[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 25)

picsart_09-19-05-49-51.png

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |Wu Yifan a.k.a Kris Bae | etc~

Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

.

.

–Chapter 25–

.

.

Sehun membuka pintu rumahnya dan nampaklah sang istri tercintanya berada di ruang tengah sedang membaca majalah. Sehun tersenyum manis dan langsung menghampiri Irene kemudian mencium puncak kepala sang istri. Irene tersenyum manis dan menutup majalah itu.

Pria Oh tersebut, kini mengambil posisi di samping Irene dan mengangkat kaki jenjang istrinya untuk di taruh di atas pahanya. Irene mengerutkan keningnya, untuk apa Sehun melakukan ini? Tidak lama setelah itu, Irene merasakan tangan lembut suaminya beralih memijat pelan kaki Irene. Oh, bukankah harusnya itu tugas Irene sebagai istri?

“Sayang tidak usah. Harusnya aku yang melakukannya untukmu.” Ucap Irene menolak hendak menurunkan kakinya dari paha Sehun namun pria itu menahannya, “Sayang, kau sedang hamil. Jadi biarkan aku melakukannya untuk istriku ini hm?” Irene begitu senang mendengarnya dan mengangguk tersenyum.

Sehun melanjutkan kegiatannya memijat kaki Irene. Mereka beberapa kali saling melempar senyuman manis. Hingga perlahan, Sehun mendekati Irene dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Ya, harusnya Sehun mendapat sambutan seperti ini dari tadi, benarkan?

Saling mencium dengan lembut, bahkan Irene sudah mengalungkan tangannya pada Sehun. Keduanya tersenyum di sela kegiatan mereka di sore menjelang malam ini.

SRET

Sehun terkejut ketika ada yang menarik tubuh istrinya menjauh darinya. Sehun mendongak menatap sosok pria berpakaian serba hitam tengah menodongkan pisau pada leher Irene.

“Irene?! YAK! LEPASKAN ISTRIKU!”

Tidak ada jawaban dari pria itu dan perlahan ia menggeret Irene menjauh dari rumahnya. Sehun membelalakkan matanya melihat Jaehyun danTaeyong sudah rebah di lantai dengan darah yang mengalir di sana. Irene menangis sambil menatap Sehun untuk melepaskannya.

Bahkan ajhuma dan Hyun Joo juga sudah dipenuhi oleh darah kental yang mengalir dari perut mereka. Sehun menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang terjadi.

“Sehun, tolong aku! Hiks.”

“IRENE!”

“SEHUN TOLONG AKU! KU MOHON, TOLONG AKU!”

“SEHUN-AH, JANGAN TINGGALKAN AKU! SEHUN!”

“IRENE –TIDAK! JANGAN LAKUKAN ITU PADANYA!”

Sehun melebarkan matanya ketika pria misterius itu menyayat leher Irene hingga darah kental keluar dari sana. Irene terjatuh ke lantai dan darah gadis itu mengalir deras. Sehun terjatuh ke lantai masih sambil menatap istrinya yang sudah tidak lagi bernyawa. Tidak, mengapa ini terjadi? Irene-nya tidak boleh pergi.

Hingga…

“OH SEHUN BANGUN!” pria bermarga Oh itu membuka matanya dengan terkejut. Nafasnya tersenggal-senggal dan peluh memenuhi seluruh tubuhnya. Baik lengan maupun wajah. Irene yang berada di tepian ranjang hanya mengerutkan keningnya bingung. Ada apa dengan suaminya?

“Kau baik-baik saja?” Irene mengusap pipi Sehun yang basah dan pria itu masih mengatur nafasnya untuk beberapa saat. Pria Oh itu menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya sendiri. Jadi ia hanya bermimpi? Mengapa mimpi itu sangat menakutkan? Seolah hal itu benar-benar nyata.

“Sayang, kau baik-baik saja?” Irene masih sibuk menanyakan pertanyaan  perihal mengapa Sehun bangun dengan keadaan seperti ini? Prianya terlihat takut dan gelisah.

Sehun yang melihat Irene masih baik-baik saja dan tidak terluka sedikit pun langsung menarik gadis itu dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh mungil Irene dengan sangat kuat membuat istrinya tidak bisa bernapas dengan baik. Sehun tidak peduli dengan itu, ia hanya takut saat ini. Mimpi yang tidak pernah ia harapkan hadir, kini menghantui pikirannya.

“Kau baik-baik saja kan?” kini pertanyaan itu tertuju untuk Irene. Gadis itu masih bingung namun akhirnya mengangguk kecil. Perlahan pelukan itu merenggang. Irene mengusap wajah tampan Sehun yang sedikit pucat.

“Kau sakit?”

“Ti –tidak. Aku mim –pi buruk. Kau –kau meninggalkanku, maksudku seseorang membunuh –“

“Ssshh, sayang hentikan. Itu hanya mimpi buruk, mengerti? Aku masih ada di sini, di sampingmu.” Irene memeluk Sehun dan pria itu mengangguk masih dengan kegelisahan di hatinya. Jujur, selama 25 tahun ia hidup, Sehun tidak pernah segelisah ini.

“Sudah berapa lama aku tidur?”

“Hm? Kita sampai di Seoul pukul 2 siang. Dan setelah itu kau tidur karena lelah. Sekarang pukul 9 malam. 7 jam ku rasa.” Irene menatap Sehun yang saat inisedang menormalkan detak jantungnya sendiri.

“Aku ambilkan makan ya? Kau tunggu saja di sini.” Irene berdiri dari ranjang namun Sehun menahan pergelangan tangannya. Pria itu menggeleng lemah, ia memohon agar Irene tidak pergi ke mana-mana, “Jangan pergi. Aku mohon, aku benar-benar takut saat ini Irene. Tetaplah di sini sayang.”

“Tapi kau harus makan. Ah, baiklah aku akan menyuruh ajhuma Han membawakan makanan ke sini.”

“Baiklah. Jangan lama-lama.” Sehun melepaskan genggamannya dan gadis itu langsung pergi meninggalkan Sehun untuk sebentar saja.

Pria itu memegang dadanya dan terasa berdebar-debar. Bahkan potongan mimpi itu bagaikan potongan film yang baru saja ia tonton. Menakutkan dan Sehun benar-benar cemas akan mimpinya barusan. Tidak, ia harus yakin jika tidak akan terjadi apa-apa pada keluarganya.

Tidak lama kemudian Irene kembali membawa nampan berisi makanan untuk suami tercintanya. Gadis itu menaruh nampan di atas meja dan mengambil piring berisi makanan itu. Kini Irene sedang menyuapi suaminya dengan penuh kesabaran. Seperti seorang ibu menyuapi anaknya, mungkin?

Tapi jika dibilang, wajah Sehun memang sangat pucat setelah mimpi buruknya. Apa sangat buruk?

“Sudah. Aku sedang tidak nafsu makan Irene.” Kata Sehun menolak suapan Irene padanya. Gadis itu mendesah pelan dan menaruh piring itu di atas nampan. Gadis itu mengusap rambut Sehun dan mencium kening prianya sedikit lembut, “Mau aku buatkan teh?”

“Tidak. Di sini saja sayang.” Ucap Sehun menepuk sisi samping ranjangnya. Irene tersenyum dan berbaring di sebelah pria itu. Memeluk Sehun dengan erat dan akhirnya teridur dalam pelukan pria itu.

***

Pria yang sedang sibuk menatap layar laptop-nya itu nampak asik memainkan jemari-nya di atas keyboard. Ya, sebut saja Do Ji Sung kali ini sedang sibuk mengurusi pekerjaan kantornya. Melupakan sejenak masalah seorang gadis yang sudah menjadi tujuannya selama beberapa tahun.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu terdengar di telinganya. Lantas, ia mengangkat kepalanya sebentar dan menghela nafas. Ia melepaskan kacamata-nya dan menutup layar laptop-nya.

“Masuk.” Serunya pelan sambil melipat kedua tangannya.

Tidak lama kemudian, seorang gadis sexy dengan pakaian kerja yang lumayan minim masuk ke dalam ruangannya. Kemeja V-neck-nya sedikit memperlihatkan dada-nya. Rok span yang benar-benar pas pada tubuh-nya juga memperlihatkan betapa indah lekuk tubuh-nya.

Ia menunduk singkat pada Ji Sung dan pria itu hanya mengangguk menunggu apa yang gadis sexy itu ingin sampaikan padanya. Hanya sekedar informasi, gadis di depan Ji Sung itu merupakan sekretaris pribadi Ji Sung. Mungkin memang tidak terlihat layak menjadi seorang sekretaris. Bahkan lebih pantas jika menyebutnya teman tidur Ji Sung.

Sajangnim.”

“Ada apa Yura-ya?” suaranya berat dan khas. Juga tatapan matanya tajam menarik gadis berambut hitam panjang nan bergelombang itu terhipnotis rasanya. Lantas Yura berdehem pelan sambil meneguk saliva-nya sendiri. Ia selalu gugup berada di dekat Ji Sung. Entah kenapa?

“Anda memiliki jadwal meeting di luar kota. Tepatnya di Busan.” Ujar gadis itu pelan. Ji Sung mendesah sambil memejamkan matanya untuk beberapa detik hingga akhirnya ia kembali membuka matanya dan menatap Yura.

“Berapa hari?”

“3 Hari. Setelah itu anda harus ke jepang untuk membahas proyek pembangunan hotal anda di sana.” Tambah Yura lagi.

“Baiklah. Ada lagi?”

“Tidak ada sajangnim.”

“Terimakasih. Kau bisa kembali ke ruanganmu.” Yura menunduk hormat hingga akhirnya ia menghilang dari ruangan Ji Sung. Sedang pria Do itu tersenyum penuh arti sambil membaringkan punggungnya pada sandaran kursi besarnya, “Aku akan merindukanmu kekasihku. Tunggulah aku.” Gumamnya sambil memejamkan matanya dan membayangkan wajah Irene yang sedang berciuman mesra dengannya.

“Kupastikan aku tidak hanya akan membayangkannya saja. Kupastikan aku mendapatkan tubuhmu secara nyata Irene. Ya, kupastikan aku akan memilikimu sayang. Pasti!” ucapnya dengan penuh keyakinan sambil tertawa mengerikan.

***

Tidak terasa sudah seminggu terlewati begitu saja. Rumah tangga Sehun dan Irene berjalan dengan baik. Bahkan mereka semakin mesra di setiap harinya. Setiap pulang kerja Sehun selalu membelikan sebuket bunga untuk istri tercintanya. Entah kenapa ia selalu melakukan itu saat ini.

Seperti sore ini, Sehun sedang dalam perjalanan pulang dan di tangannya terdapat buket bunga mawar berwarna putih yang sangat cantik dan indah. Dan tidak lupa Sehun membelikan sebuah kalung lagi untuk sang istri. Padahal perhiasan Irene sudah lebih dari cukup. Dan karena terlalu banyak, Sehun sampai membuatkan lemari khusus untuk menyimpan perhiasan-perhiasan gadis itu.

Daepyeonim, sudah sampai.” Ujar Hyun Joo yang nyatanya sudah membukakan pintu mobilnya untuk Sehun dari tadi. Nampaknya tuan besar Hyun Joo sedang melamun. Mungkin memikirkan sedang apa istrinya di rumah?

“Ah, benar. Aku melamun lagi.” Kekeh Sehun setelah keluar dari mobil. Hyun Joo tersenyum dan menutup pintu itu kembali, “Apa nona Irene belum –?” tanya pria yang hampir menginjak kepala lima itu sedikit menggantung. Sehun tersenyum pada Hyun Joo dan menghela nafasnya, “Belum. Tapi kami akan berusaha keras untuk itu.” Sehun tertawa kecil dan Hyun Joo mengangguk.

“Baiklah. Terimakasih ajhussi.”

Ne?”

“Ah, Irene selalu memaksaku memanggil-mu ajhussi. Jadi menurutku tidak ada salahnya.”

“Tapi daepyonim. Jujur aku lebih menyukai anda memanggilku seperti dulu. Aku sudah terbiasa mendengarnya.”

“Ini peraturan baru! Jangan membantah atau ku pecat!” ancam Sehun dan memasuki rumahnya. Hyun Joo menghela nafas sambil menggeleng. Setelah menikah, tuan besarnya itu menjadi pribadi yang lebih dewasa mungkin? Dan jujur, Hyun Joo selalu merasa jika tuan besarnya semakin bersikap sopan padanya.

Namun jika boleh jujur, Hyun Joo malah merindukan tuan besarnya itu marah-marah dan membentakinya. Bukankah lucu? Entahlah.

***

Sehun menatap layar televisi yang menyala dan di atas sofa, nampak seorang gadis sedang duduk santai di sana. Sehun tersenyum tipis dan mendekat pada istrinya itu. Ah, ia merindukan Irene. Sangat merindukannya.

Chup

Sehun mencium puncak kepala gadis itu, membuat Irene tersentak dan mendongak ke atas. Di saat itulah Sehun mencuri sebuah ciuman kilat dari bibir manis istrinya. Dan tidak bisa ditutupi lagi jika saat ini sang istri tengah merona, hatinya berdebar dan rasanya ia benar-benar malu. Bukankah Irene sangat menggemaskan?

“Apa kabar sayangku?” Sehun bersuara lembut sambil memberikan bunga mawar itu kepada Irene. Gadis Oh itu menerimanya dengan senyuman manisnya. Irene perlahan menghirup aroma bunga itu dan ia menyukainya. Sehun mengusap rambut istrinya dan mencium kening Irene.

“Kau suka?”

“Hm. Ini indah. Terimakasih sayang.” Ucap Irene memeluk Sehun dan pria itu ikut membalas pelukan itu. Namun baru beberapa detik berpelukan, Irene mencium sesuatu yang membuatnya ingin muntah saat ini juga.

“Hu –Huek!” Irene menutup mulutnya dan melepaskan pelukan Sehun. Gadis itu segera berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya hanya air saja. Sehun menghampiri istrinya sambil membantu Irene dengan memijat bagian leher istrinya, “Kenapa? Kau sakit?”

“Hm? Aku –Huek!” Irene kembali mual dan Sehun nampak khawatir. Ajhuma yang mendengar suara istri tuan mudanya itu langsung menghampiri Sehun dan Irene.

“Ada apa Irene?”

“Tidak apa –ap –Huek!”

“Kita ke dokter sayang. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu.”

“Tuan –sepertinya nona Irene tidak sakit.”

“Lalu?”

“Jika dilihat dari tandanya, sepertinya nona Irene sedang hamil.”

“Apa?!” kini Sehun dan Irene sama-sama kaget mendengarnya. Ajhuma tersenyum sambil mengangguk, “Jika tidak percaya. Coba untuk memeriksakannya di dokter kandungan.” Usul ajhuma dan Sehun menatap sang istri yang sepertinya sudah sedikit lega.

“Baiklah. Aku akan mandi dan bersiap. Tunggu sebentar.” Kata Sehun cepat dan segera berlari menuju kamarnya.

Irene menghela nafasnya dan duduk di kursi dapur. Ia memegang perutnya yang memang terasa lain. Apalagi selama seminggu ini ia sangat suka makan. Berat badannya juga naik 2 kg.

“Mau ajhuma buatkan teh mint? Untuk menghilangkan rasa mual-mu.” Irene hanya mengangguk. Menyetujui ucapan ajhuma. Ya, mungkin saja dengan minum teh, rasa mualnya bisa teratasi.

***

Sehun sedang menunggu di sebuah ruangan khas milik seorang dokter. Ia menunggu hasil tes dari istrinya yang saat ini sedang di periksa oleh seorang dokter perempuan. Jika di ingat, mereka sempat berdebat mengenai dokter yang akan memeriksa Irene. Sehun menolak mentah-mentah jika dokter itu nantinya laki-laki. Enak saja ia melihat istrinya seperti itu. Namun Irene mencoba berpikir positif jika dokter siapa pun akan bersikap professional saat bekerja.

Penantian Sehun pun terbayarkan saat gadis dengan dress hijau tosca-nya itu sudah kembali dengan dokter perempuan yang baru saja memeriksanya. Irene duduk dengan senyuman manisnya pada Sehun. Dan pria itu sepertinya sudah bisa menebak hasilnya. Apa benar istrinya hamil saat ini?

“Ini foto anak kita. Ta –da!” Irene bersikap menggemaskan sambil mengibas-ngibaskan foto hasil USG-nya di depan suaminya. Sehun tertawa gemas sambil mengacak rambut Irene. Terlihat jika wajaha keduanya benar-benar bahagia. Sang dokter pun ikut tersenyum melihat Irene dan Sehun.

“Ku ucapkan selamat untuk kabar gembira ini.” Ucap sang dokter tersenyum pada keduanya dan Irene mengangguk antusias. Persis seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah.

“Istri anda benar-benar menggemaskan. Dan juga sangat cantik.” Puji sang dokter tertawa. Sehun melirik Irene sejenak dan istrinya masih memandangi foto janin mereka.

“Tolong jaga kondisi tubuh anda selagi mengandung. Jangan bekerja yang berat dan terlalu banyak pikiran. Perbanyak makan buah dan minum susu untuk pertumbuhan bayi. Ah, kusarankan agar kalian tidak melakukan hubungan suami istri untuk sementara waktu. Karena usia kandungannya baru 3 hari dan itu berarti janin anda masih sangat lemah.” Jelas sang dokter dan Sehun hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk.

Rasanya untuk yang satu itu ia tidak terlalu setuju. Bagaimana bisa ia menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya? Astaga, apa ini hukuman untuknya? Tapi, pikirkanlah jika saat ini istrinya sedang mengandung bayi mereka. Dan keselamatan sang buah hati harus di utamakan.

“Baiklah. Terimakasih ssaem.” Ujar Sehun lalu meninggalkan ruangan itu bersama sang istri.

***

“Kau dengar Sehun? Tidak boleh berhubungan untuk sementara waktu! Mengerti?” Irene menatap tajam suaminya itu dan Sehun hanya mengangguk malas dan berjalan lesu sambil memegang tas Irene.

“Hun?” Irene memanggil suaminya dengan sedikit manja dan pria itu memutar tubuhnya menatap sang istri. Kini mereka sudah berada di rumah. Dan sejak perjalanan pulang dari rumah sakit, Sehun tidak menunjukkan wajah semangatnya seperti Irene. Ya, gadis itu tahu kenapa Sehun tidak bersemangat. Apalagi jika bukan karena ucapan dokter?

“Ada apa sayang?”

“Aku mau –di gendong.”

“Hah?!”

“Tidak mau?”

“Siapa bilang tidak mau. Aku hanya terkejut. Baiklah.” Sehun mengangkat tubuh Irene dan menggendongnya ala brydal style. Gadis itu membenamkan wajahnya pada dada Sehun. Merasakan jika detak jantung suaminya agak berdebar saat ini. Irene tersenyum gemas, “Kau berdebar.”

“Itu karena kau.”

“Kau tidak marah kan?”

“Tidak.”

“Kenapa jawabanmu ketus begitu?”

“Aku tidak marah sayang. Sudahlah, lupakan masalah itu.” kata Sehun menyudahi dan Irene mengangguk kecil.

Cekrek

Sehun membuka pintu kamar mereka dan membaringkan Irene di atas ranjang. Sehun dengan telaten menaruh tas istrinya dan setelah itu membuka sepatu Irene. Gadis itu tersenyum menatap kegiatan suaminya yang saat ini sedang berganti baju. Irene menahan nafasnya ketika melihat tubuh polos Sehun yang benar-benar menggodanya. Ah, mengapa jadi Irene yang tergoda?

Pria itu kini berbaring di samping Irene sambil memeluk perut istrinya. Beberapa kali juga Sehun mencium perut gadis itu membuat Irene tersenyum bahagia.

“Kami menantikanmu lahir ke dunia ini sayang.” Sehun berucap lembut dan Irene mengusap lembut rambut Sehun.

“Terimakasih.” Kata Sehun dan entah mengapa Irene menitihkan air matanya. Melihat hal itu, Sehun segera menatap Irene dan mengusap air mata gadis itu, “Ssh. Kenapa malah menangis?”

“Entahlah. Aku benar-benat tidak menyangka kita bisa melewati semua hal sulit. Hingga akhirnya berada di titik ini. Kau masih di sampingku. Dan aku masih di sisimu. Kau masih mencintaiku, begitu pula diriku. Aku benar-benar tidak pernah berpikir bisa memilikimu hingga seperti ini Sehun. aku –mmmh..”

Sebelum gadis itu melanjutkan ucapannya. Sehun membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman manis. Irene terhanyut dan membalas ciuman itu, mengalungkan tangannya pada leher Sehun membuat ciuman itu terasa nikmat dan menggetarkan hati keduanya. Dan demi apa pun juga, Sehun terbakar gairahnya sendiri. Perlahan, ciuman itu turun pada tengkuk Irene dan berakhir pada leher gadisnya.

Mencium dan menghisap lembut membuat Irene mendesah pelan. Ia meremas rambut Sehun di saat hatinya mendesir dan jantungnya berdebar begitu cepat. Meski begitu, di dalam hati Sehun saat ini, pria tersebut sedang mengumpat keras-keras karena tidak bisa menahan dirinya jika sudah menyentuh Irene.

“Jangan di situ Sehun. Sakit!” rintih Irene saat pria itu menghisap lehernya agak keras. Sehun mengangguk kecil dan perlahan melembutkan permainannya.

“Aku mencintaimu.” Kata Irene, membuat sebuah senyuman manis terukir di bibir pria itu di sela kegiatan panas mereka. Meski memang permainan ini tidak akan lebih dari menyentuh.

“Aku sangat mencintaimu.” Balas Sehun kali ini dan akhirnya mencium kembali bibir Irene yang seperti memintanya untuk di cium.

“Mmh.”

“Sudah Sehun.”

“Tunggu sebentar lagi.”

“Mmh Se –hun. Aku mau tidur.” Sehun melepaskan ciuman itu dan mengecup bibir Irene yang memerah sedikit lama. Tidak lupa, kening, mata, hidung dan pipi Irene menjadi sasaran pria itu. Ia mencium Irene dengan penuh cinta. Dan memang, tidak ada wanita lain yang Sehun cintai selain Irene-nya saat ini.

“Selamat tidur istriku.” Kata Sehun memeluk Irene dan membenamkan kepala gadis itu pada dada bidangnya yang polos tanpa kaos. Irene nyaman dengan posisi mereka. Dan saat ini Sehun berharap jika kehamilan ini tidak akan membuat Irene berubah. Maksudnya, kalian tahu? Ngidam dan sebagainya. Semoga Irene tida membuatnya kesusahan nantinya. Ya, mari berharap seperti itu.

***

Sinar mentari memancarkan cahayanya. Nampak seorang pria sedang menikmati tidur indahnya pagi ini. Sebuah guling yang ia peluk membuat tidurnya semakin nyenyak. Namun keindahan itu tidak berangsur lama ketika seorang gadis dengan dress berwarna kuning masuk ke kamar suaminya dan membangunkannya.

“Sayang bangun. Temani aku ke supermarket. Sekarang!” ucap Irene sambil mengguncang tubuh Sehun yang tidur bagai mayat. Tidak memberi respon apa pun.

“Oh Sehun yang tampan. Suamiku yang baik, ayolah! Aku mau beli susu untuk ibu hamil!”

“Sebentar Irene sayang. Aku masih mau tidur. Sedikit lagi, hm?”

Irene menghela nafasnya dan mencubit pipi Sehun dan sontak pria itu meringis kesakitan hingga akhirnya membuka matanya. Irene tertawa melihat Sehun memegangi pipinya. Namun tidak lama kemudian, Irene mencium pipi pria itu.

“Sakit ya?” Sehun mendesah berat dan mengangguk.

“Maaf. Habisnya kau tidak mau bangun!”

“Morning kiss?”

Tanpa basa basi, Irene segera menyambar bibir Sehun. Melumatnya lembut dan berakhir mencium beberapa kali bibir pria itu. Sehun senang bukan main. Mengapa kehamilan membuat Irene menjadi lebih baik dari biasnya? Bahkan jika Sehun meminta morning kiss, Irene hanya mencium cepat bibirnya.

“Sudah? Ayo Hun. Mandi dan bersiap. Aku tunggu di bawah.” Ujar istrinya semangat dan Sehun hanya mengangguk kecil.

***

Sehun mendorong troli belanjaan di sebuah supermarket. Baru kali ini ia berbelanja bersama istrinya. Mendorong troli dan mengikuti setiap langkah Irene pergi. Menuju lorong yang satu kemudian yang satunya lagi dan akhirnya hampir setiap lorong Irene kunjungi. Bahkan troli mereka hampir penuh dengan barang-barang belanjaan istrinya.

“Sayang? Kau mau cari apa lagi? Ini sudah banyak.”

“Tunggu Hun. Aku mau cari es krim sebentar. Kau sudah lelah?” Sehun mengangguk lesu dan Irene mengerucutkan bibirnya imut.

Chup

Sehun melebarkan matanya ketika Irene menciumnya di tempat umum seperti ini. Jujur, ia senang bukan main mendapatkan ciuman tiba-tiba itu. Bahkan, jika bisa ia ingin Irene memberikannya lagi.

“Apa itu cukup?”

“Mungkin jika sekali lagi aku –“

Chup.

“Sudah? Apa kau masih mau lagi? Aku akan memberikannya di rumah.” Irene berucap dengan penuh keyakaninan. Sehun benar-benar bahagia mendengarnya. Astaga, jika tahu istrinya akan memiliki sifat seperti ini ketika hamil. Sehun sangat rela jika mereka harus cuti berhubungan sementara waktu. Asal, Irene tetap seperti ini. Memanjakannya, benarkan?

RING

Sehun merogoh ponselnya dan mendapat sebuah panggilan dari Suho. Tidak menunggu lama, Sehun mengangkatnya.

Ne hyung?”

“Kami menemukan Hyo Eun dan Jung Hoo. Mereka sudah berada di kantor saat ini. Kau mau menanyakan beberapa pertanyaan pada mereka?”

Sehun menatap punggung istrinya dan menghela nafasnya sebentar, “Mungkin –untuk saat ini tidak. Irene sedang bahagia karena kehamilannya. Aku tidak ingin ia sedih karena bertemu dengan Hyo Eun dan Jung Hoo.”

“Ah, selamat untuk kalian. Baiklah jika kau bilang begitu. Katakan saja jika kau siap bertemu mereka.”

“Baik hyung. Terimakasih banyak.”

.

.

-TO BE CONTINUED-

.

.

Miss Me? Wkwkwk, maap karena aku telat apdet ff ini. Because real life bener-bener minta dikasarin sesungguhnya. Jadi untuk menebus kesalahanku, aku buat chapter kali ini banyak manis-manisnya. Seneng gak? Hehe.

Jangan lupa komen ya gaes.

Baiklah, sayonara semuanyahhhh -,-

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 25)”

  1. Duuuuhhhh… seneng bangeg aku..

    Akhirnya irene hamil😊😊 anak ayam mau jadi ayah…

    Dan aku berharap mimpi sehun gak jadi nyata..

  2. Yaallah manis bener si mereka 😚😚
    yg jomblo kan jadi berasa banget ngnesnya
    .semoga terus berjalan dengan baik dah ya hun !!
    Ak seneng kog hun seneng😣😭

  3. ahhh sehun.oppa so sweet bgt,,aku yg baper ini, biarkan mereka bahagia jangan pisahkan lagi, moga mimipi sehun oppa g’ jadi nyata,,
    semangat ngelanjutinnya thor, fighting!!!

  4. semoga mimpi buruknya sehun tidak jadi kenyataan..
    aq gk mw ngebayangin gimana kalau iaa. ap kabar hati sehun .. pasti sakiit bnget.😢😢
    tetap semangat kk HWAITHING ….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s