SPRINGFLAKES – Slice #10 — IRISH’s Tale

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s Baekhyun & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, action, fantasy, romance, life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © IRISH Art & Story all rights reserved

— time slipped in spring, dream trapped in winter —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5Slice #6Slice #7Slice #8Slice #9 〈〈

 Slice #10

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Pangeran!” Chunhee sontak memekik, dibaliknya tubuh sementara dia menatap Baekhyun tidak mengerti. Pasti gadis itu bertanya-tanya tentang keadaan yang dia hadapi sekarang.

Menghadapi keterkejutan yang terpasang di wajah Chunhee, Baekhyun justru menyunggikan sebuah senyum simpul.

“Apa yang sudah terjad—”

“—Kalau kau membutuhkan darah, katakan padaku, Chunhee-ah.”

“Darah?” ulang Chunhee tidak mengerti. Baekhyun baru saja hendak menjelaskan apa yang terjadi pada Chunhee ketika didengarnya suara langkah mendekat.

Tanpa menunggu ketukan di pintu ruangannya, Baekhyun segera melangkah mendekati pintu dan membukanya, menyambut kedatangan Hanbin dan Chanwoo yang sekarang tampak begitu terkejut karena kemunculan Baekhyun di sana.

“Kami hanya ingin tahu keadaan Chunhee.” Chanwoo yang pertama kali bersuara begitu Baekhyun melemparkan pandang penuh tanya padanya. Baekhyun sendiri berbalik, dan betapa terkejutnya pemuda itu begitu bayangannya mengenai Chunhee yang telah tersadar dan tadi menyambutnya dengan pandangan bingung sekarang telah lenyap.

Dia hanya berhalusinasi tentang kesadaran Chunhee. Berlawanan dengan harapannya, keadaan Chunhee sekarang justru bisa dikatakan cukup ‘mengerikan’ mengingat bahwa keadaan fisik Chunhee masih belum sempurna.

Jadi, lekas Baekhyun sembunyikan tubuh Chunhee dengan melangkah keluar dari ruangannya dan dia tutup pintu ruangan tersebut.

“Keadaannya masih sangat buruk. Sebaiknya kalian tidak melihat Chunhee dulu.” ujar Baekhyun kemudian. Hanbin jadi orang pertama yang menunjukkan respon berarti. Pria itu menarik dan mengembuskan nafas panjang, tak tahu harus berkata apa jika sudah menghadapi situasi semacam ini.

“Lalu kami hanya bisa menunggunya?” tanya Hanbin kemudian.

Baekhyun, terdiam sejenak sebelum dia akhirnya menatap dua orang manusia itu bergiliran.

“Aku akan menemui Klan yang sudah berbuat ulah pada Chunhee. Sebaiknya kalian berdua menjaga tempat ini selama aku tidak ada. Separuh kehidupanku ada pada Chunhee, sekarang dia bukan lagi manusia melainkan seorang manusia yang telah berbagi kehidupan denganku.

“Kepergianku selama sementara tidak akan disadari bangsaku yang lain karena auraku ada pada Chunhee juga. Jadi, pastikan tidak ada satupun dari mereka yang tahu tentang kepergianku.”

Mendengar ucapan Baekhyun, Chanwoo segera tergeragap. “Aku akan ikut denganmu.” ujarnya disahuti Baekhyun dengan sebuah gelengan. “Tidak, Chanwoo. Kau harus di sini, tugasmu adalah menjaga Chunhee, juga temanmu ini.” kata Baekhyun sambil melirik ke arah Hanbin.

Hanbin sendiri hanya mendengus pelan. “Omong kosong. Aku mampu menjaga diriku sendiri, kau tahu.” katanya, tapi diam-diam senyum samar juga muncul di wajah Hanbin. Setidaknya, dia tahu kalau pimpinan vampire yang ada di hadapannya ini tidak lagi berusaha menyulitkan kehidupan bangsanya.

“Apa yang akan kau lakukan di sana?” tak ayal Hanbin merasa penasaran juga.

“Menyelesaikan perang ini. Seharusnya, aku di sana bersama Chunhee, tapi tidak masalah. Aku sudah cukup mahir menghadapi vampire penyerang. Di antara belasan pimpinan Klan yang menguasai bumi ini dan memperbudak manusia, aku satu-satunya vampire berdarah murni yang masih punya kuasa untuk memberi mereka kutukan.

“Jika kekuatanku berhasil kubangkitkan saat berhadapan dengan mereka… aku mungkin bisa menghentikan penyerangan mereka pada istana ini. Setidaknya, sampai beberapa puluh tahun ke depan kalian bisa hidup dengan nyaman.”

Penjelasan Baekhyun berhasil membuat Hanbin terdiam. Sungguh, dia tak pernah berusaha untuk mengenal vampire di hadapannya ini. Dan mendengar penuturan Baekhyun juga tujuan pemuda itu sekarang entah mengapa membuat Hanbin memahami situasi yang mengikat Chunhee.

Dia tahu, Chunhee tak pernah mengambil keputusan bodoh dengan mengabdikan diri pada vampire. Chunhee, telah mengabdikan dirinya pada vampire yang menjanjikan sebuah perdamaian.

“Terima kasih,” Chanwoo menoleh ke arah Hanbin begitu didengarnya Hanbin berkata, tidak habis pikir Chanwoo, tentang alasan di balik kata terima kasih yang baru saja Hanbin ucapkan.

Tapi, Baekhyun rupanya paham benar. Terbukti dengan bagaimana dia sekarang mengangguk pelan dan menyunggingkan sebuah senyum.

“Sama-sama. Pastikan Chunhee baik-baik saja di sini, jika dia terbangun, kalian harus mengawasi setiap gerak-gerik yang dia lakukan.”

Hanbin mengangguk mantap.

“Pasti. Kau bisa percayakan itu padaku, Pangeran.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baekhyun sudah lupa, kapan terakhir kali dia menginjakkan kaki di pelataran penuh mawar hitam berduri milik seorang teman lama yang sekarang statusnya telah berubah menjadi musuh itu.

Dia bahkan tak lagi ingin mengingat, alasan yang membuatnya mengibarkan bendera perang pada sang teman lama. Seorang teman yang sudah dikenalnya sejak pertama kali Baekhyun mendapatkan status sebagai pimpinan klan berdarah murni. Tapi, sekali lagi menginjakkan kaki di pelataran berduri itu membuat batin Baekhyun tersikut.

Dia ingat benar, apa yang dulu telah menghancurkannya, membuatnya terbuang ke sudut terjauh bumi dan berakhir dengan menguasai wilayah kecil di sudut kota yang dahulu disebut sebagai Seoul.

“Lama tidak bertemu, Baekhyun.” Baekhyun menengadahkan pandangnya ketika ia dengar sebuah suara familiar—suara yang sebenarnya sudah hampir satu abad ini tidak didengarnya—masuk ke dalam rungu.

Terlihat, seorang pimpinan vampire bertubuh jangkung dengan wajah bengis berdiri di lantai dua istananya, menatap ke arah Baekhyun dengan sebuah senyum sarkatis terpasang di wajah sementara di sisinya berdiri seorang gadis berparas sempurna yang menatap tanpa ekspresi.

“Lama tidak berjumpa, Park Chanyeol.” katanya, langkah Baekhyun terhenti saat dia dihadang oleh dua orang prajurit di tepi kiri kanan pintu masuk istana.

Bukannya Baekhyun takut, tapi dia kenal benar siapa salah satu pengawal itu. Dari sisa aura yang ada di tubuh prajurit itu, Baekhyun menangkap sisa aura kehidupan Chunhee.

“Kau pasti Song Yunhyeong.” kata Baekhyun, ia lepaskan penutup kepala dari jubah gelap yang dia kenakan, dipandanginya dingin sosok Song Yunhyeong yang sekarang menatap terkejut.

Sepasang manik Baekhyun pun turut berubah warna, likuid merah seolah memenuhi kedua bola matanya sekarang, sehingga siapapun yang melihat keadaan Baekhyun jelas akan tahu kalau dia adalah seorang monster.

Ya, kedua manik gelapnya sekarang berubah merah kelam, merah kelam sepenuhnya, dengan noktah kehitaman di tengahnya. Kulit pucat Baekhyun pun turut beradaptasi pada keadaan yang dicipta wilayah musuhnya.

Dari telapak tangan pucat Baekhyun saja sudah jelas terlihat bagaimana kulit pemuda itu mengelupas, menyisakan jaringan kulit baru yang kasar, tajam, dan mengerikan, seolah bersisik.

Baekhyun tak pernah berubah menjadi wujud aslinya dengan proses selambat ini. Tapi berubah dengan cepat hanya akan membuat Baekhyun kehilangan kontrol atas emosinya, dan dia tidak ingin hal itu terjadi.

“Oh, kulihat kau ternyata punya masalah dengan prajurit rendahan istanaku. Ada apa gerangan? Masalah apa yang sudah prajuritku buat sampai seorang Pangeran datang ke tempat ini untuk membalaskan dendam?” bersikap seolah tidak tahu apa-apa, Chanyeol berkelakar.

Dia sekarang dengan tenang melangkah turun dari lantai dua istananya, diikuti si gadis berparas sempurna yang mengekor bak seorang budak di belakangnya, sementara dengan angkuh Chanyeol berdiri di antara Baekhyun dan Yunhyeong.

“Kau sudah tahu, Chanyeol, kau yang memerintahkannya untuk mengacau di tempat tinggalku.” kata Baekhyun dengan nada dingin, kulit wajah pemuda itu sekarang mengelupas, menampakkan kulit pucat asli miliknya dalam wujud monster.

Ugh, ayolah Baekhyun.” Chanyeol terkekeh pelan, “…, kau tahu aku tidak bisa berubah menjadi sepertimu karena aku bukan keturunan vampire murni. Tapi kau juga tidak perlu pamer begitu kepadaku. Mari kita bicara baik-baik.” kata Chanyeol berusaha bernegosiasi.

Baekhyun, menatap ke arah si gadis di belakang Chanyeol sekilas sebelum dia menyunggingkan senyum sarkatis.

“Kau bahkan sengaja membangunkannya dari kematian hanya untuk menyambut kedatanganku. Aku sungguh merasa telah menjadi tamu spesial.” kata Baekhyun, menyadari jika noktah memar samar yang ada di permukaan kulit si gadis jelas merupakan pertanda bahwa gadis itu telah lama mati dan tubuhnya dibiarkan membeku dengan menggunakan racun yang vampire miliki.

Dengan memberi tubuh mati manusia itu darah, tubuh itu akan terbangun dan hidup sementara waktu, tapi yang bisa dia lakukan hanya mengikuti pemilik darah yang ada di dalam tubuhnya saja. Seperti keadaan gadis itu sekarang.

“Mengapa? Bukankah kau merindukannya? Atau, kau ingin membawanya kembali ke istanamu supaya kalian berdua bisa merajut cinta yang panas?” pertanyaan Chanyeol sekarang berhasil memancing amarah Baekhyun.

Rupanya, Chanyeol memang sudah menduga hal ini akan terjadi. Dia sudah tahu Baekhyun akan datang, dan dengan sengaja dia membuat penyambutan dengan menaruh Yunhyeong di garda depan pertahanannya, lantas membangunkan si gadis yang mati untuk membangkitkan kenangan buruk yang selama satu abad berusaha Baekhyun tenggelamkan dari memori.

Sekuat tenaga, Baekhyun tekan keinginannya untuk menyerang Chanyeol. Ia ingatkan dirinya tentang keadaan Chunhee yang sekarang terbaring tidak berdaya, dan dia ingatkan dirinya kalau tujuannya datang ke tempat ini adalah untuk meluapkan kemarahannya pada sosok yang menghancurkan Chunhee.

Itu saja.

“Aku menginginkannya.” kata Baekhyun.

“Siapa? Ah, wanitamu? Kau menginginkannya kembali?” kata Chanyeol, ditariknya lengan si gadis berkulit pucat sementara Baekhyun bahkan enggan menatap wajah si gadis, takut jika memorinya tentang si gadis akan kembali lagi.

“Bukan, aku menginginkan Song Yunhyeong.” kata Baekhyun, tegas.

Sebuah tawa lolos dari bibir Chanyeol. Tapi dia kemudian melangkah ke samping, memberi ruang bagi Baekhyun untuk beradu pandang dengan Yunhyeong yang sekarang bahkan tidak tampak takut sedikit pun padanya.

“Kau telah melukai kehidupanku.” kata Baekhyun.

Chanyeol menyernyit mendengar ucapan Baekhyun. Dia sudah akan bersuara saat dilihatnya bagaimana tangan kanan Baekhyun terulur ke udara kosong di depannya, hal yang membuat Yunhyeong tiba-tiba saja mengerang kesakitan.

Pria itu tercekik.

“Kehidupanmu? Apa yang sekarang kau bicarakan? Peraturan kita sudah jelas, bukan? Kita diperbolehkan untuk merebut manusia di wilayah vampire lain selama—argh!” perkataan Chanyeol terhenti saat tangan kiri Baekhyun bergerak pelan.

“Jangan bicara, Park Chanyeol. Aku tidak memberimu izin untuk bicara.” kata Baekhyun, tegas, penuh penekanan dan kuasa. Kalau saja yang terjebak dalam belenggunya adalah seorang manusia, bisa dipastikan manusia itu sudah mati karena kehabisan nafas.

Sayang, Chanyeol punya separuh kuasa yang sama dengan Baekhyun, sehingga tidak sulit baginya untuk melepaskan diri dari belenggu yang pemuda itu gunakan untuk membatasi pergerakannya.

“Hentikan, Baekhyun. Kau tengah memancing sebuah perang.” kata Chanyeol memperingatkan, sementara dilihatnya bagaimana Yunhyeong menahan rasa sakit, sekaligus menahan diri untuk tidak menyerang Baekhyun karena Chanyeol belum memberikan perintahnya.

Akhirnya, Baekhyun tersenyum simpul. Dia lepaskan Yunhyeong sembari melangkah mundur, menjaga jarak dengan Chanyeol sambil menatap sekelilingnya. Terlalu sepi, Baekhyun menyimpulkan.

Dan dia sudah bisa menduga dengan tepat, apa gerangan yang membuat istana Chanyeol menjadi begitu sepi.

“Peperangan, katamu? Bukankah kau sendiri yang sudah memulai peperangan di tempatku? Kau pikir, aku meninggalkan singgasanaku tanpa menyisakan pengganti untuk memimpin perang di sana?” kata Baekhyun membuat Chanyeol menyeringai.

“Kau pintar juga. Tidak salah lagi, karena kau seorang darah murni jadi kau bisa memperkirakan segalanya dengan sempurna. Kenapa? Ah, bukankah… karena kau seorang darah murni juga, kau jadi tidak mampu memiliki emosi dan perasaan seperti kami?

“Benar, kau pasti sangat kesulitan menjalani kehidupanmu, Baekhyun. Karena kau hidup tanpa emosi, tanpa perasaan, berbeda dengan kami, pimpinan lain yang berasal dari darah campuran dan masih memiliki perasaan.”

Baekhyun bergeming. Ucapan Chanyeol tidaklah salah, tapi tidak juga ingin dia benarkan. Memang, sebagai seorang vampire berdarah murni Baekhyun benar-benar tak punya perasaan, atau emosi, seperti manusia.

Sementara pimpinan lainnya adalah orang-orang seperti Chunhee, manusia terkuat yang mendapatkan separuh kehidupan vampire. Karena mereka masih memiliki emosi, tidaklah sulit untuk mendapatkan lebih dari separuh kehidupan vampire, dan merencanakan hal-hal buruk selayaknya manusia.

Baekhyun tidak seperti itu, dia berpikir dengan cara yang berbeda. Dia tahu benar, kekacauan sedang terjadi di istananya yang ia tinggalkan. Tapi Baekhyun tidak bisa marah, karena dia tak punya emosi.

Meskipun begitu, Baekhyun punya misi. Mengakhiri Chanyeol dan Klannya, untuk mengakhiri peperangan yang kali ini dia hadapi. Dia tahu, akan ada pasukan vampire lain yang berusaha merebut kuasanya, tapi Baekhyun juga tahu masa kedatangan pasukan lain itu masih setidaknya puluhan tahun lagi.

Chanyeol dan Klannya—pasukan yang selama ini Baekhyun biarkan menyerang singgasananya secara diam-diam—adalah masalah utama sekarang.

“Kau pasti sangat marah karena aku membunuh manusia dan meninggalkan mayatnya di pelataran istanamu bukan, Pangeran?” Baekhyun menatap Yunhyeong saat pemuda itu berani bersuara.

“Dia bukan hanya sekedar manusia. Dia adalah manusia yang mengabdi kepadaku. Karena kau telah membunuhnya, aku pastikan kau akan merasakan kesakitan yang sama, kau akan merasakan penderitaan yang sama menyakitkannya dengan yang Chunhee rasakan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Chanwoo! Garis depan!”

Hanbin berseru lantang, dia baru saja membunuh dua orang vampire dengan kemampuannya ketika dilihatnya sekelompok vampire kembali masuk dari pintu depan istana yang sudah dihancurkan.

Tidak jelas bagaimana penyerangan ini dimulai, tetapi Hanbin mendapati seorang penyusup telah masuk ke dalam istana ketika Baekhyun pergi. Karena telah terikat sebagai pengabdi, Chanwoo tentu harus ada di garis depan pertahanan.

Hanbin sendiri tak bisa bergerak melindungi kelompok manusia di sana, sebab di balik pintu yang ada di belakangnya ada Chunhee yang masih terlelap dalam tidur matinya.

Hanbin sendiri cukup yakin jika kelompok vampire yang sekarang menyerang tidak sedang berusaha untuk membunuh manusia melainkan merebut kuasa atas istana yang ditinggal pemimpinnya.

“Hanbin! Di belakangmu!” Hanbin mendengar seruan Chanwoo saat pemuda itu sudah terlalu terlambat untuk menyadari bahwa sekarang seorang vampire tengah melesat ke arahnya, hendak menghujamnya menggunakan cakar tajam di kedua lengan vampire tersebut ketika—

SRASH!

Argh!”

Sebuah pedang perak menghancurkan tubuh vampire itu, mencabiknya dalam satu serangan. Sekarang, di hadapan Hanbin berdiri seorang gadis yang amat dikenalnya. Surai kelam panjang si gadis terurai sampai ke punggung, dibiarkan tergerai sebab gadis itu baru saja terbangun dari tidur selama beberapa harinya.

“C—Chunhee?” tanpa sadar bibir Hanbin menggumam, hal yang kemudian membuat si gadis berbalik, menatap Hanbin dengan kedua manik berwarna merah darah.

Kulit pucat si gadis yang beradu dengan surai kelamnya, juga luka berbekas yang tidak lagi ada di wajah si gadis jelas membuat Hanbin terperangah. Bagaimana bisa dia percaya perkataan Baekhyun mengenai tubuh hancur Chunhee sementara saat ini Chunhee terlihat begitu sempurna di matanya?

“Chunhee! Awas!” Hanbin baru saja hendak bergerak menyerang vampire yang diam-diam berusaha menyerang Chunhee saat tangan kanan gadis itu bergerak dengan sendirinya, menghancurkan tubuh vampire di belakangnya dengan menggunakan pedang perak yang selalu dia banggakan.

Chunhee bukanlah Chunhee yang Hanbin kenal lagi.

Gadis itu sepenuhnya telah berubah. Dia bahkan tidak mengingat Hanbin, atau Chanwoo. Tapi dia ingat di mana dia berada, apa yang dia hadapi, dan apa yang harus dia lakukan.

Jadi, tanpa mengeluarkan satu kalimat pun untuk menyahuti Hanbin, Chunhee bergerak menyerang tiap vampire yang ada di sudut lantai teratas istana—tempat singgah Baekhyun selama ini.

“Chanwoo, menyingkir!” satu peringatan keras Hanbin serukan pada Chanwoo. Dan segera setelah atensi Chanwoo teralihkan, Chunhee bergerak menyerang semua musuh yang ada di hadapan Chanwoo.

Kemampuan Chunhee yang tersisa sebagai manusia tidaklah menghilang. Yang ada, entah bagaimana caranya sekarang gadis itu justru terlihat semakin kuat saja. Tapi satu hal yang Hanbin yakini, Chunhee tidak lagi dikenalinya.

Sesuatu terjadi pada gadis itu karena perubahan yang Baekhyun berikan untuk mempertahankan kehidupannya. Sebut saja, Chunhee telah dibangunkan dari kematian, dan dia kembali dengan kekuatan berbeda.

“Kalian semua harus mati…” satu kalimat didesiskan Chunhee masuk ke dalam rungu Hanbin. Gadis itu melemparkan pandang ke arahnya, seolah menganalisis tentang keadaan Hanbin dan di pihak mana sekarang pemuda itu berada.

Lantas, Chunhee lemparkan pandangannya ke arah Chanwoo, menganalisis dengan cara yang sama sebelum gadis itu melesat cepat meninggalkan dua orang itu terlongo di sana, di antara abu-abu hangus vampire yang menyerang mereka.

“Apa yang kau lamunkan Hanbin!? Kita harus ikuti Chunhee!” kata Chanwoo cukup keras. Sontak, Hanbin tersadar dari lamunannya.

Kedua pemuda itu segera berlari berusaha menemukan keberadaan Chunhee. Tapi yang mereka tonton justru pembantaian massal. Melihat bagaimana Chunhee menyerang semua vampire penyerang yang masuk ke dalam istana, bahkan tanpa ragu-ragu Chunhee menghunuskan pedangnya pada beberapa orang vampire yang Hanbin yakini telah ada di dalam istana ini selama berpuluh tahun.

“Pengkhianat pantas untuk mati!” seruan Chunhee terdengar saat gadis itu memenggal kepala seorang petinggi vampire di istana milik Baekhyun.

“Chunhee hentikan!” Chanwoo berucap keras, berusaha menghentikan tindakan Chunhee tapi Hanbin segera menahannya.

“Apa yang kau lakukan!?” kata Chanwoo tidak terima. Tapi Hanbin rupanya sudah memahami situasi yang sekarang menyambutnya.

Identitas baru Chunhee, keadaannya, ingatannya yang menghilang dan tindakan membabi-buta yang sekarang dia lakukan… semuanya memang harus terjadi pada Chunhee.

“Ini yang seharusnya terjadi pada Chunhee ketika dia memutuskan untuk mengabdi, Chanwoo-ya. Chunhee bukan lagi milik kita, dia adalah milik Pangeran itu. Dan yang sekarang Chunhee lakukan adalah menyelesaikan apa yang selama ini tidak bisa Pangeran itu lakukan.

“Melenyapkan semua pengkhianat di dalam pasukannya. Pangeran itu pasti sudah tahu tentang semua orang yang mengkhianatinya, namun selama ini dia sudah menahan diri. Karena kehidupannya telah terbagi pada Chunhee, maka saat terbangun hal pertama yang Chunhee inginkan adalah melenyapkan pengkhianat itu.” penuturan Hanbin sekarang membuat Chanwoo terdiam.

Satu sisi hatinya ingin menyalahkan Hanbin atas sikap diam pemuda itu, tapi entah mengapa melihat Chunhee yang tidak menyerang secara acak pun jadi pertanyaan tersendiri di dalam benaknya.

SRASH!!

Chunhee mengakhiri serangannya dengan sebuah libasan pedang yang menghancurkan tubuh seorang vampire lagi. Sementara Chanwoo dan Hanbin masih berdiri di ujung tangga, sejak tadi menyibukkan diri memerhatikan tindak-tanduk Chunhee.

Lantas, Chunhee sekarang berdiri tegap di tengah pelataran menuju pintu masuk istana, dipandanginya rerumputan di luar istana dengan sebuah pandangan nanar sebelum bibir gadis itu kembali menggumam:

“Pangeran…”

“Oh, tidak. Dia akan menyusul Pangeran itu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kenapa kau tidak membunuhku?”

Tertatih, Yunhyeong berusaha menjauhkan diri dari Baekhyun yang sekarang menatapnya tanpa ekspresi. Seluruh tubuh Yunhyeong telah terluka, berdarah-darah tetapi dia masih hidup.

Chanyeol dan gadis berkulit pucat itu berdiri di tengah pelataran luas istana yang tampak kosong. Tentu saja, hampir semua prajuritnya sekarang ada di istana milik Baekhyun, selagi sang pemimpin ada di lahan musuh.

Chanyeol pasti berpikir jika kemenangan telah menyambutnya di sana, sehingga dia tidak lagi berpikir dua kali untuk menyerahkan nyawa Yunhyeong pada Baekhyun sebagai imbalan.

Dia tidak membutuhkan Yunhyeong, omong-omong. Bagi Chanyeol, semua manusia hanya budak yang bisa dia atur kematiannya. Dan keberadaan Yunhyeong—meski pemuda bermarga Song itu sangat ahli bertarung—tidak begitu berarti untuknya.

Bagi Chanyeol, kekuasaan lah yang nomor satu.

“Untuk apa aku membunuhmu? Kau akan berterima kasih jika aku membunuhmu.” kata Baekhyun membuat Yunhyeong mendengus pelan. “Aku bisa membunuh diriku sendiri.” ujarnya.

“Aku bisa mengembalikan kehidupanmu.” Baekhyun menyahuti, “Kalau kau pikir kehidupanmu ada di tangan Chanyeol, kau salah besar. Aku lah yang memegang kuasa di sini.” sambung Baekhyun lagi.

“Sudah cukup, Baekhyun.” Chanyeol kemudian angkat bicara, pria itu melangkah mendekati Yunhyeong. Tanpa menyentuh Yunhyeong dia menghempaskan tubuh pemuda itu cukup keras hingga menabrak dinding istana dan menimbulkan suara berkemeretak patah cukup keras.

“Dia akan mati.” kata Chanyeol membuat Baekhyun menyunggingkan sebuah senyum kecil. “Dia tidak akan mati.” sahut Baekhyun ringan.

“Apa maksudmu? Aku baru saja membunuhnya.” Chanyeol melempar pandang ke arah yang jadi sasarannya saat melemparkan tubuh Yunhyeong barusan. Tapi pemandangan yang menyambut justru tubuh Yunhyeong yang masih berdiri tegap, dengan luka-luka dan tubuh membengkok karena patah tulang, tapi dia masih hidup.

“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Chanyeol kemudian.

“Aku mengutuknya.” jawab Baekhyun.

“Mengutuknya?” ulang Chanyeol, dipandanginya Baekhyun seolah kata ‘kutukan’ yang lolos dari bibir Baekhyun adalah legenda yang hanya pernah Chanyeol dengar dalam sejarah kepemimpinan vampire saja.

Memang, Chanyeol tahu seorang vampire berdarah murni bisa memberikan kutukan pada manusia. Tetapi dia tidak tahu jika kutukan itu bisa diberikan bahkan tanpa harus bicara.

“Aku juga akan mengutukmu, Park Chanyeol.” kata Baekhyun.

Segera, Chanyeol menarik diri menjauh, dia melesat ke belakang si gadis berkulit pucat, selagi memamerkan seringai yang dia pikir akan bisa mengintimidasi Baekhyun.

“Kau boleh mengutukku jika kau berhasil membunuh gadis yang kau cintai dengan tanganmu sendiri, Baekhyun.” kata Chanyeol. Pemuda itu kemudian menggerakkan jemarinya, membuat si gadis terjaga dari tatapan kosongnya.

Sekarang, gadis itu melangkah mendekati Baekhyun dengan senyum manis terpasang di wajah. Hal yang membuat Baekhyun beringsut mundur, waspada.

“Mengapa menjauh? Bukankah, kau merindukanku, Baekhyun?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Enggak bisa aku gambarin gimana aku harus ngehancurin (ngelarin, maksudnya) fanfiksi ini dalam tiga chapter terakhir. Fyi, chapter terakhir nanti chapter 12, dan yeah mau enggak mau harus berakhir juga springflakes ini demi kedamaian dan kebahagiaan semua pihak, lol.

Tapi serius, genre romance di cerita ini harus kandas ketika aku nemuin akhir mengharukan sekaligus menguntungkan bagi Chunhee maupun Baekhyun. Enggak, mereka enggak akan main cinta-cintaan di sini, wkwk, romance-nya sebenernya itu bukan Baekhyun-Chunhee ~ tapi Hanbin-Chunhee.

Sayang, aku enggak berhasil ngebuat bumbu romance mereka di sini dan fokus sama fantasynya. Ya udahlah, enggak apa-apa yang penting di akhir Chunhee-nya sama Hanbin /KEMUDIAN DIGAMBAR PEMBACA/. Ya tapi Chunhee masih sama Baekhyun juga kok ~

Lagipula, di awal kayaknya aku udah ada bilang kalo Baekhyun itu udah punya orang yang dia cintai, dan yes, setelah sepuluh chapter mereka akhirnya ketemu. Sungguh sebuah akhir yang membahagiakan, wkwk.

Well, semua kemungkinan masih bisa terjadi, dan jangan kabur dulu dari cerita ini sebelum chapter 12 menyapa ya. Sampai ketemu di chapter sebelas, salam cinta, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

23 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #10 — IRISH’s Tale”

  1. gamauu juga ahh.. chunhee harus sm baekhyunnnn ka rish 😣😣😣😣
    tapi yaa gpp deh xD kn yg disbelah, si robot polos akuu kan adaaa xD one and only 😍😘
    ditunggu ch12 nyaa wlpn itu perpisahan yaaa :”)

  2. degdegan juga ya kalo udah berbau pedang, menebas, darah”, luka”, hahhhh lemes udah ni body…
    serius chunhee gak inget hanbin, chanwoo???cuma inget pangeran tok??
    tapi nanti pasti inget kan yaaaa

  3. Suka sama chunhee versi vampir.. dia lebih kuat.. bisa melindungi baekhyun juga..
    Ini ceweknya siapa lagii.. ahh jangan buat baekhyun bimbang dongg

  4. Ah, nyeseknya itu pas ending nanti Chunhee-Hanbin, bukan Chunhee-Baekhyun. Kenapakau PHP in aku tentang hubungan Chunhee-Baek, mba Rish? Waeeee?? Huhuhu T_T

  5. pas banget,,,
    Chunhee nyusul si Baek.
    nah, si Chunhee lawannya ama mantan cewek Baekhyun.
    sumpah!! Chanyeol pengecut benget sih dirimu.
    Oalah…
    diriku gak nyangka hanbin-chunhee hrusnya jd couple, dikira cma cinta bertepuk sebelah tangan toh.

  6. Springflakes yang kunantikan akhirnya dteng.
    Jangan hancurin hati ku ya kak klo si chunhee ntar nyusul baekhyun trus dibunuh kan abis mati masa mati lagi . Biasanya ada kata ‘milikku’ tpi kok di chapter ini kga ada ya :v
    Pkoknya ditunggu semua deh ff nya kak irish.. Fighting kak buat selesain semua fanfic nya

  7. Yahh kog TBC sihh,, padahal penasaran sama reaksi chunhe pas ketemu sma baek di istana chanyeol,,, Btw entar chanyeol ded??? Di tunggu ajalah chap selanjutnya… Salah satu ff Irish favorit ku ini mah, tpi udah mau tamat..huuuu moga aja ff new selanjutnya bikin tambah greget lahh dan cast.a si Cabeku😊😍

    Hwaiting Rish😊😎

  8. Itu siapa lagi kak irishh.. Wanitanya siapaa astagaa, bikin penasaran aja deh.. Jadii, sebenernya chunhee itu sama baekhyun atau hanbin zzzz, lebih prefer ke baekhyun padahall hikss, tapi apala daya jika author menghendaki bersama hanbin :”)) aku rapopo wkwk..
    Ditunggu next chap kak irishhh uwawawa

  9. waeeeeeeeee?????
    irish tega ihh…kaya baek aja ngasih kutukan kepo ke readersnyaaaaa..
    fighting!!!! 🙂
    always love your story Rish,,,:)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s