[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 2)

Poster Secret Wife Season 2 '.jpg

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Kim Nara, Min Aera, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 2

(Dinner)

Soah memejamkan matanya kala sekretarisnya merias wajahnya. Sebenarnya dia tak pernah mau melakukan hal itu. Hanya saja wanita yang sudah dianggap kakak olehnya memaksanya. Katanya itu perintah dari bibinya. Selalu saja begitu. Dan pada akhirnya dia tak pernah bisa menolaknya. Seolah apa yang dialaminya adalah rencana dari bibinya.

“Nah, sudah selesai”, ucap sekretarisnya.

Soah membuka matanya perlahan. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin. Cantik, itulah kata yang tepat untuk apa yang dilihatnya. Harus diakui, kemampuan merias wajah sekretarisnya memang baik. Bahakan teramat baik. Sangat pantas menjadi juru make up artis.

Soah menggerakan kepalanya ke samping kanan dan kiri untuk melihat betapa sempurnanya hasil riasan sekretarisnya. Dia jadi teringat sesuatu. Seketika matanya membulat. Dia menatap lekat sekretarisnya.

Eonni, kenapa kau membuatku secantik ini? Bagaimana jika pria itu nanti setuju dengan perjodohan ini. Kau tahukan jika aku tak menginginkannya. Aku akan menghapusnya”, ucap Soah. Dia mengambil tisu di nakas depan tempat duduknya. Belum sempat tisu itu mengenai wajahnya, sekretarisnya sudah mencegahnya.

“Kau mau merusak karyaku?”, protes sekretarisnya.

“Aku tak bermaksud seperti itu. Tapi ini berlebihan”, ucap Soah kembali. Dia mencoba merebut tisu yang diambil sekretarisnya. “Lagipula ini hanya makan malam, bukan pesta pernikahan. Berikan tisunya”, lanjutnya yang tak berhasil merebut tisu dari tangan sekretarisnya.

“Aku tak yakin”, jawab sekretarisnya. Dia berjalan menjauh sambil membawa kotak tisu tersebut.

“Apa maksudmu?”, tanya Soah yang tak paham. Dia berdiri dan mengikuti langkah sekretarisnya.

Bukannya menjawab, sekretarisnya justru tertawa. Seolah ada sesuatu yang disembunyikannya. “Kau akan tahu nanti. Aku akan memilihkan baju yang cocok untukmu”, ucapnya kemudian. Dia kini berjalan ke walk in close milik bosnya.

“Ya Tuhan, Soah. Apa ini?”, teriak sekretarisnya.

Soah yang mendengar teriakan sekretarisnya, berjalan cepat menghampirinya. “Kenapa?”, tanyanya panik.

“Apa tidak ada warna lain? Aku tak pernah menyangka jika kau maniak warna putih”, jelas sekretarisnya.

Soah membuang kesal nafasnya. Dia pikir ada apa-apa, ternyata hanya pertanyaan tak bermutu dari sekretarisnya. Ya, memang dia maniak warna putih. Sebagian besar baju yang dipunyainya adalah warna putih. Sebenarnya ada beberapa warna lain, tapi pada dasarnya juga berwarna putih. Karena memang warna lain itu hanya sebagai corak atau motif.

“Ku pikir ada apa. Dasar!”, protes Soah. Dia berjalan mendekati deretan baju yang tergantung rapi. Dia sedang mencari baju yang pas untuknya. Sekretarisnya juga melakukan hal yang sama. Memilih baju untuk bosnya.

Soah mengambil mini dress brokat warna hitam tanpa lengan. Menempelkannya sebentar ke tubuhnya. Menimang sebentar, lalu menunjukannya pada sekretarisnya. “Bagaimana meurutmu eonni. Apa ini cocok?”, tanyanya.

Sekretarisnya melihat dari atas sampai bawah. Dia terlihat sedang berfikir. Dia kemudian menggeleng tanda tak setuju dengan bosnya. “Tidak. Ini tidak cocok”, jawabnya. Dia mengambil baju yang dipegang bosnya, lalu mengembalikannya. Tangannya kini menunjuk beberapa baju. Dia mengambil salah satunya. Menempelkannya di tubuh bosnya. Dia menggeleng saat dirasa tidak cocok dengan seleranya.

Dia mengulangi hal itu beberapa kali. Sampai pada baju yang menurutnya pas, yakni mini dress perpaduan brokat dan sifon tanpa lengan. Warna dasar putih, dengan bordir warna biru shappire disepanjang dada hingga perut. Dia mengangguk setuju saat menempelkannya di tubuh bosnya. “Pakai ini”, ucapnya kemudian.

“Ini terlalu berlebihan”, jawab Soah. Dia tetap mengambil dress itu. Kemudian mendudukan dirinya di lantai. “Kenapa aku harus repot-repot mempersiapkan diri seperti ini. Ck, menyebalkan”, keluhnya.

“Hei, jangan marah. Ini untuk kebaikanmu. Kesan pertama itu yang paling penting. Setidaknya kau harus menjaga nama baik bibimu”, jelas sekretarisnya. Dia kini ikut berjongkok di hadapan bosnya. “Ayo berdiri!”, perintahnya. Dia juga memegang lengan bosnya untuk membantunya berdiri. “Kau harus cepat memakainya, nanti kau terlambat”, ucap sekretarisnya lagi.

Dengan malas Soah berdiri. Itupun dibantu oleh sekretarisnya. Dengan malas pula dia berjalan keluar.

“Cepat ya. Aku akan memilih heels untukmu”, ucap sekretarisnya kembali.

Soah tidak merespon. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi. Seharian ini, banyak hal yang membuatnya kesal. Owh, kenapa di unjung haripun dia masih mengalami hal yang membuatnya kesal. Dia menutup keras pintu kamar mandinya sebagai ungkapan rasa kesalnya.

Butuh waktu tiga menit hingga pintu kamar mandi itu terbuka. Gadis itu semakin cantik dengan dress yang pas di tubuhnya. Pilihan sekretarisnya memang tak salah.

Sekretarisnya tersenyum melihat bosnya sudah siap dengan dressnya. Dia lalu berjalan menghampirinya. Memberikan heels yang dipilihnya. “Pakai ini”.

Dengan malas Soah memakai heels tujuh senti itu. Dia membuang muka kala sekretarisnya melihat penampilannya.

“Hei, hei. Kau tidak boleh memasang wajah seperti itu. Tersenyumlah!”, perintah sekretarisnya. Dia juga mengangkat wajah Soah agar mau menatapnya.

Soah melebarkan bibirnya, memasang senyum meski terkesan terpaksa. “Kau puas!”, ucapnya sedikit berteriak.

“Kau harus tersenyum nanti pada mereka. Jangan pasang wajah kesalmu. Kau tak ingin mempermalukan bibimu kan!”, sekretarisnya kembali bersuara. Entah sudah berapa banyak nasihat yang diucapkannya.

“Iya, iya. Aku tahu”, jawab Soah. Dia berjalan mengambil blazernya. Memakainya, sebelum mengambil tas dan ponselnya. “Aku berangkat dulu”, lanjutnya.

“Aku akan mengantarmu”, tawar sekretarisnya.

“Tidak perlu”, bantah Soah.

“Aku harus memastikan jika kau benar-benar pergi ke rumah bibimu. Setidaknya itu yang dikatakan bibimu”, jelas sekretarisnya.

Soah memutar malas bola matanya. “Terserahlah!”, dia berjalan cepat meninggalkan kamarnya.

Sekretarisnya tersenyum menatap punggung bosnya. Dia mengambil ponsel, tas, serta kunci mobil sebelum menyusul bosnya.

-o0o-

“Kau tak ingin mampir!”, tanya Soah setelah sekretarisnya mematikan mesin mobilnya.

“Tidak perlu. Aku tak ingin mengganggu kalian”, jawab sekretarisnya.

“Ya sudah. Terima kasih sudah mengantarku”, ucapnya lagi. Dia membuka pintu mobil sekretarisnya.

“Bersenang-senanglah. Semoga saja dia bukan duda. Hahaha….”, ucap sekretarisnya sebelum bosnya benar-benar menutup pintu. Suara tawa juga terdengar setelahnya.

Mwo?”, ucap Soah kaget. Dia yang berniat menutup pintu mobil sekretarisnya, kembali membukanya. Tatapan tajam ia layangkan ke sekretarisnya.

Sekretarisnya hanya tersenyum menanggapinya. Dia hanya sedang menggoda bosnya. Itu adalah hal menarik yang sering ia lakukan. “Masuklah! Bibimu pasti sudah menunggu”, ucapnya kemudian.

Soah mendengus kesal. Dia kembali menutup pintu mobil sekretarisnya. Jika tadi dia berniat menutupnya dengan lembut, kali ini tidak. Dia menutupnya dengan sedikit kasar. Tak heran jika terdengar keras saat pintu itu tertutup.

Sekretarisnya melambaikan tangan sebelum menyalakan kembali mesin mobilnya.

Soah tak membalasnya. Tangannya justru bergerak sebagai tanda pengusiran. Dia masih kesal dengan sekretarisnya karena gadis itu selalu berhasil menggodanya.

Setelah memastikan mobil sekretarisnya tak terlihat, dia membalikkan badannya bersiap memasuki rumah bibinya. Sudah lama dia tak berkunjung ke rumah itu. Kalau diingat-ingat mungkin sekitar sembilan tahun lalu. Ya, saat dia masih menginjak di bangku SMP.

Rumah itu masih sama seperti terakhir diingatnya. Rumah bergaya eropa klasik berlantai dua dengan dominasi warna coklat kayu. Tamannya di dominasi oleh pohon sakura, bunga mawar dan cemara. Rumah yang menjadi sejarah bagi keluarga besarnya. Ya, rumah itu adalah rumah peninggalan kakeknya. Karena bibinya belum menikah hingga sekarang, rumah itu di wariskan padanya.

Omong-omong soal keluarga besarnya, apa mereka ikut makan malam ini? Mungkinkah! Soah berfikir sejenak. Menebak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Karena memang banyak hal yang tak pernah ia harapkan akan terjadi. Seperti perjohohan yang diminta bibinya.

Katanya itu permintaan terakhir ayahnya. Bahkan ayahnya tak pernah mengatakan apapun padanya. Dia fikir jika itu hanya akal-akalan bibinya untuk membuatnya mau menikah muda. Tapi ketika dia bertanya pada paman dan bibinya yang lain, mereka membenarkannya. Dia sempat bingung waktu itu, tapi setelah dia berfikir keras dia menganggap itu hanya angin lalu. Dia mencoba menolak secara halus tiap kali bibinya membahas hal itu. Dan hal yang paling membuatnya bosan adalah, bibinya tak pernah mau memberitahu siapa pria yang akan di jodohkan dengannya.

Itulah yang membuatnya semakin keras untuk menolak perjodohan itu. Jika saja bibinya mau memberitahukannya, mungkin akan lain ceritanya. Bisa jadi dia mau menerima perjodohan yang dianggap bodoh olehnya. Sebenarnya dengan memberitahukannya lebih awal, dia bisa berkenalan dan memperdalam ikatan dengan pria itu. Sehingga saat dia diminta menikah, dia tak akan menolak. Tapi bibinya benar-benar keras kepala dan tidak suka dibantah. Mungkin itulah mengapa tak ada pria yang ingin menikahi bibinya itu.

“Astaga, apa yang aku fikirkan!”, ucap Soah. Dia menggelengkan kepalanya, menepis semua pemikiran buruk tentang bibinya. Dia harus segera masuk agar pemikiran buruk itu tidak datang kembali.

Soah berniat membuka pintu, namun tanpa diduganya pintu itu sudah terbuka dengn sendirinya. Dia disambut oleh pelayan setia di keluarga besarnya, Kang ahjumma. Wanita paruh baya itu tersenyum setelah membungkuk hormat. “Selamat datang aghassi”, sapanya.

Soah tersenyum. Wanita paruh baya di hadapannya masih ramah seperti terakhir diingatnya. Senyum menawannya juga masih sama. Meski sekarang garis-garis kerutan di wajahnya sudah terlihat, namun tak mengurangi kadar kecantikannya. Apalagi saat terlihat cekungan kecil di pipi kirinya saat beliau tersenyum, membuat siapapun akan terpukau.

“Iya. Lama tak bertemu Kang ahjumma. Bagaimana kabar anda?”, tanya Soah sopan. Dia mencoba berbasa-basi dengan wanita yang dulu pernah mengasuhnya. Senyum tulus juga ditunjukannya. Dia cukup merindukan wanita ini. Apalagi jika menyangkut tentang makanan, dia tak akan pernah bisa berhenti makan jika tidak ada yang namanya kenyang. Ya, masakan wanita itu memang yang terbaik. Dua jempol bahkan tak cukup untuk memberikan penghargaan pada masakan wanita itu.

“Saya, baik seperti yang anda lihat. Bagaimana dengan anda aghassi? Lama tak melihat anda. Anda terlihat semakin cantik saja”, jelas wanita paruh baya itu.

Seketika pipi Soah merona mendengarnya. Dia juga tersenyum lebar setelahnya. “Ahjumma bisa saja”, ucapnya sedikit malu. “Aku juga baik seperti yang anda lihat”, lanjutnya. Soah berjalan mendekati wanita paruh baya itu. Dia kemudian berbisik, “Apa samcheon dan Sera imo datang?”.

“Iya. Mereka sudah menunggu anda, mari saya antarkan”, ucap wanita paruh baya itu kembali.

Dengan sedikit berat, dia mengikuti langkah wanita itu. Sepanjang perjalannya, dia selalu berharap semoga makan malam nanti tidak sesuai dengan apa yang para orang tua itu rencanakan. Jika memang pada akhirnya dia harus menikah dengan pria itu, setidaknya dia berharap jika pria itu bukan seorang idol. Ya, semoga saja. Karena menurutnya akan sangat merepotkan nantinya. Apalagi jika dia harus berhadapan dengan penggemar fanatiknya. Soah tak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya.

Tapi kemungkinan itu cukup besar, mengingat ayahnya dulu juga seorang pianis terkenal. Ditambah lagi keluarganya juga pemilik salah satu agensi artis cukup terkenal di negaranya. Bukan, lebih tepatnya pemegang saham tertinggi. Karena memang pendiri agensi ini adalah suami dari bibinya. Tapi tetap saja, ayahnya juga ikut andil besar dalam pendiriannya.

Soah menghentikan langkahnya kala melihat foto besar yang tergantung indah di lorong dinding menuju ruang keluarga. Foto keluarga besarnya. Di tengah-tengah duduk kakek dan neneknya. Di samping kakeknya adalah putri kedua dari bibinya. Lalu di samping neneknya adalah dia. Yang duduk di bawah kakek dan neneknya adalah kakak laki-lakinya serta putra pertama dari pamannya. Yang berdiri di belakang kakeknya, dari kanan pamannya, istrinya, bibi keduanya, ibunya dan terakhir adalah ayahnya. Foto itu diambil ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Soah ikut tersenyum menatap foto tersebut. Dia jadi teringat bagaimana kebahagiaan keluarganya kala itu. Kebahagiaan memiliki keluarga utuh. Ya, dia memang pernah merasakan bagaimana memiliki seorang ayah yang bertanggung jawab penuh terhadap keluarga. Memiliki ibu yang penuh dengan kasih sayang. Serta memiliki kakak laki-laki yang baik dan sangat perhatian.

Berbicara sedikit tentang keluarga Soah, dia merupakan anak kedua dari pasangan Kim Joon dan juga Lee Sena. Kim Joon adalah putra pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya perempuan bernama Kim Sera dan Kim Nara. Kim Joon sendiri adalah pianis terkenal di masa mudanya dulu. Bahkan setelah menikahpun kepopulerannya tak berkurang. Lee Sena adalah seorang pelukis. Meski dia tak seterkenal suaminya, tapi namanya juga cukup populer di kalangan pecinta seni.

Kakak laki-lakinya mengikuti jejak sang ayah. Dia juga menjadi pianis sejak dia duduk di bangku SMP. Dia mendapat beasiswa ke Amerika setelah lulus dari SMA. Dari situlah mereka terpisah. Keluarganya berencana pindah ke Amerika mengikuti kakaknya. Sebenarnya dia juga ikut kala itu. Tapi entah mengapa, sebelum mereka sampai di bandara Soah memilih tidak jadi ikut. Dan ajaibnya, keluarganya meingizinkan. Padahal saat itu alasannya sederhana, dia tak ingin mengingkari janji yang sudah dibuatnya.

Dari situ dia berencana tinggal di Korea bersama bibinya. Dan akan menyusul mereka setelah menyelesaikan bangku SMP-nya. Ya, saat itu dia memang masih duduk di tingkat dua SMP. Namun nasib berkata lain, sesaat setelah dia turun, mobil yang membawa keluarganya mengalami kecelakaan hingga menewaskan mereka semua. Soah sempat mengalami trauma kala itu, karena memang kecelakaan itu terjadi tepat di depan kedua matanya.

Dengan berbagai cara bibi keduanya mencoba mengobatinya. Namun tak membuahkan hasil. Sampai bibinya memutuskan memindahkannya ke luar negri. Dari situlah dia mulai berangsur sembuh meski kadang masih gemetar ketika melihat kecelakan terutama kecelakaan mobil. Dan itulah mengapa dia menjadi sangat dekat dengan bibinya. Kadang dia tak enak jika harus menolak keinginan bibinya yang satu itu. Seperti hari ini, dia tetap datang meski dengan setengah hati. Setidaknya dia tak ingin mempermalukan nama baik bibinya.

“Kau sudah datang”.

Suara itu membuyarkan semua lamunannya. Soah menoleh untuk melihat siapa yang tengah berbicara padanya, meski sebenarnya dia sudah sangat menghafal siapa pemilik suara itu. Dia tersenyum kikuk sebelum menjawab. Ya, ini karena bibinya menatap heran padanya. Ditambah pandangan menelisik dari atas sampai bawah yang bibinya lakukan. “Iya. Imo bilang aku tidak boleh terlambat kan”.

Bibinya tersenyum. Tatapan aneh masih iya layangkan pada keponakannya yang satu itu. Dia tak menyangka jika keponakannya itu akan menuruti keinginannya. Padahal biasanya gadis itu akan membangkang jika menyangkut tentang perjodohan yang dilakukannya. Sebenarnya dia tahu jika itu kali pertama keponakannya menolak permintaannya. Tapi dia mencoba menutup mata, dengan bersi keras melanjutkannya. Dia tak punya pilihan, karena memang itu amanat terakhir kakak laki-lakinya.

“Kenapa imo menatapku seperti itu?”, Soah bersuara kembali. Dia cukup risih dengan tatapan bibinya.

Bibinya kembali tersenyum. “Bukan apa-apa. Masuklah! Sera eonni sudah menunggu”, jelas bibinya.

Soah berjalan cepat melewati bibinya. Dia berencana berjalan mendahuluinya. Tapi justru yang terjadi diluar rencananya. Bibinya berjalan berlawanan arah dengannya. Dia berhenti dan menoleh untuk bertanya. “Imo mau kemana?”, tanyanya penasaran.

Bibinya menghentikan langkahnya. “Ada beberapa hal yang perlu ku urus sebelum mereka datang”, jelasnya.

Soah berdecak sebal. “Ya sudah”, ucapnya kemudian. Dia kembali meneruskan langkahnya. Namun baru dua langkah dia berhenti mendengar bibinya bersuara.

“Kau tahu….”, bibinya menggantungkan kalimatnya.

Soah menoleh untuk mendengarkan lanjutan perkataan bibinya. “Apa?”, tanyanya karena bibinya lama tak bersuara.

“……..kau terlihat sangat cantik hari ini”, lanjut bibinya.

Soah memutar malas bola matanya. Dia fikir jika terjadi sesuatu, nyatanya hanya mendengar omongan tak penting dari bibinya. Dia kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan bibinya yang masih menatap aneh padanya.

“Dia pasti akan menyukaimu”.

Soah masih mendengar suara bibinya. Hanya saja dia mencoba berpura-pura tak mendengarnya. Dia malas jika menyangkut satu hal itu. Perjodohan! Dia tersenyum miring mengingat kata itu.

Soah tersenyum melihat paman dan bibinya meminum teh di ruang keluarga. Dia sedikit merindukan kedua orang itu. Semenjak dia kembali ke Korea enam bulan lalu, dia belum sekalipun mengunjungi mereka secara resmi. Hanya beberapa kali bertemu secara tak sengaja.

Imo”, sapanya diselingi senyum khasnya. Dia berjalan cepat menghampirinya. Kemudian mendudukan dirinya tepat di samping kanan bibinya.

Bibinya yang masih memegang cangkir sedikit terkejut. Jika keseimbangannya goyah, mungkin cangkir itu sudah tak berbentuk. Karena memang Soah datang secara tiba-tiba. Bibinya bersuara setelah dia meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. “Halo sayang, bagaimana kabarmu?”. Bibinya masih menatap dari atas ampai bawah penampilan keponakannya. “Kau terlihat lebih cantik hari ini”, ucap bibinya kembali bahkan sebelum sempat Soah bersuara.

Soah tertunduk malu. Pipinya juga sedikit merona. Entah mengapa efek pujian bibinya yang satu itu cukup berdampak baginya. Ya, bibinya yang satu itu memang terkenal ramah. Dia begitu menghormatinya. Bahkan bibinya yang satu itu masuk dalam daftar wanita favoritnya setelah ibunya. “Imo bisa saja”, ucapnya kemudian masih dengan pipi yang merona. “Aku baik seperti yang imo lihat”, lanjutnya. “Imo juga. Semakin hari semakin terlihat cantik. Pantas saja samcheon betah di rumah”, imbuhnya lagi. Dia melirik pamannya sekilas.

Pamannya yang tengah menyesap kopi dari cangkirnya tersenyum. Hanya tersenyum, dia tak ada niatan untuk menanggapi perkataan keponakannya.

“Kau ini ada-ada saja”, ucap bibinya kemudian yang diselingi senyum manisnya.

“Apa mereka tidak ikut?”, tanya Soah. Dia menoleh kesana kemari mencari seseorang. Lebih tepatnya orang yang dipanggil mereka olehnya.

“Tidak. Mereka sedang sibuk”, jawab bibinya ramah.

“Sok sibuk”, ucap pamannya menanggapi perkataan istrinya.

“Maksud samcheon?”, Soah bertanya karena tak paham.

“Kau seperti tak mengenal mereka. Hyunjoon bilang ada meeting penting, padahal sebenarnya dia pergi ke club untuk merayakan ulang tahun temannya. Bona, kau tahu sendiri bagaimana dia. Dia lebih memilih pergi bersama kekasihnya, meskipun dia tahu jika akan ada makan malam keluarga”, jelas pamannya panjang lebar.

Yeobo, kenapa kau berbicara seperti itu?”, tegur istrinya.

Soah tertawa. Ya, dia cukup hafal watak kedua sepupunya itu. Biasalah, jiwa-jiwa anak orang kaya. Selalu seenaknya dan tak suka diatur.

“Itu karena kau sering memanjakan mereka”, ucap pamannya kembali. Tapi kali ini dia tunjukan pada istrinya.

“Apa?”, ucap bibinya kembali. Nada bicaranya juga sedikit tinggi.

Dan entah siapa yang memulai, mereka terlibat perdebatan kecil sepasang suami istri. Soah hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka. Sepertinya dia menikmatinya. Dia juga tak berniat menghentikannya. Dia jadi teringat dengan kedua orang tuanya. Mereka juga sering berdebat, namun pada akhirnya mereka saling memaafkan satu sama lain. Katanya tidak seru jika tidak ada perdebatan.

Soah tak tahu itu, karena memang dia belum pernah mengalaminya. Mungkin sebentar lagi. Owh, apa yang difikirkannya? Apa dia sedang berharap jika pernikahannya benar-benar terjadi? Tidak-tidak, dia tidak boleh memikirkan itu. Bagaimanapun keadaannya nanti, dia harus menolaknya. Ya, harus. Dia tidak ingin terjebak pada perjodohan bodoh itu.

“Kau kenapa?”, bibinya tiba-tiba bersuara. Ya, bibinya sudah sedari tadi diam dari perdebatannya. Dia heran mengapa keponakannya diam. Pandangannya kosong. Bahkan dia menggelengkan kepalanya sendiri tanpa sebab.

Soah tersentak kaget. Dia terbangun dari lamunannya. Dia mengusap tengkuknya menahan malu. Dia ketahuan melamun. “Aku baik-baik saja”, ucapnya yang diselingi senyum canggungnya. Dia berdiri dan pamit ke kamar mandi untuk mengurangi rasa malunya.

-o0o-

Makan malam itu terjadi begitu khidmat. Mereka terdiam menikmati segala makanan yang tersaji di meja. Tapi lain menurut Soah. Makan malam itu begitu membosankan. Dia ingin segera lari dari tempat itu, hanya saja dia mencoba menahan diri untuk menjaga nama baik keluarganya. Dia berkali-kali melirik jam dinding ruang makan tersebut, namun waktu seolah berjalan dengan lambat.

Dia juga sesekali melirik ke arah laki-laki yang katanya akan dijodohkan dengannya. Dia menggerutu dalam hati. Kenapa dari semua pria yang ada di negaranya harus pria itu?

Jika saja bukan pria itu, akan lain ceritanya. Ya, sebenarnya dia ingin menerima perjodohan ini setelah mendapat ceramah panjang kali lebar dari bibi pertamanya. Tapi sepertinya dia harus berfikir ulang, mengingat siapa pria yang akan dijodohkan dengannya.

Semua harapannya sebelum memasuki rumah bibinya tidak terwujud. Semuanya sesuai yang para orang tua itu rencanakan. Bahkan pria itu terlihat enjoy dengan obrolan orang tuanya. Seolah dia sudah tahu tentang perjodohan itu. Atau mungkin dia memang benar-benar sudah tahu. Entahlah, Soah tak mau ambil pusing memikirkannya.

Tapi kalau dipikir-pikir ini cukup aneh. Pria itu tak ada niatan membantah sama sekali. Dia hanya mengangguk, tersenyum, atau bilang ‘Itu terserah kalian saja’ saat dimintai pendapat. Apa dia pikir ini hanya lelucon? Ini tentang komitmen seumur hidup. Bagaimana bisa dia dengan tenangnya menanggapi semua ini? Apa dia tak memikirkan masa depannya? Bagaimana dengan karirnya selanjutnya? Dia sudah sejauh ini menintih karir, apa dia tak takut kehilangan?

Berbagai pemikiran berkecamuk dikepala Soah, hingga membuatnya terlihat seperti sedang melamun. Karena memang tangannya berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya. Mulutnya juga berhenti mengunyah.

“Kenapa? Apa makanannya tidak enak?”, tanya bibi keduanya. Dia juga menyiku pelan lengan Soah.

Soah menggeleng cepat. Dia tak ingin menjadi pusat perhatian. Karena memang dia masih sadar. Dia tidak sedang melamun. Hanya terlihat seperti sedang melamun. “Ini enak. Hanya saja rasanya aneh. Aku belum pernah memakan ini sebelumnya”, jelasnya meyakinkan. Dia tak ingin menyinggung perasaan bibinya. Ya, dia tahu jika bibi keduanyalah yang memasak itu semua. Dia bisa menebak hanya dengan mencium bau masakan yang tersaji.

“Ini memang resep baru. Aku menambahkan ……”, bibinya belum selesai bicara, Soah sudah menyelanya.

“Kacang”, ucapnya cepat setelah menelan makanannya. Sial, kenapa dia baru sadar jika makanan itu mengandung kacang. Ini tidak akan baik untuk dirinya.

“Kacang”, Sera yang tak lain adalah bibi pertama Soah mengulang kata yang sama. Raut wajahnya menunjukan keterkejutannya. “Kenapa kau tak bilang Nara? Kau lupa jika Soah alergi kacang”, ucapnya kembali dengan nada khas menasehati. “Kau tak apa-apakan sayang?”, pertanyaan itu ia tujukan pada Soah.

“Astaga, aku lupa. Maafkan aku. Kau baik-baik sajakan?”, tanya Nara yang merupakan bibi kedua Soah.

Semua mata kini tertuju pada Soah. Mereka menatapnya dengan tatapan khawatir. Takut jika alerginya bereaksi cepat.

Soah yang mendapat tatapan penuh khawatir hanya bisa mengangguk. Dia mencoba meyakinkan semua orang jika dirinya baik-baik saja. Hanya sedikit yang dia makan, pasti tidak akan mempengaruhinya.

“Kau yakin?”, tanya Sera kembali. Raut cemas masih menghiasi wajahnya. Ya, bukan tanpa alasan dia masih memasang raut khawatirnya. Dia tahu jika keponakannya yang satu itu punya alergi parah terhadap kacang.

Soah kembali mengangguk. “Iya imo. Aku baik-baik saja. Aku hanya makan sedikit, jadi tidak akan memp….”, belum sempat Soah melanjutkan kalimatnya rasa mual sudah menyelimutinya. Dia membungkam mulutnya sendiri. Berdiri kemudian dan berjalan secepat yang dia bisa. Mencari tempat yang pas untuk mengeluarkan isi perutnya.

“Soah-ya”, teriak Sera. Pandangannya mengikuti arah keponakannya pergi. “Aku akan menyusulnya”, pamitnya. Belum sempat dia berdiri, dia mendengar kursi bergeser.

Pria yang akan dijodohkan dengan keponakannya berdiri. “Biar aku saja yang menyusulnya ahjumma”, ucap pria itu. Entah ia dapat inisiatif darimana, dia bisa mengatakan hal itu.

Tanpa pikir panjang Sera mengiyakannya. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi keponakannya.

Pria itu berjalan cepat menyusul Soah. Dia melihat kesana kemari mencari keberadaan gadis itu. Dia mendengar suara dari arah dapur. Dia kembali berjalan cepat ke arah suara. Dia bisa melihat gadis itu sedang menundukan kepalanya ke arah westafel. Sepertinya gadis itu sedang mual. Benar saja, dia bisa melihat gadis itu mencoba mengeluarkan isi perutnya. Namun nihil, tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya.

Pria itu memijat pelan tengkuk gadis itu. Dia mencoba membantunya. Dia merasa sedikit khawatir. Karena memang dia bisa melihat jelas jika gadis itu tengah menahan sakit. Sakit karena tak berhasil mengeluarkan isi perutnya. “Kau baik-baik saja”, ucapnya. Dia masih memijat pelan tengkuk Soah.

Soah masih tak bergeming. Dia masih sibuk dengan rasa mual yang mendatanginya. Bukannya dia tak mendengar atau tak ingin menjawab, hanya saja keadaan yang memaksanya. Rasa mualnya masih sangat kuat. Dia bahkan harus memegang pinggiran westafel untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Butuh sekitar lima menit untuk membuat rasa mual itu berkurang. Belum hilang, hanya sudah tak sekuat sebelumnya. Dia menyalakan keran dan mencuci mulutnya. Dia mendongakkan kepalanya, mengangguk kemudian sebelum menjawab. “Iya. Aku sudah lebih baik”.

Pria itu melepas tangannya. Dia melihat wajah gadis itu sedikit memucat. Keringat dingin juga muncul di sepanjang kening gadis itu. “Kau yakin!”, tanyanya kembali.

Soah hanya bisa mengangguk. Tubuhnya sedikit lemas. Dia masih berpegangan pada westafel untuk menjaga keseimbangannya. “Terima kasih, sudah membantuku Chanyeol-ssi”, ucapnya pelan namun masih bisa di dengar pria itu.

“Tidak masalah”, ucap pria itu.

“Kita harus kembali ke meja makan”, ucap Soah kembali. Dia berjalan mendahului pria itu. Tapi langkahnya terlihat tidak seimbang. Ya, setelah rasa mualnya berkurang, pusing kini datang menghampirinya. Pandangannya sedikit memburam. Semakin buram hingga membuat tubuhnya jatuh. Dia masih merasakan jika tubuhnya ditangkap seseorang. Suara teriakan memanggil namanya juga masih dia dengar. Namun semakin lama semakin kecil suara itu, hingga tak terdengar lagi dan semuanya menjadi gelap.

to be continue…..

Hai, saya kembali lagi dengan chapter 2. Maaf baru bisa update. Ada sedikit masalah di kehidupan nyata. Aku tak bisa menjelaskannya. Tapi syukurlah sudah terselesaikan.

Gimana menurut kalian?

Jangan lupa tinggalakn jejaknya ya.

29 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 2)”

    1. Bang Chan memang baik kan…….
      Itu mah kamu, kalau mbak Soah-nya kan gk…… 😬😬😬

    1. Padahal niatnya gk bikin orang baper di chapter ini…
      Ya udah gak pa pa…

      Ditunggu saja ya…..
      Fighthing…..

  1. keren nih smoga jauh lebih keren dari yang season 1 ya..update nya jangan lama lama dong thor kalo bisa satu minggu sekali..kkk

    1. Terima kasih…. 😊😊😊
      Iya semoga saja…

      Pengennya jg gitu, update seminggu sekali…
      Saya usahakan ya, saya gk janji tapi….

  2. omo chanie oppa perhatian bgt sich,, oh ya jangan” chan oppa udah tau mau d jodohin sm soah makanya dua deketin soah pas d club, iy g’ sich,
    cepetan ya thor lanjutannya,,fighting???

    1. Bang chan kan emang slalu perhatian #hihihi….
      Aku gk bakalan kasih tahu ya, biar penasaran….
      Terima kasih sudah nyempetin baca,
      Jangan bosan menunggu….

    1. Iya, pasti dilanjut kok….
      Ditunggu saja ya…
      Terima kasih…. 😄😄😄

      aq gk punya ff yg judulnya MEMORY lho….
      Ff ku yg lain judulnya PROMISE (약석) castnya jg bang chanyeol…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s