Level 31

I’ll break down everything today

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 31 — Prototype

In Author’s Eyes…

“HongJoo sepertinya bukan nama yang buruk. Nah, sekarang… saatnya bermain.”

Jiho meregangkan jemarinya, kesepuluh jari kurus milik gadis itu telah siap beradu kecepatan di atas keyboard saat tiba-tiba saja sebuah peringatan muncul di dalam monitornya.

‘Perhatian! Memulai WorldWare berarti Anda telah menerima dan memahami semua syarat dan ketentuan di dalam permainan. Semua efek samping yang terjadi setelah bermain di dalam WorldWare merupakan risiko yang harus Anda tanggung sendiri dan tidak menjadi tanggung jawab dari NG Game Factory. Segala jenis tuntutan hukum tidak akan bisa Anda ajukan pada NG Game Factory. Apa Anda menyetujuinya?’

“Eh? Apa maksudnya ini?” Jiho menyernyit bingung, dia tidak habis pikir, permainan macam apa yang masih menyuguhkan persyaratan seaneh ini? Tetapi, alih-alih merasa curiga, Jiho justru menekan pilihan ‘ya’ yang ada di layarnya.

Segera, maniknya disambut dengan sebuah halaman kosong berwarna hitam di dalam permainan. Dengan satu lagi peringatan yang ia dapatkan.

‘Gagal mendapatkan akses untuk Eden’s Nirvana. Periksa koneksi internet Anda dan coba lagi. Jika masalah ini terus terjadi, hubungi customer service kami untuk mengajukan keluhan.’

Hey! Kim Taehyung!” kemudian Jiho berseru, rasa kesal diam-diam merambat ke dalam batinnya ketika dia mendapatkan kesulitan macam ini.

“Ada apa?” Taehyung menyahut dari kejauhan.

Jiho lantas melepaskan headphone yang ia kenakan. Ia lemparkan pandang ke arah punggungnya, di mana ia lihat Taehyung tengah mengambil beberapa buah makanan dari dalam kulkas yang ada di tempat tinggal mereka.

“Aku tidak bisa mengakses gamenya, bagaimana ini?” tanya Jiho membuat Taehyung berbalik, ditatapnya Jiho dengan alis berkerut. “Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

“Aku juga tidak tahu,” Jiho menunjuk ke arah layar monitornya, “Lihat? Di sini tertulis aku tidak bisa mengaksesnya.” sambung Jiho.

“Coba kau logout lalu login lagi.” titah Taehyung. Pun sudah Jiho lakukan anjuran Taehyung tersebut, tetapi sebaris kalimat yang sama masih menyambutnya.

“Aku masih gagal mengaksesnya, dan tidak ada stage lain yang bisa kuakses.” Jiho berseru dongkol. Dilihatnya Taehyung masih tampak santai berkutat dengan makanan, hal yang tanpa sadar membuat Jiho merengut kesal.

“Taehyung, ayo bantu aku!” katanya dengan nada cukup keras.

“Iya, iya. Astaga kau ini cerewet sekali.” gerutu Taehyung sembari menutup pintu kulkas dengan kakinya—karena kedua lengan pemuda itu sudah penuh dengan makanan—dan merajut langkah menghampiri Jiho.

“Apanya yang tidak bisa?” tanya Taehyung saat ia letakkan bungkus-bungkus makanan tersebut di atas meja komputer di sebelah Jiho, dipandanginya sebaris kalimat yang sejak tadi menyambut Jiho tiap kali gadis itu mencoba untuk login dan mengakses permainan tersebut.

“Ah ini pasti sistem proteksi permainannya. Karena game ini belum rilis secara otomatis dia punya sistem proteksi yang menghalangi kita untuk memainkannya sebelum game ini dirilis secara resmi.” Taehyung menjelaskan, dia lantas duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Jiho.

“Coba kau geser sedikit, biar aku benahi dulu permainannya.” perintah Taehyung.

Memilih mengalah, Jiho kemudian beringsut menggeret kursinya menjauh dari Taehyung yang sekarang sudah dengan lincah memainkan jemarinya untuk mengetik kata demi kata di dalam command prompt yang muncul di layar.

“Katamu permainan ini beta versinya, kenapa sudah ada sistem proteksi?” tanya Jiho sembari menunggu.

“Aku juga kurang paham. Mungkin memang sejak awal mereka membuat sistem proteksi ini untuk mencegah peretasan. Tapi ya, kau tahu siapa aku. Tidak ada proteksi yang tidak bisa kutembus dengan kemampuanku.” kata Taehyung.

“Wah, lihat bagaimana angkuhnya kau.” komentar Jiho.

“Orang jenius itu patut sombong, tahu.” Taehyung menyahuti, dia kemudian merentangkan kedua tangannya dengan tatapan angkuh khas yang Jiho kenali. “Lihat, Nona Song. Kau sudah ada di dalam permainan ini.” katanya membuat Jiho segera melempar pandang ke arah monitornya.

“Astaga! Kau sungguh jenius!” seru Jiho, ia temukan bagaimana karakternya telah berdiri di tengah sebuah taman hijau yang sejak tadi tidak berhasil diaksesnya.

“Siapa dulu yang menerobos sistem proteksinya? Epic-T.” kata Taehyung bangga.

Mendengar ucapan Taehyug, Jiho hanya memutar bola mata sembari mendorong kursi pemuda itu untuk segera menyingkir.

“Ya, ya, Epic-T yang hebat. Sekarang minggir!” kata Jiho sambil memposisikan dirinya dengan nyaman di atas kursi.

“Aku akan mengawasi permainanmu.” ucap Taehyung tanpa merasa tersinggung. Sementara Jiho sudah mulai menggerakkan jemarinya dengan cepat di atas keyboard.

“Bagaimana dengan pernikahan Ayahmu omong-omong? Kudengar kau akan punya saudara tiri.” kata Jiho mulai berkelakar santai, gadis itu masih sibuk membuat karakternya berputar-putar di dalam stage, mencari-cari hal yang bisa disimpannya di dalam martial box selagi Taehyung menyantap kentang kering favoritnya.

“Aku tidak peduli. Pernikahan mereka masih bulan depan, dan rasanya aku sama sekali tidak ingin hadir di pernikahan itu.” ucap Taehyung.

“Kenapa? Kau ‘kan bisa mengajak kekasihmu? Sekalian, mengenalkannya pada Ayahmu.” ucap Jiho segera membuat Taehyung terdiam sejenak.

Dipandanginya Jiho dengan pandangan nanar yang tidak Jiho sadari. Sekon kemudian, Taehyung tertawa parau, membuat Jiho mau tak mau mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang tidak lagi disibukkan dengan kentang kering.

“Ada apa? Apa aku salah bicara?” tanya Jiho.

“Tidak, kau tidak salah bicara. Sudah lanjutkan saja gamemu. Kenapa kau berputar-putar terus di stage kosong?” tanya Taehyung berusaha mengalihkan perhatian Jiho.

“Tapi, kudengar kalau calon ibu tirimu itu seorang pengusaha sukses. Benarkah?” lagi-lagi Jiho berkelakar, selagi Taehyung meneguk cola dari dalam botol.

“Ya, begitulah. Dia juga mantan istri dari pengusaha yang bergerak di bidang game. Darimana kau tahu, omong-omong? Kau itu ‘kan biasanya selalu ketinggalan informasi.” kata Taehyung, heran juga bagaimana seorang introvert seperti Jiho tiba-tiba saja bisa tahu tentang issue pernikahan Ayah Taehyung.

“Aku membaca artikel, tentu saja. Pernikahan Ayahmu jadi headline di beberapa artikel.” sahut Jiho santai, gadis itu sekarang menggerutu pelan. “Stage macam apa ini? Sama sekali tidak ada apa-apa di dalamnya.” kata Jiho lagi.

“Aku sudah putus dengan Ashley.” tiba-tiba saja Taehyung berkata.

“Apa?” sepersekian sekon, Jiho menatap Taehyung tidak mengerti. “Apa maksudmu dengan kau putus? Bukannya kalian sudah merencanakan pertunangan? Apa kau selingkuh? Atau Ashley yang selingkuh?” Jiho sekarang bertanya bak seorang detektif yang tengah menginterogasi tahanan.

Well, kami sama-sama memutuskan untuk berpisah.” ujar Taehyung.

“Tapi… kenapa?” tanya Jiho.

SRAT!

“Katakan… dengan cara apa aku harus membunuhmu, HongJoo?”

Belum sempat Taehyung menjawab pertanyaan itu, satu kalimat langsung terdengar dari speaker komputer Jiho. Hal yang sontak membuat keduanya menatap ke monitor dan—

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi!?”

—sama-sama terkejut.

Sekarang, di monitor mereka sudah terpampang sebuah stage gelap, dengan latar taman indah yang baru saja Jiho tinggalkan dari atensinya. Sejak kapan taman indah itu berubah menjadi stage dengan visualisasi mengerikan?

“Kau diserang.” Taehyung berkata, ditunjuknya ke arah layar, dan Jiho pun tersadar pada health barnya yang tersisa separuh.

“Aku tahu aku diserang. Tapi siapa yang menyerangku?” tanya Jiho, ia menggerakkan tiga jemarinya di atas keyboard, berusaha mengelilingi stage gelap yang sekarang menyisakan misteri untuknya.

“Aku yakin seorang NPC ada di sini. Dia baru saja bicara padaku, bukan?” kata Jiho kemudian. Taehyung pun mengiyakan dengan sebuah anggukan yakin. “Aku mendengarnya juga, kau tahu. Tapi tidak ada seorang pun di stage ini. Apa dia semacam invisible villain atau sejenisnya?” perkataan Taehyung kemudian berhasil merenggut perhatian Jiho.

“Maksudmu, dia tidak bisa kita lihat? Lalu bagaimana aku harus melawannya?” tanya Jiho, ada rasa tidak percaya dalam benaknya saat analisis Taehyung hampir-hampir dipercayainya.

Memang, Jiho pernah mendengar soal invisible villain yang ada di dalam game online. Karakter tidak terlihat yang hanya bisa diakses ketika seorang player masuk ke dalam game dengan menggunakan perangkat gaming yang lebih modern.

“Tapi aku tidak bisa mengaplikasikan gaming setku di sini. Permainan ini mungkin punya gaming set khusus.” kata Jiho.

“Kau benar, itu artinya kalau kau tidak mau game over kau harus mencari jalan keluar dari labirin gelap yang sekarang ada di hadapanmu.” kata Taehyung mengingatkan Jiho.

Akhirnya, Jiho dengan cepat berusaha menemukan tepi-tepi dari stage tempat ia sekarang berada, sementara Taehyung memerhatikan dengan ekspresi sama seriusnya. Samar tapi pasti, Taehyung memang bisa melihat beberapa kelebatan gelap yang sejak tadi berusaha mengejar Jiho.

Well, Taehyung yakin itu adalah sosok invisible yang menjadi rintangan di dalam stage yang sekarang Jiho masukin. Tetapi dia juga tidak bisa memberitahu Jiho untuk berbalik dan menghadapi NPC tersebut dengan keadaannya.

Bisa-bisa Jiho game over di percobaan pertamanya.

“Dapat!” Jiho berseru cukup lantang saat dia berhasil berpindah ke dalam sebuah Hall, melupakan stage gelap yang baru saja mengurungnya.

“Akhirnya.” Taehyung mengembuskan nafas lega. “Tadi sempat kulihat bayangan hitam mengejarmu di dalam stage itu. Pasti dia benar-benar NPC yang ada di dalam stage. Untung saja dia tidak sempat menyerangmu.” kata Taehyung lagi.

“Aku juga samar-samar melihatnya. Baiklah, aku sudah ada di Hall dan bisa mengeksplor permainan ini lagi. Kau bisa lanjutkan cerita kita tadi tentang hubunganmu dengan Ashley.” kata Jiho, rupanya berhadapan dengan situasi yang tidak diduganya barusan tidak lantas membuat gadis itu lupa pada konversasi awalnya bersama Taehyung.

“Ya, mau bagaimana lagi karena kau mengingatnya jadi aku terpaksa menjelaskan tentangku dan Ashley juga.” Taehyung akhirnya menyerah.

“Jadi, kenapa kalian putus? Bukannya kau sangat sayang pada Ashley?” tanya Jiho lagi-lagi menenggelamkan Taehyung ke dalam sikap diam. “Taehyung?” ulang Jiho saat Taehyung tidak kunjung angkat bicara.

“Dia adalah calon saudara tiriku, Jiho.”

“Apa?” Jiho menghentikan aktifitasnya, ditatapnya Taehyung seolah ia berusaha untuk menemukan candaan di dalam kalimat yang barusan Taehyung ucapkan. Tetapi ekspresi santai yang Taehyung pamerkan justru membuat Jiho yakin kalau Taehyung tidak sedang berbohong padanya.

“Ashley adalah anak dari calon ibu tirimu? Sungguh?” tanya Jiho memastikan.

“Iya, mana mungkin aku berbohong. Aku juga baru tahu, saat keluarga kami bertemu untuk makan malam keluarga. Setelah tahu, aku dan Ashley akhirnya sama-sama memutuskan untuk putus. Yah, kau tahu sendiri bagaimana Ayahku.

“Dia tidak akan mengalah meski tahu aku dan Ashley saling menyukai. Yang ada, dia akan memerintahku untuk melakukan hal yang sudah aku lakukan: mengakhiri hubunganku dengan Ashley.

“Aku tidak mau hubunganku dengan Ashley berubah kacau, jadi sebelum pernikahan orang tua kami terjadi, kami mengambil keputusan ini.” tutur Taehyung, meski dia tidak terdengar tengah berusaha menyalahkan Ayahnya, tapi Jiho tahu Taehyung tengah menyimpan kepedihan di tiap kata yang ia ucapkan.

“Astaga, aku sungguh tidak percaya jika dunia ini begitu sempit, sampai aku mendengar ceritamu dengan Ashley ini. jadi, kalian sudah sama sekali tidak saling berhubungan?” tanya Jiho kemudian.

Sejenak ia lupakan keinginannya untuk bermain karena cerita kelewat dramatis yang tengah Taehyung ceritakan padanya.

“Ya begitulah. Kami saling mengontak, sesekali. Sekedar saling menanyakan kabar saja, tidak lebih. Cepat atau lambat Ashley akan pindah ke Seoul juga bersama ibunya, dan besar kemungkinan kami akan bertemu.

“Aku tidak mau keadaanku dengan Ashley berubah canggung setelah menjadi keluarga. Setidaknya, meski aku tidak bisa menyayanginya sebagai seorang wanita yang kudamba untuk jadi pendamping hidup, aku bisa menyayanginya sebagai keluargaku.”

Meski terdengar tidak masuk akal, entah mengapa Jiho percaya jika Taehyung benar-benar bisa melakukan hal itu. Taehyung bukan seorang pria yang tidak bertanggung jawab, atau tidak berperasaan. Dia sekarang tengah patah hati, tapi dengan pikiran positif dia bisa menghapus rasa sakit hati itu perlahan-lahan.

Putus cinta tidak berarti akhir dari dunia, bagi Taehyung. Hubungannya dengan Ashley yang kandas karena pernikahan kedua orang tua mereka seolah menjadi jalan baru bagi Taehyung untuk selangkah lebih dekat dengan Ashley, sebagai keluarga.

“Aku heran, kenapa tidak kau saja yang jadi saudara tiriku.” Jiho merengut saat tiba-tiba saja mendengar perkataan Taehyung.

“Kau bercanda, ya? Aku saja sudah tidak ingat wajah kedua orang tuaku.” kata Jiho membuat Taehyung tertawa kecil. “Aku tahu, aku hanya bercanda. Bicara tentang pernikahan Ayah, meski aku menolak untuk datang kau pasti tahu Ayah akan memaksaku untuk datang ke pernikahan itu, bukan?

“Jadi, bagaimana kalau kau saja yang mendampingiku datang ke sana? Setidaknya, kalau ada kau di sana aku tidak akan merasa kesepian.” kata Taehyung akhirnya. Jiho pun tidak bisa memberikan penolakan.

Keadaan mental Taehyung sekarang sedang berada dalam titik kritis dimana dia terjebak dalam dilema antara ingin memiliki gadis yang didamba tapi tidak ingin menghancurkan keluarga. Pada akhirnya, Jiho mengangguk mengiyakan.

“Baiklah, nanti aku akan cari—”

“—Tidak perlu. Kau jangan cari gaun apapun karena aku tahu kau tidak punya gaun. Lebih baik kita mencari berdua, hitung-hitung aku membawamu keluar dari zona nyamanmu ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sebagai seorang yang punya insting kuat, Moon Taeil tidak pernah punya firasat yang salah. Termasuk saat dia menerima dua orang penumpang di tengah penyamarannya di Gimpo International Airport.

Dua orang itu tadinya membicarakan tentang perusahaan yang menjadi targetnya saat kemudian dua orang itu turun di pemukiman dengan keadaan yang cukup menyedihkan. Awalnya, Taeil ingin tidak peduli, dia masih punya tugas untuk diselesaikan.

Tetapi melihat dua orang itu menjatuhkan barang di dalam taksi samarannya juga tidak membuat Taeil merasa nyaman.

“Permisi, maaf Tuan!”

“Ya, ada apa?” si penumpang laki-laki berbalik dan melangkah kembali ke arah taksinya, ia lantas melongokkan kepala melalui jendela.

“Kurasa kekasih Anda meninggalkan tasnya.” kata Taeil sambil menunjuk ke kursi belakang, lengannya kemudian bergerak meraih tas kecil tersebut dan mengulurkannya pada si penumpang pria.

“Terima kasih, Moon Taeil-ssi.” ia berkata, menyebut nama yang terpasang di ID Taeil.

“Ya, sama-sama.” sahut Taeil pada penumpang lelaki tersebut. Ia lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat, selagi maniknya memerhatikan sekali lagi ke arah dua penumpang—satu laki-laki dan satu perempuan—yang tadi menaiki taksinya.

Taeil baru saja memasuki jalan raya saat didengarnya ponsel kecil yang sejak tadi teronggok di atas dasbor kini berbunyi. Segera Taeil bergerak menerima telepon yang masuk.

“Bagaimana keadaanmu, Agen Moon?”

“Jangan bercanda, Suho-ssi. Aku bukan agen.” sahut Taeil dongkol. Well, dia tadi tengah mengawasi seseorang di bandara saat tiba-tiba saja Suho memberinya perintah untuk menjauh dari Gimpo.

“Itu demi kebaikan kita bersama. Memangnya kau mau penyamaran kita terungkap?” tanya suara di seberang.

“Hah. Penyamaran, katamu. Melihat rupamu sebagai rekanku saja aku tidak pernah. Bagaimana aku bisa tahu kalau aku tengah berbisnis dengan seorang yang benar-benar mampu membayarku?” kata Taeil.

“Setidaknya aku rutin melakukan transfer padamu setiap minggu. Kau tahu aku bukan tipe penipu, bukan? Bagaimana keadaan di NG Soft, omong-omong?” tanya pemilik suara di seberang, seseorang yang mengaku bernama Kim Suho.

“Masih di bawah kendali pemimpin baru itu. Aku sudah mencoba untuk menerobos sistem firewall yang menyimpan prototype WorldWare, tapi belum berhasil. Memangnya, kenapa kau sangat butuh file prototype ini?” tak ayal Taeil merasa penasaran juga.

Pasalnya sejak empat bulan yang lalu dia dibayar oleh seorang asing dengan banyak uang untuk mencuri prototype dari sebuah game yang akhir bulan lalu dipromosikan oleh NG Game Factory.

Taeil tahu, dia mungkin melibatkan diri pada sebuah masalah. Tapi dia tidak mau peduli. Dia butuh uang untuk melanjutkan kehidupan. Dan bertemu dengan seorang kaya raya yang mau membayar mahal hanya untuk pencurian kecil tentu saja membuat Taeil memberanikan diri untuk melakukan tindak kriminal tersebut.

“Perjanjian kita bukan untuk saling mengungkap rencana. Kau hanya perlu mencuri prototype itu dan mengirimkannya padaku melalui jaringan invisible, dan aku akan bayar sisa yang kujanjikan padamu.”

Taeil akhirnya mengembuskan nafas panjang. Meski penasaran, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. “Kau yakin aku tidak akan tertangkap polisi, bukan?” tanya Taeil memastikan.

Memang, Suho ini menjanjikan pada Taeil bahwa semua perbuatan yang Taeil lakukan saat ini tidak akan berefek apapun pada dirinya maupun orang-orang yang dikenalnya. Tapi tetap saja ada perasaan khawatir yang hinggap di dalam batin Taeil.

“Tidak ada, percayalah padaku. Mereka yang kau percaya sebagai penegak hukum itu bahkan sudah menerima sejumlah uang dariku.” perkataan Suho sekarang mau tak mau membuat Taeil berdecak kagum juga.

“Aku tidak bisa bayangkan berapa banyak uang yang kau punya.” komentar Taeil.

“Aku bisa membeli NG Soft kalau aku mau.” sahut Suho diikuti sebuah gelak tawa. “Sayang, aku tidak harus membeli NG Soft. Kutunggu prototypenya omong-omong, Taeil-ssi.” kata Suho akhirnya.

“Baiklah. Aku akan menghubungimu begitu prototype itu kudapatkan.”

PIP!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Di mana Seungwan?”

Sebuah tanya Baekhyun kemukakan ketika dilihatnya Liv masuk ke dalam ruangan tempat ia dan Sehun mengurung diri sejak dua jam yang lalu.

“Dia tertidur. Kelelahan, kurasa.” sahut Liv, duduk di sebelah Sehun selagi memerhatikan kesibukan dua orang itu. “Kalian sedang apa?” tanya Liv kemudian.

“Berusaha meretas prototype dari WorldWare. Dari kejanggalan yang Seungwan temukan di dalam WorldWare, aku yakin kita bisa menemukan sesuatu dari prototypenya sebelum permainan ini dirilis.” kata Baekhyun.

“Kalian meretasnya dengan cara apa?” tanya Liv penasaran.

“Baekhyun memasukkan karakter yang sudah dia ciptakan ke dalam WorldWare secara ilegal. Sekaligus membuatnya tidak kentara, karena dia sudah membuat satu bonus stage untuk jadi tempat bagi karakter itu.” tutur Sehun.

Liv mengangguk-angguk paham. “Jadi, apa tujuan dimasukkannya karakter ini?”

“Sekedar mencari tahu command apa yang sudah mereka ubah di dalam Rule The World. Aku tidak tahu apa yang NG Soft rencanakan, kita semua tidak tahu. Satu-satunya cara untuk mencari informasi mengenai rencana mereka adalah dengan masuk ke dalam rencana itu sendiri.

“Tidak mungkin bagi salah satu dari kita masuk ke dalam NG Game Factory. Satu-satunya jalan adalah dengan masuk ke dalam permainan itu sendiri. Aku tidak mungkin berdiam selagi orang-orang merencanakan hal buruk menggunakan game yang kuciptakan.”

Penuturan Baekhyun sekarang berhasil membuat Liv termenung. “Aku bisa masuk ke dalam sistemnya, kalian berdua tahu itu, bukan?”

“Tidak.”

“Tidak.”

Sehun dan Baekhyun berucap hampir bersamaan, sungguh kompak. Tetapi, Liv malah menatap tidak mengerti. Bukankah akan lebih mudah bagi mereka jika Liv—yang notabene merupakan sebuah cyber-viral yang hidup dalam tubuh manusia—masuk ke dalam WorldWare daripada harus memasukkan karakter baru yang mungkin akan memicu kecurigaan?

“Aku sudah pernah melakukannya di Europol. Meretas sebuah game bukanlah hal yang sulit.” kata Liv, merasa diremehkan oleh dua orang pemuda jenius cyber ini.

“Bukan begitu, Liv. Aku tidak mau mengambil resiko dengan memasukkanmu ke dalam game ini. Kau tidak paham bagaimana aku menciptakan Rule The World. Karakter yang ada di dalam sini lebih berbahaya daripada cyber-viral.” kata Baekhyun.

“Mereka hanya sekedar karakter yang diciptakan dengan menggunakan command.” sahut Liv enteng. Sehun malah menatapnya dengan alis berkerut. “Mereka command yang dilengkapi dengan kemampuan untuk membunuh, Liv. Mereka adalah karakter game, yang bisa berpikir mandiri sepertimu. Kau tahu bagaimana berbahayanya mereka, bukan?” kata Sehun.

Liv hanya mengedikkan bahu acuh. Baginya, tidak ada system online yang berbahaya. Karena semua sistem bisa dishutdown dan direstart. Sama seperti dirinya juga. Tapi kekhawatiran berlebih yang dua orang ini pamerkan entah mengapa terasa lucu bagi Liv.

“Kalian terlalu berlebihan.” kata Liv.

“Karena kau sudah bicara tentang masuk ke dalam WorldWare. Tiba-tiba saja aku terpikir satu hal.” kata Baekhyun kemudian.

“Apa itu?” tanya Sehun.

“Aku harus masuk ke dalam WorldWare.”

“Apa?” Sehun menatap tak mengerti. Baekhyun lantas balik memandangnya. “Bukan aku, dalam arti harfiah. Tetapi bagian dari memoriku. Meski aku sudah memasukkan karakter yang aku ciptakan, tetapi dia tidak punya benak yang berbeda dari karakter lain di dalam WorldWare.

“Tapi jika aku masukkan bagian dari memoriku—yang mengenal Rule The World dengan baik—ke dalamnya, jadi aku bisa benar-benar bertindak di dalam sana. Seperti aku yang memasukkan ingatan Liv ke dalam tubuh gadis ini, aku juga bisa membalikkan keadannya.

“Aku bisa mentransfer bagian dari ingatanku ke dalam karakter yang aku ciptakan. Kemudian aku bisa mencegah hal-hal buruk yang akan mereka lakukan melalui WorldWare. Bagaimana menurutmu, Sehun?”

Sehun sendiri mengangguk-angguk paham. Dia tentu mengerti benar bagaimana Baekhyun bisa memindahkan memori sebuah sistem komputer ke dalam tubuh manusia, yang membuat Liv benar-benar hidup.

Dan dia juga paham Baekhyun pasti bisa melakukan hal yang sebaliknya, memindahkan memori dari seorang manusia ke dalam sistem komputer.

“Aku setuju. Kita bisa mengawasi memorimu, selagi ada di dalam game itu. Jadi, kapan realisasinya?” tanya Sehun kemudian.

“Bagaimana dengan saat demo version? Kudengar demo versionnya akan jadi sesi terbuka.” kata Liv, “Kalian berdua bisa mencoba transfer memori itu ke dalam karakter yang sudah Baekhyun buat selama beberapa bulan ini sebelum WorldWare benar-benar dirilis.”

Sehun dan Baekhyun saling melempar pandang, sebelum keduanya sama-sama tersenyum penuh arti.

“Kita bisa menghancurkan mereka juga, melempar sebuah batu besar pada rencana mereka dan menghancurkan mereka seperti mereka yang telah menghancurkanku. Ayo, kita hancurkan mereka hari ini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa saja yang kau bicarakan dengan Liv dan Sehun?”

Konversasi kecil tercipta di antara Seungwan dan Baekhyun saat keduanya tengah berjalan menyusuri jalan kecil menuju tempat tinggal mereka. Keduanya sejak setengah jam yang lalu menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di komplek pemukiman kosong tersebut.

“Tidak banyak, hanya beberapa rencana kecil saja.” sahut Baekhyun ringan. Dia tidak mungkin menjelaskan tentang rencananya secara rinci pada Seungwan, bukan? Gadis itu bisa saja tidak menyetujui rencana gilanya.

“Kau bohong, Baekhyun.” kata Seungwan, dia cukup mengenal Baekhyun dengan baik untuk bisa menganalisis kebohongan yang berusaha Baekhyun sembunyikan.

“Mana mungkin aku berbohong?” kata Baekhyun akhirnya membuat Seungwan terdiam. Tentu saja gadis itu memilih diam, daripada menyahuti Baekhyun dan malah membuat hatinya makin merasa tersakiti karena kebohongan yang enggan Baekhyun ungkap.

“Seungwan?” panggil Baekhyun karena Seungwan memilih tetap bungkam. Tapi lagi-lagi, Seungwan diam.

“Son Seungwan?” kata Baekhyun lagi. Tidak sabar karena sikap diam Seungwan, Baekhyun akhirnya menarik lengan Seungwan dan menghentikan langkahnya.

“Ada apa?” kata Seungwan dengan nada ketus yang tidak berusaha ia sembunyikan dalam suaranya.

Baekhyun sendiri bergerak menyudutkan si gadis, secara paksa berusaha ia renggut ciuman Seungwan meski sekarang gadis itu berusaha meronta.

“Baekhyun, hentikan!”

Tidak malah menghentikan tindakannya, Baekhyun justru makin menyesap bibir plum gadis mungil di hadapannya. Selagi si gadis sekuat tenaga berusaha meronta dari cengkraman pria itu.

Ugh!” si gadis mengerang cukup keras tatkala bibir Baekhyun memagut miliknya, memberi gigitan kecil yang berujung pada rasa sakit namun penuh candu bagi si gadis.

Segera, setelah si gadis terlarut dalam kecupannya, Baekhyun menarik dirinya menjauh. Mau tak mau membuat si gadis mengembuskan nafas kesal juga. Well, dia baru saja ditarik ke dalam euforia menyenangkan saat Baekhyun justru menarik euforia itu kembali.

“Sejak kapan kau jadi seperti ini, huh?” tanya si gadis sembari mengusap sudut bibirnya, dipandanginya pemuda yang mengenakan setelan gelap di depannya dengan pandang penuh tanya. Selagi si pemuda mengawasinya dengan tatapan yang ugh—bisakah gadis itu menampar saja wajah Baekhyun karena tatapan seduktif itu?

“Sejak aku sadar kalau aku merindukanmu lebih dari apapun di dunia ini, sayang. Kemarilah, apa kau tidak rindu bercinta denganku?”

“Merindukanku? Aku tidak salah dengar? Bukannya kau hanya rindu pada tubuhku saja? Lagipula, kita baru melakukannya semalam. Untuk apa aku rindu padamu dan hormonmu?”

SRAK!

Seungwan baru saja dengan lantang mengutarakan ledekan pada Baekhyun saat keduanya mendengar suara langkah terkejut di dekat mereka. Begitu Seungwan lemparkan pandang, dia terpaksa menelan pil malu saat nyatanya tidak jauh dari mereka seorang gadis berbalut sweater dan celana olahraga dengan membawa dua plastik besar snack tengah menatap dengan mata membulat.

Pencahayaan yang  minim di tempat Baekhyun juga Seungwan sekarang berdiri tentu saja membuat Seungwan bisa melihat dengan jelas ekspresi terkejut si gadis yang ia pamerkan selagi berdiri di bawah lampu jalanan.

Berbeda dengan ekspresi malu yang Seungwan pamerkan, Baekhyun justru bereaksi lebih santai. Pemuda itu bergerak menarik Seungwan merapat ke tubuhnya selagi dia lemparkan pandangan tak senang pada penonton adegan mereka barusan.

“Ada apa? Kau tidak pernah melihat sepasang kekasih bercumbu?” pertanyaan Baekhyun sontak membuat si gadis tergeragap kaget.

Jangan salahkan gadis itu, dia tadinya hanya berbelanja beberapa snack di minimarket saat kemudian dia menjadi saksi bisu percumbuan sepasang kekasih itu di tengah gelap. Sontak, mendengar tanya Baekhyun berhasil membuat gadis itu merasa canggung.

Segera gadis itu membalik tubuh, berdeham pelan sembari memasang hoodie dari sweater yang ia kenakan sebelum dia melangkah kaku sambil menggumam pelan.

“Ah, uhm. Astaga, kemana perginya Taehyung tadi?”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Hola!

Berjumpa lagi denganku di level panas lainnya dari Game Over yang harus kalian hadapi dengan sabar, ingatan yang kuat, dan kekuatan untuk tidak wafer—eh baper. Jadi seperti catatan di atas, selama sembilan level ke depan kalian akan aku suguhkan cerita di balik layar WorldWare yang enggak akan bisa aku ceritakan lewat side story, sequel, ataupun spin-off karena kalian akan semakin bingung.

Ingat, selama sembilan level ke depan kalian akan dibawa pada time-twist di mana kita akan berjumpa dengan Jiho yang belum baper sama Invisible Black. Kita juga akan sama-sama berjalan-jalan di NG Game Factory bersama Sehun & Liv—Sehun si karakter yang sejak awal dipertanyakan eksistensinya—juga karakter-karakter lain.

Dan pertanyaan soal kenapa di sini Taeil tiba-tiba jadi pencuri bayaran? Itu semua karena ini adalah kejadian beberapa tahun sebelum Taeil jadian sama Ashley, sebelum dia ketemu sama Jiho dan jadi bagian dari Tim Delta.

Beberapa tahun, tolong digaris bawahi dan dibold.

Dan apa Sehun yang ini sama dengan Sehun alias White Tiger. Iya, mereka berdua orang yang sama. Lalu kenapa White Tiger di WorldWare selama ini jahat? Itu tuntutan peran, yang nanti akan aku kupas di dalam level selanjutnya juga. Terus siapa Sehun yang ngaku-ngaku pacarnya Jiho? Jawabannya ada di level 30.

Umm, terus apa lagi ya. Yah, beberapa pertanyaan kalian sudah dijawab di bonus stage jadi jangan sungkan ataupun males buat bermain ke bonus stage ya! Psst, ada kejutan lain juga di dalam bonus stage.

Mungkin Jiho enggak akan begitu eksis (dia tetep ada, tapi karena dulu kita fokus sama Jiho dkk sekarang saatnya kita fokus sama Baekhyun dkk ya) di sini, tapi dia akan tetep ada. Dan ingat lagi, kalau battle yang menjadi misteri di level 28 dan level 29 (ending dari battle Baekhyun vs Jiho ada di level 29 yang dipassword) masih to be continued, nanti berlanjutnya di level setelah level klarifikasi ini.

Aku pesankan ke kalian, untuk siap-siap berpindah haluan. Entah dari Baekhyun-Jiho jadi Baekhyun-Wendy atau Johnny-Wendy atau malah Taehyung-Ashley. Bisa juga jadi Taehyung-Jiho, LOLOLOL. Aku enggak mau janji pair mana yang akan terealisasi, baca aja di level berikutnya nanti.

Sekian dariku, salam sayang, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

58 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 31 [Prototype] — IRISH”

  1. Ya Allah,aku main lompat bacanya.padahal aku belum baca level 29-30..huhu..tapi mau gimana lagi,rasa penasaran ku lebih tinggi..

    Lah. aku usah sreg Baekhyun-Jiho,tapi kok kak irish bilang suruh siap2 pindah haluan.kayak sebuah kode bahwa mereka akan berakhir dengan tidak saling berjodoh (Eakk)..

    Kak irish : “Ikuti alur aja woii,takdir mereka ada di tangan gua” (wkwk~)

  2. Wait, sehun yg ngaku” pacarnya jiho itu sehun yg itu? White tiger itu? Kok aku gapaham yak, walaa.
    Aku tau itu pasti jiho yg mergokin seungwan sama baek, wkwk. Ih lucu deh

  3. Ngga tau mau comment apa,,karena semuanya udah dijawab di finggernotes,,so,i just continue for reading and thanks for make this story,,and thank for allowed me to read it

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s