GAME OVER – Lv. 28 [Crime in Crime] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal ThropeLevel 21Level 25Level 26 — Level 27Level ?? — [PLAYING] Level 28

Crimes committed just because our worth is different  

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 28 — Crime in Crime

In Jiho’s Eyes…

WorldWare adalah sebuah wadah pembunuhan.

Kami simpulkan itu setelah pembicaraan cukup ‘berat’ dengan para NPC kami selesaikan. Beberapa rencana juga sudah kami susun—lebih tepatnya, Baekhyun dan Johnny yang menyusun rencana tersebut.

Keduanya menyusun rencana dengan cara luar biasa, penuh perdebatan dan pertimbangan. Kalau saja bisa kuceritakan kembali bagaimana keduanya menyusun rencana, aku mungkin akan merasa jika mereka berdua adalah dua programmer utama permainan ini.

Tapi tidak, yang mereka lakukan adalah merencanakan sebuah tindakan kriminal di tengah aksi kriminal yang tengah berlangsung. Karena keduanya sama-sama jenius, tidaklah sulit membuat rencana untuk menyelamatkan kami semua.

Hanya saja, seseorang harus rela mati demi rencana ini.

Tidak ada yang berkomentar sejak Baekhyun mencetuskan ide tentang ‘kematian’ yang ia tujukan agar bagian dari kami bisa mengawasi keadaan di luar permainan ini. Dan semua orang sepertinya lebih memilih untuk menikmati waktu mereka sendiri untuk melakukan tugas-tugas yang sudah Johnny bagi pada mereka, daripada ikut berpikir tentang rencana yang Baekhyun dan Johnny telah susun.

Pairmu benar-benar penuh semangat, Jiho.” kudengar Wendy berkata ketika aku duduk di sudut gua dan memerhatikan Baekhyun juga Johnny di sudut lain—keduanya tampak seolah memiliki ruang pribadi untuk bicara begitu panjang lebar.

“Aku tidak tahu apa aku masih bisa memanggilnya pairku setelah ini.” tanpa sadar bibirku berkata. Memang benar, setelah permainan ini berakhir status hubunganku dan Baekhyun akan segera menjadi pertanyaan. Tidak hanya bagiku, tapi juga bagi semua orang yang mengenalku di dunia nyata.

Taehyung dan Ashley, utamanya. Karena dua orang itu adalah dua orang yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri dan nyatanya memang memedulikanku. Apa yang mungkin akan mereka katakan setelah aku keluar dari permainan ini?

“Apa maksudmu?” tanya Wendy tidak mengerti. Ya, tentu saja dia tidak mengerti karena dia juga seorang NPC yang memiliki pola berpikir sama persis dengan Baekhyun.

“Lupakan saja,” aku akhirnya berkata, “…, aku hanya bicara satu-dua hal yang tidak penting.” sambungku membuat Wendy makin menatap dengan alis bertaut. Dia sudah hendak mengeluarkan satu tanya lagi saat nyatanya diskusi dua orang sibuk di sana rupanya telah berakhir.

Kedatangan Baekhyun ke arah kami sekarang adalah hal yang menghentikan Wendy dari usahanya untuk bertanya. “Ah, dia datang padamu.” kata Wendy dengan cicitan kecil di akhir vokalnya.

Kemudian, Wendy bangkit dari tempatnya duduk sedari tadi. Dia melangkah ke arah Johnny—karena sekarang aku sudah tahu Wendy adalah karakter yang diciptakan Johnny, melihatnya hendak menempel pada Johnny seperti permen karet entah mengapa jadi terlihat begitu wajar—sementara Baekhyun sendiri menghampiriku.

“Kita perlu bicara, Jiho.” tiba-tiba saja Baekhyun berkata.

“Bicara? Baiklah.” aku menyetujui ucapannya, raut Baekhyun terlihat begitu serius sekarang, bisa kupastikan dia dan Johnny sudah punya setidaknya satu rencana utama dan beberapa rencana cadangan.

Mereka berdua adalah orang-orang jenius, ingat?

“Tidak di sini. Sebaiknya kau ikut denganku.” kata Baekhyun lagi, ia ulurkan tangannya ke arahku karena aku tak kunjung berdiri. Segera setelah kuraih uluran tangannya, Baekhyun membimbing langkahku keluar dari gua tempat kami bersembunyi, meninggalkan Johnny dan Wendy di sana.

Well, mungkin mereka juga butuh waktu untuk bicara.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku sudah bicara dengan Johnny.”

Baekhyun memulai ‘pembicaraan’ kami sekarang. Dia membawaku ke Eden’s Nirvana, satu-satunya tempat yang dianggap aman bagi Baekhyun karena dia tahu di sana tak akan ada villain lain yang muncul.

“Jadi, apa saja rencana kalian?” tanyaku menunggu penjelasan.

Baekhyun menghela nafas sejenak. “Seperti ucapanku tadi, seseorang harus mati di dalam mode ini dan kembali ke kehidupan nyata. Seseorang itu haruslah memahami dengan baik keadaan yang sekarang terjadi di sini.

“Dan Johnny katakan dia bersedia mati. Jadi kami merencanakan cara untuk membuatnya terbunuh tanpa harus mengalami luka berarti. Meski sulit melakukannya, tapi mau tak mau aku menyetujui permintaan Johnny, dia ingin aku membunuhnya.”

Tatapanku tanpa sadar membulat. “Dia mengatakan hal itu?” tanyaku hampir tak percaya. Jujur saja, ingatan tentang bagaimana keadaanku begitu terbangun di survival tube saja sudah begitu mengerikan.

Johnny malah telah mengalami hal yang lebih mengerikan lagi daripada aku.

“Kurasa, jangan Johnny, Baekhyun-ah.” ujarku kemudian.

“Mengapa?” tanyanya, menatapku tak mengerti.

“Pertama, karena saat pertama kali aku bertemu dengan Johnny, keadaannya sangat kacau dan mengerikan. Dia sekarat saat itu, dan aku tidak yakin apa tubuhnya masih baik-baik saja di luar sana.

“Kedua, jika Johnny tidak ada di sini. Aku tidak yakin siapa yang bisa menjadi pemimpin di sini. Seperti yang kau lihat tadi, pemberontakan kelompok kecil yang jadi sekutuku saat melihat kedatanganmu saja sudah cukup menyulitkan.

“Dan akan semakin sulit jika kita harus menjelaskan pada player lain yang ada di sini tentang situasinya. Keberadaan Johnny—satu dari puluhan programmer WorldWare—setidaknya akan membuat mereka lebih mudah percaya pada fakta mengerikan ini.”

Baekhyun mengangguk-angguk mendengar penuturanku. “Baiklah, yang pertama mungkin saja masuk akal. Tapi, human wealthnya sudah sangat baik sekarang. Aku cukup yakin secara fisik dia juga baik-baik saja.

“Kemudian, jika Johnny tidak ada di sini, masih ada aku, Jiho. Kau bisa mengandalkanku kalau hanya untuk bicara pada semua orang tentang situasi yang sekarang sedang kalian hadapi.”

Baekhyun tidak mengerti.

Masalahnya bukan karena Johnny satu-satunya yang mampu, bukan juga maksudku mengatakan kalau Baekhyun tidak mampu. Tapi Johnny seorang manusia, sedangkan Baekhyun tidak.

Baekhyun, bagaimanapun dan apapun yang dia katakan, tetaplah seorang NPC, seorang villain yang entah bagaimana kucurigai bisa saja secara tiba-tiba berubah menjadi musuh bagi kami.

Dan aku tidak bisa memercayai Baekhyun begitu saja kali ini.

“Kau adalah musuh server, ingat?” kataku, tidak tega jika harus mengatakan pada Baekhyun tentang keadaan yang tidak dipahaminya. Dia adalah seorang NPC, sebuah program yang tidak akan punya kuasa apapun untuk mengendalikan perasaan manusia atau memengaruhi benak mereka.

Terlebih, dia adalah musuh bagi server ini sekarang. Tak akan ada player yang memercayainya begitu saja. Tapi Johnny, sebagai Royal Thrope dia masih punya nama dan kehormatan.

“Jadi… menurutmu Johnny sangat dibutuhkan di sini?” tanya Baekhyun memecah lamunanku. Segera, kujawab pertanyaannya dengan anggukan pelan. “Ya, kita membutuhkan Johnny di sini.” ucapku membuat Baekhyun menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kupahami.

“Mengapa melihatku begitu?” tanpa sadar aku bertanya.

Baekhyun tersenyum kecil. “Aku mengerti situasinya, Johnny memang lebih kau butuhkan karena dia sama sepertimu, Jiho.”

Tidak, apa yang sekarang Baekhyun katakan? Apa dia mengangkap maksud di balik kalimatku? Atau dia tiba-tiba punya kemampuan untuk mengakses apa yang aku pikirkan?

“Aku tidak bermaksud—”

“—Tidak apa, tidak masalah. Aku mengerti.” segera Baekhyun memotong perkataanku, dia lantas menatap hamparan Eden di depannya, tanpa bicara apapun Baekhyun rupanya sengaja mencipta keheningan di antara kami.

Dan aku merasa diteror. Maksudku, apa yang terjadi pada kami sekarang dan apa yang Baekhyun lakukan… yang kami hadapi, lalu sikap diamnya, semuanya entah mengapa sanggup menjadi beban mengerikan yang membuatku merasa lelah.

Aku rindu masa-masa normal di mana aku bisa dengan bebas melakukan login dan logout dari permainan ini, aku rindu turbulence sederhana di Hall, aku rindu berdebat di dalam chat Town.

Aku tidak pernah menghadapkan sebuah permainan berubah menjadi ajang percobaan yang menjadikan nyawa sebagai taruhan. Meski aku tergila-gila pada game, tapi aku tak pernah menghadapkan adanya kehidupan nyata di antara karakter tidak nyata di dalam sebuah permainan.

“Baekhyun, jangan salah sangka. Aku hanya berpikir jika Johnny bisa lebih membantu kami di sini, daripada di luar sana.” Baekhyun mengangguk-angguk mendengar ucapanku.

“Aku tahu. Kau boleh kembali ke tempat itu, Jiho. Aku ingin beristirahat sejenak di sini.” Baekhyun menginginkan aku pergi, aku tahu itu.

Karena Baekhyun kemudian memilih membuang muka, enggan melihatku sementara aku sendiri kebingungan. Bagaimana aku harus bicara padanya dan meyakinkannya kalau dia saja sudah enggan mendengarkanku?

Jadilah, aku akhirnya meninggalkan Baekhyun di Eden’s Nirvana.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau belum menjelaskan apapun pada kami.”

Sebuah konversasi terbuka di antara aku, Ashley dan Taehyung saat kami bertiga akhirnya punya waktu bersama. Johnny menugaskan kami untuk bicara pada NPC yang ada di koordinat yang Baekhyun kirimkan.

Aku juga belum bertemu dengan Baekhyun lagi—sejak kutinggalkan dia di Eden’s Nirvana, tapi entah mengapa aku yakin dia pasti akan ada di sana dan menunggu kami.

“Aku sudah menjelaskan sebagian besarnya pada Ashley.” ucapku, sadar kalau Taehyung tengah menuntut penjelasan mengenai hubunganku dengan Baekhyun.

“Kau katakan kau tertarik pada Mr. Mysterious.” kata Ashley.

Aku menghela nafas panjang. “Ya, dia memang Mr. Mysterious yang aku bicarakan tempo hari. Seorang player yang dengan lancangnya kutawari bantuan tanpa aku tahu dia sudah menantang hampir semua Town besar di WorldWare.

“Kalau kalian perhatikan, aku tidak pernah terlibat dalam rencana penyerangan Invisible Black saat itu, well—aku ada di sana, satu kali, dengan terpaksa. Dan demi Tuhan, aku tidak pernah tahu kalau dia adalah seorang NPC.

“Aku baru mengetahuinya saat kita ada di dalam mode ini. Kau ingat Black Radiant, Taehyung? Dia adalah player yang memberitahuku tentang identitas Baekhyun. Black Radiant juga seorang villain omong-omong.

“Dan kalau kalian pikir aku adalah seorang bodoh yang jatuh cinta pada NPC, aku bisa terima opini itu. Karena sungguh, aku sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk menarik diriku pada logika. Di tempat ini, semuanya terasa sama.

“Bahkan saat kami berciu—”

—sontak kalimatku terhenti begitu aku sadar satu kalimat terkutuk hampir saja lolos. Tapi rupanya, kalimat itu terlampau jelas untuk bisa Taehyung dan Ashley cerna.

“Kalian berciuman?” tanya Taehyung membuat Ashley memekik tertahan. “Oh, God! Kalian berciuman!” cicitnya sebelum ia terkekeh kecil dan memukul-mukul lengan Taehyung pelan.

Taehyung sendiri masih menatapku dengan pandangan menyelidik yang sama.

“Ya, satu kali. Dan rasanya sungguh nyata. Jangan melihatku sebagai seorang mesum, sungguh. Kalian tahu, melakukan kontak fisik seperti sentuhan, atau pelukan, pada Baekhyun, terasa begitu nyata.

“Tidak hanya padanya, tapi pada semua NPC yang ada di sini, kurasa. Aku juga bisa merasakan pelukan Wendy saat dia datang ke tempat persembunyian kita.”

Mendengar penuturanku, Taehyung akhirnya terdiam, sementara Ashley masih sibuk dengan fantasinya mengenai ciumanku dan Baekhyun. Ciuman antara seorang manusia dengan sebuah karakter game.

“Tapi yang kau lakukan sekarang salah, Jiho.” Taehyung berkata.

“Aku tahu, aku sadar benar kalau aku salah. Dan semuanya akan berakhir begitu kita keluar dari game ini, ingat?” perkataanku akhirnya membuat Taehyung mengangguk-angguk paham.

Ashley sendiri memilih diam, fantasinya belum berakhir, rupanya.

“Baekhyun berencana membuat Johnny game over secara tidak kentara. Supaya Johnny bisa mengawasi apa yang terjadi di luar sana.” kataku kemudian, memulai konversasi lain yang sekiranya tak akan membuat kami kembali mengingat-ingat soal hubunganku dan Baekhyun lagi.

“Benarkah? Wah, dia luar biasa.” kata Taehyung. “Tapi aku tidak yakin, Taehyung. Kupikir, Johnny lebih memahami keadaan internal di sini daripada di luar sana. Jadi kami masih mempertimbangkan soal siapa yang akan dijadikan korban dalam rencana ini.” kataku lagi.

Taehyung dan Ashley saling melempar anggukan. Keduanya juga tampak memikirkan kalimatku dengan serius. Sebab, keduanya juga tahu benar bagaimana patuhnya semua orang pada Johnny.

Dia memang bisa menjadi seorang leader di sini.

“Tapi selain Johnny, tidak ada lagi orang-orang yang paham benar soal sistem.” kata Taehyung menyadarkanku. Benar, aku tidak mempertimbangkan hal ini sebelumnya. Satu-satunya link di dalam NG Game Factory yang kami percayai saat ini hanyalah Johnny.

Jika bukan Johnny yang keluar dari permainan ini, siapa yang akan—

SRASH!

—“Kyaaa!”

“Awas!”

Aku baru saja akan hanyut dalam lamunanku ketika sebuah serangan tiba-tiba saja terarah pada kami. Beruntung, tidak satupun dari kami bertiga terluka karenanya. Tapi, ini penyerangan!

“Taehyung! Ashley! Waspada!” teriakku sementara kami bertiga sekarang tanpa dikomando bergerak melingkar, saling memunggungi sekaligus saling mengawasi.

“Sialan, aku tidak melihat darimana datangnya serangan barusan.” umpat Taehyung.

“Serangannya terlalu cepat, dan equipment yang digunakannya juga sangat langka.” ucapku menjelaskan. Siapapun yang menyerang kami sekarang, dia adalah seorang berlevel tinggi yang mampu memiliki golden archery, salah satu equipment langka yang bahkan tidak dimiliki Baekhyun.

“Dan dia menguasai kemampuan Mage di sini.” kata Ashley, rupanya kabut berwarna hijau kehitaman di sekitar anak panah—yang menancap di tengah dahan pohon. Kemampuan Mage? Mungkinkah…

“Wendy…” tanpa sadar bibirku bergumam. Kudengar helaan nafas terkejut dari dua orang yang bersama denganku sekarang. Tapi, kami tak punya waktu untuk bicara lagi karena serangan lagi-lagi diberikan pada kami.

SRASH! SRASH!

“Menghindar!” aku berseru, kami bertiga kelimpungan berusaha mencari tempat berlindung sekaligus mencari sumber serangan tapi hasilnya nihil.

Hey, Nona.” aku berbalik begitu kudengar suara seseorang di belakangku. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Black Radiant berdiri di belakangku dengan sebuah seringai mengerikan.

“Taehyung! Ashley! Ada Black Radia—”

PSHH!

—ucapanku sontak terbungkam oleh gumpalan asap yang Black Radiant lemparkan padaku. Hal berikutnya yang kusadari adalah bagaimana aku sudah melayang di udara, di tengah sebuah kurungan berbentuk kubus yang terbuat dari gumpalan asap hitam tadi.

Serupa dengan lapisan plasma hijau Baekhyun, tapi benda ini mengurungku di atas udara. Jadi aku bisa menonton pertarungan yang—TIDAK!

“Taehyung! Ashley!” aku berteriak keras, tapi tentu saja dari ketinggian ini tak ada seorang pun yang bisa mendengar ucapanku.

Mengingat kami telah berpindah ke sebuah arena battle, yang bisa kulihat adalah tanah lapang di bawah sana dengan sebuah arena berbentuk persegi panjang yang dilapisi asap hitam serupa.

Kurungan kubus yang mengurungku sendiri sekarang seolah menempel pada bagian langit-langit dari arena ini. Aku tidak bisa berbuat apapun, tapi aku masih bisa menghubungi Taehyung dan Ashley karena koneksiku tidak terputus secara sepihak di dalam sini.

“Ash!” aku berusaha memanggil Ashley melalui call. Begitu pula dengan Taehyung, segera begitu kudengar suara berisik masuk ke dalam pendengaranku, aku tahu keduanya bisa menerima panggilan dariku juga.

“Jiho, di mana kau?!” seruan Taehyung terdengar.

“Aku ada di atas kalian, terkurung dalam plasma kubus yang tidak bisa kuhancurkan. Black Radiant memasukkan kalian dalam battle?” tanyaku.

“Hah, coba kita lihat, apa yang bisa kalian lakukan tanpa bantuan dari rivalku?” rival Black Radiant? Mungkinkah, Baekhyun?

Segera aku memeriksa mapsku, dan kusadari, kami berada di koordinat yang Baekhyun kirimkan. Dan memang, di luar arena tempat kami berada, telah berjajar para NPC yang sekarang tak lagi bisa kukenali.

Berada di ketinggian membuat semua pemandangan terlihat lebih sulit untuk dikenali, sungguh. “Dia dan Invisible Black adalah villain serupa, aku yakin cara mereka menyerang juga sama.” kataku pada Taehyung dan Ashley—kami sekarang terhubung ke dalam panggilan berkelompok.

“Kau dan rivalmu, keduanya adalah musuh bagiku.” Taehyung berkata, pada Black Radiant. “Ah, benarkah? Kalau begitu mari kita lihat, apa kau akan bisa berkutik jika harus berhadapan denganku?” kali ini suara Black Radiant.

Aku seolah bisa menonton battle mereka secara langsung dan mendengarnya. Tapi apa yang kulihat tidaklah begitu jelas. Keberadaan kabut hitam di sekelilingku ini sungguh terasa mengganggu.

“Mengapa kau tiba-tiba menyerang kami?” satu tanya tercetus dari bibir Ashley.

“Kenapa? Tentu saja karena kalian adalah player yang harus aku musnahkan.” Black Radiant berkata dengan nada mengerikan yang membuatku yakin seratus persen dia pasti menyeringai saat mengatakannya.

“Tidak perlu banyak bicara, kita sudahi saja secepat mungkin.” Taehyung berkata, dan tepat setelah selesai berucap, Taehyung bergerak menyerang Black Radiant, begitu cepat dan tangkas tapi aku tahu… serangannya tidak cukup kuat.

“Baekhyun seringkali terpukul mundur karena potion yang dilemparkan lawan, Ashley coba serang dia dengan potion magis yang ada di dalam equipmentmu!” aku berseru, teringat pada keadaan menyedihkan—keadaan nyaris game over—yang beberapa kali pernah Baekhyun hadapi karena pengaruh serangan potion.

“Dia sangat ahli dalam serangan jarak jauh, coba mengikis jarak dengannya, Taehyung!” aku berucap pada Taehyung yang gencar memberikan serangan.

Baekhyun adalah villain yang menyerang secara invisible, dan dia pasti mengandalkan jarak jauh yang tercipta antara dirinya dan player. Black Radiant… pasti menggunakan cara serupa.

SRASH!

“Argh!” bisa kudengar lolongan kesakitan Black Radiant begitu sword Taehyung menembus perutnya. Likuid kental gelap kemudian mulai mengotori tanah, tidak banyak, dan aku tahu serangannya tak akan banyak berpengaruh.

Aku tidak bisa melihat human wealth dan health bar mereka sekarang, terlalu samar. Tapi aku setidaknya bisa melihat pergerakan mereka.

“Kubunuh kalian semua!!”

SRASH!!

‘Your connection has been disconnected.’

“Tidak!” aku memekik begitu kudengar sistem memperingatiku tentang koneksi pada Taehyung dan Ashley. Sekuat tenaga aku berusaha menghubungi mereka, tapi hasilnya nihil. Dan sekarang, aku dipertontonkan siaran langsung pembunuhan kedua sahabatku.

Black Radiant benar-benar marah, dia hempaskan Ashley dan Taehyung dalam satu gerakan cepat. Taehyung dikuncinya dalam genggaman, sementara dia mencabik tubuh Ashley.

“Tidak! Hentikan!” aku menjerit ketakutan begitu kulihat bagaimana Ashley terkulai lemah, aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan di bawah sana tapi aku tidak bisa berdiam diri!

Aku berusaha menghancurkan batas yang Black Radiant ciptakan dengan menggunakan semua equipment yang kumiliki sampai—

SRASH!

—aku berhasil menghancurkannya dengan menggunakan salah satu potion peledak.

Argh!”

BRUGK!

Tubuhku terjatuh dengan menyedihkan ke dalam arena. Suara kemeretak cukup keras segera menyambut tungkaiku, diikuti rasa sakit luar biasa dan pengurangan pada human wealthku.

Kakiku patah, pasti. Tapi dengan potion penyembuh aku bisa memperbaikinya.

“Jiho awas!”

PSHH!

Aku lemparkan sebuah potion ke belakangku begitu kudengar suara langkah cepat dari punggungku. Begitu aku berbalik, kulihat Black Radiant menahan rasa sakit di tubuhnya akibat serangan potion yang kuberikan.

Benar, kelemahannya adalah potion.

“Menarik sekali, kau bisa menghancurkan batas sempurnaku.” kata Black Radiant, disunggingkannya seringai mengerikan itu lagi, sebelum kedua tangannya ia rentangkan dan ia genggamkan erat-erat.

Argh!”

Teriakan kesakitan segera menyambut runguku. “Hentikan! Jangan bunuh mereka!” teriakku, berusaha bangkit meski kaki kiriku terasa sangat kebas dan sulit digerakkan. Apa kaki kiriku yang patah?

“Terlambat, Nona. Aku sudah begitu haus darah sekarang.” kata Black Radiant, ia lepaskan salah satu genggamannya, dan bisa kulihat bagaimana tubuh Taehyung terjatuh ke tanah.

Hanya luka memar yang ada di tubuh Taehyung, sementara keadaan Ashley mengerikan.

“Kumohon hentikan!” aku hampir saja menangis saat aku sadar tubuh Ashley sudah tercabik menyedihkan, darah mengalir keluar dengan deras dari setiap luka cabikan di tubuhnya sementara dia melayang di udara, tercekik oleh cengkraman Black Radiant namun sudah tidak bergerak.

“Aku seorang villain, kau sudah lupa itu?” tanya Black Radiant, kali ini ia tidak tersenyum mengerikan padaku, tapi senyum manis yang dipamerkannya sekarang justru membuatku kepalang emosi.

“HENTIKAN!” aku memekik keras, segera setelah kuteguk satu potion penyembuh, aku melesat dan menyerangnya, memukulinya dengan kedua tanganku, tanpa ampun.

Tubuh Black Radiant sekarang ambruk di bawahku, sementara aku mengeluarkan beberapa knife yang kumiliki dan kuhujamkan di tubuhnya.

“Taehyung! Selamatkan Ashley dengan potion!” aku berteriak pada Taehyung. Aku tidak sempat melihat apa yang terjadi berikutnya tapi aku juga tidak bisa bertahan lama dengan seranganku pada Black Radiant.

“Kurang ajar!” Black Radiant berkata marah, dia hempaskan tubuhku dalam satu kali bantingan ke tanah, dan separuh health barku direnggutnya hanya karena hempasan itu.

Keadaanku sontak melemah, tapi samar-samar bisa kulihat bagaimana tubuh Ashley sekarang sudah utuh kembali, meski health barnya memang kritis.

“Kau! Kau adalah peretas yang mengacaukan segalanya!” Black Radiant berteriak pada Taehyung. Sekarang, Taehyung adalah sasarannya.

Dan benar saja, melihat keadaan Ashley yang sudah tidak berdaya, Black Radiant mencari mangsa lain untuk dihancurkan. Tidak ada kesempatan bagiku untuk berdiam, karena aku harus menghentikannya meski itu berarti aku harus mati satu kali lagi.

Aku menyerang Black Radiant dari belakang, dia yang terlalu awas pada serangan Taehyung justru jadi melewatkan beberapa serangan yang kuberikan.

“Lepaskan! Kau pikir aku tidak sanggup membunuhmu?!” aku berteriak marah pada Black Radiant. Rupanya, kalimatku mengotori harga dirinya. Dari yang kupelajari, dia dan Baekhyun punya beberapa kemiripan karakter.

Sama-sama berharga diri tinggi, angkuh, dan tidak mau mengalah. Berbalut karakter antagonis, tapi punya sisi protagonis yang tidak dominan. Pada Baekhyun, sisi itu kemudian mendominasinya sehingga dia bisa jadi seorang villain yang tidak kentara.

Tapi Black Radiant adalah perkara lain. Dia seorang villain murni yang akan berubah sangat marah jika harga dirinya dikotori.

“Apa katamu!?” dia berbalik, dilepaskannya tubuh Taehyung yang sudah tidak berdaya—karena Black Radiant baru saja menghujamkan puluhan tusukan pisau di tubuh Taehyung dan menghancurkan health baru juga human wealthnya.

“Jiho, berikan aku potion penyembuh, dan buat dia marah. Dia harus meledakkan emosinya, dan harus cukup besar untuk bisa membuatku juga Ashley game over karena terhempas.” aku tersentak saat kudengar Taehyung berkata melalui voice chat otomatis, sementara aku sibuk menjaga jarak dengan Black Radiant.

“Apa yang kau rencanakan?” tanyaku pada Taehyung, sengaja aku bicara dengan sangat pelan agar Black Radiant tidak mendengarku.

“Aku awalnya sangat tertarik untuk mengenalmu, Nona. Tapi aku sadar, kau tidak lebih dari serangga kecil yang harus dimusnahkan.” kata Black Radiant.

“Mencari tahu apa yang terjadi di balik WorldWare, aku dan Ashley yang akan melakukannya di luar sana.”

Segera setelah koneksiku pada Taehyung kembali terputus, aku sadar kalau kami sekarang berada di situasi yang sedikit menguntungkan. Secara fisik, Ashley sudah baik-baik saja. Tetapi dia tidak bisa sadarkan diri karena health bar dan human wealthnya kritis.

Aku kemudian melemparkan potion pada Taehyung, hal yang membuat Black Radiant tersenyum mengejek. “Kau pikir bisa menyelamatkannya dengan potion kecil itu? Kau sudah lupa tentang siapa aku?” tanyanya.

Kulihat bagaimana keadaan Taehyung membaik karena potion itu. Seperti Ashley, health bar dan human wealthnya kritis, tapi setidaknya sudah tidak ada luka fisik yang tertinggal.

Sekarang, aku hanya perlu memancing emosi Black Radiant untuk membuatnya menghempaskan kami semua saja.

“Untuk apa aku tahu siapa kau? Di mataku, kau tidak lebih dari seorang villain sementara yang ada di dalam mode ini.” kataku membuat Black Radiant menatapku dengan mata memicing.

“Apa maksudmu?” ujarnya.

“Ya, kau tidak sadar? Kau tidak lebih hebat dari Invisible Black. Rank kalian saja sudah berbeda. Lalu, kau pikir aku takut hanya karena serangan-serangan kecilmu? Dibandingkan dengan Invisible Black, kau tidak ada apa-apanya.”

Kulihat bagaimana rahang Black Radiant terkatup rapat. Sekon kemudian dia bergerak mengepalkan tangannya dan—

WHUUSSSHH!!!

Argh!!”

Akh!”

‘Epic-T, your game was over. Aphroditexx, your game was over.’

Aku tersenyum saat mendengar dua pengumuman itu di dalam arena kami. Tapi tidak seperti reaksiku, Black Radiant justru semakin terlihat marah. Rupanya dia baru sadar tentang tujuanku memancing emosinya sehingga dia menghempaskanku sekarang.

Meski health barku semakin hancur, setidaknya Taehyung dan Ashley sudah kembali. Aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka sekarang.

“Ah, jadi ini taktikmu ya. Kau pintar juga.” kata Black Radiant, dia kemudian tertawa cukup keras—hal yang membuatku menyernyit bingung—tapi segera setelah tawanya berhenti, dia menatapku.

“Kau katakan kalau Invisible Black adalah villain terbaik, bukan? Jadi, mari kita lihat… apa kau akan bertahan melawannya?”

Aku terkejut bukan kepalang saat Black Radiant berkata seperti itu. Tapi aku tidak sempat berpikir lebih jauh lagi saat kemudian Black Radiant melemparkan sebuah potion gelap lagi, yang memunculkan kabut hitam juga perubahan drastis di arena kami.

Hey, Invisible Black. Kupanggil kau untuk mematuhiku.”

B—Baekhyun? Bagaimana bisa dia ada di—tidak. Dia sepenuhnya berbeda. Benakku masih bersusah payah berusaha memahami sekaligus menerka-nerka tentang apa yang terjadi pada Taehyung dan Ashley ketika mereka berdua terbangun saat sekarang netraku sudah disuguhi sebuah pemandangan yang tak kalah membingungkan.

Mendapati seorang yang membuatku jatuh cinta di dalam permainan ini sekarang berdiri dengan tatapan asing yang menghujaniku seolah ingin membunuh, adalah kejadian paling konyol sekaligus dramatis dalam kehidupanku.

Di garis kehidupanku, maupun di server.

“Apa yang kau lakukan padanya!?” aku berteriak marah pada Black Radiant begitu kusadari Baekhyun tidak lagi menjadi Baekhyun yang kukenali. Tidak ada tatapan bersahabat yang Baekhyun berikan biasanya.

Dia bahkan tak bicara satu kata pun. Tatapannya tajam, namun kosong. Apa karena Black Radiant menjadi villain utama di dalam permainan mode ini sehingga dia bisa seenaknya melakukan apapun pada NPC lain, termasuk Baekhyun?

“Aku membawakan Invisible Black padamu. Katamu, dia adalah villain terhebat. Maka coba saja kalahkan dia, hancurkan dia, atau dia yang akan menghancurkanmu.” kata Black Radiant santai.

Kelewat santai. Health barnya bahkan mulai membaik. Apa yang akan terjadi setelah ini? Dia akan menyerangku ketika keadaannya tiba-tiba saja membaik, bukan?

SRASH!

Argh! Baekhyun!” aku menjerit kesakitan begitu Baekhyun tiba-tiba saja menyerangku. Layaknya boneka, dia sekarang dikendalikan jemari Black Radiant. Selagi Black Radiant berdiri santai dan memamerkan senyum.

“Wah, kau kurang waspada. Jangan lengah hanya karena pairmu sekarang menjadi musuhmu, Song Jiho.” katanya dengan nada tajam.

Pair.

Satu kata itu menyakitiku sekarang. Menarikku pada kesadaran bahwa meski Baekhyun adalah pairku, dia juga seorang NPC yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika seorang villain utama telah mensummonnya untuk menyerangku.

Kedatangan Baekhyun bukannya membawaka sebuah skrip opera sabun yang romantis, tapi dia justru melempar sebuah dilema padaku. Bagaimana bisa aku berpikir jernih untuk mengalahkan Black Radiant saat apa yang memenuhi pandanganku justru sosok seorang Invisible Black?

Tapi tidak mungkin, Baekhyun tidak mungkin bisa ditaklukkan semudah ini.

“Ini pasti salah satu taktikmu juga.” kataku pada Black Radiant. Menanggapiku, dia hanya mengedikkan bahunya acuh, sebelum ia keluarkan sebuah sword dan—

SRASH! SRASH!

“T—Tidak…”

“Apa sekarang masih terlihat seperti taktik?” tanyanya.

Health bar Baekhyun sontak berubah menjadi kritis karena serangan Black Radiant, tapi dia masih berdiri tegap. Tubuhnya tercabik, tapi dia bergeming. Seolah tidak merasakan rasa sakit

‘Star Anda tengah berada di masa kritis, apa Anda berkenan memberi bantuan?’

Kalimat berikutnya yang masuk ke dalam pendengaranku dari server sekarang berkali lipat membuatku lebih terkejut lagi.

Wow, coba lihat, Starmu kritis.” kata Black Radiant santai. “…, Omong-omong, HongJoo adalah musuhmu sekarang, Invisible Black. Mengapa tidak kau hancurkan saja dia dengan cara cantik khas milikmu?”

Aku menatap Baekhyun, masih berdiri di hadapanku dengan sepasang manik kelamnya yang mengerikan sekaligus memabukkan, menatapku dengan sebuah seringai penuh kebencian selagi kedua tangannya mencekal hades sword yang berlumur darah—darahnya sendiri.

Luka-luka menganga di tubuhnya seolah tidak jadi penghalang bagi Baekhyun untuk berkeinginan membabat habis musuh yang baru saja ditanamkan dalam memorinya. Black Radiant. Villain satu itu bertanggung jawab penuh atas apa yang sekarang terjadi pada Baekhyun saat ini.

Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, lawan Baekhyun setelah Taehyung dan Ashley terbunuh adalah aku, pairnya. Dan aku juga tidak bisa berbuat apapun untuk memperbaiki keadaan kritisnya, karena aku tahu… dia ingin membunuhku meski dengan health bar sehancur itu.

“B—Baekhyun…” dengan vokal paling menyedihkan sekaligus menggelikan, aku menggumamkan nama Baekhyun. Seolah berharap ia akan lupa pada hal mengerikan yang sudah Black Radiant perintahkan padanya sementara satu sisi hatiku meyakini kalau apa yang kuharapkan adalah sebuah kemustahilan.

“Katakan…” suara rendah Baekhyun terdengar masuk ke dalam telingaku, untuk sepersekian sekon membuat hatiku terasa begitu ngilu. “…, dengan cara apa kau ingin kubunuh?”

Melihat Baekhyun memamerkan senyum sempurna itu di tengah luka-luka yang merenggut separuh health barnya, aku tahu aku sekarang tak lagi menghadapi Baekhyun yang sama.

Dan sekarang aku harus memilih. Membiarkan diriku mati di tangan Baekhyun… atau, membunuh Baekhyun dan melenyapkannya dari WorldWare.

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Spoiler ALERT! Level 29 dan 30 akan dipassword, sesuai dengan perkataanku beberapa pekan lalu. Terus, level 29 dan 30 adalah level terpanas, jadi jangan menyalahkan aku kalau kalian malas minta password dan berakhir melangkahi dua level itu dan berakhir ‘enggak tahu apa-apa’ soal kelanjutan Game Over. Password akan kuberikan pada mereka yang setidaknya sudah berkomentar di minimal 5 (lima) level cerita ini. Cara mendapatkan password akan menyusul bersama level 29.

ANGST alert! Akan ada pembantaian besar-besaran. Akan ada cinta yang kandas. Kita akan say goodbye sama point of viewnya Song Jiho.

Well, aku sebenernya enggak mau bagi-bagi spoiler tapi aku tau kalian haus spoiler jadi yah enggak apa lah aku sesekali beramal dengan cara bagi spoiler meskipun spoiler yang kukasih justru jatuhnya jadi menyebalkan. LOL.

Aku sudah informasiin sebelumnya, yang rajin menghargai cerita ini, minimal lima kali muncul, jangan absen melulu. Aku ini pilih kasih (pake banget!) loh kalo udah menyangkut soal password. Dan aku enggak menerima tawar-menawar lagi kalo soal password.

Inget, aku enggak omong doang saat bilang level 29 dan 30 adalah level kunci. Karena di level 31 kalian enggak akan bertemu cerita yang sama lagi dan kalau kalian berkeras sama ego dan somse enggak mau minta password (atau maunya aku kasih password tapi ninggal komentar ‘Y’ aja enggak mau) ya sudah, terima kasih atas kerjasamanya selama ini sebagai pembaca dalam hati.

Aku sudah cukup rajin ngepost Game Over, kalian enggak harus susah-susah mikirin nasib Jiho dkk karena aku yang mikirin nasib mereka. Sesusah itukah mengajakku berkenalan di kolom komentar?

Jangan tanya soal cara dapet passwordnya sekarang, karena nanti ada sendiri postingannya, tunggu level 29 up dulu. Dan jangan tanya soal cara dapetin password level 30, karena password level 30 ada di dalem level 29.

Jadi, kalau kamu berkeras untuk sombong, saya juga bisa lebih sombong lagi. Sesekali kita kuat-kuatan sombong ya. Karena pada dasarnya, kalian lah yang agak-agak enggak tenang batinnya kalo ngebaca Game Over dari level 28 lompat ke level 31.

Sekali lagi, saya enggak memaksa kalian untuk minta password. Kurang dua belas level, belum terlambat kok buat berhenti baca Game Over dan saving time. Aku baik kan, bagiku ngebaca fanfiksi itu enggak harus jadi prioritas atau kewajiban kok.

Ya sudah, sampai ketemu hari Minggu! Mari menunggu beberapa hari buat nentuin nasib ke-dua pemeran utama kita dan kelanjutan eksistensi mereka. Salam ketjup, Irish!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

63 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 28 [Crime in Crime] — IRISH”

  1. Assalamu’alaikum kak irish.. sebenarnya di level ini aku mau jujur yg sejujur2nya kak. Aku tuh baca game over baru kemarin dan malam ini udah sampe level 28. Ada di beberapa level aku komen dan itu baru aku komen tdi dan tujuanku emang buat dapat password. Sejujurnya, aku udah lamaaaa banget baca cerita2 kak irish dan selalu dapat cerita yg dipassword daaaaaaannnnn aku nggak pernah dapat password nya karena aku nggak pernah tau caranya komentar gimana (kampungan banget ya…) 😦 …ini benar2 cerita asli kak. Dan karena aku pngen banget banget banget baca lanjutan game over akhirnya stelah putar pi tar kesana kemari di google dapatlah aku caranya berkomentar dan akhirnya aku baru komen tdi di level2 di game over. Awalnya juga nggak terlalu tertarik buat baca game over. Tpi stelah sampai di level 28 ini, sumpah aku greget banget sama game over . Sampai tdi malam bacanya sampe tengah malam karena penasaran terus. Dan sampailah aku dititik ini dimana aku harus benar2 usaha buat tau caranya gimana kasih komentarhehehehe kok jadinya aku curat yah. Kyknya udah dlu yah kak. Ini Bener kepanjangan curhatnya. Salam sukses buat kak irish. Tetap semangat berkarya

  2. Kaaaaaaaakk aku dagdigdug waktu jiho harus ngelawan baekhyun…
    Apa g ada keajaiban gitu, tiba tiba baekhyu nya sadar trs g jadi ngelanjutin nyerang jiho /protes aja nih/
    ka irish tuh yaa duuhh greget aku tuuuh
    yudh deh ikutin aja lah yaa ceritanya….

  3. Aku masih bingung deh kak Irish.. maksudku,sebelumnya kan baekhyun sudah menyingkirkan Chen dari posisinya sebagai villan utama padahal saat itu chen posisinya lebih diatas baekhyun. Tapi sekarang chen bisa memberikan comand ke baekhyun padahal baekhyun sekarang posisinya ada di rank 1.

    Ingat baekhyun,yang kau hadapi sekarang adalah nubela-mu(ADUH PAHIT RASANYA NGOMONG KEK GINI.PADAHAL KAN SEBENARNYA NUBELANYA BAEKHYUN KAN AKUUUU 😀 😀 )
    Ya Allah berikan mas Baekhyun hidayah-Mu Ya Allah…

    Kak btw,aku padahal mau lembur ngebutin baca game over loh,karena aku ketinggalan banyak chapter huhuhu…Tapi kenapa sampei sini malah di potexx ..SYEDIH AKU TUHH

    Kak iris boleh minta paswordnya?
    Boleh pokoknya.karena aku nggak mau ngasal ngetik tanggal ulangtahun ku,karena itu bakal percuma walaupun aku coba sembilan puluh sembilan kali.

    😀 😀 😀 😀

  4. Kalo NPC nya mati bisa balik lagi bukannya ya? Kek wendy gtu. Entahlah.
    Yg sabar yaa jiho, cari di dunia manusia mah, masa di game, jalan jalan sana, wkwk.

  5. Spoiler kakak yang buat aku ngga bisa comment apa-apa /bercanda/
    Yah kuakui aku bukan kakak yang tangguh menghadapi siders?karena siders aku berhenti nulis/yah jadi curhat deh,,,
    Baekhyun-ah ingat itu jiho,player yang amat sangat kamu cintai,,sadarlah bang

  6. Gatau kenapa aku sukak banget adegan pas jiho berhadapan sama baekhyun di arena gara2 chen, dapet banget feelnyaaa sukakk ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s