[EXOFFI FREELANCE] Love Myself, Love Yourself (Prologue)

|  Love Myself, Love Yourself  |

| Oh Sehun & Byun Mora |

| Byun Baekhyun, Lee Jieun (IU) |

| Romance x Fantasy |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Jika kau ingin menghancurkan hidupmu,

Lakukan secara diam dan tenang.

Jangan membuat orang lain yang melihatnya

Merasa bersalah karena sudah membiarkanmu.

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

—×◦ L.M, L.Y ◦×—

    Senyum ringan kulayangkan pada Pak Lee. Beliau merupakan kepala keamanan di gedung apartemen ini.

    Setelah menekan tombol yang teletak di samping pintu lift, aku diam termenung menunggu pintu itu terbuka. Hah, sebenarnya apa yang sedang kulakukan di tempat ini? Menghancurkan hidupku dengan cara melarikan diri ke dimensi lain. Oh! Byun Mora, kau sungguh luar biasa!

    Ini adalah keputusan yang paling bodoh! Mengubur masa depanmu yang sangat cemerlang hanya karena takut pada orang lain? Sungguh, ini bukanlah sikap dari anggota keluarga Byun. Mungkin, ayah dan ibu hanya akan diam saja sambil menatap kecewa padaku karena sudah mempermalukan mereka.

    Tapi, bagaimana dengan Byun Baekhyun? Ukh, membayangkannya saja sudah membuat pencernaanku terganggu. Kakakku itu, tak akan segan-segan memberikan hukuman. Aku masih ingat dengan jelas, peristiwa dua tahun yang lalu. Awal mula, sederet pelanggaran yang kulakukan hingga aku mendekam hampir dua tahun di tempat ini.

    Byun Mora, itu namaku. Salah satu anggota keluarga Byun yang tersohor, ayah dan ibuku mempunyai jabatan penting di istana dan keluarga kami memang sejak dulu mempunyai cukup pengaruh pada keluarga kerajaan. Byun Baekhyun, dia adalah kakakku. Baekhyun bergabung dalam kelompok yang bertugas melindungi istana dan merupakan satu diantara pemimpin di sana, dia salah satu penyihir elit.

    Dan aku calon penyihir elit. Sayangnya, itu dulu sebelum kekacauan terjadi karena sikap aroganku. Dua tahun yang lalu, aku adalah murid dengan prestasi yang membanggakan di akademi penyihir. Aku sudah memiliki semuanya, masa depanku tak perlu diragukan lagi. Tapi bukan berarti aku sama sekali tak berusaha dan memandang rendah orang lain, jika ada seseorang yang kesulitan tanpa diminta pun aku akan segera membantu. Kupikir, semua orang akan merasa senang dengan tindakanku itu. Nyatanya, semua orang bicara dibelakangku.

    Keras kepala, kuakui semua anggota keluarga Byun memilikinya. Arogan, dulu aku sering mengatakan bahwa Baekhyun memiliki sikap yang menyebalkan itu. Oh! Aku tidak sadar bahwa sikap buruk itu juga kumilikki. Iya, karena aku yang terlalu membanggakan diri hingga secara diam-diam melakukan sihir tingkat tinggi. Seharusnya, aku memiliki pendamping saat mempraktekkan sihir tingkat tinggi. Tapi, sungguh! Aku tidak mendengarkan saran dari Lee Jieun hingga membuat temanku itu tidak sadarkan diri selama dua bulan.

    Sudah diduga, bukan? Kecelakaan sihir terjadi dan itu mengenai Jieun yang berada tidak jauh dariku. Batu sihirku disita—aku memakainya sebagai gelang, batu sihir berguna untuk meningkatkan energi—jadi, aku hanya dapat melakukan sihir-sihir ringan. Tidak hanya itu saja, aku ditendang keluar asrama dan dilarang mengikuti pelajaran di akademi selama tiga minggu.

    Jadilah, selama tiga minggu berada di rumah, aku mengintropeksi diri. Ayah dan ibu melarangku menggunakan sihir di rumah dan Baekhyun—Oh! Mengingat namanya saja membuatku mual— memberikanku setumpuk buku mengenai tata krama dan peraturan dalam menggunakan sihir. Heran sekali, dia itu banyak pekerjaan tapi masih saja punya waktu luang untuk memeriksaku. Jika buku yang diberikannya belum juga selesai kubaca, Baekhyun akan memberi sengatan listrik pada tanganku. Memang tidak melukaiku sama sekali, tapi tetap saja itu sakit. Setiap aku memberitahu pada ayah atau ibu, Baekhyun akan menambah kekuatan sengatan.

    Dan lebih anehnya lagi, kedua orangtuaku tidak peduli akan hal itu. Mereka bilang aku harus mendengarkan Baekhyun, jika tidak ingin dihukum. Yah, itu pantas kudapatkan.

Setelah masa hukumanku dan kembali ke akademi, semua hal yang kulakukan selalu menghasilkan masalah. Orang-orang selalu memandangku sinis dan mengatakan bantuan kecil yang kulakukan sama sekali tidak mereka butuhkan.

Kini, aku mengerti akan ucapan Baekhyun. Kakakku itu selalu bilang untuk tidak mencampuri urusan orang lain, mengambil keputusan tanpa izin merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab bagi mereka.

Jadi, aku mencoba menutup mata dan telingaku.

Setiap ada waktu, aku selalu mengunjungi Jieun. Saat tidak ada hal yang kulakukan, aku membaca berbagai buku tentang pengobatan. Berharap, mendapatkan suatu cara untuk menyembuhkan temanku itu.

Setelah Jieun mendapatkan kesadarannya. Kupikir, orang-orang akan berhenti bersikap seperti itu padaku. Nyatanya, itu hanya sekedar harapan. Aku tidak mengerti, mengapa orang-orang di sekelilingku bersikap seperti itu? Jieun saja memaafkanku, kenapa mereka seolah menjadi korban?

Tentu saja, Jieun tak langsung memaafkanku. Selama tiga hari setiap aku berkunjung, dia hanya diam dan mengacuhkanku. Setelah tiga hari itu, Jieun mulai bicara padaku. Tapi, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah sebuah nasehat dan keluhan tentangku yang tidak mau mendengarkannya. Jadi, aku diam saja dan mendengarkan.

Jieun terlalu baik hati, mengapa dia begitu mudah memaafkanku?—itu kata Byun Baekhyun— tapi aku tahu, Jieun adalah orang yang berhati lembut. Karena itu, terkadang aku kesal dengan orang-orang yang mendekatinya hanya untuk memanfaatkan.

Lalu, mengapa aku melarikan diri?

Itu karena mereka terus menyalahkanku. Saat itu sedang berlangsung ujian kenaikkan tingkat, ujian dilakukan secara berkelompok. Kerjasama tim kami sangat tidak baik bahkan ada salah satu anggota tim yang terluka, mereka mulai menyalahkanku karena berada di tim. Sungguh! Aku sangat benci akan tatapan mereka yang memandang sinis padaku, bahkan guru dan pembimbing di akademi menatap kecewa padaku. Hanya Jieun yang berada di sisiku, dia memang tak melakukan apapun. Diam dan menunggu jawaban dariku akan hal yang terjadi, tapi itu tidak cukup untukku bertahan di akademi.

Dulu, mereka menatap bangga padaku. Tapi sekarang, tatapan kebencian lah yang kuterima. Entah kenapa, sejak itu aku takut akan pandangan orang-orang tentang diriku. Lalu, aku benar-benar melakukan sebuah pelanggaran lagi. Membuka dimensi lain dan melarikan diri ke sini.

Aku pun melakukan pelanggaran lain, melakukan sihir di tempat ini dan menggunakannya pada orang lain yang tidak memiliki kemampuan. Bukan! Bukan berarti aku tidak mencoba menyesuaikan diri hidup di sini. Aku bekerja sebagai penulis lepas di beberapa majalah, itu cukup mudah menceritakan hal yang terjadi padamu tapi tidak masuk akal menurut orang lain. Dan aku menggunakan sihir, jika benar-benar sedang terdesak.

Lalu tempat ini, dimensi lain yang kumaksud adalah bumi. Tempat dimana terdapat gedung-gedung tinggi menjulang, tempat dimana tumbuhan dan hewan tidak berkeliaran secara bebas, langit yang tak begitu gelap di malam hari ataupun bulan dan bintang yang tak bersinar terang. Tempat ini sangat berbeda dengan dimensi asalku.

Makhluk di sini bilang smartphone adalah teknologi yang canggih untuk berkomunikasi dengan orang lain, tapi di tempatku tidak membutuhkan suatu benda, kami hanya perlu memfokuskan diri dan bertukar pikiran.

Bukannya tidak ingin kembali, selama lima bulan belakangan ini aku sudah berpindah ke beberapa tempat untuk mencari energi yang cukup kuat dimana aku dapat membuka pintu gerbang dimensi lagi. Tapi di sini, sepertinya sihir tidak bekerja dengan cukup baik. Jadilah, hampir setiap malam aku berkeliaran di luar mencari tempat yang memiliki energi yang cukup besar. Karena di siang hari akan banyak sekali orang-orang dan itu sama sekali tak membantuku.

Aku sudah menghancurkan diriku sendiri, berada di sini tidak akan memberi perbedaan yang berarti untuk hidupku.

Awalnya, aku berpikir seperti itu. Sebelum aku bertemu dengan seseorang yang tepat berada di hadapanku. Kupikir, tindakanku sudah sangat hebat dalam menghancurkan masa depan. Sayangnya, ada seseorang yang lebih luar biasa. Dia, Oh Sehun.

Begitu pintu lift terbuka, aku mendapatinya sedang terduduk lemas di sudut. Entahlah, aku tidak tahu dia pingsan, hanya sekedar duduk, atau sedang tertidur. Tiga minggu pindah ke apartemen ini, hampir setiap malam aku mendapati Sehun berkeliaran di sekitar apartemen. Terkadang, aku mendapatinya sedang terduduk lemas dan dipenuhi beberapa luka. Atau menemukan Pemuda Oh itu sedang muntah-muntah di sudut ruangan atau di dekat tong sampah karena terlalu mabuk.

Kenapa aku tidak menolongnya? Karena dia tak ingin bantuanku.

Pertemuan pertama kami, saat Sehun tanpa sengaja masuk ke dalam apartemenku. Pemuda Oh itu sedang mabuk berat dan aku mendapati seseorang yang berkali-kali mencoba masuk ke apartemenku dengan memasukkan password yang salah, jadi aku membiarkan Sehun masuk dan bermaksud meminta penjelasannya besok pagi.

Bukannya, mendapatkan ucapan terima kasih tapi aku malah menerima kemarahan dari pemuda itu. Terlebih lagi, saat malam harinya aku menemukan Sehun sedang meringis kesakitan di parkiran apartemen. Sekali lagi, aku mencoba menawarkan bantuan tapi dia menatap sinis padaku. Jadi, aku meninggalkannya begitu saja.

Aku sudah mencoba bertanya pada penghuni lainnya, yaitu Wendy. Gadis Son itu mengatakan untuk membiarkan Sehun dan jangan menganggunya, penghuni di sini sudah terbiasa dengan kelakuan pemuda itu.

Jadi, kuputuskan untuk tidak mengusiknya. Yah, meskipun sesekali aku memberikannya sebuah sengatan listrik kecil atau hawa dingin untuk membangunkannya. Bagaimanapun sikapnya itu menganggu penghuni lain.

Kulangkahkan kaki memasukki lift dan menekan tombol tujuh lalu delapan, posisi apartemen Sehun sama persis dengan apartemenku. Hanya saja, aku berada satu tingkat di atasnya. Mungkin, itu penyebab Pemuda Oh itu salah masuk ruangan.

Aku menendang pelan kaki Sehun, tapi pemuda itu sama sekali tidak bergerak. Pintu lift sudah terbuka tapi Sehun masih juga belum bangun, jadi aku sedikit menggunakan sihir dan memberikan sengatan listrik kecil pada tangannya.

“Ukh,”

    Pemuda Oh itu meringis, tapi dia sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Aku menghela napas dan datang mendekatinya.

“Hey! Tuan Oh, cepat bangun!”

    Dia tak merespon ucapanku, jadi aku berjongkok dan memukul pelan lengannya. Dingin! Lengan Sehun terasa sangat dingin, kali ini aku benar-benar memperhatikannya. Baru kusadari, napas Pria Oh itu terdengar berat dan keringat dingin mengalir dari pelipisnya.

    Segera saja, kuhubungi rumah sakit. Aku bisa saja menyembuhkan luka, tapi itu hanya luka fisik. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Sehun, hanya saja aku yakin kondisi organ tubuhnya pasti sudah hancur. Melihat, bagaimana cara Pemuda Oh itu menjalani kehidupannya.

    Aku kembali menutup pintu lift dan menekan tombol ke lantai dasar. Sekarang, aku sangat kebingungan. Aku tidak punya cukup tenaga untuk membawa Sehun, menggunakan sihir pun bukanlah sebuah tindakan yang bijak.

    Kurang dari lima menit, kami sudah sampai ke lantai dasar. Aku segera keluar dan memanggil Pak Lee yang berada di depan pintu gedung apartemen, kami meletakkan Sehun di atas sofa dan menunggu ambulan yang belum juga datang.

    Setelah ambulan datang, Sehun segera dibawa ke rumah sakit dan tanpa ada pilihan lain dengan terpaksa aku menemaninya sekaligus menjadi wali Pemuda Oh itu.

    Dokter mengatakan Sehun terkena infeksi, karena lukanya tak diobati dengan benar. Jadi, malam ini Pemuda Oh itu harus menginap di rumah sakit. Aku menghela napas, lagi-lagi aku melakukan hal yang tak perlu. Setelah mengurus administrasi dan pembayaran, kuputuskan untuk pulang ke rumah. Bagaimanapun kehadiranku tak akan membantu proses penyembuhannya, lebih baik aku beristirahat di rumah.

×◦◦×

    Pagi itu, suara bel apartemenku terus berbunyi. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Aku tidak merasa memiliki seseorang yang cukup dekat hingga mereka dapat bertamu sepagi ini. Yah, kecuali itu Jieun atau Baekhyun yang tiba-tiba saja datang untuk menyeretku pulang.

    Dengan langkah malas, aku membuka pintu dan mendapati seseorang yang seharusnya berada di rumah sakit.

“Berapa jumlah uang yang harus kuganti?”

    Apa sekarang aku masih di alam mimpi? Kenapa pertanyaan seperti itu yang pertama kali kudengar dari seseorang yang sudah kuberi sebuah bantuan?

“Kau tahu? Tak seharusnya, kalimat itu yang kau ucapkan ketika bertemu denganku.”

“Aku tak pernah meminta bantuanmu,”

    Oh! Benar bukan? Seharusnya, aku tak melakukan tindakan yang berlebihan semalam.

“Baiklah, aku sudah menerima ucapan terima kasih darimu.”

    Aku memasang wajah manis dan senyum yang dibuat-buat, lebih baik aku tak berurusan dengannya. Berniat menutup pintu, tapi tangan Sehun sudah menghalangi lebih dulu.

“Sudah kubilang, bukan? Berapa uang pengobatan yang harus kuganti?”

“Itu tidak perlu, Tuan Oh Sehun.”

    Sehun menatapku dalam diam, tatapan heran terlihat jelas dari raut wajahnya. Pemuda Oh itu sedikit mendorong pintu apartemen hingga membuatku mengambil beberapa langkah mundur. Kini, dia sepenuhnya masuk ke dalam apartemen dan berdiri di hadapanku.

“Apa kau merasa kasihan padaku? Aku tidak butuh itu,”

“Beri aku sebuah alasan bahwa kau adalah orang yang patut dikasihani? Tidak ada, bukan? Katakan sejujurnya, bukankah kau sendiri yang menginginkan belas kasih orang lain?”

    Raut wajah Sehun berubah menjadi kaku. aku tahu, sebentar lagi Pemuda Oh itu akan meledak dan melemparkan kemarahan padaku.

“Atas dasar apa kau berbicara seperti itu padaku?”

“Jika perkataanku salah, apa maksud tindakanmu berkeliaran di seluruh penjuru gedung apartemen ini setiap malam dengan keadaan yang menyedihkan?”

“Menyedihkan?”

    Tatapan heran kulayangkan padanya. Tidak mungkin, Pemuda Oh itu sama sekali tak mengingat kelakuannya yang hampir setiap malam berkeliaran di sekitar gedung apartemen.

“Ya, benar. Kau terlihat menyedihkan! Kau sudah dewasa, Oh Sehun. Berhentihlah bertingkah seakan kau masih seorang remaja, apa kau tidak tahu? Tindakanmu itu membuat penghuni apartemen ini menjadi resah.”

    Wajahnya merah padam, Sehun benar-benar marah sekarang.

‘BRAKK!!’

    Pemuda Oh itu menutup pintu tepat di depan wajahku. Sehun meninggalkan apartemenku begitu saja.

“Kak Baekhyun benar, mencampuri urusan orang lain sungguh tindakan yang tidak bertanggung jawab. Ukh, sepertinya ucapanku sedikit keterlaluan.”

    Sepertinya, kali ini aku harus segera kembali atau mencari tempat tinggal yang lain. Berada di tempat yang sama dengan pemuda bernama Oh Sehun itu, tidak akan memberikan dampak baik untukku.

—×◦ to be continued ◦×—

JHIRU’s Note :

Hohoho . . .

Berjumpa lagi dengan ane^^

Ini bukanlah multichapter ataupun twoshot, ff ini gak bakal panjang-panjang amat juga gak bakal pendek. Adakah istilah middle-chapter, wkwkwkwk…

Yang belum baca epilog Play(Boy) dan final chapter Shadow, silahkan dibaca!

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Itu berarti banget buat ane dan memberi semangat buat nulis chapter selanjutnya. Sekian dan terima kasih.

Kunjungi : WordPress | Wattpad | Twitter | Instagram

31 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love Myself, Love Yourself (Prologue)”

  1. Ijin baca kak…
    Pertamanya aku bacanya ke ingat sama film disney yg sofia the first itu lo. Sialnya cerita kerajaan sama sihir sihir gtu. Scroll kebawah eh jauh beda mahhh… 😀

    Seneng aku ada bias ku, Baby hunie ♡♡♡.

    Keep writing ya kk…

  2. Wah judulnya aja udah nyuri perhatian, karna sama kek motto ku ‘Love Yourself, Love Myself’ beda nya cuma di balik doang 😀
    FF nya keren kak, di tunggu chapter selanjutnya. Fighting ^_^

    1. oh ya ampun, terharu ane dirimu jg mau mampir baca ff ane yg ini.
      iya, ane bkal berusaha buat storynya.
      terima kasih sdh meninggalkan jejak^^

    1. wah, senangnya ada yg suka.
      commentmu udah masuk kok di Shadow, ane terharu ada yg setia baca ff diriku. Terima kasih banget y udah mau baca dn sering ninggalin jejak. ane udah hafal banget dengan ID-mu ><

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s