[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (CHAPTER 17 PT 2)

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

Yoon So hee  x Baek Eun Ha

Irene Bae  x   Park Ae Ri

Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer | Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks! Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Poster | RahayK Poster

Summary  this  Chapter |  aku memohon pada-Nya..agar kau tidak lagi berada dalam bahaya jika kau bersamaku.

Previous Chapter | First Encounter > Before time tell you to stop > Interview > Stranger(us) > Past pt.1 > Past pt.2 >Her Beloved > Fools love > For Life > All thing is back> Best (bad)gift >> Because Of Cola >> Game is Begin >> Meet and Invitation >> Unexpected Reality >> His Decision >> Someone from Past >> Mad (no) Hate^ 17.1 >> His Confession^17.2 (now)

-=LET ME IN=-

-=17 part 2=-

Dunia malam bukan sesuatu yang disukai oleh Eunha, ataupun Baekhyun mungkin. Karena, dahulupun, Baekhyun meminta Aeri untuk keluar dari pekerjaannya yaitu seorang bartender di Club yang sekarang lelaki itu datangi bersama Jackson, tertulis di depan sebelum pintu masuk ‘Club Aires’, Baekhyun berjalan masuk kembali ke dalam club begitu ia usai menerima laporan telpon dari Jaebum mengenai hasil perjanjian yang dibuat dengan Song Corp., Jackson melambaikan tangan pada Baekhyun yang menyorot pandang pada sekeliling dance floor dan juga beberapa sudut yang tersedia,bukannya menghampiri Jackson yang sudah melambai-lambai, justru Baekhyun  terpaku pada satu sisi meja bartender, yang letaknya agak jauh dari ia berdiri, matanya tak henti melihat pada sudut itu hingga Jackson tanpa diundang sudah berdiri di samping Baekhyun, ikut mencari apa yang sejak tadi menarik perhatian Baekhyun.

“Gadis itu..’ Baekhyun berjalan menjauh memilih untuk duduk di sudut bangunan yang jauh dari hiruk-pikuk orang-orang yang sudah hilang kesadaran. Sekalipun ia mendengar bahwa Jackson yang berkicau tentang kehadiran gadis itu yang  menjadi alasannya untuk ke sini dengan tujuan untuk menghindari bayangnya untuk sekejap saja, benar-benar membuatnya menyesal telah mengambil keputusan untuk mengikuti apa perkataan Jackson, seharusnya ia hanya cukup merebahkan diri di atas sofa dan membiarkan Jackson pergi sendirian ke tempat ini. Ingin menghindar dari bayang-bayangnya, justru dipertemukan dengan kebetulan yang benar-benar sedang meremehkan perasaannya yang masih kacau.

Baekhyun hanya meneguk soda yang memang ia pesan, ia tidak mabuk –bukannya tidak mau membuat malu Jackson, hanya saja melihat gadis itu hadir di tempat seperti ini, meski bersama teman roomatenya membuat Baekhyun resah, baginya walau gadis itu sudah cukup umur untuk menikmati tempat seperti klub malam, dan semacamnya, tetap saja ia hanyalah seorang gadis belasan tahun dengan kerapuhan yang hampir tak dapat ditolong lagi, hati kecil lelaki itu berkata begitu seperti umpama perkataannya seperti ini; “Baek Eunha tetap seorang gadis kecil yang ingin tahu banyak hal dengan hati yang rapuh.Ini bukan tempat yang aman untuknya.” Tanpa sadar hatinya berbisik begitu.

Lantas, kemarahan Baekhyun tak langsung padam. Situasi merumitkan segala yang ia ingin lakukan, perbuatan Eunha terakhir kali tak dapat ia lupakan begitu saja, termasuk bagaimana gadis itu berbohong tentang bahwa ia baik-baik saja di D Magazine. Ia tidak tahan untuk berada di sana dan menatap punggungnya, dan kadang tubuhnya yang duduk menyamping membuat Baekhyun hanya melihat gadis itu dari salah satu sisi saja, senyumnya jarang tertaut yang Baekhyun lihat hanya sebuah senyum kilas untuk menghargai orang yang mengajaknya berbincang. Salah seorang temannya kemudian pergi lebih dulu setelah menerima sebuah telfon, dan tak lama seorang lainnya pergi ke dance floor bersama pria random yang ia kenal tadi, Baekhyun kemudian beranjak, menarik sebuah helaan nafas yang agak kasar, ia frustasi dengan segalanya, ia perlu pergi sekarang. “Aku bosan. Ayo pergi.”kata Baekhyun dingin, berjalan meninggalkan Jackson. Jackson masih cukup sadar, lelaki itu memiliki toleransi alcohol yang lumayan tinggi jadi ia hanya mengekori Baekhyun dari belakang.

Namun, merasa tidak diikuti, Baekhyun menoleh dan mendapati Jackson mengambil jalan lain, Baekhyun menarik Jackson, “Apa yang kau lakukan?”tanya Baekhyun geram, Jackson terdiam dengan mata yang sayup-sayup menunjuk pada sebuah arah yang sebelumnya sempat membuat Baekhyun terpaku, dan lagi-lagi dibuat terpaku dengan pemandangan yang jelas membuat Baekhyun terasa dibakar hidup-hidup. “Lelaki itu menggodanya. Kita harus menolongnya, hyung.” Jackson berujar setengah sadar, tapi yang memang Baekhyun lihat demikian, apalagi orang yang menggodanya adalah lelaki brengsek yang ia kenal.Namun, Baekhyun malah diam ia berfikir sejenak, kemudian tetap membawa Jackson untuk pergi dari sana. “Ayo kita pergi. Biarkan saja dia, itu bukan urusanmu dan bukan juga urusanku.”sahut Baekhyun seperti orang yang sama sekali acuh terhadap Eunha. Ia tidak ingin, segalanya menjadi rumit dengan ia mengambil keputusan bodoh menolong gadis itu, segalanya tidak akan membaik kalaupun ia menolong gadis itu. Baekhyun sama sekali tidak ingin melihat Eunha lagi untuk selamanya, hanya sebentar lagi, ia bahkan tidak ingin jika Eunha menghilang dalam hidupnya, tidak lagi. Namun, hanya untuk saat ini ia ingin mengistirahatkan pandangannya dan juga fikirannya dari baying-bayang Baek Eunha.

**

Eo, kau disini juga Baek Eunha?”

Samar suara itu masuk kedalam pendengaran Eunha, kepalanya sudah berdenyut sejak 30 menit. Jelas saja, ini karena sudah bir gelas ke 4 yang Eunha minum, namun ia belum hilang fikiran, Eunhapun segera mengulas senyum malas begitu mendengar suara itu menyapanya. Mengapa juga, dari sekian banyak orang yang ada di night club ini harus ada seorang Kai didalamnya? Ini benar-benar merusak harinya dan juga suasana hati Eunha yang sedang dalam batas rasa bersalah dan keputus-asaan.

Eunha mengangkat kepalanya, “Aku disini sejak tadi. Bukan untuk mengikutimu. Mengerti?”jawab Eunha secara gamblang dan menaruh kepalanya di meja. Melihat itu, Kai hanya tersenyum dan memegang tangan Eunha, “Aku mengerti, nona editor. Kau ingin pulang bersamaku?”tanya Kai, Eunha menepis tangan Kai kasar, ia memang mabuk tapi ia masih cukup sadar dengan perkataan Kai yang benar-benar terdengar kurang ajar untuknya walau hanya sekedar mengajaknya untuk pulang. “Jangan menyukaiku, karena aku menyukai orang lain.”

“Setelah ia tahu apa yang kau lakukan, apa kau masih tetap menginginkannya?”tanya Kai, membuat Eunha terdiam, fikirannya kosong tiba-tiba, ia seperti kehilangan pertahanannya. “Ayo kita ke tempat lain yang membuat perasaanmu membaik, Nona editor.”ujar Kai lalu merangkul Eunha, berjalan meninggalkan night club. ‘..membuktikan bahwa kau mencintai orang yang salah.’

**

Baekhyun menurunkan Jackson di depan rumah, “Kau bisa membuka pintu rumahmu ‘kan?”tanya Baekhyun, Jackson menyengir lalu mengangguk, “Tentu saja. Aku masuk dulu, hyung!sampai jumpa.” Jackson berjalan agak sempoyongan menaiki tangga menuju rumahnya. Baekhyun kemudian mengeluarkan ponsel dan menekan dial terakhir dari panggilan favoritnya. Setelah mendengar nada tunggu cukup lama, panggilannya dialihkan pada suara operator yang segera diakhiri sambungannya oleh Baekhyun. Ia pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Namun, hati dan fikirannya tak menjadi tenang setelah semua hal yang ia lihat tadi di kelab. Ia khawatir akan sesuatu, sesuatu yang seharusnya tak perlu lagi ia risaukan sejak awal.

**

Eunha menggigit bibir bawahnya begitu sekilas ia menyapu pandangnya ke arah luar dimana lingkungan itu cukup asing baginya, ini bukan pekarangan rumahnya, ataupun apartemen sekretaris Baekhyun –Jaebum. Jelas, ini adalah sebuah lingkungan asing untuknya, sebuah bangunan tinggi yang gemerlap, seperti menjelaskan hanya orang-orang kalangan atas yang tinggal di bangunan menjulang itu. Kepalanya berdenyut, begitu sang pengemudi menghentikkan mobil yang ia kendarai, dan yang Eunha tahu sosok itu turun dari mobilnya da tak lama, pintu tempatnya berada dibuka oleh sebuah tangan, Eunha menghela nafas frustasi, begitu yang ia lihat adalah orang yang terakhir berbincang dengannya di night club. Namun, gadis itu tak cukup bisa mengeluarkan suara, karena kepalanya terasa akan jatuh kebawah. “Kai –ssi, aku tidak ingin bermalam denganku. Lepaskan aku, aku bisa pergi sendiri.”

Kai tersenyum miring, matanya mendelik tentu saja ia tidak akan dengan mudah melepaskan Eunha. “Tidak. Aku tidak mungkin mendengarkan racauan orang mabuk, Eunha –ssi.”ajak Kai memaksa Eunha untuk tetap masuk ke dalam apartemen mewah itu.Eunha tak cukup memiliki tenaga karena kepalanya semakin berdenyut, perutnya juga agak mual, rasanya seperti ia diputarbalikkan dan kakinya digantung di atas kayu dengan kepala di bawah. Kai menyeret Eunha untuk masuk ke dalam lift, orang-orang tak banyak berkomentar termasuk security karena Eunha kini tengah tidak cukup sadar untuk dibilang sedang diperlakukan dengan tidak baik oleh Kai. Pintu lift tertutup, sementara tangan Kai sebelah kanan terus memegang Eunha dan tangan kirinya menekan angka 15 mungkin itu adalah lantai dimana Kai tinggal.

Kai mengunci lengan Eunha, ia menatap Eunha intens. “Lepaskan. Kau benar-benar buruk memperlakukan orang mabuk.”rutuk Eunha balas menatap Kai, bukan jenis tatapan yang sama dengan Kai, justru Eunha menatapnya dengan jenis tatapan menyedihkan.Kai mendekatkan wajahnya pada Eunha, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan, namun dengan cepat Eunha menolehkan kepalanya kearah lain, jelas ia menghindari untuk dinistakan oleh Kai dalam keadaannya yang setengah sadar, itu sama saja pelecehan.

Ting!

Pintu lift terbuka, lorong apartemen kosong melowong mungkin waktu yang sudah larut atau para penghuni apartemen mewah cenderung hidup individualis, Eunha ingin terjatuh dalam lelap karena kepalanya sudah cukup pening dan yang pasti fikiran Eunha benar-benar sudah tidak terkontrol lagi, dengan Kai membawanya kesini ia sudah tau arah fikiran busuk lelaki itu berada. Eunha memberontak sebisa mungkin, “Lepaskan aku,” Kai membiarkan Eunha melepaskan genggaman tangannya, tapi ayolah –tidak semudah itu Kai akan melepaskan mangsanya.

Ia kembali berjalan dan menyeret Eunha secara paksa, ia bahkan menyekap mulut gadis itu dengan tangannya agar gadis itu berhenti untuk berteriak, sementara Eunha tenaga Eunha yang setengah sadar tak cukup besar untuk melawan Kai. Kai tiba disebuah pintu pada lorong paling ujung, dan membawa Eunha masuk ke dalam sana.

Lelaki itu segera melempar Eunha di atas ranjangnya, sementara lelaki itu pergi mengambil bir dari lemari pendingin yang letaknya berada di dapur, oh, tak lupa juga tentu saja ia menawarkan gadisnya itu, “Eunha –ssi, kau mau bir juga?”tanya Kai dari dapur, Eunha hanya tersenyum mencebik, ia masih cukup waras untuk menganggap pertanyaan Kai seperti orang tak waras setelah apa yang ia lakukan pada Eunha barusan. Jika ia berpacaran dengan Kai, sudah pasti ini dianggap kekerasan dalam pacaran.

Eunha mengambil ponsel dari saku mantelnya, segera ia hubungi dial nomor 1 yang sudah jelas siapa pemiliknya. Hanya terdengar nada sambung begitu lama, dan tak lama nada itu hilang tergantikan dengan sebuah suara yang begitu ia rindukan –begitu lama.

“Halo..”

Eunha tak segera bersuara, ketimbang bersuara mendengar suara itu dan cukup sadar bahwa orang itu menjawab panggilannya saja sudah membuatnya menitikkan air mata. Anggaplah itu cukup melegakan Eunha, “Baekhyun –ssi. Aku mohon..,”

“Baekhyunmu tidak disini. Dia tidak membutuhkanmu.”ujar Kai yang suaranya semakin mendekat menuju tempat Eunha berada. Kai terdiam, ia menaruh birnya di nakas, menyeret kembali Eunha yang sudah tidak ada di ranjangnya melainkan di pintu keluar. “Kau perlu diberi pelajaran, Eunha.”

Eunha meringis kesakitan, tentu saja genggamannya masih erat pada telfonnya yang masih tersambung pada Baekhyun. “Baekhyun –ssi, tolong aku! Aku takut!”teriak Eunha seraya terisak, Kai melempar ponsel itu ke lantai, tidak cukup keras hingga ponsel itu masih menyala. Ia menampar Eunha.

**

Baekhyun yang baru saja turun dari mobilnya segera kembali masuk ke dalam mobil dan menekan pedal gas, melesat secepatnya. Khawatirnya tak lagi terbendung, ia mencari sebuah aplikasi yang dapat melacak keberadaan Eunha, menatap layar ponselnya penuh resah, dengan jelas ia masih mendengar tangisan Eunha dan teriakan gadis itu di sebrang telfon, setelah itu entah karena apa sambungan terputus. Mungkin saja, Kai yang melakukan itu. Setelah menemukan alamat Eunha berada, Baekhyun segera mengambil lajur cepat dan berharap semoga Eunha baik-baik saja. Sumpah demi laut terbelah, jika Jongin keparat bajingan itu berani menyentuh Eunha lebih dalam lagi, ia akan membunuh Kai dengan tangannya. Siapapun akan menyadari, bahwa Baekhyun benar-benar takut bahwa Kai membuat Eunha berada dalam bahaya, atau lebih tepatnya karena Baekhyun, Eunha akan terus-menerus dalam bahaya. Tidak peduli, apa dan kapan.

Meski sambungan itu sudah terputus, Baekhyun masih terus merasa ngilu mendengar Eunha menangis, begitu tiba dengan cepat ia meminta akses pada pihak security untuk mengakses apartment itu dengan access card milik sang ahjussi security.

Brak!

Pintu itu terbuka, Baekhyun segera mencari Eunha yang sedang diperlakukan secara tidak hormat oleh  Kai. Kai menarik kerah belakang lelaki itu, mendorongnya hingga lelaki jangkung itu tersungkur di lantai, ia memberikan sebuah tinju mentah pada wajah Kai yang hanya disambut oleh senyuman sakartis. “Kau benar-benar bajingan!”umpat Baekhyun, lalu mengambil ponsel Eunha yang terletak di lantai, lalu membawa Eunha pergi dari sana.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi?”tanya sang security yang sudah paruh baya itu sedang menunggu di luar. “Pastikan hal ini tidak menyebar ke penghuni lain.Anggap saja, ahjussi tidak pernah melihat ini.”kata Baekhyun pada sang ahjussi seraya mengeluarkan beberapa lembar won dan memberikannya pada ahjussi paruh baya itu. Lelaki itu kemudian melepaskan jaketnya, dan memasangkannya pada Eunha, menutupi bagian memar pada bagian leher dan lengan gadis itu. Keduanya hanya terdiam di dalam lift, hingga menuju mobil Baekhyun yang terparkir di outdoor dan segera melesat pergi meninggalkan tempat hina itu.

Setelah cukup lama mengendara, Baekhyun menghentikan mobilnya di tepi sungai Han spot itu cukup sepi sehingga Eunha tidak akan menjadi bahan gunjingan orang lain nanti. Keduanya hanya turun dari mobil dan memandangi sungai Han dengan fikiran mereka masing-masing. Eunha merasa kotor dan malu dihadapan Baekhyun. Ia pun memilih berjalan berbalik meninggalkan Baekhyun kearah yang berlawanan. Baekhyun mengikuti langkah Eunha, suara lelaki itu akhirnya lolos dari bibirnya yang tipis, “Nona Baek,” panggilnya, ia tidak yakin bahwa Eunha akan membaik atau tidak dengan situasi sekarang, namun demi apapun, “..bukan begitu cara berterimakasih yang baik pada orang yang sudah menolongmu.”lanjut Baekhyun lagi.

Baekhyun hanya ingin melakukan satu hal untuk gadis itu. Eunha berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. Sementara Baekhyun yang berdiri agak jauh dari Eunha hanya mengayunkan langkahnya pelan menuju gadis itu sedang tertegun meski tidak melihatnya secara langsung, ia hanya menunduk dengan kebisuannya.

Baekhyun menghela nafas pelan, nyaris tak terdengar. Kemudian menyentuh bahu Eunha dan membalikkan badan gadis itu, yang dilakukan tanpa perlawanan oleh Eunha. Ia maju selangkah di depan Eunha, lalu menaruh kepala Eunha di dada bidangnya tanpa berkata lagi, tangan Baekhyun mengelus punggung Eunha, berharap gadis itu dapat merasakan kehangatan, dan melegakan perasaannya.

Gadis ceria itu memang sudah menjatuhkan air matanya bahkan sejak tadi Baekhyun datang untuk menyelamatkannya, namun barulah gadis itu menangis begitu banyak, meski ia tidak mengatakan apapun, Baekhyun mengerti bahwa semua yang gadis itu alami akhir-akhir ini sudah berat, terutama hari ini. Lelaki itu menyesali dalam hati, bahwa ini semua berawal dari sebab karena ia marah pada Eunha, ia memang perlu penjelasan dari Eunha, namun sungguh, ia cukup tahu diri untuk tidak mengusik Eunha yang masih sedang dalam masa shock pasca percobaan perkosaan dan sedikit pelecehan yang ia alami.

**

Baekhyun menekan bel sebuah rumah, namun bukan rumah Eunha tentu saja. Tak lama, pintu itu terbuka, orang dari dalam agak terkejut melihat siapa yang menjadi tamu tengah malamnya. “Oh, Baekhyun ada apa pulang kemari, nak?”tanya wanita paruh baya itu yang tetap terlihat cantik diumurnya yang tidak lagi muda, ia kemudian melirik Eunha yang ada dibalik punggung Baekhyun, ya gadis itu memang digendong oleh Baekhyun dipunggung lelaki itu, dan tentu saja ia terlelap dengan mata yang sembab habis menangis.Setelah tertawa kecil, akhirnya Miyeon mempersilahkan sang anak untuk masuk ke dalam rumahnya.

Baekhyun meletakkan Eunha begitu hati-hati, seolah Eunha adalah bayi yang masih begitu sangat rapuh.Ia kemudian melepaskan sepatu gadis itu dan menyelimuti Eunha. Miyeon sempat melotot begitu Baekhyun membuka jaket yang Eunha kenakan. “Apa pacarnya yang melakukan itu?”bisik Miyeon dengan seberkas raut wajah penuh tanya, Baekhyun hanya menggatung jaketnya pada sebuah hanger yang ia ambil dari lemari pakaiannya. “Bukan. Orang sakit jiwa yang terobsesi padanya.”ujar Baekhyun seraya mencari baju ganti untuk dirinya dan segera mengganti dengan cepat tanpa perduli dengan Miyeon yang masih ada di kamarnya.

“Oh, jadi kau adalah ksatria dengan kuda hitam yang menyelamatkannya, begitu?”kekeh Miyeon membuat Baekhyun mendelik lalu memberikan baju dan handuk kecil pada sang ibu. Perumpamaan yang kuno, dan Baekhyun tidak bilang tidak suka mendengar itu, hanya saja sepertinya agak kurang pantas, mengingat ini semua disebabkan karenanya juga. “Tolong gantikan pakaiannya, dan bersihkan memar dan luka yang ada ditubuhnya, bu.”pinta Baekhyun pada Miyeon, yang hanya disambut dengan dahi mengernyit heran, bahwa berani sekali ia menyuruhnya melakukan ini itu. “Lalu kau ingin kemana?”tanya sang ibu, Baekhyun mengulas senyum dan mengambil ponselnya Eunha dan miliknya, “Aku harus menghubungi roommate Eunha, pasti kedua unni nya akan khawatir karena sudah dini hari adik kecilnya belum pulang.”pungkas Baekhyun lalu keluar dari kamar.

**

“Halo, ini Baekhyun –jisoo ssi. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Eunha sedang di rumah ibuku, karena ada masalah yang harus dibicarakan dengannya.”

Jisoo terdiam, Sowon ikutan terdiam karena panggilan itu dengan mode handsfree keduanya saling melempar pandang seperti siapa yang akan menyahut perkataan Baekhyun tadi, dan setelah berdebat akhirnya Jisoo mengalah dan menyahut perkataan Baekhyun. “Ah ne, syukurlah. Aku fikir terjadi sesuatu yang berbahaya pada Eunha, kami khawatir setengah mati, Baekhyun ssi.”

Baekhyun hanya mendengarkan dengan ekspresi netral saja, tak lama Miyeon keluar dan berselang dengan Baekhyun yang menutup panggilannya. “Ne, maaf menggagumu malam-malam.”

Klik.

Sambungan telfon terputus, Miyeon kembali berbicara pada Baekhyun yang sedang mengambil air dingin dan handuk kecil. “Suhu tubuhnya sangat tinggi. Sepertinya ia begitu shock dan takut, karena dari tadi ia tak berhenti untuk meringis dan meracau –Baekhyun, gadis itu tak sekedar dipukuli,kan?”tanya Miyeon dengan menatap sang anak nanar, tentu saja gadis mana yang tidak menangis melihat seorang gadis asing yang tidak dikenalnya badannya terlihat banyak memar dan meracau bahwa ia tidak ingin disentuh sama sekali.

Baekhyun berjalan mengahampiri sang ibu, mengambil alih handuk kecil dan baskom yang berisi air dingin itu, meletakkannya di atas meja dapurnya. Dan kemudian memeluk sang ibu erat.Siapapun, akan terluka melihat keadaan seorang gadis yang diperlakukan seperti itu. “Itu hampir terjadi, jika saja ia melakukan panggilan untukku sedikit terlambat. Dan, selama dalam perjalanan aku tak pernah berhenti berdo’a, meminta agar Eunha tetap dilindungi meski ia dalam bahaya.”ucap Baekhyun. Lalu, segera masuk ke kamar Eunha berada dengan baskom dan handuk kecil di tangannya.

Ia mengambil kursi dan duduk disana, lalu sambil mengompres dahi Eunha, ada sebuah bekas luka disana yang untuk pertama kalinya Baekhyun lihat, karena tertutup oleh anak rambut Eunha, meski gadis itu tidak berponi. “Jangan seperti ini, kumohon..-‘racaunya dengan mata masih terpejam, namun  keluar bulir dari netranya, terus mengalir tanpa henti. “..ahjussi, aku sangat takut.”lagi, itu adalah racauan Eunha, Baekhyun yang tadinya hanya mendengarkan kemudian menggenggam tangan gadis itu, meski tak erat. Ia membisikkan sesuatu pada Eunha, sekalipun Eunha tidak mendengarnya, maka biar saja hanya Baekhyun dan Tuhan yang tahu.

**

Eunha membuka matanya spontan, terkejut adalah reaksi pertamanya. Jelas, ketika matanya terbuka bukan langit-langit berbintang yang ia temui yang merupakan kamarnya, melainkan hanya langit-langit berwarna putih kusam namun masih cukup terawat. Sinar mentari sudah masuk melalui gorden yang tersingkap cukup lebar, detik berikutnya adalah sekeliling kamar yang benar-benar rapih namun sepertinya ini adalah kamar anak laki-laki. Reaksi berikutnya bukan lagi terkejut, begitu melihat sebuah foto berbingkai yang terpajang di nakas. Eunha mengusap wajahnya, perasaannya kini begitu abstrak, ia tidak merasa gembira, tidak merasa baik-baik saja, namun ia teringat akan sesuatu. Sesuatu hal yang membuat ia berfikir apa yang ia dengar hanya mimpi atau memang nyata, gadis itu menoleh pada nakasnya kembali, masih ada baskom yang berisi air dan handuk di sana. Satu yang jadi pertanyaannya, Apa..itu adalah nyata?

“Aku bahkan tidak tahu apa kau mencintaiku adalah salah atau benar, apakah aku yang tidak mengusirmu dari hidupku adalah keputusan yang benar atau salah, namun, aku berharap pada Yang Maha Kuasa, jika memang kau ditakdirkan untuk ada di garis hidupku, meski aku terus menolak, aku memohon pada-Nya..agar kau tidak lagi berada dalam bahaya jika kau bersamaku.Kau harus tahu, keinginanku untuk mendorongmu menjauh dari hidupku, bukan karena aku benar-benar marah padamu, ataupun kecewa padamu. Namun, aku takut jika hal lebih mengerikan terjadi padamu. Maafkan aku, jika sikapku akhir-akhir ini membuat harimu berat, Baek Eunha. Aku takut, dimana ada saat aku sama sekali tidak mampu untuk melindungi dirimu, sangat takut. Itu membuatku seperti ingin mati.Maafkan aku atas hari yang mengerikan ini.”

Miyeon membuka pintu kamar, ia tersenyum pada Eunha yang terkejut melihat sosoknya. Penampilannya begitu buruk, di depan seorang ibu yang mungkin saja menjadi ibu mertuanya nanti? Oh, Eunha belum senarsis itu kok. Ia hanya mengandaikan saja. “Sudah bangun, Eunha-nim?”tanya Ibu Baekhyun seraya membawakan nampan berisi sarapan pagi dan segelas air putih untuk Eunha makan. Eunha ingin turun namun dicegah oleh ibu Baekhyun.

Anyeonghaseo..Baekhyun ahjussi –eomoni..”sapa Eunha menundukkan kepala, “Apa? Baekhyunku dipanggil ahjussi olehmu, Eunha-nim?”tanya Miyeon masih dengan senyumnya yang lembut, ia kemudian mempersilahkan Eunha untuk memakan sarapannya. Eunha tersenyum kecil, lalu memakan suapan pertamanya. “Iya, karena Baekhyun ahjussi berbeda 10 tahun denganku. Dan, eomoni.. jangan panggil aku dengan sebutan –nim.Panggil saja Eunha.”ucap Eunha malu-malu, sebagai senjata pertama agar ia mendapat kesan baik oleh sang ibu mertua diam-diam, Eunha tertawa sendiri membayangkannya. “10 Tahun?Ya Tuhan, rentangnya cukup jauh ya..”

“Baekhyun ahjussi,”

“Oh, dia sudah berangkat tadi pagi-pagi. Ia menitip pesan untuk tidak membiarkanmu pulang dulu untuk hari ini, keadaanmu belum pulih sepenuhnya.”

Aah, aku mengerti. Eomoni, aku boleh memanggilmu begitu,kan?”

“Silahkan saja, aku keluar dulu. Nikmati sarapanmu, Eunha.”ujar Miyeon seraya mengulas senyum yang membuat kecantikkannya tetap terlihat meski tidak lagi muda.Dalam dua detik, Miyeon hilang dibalik pintu, Eunha kemudian mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi Baekhyun, namun tidak dijawab.

TO BE CONTINUE..

A.N [TOLONG DIBACA YAAA READERS TERSAYANG :*]

Gak bosen-bosennya saya bilangin kalian untuk komen, karena jika pos kali ini masih kurang dari 10 orang yang komen (diluar reply comment dari saya) dengan terpaksa saya harus berikan password meski sebenarnya saya agak malas sama masalah ini. Tapi, coba kalian bayangin nulis satu chapter itu butuh pemikiran gaes, kalo kerjaan kalian cuman baca tanpa kasih feedback buat saya, untuk apa saya capek-capek nulis? Iya gak? Jadi, dengan baik baik saya minta untuk meninggalkan jejak, entah like atau komentar. Oke? Karena seperti yang saya bilang kalau komentar chapter ini tidak sampai 10 readers/user maka dengan terpaksa chapter berikutnya akan di protek gak peduli mau ini cerita udah mau kelar atau belum 😊

Buat pembaca yang punya tangan iseng yang tukang kopas plis banget, ini cerita gak bagus-bagus banget janganlah kalian merepost dan mengganti nama dalam cerita ini karena seluruh cerita ini murni dari pemikiran saya, meskipun saya punya inspirasi tertentu pastinya. ITU PLAGIAT! Saya yakin cerita saya emang masih receh, tapi buat nulisnya butuh pemikiran gak Cuma asal-asalan aja. Karena Story sebelum Let Me In yaitu Hold Me Tight, jujur di salah satu akun wattpad ada yang memplagiatisme keseluruhan ceritanya dan hanya mengganti nama authornya saja. Keterlaluan gak?! Ya jelas. Meski udah kejadian lama, namun tetap aja saya masih ingat betul kejadian itu.

Maaf kalo saya agak marah-marah, tapi demi kenyamanan semuanya baik saya dan kalian para pembaca. Have A nice day dan Semangat terus!

p.s: Chapter kemungkinan akan dibagi 2 pos tiap minggu atau mungkin tetap jadi satu namun posnya 2 minggu sekali. Pilih mana?

p.s.s: Tinggal sisa 6 chapter lagi! Dengan 2 chapter tambahan maybe? I dunno muehehe

43 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] LET ME IN (CHAPTER 17 PT 2)”

  1. Aaaa,,, kapan baekyun nyataiin perasaan nya kasian eunha selalu dicuekin tapi biar baekhyun dingin tapi ada manis manis nya gima gitu kok jadi aku yg senyum senyum sendiri pas liat moment baek eunha
    Semangat thour nulisnya

  2. aku dah deg”an aja.. itu kai kelewatan banget yak anak orang digituin, itu bkn lagi obsesi, pelampiasan…. hufff
    untung baekhyun gk telat.. jangan mikir 2x kalo mau nolongin orang.. entar bakal nyesel.. wkwkwkk

  3. Bagus kak Thor 😀😀 pas waktu baca yg si Eunhanya jelasin beda dia ama si baek 10 thn aku jd baper sendiri wkwkwk soalnya aku sama bias jgk beda 10 thn wkwkwk.

    Pokoknya semangat ya kak nulisnya😀😀

  4. bgus bgt kk critanya.
    huh kai ny kok jht bgt sich. rasa cintany bkin eunha tersakiti. aq dkung bgt klw eunha ma baekhyun. semangt ya kk. nulis next chapterny. Ditunggu trus.
    gomawo

  5. Uuhh akhirnya, greget banget chapter ini, untung ada baek klo gx ada udh gx ke bayang gmna nasip eunha, dah gx sbr nunggu kelanjutanya

  6. baek kebanyakan ini itu deh.😑😑 kalo suka iaa suka aj baek’ gak usah menyiksa perasaan sendiri . kasian jg eunha nya. dia udah gak punya siapa” tega bnget km nambah”in sakitnya .buruan baikan tp jangan buru” jadian’ aq ska kalou lg momen” sweet baek couple ‘ greget” gimanaaa gitu..
    buat kai yg terobsesi sama eunha dan udah nyakitin jg’ (semoga tuhan mengampni atas dosa”mu )
    kk rahayK tetap semangt ka .. aq bner” suka sama critanya . kalou part selanjutnya kk pasword aq harap kk membaginya ke aq. kk HWAITING ..!!!

    1. hahahaha para readers mulai mengecam Baekhyun permisah ~
      yang sabar aja yaa, baekhyun emang lambat menyadari segala sesuatu.. hmmm
      dia tipe orang yang mikir panjang jd maklum aja deh ya
      terimakasih semangatnya ~
      dan komentarnya^^

  7. Wahhh kai knpa kau bangsat sekali,, punya Baekhyun tuh, masih aja di sosor, kena bogem kan lu..😈

    Baekhyun kapan sih kamu nyatain perasaan ke Eunha,,, aku aja udah lumutan nunggunya apalagi eunha,, kalau cinta mah di ungkapin jgn banyak2 di pendam #inimahcurcol😂😂

    Penasaran juga sma kasus yg soal kebakaran itu,, pasti ada sangkut pautnya antara kai,eunha dan baekhyun… Di tunggu aja kelanjutannya Rha…😊

    Hwaiting💪💪

  8. Ff yg aku tunggu akhirnya datang..haha..si Kai nakal ih..tp untung si baek ahjussi datangnya ontime..si baek jg sok2an gak peduli pdhl khawatir bgt..penasaran euy sm next partnya..semoga aja di chapter depan si baek sm eun ha bisa sama2 ya..hihi…
    Keep writing ya author nim
    Semangat…..

    1. Btw nanti kalo dipassword..bolehlah bagi daku ini passwordnya ya..jebal..
      Gak tahan kalo lagi baper2nya sm baekhyun-eunha..ehh gak bisa baca next chapternya..
      Huhuhu kan jd syedih akunya…

  9. FF yang aku tunggu tunggu,kalo aku pilih ya thor mending satu chapter di bagi jadi 2 pos tiap minggu soal nya 2 minggu tanpa kabar Let Me In tu rasanya susah banget XD.and gak nyangka kalo kai bisa sekejam itu semoga cuma di ff aja ya,kasian eunha huhuhu..Hwaiting thor.

    1. yeiyalahh just in my imagine aja. kalau beneran? ya jangan toh weladalah piye toh aku gak suka dong sama bang kai. btw.. karakter paling jahat yang udah aku buat emang di let me in doang dah wkwkwkwk
      btw.. aku cuman kasih spoiler, nulisnya udah selesai tinggal tunggu updatenya ajaa yaa

  10. Dasarrr si Kai itu yaaaa… Berani2nya dia nyentuh Eun Ha… Ugh…
    And yeiiii akhirnya update 2 Minggu berturut-turut seneng banget… Namun sebelumnya aku mau minta maaf Thor Krn kemaren gak sempat komen soalnya hp aku lagi rusak dan belum beres sampai sekarang(kok curhat Yaaa😄),tapi sekarang Alhamdulillah ada teman yang berbaik hati mau meminjamkan hpnya kepadaku UU (alayyy😂) jadi aku bisa baca ff ini… Intinya aku selalu nunggu chapter selanjutnya Thor…. Fighting

    1. hng.. aku maafkan kalau seperti itu. muehehehe abis yang kmrn itu hamdallah masuk most visited tp yang komen dikit ku kan sedih sekalii T_T
      hueheheh makasih loh udah di tunggu aku senang
      btw.. karena saya udh nulis smpe selesai jadi kalian bisa berbahagia deh nungguin tiap minggu terimakasih atas komentarnya 🙂

  11. Yeayyy akhirnyaa ada lagiii.. seneng banget pas cek pulang skolah udah ada, padahal tadi waktu di skolah cek blm adaa. aku vote ya supaya tiap minggu ada chapternya, jadi gpp di bagi 2 aja.. soalnya kalau dua minggu skali nunggunya berasa lama bangett.. semangatt yaa untuk next chapternya.. apa pun keputusannya aku dukung!!! Fighting!!

    1. hamdallah.. 😄 wkwkwk sampe segitunya kamu.. 😃 hehehe makasih udh baca dan komen yaap
      next week akan tampil tiap minggu.. karena hamdallah lagi udh kelar nulisnya smpe epilog

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s