GAME OVER – Lv. 27 [Different Creatures] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal ThropeLevel 21Level 25Level 26 — [PLAYING] Level 27

We may look different but we’re created the same

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 27 — Different Creatures

In Jiho’s Eyes…

“DIAM! Berhenti di sana, kalian berdua!”

Langkahku dan Baekhyun terhenti begitu kami dihadang oleh sekutu kecil yang bersembunyi di gua rahasia. Melihat ekspresi mereka sekarang saat menatapku dan Baekhyun, sudah bisa kuduga apa yang mereka ketahui.

“Jangan berani kau membawanya ke sini, Jiho!” teriak Taeil tegas dengan nada memerintah. Mengingat Johnny yang menjadi sosok ‘leader’ di sini tapi tak berbuat apapun, bisa kusimpulkan kalau dia paham benar tentang apa yang sekarang terjadi.

Dia pasti mengerti kalau kami tidak sedang berada dalam situasi dimana berkomunikasi dan menjalin hubungan bersama dengan seorang NPC adalah hal yang tidak masuk akal.

Keadaan Somi sudah jadi bukti yang jelas bagi Johnny.

“Baekhyun tidak akan membahayakan kita, teman-teman. Dan juga, dia terluka.” kataku, menunjuk ke beberapa bagian tubuh Baekhyun yang ternyata masih terluka—sisa dari turbulence tadi.

Ashley sekarang menatapku dengan mata memicing. “Dia hanya seorang NPC. Untuk apa memedulikan terluka atau tidaknya dia?” tanya Ashley membuat batinku diam-diam mencelos.

Dia tidak tahu apa yang sudah kuhadapi sampai di titik ini. Ashley tidak paham kenapa aku berbuat seperti ini. Dia sudah jadi orang paling tidak tahu apa-apa sekarang.

“Ash, aku tahu kau bukan tipe yang seperti ini.” kataku, mengingatkan Ashley kalau dia sebenarnya adalah seorang wanita yang punya kepedulian tinggi terhadap sesama. Apa sekarang di mana Ashley Baekhyun tidak terlihat seperti seorang manusia?

“Aku hanya perlu menggunakan ruangan kesehatan kita saja.” kataku, “…, kalau kalian ingin mengusirku, tidak masalah. Aku akan keluar setelah aku selesai mengobatinya.” sambungku membuat Hana dan Doyeon mendengus pelan.

“Kau akan gunakan semua medicine yang susah payah kami cari?” tanya Doyeon.

“Hanya sedikit, Doyeon-ah.” sahutku. “Pantas saja meretasnya terasa begitu janggal. Ternyata, dia hanya sebuah sistem dan aku hanya berusaha membobol sebuah file saja. Memalukan.” kudengar Taehyung berkata di belakang sana.

Aku tak bisa melihat di mana keberadaan Taehyung sekarang, tapi aku tahu dia mengawasi. Fakta tentang Baekhyun pasti sangat melukainya, melukai harga diri Taehyung sebagai seorang peretas. Tetapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Keadaan di sini sudah berubah menjadi sangat rumit.

“Gunakan kamarku,” Johnny tiba-tiba berucap, dia lemparkan pandang ke arah Somi—seolah bertukar kalimat dalam diam—sebelum melanjutkan, “…, Somi punya simpanan beberapa medicine, kalian bisa menggunakannya.”

“Johnny!” Taeil berkata cukup keras, menolak argumen Johnny sekarang.

“Kupikir tidak masalah, meski dia seorang NPC, melihatnya terluka seperti itu mengganggu juga.” Herin kemudian angkat bicara, sedari tadi dia dan Jeno sama-sama tenggelam dalam diam, menganalisis keadaan kami dalam kediaman.

“Herin benar. Selama ini aku pikir Invisible Black adalah seorang player seperti kita juga. Kalau dia saja seorang NPC, kita tidak tahu… ada berapa banyak NPC yang menyamar sebagai player. Kita tidak boleh memperlakukan mereka dengan buruk.

“Lagipula, kudengar dia membabat habis seperempat sekutu dari White House, jadi dia sudah membantu kita dan mempermudah kita juga. White House sudah tidak akan banyak bergerak lagi selama beberapa jam ini.”

Penuturan Jeno sekarang membuat semua orang terdiam. Taeil sendiri tampak menimbang-nimbang, rupanya keramaian tentang turbulence Baekhyun dengan White House tadi sudah didengarnya juga.

“Baiklah, tapi pastikan dia berkelakuan baik selama berada di tempat ini. Kalau sampai dia memberitahukan keberadaan kita pada NPC lain, aku akan jadi orang pertama yang berdiri untuk membunuhmu, Song Jiho.” kata Taeil penuh penekanan juga ancaman.

Umm, maaf menyela. Aku bisa berpendapat juga, bukan?” Baekhyun akhirnya bicara, dia agaknya merasa terusik juga pada ancaman Taeil barusan.

“Masalahmu bukan dengan Jiho, tapi denganku. Sebelum memergokiku, Jiho juga tidak tahu apa-apa tentangku. Dan dia hanya jadi korban kebohonganku juga. Lagipula…” Baekhyun sekarang mengulum senyum, “…, apa kalian pikir semua NPC tidak berkelakuan baik? Kami semua sangat baik. Kalian saja yang masuk ke dalam tempat tinggal kami dan berusaha menguasai semuanya.”

Benar juga perkataan Baekhyun sekarang. Kalau saja kami semua tidak masuk ke dalam WorldWare dan tidak menjadi player, para NPC ini mungkin saja hidup berdampingan dengan damai. Tidak akan ada keributan atau turbulenceturbulence seperti ini.

Dipikirkan dari sudut pandang NPC, kamilah pengganggu di sini. Tapi kenapa sekarang aku justru merasa konyol karena memikirkan sudut pandang Baekhyun?

“Oke, jadi kita sudah dapat jawaban. Jiho, lekaslah masuk ke dalam ruang kesehatan dan obati pairmu. Kemudian kita bisa bicarakan tentang apa yang sudah kau tahu dan apa yang terjadi padamu juga pairmu.” tegas Johnny, tidak terdengar mengancam, tapi memutuskan.

Situasi seperti ini memang sangat membingungkan. Terutama bagi mereka yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai hal ini. Entah kenapa, kupikir Somi juga akan mengaku nanti, tentang dirinya sendiri.

Ah, belum-belum aku sudah berspekulasi tentang hal-hal lain.

“Ayo,” aku akhirnya berkata pada Baekhyun, kugamit lengannya dan kubawa langkah kami melewati barisan waspada yang tadinya sudah siap menyerang dengan weapon-weapon yang sudah siaga di tangan.

Tapi pada akhirnya mereka mengalah juga. Kutemukan Taehyung tengah bersandar di bibir gua, menatap kami lekat-lekat begitu kami melewatinya, tanpa berkomentar. Dari sorot pandang Taehyung sekarang aku jelas-jelas bisa tahu bagaimana terlukanya dia.

Kalau saja kami ada di dunia nyata, mungkin Taehyung sudah kurengkuh dan kutegarkan hatinya. Bagaimana pun, Taehyung masihlah seorang anak kecil yang membutuhkan seseorang untuk dia percayai.

Selama ini Taehyung sangat percaya padaku, tapi aku malah sudah mengecewakannya dengan menutupi kebohongan sempurna yang pada akhirnya terbongkar dengan cara mengerikan ini.

“Selama ini kau tinggal di tempat ini?” tanya Baekhyun memecah lamunanku.

“Hmm, ya. Bukankah kau sudah tahu?” aku balik bertanya padanya. Melacak keberadaanku bukanlah hal sulit bagi Baekhyun, aku tahu itu.

“Memang, tapi aku hanya tahu koordinatnya, bukan keadaannya. Mereka tidak terlihat menyukai kedatanganku, sebaiknya aku kembali ke tempat para NPC setelah ini.” kata Baekhyun kemudian.

Aku tahu dia mengetahuinya. Aku tahu dalam sikap diamnya Baekhyun memikirkan semua penerimaan player di sini mengenai dirinya. “Kalau begitu aku akan ikut denganmu.” aku kemudian berkata.

“Mengapa?” tanya Baekhyun.

“Karena aku ingin mengikutimu, bersama denganmu setidaknya. Mereka pasti mengincarmu, Baekhyun. Kau sudah menghancurkan tempat persembunyian mereka untuk kedua kalinya, dan kali ini aku yakin mereka tidak akan tinggal diam.” ucapku.

“Tidak masalah, aku akan punya partner kalau saja mereka menantangku ke dalam turbulence lagi.” Baekhyun menyahut dengan santai, sementara kami sekarang melangkah membelok ke ruang kesehatan yang letaknya di sudut terjauh gua ini.

“Ya, benar. Masih ada Black Radiant.” kataku, teringat pada Black Radiant yang merupakan partner Baekhyun di dalam permainan ini.

“Kenapa tiba-tiba membicarakan tentangnya?” tanya Baekhyun.

“Karena dia adalah partnermu.” sahutku membuat Baekhyun tergelak. “Astaga, Jiho. Bukannya, kau adalah partnerku? Aku sedang bicara tentangmu, Song Jiho, bukan Black Radiant. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, Radiant adalah rivalku.”

“Kau sudah mengatakannya, tapi kau juga menolongnya.” kataku, tidak sepenuhnya salah. Karena sikap Baekhyun yang menolong Black Radiant kemarin—kemarin, atau tadi? Aku sudah mulai kesulitan membedakan waktu di sini—adalah sikap seorang partner.

“Alasanku menolongnya, sudah kau tahu dengan sangat jelas, Jiho. Kalau saja kalian semua tidak harus mengalahkannya untuk keluar dari permainan ini… sudah kubiarkan mereka menghabisinya. Tapi, Black Radiant adalah jalan keluar kalian, khususnya—bagimu.” penuturan Baekhyun akhirnya membungkamku.

Tidak pernah ada kata ‘menang’ bagiku jika kami sudah bicara tentang alasan Baekhyun di balik sikap dan tindakan yang dilakukannya. Setiap tindakan yang dia lakukan seolah sudah didasari pada pemikiran matang tanpa cacat celah.

Semua rencana yang disusunnya selalu sempurna. Apa dugaanku tentang Baekhyun yang memang sengaja membiarkan semua orang tahu tentangnya, juga benar?

“Baekhyun, sejak tadi aku berpikir, apa kau sengaja mengungkap identitasmu pada semua orang?” akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya.

Baekhyun tidak langsung menjawab. Dia malah memilih duduk di atas tempat tidur buatan yang Hana dapatkan dengan mengorbankan pouch miliknya—yang dia dapatkan saat secara tidak sengaja membunuh seorang player—dan menatapku dalam diam.

Salah tingkah karena tindakannya sekarang, aku akhirnya segera melangkah mencari obat-obatan yang kubutuhkan, selagi menunggu.

“Apa kau lupa, kalau aku katakan kalau aku akan hidup dengan identitasku?” tanya Baekhyun tiba-tiba. “Tidak, kau pernah menanyakannya. Aku pikir kau bercanda karena kemudian kau malah menjadi ‘hilang’ dari pandanganku.

“Lalu apa yang sekarang terjadi? Sekarang, kau tidak menghilang seenaknya seperti yang terjadi saat bersama denganku.” aku berkata, teringat pada perihal ‘menghilang’ yang terjadi saat Baekhyun meminjamkan amuletnya padaku.

“Ah, menghilang memang salah satu kemampuanku sebagai seorang villaininvisible’. Ingat, saat aku ada di dalam Eden’s Nirvana ketika kau pertama kali masuk ke dalam mode itu, aku tidak terlihat, bukan?”

Baekhyun pernah menjelaskannya, dan kuingat-ingat saat itu aku memang tidak menemukan keberadaan siapapun di dalam ruang yang kumasuki. Jadi, saat itu Baekhyun memang benar-benar invisible?

Amulet itu hanya bisa mengendalikan identitasku saja. Dulu, tidak semua orang bisa melihat identitas asliku juga visualisasiku. Sekarang, mereka semua bisa mengetahuinya.”

Ah, begitu rupanya. Jadi hilangnya amulet itu hanya akan membuat Baekhyun kehilangan ID Invisible Black yang dia miliki. Tetapi, dia tetap hidup dengan alternate ID yang dia miliki.

“Bukankah kau mengobatiku tadi?” tanya Baekhyun untuk kedua kalinya menyadarkanku dari lamunan. “Ah, ya benar. Aku hampir saja lupa.” kataku, bergerak untuk duduk di sisi Baekhyun selagi dia menyingsingkan lengan pakaian yang ia kenakan.

Luka menganga terlihat di lengan pucatnya—ah, aku ingat aku tidak pernah melihat permukaan kulit Baekhyun seperti ini—dan dia sendiri juga mendesah pelan karena keadaan luka itu.

“Kupikir kau harus mendapatkan robe yang baru setelah ini.” kataku disahutinya dengan sebuah anggukan pelan, mengiyakan. “Kau benar, setelah selesai dengan demo version ini kupastikan aku akan mendapatkan equipment yang lebih baik.” katanya.

Setelah keluar dari demo version ini? Dia masih ingin bertemu denganku di mode lama dari permainan ini padahal aku sendiri sudah berencana untuk menghapus akunku demi melupakan perasaan tidak nyata ini?

“Baiklah, aku akan menunggumu kalau begitu.” ucapku, aku bergerak mengusap luka virtualnya—kukatakan luka virtual karena setiap aku menyentuh luka itu sebuah kilatan listrik muncul di lengannya—dengan obat yang ada di tanganku.

“Jiho,”

“Ya?”

“Kau tidak marah?” aku menatap Baekhyun saat mendengarnya bertanya seperti itu. “Apa yang harus jadi alasan kemarahanku?” aku berucap tidak mengerti.

Sejenak, Baekhyun menatapku dalam diam. Hal yang lagi-lagi membuatku salah tingkah dan akhirnya kuputuskan untuk fokus kembali pada lukanya. Aku tengah membalut luka di lengannya dengan menggunakan perban yang Hana miliki saat tiba-tiba saja tangan Baekhyun yang terbebas bergerak menyentuh punggung tanganku, perlahan.

“Ada apa, Baekhyun?” tanyaku, memberanikan diri untuk menatapnya, takut kalau saja jantungku akan bekerja tidak normal lagi karenanya.

“Kau benar-benar tidak marah karena aku sudah membohongimu?” tanyanya membuatku terdiam.

Apa aku marah? Ya. Apa aku ingin membencinya dan memarahinya karena kebohongan itu? Ya. Aku memang marah. Tapi kenapa kami justru berakhir dalam keadaan seperti ini?

“Kita sudah pernah bicara tentang hal ini, Baekhyun. Dan sampai saat ini, aku masih menyimpan jawaban yang sama: aku terlalu marah dan terlalu kecewa, sampai-sampai aku tidak bisa mengungkapkan satupun emosiku untuk mewakili kemarahan dan kekecewaanku itu.

“Jadi, jawabannya adalah tidak. Aku tidak marah padamu. Aku sudah mengerti situasimu dan aku berterima kasih karena setidaknya aku jadi player pertama yang tahu tentangmu. Aku juga bersyukur karena kau masih bersikap terbuka padaku setelah semua yang kita lalui.

“Dan aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja karena aku tahu kau akan sendirian jika kutinggalkan. Semua orang sudah membalikkan punggung mereka dan menilaimu tak lebih dari sebuah karakter.

“Tapi di mataku, kau adalah Baekhyun. Kau adalah orang pertama yang membuat jantungku berdegup begitu kencang hanya karena kalimat yang terucap dari bibirmu, atau sikapmu. Karena kau adalah kau, aku bisa menerimanya.”

Sebuah senyum muncul di wajah Baekhyun setelah mendengar penuturanku. Menunggu sahutan darinya, aku kemudian bergerak menutup lengan Baekhyun menggunakan bagian pakaiannya yang dia lipat tadi.

Kemudian, aku berdiri di hadapannya, kusentuh surai gelap lembutnya dan kulihat luka membuka yang ada di dahinya sekarang.

“Aku tahu, semua yang kau lakukan pasti sudah jadi bagian dari rencanamu. Semuanya, karena dulu kita juga bertemu di tengah-tengah rencanamu. Dan aku sudah putuskan, aku akan terus terlibat di dalam rencanamu, apapun itu.

“Kita sudah sama-sama tahu, kau bisa mensummonku kembali jika aku mati di dalam mode ini, dan tidak masalah. Aku tidak akan takut lagi jika terbangun dengan anggota tubuh yang terpotong.

“Tapi tolong, Baekhyun. Jangan lakukan apapun tanpa sepengetahuanku. Rasanya sangat berat bagiku, jika harus terus-terusan mengkhawatirkanmu dan menduga-duga apa yang akan kau lakukan. Bisakah, kau benar-benar bersikap terbuka padaku?”

Aku baru saja hendak mengusap luka Baekhyun saat kurasakan jemarinya menyusup di pinggangku, menarikku untuk mengikis jarak dengannya dan lagi-lagi, memaksa jantungku untuk bekerja dua kali lebih keras.

“Aku akan melakukannya, aku janji.” kata Baekhyun begitu kedua tangannya bergerak melingkar di pinggangku, ditariknya aku begitu dekat ke arahnya hingga deru nafas Baekhyun sekarang bisa dengan jelas kudengar.

Sialan, apa sebenarnya yang ada di dalam benak pencipta game ini sampai mereka bisa menciptakan detail yang sangat jelas seperti ini?

“Janji dari seorang NPC bisa dipegang, bukan?” aku berusaha bercanda, berharap candaanku bisa membuat jantungku berhenti berdegup tidak karuan karena sekarang yang terjadi justru membuat jantungku makin berpacu.

Baekhyun tersenyum, memamerkan tatapannya yang membuatku terlena sementara tanganku dengan lancang bergerak menyentuh kedua bahunya, mencekalnya erat seolah berharap momen ini tak akan pernah berakhir, berharap momen ini benar-benar nyata.

“Kau tahu janji itu harus ditepati, bahkan oleh NPC sekalipun. Kita mungkin terlihat berbeda, tapi kita diciptakan dengan cara yang sama. Kau adalah ciptaan, begitu pula denganku. Yang berbeda… hanya dunia yang kita tinggali saja.”

Baekhyun benar, dengan cara yang tidak masuk akal, perkataannya benar. Dia dan aku sama-sama diciptakan. Aku yang diciptakan oleh Sang Pencipta, dan dia yang diciptakan oleh manusia. Dengan analogi yang tak logis, dia justru menarikku pada fakta pahit kalau dengan cara apapun, kami tak bisa bersama.

Dunia kami jelas berbeda. Aku tidak bicara tentang batas pelik antara dua dunia—di mana orang-orang berpikir batas ini adalah batas antara manusia yang masih hidup dan mereka yang telah tiada—tapi dunia ini lebih tidak masuk akal lagi.

Aku jatuh cinta pada Baekhyun, dan dia juga begitu—meski deskripsinya tentang cinta sekarang menjadi tanyaku, sebab aku tidak tahu bagaimana cara Baekhyun memandang perasaan cinta itu dalam benaknya.

Kami bersama, cinta ini cinta yang terbalaskan. Tetapi, di saat bersamaan kami juga tidak bisa bersama. Aku bahagia, Baekhyun juga begitu. Tetapi, kami akan sama-sama merasa sakit jika cinta ini diteruskan. Aku bisa saja terus mencintai Baekhyun, begitu pula dengannya. Tetapi, cinta ini tidak pantas untuk dipertahankan.

Rasa ini tercipta bukan sekedar karena aku si protagonis dipertemukan dengan Baekhyun si antagonis. Bukan, caraku jatuh pada Baekhyun juga bukan karena hal sesepele itu. Tapi caraku sekarang terus terobsesi padanya meski aku sudah tahu bahwa perasaan ini tidak pantas, justru menjadi kegilaan lain yang kupertanyakan.

Apa yang membuatku menjadi seperti ini? Apa orang lain pernah mengalami situasi yang aku alami? Apa ada dilema yang lebih menyakitkan dari keadaan kami sekarang?

“Mengenalmu di sini adalah hal terbaik yang pernah terjadi, Jiho.” kudengar Baekhyun lagi-lagi berkata. Oh, sungguh, aku ingin katakan padanya tentang bagaimana kehidupanku telah berotasi ke posisi puncaknya ketika aku bertemu dengan Baekhyun.

Meski, berada di puncak kehidupan ternyata jauh lebih mengerikan. Karena kita bisa jatuh kapan saja, dengan cara paling mengerikan. Dan sekarang, aku merasa seolah rotasi kehidupanku tengah goyah. Bersiap untuk jatuh ke titik terendah lagi.

“Begitu juga denganku, Baekhyun. Dengan cara tidak masuk akal, kupikir kau sudah berhasil mengubah cara pandangku terhadap dunia.” kataku, tidak sepenuhnya berbohong karena kenyataannya, dia telah membuka pandanganku, aku tak lagi menilai dunia ini dari sudut pandangku. Tapi aku juga mencoba memahami sudut pandangnya sebagai kreasi yang tidak nyata.

Ehm, maaf menginterupsi momen romantis kalian, tapi seseorang datang untuk mengunjungi.” sontak aku menjauhkan diri dari Baekhyun begitu kudengar suara Ashley tidak jauh dari tempat kami berada.

“Oh, maaf, Ash. Aku bisa jelaskan situasinya.” kataku segera dijawab Ashley dengan kibasan tangan kanannya. “Tidak perlu terburu-buru, kau bisa menjelaskan semuanya padaku saat kau tidak menempel padanya.” kata Ashley, menunjuk ke arah Baekhyun dengan jari telunjuknya sebelum dia kembali menatapku.

“Kau harus segera keluar, Jiho. Seorang NPC datang ke sini dan mencarimu—mencarinya juga, sebenarnya—dan Taeil sedang sangat marah di luar sana.” kata Ashley lagi.

NPC? Mencariku?

“Wendy,” Baekhyun berkata, “…, aku mengenali kedatangannya. Sebaiknya kau cepat keluar Jiho, jelaskan situasinya pada Taeil ini, karena sejak tadi dia yang paling terganggu pada keberadaan kami.” sambung Baekhyun membuatku tanpa pikir panjang segera melangkah meninggalkannya.

Ashley masih berdiri diam di tempat yang sama, dan aku sudah terlalu terburu-buru untuk menyempatkan diri mencuri-dengar konversasi apa yang Ashley buka dengan Baekhyun. Samar-samar, kudengar suara pertarungan di luar gua, dan benar saja aku langsung disuguhi pemandangan battle kecil di mana Taeil menjadi korbannya.

Sungguh. Aku tahu Wendy tengah berusaha mencegah Taeil berbuat bodoh—dengan menyerang Wendy dan berakhir game over—tapi usaha Taeil juga tidak main-main.

“Taeil, hentikan!” aku berseru begitu Taeil hendak melemparkan serangan pada batas yang Wendy ciptakan.

“Ah! Jiho! Aku menunggumu sejak tadi!” Wendy berkata dengan nada kelewat riang—apa dia memang selalu seperti ini?—sebelum ia pecahkan batas yang ia ciptakan menggunakan jemari, dan lantas dia melesat ke arahku.

Ugh, Wendy, aku tidak bisa bernafas.” kataku begitu Wendy merengkuhku erat-erat, seolah dia sudah mencariku selama bertahun-tahun saja.

“Aku sangat takut saat kudengar Invisible Black hendak mengungkap identitasnya. Aku pikir sesuatu akan terjadi pada kalian berdua, tapi ternyata kalian masih baik-baik saja.” kata Wendy, dia baru saja selesai menjelaskan padaku ketika tangannya bergerak ke belakang tubuhnya—rupanya Taeil di belakang sana berusaha melemparkan serangan lagi, dan Wendy menahannya.

“Tolong, lakukan sesuatu padanya. Dia berusaha menyerangku berulang kali!” pekik Wendy, terdengar sangat ketakutan padahal aku tahu dia bisa berbuat begitu banyak untuk mencegah Taeil.

“Hentikan Taeil, dia bukan NPC yang berbahaya.” kata Johnny, dengan cepat Johnny bergerak menarik lengan Taeil—menahannya.

“Dia bukan NPC berbahaya? Hah! Sudah aku duga kau juga tahu banyak tentang hal ini.” kata Taeil, dia tentu cukup cerdas untuk bisa menganalisa makna tersembunyi di balik kalimat Johnny barusan.

“Ya, karena aku tahu, aku mengatakannya padamu. Sekarang, karena sudah ada tiga NPC di antara kita, marilah kita bicara baik-baik. Aku, dan Jiho, juga tiga NPC yang ada di sini akan menjelaskan situasinya pada kalian semua.

“Tetapi tidak boleh ada penyerangan apapun. Menyerang NPC memang berguna untuk mempersingkat waktu kita di sini, tapi sebaiknya tidak kita lakukan saat kita membutuhkan banyak penjelasan dari mereka, bukan?”

Hana, Doyeon, Somi, Jeno dan Herin—aku tak menemukan keberadaan Taehyung—di dekat kami, mengangguk paham. Tapi tidak dengan Taeil, dia rupanya lagi-lagi menemukan kejanggalan kentara dalam vokal Johnny.

“Tiga NPC, huh? Jadi, siapa satunya?” kata Taeil, dilemparkannya pandang ke arah orang-orang yang melingkari kami sekarang, meneliti. Emosi Taeil sudah akan meluap lagi saat menerima sikap bungkam dari semua orang ketika Somi akhirnya mengangkat tangan kanannya.

“Aku juga seorang NPC.” ucapan Somi sekarang mengejutkan semua orang. “Kau seorang NPC? Bagaimana bisa?” Doyeon yang pertama kali bereaksi. “Kau bahkan ada di Town yang sama dengan kami.” sambungnya dengan nada tak percaya.

“Bukankah kita akan membicarakannya?” kata Somi, dipamerkannya sebuah senyum simpul pada semua orang yang sekarang menatapnya penuh tanya.

“Baiklah, kita bicara.” tegas Taeil akhirnya.

Keputusan Johnny rupanya membuahkan hasil yang cukup baik. Terbukti dengan bagaimana kami semua sekarang berkumpul di ruang utama gua, menunggu salah satu dari kami memulai pembicaraan.

“Jadi sebenarnya—”

“—Aku akan menjelaskannya, Tuan Programmer.” Johnny baru saja berucap ketika Baekhyun memotong perkataannya. Dan yah, mau bagaimana lagi, seorang leader seperti Johnny pun menyerah karena Baekhyun.

Dengan isyarat dari kedua tangannya, Johnny mempersilahkan Baekhyun untuk bicara. Sekilas, kudapati Baekhyun menatap ke arahku—seolah meminta persetujuan—saat aku kemudian tersenyum padanya dan dia juga membalas senyumanku.

Lantas, Baekhyun menatap semua orang satu persatu, dan tatapannya berhenti pada Taehyung—yang sejak kembalinya aku bersama Baekhyun, sama sekali tidak bicara padaku.

“Biar aku jelaskan secara singkat pada kalian semua. Kalau penjelasanku tidak bisa kalian mengerti, kalian bisa bertanya pada Tuan Programmer di sini, karena dia tahu benar sebagian besar yang terjadi. Catat, aku katakan sebagian besar, bukan sepenuhnya.” Baekhyun memulai, dan kami semua mendengarkan.

“Sejak awal diciptakannya kami, dengan cara yang tidak bisa aku deskripsikan dan tidak juga bisa kalian pahami, kami bisa berpikir. Kami bisa mengolah informasi yang telah ditanamkan saat kami diciptakan. Hanya saja, ruang lingkup informasi itu terbatas.

“Sampai, beberapa oknum jahil mengutak atik kami. Contohnya, yang Taehyung lakukan saat dia berulah menjadi Epic-T beberapa tahun lalu. Dia telah mengubah commandku, mengizinkan akses pada Jiho untuk masuk ke dalam Eden’s Nirvana.

“Dia telah membuka gerbang utama Eden’s Nirvana, dan secara otomatis membuatku bisa keluar dari tempat yang ditentukan untukku. Beberapa ulah lainnya tidak bisa kuingat, atau mungkin diingat NPC lain tapi mereka tidak ada di sini untuk menjelaskan.”

Baekhyun berhenti sebentar, menunggu respon kami, dan Taehyung lah yang pertama kali memberi respon. “Yang aku lakukan hanya membuat levelmu bisa diakses, aku tidak melakukan apapun yang mengubah kinerja tokoh-mu.” kata Taehyung.

“Dia benar,” Johnny menambahkan, “…, sebagai seorang pencipta karakter, aku ingat benar aku tidak menciptakan karakter apapun yang bisa hidup seperti kalian.” sambungnya.

Baekhyun menghela nafas. “Untuk masalah itu, aku juga tidak tahu. Bukankah, sebagai manusia kalian bisa lebih memahami manusia lainnya? Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi selama kami tertidur dalam sistem, tapi yang jelas, ini ulah sesama kalian.” ucapnya sambil tersenyum.

“Dan bagaimana kalian bisa memiliki nama?” Ashley yang sekarang angkat bicara, “…, aku ingat aku pernah masuk ke dalam Tacenda Corner dan dia memiliki nama Red Hair Witch di sana.” katanya sambil menatap Wendy.

“Ah, untuk yang itu, aku yang bertanggung jawab.” akuku kemudian. “Apa maksudmu?” tanya Ashley dengan nada menuntut.

“Aku masuk ke Tacenda untuk menanyakan tentang Cosmic Rings, menggunakan equipment paling buruk. Saat itu aku juga sadar ada yang salah dengan Wendy, dia bisa berkomunikasi dengan sangat baik.

“Dan pada akhirnya dia juga tidak membunuhku. Kami bicara banyak di Tacenda, kemudian aku menyebutnya mirip dengan karakter Wendy yang ada dalam cerita fiksi. Jadilah… aku terbiasa memanggilnya Wendy, karena memanggilnya Red Hair Witch sangat menyulitkan.” tuturku disahuti Wendy dengan sebuah senyuman manis.

Astaga, dia memang sangat sempurna. Bahkan sebagai seorang perempuan aku mengakui kecantikan Wendy sungguh sempurna. Johnny sekarang bahkan tidak berkedip karenanya.

Tapi tunggu, kenapa Wendy terlihat begitu ingin berada di dekat Johnny? Lengannya saja sekarang bisa dengan cuek melingkar di lengan Johnny.

“Lalu, penjelasan tentang Somi?” tanya Doyeon.

“Oh, aku? Ah, aku hanya karakter NPC biasa. Aku bukan seorang villain seperti Baekhyun, maupun Wendy.” jawab Somi, “…, awalnya aku adalah NPC yang menunggui tiap Town—setiap Town punya NPC di hall mereka, bukan?—tapi House of Zeus tidak punya, karena aku lah NPC itu.” sambungnya.

Taeil belum mengutarakan pertanyaan apapun. Tapi sejak tadi dia mengawasi. Dan benar saja, satu sekon setelah pandang kami bertemu, Taeil buka suara.

“Apa hubunganmu dengannya?” tanya Taeil sambil menunjukku dan Baekhyun, dia kemudian menatap ke arah Johnny dan Wendy, “…, Dan apa hubungan kalian berdua?” tanyanya sambil menunjuk dua orang itu bergiliran.

“Red Hair Witch adalah karakter yang aku ciptakan. Well, aku bukan programmer murni yang bertanggung jawab pada penciptaan WorldWare. Tapi aku bertanggung jawab pada keutuhan fisik semua NPC.

“Karena bakatku, perusahaan akhirnya mengizinkanku untuk menciptakan dua karakter NPC, dan terciptalah mereka berdua. Red Hair Witch yang sekarang bersama dengan kita.” tutur Johnny membuat Taeil segera menatap dengan mata memicing.

“Siapa yang satunya? Dia?” Taeil melirik ke arah Baekhyun.

“Bukan, bukan Invisible Black, tapi seseorang yang serupa dengannya: Black Radiant. Dia adalah karakter ciptaanku. Tapi aku berani bersumpah aku tidak tahu bagaimana bisa dia hidup. Dan juga, karena aku bekerja untuk menyempurnakan semua karakter NPC… aku bisa ingat beberapa NPC yang pernah kusempurnakan.

“Invisible Black, tidak pernah masuk dalam karakter NPC yang perlu disempurnakan. Jadi bisa kukatakan kalau siapapun yang menciptakan Invisible Black, telah membuatnya menjadi seorang NPC sempurna.

“Meski command Black Radiant sebagai villain utama di mode ini adalah hal mutlak—karena sebenarnya, Black Radiant adalah villain utama di mode lama juga, aku baru mengetahuinya dari Wendy kalau karakterku menjadi villain utama, sungguh!—tetapi keberadaan Invisible Black sama berpengaruhnya.

“Aku tidak tahu apa yang sudah orang-orang di atasku perbuat pada game ini, tapi satu yang aku tahu… mereka tidak sedang menciptakan permainan yang menyenangkan.” tutur Johnny.

Dia benar, permainan ini memang berubah menjadi mengerikan semenjak aku tahu kalau semua NPC di sini hidup dan aku bisa terluka—bahkan mati—di dunia nyata, hanya dengan berbaring di survival tube.

“Baiklah, penjelasan Johnny sudah lebih dari cukup untuk kita ketahui. Sekarang, kalian berdua.” kata Ashley sambil menatapku, rupanya dia menggemakan pertanyaan Taeil tadi.

“Jiho adalah pairku.” jawab Baekhyun hampir saja membuatku tergelak. Aku tahu dia tahu benar Ashley tidak mengharapkan jawaban seperti itu tapi toh dia menjawab seperti itu juga.

“Aku tidak bertanya tentang status—”

“—Jiho adalah player pertama yang tahu tentang kami. Dan dia juga player pertama yang tahu tentang hal lain di balik permainan ini. Hubunganku dengan Jiho adalah hal pribadi yang tidak harus aku ungkapkan di depan kalian semua.

“Seperti dirimu dan Taeil yang tidak ingin kehidupan pribadinya diusik, aku juga begitu. Jadi jawabanku tetap sama kalau kau menanyai tentang hubungan kami. Jiho, adalah pairku. Dia milikku.” jantungku sudah akan melompat dari persinggahannya begitu kudengar bagaimana Baekhyun berkata bahwa aku adalah miliknya.

Mengapa dia selalu menjadi ahli dalam bermain kata?

Ugh, Taeil pernah mengatakan hal yang sama.” Ashley segera membuang pandang, entah kenangan apa yang merasuk dalam benaknya sekarang, tapi yang jelas dia bungkam.

“Hal lain apa yang kau tahu itu Jiho?” sekarang Taehyung yang angkat bicara.

Aku merasa seolah kami tengah di sidang. Aku, Baekhyun, Johnny, Somi, Wendy, kami sedari tadi terus membicarakan apa yang ditanyakan pada kami saja. Aku paham situasinya membingungkan bagi semua orang.

Tapi aku dulu juga begitu, saat baru pertama kali mengetahui tentang semua ini. Semua ini memang terlalu tidak masuk akal untuk dipercaya. Sekarang, mereka menungguku bicara, berharap aku akan menceritakan pengalaman kematian yang terjadi?

“Jiho, jelaskan saja pada mereka. Pada akhirnya mereka juga akan tahu, dan kau sendiri pernah berkata kalau kami—para NPC—membutuhkan bantuan player dalam hal ini.” ucapan Baekhyun malah semakin membuatku disudutkan oleh tatapan mereka.

Bahkan, Johnny juga ikut menerorku dengan tatapan tidak mengerti.

“Apa yang kalian bicarakan sekarang?” tanyanya.

“Aku akan menjelaskannya. Tapi aku harap kalian tidak menganggapku gila karena apa yang akan aku katakan, adalah hal paling tidak masuk akal yang mungkin baru akan kalian percaya jika kalian mengalaminya sendiri.” ucapku, memastikan dahulu kalau mereka semua harus menerima penjelasan tidak masuk akal ini sebelum memberi respon.

“Oke, kami akan coba untuk percaya.” putus Taeil.

Aku akhirnya menarik dan mengembuskan nafas panjang, sebelum kubawa memoriku kembali kepada hal-hal yang terjadi padaku sebelum aku terbunuh oleh Baekhyun. Tidak kujelaskan secara rinci, tentu saja.

Aku hanya menjelaskan bagaimana Wendy menyerangku, kemudian saat aku hendak game over, Baekhyun datang menyelamatkanku tapi aku sudah membulatkan tekad untuk mati. Jadi aku berusaha bunuh diri dan secara tak sengaja membuat Baekhyun harus membunuhku dengan memotong tanganku.

“Saat aku terbangun, aku berada di dalam survival tube, dan kulihat bagaimana di sana ada begitu banyak survival tube yang dipenuhi darah. Kemudian aku sadar, jika tanganku benar-benar terpotong—tidak ada rasa sakit, sungguh—dan survival tube-ku penuh darah.

“Aku berteriak ketakutan saat itu, tapi kemudian kesadaranku ditarik kembali ke dalam permainan ini. Kupikir aku bermimpi, tapi Black Radiant menjelaskan semuanya padaku. Bahwa, tiap player yang game over bukan karena NPC di dalam game ini, akan benar-benar mengalami luka fisik yang menyebabkannya game over.”

Kulihat Herin menangis di balik punggung Jeno, sementara Ashley sendiri menatapku dengan tatapan nanar. Pandangan serupa dilempar Taehyung dan Taeil. Sementara Taehyung dan Johnny sama-sama terlihat berpikir keras.

Mereka sepertinya menyadari sesuatu.

“Jadi ini yang mereka bicarakan tentang percobaan mengendalikan manusia?” kata Taehyung setelah sekian lama terdiam.

“Aku pernah mendengarnya,” Johnny menambahkan, “…, tapi aku tidak tahu jika mereka menguji cobakannya pada sebuah game. Aku sekarang mengerti kenapa di dalam mode ini kita benar-benar bisa merasakan luka fisik itu.

“Tujuannya adalah untuk menyamarkan rasa sakit sesungguhnya yang terjadi di fisik kita. Aku tahu ini, setidaknya aku pernah mendengarnya. Rencana perusahaan untuk memperjual belikan benak manusia yang bisa dikendalikan.” sekarang aku menyernyit saat mendengar penjelasan Johnny.

“Apa maksudnya itu?” tanya Ashley menyuarakan tanyaku.

“Mereka berusaha mengendalikan manusia, Ash. Memperbudak manusia, dengan kita sebagai percobaannya. Jika kesadaran kita bisa mereka masukkan ke dalam sistem, mereka bisa berbuat apapun pada tubuh kita, selagi kita merasa bahwa kita masih hidup.

“Dengan identitas—berupa nomor identitas dan semua keadaan fisik kita—yang bisa mereka pantau, bukankah kita tidak lebih dari sekedar boneka untuk mereka yang merencanakan ini?”

Aku tersentak. Tidak pernah terpikir olehku jika orang-orang berkedudukan tinggi di atas sana nyatanya telah menguji cobakan hal sekejam ini pada kami yang tidak tahu apa-apa. Memang, sasaran mereka sangat tepat. Player game, yang akan sangat mudah terpengaruh dan mencoba hal baru.

Mode baru ini bukanlah sebuah upgrade, melainkan percobaan pembunuhan massal. Kesadaran NPC di sini mungkin saja jadi kegagalan tidak kentara mereka, yang tidak bisa mereka akses karena mereka tidak ada di dalam sini.

“Tapi kita semua terjebak. Bayangkan saja, jika kalian bisa dibunuh oleh seseorang saat kalian berada di alam bawah sadar kalian. Saat kalian tertidur, misalnya, tiba-tiba saja seseorang datang di mimpi kalian dan membunuh kalian. Dan kemudian kalian benar-benar mati.

“Bayangkan bagaimana mudahnya mereka—yang ada di atas sana—melenyapkan seseorang hanya dengan mengakses identitas mereka saja. Kita adalah kelinci percobaan mereka. Itulah mengapa, seleksi survival mode ini sangat ketat.

“Mereka tidak sekedar memilih player berdasarkan rank saja. Tapi, mereka menilai kita semua—yang ada di dalam game ini sekarang—secara psikologis juga. Mereka tidak melibatkan player dengan level kesehatan yang rendah, karena player seperti itu akan sangat mudah terbunuh hanya karena keadaan di dalam sini.”

Lagi-lagi penjelasan Johnny membekukan kami. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, tidak pernah terlintas dalam benakku kalau aku akan jadi bagian dari percobaan produk sebuah organisasi dengan efek negatif di baliknya.

Kami semua begitu, lugu dan percaya begitu saja pada kesempurnaan permainan mereka. Kesadaran NPC di sini mungkin tidak mereka sadari, tetapi karena permainan ini diciptakan untuk menguasai kesadaran seseorang, sangat masuk akal jika command permainan itu—yang awalnya ditujukan untuk player saja—pada akhirnya berpengaruh pada NPC juga.

“Menurut kalian, WorldWare di mode ini sudah bukan tentang permainan lagi, melainkan tentang uji coba produk. Begitu maksudmu?” tanya Taeil memastikan apa yang ada di dalam benaknya.

“Benar. Aku mendengarnya dari perusahaan Ayah juga, maaf tidak memberitahumu soal ini, Ash, Jiho. Aku sendiri juga tidak mengerti. NG Soft, tengah bekerja sama dengan satu-dua pihak yang ingin memanfaatkan kemampuan mereka mengakses semua identitas orang-orang yang terdaftar sebagai warga kenegaraan.

“Kemudian, boom! Mereka bisa lenyapkan siapa saja dengan cara yang sadis, membunuh siapa saja, hanya dengan mengutus seorang pembunuh bayaran—”

“—Atau NPC.” Wendy memotong.

“Apa?” kami sekarang menatap Wendy tidak mengerti.

“Saat aku mendapatkan kesadaranku, sisi diriku sangat tidak ingin melukai player yang masuk ke dalam Tacenda. Tapi tubuhku justru bergerak berlawanan dengan keinginanku. Aku terus berusaha membunuh mereka, dan saat keadaan mereka sudah kritis… kesadaran itu kembali.”

Hampir bersamaan, Johnny dan Baekhyun sama-sama tertawa miris. Memilih menyimpan komentarnya, Johnny menenggelamkan wajah di balik kedua telapak tangannya. Selagi kami semua sama-sama membeku, ketakutan, khawatir.

“Sekarang aku mengerti. Aku diciptakan bukan untuk game biasa, melainkan untuk sebuah game yang menuntut playernya untuk game over dalam artian sesungguhnya: mati.”

Baekhyun benar. Kematian, tengah menanti kami.

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

OH LORD AKU SEMANGAT SEKALI WAKTU NGETIK CHAPTER INI.

Dan tolong, serius, kalian bacanya harus bener serius karena di sini kita udah enggak sekedar bicara tentang turbulence dan enggak bicara soal pair-pair, enggak fokus sama kisah cinta Jiho-Baekhyun aja.

Wkwk.

Well, beginilah Game Over, dan semua makna di balik judul itu. AH SYIT, AKU MAU LOMPAT KEGIRANGAN SEBENERNYA PAS NGETIK KALIMAT TERAKHIR BAEKHYUN ITU, HUHU. Aduh otak, kamu dulu diciptain Tuhan dengan cara apa sih kok bisa aku kepikiran buat bikin cerita enggak berfaedah yang bikin pembaca bingung T.T

Btw, kalau penjelasan Baekhyun kurang jelas, marilah simak penjelasanku: bayangin, hanya dengan mengakses NIK kalian seseorang udah bisa ngebunuh kalian lewat alam bawah sadar. DAN TOLONG CATAT, pembunuhan itu enggak terekam sama CCTV, enggak tersisa sidik jari, dan enggak ada suspek tersangkanya, karena pembunuhan itu terjadi di dalam alam bawah sadar kalian. Gewla, ya kali bisa begindang, Rish (ya kan enggak ada yang enggak mungkin, perkembangan teknologi sudah semakin maju dan manusia sudah semakin cerdas).

Penjelasan lebih lanjut mengenai apa yang terjadi akan dibahas di kemudian hari, jadi aku cuma bisa jelasin garis besar pembunuhan massal ini aja, ya…

Oh iya, dari kemarin-kemarin aku excited sekali sama kalian-kalian yang udah menuangkan pemikirannya tentang alur cerita ini dan apa yang terjadi sebenernya. Beberapa ide kalian itu bikin aku berekspresi begini:

1: AH SYID, INI KEREN GILA KENAPA STORYLINE-KU ENGGAK DIBUAT BEGINI AJA KEMARIN?

2: Gilak, ini ide harus direalisasiin jadi fanfiksi, tapi gimana caranya?

3: ANJIR KOK AKU ENGGAK KEPIKIRAN GINI SIH?

4: Ya Lord, kenapa storyline yang aku buat justru menyimpang dari ekspektasi ini?

Dan beberapa reaksi lain yang kalo aku ketik mungkin bisa jadi fanfiksi oneshot. Intinya, ide-ide juga pemikiran kalian itu sungguh keren (mau nangis tauk pas bacanya karena aku dulu pas bikin storyline Game Over malah enggak kepikiran mau dibuat begitu huhu) tapi ya… aku egois, jadi aku turutin storyline yang udah aku buat.

Ada yang pernah menduga nggak sih kalau sebenernya Game Over—eh, WorldWare, itu justru menyimpan hal gelap terselubung macem ini? Kalo mau tau ide asalnya, simpel aja:

‘ Gimana ya, kalo di masa depan itu pembunuh enggak harus susah-susah masuk penjara karena dia bisa ngebunuh seseorang dengan cara invisible? ’

Dan yeah, karena pertanyaan konyol yang tercetus di tengah-tengah aku yang lagi kepayahan dan lemah karena serangan diare akut, terlahirlah Game Over, si fanfiksi berjudul naujubilah enggak menariknya, tapi isinya njelimet.

Nah, aku sudahi dulu mengomel soal pemikiranku sendiri yang susah diajak kompromi (artinya, susah mau aku ajak kerjasama bareng ide luar biasa kreatif yang justru bisa ditemukan readers, huhuhu) karena masih banyak PR menungguku, yihi ~ sampai ketemu hari Minggu! Salam sayang, Irish.

Ps: itu tolong, siapapun yang bisa menjangkau Baekhyun, tolong kasih tau dong itu mas-mas Korea satu itu kenapa sih kegantengan dan kebeningannya enggak dikondisikan? Dia itu loh enggak baik buat jadi konsumsi matanya anak perawan T…T ngerusak iman aja.

Pps: jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ya! Karena dengan kalian meninggalkan jejak aku jadi semakin semangat menyelipkan kejutan di tiap levelnya.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

53 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 27 [Different Creatures] — IRISH”

  1. Gila… Ada yaa orng sadis gitu. Ngelakuin pembunuhan masal pake game.. Apa tujuan orang orang itu ngelakuin pembunuhan masal? Ide gila dari mana ini ka irish
    degdegan sendiri bacanyaa serasa aku yang beneran ada di game. G kebayang itu kl jadi jiho, pas begitu bangun banyak darah, tangannya udh potong, liat sana sini (?) darah semua…
    Aku yg baca cuma bisa tarik nafas.. Buang… Trs istigfar

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s