[EXOFFI FREELANCE] Back In Time (Chapter 4)

Back In Time

A Fanfiction by Angeline

Starring by :

Park Chanyeol, Son Wendy ft. Oh Sehun

Supported by :

Bae Irene, Kim Yerim and Others

Genre :

Romance | fantasy | AU | Angst | Married life |etc~

Rating  PG-17 | Length Series Fic

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran aku sendiri, bila ada kesamaan tokoh atau jalan cerita yang terdapat dalam ff ini hal itu bukan merupakan bentuk plagiat melainkan unsur ketidaksengajaan. Happy reading ^^

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

.

.

.

–Chapter 4–

‘Complicated’

.

.

.

Previous Chapter

“Terimakasih untuk hari ini.” Kata Wendy kemudian pergi dari sana, namun baru beberapa langkah ia berhenti dan menatap Chanyeol sebentar. Kaki kecilnya berlari ke arah pria tinggi itu. chanyeol mengerutkan keningnya, nyatanya Wendy sedikit berjinjit dan mengecup pipi Chanyeol dengan malu-malu.

Chanyeol tersenyum kemudian mengecup kening Wendy dengan sayang, melempar senyum masing-masing dengan perasaan bahagia.

“Sampai bertemu besok.” Kata Wendy lalu pergi dari sana dengan malu. Ia tidak menyangka mencium Chanyeol duluan, sedang pria Park itu berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil karena Wendy baru saja menciumnya. Ah, terasa beda jika gadis itu yang menciumnya. Jantungnya mau meledak rasanya, dan ia tidak bisa berhenti tersenyum.

“Saranghae Son Wendy!” teriaknya dengan senyuman lebar.

.

.

.

Pria itu tersenyum sambil memeluk gulingnya, begitu erat seakan menganggap guling itu adalah seorang gadis yang siang tadi bertemu dengannya. Meski ia tahu, jika pertemuan mereka itu di luar akal sehat, namun tetap saja itu merupakan pengalaman luar biasa dalam hidupnya.

Park Chanyeol tersenyum sambil berguling di atas ranjangnya, ke kanan dan ke kiri, ia ingin teriak sekeras-kerasnya karena merasakan hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Oh, apa sebutan untuk hal indah ini? Entahlah, ini terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata.

“Oh, jantungku sepertinya bermasalah.” Ucapnya sambil tertawa memegang jantungnya yang terasa tidak normal saat ini. Ia juga tidak berhenti untuk tersenyum, bak orang gila. Namun apa itu penting saat ini? Oh tentu saja tidak, karena saat ini yang terpenting adalah bagaimana ia memulai sebuah kisah cinta yang harusnya ia lakukan dari dulu.

Kali ini Chanyeol yakini jika Wendy akan menjadi miliknya, apa pun yang terjadi dan apa pun yang akan ia korbankan nantinya, Wendy akan menjadi miliknya. Bisakah kau garis bawahi kata akan itu? Ya, Chanyeol bersumpah akan merebut kebahagiaannya lagi.

“Bibirnya sangat manis. Aku merindukan bibir itu.” gumamnya sambil memegang bibirnya sendiri, bahkan rasa manis akibat ciumannya dengan Wendy di kolam renang masih terasa sampai sekarang. Itu menggelitik perutnya, dan hatinya berbunga-bunga, bak seorang anak SMA yang baru pertama kali merasakan apa itu jatuh cinta.

Kriet

Chanyeol yang sedang dalam rasa bahagia luar biasanya itu, lantas harus menghentikan aksi senyum-senyumnya ketika pintu kamarnya terbuka, dan kini sang ayah masuk dengan membawa nampan berisi sepiring puding dan teh? Malam-malam begini, apa yang ingin ayahnya lakukan dengan makanan manis itu?

Appa sedang apa?” ujar Chanyeol, dan tuan Park yang baru saja menutup pintu kamar Chanyeol itu hanya tersenyum manis, kemudian mendekati Chanyeol dan menaruh nampan itu di atas ranjang anaknya itu.

“Temani appa makan ya? Kau tahu, di rumah appa sangat jarang makan makanan yang manis, karena ibumu itu melarangnya.” Ujar tuan Park dengan wajah kusutnya, Chanyeol menghela nafasnya sambil mengusap wajahnya kasar.

Namun akhirnya pria Park itu mengambil salah satu piring puding dan memakan puding itu dengan perlahan, rasa manis puding itu membuat perasaannya semakin membaik saja, sudah merasakan indahnya bertemu Wendy siang ini, ditambah makanan manis seperti ini, hidupnya terasa sangat lengkap.

“Apa appa tidak berniat pulang ke rumah?”

“Kau mengusir appa? Dasar tidak sopan!”

“Bukan begitu, apa appa tidak kasihan pada eomma? Pasti eomma merindukan appa!”

Eomma-mu tidak pernah menelfon appa, itu berarti ia tidak peduli pada appa, sudah jangan di bahas, lebih baik kita membahas dirimu saja.” tuan Park tersenyum menggoda pada sang anak, membuat Chanyeol tersenyum malu, oh rasanya Chanyeol sangat menggemaskan.

“Jadi, kau bertemu Wendy hari ini?” tuan Park menatap sang anak, Chanyeol menaruh pudingnya sambil memeluk guling layaknya ia seorang bocah. Tuan Park mencibir sambil meneguk the panasnya.

“Kami berciuman.” Ujar pria Park itu malu-malu. Ah, Chanyeol seperti anak kecil saja jika dilihat, seperti seorang pemuda SMA yang baru pertama kali merasakan ciuman pertamanya.

“Woah secepat itu?” Chanyeol mengangguk malu sambil tersenyum, tuan Park tertawa dan semakin semangat mendengar cerita Chanyeol, “Di mana?” tanya tuan Park lagi.

“Kolam renang sekolah. Ah, appa tahu? Itu adalah hal terhebat dalam hidupku.” Chanyeol masih membayangkan kegiatannya bersama Wendy di dalam kolam renang yang dingin, namun karena tubuh keduanya yang menyatu semua itu menjadi panas.

“Itu sebuah perkembangan yang baik, lanjutkan!” tuan Park memberikan semangat untuk Chanyeol, dan sang putra hanya tersenyum sambil mengangguk mantap.

“Jadi appa tidak akan pulang?” tanya Chanyeol menaikkan alisnya menatap sang ayah yang kini sibuk menyantap makanannya, “Tidak, sebelum eomma-mu yang meminta maaf lebih dulu pada appa.” Ujar tuan Park seperti anak kecil, dan itu membuat Chanyeol hanya menghela nafasnya.

.

.

.

Gadis yang sibuk menyiapkan piring makan di atas meja makan itu, menyunggingkan senyumannya kemudian melirik kamar di atas, nyatanya suaminya yang bernama Sehun itu belum turun dari kamar. Wendy pun meninggalkan dapur, dan berjalan untuk ke kamar atas.

Cekrek

Gadis itu membuka pintu kamar dengan perlahan, dan menutupnya dengan perlahan. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Sehun masih terbaring di atas ranjangnya, apa pria itu tidak bersiap-siap ke kantor?

Wendy mendekat ke ranjang itu, dan matanya membulat ketika mendapati Sehun sedang menggigil di bawah sana. Wendy meraba suhu tubuh Sehun, dan pria itu sangat panas. Wendy sampai gelabakan karena mengkhawatirkan Sehun. Wendy pun segera berdiri, dan mencari obat. Setelah berhasil mendapatkan obat, Wendy pun menyuruh Sehun untuk segera meminumnya.

“Hun? Tidak usah ke kantor ya?”

“Hm?”

“Kau sakit, dan aku tidak ingin kau tambah sakit jika memaksakan untuk bekerja.”  Ucap Wendy mengusap pipi suaminya itu, namun Sehun tersenyum kecil dan menggenggam tangan Wendy dan menciumnya lembut, “Baiklah.” Ujarnya pelan, kemudian kembali tidur sesuai permintaan Wendy.

“Aku akan membuatkanmu bubur.” Wendy mencium kening Sehun sebentar, kemudian beranjak dari sana.

.

.

.

Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali, tanda ia baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Bahkan ia bermimpi indah, apalagi jika bukan memimpikan wantia pujaannya Wendy? Pria itu tersenyum, sebuah kebiasaan yang tidak pernah ia lakukan setelah bangun tidur. Namun kali ini, Chanyeol sedang tersenyum.

“Ah, dia cantik sekali.” Gumamnya sambil memandangi wajah Wendy pada wallpaper ponselnya, “Tunggu aku sayang. Aku akan menemuimu siang ini.” Ujarnya lagi, sambil mencium layar ponselnya itu. Astaga, mungkin  Chanyeol sudah gila, namun itulah yang ia rasakan saat ini.

Ia pun menyibakkan selimut tebalnya, kemudian turun dari ranjang king size-nya itu, dan segera berjalan memasukki kamar mandi. Chanyeol lebih bersemangat hari ini, seperti ia juga sedang menunggu sesuatu yang ingin sekali ia lakukan hari ini. Bahkan hatinya berdebar-debar menyambut paginya. Oh, salahkan gadis bernama Wendy itu.

Tidak lama kemudian, Chanyeol pun keluar dari kamar mandi dengan bath robe berwarna biru navy-nya. Rambut basah yang membuatnya nampak sexy, benar-benar membuat siapa saja wanita yang melihatnya, pasti tergoda.

Chanyeol menuju lemarinya, dan mengambil kemeja berwarna putihnya, dan segera mengganti bajunya dengan baju kantor. Ia benar-benar berbeda hari ini, bahkan Chanyeol juga memakai parfum yang banyak. Seperti bukan kebiasaannya, atau mungkin karena ia ingin bertemu Wendy?

Beberapa menit ia gunakan untuk bersiap, Chanyeol pun sempurna dengan setelan jas kantornya. Terlihat berkarisma seperti biasanya. Chanyeol pun keluar dari kamarnya, dan langsung bertemu dengan sang ayah yang sedang menyiapkan beberapa sarapan di meja makannya.

“Woah, apa appa berniat menjadi chef di apartement –“

PLAK

Chanyeol terkejut ketika sang ayah langsung memukul kepalanya dengan sendok. Apa dia salah bicara? Astaga, kepalanya sekarang sakit, bahkan seperti ia berkunang-kunang setelahnya. Oh ayolah Chanyeol, tidak usah berlebihan seperti itu.

“Dasar anak kurang ajar!” bentak tuan Park tajam pada putranya itu, dan Chanyeol hanya mendengus kesal, kemudian duduk di salah satu bangku, masih sambil memegang kepalanya yang sakit.

“Aku hanya bercanda! Haruskah appa menganggapnya serius?” Chanyeol melirik sekilas sang ayah yang nampak tidak peduli dengan penjelasan Chanyeol, dan lebih memilih menikmati sarapan paginya dengan hikmat.

“Ah, apa kegiatanmu hari ini?” tanya sang ayah sambil menatap Chanyeol yang masih sibuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Hm? Hari ini aku ada meeting, dan setelah itu bertemu dengan tuan Tadashi. Karena kemarin aku membatalkan pertemuan kami.” Jelas Chanyeol kemudian meneguk air minumnya. Tuan Park hanya mengangguk mengerti.

“Menemui Wendy?” Chanyeol yang hendak menggigit potongan ayam itu langsung menghentikkan kegiatannya dan mengangkat wajahnya menatap sang ayah. Tuan Park tersenyum menggoda, membuat sang putra tersenyum malu.

“Tentu saja. Bahkan hari ini aku berniat mengajaknya berkencan.” Tutur Chanyeol semangat, seperti ia tidak sabar akan saat itu.

“Baiklah. Semoga berhasil.” Ujar tuan Park memberi semangat, dan Chanyeol mengangguk kecil sebagai responnya.

.

.

.

Wendy meraba suhu tubuh Sehun, ia sedikit bernafas lega karena suhu badannya tidak sepanas awal. Perlahan, suhu tubuh suaminya itu mulai stabil. Wendy tersenyum, sambil mengusap pipi Sehun, menyentuh setiap inci wajahnya, tanpa ada satu pun yang terlewat.

Sehun yang merasa terganggu, langsung membuka matanya dan menatap istrinya dengan senyum tipis. Pria Oh itu kemudian menggenggam tangan Wendy, dan mengecup mesra punggung tangan gadis itu.

“Terimakasih sayang.” Kata Sehun tulus, dan Wendy hanya mengangguk kecil.

“Kau mau makan sesuatu?” tanya Wendy menaikkan alisnya, dan Sehun menggeleng lemah, “Di sini saja. Temani aku.” Ucap Sehun, kemudian menepuk sisi di sebelahnya. Wendy pun menurut, dan tidur di samping Sehun, gadis itu memeluk Sehun dengan hati yang berdebar-debar.

“Maaf, aku menunda rencana bulan madu kita, karena pekerjaanku belum bisa ditinggalkan.” Kata Sehun menyesal sambil menghela nafasnya, Wendy hanya mengangguk tanpa menjawab, “Kondisiku juga sedang sakit. Ah, maafkan aku Wen.” Kata Sehun lagi masih merasa menyesal.

“Tidak apa-apa Sehun, kita masih memiliki banyak waktu kan? Lagi pula, bulan madu itu tidak perlu ke France. Di Seoul juga tidak ada masalah.” Jawab Wendy tersenyum, sambil mendongak menatap Sehun. Lantas, pria Oh itu tersenyum lega mendengarnya.

Inilah yang ia sukai dari Wendy, gadis itu sederhana dan tidak banyak menuntut ini dan itu. Ia sabar, dan tidak cepat marah. Kecuali satu, sifat cemburunya yang benar-benar melebihi batas seorang wanita mungkin? Bagaimana tidak? Wendy akan sangat marah, jika Sehun meeting bersama client, khususnya wanita selama berjam-jam. Meski pun itu memang membahas masalah pekerjaan. Namun Wendy bisa sangat cemburu.

Bukan masalah tidak percaya, namun dari masa sekolah, Wendy sudah memiliki sifat itu. Namun Sehun senang, itu berarti Wendy mencintainya kan? Ya, harap saja gadis itu memang mencintai Sehun dengan sepenuh hatinya.

“Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?” suara lembut Wendy membuat Sehun tersenyum lagi, kemudian mengangguk sambil mengusap puncak kepala istrinya, dan memberikan sebuah ciuman hangat di sana.

“Sudah, dan itu berkatmu.” Ucap Sehun. Wendy yang mendengar itu tersenyum senang, kemudian gadis itu sedikit menopan tubuhnya dengan sikunya, dan menatap Sehun yang saat ini masih sedikit lemah, terlihat wajahnya pucat.

Wendy memainkan rambut Sehun, hingga jemarinya menyusuri wajah tampan suaminya itu, “Apa hanya terimakasih yang kudapat?” ujar gadis itu pelan, dan Sehun sedikit berpikir mengenai perkataan istrinya itu, “Jadi kau mau apa? Tas? Sepatu? Baju? Kosmetik? Katakan saja apa maumu, dan kau bisa langsung mendapatkannya.” Wendy yang mendengar ucapan Sehun langsung terkekeh pelan dan menggeleng.

“Bukan itu masksudku sayang.” Wendy menghela nafasnya, kemudian memiringkan wajahnya pada Sehun, hingga detik berikutnya bibir keduanya menyatu dengan sempurna. Sehun masih membuka matanya, rasanya ia sedikit terkejut Wendy duluan menciumnya. Oh, bahkan tidak hanya menempel, melainkan Wendy melumatnya dengan lembut.

Namun, gadis itu segera melepaskan tautan bibir itu, dan menatap Sehun dengan kesal. Ia merasakan ciuman sepihak, dan ia tidak suka itu. Bukan maksud Sehun tidak ingin membalasnya, hanya saja ia masih terkejut.

“Kenapa tidak di balas? Kau tidak suka aku menciummu?” Wendy mempoutkan bibirnya, dan Sehun tersenyum gemas sambil mencubit pipi Wendy, “Aku hanya terkejut. Bisa ulangi sekali lagi?” pinta Sehun dan Wendy menggeleng imut. Kini malah Sehun yang nampak kesal, dan Wendy menahan tawanya melihat Sehun seperti ini.

Tanpa basa basi lagi, Wendy mencium bibir Sehun, menyalurkan rasa cintanya untuk suaminya itu. Sebuah ciuman manis yang membuat hati keduanya berdesir. Saling melumat lembut, hingga membuat ciuman itu semakin dalam dan memabukkan. Bahkan entah bagaimana, Sehun sudah beralih posisi menindih tubuh mungil Wendy di bawah kurungannya.

“Mmh.”

Sudah sepuluh menit mereka berciuman panas, namun Sehun masih enggan melepaskan ciuman panas itu. Wendy juga nyatanya masih menikmati setiap sentuhan bibir Sehun di bibirnya. Di mana, terkadang Sehun menggigit gemas bibirnya dan itu membuat sensasi luar biasa untuk Wendy.

Tangan gadis itu juga tidak tinggal diam, meremas rambut Sehun dan menyuruh Sehun untuk tetap menempel padanya. Sehun menggeram saat tangan mungil Wendy dengan berani, mulai membuka satu persatu kancing piyama berwarna putihnya. Sudah 2 kancing terlepas, dan Wendy langsung mengusap lembut bahu Sehun.

“Kau –mmh.. tunggu Wen–” Ucap Sehun disela kegiatan panas mereka di siang hari ini. Wendy yang mendengar itu, langsung melepaskan tautan bibir mereka. Saling bertatapan sendu, dengan tangan Wendy yang masih melingkar di leher pria itu.

“Kau tidak yakin padaku?” tanya Wendy sedikit kecewa, dan Sehun menggeleng cepat.

“Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau melakukan ini, karena kasihan padaku.”

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah berpikir seperti itu Oh Sehun!” bentak Wendy dengan air matanya yang memupuk di pelupuknya.

“Sayang, jangan menangis. Astaga, maafkan aku Wen. Maksudku, aku hanya ingin kita melakukan ini, karena keinginan kita berdua. Aku tidak mau hanya aku yang menginginkannya, sedangkan kau tidak.” Sehun berucap jujur, dan mendengar itu, air mata Wendy terjatuh. Sehun segera mengusapnya dengan lembut, dan mencium kening Wendy.

“Aku mencintaimu Sehun.” Ujarnya dengan sedikit terisak.

“Aku juga sayang, aku sangat mencintaimu. Tapi–“

“Aku menginginkan ini. Percaya padaku, Hun.” Lirih Wendy.

Sehun pun mencium bibir Wendy lagi dengan ganas, tidak memberikan kesempatan pada wanitanya untuk mencuri nafas singkat. Wendy tentu membalasnya dengan senang hati, jemarinya kembali membuka piyama Sehun, dan begitu juga dengan Sehun yang melakukan hal yang sama.

Sehun mencium pipi, tengkuk, dan berakhir pada ceruk leher Wendy. Mencium daerah itu dengan lembut, dan menghisapnya membuat sebuah tanda kepemilikan di sana.

“Ah..” desah Wendy ketika tangan Sehun mulai beranjak menyusuri lekukan tubuhnya. Hingga sampai pada sesuatu yang sangat ingin ia rasakan dari dulu. Wendy mendesah hebat ketika rasanya ia benar-benar menemukan kenikmatan duniawi yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, dan itu bersama Sehun.

“Aku mencintaimu.” Bisik Sehun yang sudah dipenuhi nafsu. Wendy mengangguk lemah, seperti memberikan ijin untuk Sehun melakukan apa pun yang ia inginkan.

“Kau berjanji akan pelan-pelan kan?” Wendy sedikit takut, dan Sehun hanya tersenyum sambil mengangguk, “Aku akan melakukannya dengan sangat lembut, tanpa menyakitimu.” Ujar Sehun mengusap pipi Wendy.

“Ba –baiklah.” Setelah mengucapkan ucapan itu, Sehun kembali melumat bibir istrinya itu dengan ganas dan menuntut.

.

.

.

Chanyeol menandatangi beberapa dokumen yang berada di atas mejanya dengan cepat. Rasanya ia ingin menyelesaikan ini dengan segera, agar bisa melakukan kegiatan intinya hari ini. Setelah melakukan makan siang dengan client, Chanyeol benar-benar terburu-buru mengerjakan sesuatu.

Namun sepertinya, pekerjaan itu terus datang, meski ia berusaha secepat mungkin menyelesaikannya. Chanyeol menghela nafas panjang, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya. Pria itu melirik jam sebentar, dan menunjukkan pukul 2 siang.

“Astaga, aku merindukannya.” Ujarnya frustasi sambil menguap rambutnya.

Tok tok

Suara ketuka pintu membuat Chanyeol beralih tatap melihat pintu besar ruangannya itu. Dengan sedikit menghela nafas ia mulai bersuara, “Masuk.” Ucapnya dan pintu itu akhirnya terbuka. Nampak sang sekretaris berada di depan sana, sambil membungkukkan badannya singkat pada Chanyeol.

Depyeonim, ada yang ingin bertemu dengan anda.” Ucap Seohyun, dan Chanyeol nampak mengerutkan keningnya. Siapa? Perasaannya, ia tidak membuat janji bertemu siang ini dengan siapa pun, kecuali tuan Tadashi.

“Siapa?”

“Nona Irene.” ujar Seohyun, dan Chanyeol sedikit terkejut gadis Bae itu berada di kantornya siang ini. Tidak biasanya memang, apalagi mengingat mereka tidak begitu dekat semasa sekolah, maksudnya tidak seperti ia dan Wendy.

“Suruh masuk.” Kata Chanyeol cepat, dan Seohyun mengangguk kemudian mempersilahkan gadis dengan mini dress berwarna abu-abu itu masuk ke dalam ruangan Chanyeol.

Irene tersenyum tipis pada Chanyeol, dan pria itu ikut tersenyum. Chanyeol pun mempersilahkan Irene duduk di salah satu sofa, dan kemudian Chanyeol ikut duduk setelahnya. Mereka saling diam untuk beberapa saat, dengan Irene yang menunduk, seperti memperisapkan beberapa topik pembicaraan mereka beberapa saat lagi.

“Mmm…” Irene bergumam sambil menatap Chanyeol yang menaikkan alisnya bingung. Ada apa dengan Irene? Maksudnya, apa yang ingin gadis itu katakana padanya saat ini?

“Ada apa Irene?” suara berat dan serak Chanyeol membuat Irene mengepalkan tangannya.

“Aku–“

“Ya?”

“Bisakah aku minta bantuanmu?” tanya Irene ragu, dan Chanyeol mengangguk kecil. Tentu saja ia siap membantu teman sekolahnya. Jadi apa itu?

“Ya, tentu.” Kata Chanyeol tersenyum.

“Bantu aku untuk melupakan Sehun.” Ucap Irene semakin ragu, dan Chanyeol agak terkejut mendengar permintaan Irene itu. Maksudnya membantu bagaimana? Menghilangkan ingatan Sehun dari Irene? Atau membantu mencarikan sosok pria lain pengganti Sehun?

“Maksudmu?”

“Bantu aku melupakannya dengan menjadi kekasihku.”

DEG

Chanyeol melongo mendengarnya. Apa ia tidak salah dengar ucapan Irene barusan? Meminta untuk menjadi kekasih? Tidak, itu tidak mungkin. Chanyeol baru saja memulai petualangannya untuk mendapatkan Wendynya kembali. Dan ia sama sekali tidak berniat melupakan Wendy.

“Irene aku –“

“Aku mohon Chanyeol. Hanya kau yang bisa membantuku.” Irene menangis membuat Chanyeol tidak suka melihatnya. Jujur, ia lemah terhadap gadis yang menangis, dan pertahanannya bisa goyah jika begini caranya.

“Irene, maaf – he –hey!” Chanyeol terkejut ketika Irene berlutut di depannya. Mungkin terdengar jika Irene sangat berlebihan karena seorang Oh Sehun. Bukankah cukup untuk mencari pria lain yang mencintainya juga? Namun bukankah Chanyeol sama dengannya? Bahkan Chanyeol rela menjelajah waktu demi mendapatkan Wendynya kembali.

“Aku tidak akan berdiri sebelum kau bersedia membantuku.” pinta Irene pada Chanyeol.

“Tidak usah seperti ini Irene, berdiri aku mohon.” Ucap Chanyeol penuh permohonan, namun Irene menggeleng. Sepertinya ia sangat yakin melakukan ini. Namun, mengapa harus Chanyeol? Tidak bisakah Baekhyun atau Suho saja? Mengapa harus dia yang Irene mintai tolong?

“Ya Tuhan! Seminggu lalu aku baru saja bilang jika aku berpacaran dengan sekretarisku. Dan apa yang akan mereka katakan jika aku berpcaran denganmu?” Chanyeol mengusap wajahnya kasar, Irene masih menangis dan Chanyeol semakin goyah melihat itu, “Irene, jangan seperti ini. Ayo bangun!”

“Chanyeol –hiks…”

“Astaga! Ba –baiklah, aku akan melakukannya. Sekarang berdiri.” Kata Chanyeol sambil membantu gadis itu berdiri, dan kembali duduk di sofanya. Chanyeol menghela nafas kasar, sedang Irene menghapus air matanya.

“Hanya satu bulan. Mengerti?” Chanyeol memberi batas waktu mereka melakukan hal ini, dan Irene mengangguk singkat. Ya, waktu sebulan cukup kan?

“Ya, sebulan.” Irene mengangguk dalam isakan tangisnya yang masih tersisa.

Chanyeol menggeram, sialnya hari ini rencananya bertemu Wendy harus digagalkan. Pasalnya, nanti malam ia harus melanjutkan beberapa pekerjaan kantornya. Dan harusnya siang ini ia sudah berada di masa sekolahnya, untuk berkencan dengan Wendy.

.

.

.

Pria itu menatap wajah cantik istrinya yang saat ini tertidur pulas dengan beralaskan lengannya. Bahkan rasa sakit yang ia rasa pagi tadi, tergantikan dengan rasa bahagia yang sungguh tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Sehun, pria itu menyisipkan rambut Wendy ke belakang telinga, dan mencium kening istrinya dengan lembut.

Setelah menahannya cukup lama, akhirnya percintaan mereka di mulai siang tadi. Dan malam ini, Wendy sepertinya masih lelah dan gadis itu masih memejamkan matanya rapat-rapat. Oh, bahkan kegiatan panas mereka siang tadi masih bisa diingat dengan baik oleh Sehun.

Wajah gadis itu yang memerah, bahkan suara-suara indah yang terdengar di telinganya, bagaikan potongan film romantis bagi Sehun. Ah, jangan lupakan jika Wendy yang juga sangat hebat dalam melayaninya. Oh, apa yang sudah ia pikirkan ini? Namun benar, Wendy benar-benar melakukannya dengan tulus Sehun rasa. Andai saja ia tidak memikirkan kondisi Wendy saat ini, mungkin Sehun akan mengajaknya untuk mengulang kembali kegiatan mereka.

“Eungh –“ lenguh sang istri dengan menggeliat pelan dalam pelukan hangat Sehun. Perlahan, mata Wendy terbuka dan ia langsung beradu pandang dengan Sehun. Pria itu tersenyum senang, dan mencium kening Wendy.

“Kau terlihat bahagia tuan Oh.” Wendy tersenyum sambil memejamkan matanya lag. Sejujurnya, ia masih lelah dan sedikit mengantuk, namun mengingat Sehun berada di depannya, membuat perasaannya tidak tenang, alias ia sedang gugup sekarang.

“Tentu saja.” ucap Sehun sedikit berbisik.

“Apa kau menyukainya?” Wendy menatap Sehun sebentar dan membaringkan kepalanya pada dada bidang Sehun. Pria Oh itu tersenyum tipis, sambil mengangguk, “Aku lebih dari mneyukainya. Mungkin jika kita melakukannya lagi –“

“Sayang, kita masih memiliki banyak waktu.” Potong Wendy sambil menaruh telunjuknya pada bibir Sehun, dan itu membuat Sehun mencium lembut telunjuk mungil Wendy.

“Ya, tentu saja.” kata Sehun tersenyum.

“Kau tidak ingin mandi?” tanya Sehun sambil mengusap punggung telanjang Wendy.

“Tentu saja aku harus mandi. Kau tidak lihat, badanku lengket semua?” cicit Wendy sambil mencubit perut Sehun, membuat pria itu meringis.

“Mandi ber –“

“Sendiri Sehun! Kau mandilah lebih dulu, aku masih mau tidur sedikit lagi.” Wendy berbalik membelakangi Sehun sambil mengeratkan selimut tebalnya di tubuhnya. Sehun hanya mengangguk, setelah memberikan ciuaman pada pelipis Wendy, “Terimakasih Wen, aku mencintaimu.”

“Aku juga sayang.” Ucap Wendy tersenyum, dan pria Oh itu akhirnya berdiri dan menuju kamar mandi, menyisahkan Wendy yang berada di ranjang itu seorang diri.

Tanpa Sehun sadari, kini air mata Wendy tiba-tiba jatuh. Dan sesegera mungkin, Wendy menghapusnya. Gadis itu mengigit bibirnya, rasanya hatinya sangat sakit saat ini. Tapi kenapa? Entahlah, gadis Son itu hanya berusaha menahan isakannya yang hampir terdengar. Ia tidak mau Sehun mendengarnya menangis saat ini.

“Maafkan aku Sehun. Maaf.” lirihnya sambil memegang dadanya yang sakit.

.

.

.

-TO BE CONTINUED-

.

.

.

Masih ada yang menantikan cerita ini tydack? :”) huh, maafkan aku selow apdet yaw. Still komen yah saudara-sauadara, aku inign kalian menjadi readers yang baik dengan meninggalkan jejak disetiap cerita aku, hehe. baiklah, salam sayang dari sayahh, bye bye -,-

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Back In Time (Chapter 4)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s