SADISTIC NIGHT -CH. 9 : It’s You P.1- by AYUSHAFIRAA

PicsArt_09-20-10.46.19

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

*Already published since 2015, here.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Prev. Night : WAY? P.1 | WAY? P.2 | MS P. 1 | MS P.2 | D P.1 | D P.2 | WIL? P.1 | [GET PASSWORD] | [Protected] WIL? P.2 | TS P.1 | TS P.2 | TEOMS P.1 | TEOMS P.2 | [Protected] YHTG P.1 | YHTG P.2 | TR P.1 | TR P.2

| BAB II ▶ CH. 9 : It’s You P.1 |

“Kau… benarkah itu kau?”

.

Part 1

.

“Cepat cium aku sebelum aku mati di jaman ini!” bentak Tao.

Ragu-ragu, Yoora meraih bibir Tao dengan bibirnya, melumat bibir lelaki itu lembut, berciuman di tengah kesakitan Tao. Saat mata mereka berdua terpejam, suara kegaduhan teriakan para pengawal istana itu perlahan berganti menjadi keheningan yang menenangkan.

Mereka telah sampai, kembali ke jaman di mana seharusnya mereka berada. Tahun 2015, yang jaraknya 176 tahun dari tahun 1839 namun dengan kekuatan yang Tao miliki, mereka hanya memerlukan waktu sekejap untuk pergi dan kembali.

Oppa…” Yoora melepas tautan bibirnya saat menyadari ke-9 vampir keluarga Lee sudah berdiri di sekelilingnya, termasuk Baekhyun yang entah sejak kapan terbangun dari komanya.

“Lanjutkan saja, setidaknya, berciuman bisa mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Tao. Aku akan mencabut panah di kakinya dan mengobati lukanya.” Ucap Xiumin.

Yoora terdiam, lebih terlihat berpikir. Beberapa saat kemudian, ia melihat Xiumin berusaha mencabut panah di kaki Tao tanpa memberi Tao obat bius terlebih dahulu, setetespun. Jeritan dan rintihan Tao terdengar mengisi setiap sudut kamarnya, membuat saudara-saudaranya yang lain memandang tak tega.

Oppa, kenapa kau tidak membiusnya?! Itu akan benar-benar membuatnya kesakitan!”

Gerak tangan Xiumin terhenti,

“Lalu, bukankah kau kuperintahkan untuk menciumnya lagi huh?! Itu bisa mengurangi rasa sakitnya! Kalau kau tidak melakukannya sekarang juga, dia akan tetap tersiksa karena aku tetap akan mencabut panah yang masih menancap di kakinya ini!”

“Akhhh… Yoorahh cepath! Cium aku… akh! Cepath!” jerit Tao tak tahan.

Yoora menatap Baekhyun, mata mereka yang berbeda warna itu akhirnya kembali bertemu setelah sekian lama. Seolah mengerti dengan keraguan yang ada dalam benak gadis itu, Baekhyun memperlihatkan senyumannya, meyakinkan Yoora.

“Tidak apa-apa. Tao tidak mempunyai maksud lain, dia membutuhkanmu.” Jelas Baekhyun.

Mendengar kata-kata Baekhyun, Yoora kembali mencium Tao, membiarkan Tao berkuasa atas bibirnya untuk sekedar melupakan rasa sakit yang dirasakannya. Xiumin melanjutkan tugasnya, mengobati luka Tao setelah berhasil mencabut anak panah dari masa Joseon itu.

“Obat biusku habis, tidak mungkin aku membelinya sekarang dan tidak mungkin pula kami membawa Tao ke rumah sakit. Mungkin mereka akan menganggap Tao tidak bisa diselamatkan karena jantungnya yang tak berdetak lagi dan berita Tao akan langsung menjadi hot news di media-media bodoh itu.” ujar Xiumin sambil terus menusukkan jarum untuk menjahit luka Tao setelah lebih dulu membersihkannya dengan cairan alkohol.

Dalam ciumannya, ketika Tao merasa benar-benar kesakitan, Tao akan menggigit bibir Yoora yang ia lumat hingga berdarah. Lelaki itu memang tergoda akan bau darah Yoora, tapi ini bukan saat yang tepat untuk menikmati darah gadis manusia. Bukan, bukan di saat ia bersakit-sakit seperti ini.

Melihat darah yang menetes dari sudut bibir Yoora membuat tenggorokan ke-10 vampir di kamar Tao itu mengering seketika. Mereka semua sama-sama butuh dibasahi.

“Ehm.” Sehun berusaha membasahi tenggorokannya dengan menelan air liurnya berkali-kali, tapi tak berhasil. Tenggorokannya membutuhkan cairan kental berwarna merah berbau anyir yang disebut darah.

Hyunghh… aku tidak tahan lagi.” vampir termuda itu melangkah perlahan mendekati Yoora yang masih berciuman dengan Tao, tapi Baekhyun dengan cepat mendorong adiknya itu menjauh dari Yoora.

“Aku juga…” lensa mata Chanyeol menyala, terbutakan oleh bau darah yang sedaritadi menggoda sistem pernafasannya.

“Kai-ya! Cepat bawa mereka jauh-jauh dari sini!” ucap Suho yang juga berusaha keras melawan nafsunya.

“Ma-maaf, Hyung… Aku juga tidak bisa menahannya… darah itu…”

“Diamlah! Kalian semua mengganggu konsentrasiku!” amuk Xiumin, ia masih sibuk merapikan jahitan di luka Tao.

“Siapa saja, asal jangan Yoora.” ucap Baekhyun tiba-tiba.

Sehun tertawa, lebih seperti mencibir. “Dia bukan hanya milikmu, Hyung! Berhentilah bersikap seolah-olah kau yang paling benar di sini! Mari kita nikmati saja darahnya bersama-sama!”

“Berhenti bicara omong kosong di depanku, atau kurobek tenggorokanmu!”

Tangan Dio mengepal,

“Dasar jalang. Sudah kukatakan padamu untuk pergi dari tempat ini, tapi ternyata kau sama sekali tak mendengarkanku.” Gumamnya yang terdengar jelas di telinga Yoora dan Baekhyun.

Yoora melepas ciumannya dan menunduk, menyisakan Tao yang merintih kesakitan. Tangan Baekhyun mengepal kuat, siapa sebenarnya yang Dio panggil ‘jalang’?

“Aku memang jalang.” airmata Yoora menetes, bibirnya terlihat bengkak dengan sisa darah yang mulai mengering di sudut bibirnya.

“Yak! Kau ini apa-apaan?!” bentak Baekhyun tak terima akan pengakuan Yoora barusan.

“Aku pernah hampir diperkosa, berciuman berkali-kali dengan lelaki yang berbeda, dan bahkan sekarang, aku sudah berani menawarkan tubuhku sendiri sebagai imbalan. Kurang apa lagi untukku disebut jalang?”

Baekhyun terdiam, bersamaan dengan bungkamnya ke-9 saudaranya yang lain.

“Setelah Tao, kalian boleh menikmati tubuhku sepuas hati kalian. Tidak apa-apa, aku tidak akan lupa kalau aku adalah seorang perempuan jalang.”

PLAK!

Suho menampar pipi Yoora keras-keras,

“Aku tidak pernah berkencan dengan perempuan jalang!”

“Keluarlah, sebelum mereka benar-benar haus akan darahmu.” Lanjut lelaki itu tanpa menatap Yoora sedikitpun.

♥♥♥

Malam itu, suasana makan malam di keluarga Lee kembali terasa aneh. Setelah Suho dan Baekhyun, kini giliran Tao yang absen dari acara rutin keluarga mereka itu.

Tao mengurung dirinya di kamar, tak ingin ada seorang pun yang melihat dirinya dalam kondisi cacat. Pandangannya kosong, seolah tak mampu untuk berharap apa-apa lagi. Kakaknya, ya, Xiumin-lah yang memberitahunya secara langsung, kalau dirinya tidak akan bisa berjalan lagi dengan kondisi kaki yang terluka parah seperti itu. Ia cacat sekarang.

“Yoora, kau tidak memakan makananmu?” tanya Pace yang kini mengisi tempat duduk jauh di depan Yoora yang semula terkosongkan.

Gadis yang ditanya itu tak menjawab, malah sibuk memain-mainkan sendok yang dipegangnya di atas omelette yang sama sekali belum ia makan.

“Ehm, Yoora. Ayah kami sedang bertanya padamu.” Sehun berbisik sambil menyiku lengan Yoora, membuat si empunya lengan otomatis tersadar dari lamunannya.

“Ya? Ah, maafkan aku!”

“Padahal biarkan saja dia, dia memang tidak punya telinga.” Ucap Dio dingin.

“Hentikan, Dio-ya. Jangan memperkeruh suasana.” Balas Suho.

Yoora berdiri dari duduknya, nafsu makannya semakin berkurang setelah mendengar Dio mengumpatnya.

“Kau kenapa, Yoora?” tanya Lay yang sedaritadi memperhatikan gadis itu.

“Maaf, aku pikir aku butuh istirahat.”

Yoora merapikan kembali kursinya lalu melangkah keluar dari ruangan yang suasananya semakin terasa aneh itu.

Gadis itu terus berjalan tanpa menyadari seorang lelaki tampan di belakangnya juga tengah berjalan mengikuti ke mana pun langkah kakinya pergi. Langkah kakinya itu akhirnya membawanya ke balkon yang ada di lantai 3. Angin dingin yang berhembus malam itu seolah menyambut kedatangannya dan kedatangan seorang lelaki yang masih belum ia sadari kehadirannya.

Tangan hangatnya menyentuh pagar pembatas balkon yang dingin, wajahnya perlahan tertunduk.

“Apakah aku benar-benar Baek Soomin? Gadis yang sangat dicintai Baekhyun Oppa, gadis yang dirindukan Baekhyun Oppa selama ini, aku kah gadis itu?”

“Kau… benarkah itu kau?”

Yoora berbalik, mendapati Baekhyun berdiri agak jauh di belakangnya dengan tubuh gemetar dan mata berbinar menanti jawaban. Lelaki itu mendekat dengan langkah terburu-buru dan memegang erat kedua bahu Yoora, menatap gadis itu dengan binar bahagia.

“Kau… Soomin, benarkan?”

“Kau… kekasihku, benarkan?”

“Kau… benar-benar Soomin kekasihku!”

BREG!

Baekhyun memeluk tubuh Yoora erat, melampiaskan seluruh rasa rindunya yang selama 176 tahun membuatnya tersiksa.

Yoora memejamkan kedua matanya, perlahan tapi pasti bayangan-bayangan masa lalunya bersama Baekhyun kembali hadir dalam ingatannya tanpa rasa sakit seperti sebelum-sebelumnya. Airmata mengalir membasahi pipinya dan juga membasahi dada Baekhyun saat menyadari kalau dirinya benarlah reinkarnasi dari Baek Soomin, ‘kekasih’ Baekhyun.

“Maaf… Sungguh, maafkan aku, karena telah membuatmu menunggu terlalu lama. Maaf, karena tak menyadari hal ini sejak awal. Maaf, karena telah membiarkan lelaki lain mendapatkan cintaku yang seharusnya selalu menjadi milikmu… Maaf… Aku benar-benar minta maaf

“Ssst!” Baekhyun menempelkan telunjuknya di bibir Yoora, tak membiarkan gadis itu untuk terus berkata maaf. Tidak apa, gadisnya sama sekali tidak bersalah. Hanya dengan gadis itu menyadarinya saja, sudah cukup membuat ia bahagia. Penantiannya tidak sia-sia.

“Terimakasih… sudah mengingatku.” Lelaki itu mengecup kening Yoora lembut, ia tak kuasa menahan airmata bahagianya. Soomin, kekasihnya, kini benar-benar telah kembali.

♥♥♥

Oppa… makanlah.” Yoora meletakkan semangkuk sup ayam di nakas dekat ranjang Tao.

Saat ini, Yoora berada di dalam kamar lelaki yang pernah berbaik hati membawanya ke masa lalu Baekhyun, ya, Tao. Lelaki itu tak menghiraukan Yoora sama sekali, ia hanya duduk bersandar pada bantal dengan kedua bola matanya yang terus menatap kosong ke depan.

“Mau kusuapi?” tawar gadis itu. Tao tetap diam.

“Kusuapi saja ya?”

Baru saja gadis itu hendak mengambil mangkuk berisi sup ayam itu, tangan Tao tiba-tiba bergerak melempar mangkuk itu hingga sup ayam yang masih panas itu tumpah dan mengenai rok yang dikenakan Yoora. Panasnya kuah sup ayam itu mampu membuat paha Yoora seketika melepuh.

“Kau sangat mengganggu.” Tao akhirnya membuka mulutnya dan menatap mata Yoora tajam.

Yoora mengelus-elus pahanya yang melepuh sambil sesekali merintih menahan sakit, ia tidak bisa marah, karena dirinyalah Tao jadi seperti ini.

“Aku tidak ingin memakan sup ayam yang menjijikkan itu.”

“Aku menginginkanmu sekarang.” Lanjut Tao menyeringai memperlihatkan taring kebanggaannya, membuat bulu kuduk Yoora berdiri seketika.

“Apa yang kudapatkan jika aku bisa membawamu kembali ke jaman itu?”

“Tubuhku.”

“Kau bisa menikmati tubuhku setelah kau berhasil membawaku ke jaman itu dan kembali ke jaman ini. kau juga, bisa menggigitku di mana pun kau mau.”

Benar, ia sendiri yang telah menjanjikan tubuhnya sebagai imbalan pada Tao. Tapi, haruskah sekarang? Apa ia sudah siap membiarkan Tao menikmati tubuhnya dan menggigitnya di mana pun lelaki itu mau?

“Kau tidak lupa dengan perjanjian kita, bukan?”

“Tidak, aku tidak mungkin lupa.” Balas Yoora cepat.

Gadis itu lalu membuka sebagian kancing bajunya, memperlihatkan dada bagian atasnya yang putih mulus dengan luka bekas tancapan taring Baekhyun di lehernya yang masih jelas terlihat. Ini adalah konsekuensinya, mau tidak mau, siap tidak siap, Yoora harus menerimanya.

Yoora membaringkan tubuhnya di samping Tao, membiarkan setiap gerakan lelaki itu yang kini sudah menindihnya. Yoora dapat melihat lensa kuning pucat Tao yang menyala-nyala dan dapat merasakan deru nafas Tao yang seakan tak terkendali. Tao sudah seperti binatang buas yang sudah tidak sabar ingin menelannya hidup-hidup.

Tao melumat bibir Yoora kasar, terkadang menggigit-gigit bibir bawah gadis itu tanpa membuatnya berdarah. Mata Yoora terpejam. Bibirnya membengkak karena terlalu kuat dihisap Tao. Perlu ditekankan bahwa tidak ada cinta di sini, di antara mereka.

Beberapa menit berselang, Yoora merasa Tao berhenti mencumbunya.

Tes! Setetes airmata berhasil jatuh membasahi pipi Yoora, membuat gadis itu spontan membuka matanya dan mendapati Tao yang berlinang airmata di atasnya.

“Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku menidurimu jika kakiku cacat seperti ini?! Kau pikir aku akan menikmatinya? Tidak! Aku tidak akan bisa menikmatinya jika merasakan keberadaan kaki kiriku saja aku tidak bisa!”

Tao membaringkan dirinya di samping Yoora, lelaki itu benar-benar terlihat frustasi. Yoora yang tak tega melihat Tao seperti itu hanya bisa berusaha menenangkan Tao dengan pelukan hangatnya. Tao menangis di pelukan Yoora, mengeluarkan semua kesedihan yang semula hanya ia pendam sendirian. Sakit, lelaki itu tersiksa.

“Aku tidak lagi mempunyai masa depan, masa depanku sudah berakhir bahkan sebelum aku memulainya. Aku tidak ingin menjadi vampir yang cacat! Vampir-vampir lain di luar sana pasti akan dengan mudah merendahkanku. Aku tidak mau. Aku… ingin lenyap saja untuk selamanya.”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Oppa. Aku yakin kakimu akan segera sembuh, kau hanya perlu bersabar.” Ucap Yoora lembut.

Mati… mati… mati. Itulah yang ada di pikiran Tao saat ini. Pikirannya terus berkecamuk, memikirkan bagaimana masa depan yang sudah sejak lama ia tata itu akhirnya hancur begitu saja hanya karena satu alasan, ia cacat.

Mati… mati… mati. Kematian kedua.

“Yoora apa kau mencintaiku?”

“Apa?” Yoora terkejut, kenapa lelaki itu tiba-tiba bertanya seperti itu padanya?

“Jawab saja ‘tidak’, jika kau memang tak mencintaiku. Aku hanya butuh jawaban yang pasti.” Lelaki itu kini benar-benar menatapnya, menanti jawaban, tak peduli jawabannya itu sesuai atau tidak dengan harapannya.

Jangan salah paham, Tao tidak sedang mencoba menyatakan perasaannya pada Yoora. Ia hanya ingin tahu, apa selama ini ada seorang wanita yang mampu mencintainya dengan tulus. Ketahuilah, cinta yang tulus akan selalu membawamu menuju kebahagiaan. Tak terkecuali bagi Tao yang merupakan seorang vampir sekalipun.

“Aku hanya menganggapmu sebagai seorang lelaki baik yang pernah kutemui, Oppa. Saat di mana aku bersamamu seperti ini, aku seperti bersama dengan kakak laki-lakiku sendiri. Begitu nyaman.”

Tidak ada. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Tao tersenyum. Kisahnya cukup sampai di sini.

♥♥♥

Bunyi dentingan piano yang dimainkan oleh jari-jari lihai seorang lelaki di kamarnya itu mampu menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Memainkan sebuah lagu berjudul ‘Maybe‘ dari seorang pianis andal yang ia kagumi bernama Yiruma, dengan penuh penghayatan, jari-jarinya terus menari lincah di atas tutch piano. Tapi sedetik kemudian, nada-nada itu terdengar sumbang. Suara seorang gadis yang tertawa kecil di belakangnya mampu membuat lelaki itu seketika malu bukan main.

“Yak, Kim Yoora! Berhenti tertawa!” ucap lelaki itu yang mulai merasa sedikit kesal karena gadis bernama Yoora itu tak ada puas-puasnya menertawakannya.

“Hehe, maaf, Oppa.” Yoora duduk di samping Chanyeol, ya, lelaki yang tadi memainkan piano dengan lihai hingga nadanya berubah sumbang tak lain adalah Chanyeol. Lelaki itu sepertinya memang terlahir untuk mencintai musik, tak ada alat musik yang tidak bisa ia mainkan, semuanya bisa ia kuasai dengan cepat walau terkadang masih terdapat kesalahan nada pada permainan alat musiknya.

Oppa terlalu asik menikmati lagunya sampai-sampai tak tahu kalau jari-jarimu yang besar itu salah menekan tutch.”

Satu jari Yoora menekan tutch piano yang ada di depannya, sebagai langkah awal sebelum akhirnya kembali memainkan lagu yang tadi dimainkan Chanyeol dengan kemampuannya yang ternyata berada di atas rata-rata Chanyeol.

Chanyeol terdiam, lebih tepatnya terkagum-kagum akan kemampuan Yoora. Tangannya perlahan menyentuh tangan Yoora, membuat gadis itu seketika menghentikan permainan pianonya. Sentuhan tangan Chanyeol di punggung tangan Yoora perlahan berubah menjadi genggaman yang begitu erat. Mata mereka saling bertatap untuk beberapa detik sebelum akhirnya bibir mereka saling bertautan dan saling memberi kehangatan satu sama lain.

Oppa? Apa suara piano yang kudengar itu berasal dari sini? Kau yang memainkannya?”

Chanyeol tersadar, Yoora yang bermain piano di sampingnya dan berciuman dengannya tadi ternyata hanya ada dalam khayalannya saja. Karena pada kenyataannya, Yoora yang asli sedang berdiri di ambang pintu kamarnya dan bertanya apa suara piano yang baru saja gadis itu dengar berasal dari kamarnya ini? Haha, menggelikan sekali.

“Ah? Iya.” Lelaki itu tersenyum paksa, “Kenapa? Apa permainan pianoku membuat istirahatmu terganggu?”

“Boleh aku masuk?”

“Tentu.”

Jawaban Chanyeol seakan menjadi lampu hijau bagi Yoora untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Chanyeol untuk pertama kali semenjak ia tinggal di rumah ini. Sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Suho, suasana yang sebenarnya sama saja dengan kamar lainnya, hanya yang membuatnya terasa sedikit berbeda adalah karena adanya sebuah piano di tengah-tengah kamar lelaki ini.

“Aku sama sekali tidak terganggu, Oppa. Malahan saat mendengar permainan piano yang tadi itu, aku jadi merasa seperti dinyanyikan lagu pengantar tidur.” Ujar gadis itu, tersenyum.

“Benarkah?” mata Chanyeol terus mengikuti ke mana Yoora melangkah. Pertanyaannya itu hanya dijawab oleh anggukkan semangat Yoora.

“Kalau begitu, aku tidur di sini saja ya? Sepertinya mendengar Oppa bermain piano akan membantuku untuk cepat tertidur, hehe.”

“Huh?” Yoora? Tidur? Di kamarnya?

Chanyeol meneguk ludahnya sendiri.

“Itupun kalau Oppa tidak keberatan berbagi ranjang denganku dan memainkan beberapa lagu sampai aku tertidur.”

Lelaki itu mengangguk setuju, tak keberatan sama sekali. Melihat Yoora kembali tersenyum lebar di depannya membuat ia begitu bahagia. Cintanya pada Yoora, sudah semakin dalam rasanya. Sulit, sangat sulit untuk menarik cinta itu kembali.

Yoora berjingkrak-jingkrak kegirangan, ia langsung membanting tubuhnya sendiri ke ranjang Chanyeol. Hangat, ranjang Chanyeol hangat sekali.

“Yoora maafkan aku.”

Chanyeol menundukkan kepalanya, teringat betapa bodohnya ia saat itu. Saat ia mengajak Yoora untuk bertemu di koridor dekat kelas etika 5… ia benar-benar bodoh.

 

―Kilas balik―

“Dio-ya…” panggil Chanyeol pelan pada Dio yang hendak masuk ke kelas.

Lelaki yang dipanggilnya itu berbalik, menatap orang yang memanggilnya. “Kenapa?”

“Bisa kau sampaikan sesuatu pada Yoora?”

“Apa?”

Chanyeol tersenyum, Dio memang bisa diandalkan.

“Temui aku di koridor di dekat kelas etika 5, aku akan menunggunya. Kuserahkan padamu. Terimakasih, Dio-ya.”

Dio tidak berkata apa-apa lagi, ia langsung meninggalkan Chanyeol yang terus tersenyum seperti orang gila.

Chanyeol lantas berlari menuju tempat di mana ia akan menunggu Yoora, ya, koridor di dekat kelas etika 5. Lelaki itu menyandarkan dirinya di dinding koridor yang lumayan sepi. Namun baru saja beberapa saat ia menikmati khayalannya bersama Yoora, seorang guru kelas etika yang sudah menjadi guru langganannya itu lewat di depannya dengan beberapa tumpukan buku tebal di tangannya.

BRUK!

Tumpukan buku yang dibawa guru itu pun jatuh berserakan di lantai. Chanyeol yang merasa kasihan pun membantu guru berkumis putih itu memunguti dan merapikan kembali buku-bukunya.

“Kau baik-baik saja, Pak?”

Pria yang wajahnya dipenuhi kerutan akibat usianya yang mulai menua itu tersenyum. Tidak biasanya guru itu menampilkan senyuman di depan Chanyeol, karena biasanya guru itu selalu terlihat menakutkan sehingga siapapun yang masuk ke kelas etika akan segan padanya.

“Kau mau membawa buku-buku ini ke mana?” tanya Chanyeol.

“Ya?”

Chanyeol mengambil alih buku-buku berat itu, menyisakan satu buku yang lebih ringan untuk dibawa oleh sang guru.

“Aku siap mengantarkan buku-buku ini sampai ke tempat tujuan!”

Tingkah Chanyeol membuat guru yang dihormatinya itu tertawa, guru itu seketika merasa bahwa dirinya sudah berhasil mendidik etika Chanyeol dengan baik.

Chanyeol akhirnya mengantarkan buku-buku itu sampai ke ruang guru, tempat di mana para pengajar yang sebagian besarnya adalah manusia biasa di sekolah malam keluarga mereka itu bebas melakukan aktifitas masing-masing.

Yoora… Yoora… Yoora.

Chanyeol bodoh sekali, bagaimana bisa ia tiba-tiba melupakan pertemuannya dengan Yoora sebegitu mudahnya? Padahal ia sendiri yang mengajak Yoora untuk bertemu lewat perantaraan Dio.

“Dasar bodoh!” hardiknya pada diri sendiri dalam hati.

Ia berlari secepat mungkin ke koridor di dekat kelas etika 5, berharap ia masih bisa melihat Yoora yang setia menunggunya di sana.

Ia menghembuskan nafasnya kasar, gadis itu sama sekali tak terlihat sejauh matanya memandang.

Apa Yoora tidak datang? Ataukah gadis itu sudah datang, tapi karena terlalu lama menunggunya, gadis itu kemudian pergi begitu saja?

Ia berlari, lagi. Mungkin saja, Yoora sedang duduk manis di dalam kelas sekarang.

“Apa yang terjadi?” kaki panjang Chanyeol berhenti berlari saat mendapati ke-8 saudaranya berkumpul di depan kelasnya dengan mimik wajah penuh kekhawatiran, sementara dirinya yang tak tahu apa-apa hanya bisa menanti jawaban mereka yang sepertinya tak mempedulikan kehadirannya.

“Kai-ya, ada apa dengan seragammu? Apa yang telah kau lakukan?” tanya Chanyeol serius saat melihat seragam dan wajah Kai dipenuhi cipratan darah yang baunya tak tercium oleh indera penciumannya.

Dio menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk,

“Baekhyun Hyung terluka parah saat menyelamatkan Yoora yang dengan bodohnya memasuki wilayah vampir kelas C, dan Kai berhasil membawa Baekhyun Hyung dan Yoora ke rumah setelah memelintir kepala sebagian besar vampir kelas C hingga putus.”

DEG!

Tidak. Itu semua, tidak mungkin terjadi karena kesalahannya kan? Semua itu, bukan kesalahannya kan?

“Sudahlah. Cepat kemari, Chanyeol Lee! Kita harus segera berteleportasi ke rumah untuk melihat keadaan Baekhyun!” bentak Xiumin.

Lelaki yang sudah gemetar luar biasa itu akhirnya hanya bisa menuruti perkataan saudara-saudaranya yang juga akan berteleportasi dengan menggunakan kekuatan Kai, menembus beberapa ruang dari satu titik ke titik lain hanya dalam sekejap mata.

“Oppa?”

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?” Chanyeol melihat gadis itu menunduk dengan pipi basah. Ia juga melihat tubuh tak berdaya Baekhyun yang dipenuhi luka bertelanjang dada di depan mata gadis itu.

“Menyingkirlah!” Xiumin mendorong kasar tubuh Yoora dan langsung memeriksa keadaan Baekhyun yang sudah tak sadarkan diri.

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” Suho murka.

“Bawa keluar gadis itu! Aku tidak ingin melihatnya!” lanjut Xiumin sebelum mengambil tindakan lebih lanjut untuk Baekhyun.

Gadis itu terdiam, sepertinya kata-kata Xiumin barusan terdengar begitu menyakitkan untuknya.

“Apa kalian tidak mendengarku?! Kalian ingin aku yang menyeretnya keluar?!”

“Ayo pergi!” Sehun menarik paksa Yoora keluar dari kamar Baekhyun.

Chanyeol berdiri mematung, melihat Baekhyun terluka parah, cipratan darah yang ada di wajah Yoora, Kai yang datang tiba-tiba membawa kabar buruk. Semuanya, adalah kesalahannya.

Kau benar-benar bodoh… Chanyeol.

―Kilas balik selesai―

 

“Seharusnya aku tidak melupakan pertemuan kita waktu itu.”

Chanyeol mengalihkan perhatiannya ke arah Yoora. Ia tertawa, gadis itu ternyata sudah lebih dulu terlelap dalam tidurnya entah sejak kapan.

“Apa sebenarnya yang ada dalam dirimu, Yoora? Sampai-sampai aku tidak dapat berpaling sedikitpun darimu.

“Kau itu gadis manusia yang bodoh, menyebalkan, cengeng, tapi juga seorang gadis yang kuat, berani, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.” Lelaki itu duduk di tepi ranjang, memandangi indahnya makhluk Tuhan yang mampu membuatnya seketika seperti orang gila. Tangannya membelai lembut rambut panjang gadis itu.

“Hei, gadis bodoh. Aku mencintaimu.” Bisik Chanyeol dengan suara khasnya tanpa membuat putri tidurnya itu merasa terganggu.

Jari telunjuknya bergerak menyentuh dahi, turun ke hidung, ke bibir, mengusap bibir merah muda itu sebentar, semakin turun, hingga akhirnya sentuhan lembut itu berhenti di dada Yoora.

Kau milikku.

“Dia bukan milikmu.” Baekhyun terduduk di atas ranjang dengan tangan mengepal dan lensa kuning yang menyala terang. Suara hati Chanyeol terdengar begitu jelas di telinganya.

PicsArt_09-21-11.38.04

19 tanggapan untuk “SADISTIC NIGHT -CH. 9 : It’s You P.1- by AYUSHAFIRAA”

  1. baekhyun yoora emang pas bgt
    jodoh yg ditunggu setahun aja lama bgt rasanya ini ribuan tahun busett dalam bgt cinta babang cute baik ganteng baekhyun

  2. Senang banget lihat baek ketemu lagi sama kekasihnya dulu
    Tapi sekarang makin tambah aja yang suka sama yoora
    Omg!!!!
    Entar bagi” yah yoora😂😂😂

    1. Alhamdulillah yaa setelah sekian lama menunggu akhirnya ketemu juga😍😍😍 iya nih, soalnya yoora lovable banget, jadi susah buat gak suka sama yoora 😂😂😂

      “Bisa lah, bisa diatur.” – yoora 😂

  3. huaaa.. akhirnya baek bsa bahagia.. itu chanyeol ga nyerah.. mereka akan konflik kayaknya.. si dio mah maen usir anak orang aja.. ga kasian sama baek yg udah nggu ratusan taun.. tapi masih kalah sama rekor ahjussi goblin yg nggunya lebih dri 200 taun.. wkwk.. 😀

    1. Iya nih wkwk mungkin sudah waktunya mereka untuk go public /plak😂/ Iyadong, cowok gentle gak akan nyerah kalo emang bener2 cinta :”) Dio habis manis sepah dibuang, terimakasih /plak😂/ wkwk baek belum memecahkan rekor om goblin ya XD kapan kapan deh /plisyuplis😂🔪

    1. Iyap betul sekali, ini rumit banget tapi insyaallah kedepannya semua bakal cerah dan gak bikin puyeng lagi kok wkwk siip jangan sampai ketinggalan yaa udah mau tamat hehe 😆😆😆

  4. Wahwah ❤ ka AS comeback ❤
    selalu update, tiap aku lagi nugas gini T.T lupakan tugas ini 20menit, dan manjakan mata dengan melihat tingkah baekhyun disini xD /terima gaplokan dari author kok/
    duhduh, akhirnya baekhyun tau kalo yoora itu soomin ❤ tapi thor, jadi labil ya mau dukung pcy apa bbh XD
    Btw, ini jadi cinta segi berapa? Banyak banget dah xD aku 1 aja gapunya /kok ngenes T.T
    umin ngamuk :"v yang lain pada sibuk ngurusin nafsunya, umin sibuk ngejait ;"v tambahin kcmata, duduk di kursi goyang, jadi deh kakek umin lg ngerajut xD
    Kenapa kebiasaan kak as, tbc pas lagi seru"nya T.T bakal selalu nunggu next chnya ❤ ❤
    semangat kak ❤ ❤

    1. Iya nih hehe^^ senang liat komen kamu lagi 😗😗😗 wkwk tenang, semua itu hanya kebetulan XD ebuset ngapain juga aku gaplok2 anak orang 😂 gapapa kalo baca ini lagi mumet sama tugas, tapi abis itu tugasnya harus dikerjain lagi sampe selesai yaa unch😚😚😚
      Yappp akhirnya, setelah sekian lama, mungkin ini waktunya buat baek-yoo shipper berjaya XD /plak/ ayooo ayooo jangan salah dukung nanti keciwa XD
      Cinta segi banyak sih ini mah XD tenang, kamu gak sendiri kok aku pun gak punya hiks /plisyu😂
      Kakek umin yaampun wkwkwk XD ngejait kulit, kulit beneran tapi 😂😂😂
      Wkwk kan biar pada penasaran dan pengen baca lagi❤❤ siip siip ditunggu aja yaa shayyy😙 makasih unch unch unchhh😍❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s